Kota Yogyakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kota Yogyakarta

ꦏꦸꦛꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠꦠ
Kutha Ngayogyakarta
Ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Lambang resmi Kota Yogyakarta
Lambang
Julukan: 
Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Gudeg
Motto: 
Mangayu Hayuning Bawana
"Memperindah keindahan dunia"
Slogan pembangunan: "Berhati Nyaman"
("Bersih, Sehat, Indah, dan Nyaman")
Lokasi Kota Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kota Yogyakarta is located in Jawa
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta is located in Indonesia
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta
Koordinat: 7°48′5″S 110°21′52″E / 7.80139°S 110.36444°E / -7.80139; 110.36444
Negara Indonesia
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
Tanggal peresmian7 Oktober 1756 (umur 265)
Pemerintahan
 • Wali KotaHaryadi Suyuti
 • Wakil Wali KotaHeroe Poerwadi
Luas
 • Total32,5 km2 (12,5 sq mi)
Populasi
 • Total427.498 jiwa
 • Kepadatan13.007,13/km2 (33,688,3/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 82,32%
Kristen 17,20%
Katolik 10,66%
Protestan 6,54%
Buddha 0,34%
Hindu 0,13%
Konghucu 0,01%[2]
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode telepon+62 274
Plat kendaraanAB
Kode Kemendagri34.71 Edit the value on Wikidata
Kode SNIYYK
Jumlah kecamatan14
DAURp 691.457.574.000,00- (2019)[3]
IPMKenaikan 86,61 (2020)
( Tinggi )[4]
Flora resmiKelapa gading
Fauna resmiBurung tekukur
Situs webwww.jogjakota.go.id

Kota Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦏꦸꦛ​ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, translit. Kutha Ngayogyakarta, pengucapan bahasa Jawa: [kuʈɔ ŋajogjɔˈkart̪ɔ]) adalah ibu kota dan pusat pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kota Yogyakarta adalah kediaman bagi Sultan Hamengkubuwana dan Adipati Paku Alam. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dan kota terbesar keempat di wilayah Pulau Jawa bagian selatan menurut jumlah penduduk. Kota Yogyakarta juga pernah menjadi ibu kota RI pada tahun 1946.

Salah satu kecamatan di Yogyakarta, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara kurun tahun 1575–1640. Keraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah Keraton Ngayogyakarta dan Puro Paku Alaman, yang merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram. Pada masa revolusi, Yogyakarta juga pernah menjadi ibu kota Indonesia antara tahun 1946 hingga 1950.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Yogyakarta terambil dari dua kata, yaitu Ayogya atau Ayodhya yang berarti "kedamaian" (atau tanpa perang, a "tidak", yogya merujuk pada yodya atau yudha, yang berarti "perang"), dan Karta yang berarti "baik". Ayodhya merupakan kota yang bersejarah di India di mana wiracarita Ramayana terjadi. Tapak keraton Yogyakarta sendiri menurut babad (misalnya Babad Giyanti) dan leluri (riwayat oral) telah berupa sebuah dalem yang bernama Dalem Gerjiwati; lalu dinamakan ulang oleh Sunan Pakubuwana II sebagai Dalem Ayogya.[5]

Pusaka dan Identitas Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Tombak Kyai Wijoyo Mukti

Merupakan Pusaka Pemberian Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tombak ini dibuat pada tahun 1921 semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Senjata yang sering dipergunakan para prajurit ini mempunyai panjang 3 meter. Tombak dengan pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir ini, landeannya sepanjang 2,5 meter terbuat dari kayu walikun, yakni jenis kayu yang sudah lazim digunakan untuk gagang tombak dan sudah teruji kekerasan dan keliatannya.

Sebelumnya tombak ini disimpan di bangsal Pracimosono dan sebelum diserahkan terlebih dahulu dijamasi oleh KRT. Hastono Negoro, di dalem Yudonegaran. Pemberian nama Wijoyo Mukti baru dilakukan bebarapa hari menjelang upacara penyerahan ke Pemkot Yogyakarta, pada peringatan hari ulang tahun ke-53 Pemerintah kota Yogyakarta tanggal 7 Juni 2000. Upacara penyerahan dilakukan di halaman Balaikota dan pusaka ini dikawal khusus oleh prajurit Kraton ”Bregodo Prajurit Mantrijero”.

Tombak Kyai Wijoyo Mukti melambangkan kondisi Wijoyo Wijayanti. Artinya, kemenangan sejati pada masa depan, di mana seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kesenangan lahir bathin karena tercapainya tingkat kesejahteraan yang benar-benar merata.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Telepon penting Kota Yogyakarta (klik gambar untuk memperbesar)

Kota Yogyakarta terletak di lembah tiga sungai, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code (yang membelah kota dan kebudayaan menjadi dua), dan Sungai Gajahwong. Kota ini terletak pada jarak 600 KM dari Jakarta, 116 KM dari Semarang, dan 65 KM dari Surakarta, pada jalur persimpangan Bandung – Semarang – Surabaya – Pacitan. Kota ini memiliki ketinggian sekitar 112 m dpl.

Meski terletak di lembah, kota ini jarang mengalami banjir karena sistem drainase yang tertata rapi yang dibangun oleh pemerintah kolonial, ditambah dengan giatnya penambahan saluran air yang dikerjakan oleh Pemkot Yogyakarta.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta telah terintegrasi dengan sejumlah kawasan di sekitarnya, sehingga batas-batas administrasi sudah tidak terlalu menonjol. Untuk menjaga keberlangsungan pengembangan kawasan ini, dibentuklah sekretariat bersama Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) yang mengurusi semua hal yang berkaitan dengan kawasan aglomerasi Yogyakarta dan daerah-daerah penyangga (Depok, Mlati, Gamping, Kasihan, Sewon, dan Banguntapan).

Adapun batas-batas administratif Yogyakarta adalah:

Utara Kabupaten Sleman
Timur Kabupaten Sleman
Selatan Kabupaten Bantul
Barat Kabupaten Sleman

Iklim & Cuaca[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta memiliki iklim yang sama dengan wilayah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis, dengan tipe iklim muson tropis (Am). Angin muson timur–tenggara yang bersifat kering dan dingin menyebabkan musim kemarau di wilayah kota Yogyakarta dan angin muson ini berlangsung pada periode Mei hingga Oktober. Sementara itu, angin muson barat–barat daya yang bersifat lembab dan membawa banyak uap air menyebabkan musim penghujan di wilayah kota Yogyakarta dan angin muson ini bertiup pada periode November hingga April. Rata-rata curah hujan di wilayah kota Yogyakarta adalah ±2012 milimeter per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 100–150 hari hujan per tahunnya. Tingkat kelembapan rata-rata per tahun di wilayah ini adalah ±77%.[6]

Data iklim Kota Yogyakarta, DIY, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rekor tertinggi °C (°F) 33.6
(92.5)
34.2
(93.6)
34.7
(94.5)
35.3
(95.5)
34.1
(93.4)
34.3
(93.7)
34.3
(93.7)
35.4
(95.7)
36.8
(98.2)
37.9
(100.2)
37.7
(99.9)
34.6
(94.3)
37.9
(100.2)
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29.8
(85.6)
30.2
(86.4)
30.4
(86.7)
31.3
(88.3)
31.1
(88)
31
(88)
30.3
(86.5)
30.7
(87.3)
31.2
(88.2)
31.4
(88.5)
30.7
(87.3)
30.1
(86.2)
30.68
(87.25)
Rata-rata harian °C (°F) 26.3
(79.3)
26.5
(79.7)
26.6
(79.9)
27.1
(80.8)
26.9
(80.4)
26.2
(79.2)
25.4
(77.7)
25.6
(78.1)
26.4
(79.5)
27
(81)
26.8
(80.2)
26.5
(79.7)
26.44
(79.63)
Rata-rata terendah °C (°F) 22.8
(73)
22.8
(73)
22.9
(73.2)
23
(73)
22.7
(72.9)
21.5
(70.7)
20.5
(68.9)
20.7
(69.3)
21.7
(71.1)
22.7
(72.9)
23
(73)
22.9
(73.2)
22.27
(72.02)
Rekor terendah °C (°F) 20.4
(68.7)
20.3
(68.5)
18.3
(64.9)
19.8
(67.6)
18.1
(64.6)
16.4
(61.5)
16.3
(61.3)
17.4
(63.3)
17.9
(64.2)
18.5
(65.3)
19.9
(67.8)
20.1
(68.2)
16.3
(61.3)
Presipitasi mm (inci) 362
(14.25)
324
(12.76)
249
(9.8)
210
(8.27)
114
(4.49)
67
(2.64)
26
(1.02)
21
(0.83)
54
(2.13)
108
(4.25)
220
(8.66)
257
(10.12)
2.012
(79,22)
Rata-rata hari hujan 21 19 16 12 10 6 2 2 5 9 13 17 132
% kelembapan 84 83 81 78 77 74 71 69 73 75 77 82 77
Rata-rata sinar matahari bulanan 155 168 186 209 217 221 248 256 224 227 195 189 2.495
Sumber #1: Climate-Data.org[7]
Sumber #2: Weatherbase & WeatherAtlas[8][9]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Wali Kota[sunting | sunting sumber]

No. Wali Kota Bertugas Wakil Wali Kota Ref.
Mulai Menjabat Akhir Menjabat
1 Wali Kota Jogja M. Enoch.jpg M. Enoch Mei 1947 Juli 1947
2 Wali Kota Jogja Soedarisman Poerwokoesoemo.jpg Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo Juli 1947 Januari 1966
3 Wali Kota Jogja Soedjono AY.jpg Soedjono A. Y. Januari 1966 November 1975
4 Wali Kota Jogja H Ahmad.jpg H. Ahmad November 1975 Mei 1981
5 Wali Kota Joga Soegiarto.jpg Soegiarto 1981 1986
6 Wali Kota Jogja Djatmikanto D1.jpg Djatmiko D 1986 1991
7 Wali Kota Jogja R. Widagdo .jpg R. Widagdo 1991 1996
1996 2001
8 Herry Zudianto.jpg Herry Zudianto 2001 2006 Syukri Fadholi
2006 2011 Haryadi Suyuti
9 Wali Kota Jogja Haryadi S.jpg Haryadi Suyuti 20 Desember 2011 20 Desember 2016 Imam Priyono
Sulistyo
(Pelaksana tugas)
20 Desember 2016 22 Mei 2017
(9) Pak-Haryadi-Suyuti- M9A5123.jpg Haryadi Suyuti 22 Mei 2017 Petahana Heroe Poerwadi


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Yogyakarta dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009–2014 2014–2019 2019–2024
  Gerindra (baru) 2 Kenaikan 5 Steady 5
  PDI-P 11 Kenaikan 15 Penurunan 13
  Golkar 5 Steady 5 Penurunan 4
  NasDem (baru) 1 Kenaikan 4
  PKS 5 Penurunan 4 Kenaikan 5
  PPP 2 Kenaikan 4 Penurunan 1
  PAN 5 Steady 5 Kenaikan 6
  Demokrat 10 Penurunan 1 Kenaikan 2
Jumlah Anggota 40 Steady 40 Steady 40
Jumlah Partai 7 Steady 8 Steady 8


Kemantren[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta memiliki 14 Kemantren dan 45 Kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 410.262 jiwa yang tersebar di wilayah seluas 32,50 km² dengan tingkat kepadatan penduduk 12.623 jiwa/km².[10][11]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Yogyakarta, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kêmantrèn Hanacaraka Transliterasi Jumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
34.71.04 Danurejan ꦢꦤꦸꦸꦉꦗꦤ꧀ Danurejan 3
34.71.05 Gedongtengen ꦒꦼꦝꦺꦴꦁꦠꦼꦔꦼꦤ꧀ Gedhongtengen 2
34.71.03 Gondokusuman ꦒꦤ꧀ꦢꦏꦸꦱꦸꦩꦤ꧀ Gandakusuman 5
34.71.10 Gondomanan ꦒꦤ꧀ꦢꦩꦤꦤ꧀ Gandanaman 2
34.71.02 Jetis ꦗꦼꦛꦶꦱ꧀ Jetis 3
34.71.14 Kotagede ꦏꦸꦛꦒꦼꦝꦺ Kuthagede 3
34.71.09 Kraton ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ Karaton 3
34.71.08 Mantrijeron ꦩꦤ꧀ꦠꦿꦶꦗꦼꦫꦺꦴꦤ꧀ Mantrijeron 3
34.71.12 Mergangsan ꦩꦼꦂꦒꦁꦱꦤ꧀ Mergangsan 3
34.71.06 Ngampilan ꦔꦩ꧀ꦥꦶꦭ꧀ꦭꦤ꧀ Ngampilan 2
34.71.11 Pakualaman ꦦꦏꦸꦄꦭꦩ꧀ꦩꦤ꧀ Pakualaman 2
34.71.01 Tegalrejo ꦠꦼꦒꦭ꧀ꦉꦗ Tegalreja 4
34.71.13 Umbulharjo ꦲꦸꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦲꦂꦗ Umbulharja 7
34.71.07 Wirobrajan ꦮꦶꦫꦧꦿꦗꦤ꧀ Wirabajan 3
TOTAL 45

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk kota Yogyakarta, berdasar Sensus Penduduk 2010[12]., berjumlah 388.088 jiwa, dengan proporsi laki-laki dan perempuan yang hampir setara. Sementara tahun 2017 jumlah penduduk kota ini bertambah menjadi 422.732 jiwa dengan kepadatan 13.007,13 jiwa/km².[1]

Islam merupakan agama mayoritas yang dianut masyarakat kota Yogyakarta 82,32%, dengan jumlah penganut Kristen yang relatif signifikan (Katolik 10,66% & Protestan 6,54%). Sebagian kecil lagi adalah pemeluk agama Buddha 0,34%, Hindu 0,13% dan Konghucu 0,01%.[2] Seperti kebanyakan dari Islam kebanyakan di kota-kota pedalaman Jawa, mayoritas masih mempertahankan tradisi Kejawen yang cukup kuat.

Yogyakarta juga menjadi tempat lahirnya salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Hingga saat ini, Pengurus Pusat Muhammadiyah masih tetap berkantor pusat di Yogyakarta.

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Kota ini diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perguruan tinggi yang dimiliki oleh pemerintah adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Menurut Badan Bahasa, bahasa Jawa dialek Yogya-Solo merupakan bahasa daerah yang dituturkan mayoritas penduduk Kota Yogyakarta.[13] Menurut Statistik Kebahasaan 2019, bahasa ini menjadi satu-satunya bahasa daerah asli Kota Yogyakarta.[14] Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kota Yogyakarta adalah bahasa Indonesia.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta sangat strategis, karena terletak di jalur-jalur utama, yaitu Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Yogyakarta, Bandung, Surakarta, Surabaya, dan kota-kota di selatan Jawa, serta jalur Yogyakarta – Semarang, yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, Semarang, dan kota-kota di lintas tengah Pulau Jawa. Karena itu, angkutan di Yogyakarta cukup memadai untuk memudahkan mobilitas antara kota-kota tersebut. Kota ini mudah dicapai oleh transportasi darat dan udara, sedangkan karena lokasinya yang cukup jauh dari laut (27 – 30 KM) menyebabkan tiadanya transportasi air di kota ini.

Transportasi Darat[sunting | sunting sumber]

Bus kota[sunting | sunting sumber]

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang tidak mengenal istilah angkutan kota (angkot dengan armada minibus). Transportasi darat di dalam Yogyakarta dilayani oleh sejumlah bus kota. Kota Yogyakarta punya sejumlah jalur bus yang dioperasikan oleh koperasi masing-masing (antara lain Aspada, Kobutri, Kopata, Koperasi Pemuda Sleman, dan Puskopkar) yang melayani rute-rute tertentu:[15]

Trans Jogja[sunting | sunting sumber]

Sejak Maret 2008, sistem transportasi bus yang baru, bernama Trans Jogja hadir melayani sebagai transportasi massal yang cepat, aman dan nyaman. Trans Jogja merupakan bus 3/4 yang melayani berbagai kawasan di Kota, Sleman dan sebagian Bantul. Hingga saat ini (Tahun 2017), telah ada 17 (tujuh belas) trayek yang melayani berbagai sarana vital di Yogyakarta, yaitu:[16]

  • Trayek 1A dan Trayek 1B, melayani ruas protokol dan kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan, seperti Stasiun Yogyakarta, Malioboro, Istana Kepresidenan Yogyakarta.
  • Trayek 2A dan Trayek 2B, melayani kawasan perkantoran Kotabaru dan Sukonandi.
  • Trayek 3A dan Trayek 3B, melayani kawasan selatan, termasuk juga kawasan sejarah Kotagede.
  • Trayek 4A dan Trayek 4B, melayani kawasan pendidikan, seperti UII, APMD, UIN Sunan Kalijaga, dan Stasiun Lempuyangan.
  • Trayek 5A dan Trayek 5B, melayani kawasan Jalan Magelang dan kawasan Seturan
  • Trayek 6A dan Trayek 6B, melayani kawasan barat daya, seperti kampus UMY dan Jalan Parangtritis.
  • Trayek 7, melayani kawasan timur seperti Jalan Wonosari dan Babarsari
  • Trayek 8, melayani kawasan barat seperti Gamping dan Ringroad Barat
  • Trayek 9, melayani kawasan sejarah bagian barat seperti Ngabean pasthy dan Pojok Beteng
  • Trayek 10, melayani kawasan Gamping dan Stasiun Lempuyangan
  • Trayek 11, melayani kawasan Condong Catur dan Pasar telo

Trans Jogja sangat diminati selain karena aman dan nyaman, tarif yang saat ini diterapkan juga terjangkau, yaitu Rp 3.500,- untuk sekali jalan, dengan dua sistem tiket: sekali jalan dan berlangganan. Bagi tiket berlangganan, dikenakan potongan sebesar 50% untuk pelajar dan 15% untuk umum.

Taksi[sunting | sunting sumber]

Taksi mudah dijumpai di berbagai ruas jalan di Yogyakarta, terutama di ruas protokol dan kawasan pusat ekonomi dan wisata. Ada berbagai perusahaan taksi yang melayani angkutan ini, dari yang berupa sedan hingga minibus.

Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Transportasi ke Yogyakarta dapat menggunakan kereta api, dengan berbagai tujuan seperti Jakarta, Bandung, Purwokerto, Kebumen, Semarang, Solo, Blitar, Surabaya, Malang, Jember, dan Banyuwangi. Terdapat sebanyak kurang lebih 33 kereta api yang melintasi Kota Yogyakarta (dengan total sebanyak 121-139 total jadwal perjalanan perharinya).

Terdapat 2 stasiun besar di Kota Yogyakarta, yaitu Stasiun Yogyakarta (dikenal sebagai Stasiun Tugu) dan Stasiun Lempuyangan. Tersedia kereta api komuter yang menghubungkan Kutoarjo dengan Yogyakarta, kereta tersebut bernama Prameks, dan untuk penghubung Kota Surakarta dengan Yogyakarta, kereta tersebut bernama Lin Yogyakarta yang merupakan pengganti KA Prameks Yogyakarta-Solo dan dikelola oleh KAI Commuter.

Selain itu juga tersedia KA Bandara YIA yang merupakan tujuan Stasiun Yogyakarta International Airport.

Bus[sunting | sunting sumber]

Bus AKAP tersedia dari dan ke semua kota di Pulau Jawa, datang dan berangkat dari Terminal Penumpang Yogyakarta, yang berada di Jalan Imogiri Timur, Giwangan, berada di tepi Jalan Lingkar Luar Selatan Yogyakarta, di batas wilayah antara Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul.

Transportasi Udara[sunting | sunting sumber]

Transportasi udara dari dan ke seluruh wilayah DI Yogyakarta sekarang dilayani oleh bandara Internasional Yogyakarta terletak di kapanéwon Temon, kabupaten Kulon Progo. Bandara ini melayani penerbang domestik ke kota-kota besar di Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya), Sumatra (Batam), Bali, Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dan Balikpapan), dan Sulawesi (Makassar).

Selain itu, bandara ini juga melayani penerbangan harian ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan AirAsia dan SilkAir.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sekolah dasar[sunting | sunting sumber]

Sekolah menengah pertama[sunting | sunting sumber]

  • Sekolah menengah atas[sunting | sunting sumber]

    Sekolah menengah kejuruan[sunting | sunting sumber]

    Pondok Pesantren[sunting | sunting sumber]

    • Madrasah Muallimin Muhammadiyah
    • Madrasah 'Aisyiah Yogyakarta Suronatan
    • Pondok Pesantren Al Barokah

    Media Massa[sunting | sunting sumber]

    Televisi[sunting | sunting sumber]

    Masyarakat Kota Yogyakarta dapat menikmati sejumlah siaran televisi (lokal dan nasional, dari DIY maupun Jateng), dengan menggunakan televisi analog maupun televisi digital.

    Koran[sunting | sunting sumber]

    Kota Yogyakarta memiliki 11 koran yang terbit antara lain:

    Nama Jenis Jaringan Perusahaan Bahasa
    Koran SINDO Edisi Yogyakarta Nasional Koran SINDO SINDOMedia
    (melalui MNC)
    Indonesia
    Republika Edisi Yogyakarta Republika Mahaka Media
    Kompas Edisi Yogyakarta Kompas Kompas Gramedia
    Bisnis Indonesia Edisi Yogyakarta Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika
    Media Indonesia Edisi Yogyakarta Media Indonesia Media Group
    Joglosemar Lokal Sritex Intisari
    Radar Jogja Jawa Pos Grup Jawa Pos
    Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Kedaulatan Rakyat Kedaulatan Rakyat
    Tribun Jogja Kompas Kompas Gramedia
    Harian Jogja Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika

    Radio[sunting | sunting sumber]

    Kota Yogyakarta juga memiliki 35 buah stasiun radio yang bersiaran lokal.

    Kota kembar[sunting | sunting sumber]

    Referensi[sunting | sunting sumber]

    1. ^ a b "Kota Yogyakarta Dalam Angka 2019". BPS Kota Yogyakarta. Diakses tanggal 3 Februari 2020. 
    2. ^ a b "Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama di D.I Yogyakarta 2014". Pemprov D.I Yogyakarta. Diakses tanggal 25 Februari 2020. 
    3. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2019" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. 2019. Diakses tanggal 21 Januari 2021. 
    4. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2019-2020". www.bps.go.id. Diakses tanggal 21 Januari 2021. 
    5. ^ Surjomihardjo, Abdurracham. 2008. Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe, Sejarah Sosial 1880–1930. Jakarta: Komunitas Bambu.
    6. ^ https://www.jogjakota.go.id/pages/geografis
    7. ^ "Yogyakarta, DIY, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 30 Agustus 2020. 
    8. ^ "Yogyakarta, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 30 Agustus 2020. 
    9. ^ "Yogyakarta, Indonesia". WeatherAtlas. Diakses tanggal 30 Agustus 2020. 
    10. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
    11. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
    12. ^ BPS, 2010.
    13. ^ "Bahasa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
    14. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 4. ISBN 9786028449182. 
    15. ^ (Indonesia)Situs Resmi Pemerintah kota Yogyakarta. "Jalur bus" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (pdf) tanggal 2010-09-24. Diakses tanggal 21 Juni 2009. 
    16. ^ "Trans Jogja". gudeg.net. Diakses tanggal 2020-06-13. 

    Lihat pula[sunting | sunting sumber]

    Pranala luar[sunting | sunting sumber]