Kota Padang Sidempuan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kota Padang Sidempuan
Padangsidempuan.jpg
Logo resmi Kota Padang Sidempuan
Logo
Semboyan: Salumpat Saindege
(Selangkah Seirama, Seia Sekata)
Letak Kota Padang Sidempuan di Sumatera Utara
Letak Kota Padang Sidempuan di Sumatera Utara
Kota Padang Sidempuan is located in Indonesia
Kota Padang Sidempuan
Letak kota Padang Sidempuan di Indonesia
Koordinat: 1°22′0″LU 99°16′20″BT / 1,36667°LU 99,27222°BT / 1.36667; 99.27222
Negara Indonesia
Provinsi Sumatera Utara
Pemerintahan
 • Walikota Andar Amin Harahap, S.STP
Area
 • Total 114.65 km2 (44.27 mil²)
Populasi (2010)
 • Total 198.234
 • Kepadatan Bad rounding here1,700/km2 (Bad rounding here4,500/sq mi)
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode wilayah +62 634

Kota Padangsidimpuan adalah sebuah kota di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Kota Padang Sidempuan terkenal dengan sebutan Kota Salak karena di kota inilah para petani salak yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan (yang mengelilingi wilayah kota ini), terutama pada kawasan di kaki Gunung Lubukraya, menjual hasil panen mereka.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama kota ini berasal dari "Padang na dimpu" (padang=hamparan luas, na=yang, dan dimpu=tinggi) yang berarti "hamparan rumput yang luas yang berada di tempat yang tinggi." Pada zaman dahulu daerah ini merupakan tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah, pedagang ikan dan garam dari Sibolga - Padang Sidempuan - Panyabungan, Padang Bolak (Paluta) - Padang Sidempuan - Sibolga.

Seiring perkembangan zaman, tempat persinggahan ini semakin ramai dan kemudian menjadi kota. Kota ini dibangun pertama kali sebagai benteng pada 1821 oleh pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Lelo. Benteng ini membentang dari Batang Ayumi sampai Aek Sibontar. Sisa-sisa benteng peninggalan Perang Paderi saat ini masih ditemukan, walau sudah tidak terawat dengan baik. Salah satu pengaruh pasukan Paderi ini pada kota bentukan mereka ini ialah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk kota ini ialah agama Islam.

Pada zaman penjajahan Belanda, kota Padang Sidempuan dijadikan pusat pemerintahan oleh penjajah Belanda di daerah Tapanuli. Peninggalan bangunan Belanda di sana masih dapat dijumpai berupa kantor pos polisi di pusat kota. Sehingga tidak heran, kalau ingin melihat sejarah kota Padang Sidempuan, tersimpan foto-foto zaman dahulu kota Padang Sidempuan di sebuah museum di kota Leiden, Belanda.

Letak Geografis[sunting | sunting sumber]

Secara geografis, kota Padangsidimpuan secara keseluruhan dikelilingi oleh Kabupaten Tapanuli Selatan yang dulunya merupakan kabupaten induknya. Kota ini merupakan persimpangan jalur darat untuk menuju kota Medan, Sibolga, dan Padang (Sumatera Barat) di jalur lintas barat Sumatera.

Topografi wilayahnya yang berupa lembah yang dikelilingi oleh Bukit Barisan, sehingga kalau dilihat dari jauh, wilayah kota Padang Sidempuan tak ubahnya seperti cekungan yang meyerupai danau. Puncak tertinggi dari bukit dan gunung yang mengelilingi kota ini adalah Gunung Lubuk Raya dan Bukit (Tor) Sanggarudang yang terletak berdampingan di sebelah utara kota. Salah satu puncak bukit yang terkenal di kota padang Sidempuan yaitu Bukit (Tor) Simarsayang. Juga terdapat banyak sungai yang melintasi kota ini, antara lain sungai Batang Ayumi, Aek Sangkumpal Bonang (yang sekarang menjadi nama pusat perbelanjaan di tengah kota ini), Aek Rukkare yang bergabung dengan Aek Sibontar, dan Aek Batangbahal.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga kota ini berubah menjadi Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1982, kota ini terbagi atas enam (6) wek (wijk) yakni Wek I (Kampung Marancar), Wek II (Pasar Julu), Wek III (Kampung Teleng), Wek IV (Kampung Jawa dan Kantin), Wek V (Pasar Siborang dan Sitamiang), dan Wek VI (Kampung Darek), . Kemudian sejak tanggal 21 Juni 2001, berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2001, Kota Padang Sidempuan ditetapkan sebagai Daerah Otonom dan merupakan hasil penggabungan dari Kecamatan Padang Sidempuan Utara, Kecamatan Padang Sidempuan Selatan, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, dan Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara yang sebelumnya masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kecamatan di Kota Padang Sidempuan adalah:

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Sesuai dengan hasil Pemilu 2009, kota ini diwakili oleh sejumlah partai sebagaimana yang tertera pada tabel.

DPRD kota Padang Sidempuan 2009-2014
Partai Kursi
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 4
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 2
Lambang PDI-P PDI-P 2
Lambang PAN PAN 2
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 2
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 1
Lambang PPP PPP 1
Lambang PKB PKB 1
Lambang Partai Patriot Partai Patriot 1
Lambang PKPB PKPB 1
Total 25
Sumber:[1]

Sekolah dan Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Saat ini aset pendidikan berupa sekolah di kota Padangsidimpuan tercatat TK sebanyak 13 unit negeri dan swasta. Tingkat SD, MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) dan swasta sebanyak 91 unit. setingkat SMP, MTs negeri dan swasta 34 unit dan SMA, MA, dan SMK negeri dan swasta sebanyak 37 unit. Sedangkan Perguruan Tinggi negeri dan swasta sebanyak 10 unit. Satu-satunya perguruan tinggi negeri di kota Padangsidmpuan adalah IAIN Padangsidimpuan dan satu perguruan tinggi swasta Universitas Graha Nusantara sedang tahap proses menjadi universitas negeri. UGN berada di Simarsayang. Sedangkan salah satu perguruan tinggi swasta lainnya yaitu Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) yang merupakan universitas swasta terbesar di daerah Tabagsel bahkan terbesar di daerah Sumut setelah kota Medan. (SF).

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Penghasilan masyarakat Padang Sidempuan sebagian besar bertani. meliputi persawahan dan perkebunan. produksi perkebunan yang utama adalah salak (khususnya terdapat di desa Lobulayan) , karet, kopi, kelapa, kakao, cengkeh, kemiri dan kulit manis.

Sarana dan Prasarana[sunting | sunting sumber]

Tepat di pusat kota, terdapat alun-alun yang disebut dengan Alaman Bolak (Halaman Luas), Plaza Anugrah yang berdampingan dengan Pasar Sangkumpal Bonang, dan Masjid Raya al-Abror. Mesjid ini dibangun pada lapangan sepakbola yang bersamaan dengan pembangunan mesjid ini dibangun juga sebuah stadion baru. Kota ini juga memiliki klub sepakbola yang bernama PSKPS (Persatuan Sepakbola Kota Padang Sidempuan) yang bermarkas di Stadion Naposo (sekarang bernama Stadion "M. Nurdin Nasution," sebagai penghormatan kepadanya yang ketika menjabat bupati Tapanuli Selatan beliau membangun stadion ini pada 1962). Untuk pengelolaan air bersih di Kota Padang Sidempuan dikelola oleh PDAM Kota Padang Sidempuan dengan menggunakan sistem BNA, dengan sumber air bersih dari sumber air permukaan.[2]

Tugu Salak[sunting | sunting sumber]

Tugu Salak adalah sebuah ikon kota dan banyak warga Padangsidimpuan yang menjadikannya sebagai taman wisata atau tempat bersantai, biasanya mulai sekitar pukul 17.00 WIB.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "25 Anggota DPRD P Sidimpuan Masa Jabatan 2004-2009 Dilantik", Situs resmi Kota Padang Sidempuan (Cached)
  2. ^ ciptakarya.pu.go.id Profil Kota Padang Sidempuan

Pranala luar[sunting | sunting sumber]