Suku Ratahan
Ratahan (alias Pasan, Bentenan atau Bentenen) adalah kelompok etnis atau suku bangsa Indonesia yang berasal dari daerah bagian tenggara di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.[1] yang berjumlah sekitar 47.000 orang. Suku Ratahan tidak lagi termasuk dalam kategori “belum terjangkau”. Mereka merupakan komunitas etno-linguistik di Indonesia. Mereka adalah suku asli yang termasuk dalam kelompok etnis Minahasa-Sangir di Sulawesi, yang tergabung dalam blok afinitas Bangsa Melayu. Agama utama mereka adalah Kristen-Protestan. Bahasa utama yang mereka gunakan adalah Bahasa Melayu-Manado.[2]
Kehidupan
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Ratahan umumnya bekerja di bidang pertanian, perikanan, dan perdagangan kecil. Keluarga yang tinggal di daerah pedalaman mengelola sawah, menanam jagung, singkong, ubi jalar, sayuran, cengkih, pala, serta kelapa di lahan perbukitan bertingkat. Sementara itu, masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Bentenan, lebih banyak menggantungkan hidup pada kegiatan menangkap ikan, produksi kopra, dan pemanfaatan hasil laut lainnya. Banyak nelayan menggunakan jaring atau menyelam untuk memperoleh tangkapan harian seperti tuna, makarel, dan ikan karang, yang kini juga didukung oleh usaha budidaya rumput laut. Selain itu, sebagian warga membuka toko kecil atau bekerja di kota Ratahan, sedangkan sektor pariwisata mulai berkembang di kawasan Pantai Bentenan melalui aktivitas snorkeling dan resort pantai yang menarik wisatawan dari Manado.[3]
Agama
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Ratahan merupakan penganut agama Kristen Injili, terutama yang tergabung dalam Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), denominasi Protestan terbesar di Sulawesi Utara. Kehidupan sehari-hari mereka sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai iman, yang terlihat melalui kebiasaan beribadah di gereja, mengikuti kelompok pendalaman Alkitab, aktif dalam paduan suara, serta kegiatan persekutuan pemuda. Banyak dari mereka mewarisi tradisi Kekristenan sejak kebangunan rohani yang terjadi di Minahasa pada awal abad ke-20, yang kemudian mendorong masyarakat meninggalkan kepercayaan animisme.[4]
Budaya
[sunting | sunting sumber]Ambik Anak
[sunting | sunting sumber]Ambik Anak merupakan sistem perkawinan dalam tradisi suku Ratahan yang membebaskan pihak laki-laki dari kewajiban membayar mahar, tetapi dengan syarat suami tinggal bersama keluarga pihak dan istri dan garis keturunan anak bersifat matrilineal.
Kriya
[sunting | sunting sumber]Bentenan
[sunting | sunting sumber]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Badan Pusat Statistik (21 Januari 2021), Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia (Hasil Sensus Penduduk 2020), Jakarta: Badan Pusat Statistik
- ↑ "Ratahan of Indonesia (PGID: PG022860)". PeopleGroups.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-05-23.
- ↑ "Ratahan, Bentenan in Indonesia Profile". www.joshuaproject.net. Diakses tanggal 2026-05-23.
- ↑ "Ratahan, Bentenan in Indonesia Profile". www.joshuaproject.net. Diakses tanggal 2026-05-23.