Kota Yogyakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Yogyakarta
—  Jawa Nuvola single chevron right.svg Daerah Istimewa Yogyakarta  —
Gedung Bank Indonesia di Yogyakarta
Lambang Kota Yogyakarta
Lambang
Slogan: Mangayu Hyuning Bawana
Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
Slogan: Berhati Nyaman (Bersih, Sehat, Asri dan Nyaman)(umum)
Never Ending Asia (pariwisata)
Lokasi Kota Yogyakarta di Pulau Jawa
Kota Yogyakarta is located in Indonesia
Kota Yogyakarta
Lokasi Kota Yogyakarta di Pulau Jawa
Koordinat: 7°48′5″LU 110°21′52″BT / 7,80139°LS 110,36444°BT / -7.80139; 110.36444
Negara  Indonesia
Hari jadi 7 Oktober 1756
Pemerintahan
 • Wali kota Drs. H. Haryadi Suyuti
Populasi (2011)[1]
 • Total 430.735 jiwa
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode telepon +62 274
Kecamatan 14
Flora resmi Kelapa gading
(Cocos nuciferal vv. gading)
Fauna resmi Burung tekukur
(Streptoplia chinensis tigrina)
Situs web www.jogjakota.go.id
Logo wisata "JOGJA"

Kota Yogyakarta (bahasa Jawa: Hanacaraka, ꦪꦺꦴꦒꦾ​ꦏꦂꦠ​) adalah salah satu kota besar di Pulau Jawa yang merupakan ibukota dan pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sekaligus tempat kedudukan bagi Sultan Yogyakarta dan Adipati Pakualam.

Salah satu kecamatan di Yogyakarta, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara 1575-1640. Keraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah Karaton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman, yang merupakan pecahan dari Mataram.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Yogyakarta terambil dari dua kata, yaitu Ayogya atau '''Ayodhya''' yang berarti "kedamaian" (atau tanpa perang, a "tidak", yogya merujuk pada yodya atau yudha, yang berarti "perang"), dan Karta yang berarti "baik". Ayodhya merupakan kota yang bersejarah di India dimana wiracarita Ramayana terjadi. Tapak keraton Yogyakarta sendiri menurut babad (misalnya Babad Giyanti) dan leluri (riwayat oral) telah berupa sebuah dalem yang bernama Dalem Gerjiwati; lalu dinamakan ulang oleh Sunan Pakubuwana II sebagai Dalem Ayogya[2].

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Mataram Hindu (Abad ke-10 Masehi)[sunting | sunting sumber]

Meskipun hilang dari catatan sejarah sejak berpindahnya pusat pemerintahan Kerajaan Medang pada abad ke-10 ke timur, wilayah lembah di selatan Gunung Merapi sejak abad ke-15 tetap dihuni banyak orang dan konon menjadi bagian dari kawasan yang disebut sebagai Pengging. Dalam kronik perjalanannya, Bujangga Manik, seorang pangeran pertapa dari Kerajaan Sunda pernah melewati wilayah ini, tetapi tidak menyebut nama "Yogya" atau yang bermiripan.

Mataram Islam (1575 - 1620)[sunting | sunting sumber]

Cikal-bakal kota Yogya adalah kawasan Kotagede, sekarang menjadi salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta. Keraton penguasa Mataram Islam pertama, Panembahan Senapati (Sutawijaya), didirikan di suatu babakan yang merupakan bagian dari hutan Mentaok (alas Mentaok). Kompleks tertua keraton ini sekarang masih tersisa sebagai bagian batu benteng, pemakaman, dan masjid. Setelah sempat berpindah dua kali (di keraton Pleret dan keraton Kerta, keduanya berada di wilayah Kabupaten Bantul), pusat pemerintahan Kesultanan Mataram beralih ke Kartasura.

Setelah Perjanjian Giyanti (1745 - 1945)[sunting | sunting sumber]

Sejarah kota memasuki babak baru menyusul ditandatanganinya Perjanjian Giyanti antara Sunan Pakubuwono III, Pangeran Mangkubumi (yang dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubuwono I, dan VOC pada 13 Februari 1755. Perjanjian ini membagi dua Mataram menjadi Mataram Timur (yang dinamakan Surakarta) dan Mataram Barat (yang kemudian dinamakan Ngayogyakarta)

Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan politik baru secara resmi berdiri sejak Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) mengakhiri pemberontakan yang dipimpinnya, mendapat wilayah kekuasaan separuh wilayah Mataram yang tersisa, dan diizinkan mendirikan keraton di tempat yang dikenal sekarang. Tanggal wisuda keraton ini, 7 Oktober 1756, kini dijadikan sebagai hari jadi Kota Yogyakarta.

Perluasan kota Yogyakarta berjalan secara cepat. Perkampungan-perkampungan di luar tembok keraton dinamakan menurut kesatuan pasukan keraton, seperti Patangpuluhan, Bugisan, Mantrijeron, dan sebagainya. Selain itu, dibangun pula kawasan untuk orang-orang berlatar belakang non-pribumi, seperti Kotabaru untuk orang Belanda dan Pecinan untuk orang Tionghoa. Pola pengelompokan ini merupakan hal yang umum pada abad ke-19 sampai abad ke-20, sebelum berakhirnya penjajahan. Banyak di antaranya sekarang menjadi nama kecamatan di dalam wilayah kota.

Terdapat situs-situs tua yang tinggal puing, khususnya yang didirikan pada masa awal tetapi kemudian diterlantarkan karena rusak akibat gempa besar yang melanda pada tahun 1812, seperti situs tetirahan Warungboto, yang didirikan oleh Sultan Hamengkubuwana II dan situs Taman Sari di dalam tembok keraton yang didirikan Sultan Hamengkubuwana I. Pasar Beringharjo sudah dikenal sebagai tempat transaksi dagang sejak keraton berdiri, namun bangunan permanennya baru didirikan pada awal abad ke-20 (1925).

Paruh kedua abad ke-19 merupakan masa pemodernan kota. Stasiun Lempuyangan pertama dibangun dan selesai 1872. Stasiun Yogyakarta (Tugu) mulai beroperasi pada tanggal 2 Mei 1887. Yogyakarta di awal abad ke-20 merupakan kota yang cukup maju, dengan jaringan listrik, jalan untuk kereta kuda dan mobil cukup panjang, serta berbagai hotel serta pusat perbelanjaan (Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo) telah tersedia. Perkumpulan sepak bola lokal, PSIM, didirikan pada tanggal 5 September 1929 dengan nama Perserikatan Sepak Raga Mataram.

Masa Revolusi (1945 - 1950)[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta juga memainkan percaturan politik sejarah Indonesia, pada 4 Januari 1946, Pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk memindahkan Ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta setelah Belanda dengan Sekutu melancarkan serangan ke Indonesia. Kota ini juga menjadi saksi atas Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, yang pada akhirnya dapat diduduki Belanda, serta Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil mneguasai Yogyakarta selama 6 jam.

Pusaka dan Identitas Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Tombak Kyai Wijoyo Mukti

Merupakan Pusaka Pemberian Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tombak ini dibuat pada tahun 1921 semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Senjata yang sering dipergunakan para prajurit ini mempunyai panjang 3 meter. Tombak dengan pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir ini, landeannya sepanjang 2,5 meter terbuat dari kayu walikun, yakni jenis kayu yang sudah lazim digunakan untuk gagang tombak dan sudah teruji kekerasan dan keliatannya.

Sebelumnya tombak ini disimpan di bangsal Pracimosono dan sebelum diserahkan terlebih dahulu dijamasi oleh KRT. Hastono Negoro, di dalem Yudonegaran. Pemberian nama Wijoyo Mukti baru dilakukan bebarapa hari menjelang upacara penyerahan ke Pemkot Yogyakarta, pada peringatan hari ulang tahun ke-53 Pemerintah kota Yogyakarta tanggal 7 Juni 2000. Upacara penyerahan dilakukan di halaman Balaikota dan pusaka ini dikawal khusus oleh prajurit Kraton ”Bregodo Prajurit Mantrijero”.

Tombak Kyai Wijoyo Mukti melambangkan kondisi Wijoyo Wijayanti. Artinya, kemenangan sejati di masa depan, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kesenangan lahir bathin karena tercapainya tingkat kesejahteraan yang benar-benar merata.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Telepon penting Kota Yogyakarta (klik gambar untuk memperbesar)

Kota Yogyakarta terletak di lembah tiga sungai, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code (yang membelah kota dan kebudayaan menjadi dua), dan Sungai Gajahwong. Kota ini terletak pada jarak 600 KM dari Jakarta, 116 KM dari Semarang, dan 65 KM dari Surakarta, pada jalur persimpangan Bandung - Semarang - Surabaya - Pacitan. Kota ini memiliki ketinggian sekitar 112 m dpl.

Meski terletak di lembah, kota ini jarang mengalami banjir karena sistem drainase yang tertata rapi yang dibangun oleh pemerintah kolonial, ditambah dengan giatnya penambahan saluran air yang dikerjakan oleh Pemkot Yogyakarta.

Batas Administrasi[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta telah terintegrasi dengan sejumlah kawasan di sekitarnya, sehingga batas-batas administrasi sudah tidak terlalu menonjol. Untuk menjaga keberlangsungan pengembangan kawasan ini, dibentuklah sekretariat bersama Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) yang mengurusi semua hal yang berkaitan dengan kawasan aglomerasi Yogyakarta dan daerah-daerah penyangga (Depok, Mlati, Gamping, Kasihan, Sewon, dan Banguntapan).

Adapun batas-batas administratif Yogyakarta adalah:

  • Utara: Kecamatan Mlati dan Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman
  • Timur: Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman dan Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul
  • Selatan: Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Sewon, dan Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul
  • Barat: Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman dan Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta terdiri atas 14 kecamatan[3]. Berikut adalah daftar kecamatan di Yogyakarta :

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk kota Yogyakarta, berdasar Sensus Penduduk 2010 [4]., berjumlah 388.088 jiwa, dengan proporsi laki-laki dan perempuan yang hampir setara.

Islam merupakan agama mayoritas yang dianut masyarakat Yogyakarta, dengan jumlah penganut Kristen dan Katolik yang relatif signifikan. Seperti kebanyakan dari Islam kebanyakan di kota-kota pedalaman Jawa, mayoritas masih mempertahankan tradisi Kejawen yang cukup kuat.

Yogyakarta juga menjadi tempat lahirnya salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Hingga saat ini, Pengurus Pusat Muhammadiyah masih tetap berkantor pusat di Yogyakarta.

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Kota ini diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perguruan tinggi yang dimiliki oleh pemerintah adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta sangat strategis, karena terletak di jalur-jalur utama, yaitu Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Yogyakarta, Bandung, Surakarta, Surabaya, dan kota-kota di selatan Jawa, serta jalur Yogyakarta - Semarang, yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, Semarang, dan kota-kota di lintas tengah Pulau Jawa. Karena itu, angkutan di Yogyakarta cukup memadai untuk memudahkan mobilitas antara kota-kota tersebut. Kota ini mudah dicapai oleh transportasi darat dan udara, sedangkan karena lokasinya yang cukup jauh dari laut (27 - 30 KM) menyebabkan tiadanya transportasi air di kota ini.

Dalam kota[sunting | sunting sumber]

Bus kota[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang tidak mengenal istilah angkutan kota (angkot dengan armada minibus). Transportasi darat di dalam Yogyakarta dilayani oleh sejumlah bus kota. Kota Yogyakarta punya sejumlah jalur bus yang dioperasikan oleh koperasi masing-masing (antara lain Aspada, Kobutri, Kopata, Koperasi Pemuda Sleman, dan Puskopkar) yang melayani rute-rute tertentu[5]:

Trans Jogja[sunting | sunting sumber]

Sejak Maret 2008, sistem transportasi bus yang baru, bernama Trans Jogja hadir melayani sebagai transportasi massal yang cepat, aman dan nyaman. Trans Jogja merupakan bus 3/4 yang melayani berbagai kawasan di Kota, Sleman dan sebagian Bantul. Hingga saat ini (November 2010), telah ada 8 (delapan) trayek yang melayani berbagai sarana vital di Yogyakarta, yaitu[6]:

  • Trayek 1A dan Trayek 1B, melayani ruas protokol dan kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan, seperti Stasiun Yogyakarta, Malioboro, Istana Kepresidenan Yogyakarta.
  • Trayek 2A dan Trayek 2B, melayani kawasan perkantoran Kotabaru dan Sukonandi.
  • Trayek 3A dan Trayek 3B, melayani kawasan selatan, termasuk juga kawasan sejarah Kotagede.
  • Trayek 4A dan Trayek 4B, melayani kawasan pendidikan, seperti UII, APMD, UIN Sunan Kalijaga, dan Stasiun Lempuyangan.

Trans Jogja sangat diminati selain karena aman dan nyaman, tarif yang saat ini diterapkan juga terjangkau, yaitu Rp3.000,- untuk sekali jalan, dengan dua sistem tiket: sekali jalan dan berlangganan. Bagi tiket berlangganan, dikenakan potongan sebesar 10% untuk umum dan 30% bagi pelajar.

Taksi[sunting | sunting sumber]

Taksi mudah dijumpai di berbagai ruas jalan di Yogyakarta, terutama di ruas protokol dan kawasan pusat ekonomi dan wisata. Ada berbagai perusahaan taksi yang melayani angkutan ini, dari yang berupa sedan hingga minibus.

Luar kota[sunting | sunting sumber]

Kereta api[sunting | sunting sumber]

Transportasi ke Yogyakarta dapat menggunakan kereta api dari Jakarta, Bandung atau Surabaya, pemberangkatan dan kedatangan kereta api (KA) kelas eksekutif dan bisnis dilayani Stasiun Yogyakarta, juga dikenal sebagai Stasiun Tugu sedangkan KA kelas ekonomi dilayani di Stasiun Lempuyangan. Ada pula kereta api komuter cepat yang menghubungkan Kutoarjo dengan Surakarta melewati stasiun Lempuyangan, kereta tersebut bernama Prameks.

Bus[sunting | sunting sumber]

Bus AKAP tersedia dari dan ke semua kota di Pulau Jawa, datang dan berangkat dari Terminal Penumpang Yogyakarta, yang berada di Jalan Imogiri Timur, Giwangan, berada di tepi Jalan Lingkar Luar Selatan Yogyakarta, di batas wilayah antara Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul.Terminal lain yang lebih kecil seperti Terminal Jombor yang melayani antara lain rute Magelang dan Semarang dan Terminal Condong Catur ke arah Kaliurang.

Pesawat udara[sunting | sunting sumber]

Transportasi udara dari dan ke Yogyakarta dilayani oleh Bandara Internasional Adisutjipto yang terletak di tepi Jalan Adisucipto KM 9, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Bandara ini melayani penerbang domestik ke kota-kota besar di Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya), Sumatra (Batam), Bali, Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dan Balikpapan), dan Sulawesi (Makassar).

Selain itu, bandara ini juga melayani penerbangan harian ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan Malaysia Airlines dan Singapore Airlines.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sekolah menengah atas[sunting | sunting sumber]

Media[sunting | sunting sumber]

Televisi[sunting | sunting sumber]

Terrestrial televisi[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta juga memiliki beberapa terdiri dari 17-stasiun televisi (12-siaran nasional & 5-siaran lokal) seperti:

Kanal Signal Frekuensi Nama Jaringan Nama Perusahaan Ternama(PT.) Pemilik Status Negara
22 512.250-MHz UHF TVRI Nasional TVRI PT. Televisi Republik Indonesia Pemerintah Indonesia Nasional  Indonesia
TVRI Yogyakarta Pemerintah Yogyakarta Lokal
24 530.250-MHz Trans TV PT. Televisi Transformasi Indonesia Trans Corp Nasional
26 542.250-MHz MNCTV PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia MNC
28 554.250-MHz Indosiar PT. Indosiar Visual Mandiri EMTEK (SCM)
30 566.250-MHz ANTV PT. Cakrawala Andalas Televisi VIVA
32 578.250-MHz RCTI PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia MNC
34 590.250-MHz SCTV PT. Surya Citra Televisi EMTEK (SCM)
36 602.250-MHz Global TV PT. Global Informasi Bermutu MNC
38 614.250-MHz tvOne PT. Lativi Media Karya VIVA
40 626.250-MHz RBTV Jogja Kompas TV PT. Reksa Birama Media Kompas Gramedia Lokal
42 638.250-MHz MetroTV PT. Media Televisi Indonesia Media Group Nasional
44 655.250-MHz Adi TV City TV PT. Arah Dunia Televisi Mahaka Media Lokal
46 662.250-MHz Trans7 PT. Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh Trans Corp Nasional
48 674.250-MHz Jogja TV Bali TV/Indonesia Network PT. Yogyakarta Tugu Televisi Kelompok Media Bali Post Lokal
50 703.250-MHz TATV Solo PT. Terang Abadi Televisi TA Group
52 719.250-MHz NET. PT. Net Mediatama Indonesia Grup Indika Nasional
56 -MHz Nusa TV[7] B-Channel PT Metropolitan Televisindo B-Channel Nasional

Televisi berlangganan[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta juga memiliki beberapa televisi berlangganan seperti:

Surat kabar[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta juga memiliki beberapa tediri dari 11-surat kabar yang terbit di kota ini antara lain:

Nama Jenis Jaringan Perusahaan Bahasa
Koran SINDO Edisi Yogyakarta Nasional Koran SINDO SINDOMedia
(melalui MNC)
Indonesia
Suara Pembaruan Edisi Yogyakarta Suara Pembaruan BeritaSatu Media Holdings
Republika Edisi Yogyakarta Republika Mahaka Media
Kompas Edisi Yogyakarta Kompas Kompas Gramedia
Bisnis Indonesia Edisi Yogyakarta Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika
Media Indonesia Edisi Yogyakarta Media Indonesia Media Group
Joglosemar Lokal Sritex Intisari
Radar Yogyakarta Jawa Pos Grup Jawa Pos
Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Kedaulatan Rakyat Kedaulatan Rakyat
Tribun Yogyakarta Kompas Kompas Gramedia
Harian Jogja Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika

Radio[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta juga memiliki beberapa terdiri dari 34-buah stasiun radio bersiaran lokal seperti:

Frekuensi Signal Nama Stasiun
774-KHz AM Radio Suara Yogyakarta
1062-KHz Radio Erbe
1107-KHz Radio Programma 4 RRI
1152-KHz Radio Suara Istana
1188-KHz Radio Anak Yogyakarta
1251-KHz Radio Pendidikan Yogyakarta
87.7-MHz FM Radio Karbol
87.9-MHz Radio Arma Sebelas Radio Dangdut Indonesia
88.7-MHz I-Radio Yogyakarta I-Radio
91.1-MHz Radio Programma 1 RRI
91.5-MHz Radio Best
91.6-MHz Radio Budaya Swara Yogya
91.7-MHz Radio Amega
91.9-MHz Radio Prima
92.4-MHz Radio Bisnis Yogyakarta/Solo Radio Pas (Radio Bisnis Jakarta)
92.7-MHz Radio Mataram Buana Suara
93.5-MHz Radio Yasalma
94.6-MHz Radio Kota Perak
95.4-MHz Radio Yasika
95.8-MHz Radio Prambors Yogyakarta Radio Prambors
96.2-MHz Radio Ista
97.0-MHz Radio SINDO Trijaya FM Yogyakarta Radio SINDO Trijaya FM
97.4-MHz Radio Sonora Yogyakarta Radio Sonora
97.8-MHz Radio Keraton
99.4-MHz Radio Retjo Buntung
100.5-MHz Radio Impact FM
101.3-MHz Radio Star Yogyakarta Harian Yogyakarta
102.1-MHz Radio Eltira Radio Prambors
102.5-MHz Radio Programma 2 RRI
102.9-MHz Radio Programma 3 RRI
103.7-MHz Radio Female Yogyakarta Radio Female
104.5-MHz Radio Unisi
106.1-MHz Radio Geronimo
107.2-MHz Radio Suara Indrakila

Wali Kota Yogyakarta[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar wali kota atau kepala daerah yang pernah menjabat di Kota Yogyakarta sejak 1947:

No Walikota Bertugas
1 M. Enoch Mei 1947 - Juli 1947
2 Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo Juli 1947 - Januari 1966
3 Soedjono A. Y. Januari 1966 - November 1975
4 H. Ahmad November 1975 - Mei 1981
5 Soegiarto 1981-1986
6 Djatmiko D 1986-1991
7 R. Widagdo 1991-2001
8 Herry Zudianto 2001-2011
9 Drs. H. Haryadi Suyuti 2011-sekarang


Kota kembar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ BPS, 2010
  2. ^ Surjomihardjo, Abdurracham. 2008. Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe, Sejarah Sosial 1880-1930. Jakarta: Komunitas Bambu.
  3. ^ "Yogyakarta Dalam Angka" (PDF). BPS Kota Yogyakarta. Diakses 2012-12-19. 
  4. ^ BPS, 2010.
  5. ^ (Indonesia) Situs Resmi Pemerintah kota Yogyakarta. "Jalur bus" (pdf). Diakses 21 Juni.  Unknown parameter |accessyear= ignored (help)
  6. ^ http://gudeg.net/id/directory/53/3547/Trans-Jogja-.html
  7. ^ Ternyata NUSATV atau b-channel siaran di desa Ngoro-Oro, Jogja

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]