Gereja Kristus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Gereja Kristus
Logo-gk.png
Logo Gereja Kristus
Klasifikasi Protestan
Pemimpin Ketua Umum Pdt. Setiawan Sutedjo, M.Div.
Wilayah Indonesia
Didirikan 1928
Jakarta
Umat 14.146 jiwa
Situs web www.gerejakristus.org

Gereja Kristus adalah salah satu organisasi gereja Kristen Protestan di Indonesia yang beraliran presbiterian. Gereja Kristus memiliki gereja yang tersebar di 4 provinsi di Indonesia.[1][2]

Tentang Gereja[sunting | sunting sumber]

Berawal dari Misi Penginjilan yang dijalankan oleh Methodist Episcopal Church Amerika ke Batavia pada tahun 1905 dengan mengutus J.R.Denyes dan B.F.West untuk menjajaki penginjilan kepada orang-orang pribumi di Pulau Jawa. Mereka sebenarnya tidak ingin memfokuskan penginjilan kepada orang-orang Tionghoa saja tetapi menjadikan orang Tinghoa sebagai batu loncatan untuk mencapai orang pribumi di Pulau Jawa. Pada tahun 1910 Methodist Mission mengutus Worthington dan Baughman untuk merintis pekerjaan penginjilan di Batavia (kota). Hasil usaha mereka merupakan permulaan atau cikal bakal jemaat Gereja Kristus di kemudian hari. Walaupun dalam sejarah Methodist tidak tercatat dengan jelas, bahwa cikal bakal jemaat Gereja Kristus merupakan hasil dari pekerjaan Misi yang dijalankannya, namun kita dapat melihat bahwa pekerjaan sekecil apapun yang dipersembahkan untuk Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Hal itu terbukti dengan bertumbuh dan berkembangnya Gereja Kristus sampai saat ini[1][2]

Sejarah GK[sunting | sunting sumber]

Gereja Kristus hadir di Indonesia sebagai hasil atau buah usaha badan pekabaran injil (zending) yang dilakukan oleh Board of Foreign Mission (BFM) dari The Methodist Episcopal Church yang didirikan di Amerika Serikat tahun 1819.[1][2]

  • 1905, BFM melakukan pelayanan khusus kepada orang Tionghoa. Misionaris BFM yang pertama melayani di Jakarta adalah J.R. Denyes.

Perjalanan berdirinya Gereja Kristus di Indonesia, dimulai dengan sejarah berdirinya jemaat Ketapang (kini di JI. Zainul Arifin No 9, Jakarta) yang diawali ketika dua orang misionaris dari Methodist Mission, yakni Worthington dan Baughman merintis diadakannya kumpulan pekabaran injil (kumpulan atau persekutuan rumah tangga) di rumah sdr Lee Teng Ho di Kampung Muka. Dalam persekutuan itu, yang biasa hadir tetap tidak lebih dari 10 orang. Dari Kampung Muka, persekutuan rumah tangga itu mengalami beberapa kali perpindahan tempat, sampai menempati sebuah rumah di Jalan Prinsenlaan (kini JI.Mangga Besar) No.9. Yang unik dari persekutuan yang sedang bertumbuh ini adalah kehadiran dari Lee Bersaudara: Lee Teng Po, Lee Teng Ho, Lie Kim Tian, dan Lee Teng San. Lee Teng San adalah ayah dari pdt Clement Suleeman (Lee Sian Hui) dan kakek dari Pdt Ferdy Suleeman. Lee Bersaudara rajin membantu pelayanan “jemaat” ini dengan memberi pikiran, tenaga dan waktu mereka sehingga pelayanan jemaat sangat bergantung pada mereka, Oleh sebab itu, jemaat ini sering disebut sebagal Gereja Lee Bersaudara. Status jemaat ini semula masih berada langsung di bawah Methodist Mission dan diberi nama Gereja Methodist Mission.

  • 1926, Status jemaat Methodis Mission ditingkatkan dan diberi nama Gereja Methodist Mangga-Besar dan diangkat pula majelis jemaat yang diketuai oleh Pdt. A.V Klaus.
  • 1926,
  1. 23-27 Nopember : dari sejak awal, para tokoh jemaat Methodist Mangga-Besar ini melihat pentingnya untuk mempersatukan gereja-gereja Tionghoa yang ada di Jawa. Tidak mengherankan jika para tokoh jemaat Methodist Mangga Besar ini berperan aktif dalam panitia penyelenggaraan Konferensi Kristen Tionghoa pada tanggal 23-27 Nopember 1926 di Cipaku, Bogor. Dalam Konferensi itu diputuskan untuk mendirikan Bond Kristen Tionghoa (BKT) atau Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tjong Hwee (THKTKTH).
  • 1927,
  1. 22-27 Juni : Konferensi THKTKTH ke 2 yang berlangsung pada tanggal 22-27 Juni 1927 di Cirebon.
  2. 23 Juni : Bond Kristen Tionghoa (BKT) atau Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tjong Hwee (THKTKTH) secara resmi didirikan pada Konferensi THKTKTH ke 2. Pendirian BKT atau THKTKTH ini dipengaruhi oleh pendirian The National Christian Council in China serta Chung Hua Chi Tun Chiao Hui (CHCTCH) atau The Chinese Church of Christ (CCC) pada tahun 1922. Dalam BKT kedua itu, dua orang tokoh jemaat Methodist Mangga Besar terpilih dalam kepengurusan yakni Pouw Peng Hong sebagai ketua dan Khoe Lan Seng sebagai sekretaris 1.
  3. BFM menarik diri dari pulau Jawa dengan tujuan pemusatan misi pelayanan di Sumatera. Sehubungan dengan penarikan diri BFM ini, maka jemaat-jemaat Methodist asuhan BFM yang ada di Jakarta dan Jawa Barat diserahkan kepada Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV) dan yang ada di Jawa Timur kepada Nederlandsche Zendings Genootschap (NZG).
  • 1928,
  1. 1 Januari : Gereja Methodist Mangga Besar memutuskan untuk membentuk gereja yang berdiri sendiri dengan nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Mangga Besar. Namun, karena Gereja baru ini belum memunyai pendeta sendiri, maka diadakan perjanjian dengan pihak NZV untuk membantu THKTK Mangga Besar dalam hal tugas kependetaan, khususnya pelayanan sakramen dan pastoral. Pendeta pertama yang diperbantukan adalah pdt F. W. Hoppe sebagai pemimpin rohani dan advisor, sedangkan Pouw Peng Hong diangkat sebagai gembala Jemaat yang tidak ditahbiskan.
  2. 11 Januari : Pada Rapat Majelis THKTKH Mangga Besar yang pertama, diadakan serah terima wakil dari Methodist Mission, pdt. Bower kepada pihak THKTKH Mangga Besar.
  3. 31 Agustus – 2 September : Upaya untuk mempersatukan gereja-gereja Tionghoa di Jawa masih dilakukan melalui badan BKT atau THKTKTH. Namun setelah Konferensi BKT atau THKTKTH yang ke 3, tanggal 31 Agustus sampai 2 September 1928 di Indramayu, badan tersebut tidak memunyai kegiatan lagi dan masih bertahan hingga tahun 1934 karena secara resmi belum dibubarkan.
  • 1934,
  1. 13-15 Juli : Setelah upaya untuk mempersatukan gereja-gerejaTionghoa melalui BKT atau THKTKTH tidak berhasil, maka beberapa tokohnya mempersiapkan pembentukan CHCTCH untuk meneruskan cita-cita BKT atau THKTKTH. Pada tanggal 13-15 Juli 1934 di Cirebon, diadakan Konferensi Pembentukan CHCTCH di Indonesia. Pada dasarnya, para peserta konferensi menyetujui dibentuknya CHCTCH di Indonesia, walaupun sebenarnya para peserta ”terpecah” dalam dua kelompok : kelompok yang berorientasi ke Tiongkok serta memperlihatkan anti zending (wakil-wakil jemaat yang berlatar belakang Methodist) dan kelompok yang tidak setuju dengan hal tersebut (wakil-wakil dari jemaat berlatar belakang Hervormd dan Gereformeerd).
  2. 14 Juli : Diadakan perpisahan dengan Pdt A. J. Bliek, wakil dari NZV, dan sebagai penggantinya ditunjuk Pdt. Bergstede, yang ternyata tidak dapat bekerja sama dengan Majelis jemaat, sehingga hubungan dengan pihak NZV tidak dilanjutkan lagi.
  3. 3 Agustus : Dalam rapat majelis THKTKH Mangga Besar pada tangal 3 Agustus 1935, diputuskan untuk menerima penggabungan dengan THKTKH Tanah Abang (ex jemaat Methodist Tanah Abang). Adapun ketua dari majelis gabungan itu adalah Khoe Lan Seng (dari Tanah Abang) dan sekretaris adalah Oen Teck Chew (dari Mangga Besar). Gabungan kedua jemaat ini berlangsung hingga tahun 1948.
  4. 5 Desember : Saudara-saudara kristen di Bogor dalam suratnya tertanggal 5 Desember 1935 kepada Majelis THKTKH Mangga Besar, menyatakan ingin membuka cabang THKTKH di Bogor.
  5. 12 Desember : Dalam rapat Majelis THKTKH Mangga Besar tanggal 12 Desember, dibentuk komite THKTKH Bogor yang diketuai oleh Lee Teng San. Komite tersebut diberi wewenang untuk mengurus segala keperluan THKTKH Bogor.
  6. 27 Desember : THKTKH Bogor yang diresmikan
  • 1936,
  1. 31 Mei – 1 Juni : Sebagai tindak lanjut dari konferensi 1 tahun 1934 di Cirebon, maka pada konferensi II tanggal 31 Mei – 1 Juni 1936 di Bandung, dibentuklah secara resmi CHCTCH (Gereja Serikat Kristen Tionghoa) di Indonesia. Pada konferensi itu, wakil dari jemaat Mangga Besar, Oen Teck Chew terpilih sebagai penulis CHCTCH di Indonesia.
  • 1937,
  1. 26-28 Maret : Diselenggarakan konferensi CHCTCH ke 3 di Purworejo. Salah satu keputusan penting dari konferensi tersebut bagi jemaat-jemaat di jawa Barat adalah agar jemaat- jemaat membentuk Khoe Hwee (klasis)-nya sendiri yang dilengkapi oleh peraturan atau tata-gerejanya. Setelah konferensi ke-3, keberadaan CHCTCH di Indonesia tidak ada kelanjutannya lagi.
  • 1938,
  1. 12 Nopember : di Jakarta, terbentuklah sebuah Gereja Tionghoa yang diberi nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee-Khoe Hwee (klasis) Djawa Barat (THKTKH-KHDB), sebuah gereja yang jemaat-jemaatnya adalah gabungan jemaat-jemaat asuhan NZV dan BFM, termasuk pula jemaat Mangga Besar-Tanah Abang dan Bogor. Dalam persidangan ini, diterima dan disahkan tata gereja THKTKH-KHDB yang bercorak presbiterial sinodal.
  • 1939,
  1. 24 April : Karena ada ketegangan perbedaan denominasi dan pengaruh nasionalisme Tiongkok di antara anggota- anggotanya, maka pada tanggal 24 April 1939 jemaat Mangga Besar-Tanah Abang menyatakan keluar dari THKTKH-KHDB. Tidak lama kemudian jemaat Bogor mengikuti jejak jemaat Mangga Besar-Tanah Abang untuk keluar dari THKTKH-KHDB.
  2. 12 Juni : Sejak keluar dari THKTKH-KHDB, Gereja THKTKH Mangga Besar memperoleh pengakuan dari Pemerintah sebagai Badan Hukum Kerkgenootschap dengan keputusan Gubernur Jenderal No C7 (Staatblad No. 298) pada tanggal tanggal 12 Juni 1939.
  3. 13 November : Tiga Jemaat (Mangga Besar-Tanah Abang & Bogor) mengganti nama Gereja dari THKTKH menjadi Chung Hwa Chi Tuh Chiao Hui (CHCTCH). Mereka juga menyatakan diri sebagai golongan gereja Tionghoa merdeka.
  • 1940,
  1. 16 Nopember : Lokasi Gereja CHCTCH Mangga Besar pindah ke JI Ketapang No.9 (Sekarang: JI KH. Zainul Arifin).
  • 1945
  1. 3 Juni : Didewasakan CHCTCH Kuo Yu Thang yang dirintis dari persekutuan anggota CHCTCH Mangga Besar (Ketapang) yang berbahasa Tionghoa. (Gereja ini kemudian dikenal sebagai Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar – GKJMB). Gereja baru ini langsung bergabung dengan Sinode CHCTCH.
  • 1949, Gereja Methodist Teluk Betung bergabung dengan CHCTCH (Mangga Besar/ Ketapang, Tanah Abang, Bogor dan Kuo Yu Thang) menjadi Gereja CHCTCH Teluk Betung dan membentuk Sinode CHCTCH Chu Hui – Jakarta. Pada tahun yang sama, CHCTCH Chu Hui Jakarta ini bergabung Dewan Gereja-gereja Kristen Tionghoa di Indonesia (DGKTI).

Pada waktu itu dalam wadah DGKTI tergabung 72 Jemaat Tionghoa dari seluruh Indonesia. Namun DGKTI tidak berumur panjang. Cita-cita untuk mewujudkan gereja-gereja Tionghoa di Indonesia dalam suatu organisasi gereja tunggal kembali mengalami kegagalan.

  • 1950,
  1. 25 Mei : Selanjutnya, Sinode CHCTCH ikut berperan dalam merintis pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) pada tanggal 25 Mei 1950. Perlu dicatat bahwa dalam salah satu kepengurusan awal DGI, pernah terpilih bendahara yang berasal dari CHCTCH Ketapang.
  • 1952,
  1. 22 juni : Didewasakan CHCTCH Purwakarta yang merupakan hasil penginjilan CHCTCH Ketapang.
  • 1954,
  1. Maret : merupakan ”lembaran hitam’ bagi perjalanan Gereja Kristus, karena pada Maret 1954 terjadi konflik di kalangan pimpinan jemaat Ketapang yang berasal dari penglihatan seorang pendeta jemaat Ketapang tentang kedatangan Tuhan Yesus. Jemaat pun menjadi terpecah. Peristiwa 1954 ini sampai melibatkan aparat pemerintah dan DGI untuk mendamaikannya. Dampak dari peristiwa ini adalah, 3 Jemaat CHCTCH (Tanah Abang, jatinegera dan Tangerang) menyatakan diri keluar dari CHCTCH dan kemudian bergabung dengan THKTKH – KHDB (Sekarang Sinode GKI wilayah Barat).
  • 1854,
  1. 5 Desember : CHCTCH Petamburan didewasakan dan sebagian dari anggota jemaat Tanah Abang yang tetap memilih bergabung dengan CHCTCH, merintis jemaat baru.
  • 1958,
  1. 22 Nopember : Dalam Konferensi Sinode CHCTCH di Kuo Yu Tang, tahun 1958 nama CHCTCH berubah menjadi Gereja Kristus.
  • 1963,
  1. 11 Mei : Perubahan nama Gereja Kristus diakui oleh Departemen Agama R.I. dengan surat keputusan No H/II/29I8 tanggal 11 Mei 1963.

Ketika mengubah nama menjadi Gereja Kristus, jemaat- jemaat dewasa yang bergabung dengan Sinode Gereja Kristus pada waktu itu ada 6 jemaat : Ketapang, Bogor, Mangga Besar (GKJMB), Teluk Betung, Purwakarta dan Petamburan.

  • 1960
  1. 2 Juli : Jemaat Gereja Kristus Jembatan Hitam bergabung ke Sinode Gereja Kristus (berasal dari Gereja Almasih).
  2. Gereja Kristus Cicurug (asuhan dari GK Bogor ) didewasakan.
  • 1967, Jemaat Gereja Kristus Cicurug menyatakan diri keluar dan bergabung dengan Sinode GKI Jabar).
  • 1963,
  1. 15 Desember : Didewasakan Gereja Kristus Kebayoran Lama yang merupakan jemaat asuhan GK Petamburan.
  • 1968, Jumlah jemaat Sinode GK bertambah 2 lagi : jemaat Gereja Kristus Sukabumi, bergabung pada tgl 14 Januari 1968 dan pendewasaan Gereja Kristus Cibinong (asuhan GK Bogor) pada tgl 21 Nopember 1968.
  • 1969,
  1. 12 Februari : Gereja Kristus Bandung yang dirintis oleh persekutuan Gereja Sangir Talaud, resmi menjadi jemaat Sinode Gereja Kristus.
  • 1969,
  1. 14-15 Agustus : dalam Konferensi Sinode GK 1969 terjadi perubahan Tata Gereja dari sistem Kongresional menjadi sistem Presbiterial Sinodal. Dan GK juga menerima dua jemaat pindahan dari Gereja Kristen Injili Lampung, yaitu Gereja Kristus Tanjung Karang dan Gereja Kristus Kotabumi.
  • 1973, Jemaat Kotabumi membubarkan diri sejak ditinggal oleh pendeta Timothy Yosua yang menjadi pelayan di sana.
  • 1972,
  1. 27 Januari : Pos PI Taruna asuhan GK Ketapang resmi didewasakan menjadi jemaat Gereja Kristus Taruna.
  • 1977,
  1. 16 Juni : Pos PI Kebayoran Baru yang juga merupakan asuhan GK Ketapang, didewasakan menjadi jemaat Gereja Kristus Kebayoran Baru.
  • 1990,
  1. 1 April : Setelah selang waktu yang cukup lama (13 tahun), jemaat Gereja Kristus bertambah ketika Pos PI Teluk Naga, asuhan GK Ketapang didewasakan pada tgl I April 1990.
  • 1991,
  1. Pos PI Teluk Naga diresmikan menjadi jemaat Gereja Kristus Teluk Naga pada Konferensi Sinode GK 1991 di Wisma Kinasih Caringin – Bogor.
  2. 31 Maret : Pos PI asuhan GK Ketapang lainnya yakni Taman Kota, didewasakan menjadi Jemaat Gereja Kristus Taman Kota.
  • 1994,
  1. 24 April : Pos PI dari GK Petamburan didewasakan, yakni Gereja Kristus Sarua Permai pada tgl 24 April 1994
  • 1998,
  1. 14 November : Pos PI Pamulang didewasakan menjadi Gereja Kristus Pamulang.
  • 2002,
  1. 3 Juni : GKJMB yang memisahkan diri dari Gereja Kristus dan membentuk Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY).
  • 2003,
  1. 4-6 Agustus : Jemaat yang paling muda yakni Gereja Kristus Gunung Putri (asuhan GK Cibinong) didewasakan pada tgl 30 Juni 2003 dan diterima resmi menjadi jemaat GK pada Konferensi Sinode GK 2003 di Wisma Anugerah -Gunung Geulis, Bogor

Pada Konferensi Sinode GK ini juga, diadakan pemungutan suara berkenaan dengan keputusan GKJMB memisahan diri dari GK dengan memakai Badan Hukum sendiri. Keputusan Konferensi adalah 53 suara tidak setuju, 22 setuju dan 1 abstain. Sejak konferensi tersebut, jemaat GKJMB tidak lagi terlibat aktif.

  • 2004,
  1. 16 Agustus : Pada Konferensi Luar Biasa di GK Ketapang, diputuskan GKJMB tetap menjadi jemaat Gereja Kristus dengan status anggota non aktif sehingga hak dan kewajibannya juga dibekukan.
  2. 25-27 Nopember : Sinode GK menjadi tuan rumah Persidangan MPL PGI yang berlangsung pada tanggal di Pondok Remaja PGI, Cipayung - Bogor. Lalu dalam Sidang Raya PGI ke XIV di Wisma Kinasih Bogor, Pdt Kumala Setiabrata M.Th. terpilih menjadi Bendahara Umum MPH PGI periode 2004-2009.
  • 2005,
  1. 27 Maret : Untuk pertama kalinya pula diadakan Paskah Bersama Sinode GK yang diselenggarakan di Gedung Hall C PRJ, Kemayoran – Jakarta.

Alamat[1][2][sunting | sunting sumber]

Jl. Patra Raya No.1-I Duri Kepa,kecamatan Jakarta barat 11510 - DKI Jakarta

Informasi Lanjut[1][2][sunting | sunting sumber]

Telp. (021) 9110536
Fax. (021) 5634118

Akses Internet Menuju Gereja Kristus[1][2][sunting | sunting sumber]

Email: sinodegerejakristus@ymail.com
Website. www.gerejakristus.org

Statistik[1][2][sunting | sunting sumber]

Denominasi gereja: presbiterial sinodal

Jumlah wilayah pelayanan: tidak terhitung

Jumlah jemaat: 18 jemaat

Jumlah Pos kebaktian : 17 pos

Jumlah anggota jemaat: 14.146 jiwa

Jumlah hamba Tuhan: 21 pendeta, 10 emeritus, 25 pelayan lain.

Jumlah sukarelawan : 700 orang

Badan Pengurus[1][2][sunting | sunting sumber]

  • Ketua Umum : Pdt. Setiawan Sutedjo, M.Div
  • Sekretaris Umum : Pdt. Diogenes Takalapeta, M.Div
  • Bendahara Umum : Pnt. Tato Setiabrata

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]