Gereja Kristen Jawa
| Penggolongan | Protestan |
|---|---|
| Orientasi | Calvinisme |
| Bentuk pemerintahan | Presbiterial Sinodal |
| Wilayah | Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta |
| Kantor pusat | Jl. Dr. Sumardi No. 8 & 10, Salatiga 50711 |
| Didirikan | 17 Februari 1931 Kebumen, Jawa Tengah |
| Terpecah dari | Nederlandsche Gereformeerde Zendingvereniging, Zending van de Gereformeerde Kerken in Nederland & Jemaat Kerasulan Kyai Sadrach |
| Pecahan | Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan |
| Jemaat | 32 presbiteri |
| Umat | 220.000 |
| Rohaniwan | 307 |
| Tempat ibadat | 347 |
| Situs web resmi | sinodegkj |
Gereja Kristen Jawa atau Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa (disingkat GKJ) adalah ikatan bersama gereja-gereja Kristen Reformed Jawa yang berjumlah 347 gereja dalam 33 klasis, tersebar di 6 provinsi di Pulau Jawa: Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.[1] GKJ memiliki tata kelola gereja Presbiterian.
Gereja ini merupakan anggota Persekutuan Gereja-Gereja Reformed Sedunia.[2]
Sejarah GKJ
[sunting | sunting sumber]Cikal bakal
[sunting | sunting sumber]Siang dan malam, sembilan orang dari kalangan terbawah masyarakat Jawa dengan profesi buruh miskin tukang mbatik yang menjadi pembantu Ny. Van Oostrom Phillips di Banyumas, nekat berjalan kaki dalam rombongan kecil menerabas desa-desa dan pegunungan menuju ke Semarang (sejauh sekitar 300 Km) untuk sekadar mendapatkan tanda baptis dari Zendeling NZG W. Hoezoo pada 10 Oktober 1858 karena pemberian tanda baptis di karesidenan Banyumas oleh zendeling tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial setempat. Mereka inilah cikal bakal pertama gereja GKJ; GKJ tumbuh pertama kali di kawasan Banyumas.
Cikal bakal kedua adalah dua orang lelaki dan tiga orang perempuan pekerja miskin batur (pembantu rumah tangga) Ny. Christina Petronella Phillips Stevens di Ambal, Purworejo yang menerima tanda baptis mereka di Gereja Indische Kerk Purworejo pada 27 Desember 1860.
Perkembangan dari kelas rendahan
[sunting | sunting sumber]Dengan demikian harus jujur diakui, cikal-bakal dari yang disebut dan menamakan diri Gereja-gereja Kristen Jawa adalah golongan akar rumput lagi pula buta huruf, keluarga para pembantu rumah tangga dan buruh membatik, anggota masyarakat kelas bawah Boemipoetera zaman kolonial yang paling rendah status sosialnya.
Dengan memasukkan para warga asuhan Kyai Sadrach Suropranoto yang sangat pantas juga dimasukkan kelompok bibit kawit yang jumlahnya ribuan tersebar di puluhan desa "wiwit Segara Lor tekan Segara Kidul" (dari Laut Utara sampai Laut Selatan), dari kawasan Menoreh, Kedu, Sindoro Sumbing dan Dieng, "laladan neng gunung wah neng ngare", gambaran inipun tidak berubah. Mereka juga "wong karang perdesan" dan "wong nggunung kelas koelie kendho" (petani tanpa tanah dan sawah).[3]
Jika kelompok Kristen Simo yang kemudian pindah ke Nyemoh (dekat Bringin Salatiga) binaan Ny. E.J.Le Jolle de Wildt dan Petrus Sadaja (baptis tahun 1855, tiga tahun lebih awal dari kelompok Banyumas) ditambahkan di sini sebagai bibit kawit pun kelas mereka juga tetap sama, kelas rendahan, karena kelompok Simo – Nyemoh inipun berasal dari kaum batur pula, paling jauh termasuk golongan mager sari.
Untuk mengunjungi kebaktian jangan mimpi mereka datang dengan naik andhong berpakaian necis dan beralas kaki. Satu-satunya pilihan yang ada hanyalah berjalan kaki, lagi pula nyeker, dengan pakaian seadanya "ing atase" para batur dan petani gurem. Mereka belajar agama Kristen maupun melantunkan kidung pujian hanya bermodalkan hafalan, itulah kelebihan mereka sebagai orang buta huruf.
Generasi kedua dan ketiga
[sunting | sunting sumber]Tumbuhnya kelompok Kristen awal ini segera disusul oleh tumbuhnya kelompok lain hasil pekabaran injil Nederlandche Gereformeerde Zendingvereniging (NGZV) yang mulai bekerja di Jawa Tengah sejak 1865 di Tegal (Muaratuwa) dan Purbalingga (plus Bobotsari dan Bojong), yang nantinya diambil-alih oleh Zending Gereformeerd Kerken (ZGK) sejak tahun 1896 dan dikembangkan dengan pusat-pusat penginjilan dari kota-kota Purworejo – Temon, Kebumen, Yogyakarta, Surakarta, Banyumas-Purbalingga serta Magelang Temanggung, semuanya di kawasan Jawa Tengah Selatan (Jawa Tengah Utara menjadi ladang pekabaran Injil Salatiga Zending). Sejak ini muncullah puluhan pepanthan di sekeliling tiap-tiap pusat penginjilan di luar kelompok yang lama maupun kelompok "Wong Kristen Merdhiko". Namun yang jelas, hampir semua warga gereja Jawa ini berlatar belakang petani miskin dan buta aksara. Hanya berkat jasa pelayanan sekolah dan rumah sakit yang diselenggarakan zending, secara lambat tetapi pasti generasi kedua warga Gereja Jawa bergeser, mereka mulai melek huruf, sebagai akibat pendidikan di sekolah maupun di rumah sakit zending sebagian generasi kedua ini beralih profesi menjadi guru dan perawat serta pegawai berbagai bidang pelayanan masyarakat termasuk di pemerintahan desa. Dari generasi kedua inilah kemudian lahir generasi ketiga warga geraja Jawa pra dan pasca kemerdekaan yang educated minded, yang dizaman kolonial didorong dan difasilitasi untuk belajar tidak hanya di "Volkschool" dan "Vervolgschool" namun juga di "Schakelschool", HIS, MULO, bahkan "Kweekschool" dan HIK.
Yang jelas pertumbuhan gereja Jawa (di luar "Golongane Wong Kristen “Jowo” kang Merdhiko" yang masih belum bergabung dalam asuhan zending), apalagi sejak tahun 1900, sangat ditentukan oleh metode dan realisasi Pekabaran Injl Zending ZGK yang tergelincir kepada kenyataan yang menyebabkan gereja Jawa tumbuh dalam ketergantungan yang akut pada para Pendeta Missi dan zendingnya.
Pendewasaan
[sunting | sunting sumber]Pendewasaan pepanthan Gereja-gereja Jawa pertama kali terjadi atas gereja Purworejo (4 Februari 1900) tak lama kemudian disusul pepanthan Temon. Namun pendewasaan ini ternyata lebih bersifat pamer kebisaan kepada Golongane Wong Kristen “Jowo” kang Merdhiko pimpinan Kyai Sadrach untuk membuktikan bahwa zending tidak bermaksud lain kecuali mendirikan gereja-gereja Jawa dengan pendeta-pendeta Jawa. Tanpa topangan zending, pendewasaan kedua gereja ini hanyalah ketergesaan semata. Mungkin baru pada pendewasaan kelompok Glonggong - Kebumen (3 November 1911) dan kelompok Gondokusuman Yogyakarta (23 November 1913) pendewasaan gereja ini agak cukup pantas disebut lebih dapat dipertanggungjawabkan. Baru sesudah berjalan 26 tahun hanya Gereja Gondokusuman yang pertama kali siap memanggil pendeta atas diri Ds. Ponidi Sopater pada tahun 1926 dari antara 17 gereja Jawa yang sudah didewasakan oleh zending yaitu Purworejo, Temon, Glonggong, Gondokusuman, Solo, Klaten, Tungkak, Patalan, Candisewu, Magelang, Kesingi, Palihan, Kebumen, Grujugan, Purbalingga, Grendeng dan Adireja.
Gereja-gereja ini menggeliat di bawah pimpinan Guru-guru Injil didikan "Opleiding School van de Helper bij de Dienst Woords" (Sekolah bagi Pembantu-pembantu Pada pelayanan Firman Tuhan/Sekolah Guru Injil) Yogyakarta dibantu serta oleh guru-guru sekolah zending dan mantri jururawat rumah sakit dan poliklinik zending. Merekalah para penumbuh dan pemimpin gereja Jawa sesungguhnya, tetapi di bidang dana dan ajaran ketergantungan gereja-gereja ini pada zending ZGK masih merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditutup-tutupi.
Pada tanggal 17-18 Februari 1931 gereja-gereja Jawa yang saat itu menamakan diri "Pesamoewan Kristen “Gereformeerd” ing Tanah Djawi Tengah sisih Kidoel", yang masing-masing mengelompok dalam 5 klasis bersinode pertama di Kebumen, ini menjadi tonggak pertama persidangan sinode Gereja-gereja Jawa Tengah Selatan untuk disusul dengan sinode-sinode berikutnya, walaupun peran serta para Pendeta Missioner ZGK masih cukup besar untuk menuntun para pemimpin gereja Jawa berjalan menapaki kedewasaannya yang masih rapuh ini.
Kedewasaan Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah Selatan (sebutan yang akhirnya sering dipakai) menemukan kesempatan ketika gereja-gereja Jawa harus berjuang menegakkan kehidupannya sendiri saat para Pendeta Missi ditawan oleh pemerintah pendudukan Jepang sejak 1943 dan hubungan dengan gereja Eropa terputus. Saat ini era kemandirian gereja terlihat akan betul-betul mulai dapat dijalani. Namun ternyata gereja Jawa masih harus bersabar. Walaupun Gereja-gereja Kristen Jawa Tengah Selatan berhasil menggandeng saudara-saudaranya seperti Greja Kristen Jawi Wetan, Gereja Kristen Jawa Tengah Utara - Parepatan Agung, Gereja Kristen Jawa – Sekitar Muria, Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee Jawa Tengah serta Gereja Kristen Pasundan Jawa Barat dalam lembaga Dewan Permoesjawaratan Geredja-geredja Protestant di Indonesia (DPG di Indonesia) yang dibentuk tahun 1946 di Yogyakarta; dan lewat organisasi ini mereka mencanangkan euforia kemerdekaan dengan tidak mau lagi menerima bekas zending-zendingnya, tetapi keinginan ini harus mengalami sedikit perubahan. Gereformeerde Kerken in Nederland (GKN) dan Nederlandsch Hervormde Kerk (NHK) yang mewakili gereja pengutus masih menghendaki paling tidak adanya kerjasama dalam pekabaran Injil di Indonesia. Basoeki Probowinoto selaku utusan Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah Selatan yang menjadi motor DPG ketika hadir sebagai utusan Gereja Jawa dalam Sinode GKN di Eindhoven tahun 1948 harus bersedia melangkah surut karena dia diingatkan oleh seniornya (S.U.Zuidema) bahwa jika gereja-gereja Gereformeerd Belanda tidak lagi diberi peran dalam pekabaran Injil sama saja dengan mematikan mereka karena dalam pengertian mereka tidak ada gereja tanpa pekabaran Injil, yang berarti mereka berhenti sebagai gereja missioner. Terpaksa Gereja Jawa harus menerima konsep bekerjasama dengan bekas zendingnya lewat Regionaal Acccord dan Algemene Accord yang ditandatangi di Belanda tahun 1948. Kerjasama ini berlangsung mulai tahun 1950-an saat Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah Selatan disatukan dengan Geredja Kristen Djawa Tengah Utara dalam Sinode Persatuan di Salatiga 5 – 6 Juli 1949, dan sejak itu bernama Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah (GKDT). Akibatnya sampai tahun 1970 kedewasaan gereja Jawa kembali terbelenggu dan dikerdilkan di bawah supremasi kucuran dana dan tenaga dari partner gereja Eropa. Basoeki Probowinoto sadar akan bahaya ini dan untuk itu pada tahun 1955 dia mengusulkan terobosan baru yang terkenal sebagai Nota Probowinoto, tetapi kenyamanan yang telanjur dibentuk lewat kucuran dana yang berlimpah itu sulit untuk diubah. Baru sesudah secara tiba-tiba gereja partner ini menyatakan tidak lagi melanjutkan bekerjasama dalam Pekabaran Injil, justru inilah saat gereja Jawa (sejak tahun 1956 berubah nama menjadi Geredja-geredja Kristen Djawa/GKD) mendapat kesempatan menjalani kedewasaannya yang sesungguhnya dan harus dewasa dalam segalanya.
Masa kini
[sunting | sunting sumber]Waktu terus berjalan. Sesudah memproses gereja-gereja Jawa yang tumbuh dan dikembangkan di antara para transmigran di Sumatra (sejak 1936) menjadi Sinode tersendiri dengan nama Gereja-gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan – GKSBS, Gereja-gereja Kristen Jawa yang tersebar di enam provinsi di pulau Jawa (Banten, DKI-Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur) kini berkembang pesat, pada tahun 2011 menjadi 307 gereja, berhimpun dalam 32 Klasis, dengan jumlah warga sekitar +218.998 orang, dari segala lapisan masyarakat, baik dari kalangan lapisan rendah seperti petani kecil, buruh pabrik, pedagang candak- kulak, lapisan menengah seperti pegawai, pengusaha maupun wiraswasta sampai dengan lapisan tinggi pengusaha sukses dan pejabat tinggi negara, tersebar di berbagai tempat, di kota dan di desa, dengan dilayani 307 pendeta jemaat dan 16 pendeta pelayanan khusus.
Tata Laksana Gereja
[sunting | sunting sumber]Tata Laksana GKJ adalah peraturan yang digunakan sebagai acuan penatalayananan GKJ. Tata Laksana juga merupakan penjelasan dari Tata Gereja. Tata Laksana yang sekarang berlaku bagi Gereja-Gereja Kristen Jawa adalah Tata Laksana GKJ edisi 2018 yang ditetapkan dalam Sidang Sinode GKJ Non Reguler, bulan November 2005 di Bandungan - Jawa Tengah.
Badan Pelaksana Sinode Harian GKJ 2023-2027[4]
[sunting | sunting sumber]| Personalia Bapelsin XXIX GKJ (Periode Pelayanan 2023-2027)[5] | |
|---|---|
| Jabatan | Nama |
| Ketua Umum | Pdt. Sundoyo (Klasis Yogyakarta Selatan) |
| Sekretaris Umum | Pdt. Anugerah Kristian (Klasis Gunung Kidul) |
| Bendahara Umum | Haryanto (Klasis Jakarta Bagian Timur) |
| Bidang Keesaan |
|
| Bidang Visitasi |
|
| Bidang Kesaksian dan Pelayanan |
|
| Bidang Pembinaan Warga Gereja |
|
| Bidang Pengembangan Kepemimpinan |
|
| Badan Pengawas Sinode XXIX GKJ | |
| Anggota |
|
Wilayah Pelayanan
[sunting | sunting sumber]Saat ini, Gereja Kristen Jawa terdiri atas 350 Gereja, 523 Pepanthan (Pos Pelayanan) dan 33 Klasis. [6]
| Nama Klasis | Jemaat / Gereja yang Dibawahi |
|---|---|
| Klasis Banyumas Selatan | GKJ Adireja-Adipala • GKJ Aku Iki Pepadhanging Jagad Cilacap • GKJ Karanggedang • GKJ Bangsa • GKJ Kroya • GKJ Bangkal • GKJ Cilacap Utara • GKJ Sih Rahmat Pesawahan • GKJ Jeruklegi Margi Rahayu |
| Klasis Banyumas Utara | GKJ Banyumas • GKJ Purbalingga • GKJ Sokaraja • GKJ Purwokerto • GKJ Klampok • GKJ Pengalusan • GKJ Getsemane • GKJ Banjarnegara • GKJ Arcawinangun • GKJ Purwokerto Barat • GKJ Penaruban |
| Klasis Blora Bojonegoro | GKJ Tuban • GKJ Cepu • GKJ Rembang • GKJ Pulo Kedungtuban • GKJ Randublatung • GKJ Blora • GKJ Lasem • GKJ Singgahan • GKJ Japah |
| Klasis Boyolali | GKJ Boyolali • GKJ Kerten • GKJ Simo • GKJ Pengging • GKJ Ampel • GKJ Sabda Mulya • GKJ Cipta Wening • GKJ Welar |
| Klasis Citanduy | GKJ Bandung • GKJ Sidareja • GKJ Kawunganten • GKJ Sih Rahmat Wanareja • GKJ Gandrungmangu • GKJ Hosiana Patimuan • GKJ Majenang • GKJ Waringinsari • GKJ Kiaracondong • GKJ Cimahi • GKJ Kamulyaan Bandung |
| Klasis Gunung Kidul | GKJ Wonosari • GKJ Watusigar • GKJ Paliyan • GKJ Wiladeg • GKJ Baran • GKJ Logandeng • GKJ Susukan Gunung Kidul • GKJ Pugeran • GKJ Kemadang • GKJ Sabda Adi Semanu • GKJ Semanu Baru • GKJ Bejiharjo • GKJ Panggang |
| Klasis Jakarta Bagian Barat | GKJ Nehemia • GKJ Eben Haezer • GKJ Yeremia • GKJ Joglo • GKJ Tangerang • GKJ Depok • GKJ Grogol • GKJ Pamulang • GKJ Kanaan • GKJ Bumi Indah • GKJ Serpong |
| Klasis Jakarta Bagian Timur | GKJ Jakarta • GKJ Tanjung Priok • GKJ Pangkalanjati • GKJ Bekasi • GKJ Pondok Gede • GKJ Gandaria • GKJ Bogor • GKJ Bekasi Timur • GKJ Bambu Kuning • GKJ Harapan Indah |
| Klasis Kartasura | GKJ Manahan • GKJ Kartasura • GKJ Plaur • GKJ Pajang Makamhaji • GKJ Sabda Winedhar • GKJ Gebyog • GKJ Gatak • GKJ Sumber • GKJ Sabda Sumunar Tohudan |
| Klasis Kebumen | GKJ Karangglonggong • GKJ Kebumen • GKJ Grujugan • GKJ Tunjungseto • GKJ Tengahan • GKJ Menara Kasih Sruweng • GKJ Gombong • GKJ Prembun • GKJ Karanganyar Kebumen • GKJ Karanggadung • GKJ Kutowinangun • GKJ Sikayu • GKJ Bumiagung • GKJ Imanuel Kebumen • GKJ Pengaringan |
| Klasis Klaten Barat | GKJ Prambanan • GKJ Gondangwinangun • GKJ Wedi • GKJ Kebonarum • GKJ Manisrenggo • GKJ Karangnongko • GKJ Gantiwarno |
| Klasis Klaten Tengah | GKJ Klaten • GKJ Ketandan • GKJ Gayamprit • GKJ Gumulan • GKJ Trucuk • GKJ Jonggrangan |
| Klasis Klaten Timur | GKJ Delanggu • GKJ Pedan • GKJ Wonosari Klaten • GKJ Ceper • GKJ Karangdowo • GKJ Jatinom • GKJ Cawas • GKJ Juwiring |
| Klasis Kulon Progo | GKJ Temon • GKJ Kalipenten • GKJ Palihan • GKJ Ngulakan • GKJ Gowok • GKJ Plono • GKJ Samigaluh • GKJ Wates • GKJ Nanggulan • GKJ Sentolo • GKJ Wates Selatan • GKJ Ngentakrejo |
| Klasis Lawu Karanganyar | GKJ Karanganyar • GKJ Tawangmangu • GKJ Kismorejo • GKJ Kerjo • GKJ Harjosari • GKJ Manunggal • GKJ Kebakkramat • GKJ Bekonang • GKJ Karangpandan |
| Klasis Magelang | GKJ Magelang • GKJ Muntilan • GKJ Bono • GKJ Ngablak • GKJ Mertoyudan • GKJ Plengkung • GKJ Grabag Merbabu • GKJ Secang • GKJ Salaman • GKJ Gumuk • GKJ Kenalan • GKJ Pamong Utama Kalinegoro |
| Klasis Pekalongan | GKJ Purbo • GKJ Pekalongan • GKJ Limpung Batang • GKJ Kasimpar • GKJ Bandar • GKJ Immanuel Karanganyar • GKJ Bawang • GKJ Batang |
| Klasis Pekalongan Barat | GKJ Tegal • GKJ Pemalang • GKJ Moga • GKJ Slawi • GKJ Brebes • GKJ Mejasem |
| Klasis Purwodadi | GKJ Kradenan • GKJ Wolo • GKJ Purwodadi • GKJ Kaliceret • GKJ Mijen Purwodadi • GKJ Wirosari • GKJ Ngaringan • GKJ Gabus Sulursari • GKJ Grobogan • GKJ Juwangi • GKJ Gundih • GKJ Wisma Nugraha • GKJ Sodo • GKJ Tempurung Gubug • GKJ Karangsari • GKJ Rejosejati |
| Klasis Purworejo | GKJ Purworejo • GKJ Jatirejo • GKJ Sidorejo • GKJ Kutoarjo • GKJ Karangjoso • GKJ Tlepok • GKJ Jenar Geparang • GKJ Pituruh • GKJ Bener • GKJ Kaligesing • GKJ Purworejo Selatan |
| Klasis Sala | GKJ Margoyudan • GKJ Joyodiningratan • GKJ Nusukan • GKJ Gandekan Sala Timur • GKJ Danukusuman • GKJ Bibisluhur • GKJ Dagen Palur • GKJ Cakraningratan • GKJ Wisma Panembah Surakarta • GKJ Mojosongo • GKJ Immanuel Surakarta • GKJ Selokaton • GKJ Jebres • GKJ Petoran • GKJ Karangasem • GKJ Taman Murni |
| Klasis Salatiga Bagian Selatan | GKJ Salib Putih • GKJ Salatiga Timur • GKJ Salatiga Selatan • GKJ Sidomukti • GKJ Karangalit • GKJ Susukan • GKJ Randuares • GKJ Argomulyo • GKJ Menara Kasih • GKJ Kana Pabelan • GKJ Antepe |
| Klasis Salatiga Bagian Utara | GKJ Ngampin • GKJ Ambarawa • GKJ Salatiga • GKJ Tuntang Timur • GKJ Bandungan • GKJ Salatiga Utara • GKJ Tuntang Barat • GKJ Griya Panembah Delik • GKJ Bringin • GKJ Tlogo |
| Klasis Semarang Barat | GKJ Kendal • GKJ Semarang Barat • GKJ Karangayu • GKJ Bulu Lor • GKJ Sukorejo • GKJ Krapyak • GKJ Jatingaleh • GKJ Sampangan Kradenan • GKJ Boja • GKJ Mijen Semarang • GKJ Kalilangse • GKJ Ngaliyan • GKJ Kaliwungu • GKJ Anugerah Dawung |
| Klasis Semarang Selatan | GKJ Ungaran • GKJ Banyumanik • GKJ Wisma Anugerah Candi • GKJ Ngesrep • GKJ Kertanegara • GKJ Wisma Kasih Mangunharjo • GKJ Immanuel Ungaran • GKJ Ngempon • GKJ Kramas |
| Klasis Semarang Timur | GKJ Semarang Timur • GKJ Demak • GKJ Kudus • GKJ Wisma Panunggal Mrican • GKJ Genuk • GKJ Kabluk • GKJ Tlogosari • GKJ Mranggen • GKJ Puri Asih Demak |
| Klasis Sindoro Sumbing | GKJ Jumo • GKJ Bendungan • GKJ Wonosobo • GKJ Temanggung • GKJ Tirta Wening • GKJ Ardi Mulya • GKJ Ngadirejo • GKJ Kranggan • GKJ Wonosobo Timur • GKJ Epifani • GKJ Bukit Sion • GKJ Candiroto • GKJ Sindoro • GKJ Kertosari • GKJ Emanuel |
| Klasis Sragen | GKJ Sragen • GKJ Gondang • GKJ Taman Asri • GKJ Sambirejo • GKJ Sidomulyo Sragen • GKJ Gambiran • GKJ Jagan • GKJ Tanon • GKJ Jambangan • GKJ Jatisumo • GKJ Jambeyan • GKJ Jenawi • GKJ Masaran |
| Klasis Sukoharjo | GKJ Sukoharjo • GKJ Baki • GKJ Grogol Sukoharjo • GKJ Kronelan • GKJ Nguter • GKJ Bulu Sukoharjo • GKJ Tawangsari |
| Klasis Wonogiri | GKJ Wuryantoro • GKJ Wonogiri • GKJ Slogohimo • GKJ Baturetno • GKJ Purwantoro • GKJ Girikinasih • GKJ Wonogiri Utara • GKJ Eka Kapti • GKJ Bahtera Kasih |
| Klasis Yogyakarta Barat | GKJ Medari • GKJ Wirobrajan • GKJ Rewulu • GKJ Jatimulyo • GKJ Kebonagung • GKJ Sedayu • GKJ Ngento-ento • GKJ Demakijo • GKJ Gamping |
| Klasis Yogyakarta Selatan | GKJ Gondokusuman • GKJ Patalan • GKJ Mergangsan • GKJ Gunturgeni • GKJ Bantul • GKJ Kotagede • GKJ Sumberagung • GKJ Canden • GKJ Madukismo • GKJ Jodhog • GKJ Sidomulyo • GKJ Brayat Kinasih • GKJ Bambu Tegalrejo • GKJ Wonocatur • GKJ Pundong • GKJ Suryodiningratan |
| Klasis Yogyakarta Utara | GKJ Tanjungtirto • GKJ Ambarrukma • GKJ Samironobaru • GKJ Pakem • GKJ Sarimulyo • GKJ Condongcatur • GKJ Maguwoharjo • GKJ Dayu • GKJ Minomartani • GKJ Tulung • GKJ Karangbendo |
Tokoh
[sunting | sunting sumber]- Basuki Probowinoto
- Sularso Sopater
- Radius Prawiro
- Titi Juliasih Kardjono
- Sukowaluyo Mintoraharjo
- Sri Adiningsih
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Home". gkj.or.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-06-03. Diakses tanggal 2012-05-16.
- ↑ www.wcrc.ch
- ↑ "Sigit Heru Sukoco, M.Th, Sejarah Sinode Gereja Kristen Jawa". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-18. Diakses tanggal 2012-03-02.
- ↑ "BAPELSIN & BAWASIN". Sinode GKJ. 2023-01-07. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ↑ "BAPELSIN & BAWASIN". Sinode GKJ. 2023-01-07. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ↑ "Klasis dan Gereja". Sinode GKJ. 2023-01-07. Diakses tanggal 2026-02-17.
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Sinode GKJ Diarsipkan 2017-06-03 di Wayback Machine.
- Situs SInode GKJ