Suku Angkola

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Suku Angkola
Jumlah populasi

1.199.000[1]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Bahasa
Angkola
Agama
Islam 97%
Kristen Protestan 3%
Kelompok etnik terdekat
Mandailing
Toba
Simalungun
Pakpak
Karo

Suku Angkola atau sering juga disebut Suku Batak Angkola adalah salah satu sub-etnis dari Suku Bangsa Batak,di samping Batak Toba,Karo,Dairi,Simalungun,Mandailing. Tanah ulayat Suku Angkola berada di wilayah geografis Tapanuli bagian selatan (tabagsel) yang meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kota Padangsidimpuan. Suku Angkola memiliki hubungan yang sangat erat dengan Suku Batak Mandailing disebabkan oleh persamaan bahasa, budaya, adat istiadat, hingga agama.

Mereka berdiam dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan,Profinsi Sumatra Utara,meskipun sebagian dari mereka hidup tersebar di luar daerah asalnya. Dalam Kabupaten ini mereka bermukiman di Kecaatan Batang Toru,Sipirok,Saipar,Dolok Hole,Dolok,Padang Bolak,Barumun Tengah,Sosa,Barumun,Sosopan,Padang Sidempuan, dan Batang Angkola.[2]


Sejarah[sunting | sunting sumber]

Suatu sumber sejarah mencatat bahwa prang Agkola mula berkembangnya dari daerah Porboti,Padang Lawas (Padang Bolak),Tapanuli Selatan yang di kemumukan oleh B.G.Siregar dalam Surat Tumbangan Holing: Buku Pelajaran Adat Tapanuli Selatan(1984).

Padang Bolak adalah wilayah asal orang Angkola,didaerah Porboti terdapat sebuah candi,yaitu candi Biara,r peninggalan agama Hindu,pengaruh tersebut tampak juga pada tulisan Batak,atrologi,permainan catur,dan kosakata sanskerta. Ini merupakan bukti adanya kontak dengan India dan Jawa.

Candi di Parboti ini konon berjumlah 16 buah,dan kini yang masih ada tinggal lima buah. Diantara kelima candi itu , tiga di antaranya disebut Bahal I,II,III.

Pada Bahal I Tinggi candi tersisa sekitar 12 meter,berukuran 10 x 10 meter . Relief dinding luar berwujud orang menari.

Bahal II terletak sekitar 400 meter dari Bahal I , dan terdapat gambar dewa yang sedang menari. Candi ini berada di tengah padang ilalang. Bahal I terletak di arah Timur dengan ukuran 7 x 7 meter. Disekitaran candi-candi terdapat banyak sisa-sisa bangunan kuno dengan kepunahannya.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Orang Angkola dan orang Mandailing menggunakan dialek Toba,sebagai salah satu dialek dari bahasa Batak.

Marga[sunting | sunting sumber]

Sebagai salah satu sub-suku Batak, Suku Angkola memiliki marga sebagai identitas sosial. Marga-marga Suku Angkola meliputi:

Dalam perkembangannya tidak sedikit orang Toba yang membuka kampung baru ke daerah selatan tepatnya di daerah tanah ulayat Suku Angkola dan telah mengadopsi penuh adat istiadat Angkola. Sebagian marga-marga Suku Toba yang memiliki populasi signifikan di tanah Angkola meliputi:

Agama[sunting | sunting sumber]

Mayoritas Suku Angkola menganut agama Islam. Namun terdapat sebagian kecil yang menganut agama Kristen, GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola) merupakan gereja basis bagi orang Angkola yang menganut agama Kristen.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://joshuaproject.net/people_groups/10718/ID
  2. ^ Lien, Dwiari Ratnawati (2018). Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.