Paus (Katolik Roma)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Uskup Roma
Keuskupan
katolik
Coat of arms Holy See.svg
Pope Francis in March 2013 (cropped).jpg
Petahana:
Fransiskus
Sejak 13 Maret 2013
Gelar kehormatan Yang Mulia (His Holiness)
Provinsi Provinsi Gerejawi Roma
Keuskupan Roma
Katedral Basilika Agung Santo Yohanes Lateran
Pemegang jabatan pertama Menurut Gereja Katolik, Santo Petrus
Pembentukan Menurut Gereja Katolik, abad ke-1
Situs web The Holy Father

Paus (dari bahasa Belanda: paus; bahasa Latin: papa dari bahasa Yunani: πάππας pappas,[1] "ayah")[2] adalah Uskup Roma dan pemimpin Gereja Katolik di seluruh dunia.[3] Keutamaan Uskup Roma sebagian besar berasal dari peranannya dalam tradisi sebagai penerus Santo Petrus, kepada siapa Yesus memberikan kunci Surga dan kuasa untuk "mengikat dan melepaskan" serta menyebutnya sebagai "batu karang" yang di atasnya Gereja kemudian dibangun. Paus saat ini adalah Paus Fransiskus, terpilih pada tanggal 13 Maret 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI.[4]

Pemerintahan dari seorang paus disebut juga "kepausan", atau tepatnya "pontifikat". Yurisdiksi gerejawinya, yaitu Keuskupan Roma, seringkali disebut "Takhta Suci"[5] atau "Takhta Apostolik"; sebutan yang terakhir itu didasarkan pada keyakinan bahwa Uskup Roma adalah penerus dari Rasul Petrus.[6] Paus dianggap sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia karena pengaruh kultural dan diplomatik yang dimilikinya.[7][8][9] Ia juga kepala negara Kota Vatikan,[10] suatu negara kota berdaulat yang terletak seluruhnya di dalam ibu kota Italia di Roma.

Kepausan merupakan salah satu lembaga yang paling bertahan lama di dunia dan telah menjadi suatu bagian penting dalam sejarah dunia.[11] Para paus pada zaman kuno membantu penyebaran Kekristenan dan penyelesaian berbagai perselisihan doktrinal.[12] Pada Abad Pertengahan, mereka memainkan suatu peranan dalam kepentingan sekuler di Eropa Barat, biasanya bertindak sebagai arbiter antara para penguasa monarki Kristen.[13][14][15] Saat ini, selain menyebarkan iman dan doktrin Kristen, para paus terlibat dalam ekumenisme dan dialog antaragama, karya sosial, serta pembelaan terhadap hak asasi manusia.[16][17]

Para paus—yang awalnya tidak memiliki kekuasaan sekuler—dalam beberapa periode sejarah mengumpulkan kekuasaan besar, mirip dengan para penguasa sekuler. Pada beberapa abad terakhir, para paus secara bertahap dipaksa untuk menyerahkan kembali kekuasaan sekuler tersebut, dan otoritas kepausan masa kini sekali lagi hampir sepenuhnya terbatas dalam hal agama.[12] Selama berabad-abad, klaim kepausan atas otoritas spiritual telah semakin tegas diungkapkan; puncaknya yaitu pada tahun 1870 dengan dinyatakannya dogma infalibilitas kepausan untuk kesempatan-kesempatan yang sangat jarang ketika seorang paus berbicara secara ex cathedra—secara harfiah berarti "dari kursi (Santo Petrus)"—saat mengeluarkan suatu definisi formal terkait iman atau moral.[12]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gelar dan etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata paus berasal dari kata Yunani πάππας yang berarti "ayah" atau "bapa". Pada abad-abad awal Kekristenan, gelar ini diterapkan—terutama di timur—untuk semua uskup[18] dan klerus senior lainnya; kemudian menjadi direservasi di barat untuk menyebut Uskup Roma, suatu reservasi yang baru dinyatakan resmi pada abad ke-11.[19][20][21][22][23] Catatan paling awal seputar penggunaan gelar ini adalah berkenaan dengan Patriark Aleksandria pada saat itu, yakni Paus Heraclas dari Aleksandria (232–248).[24] Catatan penggunaan yang paling awal atas gelar "paus" (pope) dalam bahasa Inggris yaitu pertengahan abad ke-10, ketika digunakan untuk mengacu kepada Paus Vitalianus dalam sebuah terjemahan Inggris Lama Historia ecclesiastica gentis Anglorum karya Beda.[25]

Posisi dalam Gereja[sunting | sunting sumber]

Gereja Katolik mengajarkan bahwa jabatan pastoral tersebut, yakni tugas penggembalaan Gereja, yang dahulu dilakukan oleh para rasul sebagai satu kelompok atau "kolegium" dengan Santo Petrus sebagai kepala mereka, sekarang dipegang oleh para penerus mereka, yaitu para uskup, dengan uskup Roma (paus) sebagai kepala mereka.[26]

Menurut Gereja Katolik, Yesus secara pribadi mengangkat Petrus sebagai pemimpin Gereja dan dalam konstitusi dogmatis Lumen gentium yang dikeluarkannya disebutkan suatu perbedaan yang jelas antara para rasul dan para uskup; di dalamnya dinyatakan bahwa para uskup adalah penerus para rasul dengan paus sebagai penerus Petrus, dalam hal ini ia adalah kepala para uskup sebagaimana Petrus adalah kepala para rasul.[27] Beberapa sejarawan berpendapat bahwa gagasan mengenai Petrus adalah uskup pertama Roma dan mendirikan takhta episkopal di sana hanya dapat ditelusuri kembali hingga abad ke-3.[28] Tulisan-tulisan dari Ireneus, salah seorang Bapa Gereja, yang menulis pada sekitar tahun 180 M mencerminkan suatu keyakinan bahwa Petrus "mendirikan dan mengorganisir" Gereja di Roma.[29] Ireneus dipandang bukan sebagai orang pertama yang menuliskan kehadiran Petrus dalam Gereja Roma awal mula. Klemens dari Roma menuliskan sebuah surat kepada jemaat di Korintus, kr. 96,[30] mengenai penganiayaan umat Kristen di Roma sebagai "perjuangan pada zaman kita" dan menyajikan kepada jemaat Korintus para pahlawannya, "pertama-tama, para pilar yang paling benar dan terbesar", "para rasul yang baik" Petrus dan Paulus.[31] Ignatius dari Antiokhia menulis tidak lama setelah Klemens dan dalam suratnya dari kota Smirna kepada jemaat Roma ia mengatakan bahwa ia tidak memberikan perintah-perintah kepada mereka sebagaimana yang Petrus dan Paulus lakukan.[32] Karena hal ini dan bukti lainnya, banyak akademisi sepakat bahwa Petrus menjadi martir di Roma dalam pemerintahan Nero, kendati beberapa akademisi berpendapat bahwa ia mungkin menjadi martir di Palestina.[33][34][35]

Kalangan Protestan berpendapat bahwa Perjanjian Baru tidak memberikan bukti kalau Yesus mendirikan kepausan ataupun menetapkan Petrus sebagai uskup pertama Roma.[36] Kalangan lain, dengan menggunakan kata-kata Petrus sendiri, berpendapat bahwa Yesus memaksudkan diri-Nya sendiri sebagai fondasi Gereja dan bukan Petrus.[37][38] Kalangan lainnya lagi berpendapat bahwa Gereja tidak hanya dibangun di atas dasar iman dan Yesus, tetapi juga di atas para murid—meski bukan Petrus semata-mata—sebagai akar dan fondasi Gereja sesuai dengan ajaran Paulus dalam Surat Roma dan Efesus.[39][40]

Masing-masing komunitas Kristen pada abad pertama memiliki sekelompok presbyter-bishops (uskup jamak) yang berfungsi sebagai para pemimpin gereja setempat mereka. Secara bertahap, episkopal terbentuk di daerah-daerah metropolitan.[41] Antiokhia mungkin telah mengembangkan struktur demikian sebelum Roma.[41] Di Roma, terdapat banyak orang yang mengaku sebagai uskup yang sah meskipun sekali lagi Ireneus menekankan keabsahan satu rangkaian uskup dari masa St. Petrus hingga Paus Viktor I yang hidup pada zaman yang sama dengannya, dan Ireneus membuat daftar tersebut.[42] Beberapa penulis mengklaim bahwa timbulnya seorang uskup tunggal di Roma mungkin tidak terjadi sampai pertengahan abad ke-2. Dalam pandangan mereka, Linus, Kletus, dan Klemens mungkin merupakan presbyter-bishops yang terkemuka tetapi belum tentu uskup tunggal.[28]

Dokumen-dokumen dari abad ke-1 dan awal abad ke-2 menunjukkan bahwa Takhta Suci memiliki semacam superioritas dan arti penting dalam Gereja secara keseluruhan, walaupun detail tentang makna hal ini sangat tidak jelas pada periode tersebut.[43]

Kekristenan Awal (kr. 30–325)[sunting | sunting sumber]

Pada awal mula tampaknya penggunaan istilah "episcopos" dan "presbyter" dapat saling dipertukarkan.[44] Konsensus di antara para akademisi yaitu, pada pergantian abad ke-1 dan ke-2, jemaat-jemaat setempat dipimpin oleh para uskup dan para presbiter dengan jabatan yang saling tumpang tindih atau tidak dapat dibedakan.[45] Beberapa kalangan mengatakan bahwa kemungkinan "tidak ada satu pun uskup 'monarkis' tunggal di Roma sebelum pertengahan abad ke-2...dan mungkin belakangan."[46] Para akademisi dan sejarawan lainnya tidak setuju, mereka mengutip catatan-catatan sejarah dari St. Ignatius dari Antiokhia (wafat tahun 107) dan St. Ireneus yang mencatat suksesi linier Uskup Roma (para paus) sampai pada masa mereka sendiri. Mereka juga mengutip arti penting Uskup Roma di dalam berbagai konsili ekumenis, termasuk semua yang paling awal.[47]

Pada era Kristen awal, Roma dan beberapa kota lain memiliki klaim atas kepemimpinan Gereja di seluruh dunia. Yakobus yang Adil, dikenal sebagai "Saudara Tuhan", berperan sebagai kepala gereja Yerusalem yang hingga kini masih dihormati sebagai "Gereja Ibu" dalam tradisi Ortodoks. Aleksandria pernah menjadi suatu pusat pembelajaran Yahudi dan menjadi salah satu pusat pembelajaran Kristen. Roma memiliki jemaat yang besar pada awal periode apostolik yang dibahas Rasul Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Roma yang ditulisnya, dan menurut tradisi Paulus menjadi martir di sana.[butuh rujukan]

Selama abad pertama Gereja (kr. 30–130), ibu kota Romawi tersebut menjadi diakui sebagai suatu pusat Kekristenan yang luar biasa penting. Klemens I, pada akhir abad ke-1, menulis sebuah surat kepada Gereja di Korintus Kuno untuk campur tangan dalam suatu perselisihan besar, dan ia meminta maaf karena tidak bertindak lebih awal.[48] Namun hanya ada beberapa referensi lain dari masa tersebut terkait pengakuan atas keutamaan otoritatif Takhta Roma di luar Roma. Dalam Dokumen Ravenna tanggal 13 Oktober 2007, para teolog yang dipilih oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur menyatakan: "41. Kedua belah pihak setuju...bahwa Roma, sebagai Gereja yang 'menjalankan kepemimpinan dalam kasih', sesuai dengan ungkapan dari St. Ignatius dari Antiokhia,[49] menduduki tempat pertama dalam taxis, dan bahwa uskup Roma karenanya adalah protos di antara para patriark. Bagaimanapun kedua belah pihak tidak bersepakat mengenai interpretasi bukti sejarah dari era ini terkait hak prerogatif Uskup Roma sebagai protos, suatu hal yang sudah dipahami dengan cara-cara berbeda pada milenium pertama."[butuh rujukan]

Pada akhir abad ke-2 M, terdapat lebih banyak perwujudan otoritas Roma atas gereja lainnya. Pada tahun 189, penegasan terhadap keutamaan Gereja Roma dapat diindikasikan dalam Melawan Ajaran Sesat (3:3:2) karya Ireneus: "Dengan [Gereja Roma], karena asal usul superioritasnya, semua gereja harus sependapat...dan di dalam dirinya umat beriman di mana-mana telah memelihara tradisi apostolik." Pada tahun 195 M, Paus Viktor I mengekskomunikasi para penganut Quartodecimanisme karena merayakan Paskah pada tanggal 14 Nisan, tanggal Paskah Yahudi, suatu tradisi yang diwariskan oleh Yohanes Penginjil (lih. kontroversi Paskah). Tindakan ini dipandang sebagai salah satu praktik pelaksanaan otoritas Roma atas gereja lainnya. Perayaan Paskah pada hari Minggu, sebagaimana ditegaskan oleh paus tersebut, adalah sistem yang telah berlaku (lih. computus).[butuh rujukan]

Nicaea sampai Skisma Timur-Barat (325–1054)[sunting | sunting sumber]

Edik Milano (323) memberikan kebebasan beragama bagi masyarakat di Kekaisaran Roma, memulai masa damai Gereja. Pada tahun 325, Konsili Nicaea I mengutuk Arianisme dan pada kanon keenam konsili tersebut mengakui peran khusus takhta Roma, Aleksandria dan Antiokia. Pada tahun 380, kekristenan Nicaea diumumkan sebagai agama resmi Kekaisaran Roma dan "Kristen Katolik" memiliki makna pengikut aliran ini. Ketika gereja-gereja timur dikuasai oleh otoritas sipil sehingga Patriark Konstantinopel memiliki kekuasaan kuat di Timur, Uskup Roma di Barat berhasil mengkonsolidasikan pengaruh dan kekuatan yang dimiliki. Setelah kejatuhan Kekaisaran Roma Barat, kaum barbar memeluk Katolik; Clovis I, raja kaum Frank, merupakan pemegang kekuasaan barbar pertama yang memeluk Katolik, bukan Arianisme, sehingga bersekutu dengan Kepausan. Suku lainnya, seperti Visigoth, meninggalkan Arianisme dan memeluk Katolik.

Setelah kejatuhan Roma, paus menjadi sumber otoritas dan kesinambungan. Gregorius Agung (540–604) memberlakukan referomasi ketat. Berasal dari keluarga senator, Gregorius bekerja dengan keputusan yang bijak dan disiplin seperti pada masa Romawi kuno. Secara teologis, karya Gregorius menunjukkan perubahan cara pandang klasik menuju pertengahan yang ditandai dengan keajaiban dramatis, relikui, setan, malaikat, hantu dan akhir dunia.

Penerus Gregorius pada umumnya didominasi oleh Eksarkh Ravenna, wakil kaisar Byzantium di Italia. Penghinaan, lemahnya kekaisaran dalam menghadapi perluasan muslim dan ketidakmampuan kaisar dalam melindungi negara kepausan dari kaum Lombard membuat Paus Stefanus II berpaling dari Kaisar Konstantin V kepada kaum Frank. Pepin si Pendek menaklukan kaum Lombard dan memberikan tanah Italia kepada kepausan. Ketika Leo III memahkotakan Karolus Agung, preseden bahwa seseorang tidak akan menjadi kaisar tanpa pemahkotaan oleh paus dimulai.

Sejak abad ke-7, kaum monarki di Eropa terbiasa untuk membangun gereja dan menempatkan imam-imam di tanah mereka yang menyebabkan meningkatnya korupsi dari kaum tertahbis. Praktik lumrah ini terjadi akibat umumnya wali gereja dan penguasa sekuler berperan dalam kehidupan publik. Untuk melawan praktik korupsi yang meluas di gereja ketika tahun 900 – 1050, berbagai tempat, salah satunya Biara Cluni yang pengaruhnya tersebar luas, mendorong terjadinya pembaruan gereja. Paus Gregorius VII menetapkan berbagai peraturan, yang dikenal sebagai Reformasi Gregorius, untuk melawan tindakan-tindakan simoni dan penyalahgunaan kekuasaan sipil dan mendorong disiplin gereja termasuk selibat. Konflik antara paus dan penguasa-penguasa sekuler seperti Kaisar Kekaisaran Romawi Suci Henry IV dan Henry I dari Inggris, yang dikenal sebagai Kontroversi Pentahbisan, yang diselesaikan pada tahun 1122 oleh Konkordrat Worms dengan dekret paus bahwa para tertahbis ditabhiskan oleh pemimpin gereja dan dilantik oleh para penguasa sekuler. Tidak lama kemudiaan, Paus Alexander III memulai serangkaian pembaruan yang berakhir pada penetapan dari Hukum Kanonik.

Sejak awal abad ke-7, kekalifahan telah menguasai Mediterania Selatan dan mengancam kekristenan. Pada tahun 1095, kaisar Byzantine, Alexios I Komnenos, meminta bantuan militer kepada paus Urban II dalam menghadapi invasi Muslim. Urban, pada Konsili Klermon, memulai Perang Salib I untuk membantu Byzantine mendapatkan kembali wilayah Kekristenan kuno, termasuk Yerusalem.

Tahun 867–1049 merupakan titik terendah kepausan. Kepausan dikontrol oleh berbagai fraksi politik. Para paus ditahan, dibunuh dan diturunkan dengan paksa. Beberapa keluarga mendominasi kepausan selama 50 tahun. Bahkan, paus Yohanes XII mengadakan pesta pora di Lateran. Kaisar Otto I dari Jerman berhasil menuduh paus Yohanes XII ke pengadilan gerejawi yang menurunkannya dari kepausan dan memilih paus Leo VIII seorang awam, walaupun usaha ini gagal. Konfik antara paus dan kaisar Kekaisaran Romawi Suci berlanjut serta tindakan simoni berlanjut dan semakin terbuka.

Pada tahun 1049, paus Leo IX terpilih dan menghadapi masalah-masalah kepausan dan gereja. Paus Leo IX mengunjungi berbagai kota di Eropa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh gereja. Hal ini memulihkan prestise kepausan di Eropa Utara.

Skisma Timur-Barat sampai Zaman Reformasi (1054–1517)[sunting | sunting sumber]

Gereja Timur dan Barat resmi berpisah pada tahun 1054. Perpecahan ini lebih disebabkan oleh pengaruh politik dibandingkan perbedaan kepercayaan. Paus telah membuat marah kaisar (Byzantium) dengan beraliansi dengan raja Frank, memahkotai rival kaisar Roma (memahkotai kaisar Kekaisaran Romawi Suci), mengambil Eksarkh Ravenna dan memasuki Italia Yunani (Italia Selatan).

Pada abad pertengahan, paus berebut kekuasaan dengan para raja.

Pada tahun 1309 sampai 1377, paus bertempat tinggal di Avignon (sekarang di Perancis) bukan di Roma. Kepausan Avignon tercatat akan kerakusannya dan korupsi. Selama masa ini, paus secara efektif merupakan sekutu dari Perancis dan meng-'asing'-kan musuh Perancis, seperti Inggris.

Paus pada awalnya dipahami memiliki kekuatan untuk menarik 'harta' dari para santo dan Kristus, sehingga paus dapat memberikan indulgensia, mengurangi waktu seseorang dalam Purgatorium. Konsep denda atau sumbangan yang diiringi dengan penyesalan, pengakuan dan doa menimbulkan asumsi umum bahwa indulgensia didasarkan pada kontribusi materi secara sekilas. Paus mengecam kesalahpahaman dan penyalahgunaan namun terlalu tertekan oleh pemasukkan untuk mengendalikan indulgensia.

Para paus berebut kekuasaan dengan para kardinal, yang mencoba menetapkan otoritas konsili atas paus. Teori konsiliar menyatakan bahwa otoritas tertinggi berada pada konsili ekuminis/umum bukan paus. Dasar teori ini muncul pada awal abad ke-13 dan memuncak pada abad ke-15. Kegagalan teori konsiliar untuk mendapatkan pengakuan luas setelah abad ke-15 merupakan faktor pendorong terjadinya Reformasi Protestan.

Anti-paus telah mengugat otoritas paus, terutama pada masa skisma Barat (1378–1417). Pada skisma ini, kepausan telah kembali ke Roma dari Avignon, namun seorang anti-paus tetap menjabat di Avignon, seolah-olah untuk memperpanjang kepausan yang ada.

Gereja timur terus melemah seiring melemahnya kekuatan Byzantine yang ikut melemahkan klaim kesetaraan Konstantinopel terhadap Roma. Kaisar Byzantine telah dua kali memaksa reunifikasi gereja-gereja timur dengan kepausan. Klaim superioritas kepausan merupakan masalah utama dalam reunifikasi yang menyebabkan kegagalan dalam berbagai kesempatan reunifikasi. Pada abad ke-15, Turki merebut Konstantinopel, sehingga mengakhiri usaha reunifikasi dari gereja-gereja timur dengan kepausan selama beberapa abad.

Zaman Reformasi sampai kini (1517 sampai sekarang)[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya, reformator protestan mengkritik kepausan sebagai institusi yang korup dan mengkarakterkan paus sebagai seorang anti-kristus. Paus kemudian membentuk Reformasi Katolik (1560–1648) sebagai jawaban atas Reformasi Protestan dan menetapkan reformasi internal. Konsili Trento, dimulai oleh Paus Paulus III, memuat doktrin dan reformasi yang menjaga keutamaan paus atas faksi-faksi gereja yang berusaha untuk membentuk konsiliasi dengan protestan dan penolak otoritas paus. Secara umum, Primasi dari Petrus, merupakan dasar kepausan, merupakan doktrin yang kontroversial yang tetap memisahkan gereja-gereja Barat dan Timur serta Protestan.

Paus secara perlahan menyerahkan kekuatan temporalnya dan berfokus kepada isu spiritual. Pada 1870, Konsili Vatikan I memproklamasikan dogma infallibilitas paus untuk kesempatan yang sangat jarang paus secara ex cathedra ketika mengumumkan definisi luhur dari kepercayaan dan moral. Pada akhir tahun yang sama, Victor Emmanuel II berhasil merebut Roma dari kepausan dan berhasil menyatukan Italia. Pada 1929, Perjanjian Lateran antara Italia dan Takhta Suci mendirikan negara Vatikan yang menjamin kemerdekaan kepausan dari kekuasaan sekuler. Pada 1950, paus menetapkan "Maria diangkat ke Surga" sebagai dogma yang diumumkan secara ex cathedra sejak infallibilitas paus diumumkan.

Santo Petrus dan asal mula jabatan kepausan[sunting | sunting sumber]

Gereja Katolik mengajarkan bahwa dalam komunitas Kristen, para uskup sebagai satu himpunan telah menggantikan himpunan para rasul (suksesi apostolik) dan Uskup Roma telah menggantikan Santo Petrus.[3]

Beberapa teks Kitab Suci yang diajukan untuk mendukung posisi khusus Petrus dalam kaitannya dengan Gereja misalnya:

"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Matius 16:18-19)
"Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:31-34)
"Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:17)

Kunci-kunci simbolis dalam lambang kepausan merujuk kepada frasa "kunci Kerajaan Surga" yang tertulis dalam teks pertama di atas. Beberapa penulis Protestan berpendapat bahwa "batu karang" yang dibicarakan oleh Yesus dalam teks ini adalah Yesus sendiri atau iman yang diungkapkan oleh Petrus.[50][51][52][53][54][55] Gagasan ini dilemahkan oleh penggunaan kata "Kefas" dalam Alkitab, yang merupakan bentuk maskulin dari "batu" dalam bahasa Aram untuk mendeskripsikan Petrus.[56][57][58] Encyclopædia Britannica menuliskan bahwa, "konsensus sebagian besar akademisi saat ini adalah bahwa pemahaman yang paling jelas dan tradisional seharusnya ditafsirkan, yaitu, kalau batu mengacu kepada pribadi Petrus."[59]

Paus ke-265, Benediktus XVI (terlahir Joseph Alois Ratzinger), terpilih pada usia 78 tahun, pada tanggal 19 April 2005.

Suksesi Paus[sunting | sunting sumber]

Pemilihan[sunting | sunting sumber]

Pada mulanya, para paus dipilih oleh imam-imam senior di dalam dan dekat kota Roma. Pada 1059, pemilih dibatasi hanya oleh kardinal dari Gereja Katolik dan suara individu dari semua kardinal-elektor disamakan pada 1179. Pemilih sekarang dibatasi kepada kardinal yang belum mencapai usia 80 tahun pada hari sebelum kematian atau pengunduran diri paus. Karena seorang paus adalah Uskup Roma, calon paus haruslah orang yang dapat ditabiskan menjadi uskup, yakni para laki-laki Katolik yang telah dibaptis. Paus terakhir terpilih yang tidak status uskup saat itu adalah Paus Gregorius XVI pada tahun 1831, bahkan bukan tertabis adalah Paus Leo X pada tahun 1513, sedangkan paus bukan Kardinal terakhir yang terpilih adalah Paus Urban VI pada tahun 1378. Jika seseorang yang terpilih bukan merupakan seorang Uskup, dirinya haruslah ditabhiskan sebagai seorang Uskup sebelum pemilihannya diumumkan.

Konsili Lyon Kedua pada 7 Mei 1274 dilakukan untuk mengatur pemilihan paus. Konsili tersebut memutuskan bahwa kardinal-elektor haruslah berkumpul dalam waktu 10 hari setelah kematian paus dan tetap terisolir sampai dengan terpilihnya paus yang terpilih yang diputuskan akibat sede vacante selama tiga tahun akibat kematian Paus Clement IV pada 1268. Pada pertengahan abad XVI, proses pemilihan telah berubah menjadi bentuk kini yang mengizinkan variasi waktu antara kematian paus dan berkumpulnya pada kardinal-elektor.

Secara tradisi, pemilihan dilakukan secara aklamasi, seleksi komite atau pemungutan suara. Aklamasi merupakan prosedur yang paling sederhana, hanya disampaikan dengan suara dan digunakan terakhir pada 1621. Paus Yohanes Paulus II menghapuskan pemilihan melalui aklamasi dan seleksi komite dan sehingga pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara melalui surat suara oleh Kolegium Kardinal.

Pemilihan paus hampir selalu dilakukan di Kapel Sistine di dalam pertemuan tertutup yang disebut "konklaf" (disebut demikian akibat kardinal-elektor secara teori dikunci, cum clave, yakni dengan kunci, sampai mereka memilih paus baru). Tiga kardinal dipilih dengan undian untuk mengumpulkan suara dari kardinal-elektor yang tidak hadir (karena sakit), tiga kardinal dipilih dengan undian untuk menghitung jumlah suara dan tiga kardinal dipilih dengan undian untuk meninjau perhitungan suara. Surat suara dibagikan dan setiap kardinal-elektor menulis nama pilihanya di kertas tersebut dan berjanji dengan suara keras bahwa dirinya memilih untuk "seseorang di bawah Tuhan yang saya pikir akan terpilih" sebelum melipat dan menaruh surat suaranya di atas lempengan di atas kaliks besar yang ditempatkan di altar. Kemudian nampan itu digunakan untuk menaruh surat suara ke dalam kaliks sehingga mempersulit pemilih memasukkan beberapa surat suara. Sebelum dibacakan, surat suara dihitung dalam posisi terlipat. Jika jumlah surat suara tidak sama dengan jumlah pemilih, semua surat suara dibakar dalam keadaan tertutup dan pemilihan ulang dilakukan. Selanjutnya surat suara dibacakan dengan keras oleh kardinal yang memimpin pemilihan dan membolong surat suara dengan jarum dan benang yang membuat semua surat suara terikat untuk menjaga akurasi dan kejujuran. Pemungutan suara dilakukan sampai dengan terpilihnya seseorang dengan dua-per-tiga suara.

Kematian[sunting | sunting sumber]

Peraturan yang mengatur mengenai papal interregnum yaitu sede vacante dipromulgasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada dokumen Universi Dominici Gregis pada tahun 1996. Selama periode sede vacante, Kolegium Kardinal secara bersama-sama bertanggung jawab atas pengaturan Gereja dan Vatikan dibawah panduan dari Karmelengo Gereja Katolik. Namun, hukum kanonik melarang para kardinal untuk menetapkan inovasi baru di pengaturan Gereja selama masa sede vacante. Setiap keputusan yang memerlukan persetujuan oleh paus haruslah menunggu terpilihnya dan menjabatnya paus baru.

Pada abad-abad terakhir, ketika paus diputuskan telah meninggal, sebuah tradisi yang dilakukan oleh kardinal-chamberlain adalah memastikan kematian paus dengan cara mengetuk kepala paus tiga kali dengan palu perak dan memanggil namanya setiap palu diketukan. Tradisi tersebut tidak dilakukan pada kematian Paus Yohanes Paulus I dan Paus Yohanes Paulus II. Kemudian kardinal-chamberlain mengambil cincin nelayan paus dan memotongnya menjadi dua di depan para kardinal. Kemudian cap kepausan dirusak agar tidak dapat digunakan kembali dan kediaman resmi kepausan disegel.

Jasad paus kemudian dibaringkan untuk masa penghormatan terakhir sebelum disemayamkan pada crypt (kubur) dari gereja utama atau katedral. Semua paus pada abad ke-20 dan 21 disemayamkan di Basilika Santo Petrus. Masa perkabungan selama sembilan hari (novendialis) kemudian mengikuti.

Pengunduran Diri[sunting | sunting sumber]

Paus terakhir yang mengundurkan diri adalah Paus Benediktus XVI pada tahun 2013. Kitab Hukum Kanonik (KHK) Tahun 1983 menyatakan bahwa pengunduran diri Paus dapat saja terjadi.

"Apabila Paus mengundurkan diri dari jabatannya, untuk sahnya dituntut agar pengunduran diri itu terjadi dengan bebas dan dinyatakan semestinya, tetapi tidak dituntut bahwa harus diterima oleh siapapun." (KHK 1983, Kanon 332 § 2)

Gelar[sunting | sunting sumber]

Gelar Resmi[sunting | sunting sumber]

Gelar resmi Paus, sesuai dengan yang tercantum pada Annuario Pontificio, adalah: Uskup Roma, Wakil Yesus Kristus, Pengganti Pangeran Para Rasul, Imam Agung Gereja Katolik, Primat Itali, Uskup Agung dan Metropolit Provinsi Roma, Kepala Negara Vatikan, Hamba dari hamba Allah. Gelar yang terkenal, Paus, tidak muncul dalam gelar resmi, tetapi pada umumnya muncul pada judul dokumen gereja dan muncul dalam tanda tangan dalam bentuk singkatan. Jadi, Paus Paulus VI menandatangani dokumen dengan "Paulus PP. VI" dengan PP. merupakan singkatan dari "Papa" ("Paus").

Wakil Yesus Kristus[sunting | sunting sumber]

"Wakil Yesus Kristus" (Vicarius Iesu Christi) merupakan salah satu gelar pada Annuario Pontifico yang umumnya digunakan dalam bentuk singkat "Wakil Kristus" (Vicarius Christi). Walaupun menggunakan kata "wakil", gelar paus ini menunjukkan "keutamaan kepala Gereja di bumi yang membawa keutamaan misi Kristus dan kekuasaan yang diturunkan dari paus" yang ditunjukkan oleh dasar-dasar takhta Petrus.

Catatan pertama penerapan gelar ini tertulis pada sebuah sinode pada tahun 495 dengan merujuk pada Paus Gelasius I. Namun, pada masa tersebut sampai dengan abad ke-9, para uskup menyebut dirinya sebagai wakil Kristus. Pada abad ke-5 dan ke-6, gelar ini dapat merujuk kepada raja dan hakim, terutama kaisar Byzantine. Pada masa abad ke-3, gelar ini oleh Tertullian digunakan untuk menyebut Roh Kudus. Gelar spesifik untuk paus digunakan pada abad ke-13 sesuai reformasi dari Paus Innocentius III yang dapat dilihat pada suratnya kepada Leo I, raja Armenia.

Wakil Kristus dapat saja merujuk kepada para uskup, tidak hanya para paus. Hal ini digunakan pada Konsili Vatikan II sehingga para uskup disebut vicar dan ambassador dari Kristus. Hal ini juga diulang pada ensiklik Ut unum sint oleh Paus Yohanes Paulus II. Namun, gelar wakil Kristus yang disematkan pada uskup berbeda dengan gelar wakil Kristus yang disematkan pada paus yakni gelar pada uskup berarti terhadap gereja lokal namun pada paus berarti gereja secara keseluruhan.

Imam Agung[sunting | sunting sumber]

"Imam Agung" merupakan salah satu gelar yang digunakan oleh paus. Gelar paus ini juga disebut sebagai pontiff yang berasal dari bahasa Latin disebut pontifex bermakna secara leterik sebagai "pembangun jembatan" (pons + facere) dan merupakan anggota dari kolegium utama imam pada masa Romawi kuno. Kata pontifex dimaknai dalam Bahasa Yunani dengan kata ἱεροδιδάσκαλος (ierodidáskalos), ἱερονόμος (ieronómos), ἱεροφύλαξ (ierofýlax), ἱεροφάντης (ierofánti̱s), dan ἀρχιερεύς (archieréf̱s). Kepala dari kolegium tersebut disebut Pontifex Maximus (Pontiff terbesar).

Dalam kekristenan, kata pontifex muncul pada terjemahan Vulgata dari Perjanjian Baru untuk menyatakan imam agung Yahudi (dalam bahasa Yunani, ἀρχιερεύς). Pada mulanya, gelar ini dipergunakan untuk para uskup Kristen, namun menyempit maknanya pada abad ke-11 untuk uskup Roma yang dikatakan "Pontiff Roma". Penggunaan kata yang lama tercermin dalam istilah "Pontifikal Roma", yaitu sebuah buku yang berisi ritus khusus uskup, dan "Pontifikal" (insignia dari uskup).

Annuario Pontificio menulis bahwa salah satu gelar dari paus adalah Summus Pontifex Ecclesiae Universalis yang dapat diterjemahkan menjadi "Uskup Tertinggi/Imam Agung dari Gereja Universal". Para paus juga dapat disebut Summus Pontifex yang berarti "Imam Agung yang Berdaulat".

Pontifex Maximus yang memiliki arti serupa dengan Summus Pontifex, adalah gelar yang umum ditemukan pada inskripsi di bangunan, lukisan, patung dan koin kepausan, yang umumnya disingkat menjadi "Pont. Max" atau "P.M." Jabatan Pontifex Maximus dipegang oleh Julius Caesar dan selanjutnya, Kaisar Roma, sampai Gratian (375–383) menghapusnya. Tertulian, ketika ia masih seorang Montanis, menggunakan kata ini untuk mengejek paus maupun uskup Kartago. Para paus menggunakan gelar ini secara tetap pada abad ke-15.

Hamba dari Hamba Tuhan[sunting | sunting sumber]

Walaupun deskripsi ini telah digunakan oleh berbagai pemimpin Gereja yang lain, seperti St. Agustinus dan St. Benediktus, gelar "hamba dari hamba Tuhan" pertama kali dipergunakan oleh Paus Gregorius Agung sebagai tanggapan untuk merendah atas Patriarkh Konstantinopel Yohanes IV yang menggunakan gelar Patriarkh Ekuminis. Gelar ini kemudian menyempit penggunaannnya kepada paus pada abad ke-12.

Patriarkh Barat[sunting | sunting sumber]

Dari 1863 sampai 2005, Annuario Pontifico mencantumkan gelar Patriarkh Barat. Gelar ini digunakan pertama kali oleh Paus Theodorus I pada tahun 642 dan dipergunakan secara kadang kala. Pada 22 Maret 2006, Vatikan mengeluarkan pernyataan menjelaskan penghapusan gelar ini dengan dasar mengungkapkan "realitas historis dan teologis" dan "menjadi berguna untuk dialog ekumenis". Gelar ini menunjukkan hubungan khusus dan yurisdiksi antara gereja Latin dan paus. Penghapusan gelar ini tidak menunjukkan perubahan hubungan antara Takhta Suci dan Gereja-Gereja Timur yang telah diumumkan oleh Konsili Vatikan II.

Gelar Lainnya[sunting | sunting sumber]

Gelar lainnya yang dipergunakan kepada paus adalah "Bapa Suci" dalam Bahasa Indonesia.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "American Heritage Dictionary of the English Language". Education.yahoo.com. Diakses tanggal 11 August 2010. 
  2. ^ "Liddell and Scott". Oxford University Press. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  3. ^ a b "Christ's Faithful - Hierarchy, Laity, Consecrated Life: The episcopal college and its head, the Pope". Catechism of the Catholic Church. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana. 1993. Diakses tanggal 14 April 2013. 
  4. ^ News from The Associated Press
  5. ^ Merriam-Webster Dictionary
  6. ^ Collins Dictionary
  7. ^ THE ROLE OF THE VATICAN IN THE MODERN WORLD
  8. ^ "The World's Most Powerful People". Forbes. November 2014. Diakses tanggal 6 November 2014. 
  9. ^ "The World's Most Powerful People". Forbes. January 2013. Diakses tanggal 21 January 2013. 
  10. ^ "Vatican City State - State and Government". Vaticanstate.va. Diakses tanggal 11 August 2010. 
  11. ^ Collins, Roger. Keepers of the keys of heaven: a history of the papacy. Introduction (One of the most enduring and influential of all human institutions, (...) No one who seeks to make sense of modern issues within Christendom - or, indeed, world history - can neglect the vital shaping role of the popes.) Basic Books. 2009. ISBN 978-0-465-01195-7.
  12. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama World_History
  13. ^ Faus, José Ignacio Gonzáles. "Autoridade da Verdade - Momentos Obscuros do Magistério Eclesiástico". Capítulo VIII: Os papas repartem terras - Pág.: 64-65 e Capítulo VI: O papa tem poder temporal absoluto – Pág.: 49-55. Edições Loyola. ISBN 85-15-01750-4. Embora Faus critique profundamente o poder temporal dos papas ("Mais uma vez isso salienta um dos maiores inconvenientes do status político dos sucessores de Pedro" - pág.: 64), ele também admite um papel secular positivo por parte dos papas ("Não podemos negar que intervenções papais desse gênero evitaram mais de uma guerra na Europa" - pág.: 65).
  14. ^ (Inggris) Wikisource-logo.svg Jarrett, Bede (1913). "Papal Arbitration". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  15. ^ Such as regulating the colonization of the New World. See Treaty of Tordesillas and Inter caetera.
  16. ^ História das Religiões. Crenças e práticas religiosas do século XII aos nossos dias. Grandes Livros da Religião. Editora Folio. 2008. Pág.: 89, 156-157. ISBN 978-84-413-2489-3
  17. ^ "último Papa - Funções, eleição, o que representa, vestimentas, conclave, primeiro papa". Suapesquisa.com. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  18. ^ "Pope", Oxford Dictionary of the Christian Church, Oxford University Press, 2005, ISBN 978-0-19-280290-3 
  19. ^ Elwell, Walter A. (2001). ''Evangelical Dictionary of Theology''. Baker Academic. p. 888. ISBN 9780801020759. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  20. ^ Greer, Thomas H.; Gavin Lewis (2004). A Brief History of the Western World. Cengage Learning. p. 172. ISBN 9780534642365. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  21. ^ Mazza, Enrico (2004). The Eucharistic Prayers of the Roman Rite. Liturgical Press. p. 63. ISBN 9780814660782. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  22. ^ O'Malley, John W. (2009). A History of the Popes. Government Institutes. p. xv. ISBN 9781580512275. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  23. ^ Schatz, Klaus (1996). Papal Primacy. Liturgical Press. pp. 28–29. ISBN 9780814655221. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  24. ^ Eusebius, Historia Ecclesiastica Book VII, chapter 7.7
  25. ^ "pope, n.1". OED Online. September 2011. Oxford University Press. 21 November 2011
  26. ^ Catechism of the Catholic Church, 880–881
  27. ^ "''Lumen gentium'', 22". Vatican.va. Diakses tanggal 11 August 2010. 
  28. ^ a b O'Grady, John. The Roman Catholic church: its origins and nature. p. 146. ISBN 0-8091-3740-2. 
  29. ^ Stevenson, J. A New Eusebius. p. 114. ISBN 0-281-00802-7. 
  30. ^ "Letter to the Corinthians (Clement)". Catholic Encyclopedia: The Fathers of the Church. New Advent. Diakses tanggal 14 April 2013. 
  31. ^ Gröber, 510
  32. ^ "Letter of Ignatius of Antioch to the Romans". Crossroads Initiative. 
  33. ^ O'Connor, Daniel William (2013). "Saint Peter the Apostle". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica Online. p. 5. Diakses tanggal 14 April 2013. [M]any scholars… accept Rome as the location of the martyrdom and the reign of Nero as the time. 
  34. ^ Zeitschr. fur Kirchengesch. (dalam German), 1901, pp. 1 sqq., 161 sqq. 
  35. ^ The Secrets of the 12 Disciples, Channel 4, transmitted on 23 March 2008.
  36. ^ O'Grady, John. The Roman Catholic church: its origins and nature. p. 143. ISBN 0-8091-3740-2. 
  37. ^ Was Peter in Rome, Catholic Answers. http://www.catholic.com/tracts/was-peter-in-rome
  38. ^ Scofield. "Scofield Reference Notes on Matthew 16". Scofield Reference Notes (1917 Edition). Diakses tanggal 1 August 2011. 
  39. ^ Proof and Reason for the Papal Office, About Catholics. http://www.aboutcatholics.com/worship/proof_reason_papal_office/
  40. ^ "Matthew 16:18 - Matthew Henry's Complete Commentary on the Bible - Commentaries". StudyLight.org. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  41. ^ a b O'Grady, John. The Roman Catholic church: its origins and nature. p. 140. ISBN 0-8091-3740-2. 
  42. ^ Stevenson, J. A New Eusebius. pp. 114–115. ISBN 0-281-00802-7. 
  43. ^ "From an historical perspective, there is no conclusive documentary evidence from the 1st century or the early decades of the second of the exercise of, or even the claim to, a primacy of the Roman bishop or to a connection with Peter, although documents from this period accord the church at Rome some kind of pre‑eminence" (Emmanuel Clapsis, Papal Primacy, extract from Orthodoxy in Conversation (2000), p. 110); and "The see of Rome, whose prominence was associated with the deaths of Peter and Paul, became the principle center in matters concerning the universal Church" (Clapsis, p. 102). The same writer quotes with approval the words of Joseph Ratzinger: "In Phanar, on 25 July 1976, when Patriarch Athenegoras addressed the visiting pope as Peter's successor, the first in honor among us, and the presider over charity, this great church leader was expressing the essential content of the declarations of the primacy of the first millennium" (Clapsis, p. 113).
  44. ^ Oxford Dictionary of the Christian Church, 1997 edition revised 2005, page 211: "It seems that at first the terms 'episcopos' and 'presbyter' were used interchangeably..."
  45. ^ Cambridge History of Christianity, volume 1, 2006, "The general consensus among scholars has been that, at the turn of the first and second centuries, local congregations were led by bishops and presbyters whose offices were overlapping or indistinguishable."
  46. ^ Cambridge History of Christianity, volume 1, 2006, page 418: "Probably there was no single 'monarchical' bishop in Rome before the middle of the 2nd century...and likely later.
  47. ^ Harrison, Brian W. (January 1991). "Papal Authority at the Earliest Councils". This Rock (Catholic Answers) 2 (1). Diakses tanggal 22 May 2013. 
  48. ^ Chadwick, Henry, Oxford History of Christianity, OUP, quote: "Towards the latter part of the 1st century, Rome's presiding cleric named Clement wrote on behalf of his church to remonstrate with the Corinthian Christians who had ejected clergy without either financial or charismatic endowment in favor of a fresh lot; Clement apologized not for intervening but for not having acted sooner. Moreover, during the 2nd century the Roman community's leadership was evident in its generous alms to poorer churches. About 165 they erected monuments to their martyred apostles, to Peter in a necropolis on the Vatican Hill, to Paul on the road to Ostia, at the traditional sites of their burial. Roman bishops were already conscious of being custodians of the authentic tradition of true interpretation of the apostolic writings. In the conflict with Gnosticism Rome played a decisive role, and likewise in the deep division in Asia Minor created by the claims of the Montanist prophets."
  49. ^ "Letter of Ignatius of Antioch to the Romans: Prologue". Crossroads Productions. Diakses tanggal 22 May 2013. 
  50. ^ Lightfoot, John. "Commentary on Matthew 16:18". Commentary on the Gospels. StudyLight.org. Diakses tanggal 23 May 2013. It is readily answered by the Papists, that "Peter was the rock." But let them tell me why Matthew used not the same word in Greek, if our Saviour used the same word in Syriac. If he had intimated that the church should be built upon Peter, it had been plainer and more agreeable to be the vulgar idiom to have said, "Thou art Peter, and upon thee I will build my church. 
  51. ^ Robertson, Archibald Thomas. "Commentary on Matthew 16:18". Word Pictures of the New Testament. StudyLight.org. Diakses tanggal 23 May 2013. 
  52. ^ Gill, John. "Commentary on Matthew 16:18". Exposition of the Whole Bible. StudyLight.org. Diakses tanggal 23 May 2013. by the rock, is meant, either the confession of faith made by Peter; not the act, nor form, but the matter of it, it containing the prime articles of Christianity, and which are as immoveable as a rock; or rather Christ himself, who points, as it were, with his finger to himself, and whom Peter had made such a glorious confession of; and who was prefigured by the rock the Israelites drank water out of in the wilderness; and is comparable to any rock for height, shelter, strength, firmness, and duration; and is the one and only foundation of his church and people, and on whom their security, salvation, and happiness entirely depend. 
  53. ^ Wesley, John. "Commentary on Matthew 16:18". Wesley's Notes on the Bible. Christian Classics Ethereal Library. Diakses tanggal 23 May 2013. On this rock - Alluding to his name, which signifies a rock, namely, the faith which thou hast now professed; I will build my Church - But perhaps when our Lord uttered these words, he pointed to himself, in like manner as when he said, Destroy this temple, John 2:19; meaning the temple of his body. And it is certain, that as he is spoken of in Scripture, as the only foundation of the Church, so this is that which the apostles and evangelists laid in their preaching. It is in respect of laying this, that the names of the twelve apostles (not of St. Peter only) were equally inscribed on the twelve foundations of the city of God, Revelation 21:14. The gates of hell - As gates and walls were the strength of cities, and as courts of judicature were held in their gates, this phrase properly signifies the power and policy of Satan and his instruments. Shall not prevail against it - Not against the Church universal, so as to destroy it. And they never did. There hath been a small remnant in all ages. 
  54. ^ Scofield, C. I. "Commentary on Matthew 16:18". Scofield's Reference Notes. 1917 edition. StudyLight.org. Diakses tanggal 23 May 2013. There is the Greek a play upon the words, "thou art Peter petros-- literally 'a little rock', and upon this rock Petra I will build my church." He does not promise to build His church upon Peter, but upon Himself, as Peter is careful to tell us (1 Peter 2:4-9). 
  55. ^ Henry, Matthew. "Commentary on Matthew 16:18". Matthew Henry's Complete Commentary on the Bible. StudyLight.org. Diakses tanggal 23 May 2013. First, Some by this rock understand Peter himself as an apostle, the chief, though not the prince, of the twelve, senior among them, but not superior over them. The church is built upon the foundation of the apostles, Ephesians 2:20. The first stones of that building were laid in and by their ministry; hence their names are said to be written in the foundations of the new Jerusalem, Revelation 21:14...First, Some by this rock understand Peter himself as an apostle, the chief, though not the prince, of the twelve, senior among them, but not superior over them. The church is built upon the foundation of the apostles, Ephesians 2:20. The first stones of that building were laid in and by their ministry; hence their names are said to be written in the foundations of the new Jerusalem, Revelation 21:14. ... Thirdly, Others by this rock understand this confession which Peter made of Christ, and this comes all to one with understanding it of Christ himself. It was a good confession which Peter witnessed, Thou art the Christ, the Son of the living God; the rest concurred with him in it. "Now", saith Christ, "this is that great truth upon which I will build my church." 1. Take away this truth itself, and the universal church falls to the ground. If Christ be not the Son of God, Christianity is a cheat, and the church is a mere chimera; our preaching is vain, your faith is vain, and you are yet in your sins, 1 Corinthians 15:14-17. If Jesus be not the Christ, those that own him are not of the church, but deceivers and deceived. 2. Take away the faith and confession of this truth from any particular church, and it ceases to be a part of Christ's church, and relapses to the state and character of infidelity. This is articulus stantis et cadentis ecclesia--that article, with the admission or the denial of which the church either rises or falls; "the main hinge on which the door of salvation turns;" those who let go this, do not hold the foundation; and though they may call themselves Christians, they give themselves the lie; for the church is a sacred society, incorporated upon the certainty and assurance of this great truth; and great it is, and has prevailed. 
  56. ^ Yohanes 1:42
  57. ^ "Cephas". Dictionary.com.
  58. ^ "Cephas". Behind the Name.
  59. ^ O'Connor, Daniel William (2013). "Saint Peter the Apostle". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 14 April 2013. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Further reading[sunting | sunting sumber]

  • Brusher, Joseph S. (1959). Popes Through the Ages. Princeton, N.J: Van Nostrand. OCLC 742355324. 
  • Chamberlin, E. R. (1969). The Bad Popes. New York: Dial Press. OCLC 647415773. 
  • Dollison, John (1994). Pope-pourri. New York: Simon & Schuster. ISBN 978-0-671-88615-8. 
  • Maxwell-Stuart, P. G. (1997). Chronicle of the Popes: The Reign-by-Reign Record of the Papacy from St. Peter to the Present. London: Thames and Hudson. ISBN 0-500-01798-0. 
  • Norwich, John Julius (2011). The Popes: A History. London: Chatto & Windus. ISBN 978-0-7011-8290-8. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]