Arifin Panigoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Arifin Panigoro
Arifin-panigoro.jpg
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Masa jabatan
1 Oktober 2004 – Desember 2004
PresidenMegawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
Pendahulu-
Pengganti-
Daerah pemilihanBanten 1 (Kabupaten Lebak,Kabupaten Pandeglang,Kota Cilegon,Kabupaten Serang)
Masa jabatan
1 Oktober 1999 – 1 Oktober 2004
PresidenBachruddin Jusuf Habibie
Abdurrachman Wahid
Megawati Soekarnoputri
PendahuluJabatan Baru
Pengganti-
Daerah pemilihanJawa Barat (Kabupaten Tangerang) (sebelum pemekaran Provinsi Banten)
Informasi pribadi
Lahir14 Maret 1945 (umur 74)
Bendera Jepang Bandung, Masa Pendudukan Jepang
Partai politikLOGO- PDIP.svg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (1999-2005)
Logo PDP.jpg Partai Demokrasi Pembaruan (2005-2012)
PasanganRaisis Arifin Panigoro
AnakMaera Arifin Panigoro
Yasser Raimi Arifin Panigoro
Tempat tinggalJalan Jenggala I/4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta[1]
Alma materInstitut Teknologi Bandung (Ir. Teknik Elektro)
PekerjaanPengusaha
Dikenal karenaPendiri Grup MedcoEnergi
Politikus
Sempat Terkena Tuduhan Makar di Hotel Radisson, Yogyakarta Sebelum Mei 1998 [2]

Arifin Panigoro (lahir di Bandung, Jawa Barat, 14 Maret 1945; umur 74 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dijuluki "Raja Minyak Indonesia". Ia dikenal sebagai pendiri dan pemilik MedcoEnergi yaitu perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi swasta terbesar di Indonesia. Dalam autobiografinya, disebutkan bahwa orang tuanya berasal dari Gorontalo yang merantau ke Pulau Jawa sebelum kemerdekaan.[butuh rujukan]

Saat ini, ia turut bergabung dalam mendirikan partai baru yang bernama Partai Demokrasi Pembaruan bersama dengan Sophan Sophiaan, Laksamana Sukardi, Roy B.B. Janis, Sukowaluyo Mintorahardjo, Noviantika Nasution, Didi Supriyanto, Tjiandra Wijaya, Postdam Hutasoit, dan RO Tambunan.[3] Sebelumnya, ia pernah bergabung dengan PDI-P.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Perjalanan Karier[sunting | sunting sumber]

Alumni Elektro Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya sebagai kontraktor instalasi listrik door to door. Selanjutnya, ia memulai proyek pemasangan pipa secara kecil-kecilan. Medco kemudian dikenal saat memulai usaha pengeboran minyak tahun 1981. Ia mendapat bantuan pemerintah.

Sebagaimana dilansir oleh tokohindonesia.com, Arifin mengakui bahwa ia memiliki kedekatan dengan Dirjen Migas ketika itu, Wiharso, yang menginginkan adanya pengusaha lokal dalam proyek jasa pengeboran. Kebetulan ada penyertaan modal pemerintah ke Pertamina yang mau melakukan pengeboran gas di daerah Sumatra Selatan. Pemerintah mendorongnya untuk ikut tender meskipun tidak mempunyai peralatan pengeboran. Pilihan pemerintah saat itu adalah memanggil perusahaan asing yang berpeluang menang dan diminta untuk menyewakan alat atau memakai orang-orang Medco sebagai mitra. Tujuan pemerintah waktu itu adalah untuk membesarkan pengusaha lokal. Namun, tanggapan dari perusahaan asing itu membuat Wiharso tersingung dan batal. Lalu Wiharso memintanya menggarap proyek itu sendirian. Terhadap bantuan yang diberikan pemerintah itu, Arifin menilai sangat positif agar pengusaha lokal mampu bersaing. Namun, tetap harus dilakukan secara betul karena kalau tidak bisa, jadi salah arah.[4]

Salah satu tonggak sejarah Medco ialah ketika melakukan pembelian Stanvac yang dimenangkan melalui tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Dengan pembelian itu, PT Stanvac tidak lagi dikuasai orang asing sebab perusahaan minyak tertua di Indonesia itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh Medco.[4]

Politik[sunting | sunting sumber]

"Petualangan politiknya" menjadi kontroversi ketika ia dituduh berupaya menggagalkan Sidang Umum MPR 1998 pelantikan Presiden Soeharto untuk ketujuh kalinya, karena ia melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh politik di Hotel Radisson, Yogyakarta pada tahun 1998. Sebuah memo dari asisten Wakil Presiden kala itu, Sofian Effendi, menuduhnya berencana melakukan makar. Selanjutnya, ketika aksi mahasiswa semakin memanas, Arifin memberi bantuan konsumsi kepada para demonstran yang melakukan aksi di Gedung DPR. Ribuan kotak makanan dikirim. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa Arifin adalah tokoh di belakang aksi atau cukong para mahasiswa.

Tentang hal itu, dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa ia ingin mencegah terjadinya kekacauan. "Saya katakan, salah satu yang membuat keadaan kita makin buruk adalah naiknya harga sembilan bahan pokok, sehingga muncul kerusuhan-kerusuhan. Kepedulian saya adalah jangan sampai hal itu berubah menjadi sentimen anti-Tionghoa, muncul permusuhan muslim-nonmuslim, dan merebak ke seluruh Indonesia. Kalau itu sampai terjadi, akan timbul situasi chaos dan korbannya bisa sampai jutaan. Hal itu menjadikan kita semua harus peduli dan mengambil langkah-langkah sebelumnya," kata Arifin Panigoro, dalam wawancara dengan D&R.

Di era Presiden Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999) yaitu BJ Habibie, Arifin Panigoro juga pernah dijerat dengan tuduhan pidana korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun. Pada waktu itu, sejumlah kalangan percaya dijeratnya Arifin karena kedekatannya dengan gerakan mahasiswa.

Perkenalannya lebih mendalam dengan dunia politik adalah ketika partai-partai baru bermunculan tahun 1998-1999 setelah lengsernya Presiden Soeharto. Pada awalnya, Arifin menjalin hubungan dengan berbagai tokoh politik, baik tokoh masyarakat yang sudah lama dikenal maupun tokoh yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru dilangsungkan, Arifin kerap menghadirinya. Bersama Sudirman Said (kini Menteri ESDM), sempat pula ia mencoba menginisiasi gerakan untuk memunculkan Cendekiawan Muslim (alm), Nurcholish Madjid untuk menjadi presiden.[4]

Arifin Panigoro kemudian bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada tahun 1999 untuk daerah pemilihan Kabupaten Tangerang dan terpilih sebagai anggota DPR.[5][6] Ia juga sempat terpilih menjadi Ketua DPP dan Ketua Fraksi PDIP pada tahun 2002-2003. Kemudian, ia terpilih lagi di DPR RI di dapil Banten 1 yang saat itu meliputi Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, dan Kota Cilegon.[7] Akan tetapi, ia mengundurkan diri dari DPR dan PDIP pada tahun 2005 dan membentuk Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Gerakan Pembaharuan PDIP.[8]

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Di dunia olahraga, Arifin turut berkontribusi dalam persepak bolaan nasional. Ia menghelat turnamen Piala Medco dan tercatat sebagai penggagas Liga Primer Indonesia (LPI).[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://ahmad.web.id/sites/apa_dan_siapa_tempo/profil/A/20030701-67-A_1.html
  2. ^ http://ahmad.web.id/sites/apa_dan_siapa_tempo/profil/A/20030701-67-A_1.html
  3. ^ "Partai Demokrasi Pembaruan Dideklarasikan", Kompas, Desember 2005.
  4. ^ a b c satuharapan.com, Sinar Kasih. "Satu Harapan: Mantan Seteru Politik Megawati Ambil Alih Tambang Emas Newmont". SatuHarapan.com. Diakses tanggal 2018-12-09. 
  5. ^ "Google Groups". groups.google.com. Diakses tanggal 2018-12-09. 
  6. ^ "Pemilu DPR 1999-Indonesia". www.pemilu.asia. Diakses tanggal 2018-12-09. 
  7. ^ "Pemilu DPR 2004-Indonesia". www.pemilu.asia. Diakses tanggal 2018-12-09. 
  8. ^ "Gerakan Pembaharuan PDIP Deklarasi di Surabaya". detiknews. Diakses tanggal 2018-12-09. 
  9. ^ "Arifin Panigoro: LPI Jalan Terus", Kompas, 9 Januari 2011.