Baptisan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Sebuah ikon dari Rusia

Baptisan (berasal dari bahasa Yunani: βαπτίζωbaptizo) dikenal sebagai sakramen inisiasi Kristen yang melambangkan pembersihan dosa.[1][2] Baptisan juga melambangkan kematian bersama Yesus. Dengan masuk ke dalam air, orang yang dibaptiskan itu dilambangkan telah mati. Ketika ia keluar lagi dari air, hal itu digambarkan sebagai kebangkitannya kembali. Rasul Paulus dalam Surat Roma melukiskannya demikian: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:3-4).

Kata Baptisan (berasal dari bahasa Yunani: βαπτίζωbaptizo) asal usul katanya adalah kata βάπτω - bapto, yang berarti menenggelamkan[3]. Lalu menjadi baptizo yang mengimplikasikan sesuatu direndamkan atau dicelupkan ke dalam suatu air atau sesuatu larutan tertentu(cairan).[4][5]. Inti dari istilah baptizō sendiri bukan pada metode (percik atau selam), tetapi pada proses atau pada efek yang dihasilkan daripada pembaptisan itu. Secara makna religius sendiri berarti membersihkan diri dari dosa atau lebih sederhana penyucian dalam kehidupan kekristenan.[5]. Di pihak lain dapat diungkapkan sebagai makna bahwa orang tersebut adalah pengikut kristus.

Dalam beberapa agama seperti Kristen, Mandaeanisme, Sikhisme, dan beberapa sekte kuno agama Yahudi, baptisan adalah ritual pemurnian dengan menggunakan air. Ritual Kristen ini dimulai oleh Yohanes Pembaptis, yang menurut Alkitab membaptis Yesus di Sungai Yordan.

Cara Baptisan

Pembaptisan dilakukan dengan air. Namun, ada bermacam cara pembaptisan, tergantung pada denominasi gerejanya. Referensi Alkitab memang dibenamkan dalam banyak Air, yang melambangkan mati karena dikuburkan (masuk dalam air) dan dibangkitkan setelah keluar dari air. Gereja Apostolik membaptis dengan cara percik.[6]. Tidak ada permasalahan apakah itu harus baptis percik atau selam.

Cara pembaptisan yang paling umum dilakukan ialah dengan memercikkan air di kepala oleh seorang pastor (romo) atau imam, dan mengucapkan keesaan Tritunggal Tuhan, "Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin."

Gereja Katolik Roma dan banyak aliran di kalangan Gereja Protestan mempraktikkan baptisan anak karena mereka meyakini bahwa Yesus mengundang anak-anak untuk datang kepadanya (lih. Injil Markus 10:13-16, dll.).

Namun, ada pula gereja-gereja yang hanya membaptiskan orang dewasa yang telah mengaku percaya, misalnya gereja Advent, aliran Pentakosta dan Gereja Baptis. Biasanya, gereja-gereja ini mempraktikkan baptisan selam. Dalam hal ini, pendeta bersama calon baptisan masuk ke dalam sebuah kolam dan orang yang dibaptiskan itu diselamkan ke dalam air.

Selain itu ada beberapa gereja yang harus melalukan proses pengakuan iman(sidi), misalnya Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan iman terlebih dahulu dilakukan sebelum dibaptis. Gereja-Gereja yang melakukannya misalnya Gereja Katolik, Gereja Puritan, Gereja Presbiterian, Gereja Reformed atau Gereja Calvinis, Gereja Lutheran, dan beberapa Gereja Protestan lainnya.

Rumusan Baptisan

Rumusan dalam membantis (baptizontes) harus berdasarkan Alkitab. Rumusan Baptisan dalam Alkitab sendiri harus "dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.".[4][7] yang merepresentasikan Keesaan Allah Tritungal Tetapi selain dari rumusan, misalnya "Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang adalah Yesus Kristus", maka Baptisan yang dilakukan tetaplah tidak sah. Karena tidak sesuai dengan Matius 28:19-20. Serta tidak sesuai dengan rumusan Allah Tritunggal. Seakan-akan Yesus Kristus memuat 3 pribadi, yakni Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sehingga perlu adanya baptis ulang.

Tetapi di sisi lain, untuk kasus membaptis dalam "dalam nama Yesus" saja, khususnya Baptisan Petrus pada Kisah Para Rasul 2:38-39; 10:44-48; dan Paulus pada Kisah Para Rasul 19:1-8 sebenarnya bukan tidak mepresentasikan kehadiran Allah Tritunggal. Melainkan dalam konteks umum tersebut menunjukkan kehadiran Allah Tritungal. Berbeda dengan rumusan yang salah diatas. Seakan-akan Allah Tritunggal(1 Tuhan 3 Pribadi) yang adalah Yesus sendiri(1 Tuhan 1 Pribadi), bukan Allah Tritunggal yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sehingga perlu memperhatikan konteks ketika memaknai suatu baptisan dan rumusan baptis.

Arti dan Makna Baptisan Kristen

Baptisan itu mempunyai tiga arti dan makna, yaitu:

1. Baptisan Air

Baptisan dengan air yang dilaksanakan oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan dan seturut katanya sendiri dalam Matius 3:11a, baptisan tersebut adalah tanda pertobatan dari yang bersangkutan dalam artian yang bersangkutan telah menyesal atas semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Dan sejak ia dibaptiskan, ia berikrar dan bertekad tidak mengulanginya lagi dan memulai hidup baru dengan melaksanakan semua kehendak ALLAH (Matius 7:21). Baptisan air secara umum dilakukan dan disaksikan oleh banyak orang pada waktu pelaksanaannya.

2. Baptisan Roh

Baptisan Roh yang disinggung oleh Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:11b dengan kata-kata "Baptisan roh kudus dan api" baru diberikan kepada yang bersangkutan oleh Yesus bilamana dia setelah pertobatannya itu benar-benar melaksanakan Kehendak ALLAH.

Baptisan Roh ini, bisa dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Baptisan air itu sendiri dan dapat juga sesudahnya. Tegasnya kapan baptisan Roh itu terjadi tidak dapat dilihat/disaksikan oleh siapa pun karena pelaksanaanya bukan dilakukan oleh Pendeta melainkan oleh Allah sendiri yang roh itu.

3. Baptisan Api

Api melambangkan penderitaan / siksaan. Sehingga Baptisan Api sendiri melambangkan orang kristen yang dibaptis siap untuk menghadapi penyiksaan atau penderitaan bersama dengan Yesus Tuhan untuk mempertahankan Iman yang melekat di dalam Kristus.

Tujuan dari Baptisan

Tujuan dari baptisan sendiri adalah bukan untuk Keselamatan (Predestinasi), akan tetapi penyucian hidup dan tanda dari orang tersebut pengikut kristus. Contoh Kasus Salah Seorang penjahat di samping Yesus, ia diselamatkan karena anugerah Allah tanpa melalui proses baptisan. "Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."" (Lukas 23:34).[8]

Baptis Ulang

Tidak perlu adanya baptis ulang selama dibaptis dalam "dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." atau yang merepresentasikan keesaan Allah Tritunggal (Dalam Nama Yesus). Akan tetapi jikalau tidak memakai rumusan baptisan tersebut atau rumusannya salah ""Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang adalah Yesus Kristus", maka perlu dibaptis ulang. Sebab dalam baptisan tersebut tidak mengakui keesaan Allah Tritunggal, maupun tidak mepresentasikan keesaan Allah Tritunggal.

Di beberapa gereja, jika seorang jemaat yang mau bergabung dengan gereja lain dan telah memakai rumusan benar "dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." dan metode baptisan, entah itu percik atau selam, tidak perlu dibaptis ulang. Alasan ini mendasar dikarenakan jikalau dibaptis ulang dalam metode apapun itu mencela keesaan Allah Tritunggal. Sebab ini sendiri dibaptis dua kali dalam nama Allah Tritunggal. Solusi adalah mereka melaksanakan pengakuan iman / katekisasi di gereja mereka masing-masing.[9] Misalnya memakai Pengakuan Iman Westminster / Katekismus Kecil Westminster yang dipakai pada Gereja-Gereja Inggris, atau sesuai dengan gereja masing-masing.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Baptism", Encyclopædia Britannica 
  2. ^ Sebagai contoh, pembaptisan dalam Gereja Katolik berdasarkan Konsili Vatikan II, Lumen gentium, 28
  3. ^ "Strong's Greek: 911. βάπτω (baptó) -- to dip". biblehub.com. Diakses tanggal 2019-12-30. 
  4. ^ a b "Strong's Greek: 907. βαπτίζω (baptizó) -- to dip, sink". biblehub.com. Diakses tanggal 2019-12-30. 
  5. ^ a b Waiman, Dawis (2018-08-19). "Sakramen Baptisan". Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII Yogyakarta). Diakses tanggal 2019-12-30. 
  6. ^ Nggadas, Deky Hidnas Yan. "Baptisan Air menurut Bapak-bapak Apostolik" (dalam bahasa Inggris). 
  7. ^ "Mat 28:19-20 (TB) - Tampilan Daftar Ayat - Alkitab SABDA". alkitab.sabda.org. Diakses tanggal 2019-12-30. 
  8. ^ "Luk 23:33-43 (TB) - Tampilan Daftar Ayat - Alkitab SABDA". alkitab.sabda.org. Diakses tanggal 2019-12-30. 
  9. ^ PERLUKAH BAPTIS ULANG? BAPTIS SELAM (CELUP) ATAU PERCIK? - STEPHEN TONG, diakses tanggal 2020-01-03 

Pranala luar