Protestanisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Protestanisme
ChristianityPUA.svg
Reformasi
Sejarah

Gerakan pra-Reformasi

Albigensis (Per.)
Hussit (Boh.)
Lollard (Ing.)
Waldensis (Per./Ita./Jer.)


Gereja-gereja Reformasi

Anabaptis
Anglikanisme (Inggris)
Calvinisme (Swiss)
Lutheranisme (Jer.)
Reform
Socinianisme (Pol.)
Zwinglianisme (Swi.)


Gerakan pasca-Reformasi

Amish (Ame.)
Baptis (Ing.)
Konggregasional
Mennonit (Bel./Swi./Ame./Kan.)
Metodisme (Ing.)
Pietisme
Presbyterianisme (Skot./Ame.)
Puritanisme (Ing.)
Universalisme


"Kebangunan Besar"

Injili
Pentakosta
Revivalisme


Restorasionisme

Gerakan Restorasi
Advent

Protestanisme adalah sebuah denominasi dalam agama Kristen. denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalilnya.

Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik. Kata ini didefinisikan sebagai gerakan agamawi yang berlandaskan iman dan praktik Kekristenan yang berawal dari dorongan Reformasi Protestan dalam segi doktrin, politik dan eklesiologi, melawan apa yang dianggap sebagai penyelewengan Gereja Katolik Roma.[1] Merupakan satu dari tiga pemisahan utama dari "Kekristenan Nicaea (Nicene), yaitu di samping Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks.[2] Istilah "Protestan" merujuk kepada "surat protes" yang disampaikan oleh para pembesar yang mendukung protes dari Martin Luther melawan keputusan Diet Speyer pada tahun 1529, yang menguatkan keputusan (edik) Diet Worms yang mengecam ajaran Martin Luther sebagai ajaran sesat (heretik).[3]

Pada kenyataannya, gerakan Reformasi Protestan yang dilakukan oleh Martin Luther bukanlah yang pertama kali terjadi di kalangan Gereja Katolik, sebab sebelumnya sudah ada gerakan-gerakan serupa seperti yang terjadi di Perancis yang dipimpin oleh Peter Waldo (dan kini para pengikutnya tergabung dalam Gereja Waldensis) pada pertengahan abad ke-12, dan di Bohemia (kini termasuk Ceko) di bawah pimpinan Jan Hus atau Yohanes Hus (1369-1415). Gereja Waldensis banyak terdapat di Italia dan negara-negara yang mempunyai banyak imigran dari Italia, seperti Uruguay. Sementara para pengikut Yohanes Hus di Bohemia kemudian bergabung dengan Gereja Calvinis.

Pada 2005, sekitar 5,9%–14.276.459 jiwa dari 241.973.879 penduduk Indonesia, beragama Protestan[4] dan sensus tahun 2010 sekitar 6,96%- 16.528.513 jiwa. Karena pengaruh para misionaris dari Belanda dan Jerman, kebanyakan gereja Protestan di Indonesia sangat diwarnai oleh ajaran Calvin, dan sebagian lagi mempunyai corak Lutheran.

Penganut menurut provinsi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penganut Kristen Protestan Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 menurut provinsi:

  1. Aceh : 1,12%
  2. Sumatera Utara : 27,03%
  3. Sumatera Barat : 1,43 %
  4. Riau : 8,76 %
  5. Jambi : 2,66 %
  6. Sumatera Selatan : 0,97 %
  7. Bengkulu : 1,65 %
  8. Lampung : 1,51 %
  9. Kep. Babel : 1,80 %
  10. Kep. Riau : 11,17 %
  11. DKI Jakarta : 7,54 %
  12. Jawa Barat : 1,81 %
  13. Jawa Tengah : 1,77 %
  14. DI Yogyakarta : 2.53 %
  15. Jawa Timur : 1,70 %
  16. Banten : 2,53 %
  17. Bali : 1,66 %
  18. NTB : 0,31 %
  19. NTT : 34,74 %
  20. Kalimantan Barat : 11,38 %
  21. Kalimantan Tengah : 15,97 %
  22. kalimantan Selatan : 1,32 %
  23. Kalimantan Timur : 9,50 %
  24. Sulawesi Utara : 63,60 %
  25. Sulawesi Tengah : 16,98 %
  26. Sulawesi Selatan : 7,63 %
  27. Sulawesi Tenggara : 1,84 %
  28. Sulawesi Barat : 14,21 %
  29. Gorontalo : 1,59 %
  30. Maluku : 41,40 %
  31. Maluku Utara : 24,90 %
  32. Papua Barat : 53,77 %
  33. Papua : 65,48 %

Doktrin-doktrin[sunting | sunting sumber]

Meskipun doktrin dari denominasi-denominasi Protestan jauh dari seragam, ada beberapa keyakinan yang tersebar pada Protestantisme yaitu doktrin sola gratia, sola fide, dan sola scriptura.

  • Sola gratia berpegang bahwa keselamatan merupakan anugerah dari tuhan. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
  • Sola fide berpegang bahwa keselamatan yang datang hanya melalui iman di dalam Yesus sebagai Kristus, bukan melalui perbuatan baik.
  • Sola scriptura mempertahankan bahwa Alkitab (bukan tradisi gereja atau interpretasi gerejawi dari Alkitab) adalah sumber otoritas final untuk semua orang Kristen.

Gereja-gereja Protestan umumnya menolak doktrin Katolik dan Ortodoks mengenai pewarisan apostolik dan pelayanan sakramental dari klerus. Kecuali yang ditemukan pada banyak negara, seperti di bagian selatan Eropa, yang berada di bawah pengaruh non-Katolik jauh sebelum Reformasi.

Pendeta Protestan dan pemimpin gereja memiliki peran dan otoritas yang sedikit berbeda di dalam komunitas mereka dibandingkan dengan pastor dan uskup pada Katolik, Anglikan dan Ortodoks.

Denominasi Gereja Protestan[sunting | sunting sumber]

Lukisan abad ke-17 menggambarkan perbedaan antara Lutheranisme dan Kalvinisme.
Passional Christi und Antichristi, lukisan Lucas Cranach the Elder, dari karya Luther (1521) Passionary of the Christ and Antichrist. Paus digambarkan sebagai Antikristus, menandatangani dan menjual surat pertobatan (indulgensi).

Pengikut gerakan Protestan menyebut pengelompokan gereja-gereja menurut doktrin-doktrin landasan mereka sebagai "denominasi". Mereka merupakan nama bagian-bagian berbeda dalam suatu "Gereja" yang utuh. Kaum Protestan menolak doktrin Gereja Katolik Roma sebagai satu-satunya gereja yang benar. Sejumlah denominasi Kristen lebih ketat dibanding yang lain dan ada dasar-dasar ortodoksi yang dipertentangkan di antara denominasi-denominasi tersebut. Denominasi individual juga bermunculan menurut perbedaan teologi yang kadang sangat tidak kentara. Banyak juga denominasi yang sekadar merupakan ekspresi kedaerahan atau etnis terhadap kepercayaan yang sama, yang mengakui lima sola sebagai prinsip dasar utama iman Kristen. Kelompok Non-denominasional juga dimasukkan ke dalam golongan Protestan. Karena semua faktor ini, penghitungan yang pasti tidak dimungkinkan, tetapi diperkirakan ada sekitar 33.000 denominasi Protestan.[5]

Cabang utama[sunting | sunting sumber]

Diagram sejarah cabang-cabang gereja Protestan
Protestan dapat dibedakan berdasar pada bagaimana pengaruh gerakan-gerakan yang penting sejak Reformasi,yang hari ini dianggap sebagai cabang. Beberapa gerakan ini memiliki garis keturunan yang sama, kadang-kadang langsung memijah ke denominasi individu. Karena banyak kelompok keagamaan yang sudah disebutkan sebelumnya, bagian ini hanya membahas tentang keluarga-keluarga dengan denominasi terbesar, atau cabang-cabang, yang secara luas dianggap sebagai bagian dari Protestanisme. Bagian dari protestanisme adalah, dalam urutan abjad: Advent, Anglikan, Baptis, Calvinis (Reformed), Lutheran, Methodist dan Pantekosta. Sebuah cabang Anabaptis yang kecil namun historis penting juga untuk dibahas. Bagan di bawah ini menunjukkan hubungan timbal balik dan asal sejarah dari keluarga denominasi Protestan utama, atau bagian-bagiannya.

Gerakan interdenominasi[sunting | sunting sumber]

Ada juga gerakan-gerakan Kristen yang melintasi garis-garis denominasi dan bahkan cabang-cabangnya, dan tidak dapat diklasifikasikan pada tingkat yang sama dengan yang disebutkan sebelumnya. Evangelikalisme adalah salah satu contoh yang menonjol. Sebagian dari gerakan-gerakan itu aktif secara eksklusif di dalam Protestanisme, beberapa di antaranya Kristen. Gerakan-gerakan transdenominasi kadang-kadang juga mampu mempengaruhi bagian-bagian dari Gereja Katolik Roma, seperti melakukan Gerakan Karismatik, yang memiliki tujuan untuk menggabungkan kepercayaan dan praktik yang sama dengan Pentakosta ke dalam berbagai cabang di agama Kristen. Gereja-gereja Neo-karismatik kadang-kadang dianggap sebagai subkelompok Gerakan Karismatik. Keduanya ditempatkan di bawah label umum Karismatik Kristen (disebut Renewalists), bersama juga dengan Pentakosta. Gereja-gereja nondenominasional dan berbagai gereja rumah sering mengadopsi, atau semacam gerakan seperti ini.

Megachurches biasanya dipengaruhi oleh gerakan interdenominasi. Secara global, sidang-sidang besar ini adalah perkembangan yang signifikan dalam agama Kristen Protestan. Di Amerika Serikat, fenomena ini terjadi lebih dari empat kali lipat dalam dua dekade terakhir. [6] Sejak itu lalu menyebar ke seluruh dunia.

Bagan di bawah ini menunjukkan hubungan timbal balik dan asal-usul historis dari gerakan interdenominasi utama dan juga perkembangan-perkembangan lain dalam Protestanisme.

Links between interdenominational movements and other developments within Protestantism.

Perkembangan Protestan lainnya[sunting | sunting sumber]

Banyak gerakan-gerakan dan pemikiran lainnya yang dapat dibedakan dari orang-orang transdenominasi dan cabang-cabang yang telah tersebar luas muncul dalam agama Kristen Protestan. Beberapa dari mereka juga telah menjadi bukti hari ini. Yang lain muncul selama berabad-abad dan setelah Reformasi menghilang secara bertahap seiring berjalannya waktu, seperti kebanyakan dari Pietisme. Beberapa menginspirasi orang-orang transdenominasi saat ini, seperti Evangelisme yang memiliki fondasi dalam fundamentalisme Kristen.

Budaya Protestan[sunting | sunting sumber]

Meskipun Reformasi adalah gerakan agama, tetapi juga memiliki dampak yang kuat pada semua aspek kehidupan yang lainnya: pernikahan dan keluarga, pendidikan, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, tatanan politik dan sosial, ekonomi, dan seni. [7] Gereja-gereja Protestan menolak gagasan imamat yang selibat dan karenanya memungkinkan pendeta mereka untuk menikah. [8] Banyak dari keluarga mereka yang berkontribusi pada pengembangan elit intelektual di negara mereka sendiri. [9] Sejak sekitar tahun 1950, wanita telah memasuki pelayanan, dan beberapa dari mereka telah mengambil posisi terkemuka (misalnya uskup), di sebagian besar gereja Protestan.

Ketika para Reformis menginginkan semua anggota gereja dapat membaca Alkitab, pendidikan di semua tingkatan mendapat dorongan yang cukup kuat. Pada pertengahan abad kedelapan belas, tingkat melek huruf di Inggris adalah sekitar 60 persen, di Skotlandia 65 persen, dan di Swedia delapan dari sepuluh pria dan wanita mampu membaca dan menulis. [10] Perguruan tinggi dan universitas didirikan. Misalnya, kaum Puritan yang mendirikan Massachusetts Bay Colony pada 1628 juga mendirikan Harvard College hanya pada delapan tahun kemudian. Sekitar selusin perguruan tinggi lain mengikuti didirikan pada abad ke-18, termasuk Yale (1701). Pennsylvania juga menjadi pusat pembelajaran. [11][12]

Anggota denominasi Protestan garis-utama telah banyak memainkan peran kepemimpinan dalam aspek kehidupan Amerika, termasuk politik, bisnis, sains, seni, dan pendidikan. Merekalah yang mendirikan sebagian besar institut pendidikan tinggi terkemuka di negara itu. [13]

Respon Katolik[sunting | sunting sumber]

Passional Christi und Antichristi, by Lucas Cranach the Elder, from Luther's 1521 Passionary of the Christ and Antichrist. The Pope as the Antichrist, signing and selling indulgences.
St. Bartholomew's Day massacre of French Protestants, 1572.

Pandangan dari Gereja Katolik Roma adalah bahwa denominasi Protestan tidak dapat dianggap sebagai gereja melainkan mereka adalah komunitas gerejawi atau komunitas kepercayaan-kepercayaan tertentu karena tata cara dan doktrin mereka yang tidak historis sama dengan sakramen dan dogma Katolik, dan komunitas Protestan tidak memiliki imamat tingkat sakramental dan karenanya tidak memiliki suksesi kerasulan yang sejati. [14][15] Menurut Uskup Hilarion (Alfeyev) dari Gereja Ortodoks Timur memiliki pandangan yang sama tentang hal ini. [16]

Bertentangan dengan bagaimana para Reformator Protestan sering dikarakterisasi, konsep Gereja Katolik atau Gereja universal tidak disisihkan selama Reformasi Protestan. Sebaliknya, kesatuan yang terlihat dari gereja katolik atau gereja universal dilihat oleh para reformator Protestan sebagai doktrin yang penting dari Reformasi. Para reformator magisterial, seperti Martin Luther, John Calvin, dan Huldrych Zwingli, percaya bahwa mereka telah mereformasi Gereja Katolik Roma, yang mereka pandang telah menjadi rusak. Masing-masing dari mereka menganggap serius tuduhan perpecahan dan inovasi, mereka telah menyangkal tuduhan ini dan tetap mempertahankan bahwa itu adalah Gereja Katolik Roma yang telah meninggalkan mereka.[17]Untuk membenarkan kepergian mereka dari Gereja Katolik Roma, orang-orang Protestan sering mengajukan argumen-argumen baru, yang mengatakan bahwa tidak ada Gereja yang terlihat nyata dengan otoritas ilahi, hanya sebuah gereja yang spiritual, tidak terlihat, dan tersembunyi — gagasan ini dimulai pada masa-masa awal Reformasi Protestan.

Di mana pun Reformasi Magisterial, yang menerima dukungan dari penguasa yang berkuasa, terjadi, hasilnya adalah gereja Protestan nasional yang direformasi yang diharapkan menjadi bagian dari keseluruhan gereja yang tidak kelihatan, tetapi ada yang tidak setuju, dalam poin-poin penting tertentu dari suatu doktrin dan praktik terkait suatu doktrin, dengan apa yang kemudian dianggap sebagai titik acuan normatif mengenai hal-hal semacam itu, yaitu Kepausan dan otoritas pusat Gereja Katolik Roma. Gereja-gereja Reformed dengan demikian menjadi percaya dalam beberapa bentuk agama Katolik, yang didirikan di atas lima doktrin solanya dan organisasi gerejawi yang nyata berdasarkan pada gerakan Konsiliar abad ke 14 dan ke 15, yang menolak kepausan dan kepausan paus yang mendukung konsili ekumenis, tetapi menolak yang terbaru. dewan ekumenis, Konsili Trente. Oleh karena itu, persatuan agama bukan menjadi satu-satunya doktrin dan identitas tetapi satu karakter yang tak terlihat, di mana kesatuan adalah salah satu iman dalam Yesus Kristus, bukannya identitas umum, doktrin, keyakinan, dan tindakan-tindakan kolaboratif.

Ada orang-orang Protestan, terutama dari tradisi Reformed, yang menolak atau meremehkan penunjukan Protestan karena gagasan negatif yang diucapkan oleh kata-kata selain makna utamanya, yang lebih memilih penamaan Reformed, Evangelis atau bahkan Katolik Reformed dari apa yang mereka sebutlah Katolik Reformed dan membela argumen mereka dari pengakuan Protestan tradisional. [18]

Ekumenisme[sunting | sunting sumber]

The Marburg Colloquy (1529) was an early attempt at uniting Luther and Zwingli. It failed as both reformers and their delegations could not agree on the sacrament of the Eucharist. Anonymous woodcut, 1557.
The Edinburgh Missionary Conference is considered the symbolic starting point of the contemporary ecumenical movement.[19]

Gerakan ekumenis telah memiliki pengaruh terhadap gereja-gereja pada arus utama, yang mulai setidaknya pada tahun 1910 dengan Konferensi Misioner Edinburgh. Asal-usulnya terletak pada pengakuan akan perlunya kerja sama di ladang misi di Afrika, Asia, dan Oceania. Sejak 1948, Dewan Gereja Dunia telah berpengaruh, tetapi tidak terlalu efektif dalam menciptakan gereja yang bersatu. Ada juga badan ekumenis di tingkat regional, nasional dan yang lokal di seluruh dunia; tetapi skisma masih jauh lebih banyak dari pada penyatuan. Satu, tetapi bukan satu-satunya adalah ekspresi dari gerakan oikumenis, yang telah menjadi gerakan untuk membentuk gereja-gereja bersatu, seperti Gereja India Selatan, Gereja India Utara, Gereja Kristus yang berbasis di AS, Gereja Bersatu Kanada, Gereja Uniting di Australia dan United Church of Christ di Filipina yang juga mengalami penurunan keanggotaan dengan cepat. Telah ada keterlibatan yang cukup kuat dari gereja-gereja Ortodoks dalam gerakan ekumenis, meskipun reaksi teolog Ortodoks individual telah berkisar dari persetujuan tentatif dari tujuan persatuan Kristen untuk kutukan langsung dari efek yang dirasakan menyiram turun doktrin Ortodoks. [20]

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Gereja-gereja di Indonesia yang berada dalam tradisi Protestantisme antara lain:

Lutheran


Calvinis/Reformed/Presbiterian


Anabaptis/Mennonite


Metodis


Anglikan


Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Oxford dictionary
  2. ^ "Divisions of Christianity". North Virginia College. Diakses tanggal 2007-12-31. 
  3. ^ Great Controversy Examined The Diet of Speyer, 1529 by Dieter Heimke (translated from German to English by J. Krahne)
  4. ^ International Religious Freedom Report 2004 (US State Department) [1], Adherents.com [2], CIA Factbook [3] dan census.gov [4]
  5. ^ The World Christian Encyclopedia by David B. Barrt, George T. Kurian, and Todd M. Johnson (2001 edition)
  6. ^ "Redirect". www.secularhumanism.org. 
  7. ^ name="Karl Heussi 1956 pp. 317–319"
  8. ^ name = "Encyclopedia of Protestantism"
  9. ^ Karl Heussi, Kompendium der Kirchengeschichte, p. 319
  10. ^ Heinrich August Winkler (2012), Geschichte des Westens. Von den Anfängen in der Antike bis zum 20. Jahrhundert, Third, Revised Edition, Munich (Germany), p. 233
  11. ^ Clifton E. Olmstead (1960), History of Religion in the United States, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, N.J., pp. 69–80, 88–89, 114–117, 186–188
  12. ^ M. Schmidt, Kongregationalismus, in Die Religion in Geschichte und Gegenwart, 3. Auflage, Band III (1959), Tübingen (Germany), col. 1770
  13. ^ name=mainline2000>McKinney, William. "Mainline Protestantism 2000." Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 558, Americans and Religions in the Twenty-First Century (July 1998), pp. 57–66.
  14. ^ Responses to Some Questions Regarding Certain Aspects of the Doctrine on the Church, 29 June 2007, Congregation for the Doctrine of the Faith.
  15. ^ Stuard-will, Kelly; Emissary (2007). Karitas Publishing, ed. A Faraway Ancient Country. United States: Gardners Books. hlm. 216. ISBN 978-0-615-15801-3. 
  16. ^ OrthodoxEurope.org. "Bishop Hilarion of Vienna and Austria: The Vatican Document Brings Nothing New". Orthodoxeurope.org. Diakses tanggal 14 May 2014. 
  17. ^ The Protestant Reformers formed a new and radically different theological opinion on ecclesiology, that the visible Church is "catholic" (lower-case "c") rather than "Catholic" (upper-case "C"). Accordingly, there is not an indefinite number of parochial, congregational or national churches, constituting, as it were, so many ecclesiastical individualities, but one great spiritual republic of which these various organizations form a part, although they each have very different opinions. This was markedly far-removed from the traditional and historic Roman Catholic understanding that the Roman Catholic Church was the one true Church of Christ. Yet in the Protestant understanding, the visible church is not a genus, so to speak, with so many species under it. It is thus you may think of the State, but the visible church is a totum integrale, it is an empire, with an ethereal emperor, rather than a visible one. The churches of the various nationalities constitute the provinces of this empire; and though they are so far independent of each other, yet they are so one, that membership in one is membership in all, and separation from one is separation from all.... This conception of the church, of which, in at least some aspects, we have practically so much lost sight, had a firm hold of the Scottish theologians of the seventeenth century. James Walker in The Theology of Theologians of Scotland. (Edinburgh: Rpt. Knox Press, 1982) Lecture iv. pp.95–6.
  18. ^ The Canadian Reformed Magazine, 18 (20–27 September, 4–11 October, 18, 1, 8 November 1969) http://spindleworks.com/library/faber/008_theca.htm
  19. ^ "History — World Council of Churches". www.oikoumene.org. 
  20. ^ "Orthodox Church: text – IntraText CT". Intratext.com. Diakses tanggal 19 November 2010. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Cook, Martin L. (1991). The Open Circle: Confessional Method in Theology. Minneapolis, Minn.: Fortress Press. xiv, 130 p. N.B.: Discusses the place of Confessions of Faith in Protestant theology, especially in Lutheranism. ISBN 0-8006-2482-3
  • McGrath, Alister E. (2007). Christianity's Dangerous Idea. New York: HarperOne. 
  • Noll, Mark A. (2011). Protestantism: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]