Suku Gorontalo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Hulontalo
Jumlah populasi

1.251.494 Indonesia (2010)[1]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Indonesia
Gorontalo: 934.731
Sulawesi Tengah: 474.016
Sulawesi Utara: 168.025
Bahasa
Gorontalo, Indonesia
Agama
Mayoritas
Star and Crescent.svg Islam
Minoritas
Christian cross.svg Kristen (Protestan dan Katolik)
Kelompok etnik terdekat
Buol, Mongondow, Bisaya, Tausug, Minahasa

Suku Gorontalo atau Hulontalo adalah suku bangsa yang merupakan penduduk asli provinsi Gorontalo di bagian utara pulau Sulawesi. Bahasa mereka adalah bahasa Gorontalo. Suku Gorontalo juga dapat ditemukan di provinsi Sulawesi Utara dan Tengah. Populasi suku Gorontalo diperkirakan mencapai lebih dari 1,2 juta orang menurut Sensus Penduduk tahun 2010.[2]

Istilah[sunting | sunting sumber]

Nama Gorontalo kemungkinan berasal dari beberapa istilah setempat, yaitu:

  • Hulontalangio, nama kerajaan terdahulu yang berada di wilayah Gorontalo
  • Hua Lolontalango, yang berarti orang penghuni gua yang berjalan lalu-lalang;
  • Hulutalangi, yang berarti lebih mulia;
  • Huluo Lo Tola, yang berarti tempat di mana Ikan gabus berkembang biak;
  • Pongolatalo atau Pohulatalo, yang berarti tempat untuk menunggu;
  • Gunung Telu, yang berarti tiga gunung;
  • Hunto, yang berarti tempat yang selalu dialiri air;[3]

Orang Gorontalo sendiri kadang menyebut diri mereka sebagai Hulontalo. Istilah Hulontalo sendiri sudah terkenal di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara, yang biasanya digunakan untuk menyebut wilayah Gorontalo atau orang Gorontalo.

Orang Gorontalo juga memiliki suatu sistem ikatan keluarga bernama Pohala'a. Sistem ini merupakan warisan dari kerajaan-kerajaan yang sebelumnya pernah berdiri di Gorontalo. Terdapat lima pohala'a di Gorontalo, yaitu Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bualemo, dan Atinggola, dimana pohala'a Gorontalo merupakan pohala'a yang paling menonjol.[4][5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal muasal[sunting | sunting sumber]

Asal usul suku Gorontalo, tidak diketahui secara pasti. Apabila dilihat dari struktur fisik orang Gorontalo, suku Gorontalo termasuk ke dalam ras mongoloid, hanya saja mungkin sejak beberapa abad yang lalu telah terjadi percampuran ras dengan bangsa-bangsa lain. Sehingga suku Gorontalo saat ini memiliki postur fisik yang beragam. Warna kulit mulai dari kuning hingga ke coklat gelap. Rambut juga bervariasi, dari rambut lurus, ikal dan keriting. Terdapat dua teori mengenai migrasi penduduk di Asia Tenggara, teori pertama menyebutkan bahwa penduduk Asia Tenggara awalnya berasal dari timur, lalu mendiami Sulawesi. Sementara teori kedua menjelaskan migrasi manusia yang berasal dari Taiwan, menuju Filipina, dan sampai di Sulawesi.[6]

Suku Gorontalo memiliki legenda yang menceritakan bahwa leluhur mereka adalah keturunan dari Hulontalangi, atau orang yang turun dari langit dan awalnya berdiam di Gunung Tilongkabila, Kab. Bone Bolango. Nama Hulontalangi lalu berubah menjadi Hulontalo dan Gorontalo.[7]

Era prasejarah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Gorontalo diyakini sudah dihuni manusia di masa prasejarah. Situs Oluhuta yang berada di Kab. Bone Bolango merupakan situs arkeologi yang memberikan informasi mengenai makam-makam masyarakat terdahulu yang diperkirakan hidup sekitar 2000-4000 tahun yang lalu.[8][9]

Kerajaan-Kerajaan Gorontalo[sunting | sunting sumber]

Pesta khitanan orang Gorontalo pada masa Hindia Belanda

Wilayah Gorontalo diperkirakan terbentuk 400 tahun yang lalu. Gorontalo merupakan salah-satu tempat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur selain Ternate dan Bone. Islam diperkirakan masuk ke Gorontalo di tahun 1525, di masa pemerintahan Raja Amay. Seiring dengan masuknya Islam, Gorontalo berkembang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan di utara Sulawesi. Kota Kerajaan Gorontalo awalnya bermula di Desa Hulawa di tepi Sungai Bolango. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kerajaan-kerajaan di Gorontalo sudah menganut sistem ikatan keluarga yaitu pohala'a yang masih ditemukan saat ini.[4]

Era Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kerajaan-kerajaan Gorontalo berada dibawah pengaruh Kesultanan Ternate. Sejak tahun 1673, Gorontalo masuk dalam wilayah administrasi VOC, ditandai dengan pembentukan Kab. Gorontalo sebagai hasil dari perjanjian Gubernur Ternate Robertus Patbrugge dan Raja Gorontalo.[4]

Di masa Hindia Belanda, orang-orang Gorontalo mulai melakukan emigrasi keluar wilayah Gorontalo tepatnya sejak abad ke-18 M, dimana orang-orang Gorontalo berpindah ke wilayah seperti Ternate, Ambon, Buol, Banggai, dan Minahasa dikarenakan orang-orang ini ingin menghindari sistem kerja paksa yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo saat itu.[10]

Pembentukan Provinsi Gorontalo[sunting | sunting sumber]

Sebelum menjadi provinsi tersendiri, wilayah Gorontalo ini merupakan bagian dari provinsi Sulawesi Utara dengan status kabupaten, namun pada tanggal 5 Desember 2000, berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000, Kabupaten Gorontalo telah menjadi provinsi sendiri dengan nama provinsi Gorontalo. Menteri Dalam Negeri saat itu Soerjadi Soedirdja meresmikan Provinsi Gorontalo sekaligus melantik Tursandi Alwi sebagai Penjabat Gubernur. Setahun kemudian, Ir. Fadel Muhammad terpilih menjadi Gubernur Pertama Provinsi Gorontalo.[11]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Suku Gorontalo berbicara dalam Bahasa Gorontalo. Selain bahasa Gorontalo, terdapat juga beberapa bahasa lain yang mirip, yang dianggap oleh para ahli bahasa sebagai dialek bahasa Gorontalo yaitu bahasa Suwawa, Atinggola, Limboto, Kwandang, Tilamuta, dan Sumawata.[12] Bahasa Gorontalo menjadi bahasa yang paling digunakan dikarenakan pengaruh dari Kerajaan Gorontalo yang pernah berdiri di wilayah tersebut. Dialek Atinggola digunakan oleh masyarakat Atinggola yang berada di pesisir utara Gorontalo.[13]

Bahasa Gorontalo sendiri sekarang banyak mengalami asimilasi dengan bahasa Manado (Melayu Manado) yang juga banyak diucapkan oleh masyarakat Gorontalo. Dilihat dari sisi linguistik, bahasa Gorontalo memiliki keterkaitan bahasa dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Utara dan Filipina.[14] Bahasa Gorontalo bersama dengan Bahasa Mongondow masuk dalam Rumpun bahasa Gorontalo-Mongondow, yang merupakan bagian dari Rumpun bahasa Filipina.[15] Bahasa Gorontalo memiliki kedekatan linguistik dengan bahasa-bahasa Filipina khususnya Bahasa Tagalog, Cebú, Hiligaynon, Bikol, dan Waray-waray.[16][17]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Masyarakat suku Gorontalo adalah masyarakat yang memiliki rasa sosial yang tinggi, sehingga hampir tidak pernah terjadi konflik di antara mereka sendiri. Sistem kekerabatan yang sangat erat tetap dipelihara oleh masyarakat Gorontalo, seperti dicontohkan dalam sistem ikatan keluarga pohala'a.[18][19] Tradisi gotong royong atau huyula tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat ini, serta setiap ada masalah akan diselesaikan dengan cara musyawarah.[20][21][22]

Orang Gorontalo memiliki falsafah hidup, yaitu batanga pomaya, nyawa podungalo, harata potom bulu, artinya "jasad untuk untuk membela tanah air, setia sampai akhir, harta untuk kemaslahatan masyarakat" dan lo iya lo ta uwa, ta uwa loloiya, boodila polucia hi lawo, artinya "pemimpin itu penuh kewibawaan, tapi tidak sewenang-wenang".[23][24][25]

Agama[sunting | sunting sumber]

Masyarakat suku Gorontalo mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat.[26][27] Agama Islam sangat kuat diyakini oleh masyarakat suku Gorontalo ini. Beberapa tradisi adat suku Gorontalo terlihat banyak mengandung unsur Islami. Hanya sebagian kecil saja dari suku Gorontalo yang memeluk agama lain di luar agama Islam, seperti Kristen Protestan dan Kristen Katolik.

Pada masyarakat suku Gorontalo, adat dipandang sebagai suatu kehormatan (adab), norma, bahkan pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan. Hal ini dinisbatkan dalam suatu ungkapan "Adat Bersendi Sara" dan "Sara Bersendi Kitabullah".[28] Arti dari ungkapan ini adalah bahwa adat dilaksanakan berdasarkan sara (aturan), sedangkan aturan ini harus berdasarkan Kitab Suci Al-Qur'an.[4][29] Dengan demikian dapat dipahami bahwa sendi-sendi kehidupan masyarakat Gorontalo adalah penuh dengan nilai-nilai agamais dan tatanan nilai-nilai yang luhur.[30]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

  • Rumah adat Dulohupa. Rumah adat tradisional suku Gorontalo dikenal dengan nama Dulohupa. Dulohupa biasanya digunakan untuk mengadakan musyawarah oleh kerabat kerajaan di masa lalu. Rumah Dulohupa terbuat dari papan pilihan serta beratap seperti jerami, dan dibuat dengan bentuk rumah panggung. Rumah adat Dulohupa masih bisa ditemukan di beberapa daerah kecamatan di provinsi Gorontalo.[31][32]
  • Rumah adat Bandayo Poboide. Selain Dulohupa, masih ada satu lagi jenis rumah adat suku Gorontalo, yaitu rumah adat Bandayo Poboide. Namun rumah adat Bandayo Poboide ini keberadaannya hampir punah di seluruh daerah Gorontalo. Satu-satunya rumah adat Bandayo Poboide yang masih tersisa adalah rumah yang berada di depan kantor Bupati Gorontalo di Jl. Jenderal Sudirman, Limboto.[33][34]

Sastra[sunting | sunting sumber]

  • Lumadu merupakan jenis sastra lisan asli Gorontalo berupa teka-teki pengasah otak dan kiasan atau perumpamaan.[35] Lumadu sering digunakan oleh anak-anak untuk bermain-main, sedangkan lumadu kiasan sering digunakan dalam percakapan antara orang-orang dewasa yang bertujuan untuk menghormati orang lain, memperluas pembicaraan terhadap lawan bicara, dan mempertinggi nilai suatu (objek) yang dikiaskan.

Tarian daerah[sunting | sunting sumber]

  • Tari Polopalo, Salah satu kesenian budaya suku Gorontalo yang terkenal adalah Tari Polopalo. Tarian ini populer di kalangan masyarakat suku Gorontalo, bahkan sampai ke wilayah Sulawesi Utara.[36][37]

Tradisi setempat[sunting | sunting sumber]

Beberapa tradisi adat pada masyarakat suku Gorontalo adalah:

  • Adat Pernikahan Momonto dan Modutu. Dalam adat pernikahan tradisional Gorontalo, ada beberapa aturan dan tata cara yang harus dilakukan oleh kedua mempelai. Orang Gorontalo masih memegang tradisi turun-temurun sebagai bagian dari adat dan kebudayaan. Acara pernikahan diadakan di rumah kedua mempelai secara bergantian. Acara pernikahan bisa berlangsung lebih dari 2 hari. Kerabat bergotong-royong dalam mempersiapkan acara pernikahan ini beberapa hari sebelum hari pernikahan. Kedua mempelai menggunakan busana adat bernama Bili’u. Tempat pelaminan yang digunakan pada saat resepsi menggunakan adat Gorontalo.[38][39][40]
  • Molontalo atau Tontalo (Upacara tujuh bulanan), adalah suatu acara adat untuk mewujudkan rasa syukur atas kehamilan yang sudah berusia tujuh bulan. Dalam menggelar acara adat ini, kedua orang tua dari calon bayi harus memakai pakaian adat Gorontalo. Seorang anak perempuan digendong oleh sang ayah mengelilingi rumah, lalu akhirnya masuk ke dalam kamar menemui ibu yang sedang mengandung. Setelah calon ayah dan anak perempuan yang digendongnya bertemu dengan ibu yang mengandung sang bayi, maka tali yang terbuat dari daun kelapa yang sebelumnya sudah melingkari perut ibu tersebut dipotong atau diputuskan. Dalam acara Tontalo ini, disediakan 7 jenis makanan yang dihidangkan pada 7 nampan yang berbeda, lalu makanan ini dibagikan kepada seluruh undangan.[41][42]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia - Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. 
  2. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia - Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. 
  3. ^ http://www.gorontalofamily.org/sejarah.html
  4. ^ a b c d Diponegoro, Anna Fauziah (2007). Harta bumi Indonesia: biografi J.A. Katili. Grasindo. ISBN 9789797598150. 
  5. ^ Olilingo, Fachrudin Zain (2017-04-25). Potensi Investasi di Provinsi Gorontalo. Deepublish. ISBN 9786024535476. 
  6. ^ Parmentier, Richard J. (1987-11-05). The Sacred Remains: Myth, History, and Polity in Belau (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 9780226646954. 
  7. ^ Hidayah, Dr Zulyani (2015). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 9789794619292. 
  8. ^ Archaeology: Indonesian Perspective : R.P. Soejono's Festschrift (dalam bahasa Inggris). Yayasan Obor Indonesia. 2006. ISBN 9789792624991. 
  9. ^ antaranews.com. "Balai Cagar Budaya pamerkan replika kerangka Oluhuta - ANTARA News". Antara News. Diakses tanggal 2018-02-18. 
  10. ^ Henley, David (2005). Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600-1930 (dalam bahasa Inggris). KITLV Press. ISBN 9789067182096. 
  11. ^ "Gorontalo: Di Balik Semangat Memisahkan Diri - Wartakota". Wartakota. Diakses tanggal 2018-02-18. 
  12. ^ Badudu, Yus (1982). Morfologi bahasa Gorontalo. Djambatan. 
  13. ^ MTN. "Mengenal Asal Usul "Suku Atinggola" Gorontalo". Diakses tanggal 2018-02-18. 
  14. ^ Badudu, Yus (1982). Morfologi bahasa Gorontalo. Djambatan. 
  15. ^ Robert Blust (1991). "The Greater Central Philippines Hypothesis". Oceanic Linguistics 30. 73-129. 
  16. ^ Zorc, R.D. The genetic relationships of Philippine languages. 1986. In Geraghty, P., Carrington, L. and Wurm, S.A. editors, FOCAL II: Papers from the Fourth International Conference on Austronesian Linguistics. C-94:147-173. Pacific Linguistics, The Australian National University, 1986.
  17. ^ Adelaar & Himmelmann (2005)
  18. ^ Mulyanto, Arip; Rohandi, Manda; Latief, Mukhlisulfatih (2015-12-16). Buku Ajar Budaya Gorontalo, Sebagai Pembentuk Karakter Generasi Penerus. Deepublish. ISBN 9786024010959. 
  19. ^ "Gorontalo dan Asal-Usul Nama | Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2018-02-18. 
  20. ^ Suwondo, Bambang (1978). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  21. ^ Upacara adat Propinsi Gorontalo. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film. 2005. 
  22. ^ Utara, Tim monografi daerah Sulawesi (1978*). Monografi daerah Sulawesi Utara. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Ditjen. Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.  Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  23. ^ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulut/2015/05/17/didikan-moral-dalam-tujai-gorontalo/
  24. ^ Sis-Amali, J. Tumenggung; Inkiriwang, Justus; Roring, M.; (Drs.), Ahmad Yunus; Mintosih, Sri (1985). Ungkapan tradisional yang berkaitan dengan sila-sila dalam Pancasila daerah Sulawesi Utara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 
  25. ^ Daulima, Farha (2006). Lahilote: cerita rakyat daerah Gorontalo dalam bahasa daerah Gorontalo (dalam bahasa Inggris). Forum Suara perempuan LSM "Mbu'i Bungale". 
  26. ^ Tan, Khee Giap; Amri, Mulya; Low, Linda; Tan, Kong Yam (2013). Competitiveness Analysis and Development Strategies for 33 Indonesian Provinces (dalam bahasa Inggris). World Scientific. ISBN 9789814504867. 
  27. ^ Harry Aveling & Damien Kingsbury (2014). Autonomy and Disintegration in Indonesia. Routledge. ISBN 1-1364-9809-5. 
  28. ^ Profil hak asasi manusia Indonesia. Direktorat Sistem Informasi Hak Asasi Manusia, Direktorat Jenderal Perlindungan Hak Asasi Manusia, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. 2006. 
  29. ^ Statistik, Indonesia Badan Pusat (2002). Profil kependudukan [nama propinsi] tahun 2000: Gorontalo. Badan Pusat Statistik. ISBN 9789795989806. 
  30. ^ Niode, Alim S. (2007). Gorontalo: perubahan nilai-nilai budaya dan pranata sosial. Pustaka Indonesia Press. 
  31. ^ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpsmpsangiran/2017/10/19/mengenal-rumah-adat-dulohupa-di-gorontalo-sulawesi-utara/
  32. ^ Media, Kompas Cyber. "Pemangku Adat Gorontalo Satukan Persepsi Pemberian Gelar Adat - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-02-18. 
  33. ^ Syamsidar (1991). Arsitektur tradisional daerah Sulawesi Utara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. 
  34. ^ "Rumah Dolohupa dan Bandayo Pomboide, Rumah Adat Gorontalo". Kamera Budaya. Diakses tanggal 2018-02-18. 
  35. ^ Hinta, Ellyana G (2005). Tinilio Pai'ta,Naskah Puisi Gorontalo:Sebuah Kajian Filologis. Jakarta: Djambatan. hlm. 47. ISBN 979-428-596-X. 
  36. ^ Daulima, Farha (2006). Mengenal tarian daerah tradisional dan klassik Gorontalo. Forum Suara Perempuan, LSM Mbu'i Bungale. 
  37. ^ "Inilah 3 Tarian Tradisional Dari Gorontalo Beserta Penjelasannya". Kamera Budaya. Diakses tanggal 2018-02-18. 
  38. ^ Daulima, Farha (2006). Tata cara adat perkawinan: pada masyarakat adat suku Gorontalo. Forum Suara perempuan, LSM Mbu'i Bungale. 
  39. ^ Nur, Samin Radjik (1965). Perkawinan adat Gorontalo. Jajasan Penerbitan Universitas Hasanuddin. 
  40. ^ Widiastuti, Intan (2017-11-07). "Upacara Momondho dan Modutu : Prosesi Pra Pernikahan Adat Gorontalo". Mahligai Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-02-18. 
  41. ^ Upacara adat Propinsi Gorontalo. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film. 2005. 
  42. ^ PortalNews.co.id. "Molonthalo, Ritual Menyambut Keluarga Baru Dari Gorontalo". portalnews.co.id. Diakses tanggal 2018-02-18.