Suku Angkola

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Suku Batak Angkola
Jumlah populasi

1.199.000[1]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Bahasa
Angkola
Agama
Islam 70%
Kristen Protestan 30%
Kelompok etnik terdekat
Mandailing
Toba
Simalungun
Pakpak
Karo

Suku Batak Angkola adalah salah satu sub-etnis dari Suku Bangsa Batak,di samping Batak Toba,Batak Karo,Batak Dairi,Batak Simalungun,Batak Mandailing. Tanah ulayat Suku Batak Angkola berada di wilayah geografis Tapanuli bagian selatan (tabagsel) yang meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kota Padangsidimpuan.Suku Batak Angkola memiliki hubungan yang sangat erat dengan Suku Batak Mandailing disebabkan oleh persamaan bahasa, budaya, adat istiadat, hingga agama.

Mereka berdiam dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan,Provinsi Sumatra Utara,meskipun sebagian dari mereka hidup tersebar di luar daerah asalnya. Dalam Kabupaten ini mereka bermukiman di Kecaatan Batang Toru,Sipirok,Saipar,Dolok Hole,Dolok,Padang Bolak,Barumun Tengah,Sosa,Barumun,Sosopan,Padang Sidempuan, dan Batang Angkola.[2]


Sejarah[sunting | sunting sumber]

Suatu sumber sejarah mencatat bahwa prang Agkola mula berkembangnya dari daerah Porboti,Padang Lawas (Padang Bolak),Tapanuli Selatan yang di kemumukan oleh B.G.Siregar dalam Surat Tumbangan Holing: Buku Pelajaran Adat Tapanuli Selatan(1984).

Padang Bolak adalah wilayah asal orang Batak Angkola,di daerah Porboti terdapat sebuah candi,yaitu candi Biara,peninggalan agama Hindu,pengaruh tersebut tampak juga pada tulisan Batak,atrologi,permainan catur,dan kosakata sanskerta. Ini merupakan bukti adanya kontak dengan India dan Jawa.

Candi di Parboti ini konon berjumlah 16 buah,dan kini yang masih ada tinggal lima buah. Diantara kelima candi itu , tiga di antaranya disebut Bahal I,II,III.

Pada Bahal I Tinggi candi tersisa sekitar 12 meter,berukuran 10 x 10 meter . Relief dinding luar berwujud orang menari.

Bahal II terletak sekitar 400 meter dari Bahal I , dan terdapat gambar dewa yang sedang menari. Candi ini berada di tengah padang ilalang. Bahal I terletak di arah Timur dengan ukuran 7 x 7 meter. Disekitaran candi-candi terdapat banyak sisa-sisa bangunan kuno dengan kepunahannya.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Orang Batak Angkola dan orang Batak Mandailing menggunakan dialek Toba,sebagai salah satu dialek dari bahasa Batak.

Marga[sunting | sunting sumber]

Sebagai salah satu sub-suku Batak, Suku Angkola memiliki marga sebagai identitas sosial. Marga-marga Suku Angkola meliputi:

Dalam perkembangannya tidak sedikit orang Batak Toba yang membuka kampung baru ke daerah selatan tepatnya di daerah tanah ulayat Suku Batak Angkola dan telah mengadopsi penuh adat istiadat Angkola. Sebagian marga-marga Suku Batak Toba yang memiliki populasi signifikan di tanah Angkola meliputi:

Agama[sunting | sunting sumber]

Mayoritas Suku Angkola menganut agama Islam. Namun terdapat sebagian kecil yang menganut agama Kristen Protestan, GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola) merupakan gereja basis bagi orang Batak Angkola yang menganut agama Kristen Protestan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://joshuaproject.net/people_groups/10718/ID
  2. ^ Lien, Dwiari Ratnawati (2018). Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.