Kardinal kerabat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pietro Ottoboni, pemangku jabatan Kardinal Kerabat yang terakhir, lukisan karya Francesco Trevisani.

Kardinal kerabat (bahasa Latin: cardinalis nepos;[1] bahasa Italia: cardinale nipote;[2] bahasa Spanyol: valido de su tío; bahasa Prancis: prince de fortune)[3] adalah julukan bagi orang yang dilantik menjadi kardinal oleh paus yang masih terhitung kerabatnya sendiri. Praktik melantik kerabat menjadi kardinal bermula pada Abad Pertengahan, menjadi-jadi pada abad ke-16 dan ke-17,[4] terakhir kali dilakukan pada tahun 1689, dan dihapuskan pada tahun 1692.[4] Istilah nepotisme mula-mula muncul sebagai sebutan bagi praktik ini.[5] Sejak pertengahan zaman Kepausan Avignon (1309–1377) sampai diterbitkannya bula antinepotisme bertajuk Romanum Decet Pontificem oleh Paus Inosensius XII pada tahun 1692, jarang sekali ada paus yang tidak melantik sanak-saudara sendiri menjadi kardinal.[a] Pada zaman Renaisans, setiap paus yang pernah melantik kardinal pasti pernah pula melantik salah seorang kerabatnya menjadi anggota Dewan Kardinal, dan pada umumnya kerabat tersebut adalah kemenakannya.[6] Paus Aleksander VI bahkan melantik salah seorang putranya menjadi kardinal.

Praktik melantik kerabat menjadi kardinal berangsur-angsur melembaga dalam rentang waktu tujuh abad lebih, seiring dengan perkembangan lembaga kepausan dan sejalan dengan kebijakan masing-masing paus. Dari tahun 1566 sampai tahun 1692, jabatan Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja di dalam Kuria Romawi dipegang oleh seorang kardinal kerabat sampai-sampai jabatan ini juga disebut Kardinal Kerabat. Pamor Kardinal Kerabat di Kuria Romawi maupun kebiasaan melantik kerabat menjadi kardinal akhirnya meredup seiring meningkatnya kewenangan Kardinal Sekretaris Negara dan surutnya kekuasaan duniawi Sri Paus pada abad ke-17 dan ke-18.

Di antara para kardinal kerabat, sekurang-kurangnya ada lima belas orang dan sebanyak-banyaknya ada sembilan belas orang yang menjadi paus[7] (Paus Gregorius IX, Paus Aleksander IV, Paus Adrianus V, Paus Gregorius XI, Paus Bonifasius IX, Paus Inosensius VII, Paus Eugenius IV, Paus Paulus II, Paus Aleksander VI, Paus Pius III, Paus Yulius II, Paus Leo X, Paus Klemens VII, Paus Benediktus XIII, dan Paus Pius VII; mungkin juga Paus Yohanes XIX dan Paus Benediktus IX, andaikata memang pernah dilantik menjadi kardinal; serta Paus Inosensius III dan Benediktus XII, andaikata memang masih berkerabat dengan pelantik mereka), satu orang menjadi antipaus (Antipaus Yohanes XXIII), dan dua atau tiga orang menjadi santo (Santo Karolus Boromeus, Santo Guarinus, dan mungkin pula Santo Anselmus Muda, andaikata memang pernah dilantik menjadi kardinal).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pra-1566[sunting | sunting sumber]

Paus Paulus III bersama kedua orang cucunya, Alessandro Farnese, yang ia lantik menjadi kardinal (kiri), dan Ottavio Farnese, Adipati Parma(kanan)
Pelantikan kerabat menjadi kardinal lebih banyak terjadi pada zaman Kepausan Avignon (1309–1377) daripada sebelumnya

Pelantikan kerabat menjadi kardinal sudah terjadi sebelum kardinal dijadikan pangkat terpandang di dalam hierarki Gereja Katolik Roma oleh Paus Nikolaus II lewat bula In Nomine Domini tahun 1059, yang menetapkan para kardinal uskup sebagai satu-satunya pihak yang berwenang memilih paus baru, dengan persetujuan para kardinal diakon dan para kardinal imam.[8] Kardinal pertama yang diketahui masih berkerabat dengan pelantiknya adalah Lottario (bahasa Latin: Loctarius), yang dilantik sekitar tahun 1015 oleh saudara sepupunya, Paus Benediktus VIII (1012–1024).[9] Paus Benediktus VIII juga melantik saudara kandungnya, Giovanni (kemudian hari menjadi Paus Yohanes XIX), dan seorang lagi saudara sepupunya, Teofilatto (kemudian hari menjadi Paus Benediktus IX), menjadi kardinal diakon.[9] Kardinal kerabat pertama yang diketahui dilantik selepas tahun 1059 adalah Anselmus, Uskup Lucca, saudara sepupu atau mungkin pula saudara kandung Paus Aleksander II (1061–1073),[9] kendati sebagian besar dugaan pelantikan kerabat menjadi kardinal sampai dengan akhir abad ke-12, masih diragukan kebenarannya, baik karena hubungan kekerabatan antara terlantik dan pelantik tidak dapat dibuktikan, maupun karena status kardinal si kerabat tidak dapat dipastikan,[b] tetapi tidak diragukan lagi kalau pengangkatan sanak-saudara paus menjadi anggota Dewan Kardinal memang marak terjadi pada abad ke-13 .

Menurut sejarawan John Bargrave, "persidangan ke-21 Konsili Basel menetapkan bahwa jumlah kardinal tidak boleh melebihi 24 orang, dan tak seorang pun kerabat Sri Paus maupun kerabat kardinal yang dibenarkan menjadi bagian dari jumlah tersebut (Berita Acara Persidangan ke-23 Konsili Basel)."[10]

Ranuccio Farnese dilantik ayahnya, Paus Paulus III, menjadi kardinal pada umur 15 tahun

Paus Klemens VI (1342–1352) adalah paus yang paling banyak melantik sanak-saudaranya menjadi kardinal, termasuk enam orang kerabat yang ia lantik pada tanggal 20 September 1342, jumlah kardinal kerabat terbanyak yang dilantik dalam satu upacara yang sama. Kapitulasi konklaf tahun 1464 mensyaratkan agar paus yang terpilih lewat konklaf tersebut (Paus Paulus II) hanya melantik satu orang kerabatnya menjadi kardinal. Kapitulasi konklaf tahun 1464 juga memuat syarat-syarat lain yang sengaja dirancang untuk mendongkrak kewenangan Dewan Kardinal sekaligus memperkecil peluang Sri Paus untuk membatasi kewenangan tersebut.[11]

Lantaran persidangan Konsili Lateran V pada tahun 1514 telah menetapkan bahwa memelihara sanak-saudara adalah tindakan terpuji, pelantikan kerabat menjadi kardinal sering kali dianjurkan atau dibenarkan atas dasar niat luhur untuk memelihara sanak-saudara yang kurang mampu.[12] Kardinal kerabat biasanya mendapat jatah jabatan basah, contohnya Alessandro Farnese, kardinal kerabat Paus Paulus III (1534–1549), yang diserahi 64 beneficium sekaligus, selain diberi jabatan Wakil Panitera di Kuria Romawi.[13]

Konon kabarnya sesudah uzur, Paus Paulus IV (1555–1559) "nyaris sepenuhnya dikendalikan oleh kardinal kerabatnya".[14] Pada bulan Agustus 1558, seorang padri tarekat Teatin mendakwa Carlo Carafa, kardinal kerabat Paus Paulus IV, telah menggoda Plautila de' Massimi, bangsawati Romawi yang mewarisi uang dan perhiasan berlimpah, tetapi dakwaan ini dimentahkan Sri Paus.[15] Santo Karolus Boromeus, kardinal kerabat Paus Pius IV (1559–1565), memastikan agar jabatan Secretarius Intimus (Sekretaris Pribadi) dibawahi oleh jabatan Kardinal Kerabat, yang kala itu kadang-kadang disebut Secretarius Maior (Sekretaris Utama).[16] Paus Pius IV memang terkenal gemar melakukan nepotisme. Antara tahun 1561 sampai tahun 1565, sudah lebih dari 350.000 scudo ia kucurkan kepada sanak-saudaranya.[17]

1566–1692[sunting | sunting sumber]

Paus Pius V membentuk jabatan Kardinal Kerabat di dalam Kuria Romawi tanggal 14 Maret 1566

Sesudah Konsili Trento ditutup pada tahun 1563, Paus Pius V (1566–1572) mulai merancang syarat-syarat jabatan Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja, yang rencananya akan ia serahi tugas untuk menangani urusan-urusan duniawi Negara Gereja dan hubungan luar negeri Takhta Suci. Setelah gagal membagi tugas-tugas jabatan Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja kepada empat orang kardinal yang bukan kerabatnya, Paus Pius V akhirnya menuruti desakan Dewan Kardinal dan Duta Besar Takhta Suci untuk Kerajaan Spanyol supaya mengangkat Michele Bonelli, putra dari kemenakannya, menjadi Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja. Tugas-tugas jabatan Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja ia jabarkan dalam selembar bula bertarikh 14 Maret 1566.[18] Kendati demikian, Paus Pius V berusaha keras untuk tidak sekali-kali melimpahkan kewenangan bertindak sendiri kepada Michele Bonelli.[19]

Kardinal Kerabat (disebut pula Cardinale Padrone,[18] "Kardinal Juragan", atau Secretarius Papae et Superintendens Status Ecclesiasticæ,[20] "Sekretaris Paus dan Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja",[18] atau Sopraintendente dello Stato Ecclesiastico,[12] "Pelaksana Penyelenggaraan Negara Gereja") adalah jabatan resmi legatus Kuria Romawi, kurang lebih setara dengan jabatan Kardinal Sekretaris Negara. Sesudah jabatan Kardinal Kerabat dihapuskan pada tahun 1692, tugas dan fungsinya memang dialihkan ke jabatan Kardinal Sekretaris Negara.[20][21] Para sejarawan pernah menyamakan jabatan Kardinal Kerabat dengan kedudukan "perdana menteri", "alter ego",[18] dan "wakil paus".[22] Pada umumnya pemangku jabatan Kardinal Kerabat adalah salah seorang dari para kardinal yang dilantik oleh seorang paus untuk pertama kalinya sesudah terpilih, dan sudah menjadi adat kalau pelantikan pemangku jabatan Kardinal Kerabat dielu-elukan dengan tembakan penghormatan dari moncong meriam-meriam Puri Sant'Angelo.[23]

Selepas zaman Kepausan Avignon, Kardinal Kerabat bertanggungjawab atas penyelenggaraan pemerintahan rohani maupun duniawi di Kabupaten Venaissin, daerah tempat tinggal paus-paus Avignon. Pada tahun 1475, Paus Sixtus IV mengangkat derajat Keuskupan Avignon menjadi Keuskupan Agung Avignon demi menyejahterakan kemenakannya, Giuliano della Rovere.[21]

Paus Inosensius X melantik putra, kemenakan, dan sepupu dari kakak iparnya, Donna Olimpia Maidalchini, menjadi pemangku jabatan Kardinal Kerabat di Kuria Romawi

Syarat-syarat jabatan Kardinal Kerabat ditetapkan dalam breve Paus Pius V, yang dikembangkan dan disempurnakan lebih lanjut oleh para paus penggantinya sampai dengan Paus Paulus V (1605–1621).[18] Kardinal Kerabat adalah perantara korespondensi untuk semua nunsius maupun legatus kepala daerah, dan memangku jabatan prefek di dua kongregasi, yakni Sacra Consulta dan Congregazione del Buon Governo.[12] Selain itu, Kardinal Kerabat adalah Kapitan Jenderal (Panglima Perang) angkatan bersenjata Sri Paus dan "saluran tempat beneficium menghilir dan emas menghulu ".[23]

Meskipun demikian, fungsi-fungsi resmi ini hanya berjalan pada masa jabatan paus-paus yang lemah, dan rata-rata Kardinal Kerabat hanyalah pengangguk Sri Paus belaka.[12]

Sekalipun Paus Leo XI keburu wafat pada tahun 1605 sebelum melantik kemenakannya, Roberto Ubaldini, menjadi kardinal, si kemenakan pada akhirnya dilantik juga menjadi kardinal pada tahun 1615 oleh Paus Paulus V, pengganti Paus Leo XI.[24]

Ada sejarawan yang beranggapan bahwa Scipione Borghese, kardinal kerabat Paus Paulus V, "merupakan prototipe" kardinal kerabat, berbeda dari kardinal-kardinal kerabat sebelumnya, karena ia dilantik menjadi kardinal dengan maksud untuk "mengongkosi dan mengarahkan usaha peningkatan status sosial dan ekonomi sanak-saudara paus yang sedang berkuasa ke peringkat menak Romawi".[25] Sebagai contoh, pada tahun 1616, Scipione Borghese menyewakan 24 dari 30 biara yang dikuasainya, padahal Konsili Trento sudah berusaha untuk meniadakan praktik semacam ini.[17] Analisis menyeluruh atas pengelolaan keuangan Takhta Suci semasa Scipione Borghese menjadi kardinal yang dikerjakan oleh Reinhard Volcker (berdasarkan serangkaian buku catatan keuangan yang masih terlestarikan) menyingkap strategi-strategi Scipione Borghese dalam meraup kekayaan selama masa jabatan pamannya dan menimbun aset di luar milik Gereja sebelum pamannya wafat. Bagi Reinhard Volcker, sepak terjang Scipione Borghese adalah contoh sempurna dari perilaku kaum keluarga para paus zaman Barok.[26] Dana dari perbendaharaan Takhta Suci yang sudah dikucurkan Paus Paulus V kepada sanak-saudaranya diperkirakan mencapai 4% dari total pendapatan Takhta Suci sepanjang masa jabatannya.[27] Pendapatan pribadi Paus Paulus V pada tahun 1610 berjumlah 153.000 scudo, berbanding jauh dari jumlah pendapatan seluruh anggota keluarganya pada tahun 1592 yang hanya sebesar 4.900 scudo.[28]

Paus Gregorius XIV (1590–1591) adalah paus pertama yang melantik kardinal-kardinal kerabat dengan melangkahi prosedur, karena baik pencalonan maupun penetapan resmi kerabat-kerabat tersebut secara de facto dilakukan secara bersamaan, sehingga prosedur pengangkatan kardinal kerabat pun terbedakan dari prosedur pengangkatan kardinal yang lumrah.[24] Tatkala jatuh sakit, ia memberikan kewenangan kepada kardinal kerabatnya, Paolo Emilio Sfondrato, untuk menggunakan Fiat ut petitur (hak mengabulkan permohonan), tetapi akhirnya ia tarik kembali atas desakan Dewan Kardinal.[29] Dengan motu proprio tertanggal 30 April 1618, Paus Paulus V secara resmi memberikan kepada kardinal kerabatnya kewenangan yang sama dengan kewenangan yang pernah diberikan Paus Klemens VIII kepada Pietro Aldobrandini. Kebijakan Paus Paulus V ini mengawali kurun waktu yang dijuluki l'age classique (zaman klasik) nepotisme oleh sejarawan Madeleine Laurain-Portemer.[30]

Paus Gregorius XV bersama kardinal kerabatnya, Ludovico Ludovisi, yang dijuluki il cardinale padrone. Penghasilan dan kewenangannya lebih tinggi daripada kardinal-kardinal kerabat sebelumnya.

Ludovico Ludovisi, kardinal kerabat Paus Gregorius XV (1621–1623), adalah kardinal kerabat pertama yang dijuluki il cardinale padrone (kardinal juragan).[31] Banyak lahan basah yang ia kuasai sendiri. Selain membawahi 23 biara keabasan, ia juga memangku jabatan Uskup Agung Bologna, jabatan Direktur Signatura Apostolik, jabatan Wakil Panitera, dan jabatan Kepala Rumah Tangga Kepausan. Menjelang akhir hayatnya, hampir semua sumber penghasilan tersebut dapat ia bagi-bagikan kepada kepada 17 orang kerabatnya.[22] Segala beneficium dan jabatan ini mengalirkan pendapatan bersih senilai lebih dari 200.000 scudo per tahun ke dalam pundi-pundi Ludovico. Ia juga dianggap menyandang "lebih banyak kewenangan tanpa batas" dibanding kardinal-kardinal kerabat sebelumnya.[32] Menariknya lagi, kardinal-kardinal kerabat diizinkan membuat facultas testandi (surat wasiat) untuk mewariskan penghasilan dari beneficium mereka kepada sanak-saudara yang bukan rohaniwan.[22] Praktik semacam ini dibenarkan oleh dua panitia khusus ahli-ahli teologi yang dibentuk oleh Urbanus VIII (1623–1644), pengganti Paus Gregorius XV.[33]

Selaku Fabio Chigi, saya punya keluarga. Selaku Aleksander VII, saya tidak punya keluarga. Mustahil anda dapat menemukan nama saya di dalam buku-buku registrasi pembaptisan di Siena.

Paus Aleksander VII, 1655, yang melantik dua orang kardinal kerabat pada tahun 1657[34]

Tidak semua pemangku jabatan Kardinal Kerabat adalah kardinal kerabat Sri Paus. Ahli sejarah lembaga kepausan, Valérie Pirie, berpendapat bahwa ketiadaan kerabat justru merupakan "aset besar bagi seorang calon paus" karena memungkinkan Sri Paus untuk menyerahkan tersebut kepada seorang kardinal sekutu.[23] Sebagai contoh, Paus Klemens X mempercayakan jabatan Kardinal Kerabat kepada Kardinal Paoluzzi-Altieri, yang kemenakannya baru saja memperistri Laura Caterina Altieri, ahli waris tunggal keluarga Paus Klemens X.[35] Banyak sejarawan menganggap Olimpia Maidalchini, kakak ipar Paus Inosensius X (1644–1655), sebagai pemangku de facto jabatan Kardinal Kerabat, yang secara de iure dipangku oleh putranya, Camillo Pamphili, dan selanjutnya oleh kemenakannya, Francesco Maidalchini (sesudah Camillo Pamphili melepaskan status kardinalnya agar boleh beristri), dan saudara saudara sepupunya, Camillo Astalli (sesudah Francesco Maidalchini terbukti tidak cakap).[36][37]

Para paus sering kali tidak punya banyak pilihan untuk dijadikan pemangku jabatan Kardinal Kerabat. Menurut ahli sejarah lembaga kepausan, Frederic Baumgartner, masa jabatan Paus Siktus V (1585–1590) "berawal buruk" karena Alessandro Peretti di Montalto adalah "satu-satunya kemenakan yang layak memangku jabatan Kardinal Kerabat, tetapi tidak mampu menjadi orang kepercayaan Sri Paus", sampai-sampai sejumlah kardinal menolak menghadiri upacara pelantikannya.[38] Menurut ahli sejarah lembaga kepausan lainnya, Ludwig von Pastor, "Paus Pamphilj bernasib sial karena kerabat satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memangku jabatan tersebut adalah seorang perempuan".[37]

Paus Inosensius XI (1676–1689) memandang keji praktik ini. Ia baru bersedia menerima keterpilihan dirinya menjadi paus sesudah Dewan Kardinal menyetujui rencana-rencana pembaharuan yang ia gagas, antara lain rencana pengharaman nepotisme.[4] Sayangnya, Paus Innosensius XI terpaksa harus mengurungkan rencana itu setelah tiga kali gagal menggalang dukungan mayoritas kardinal dalam rangka menerbitkan bula pengharaman nepotisme,[39] yang sudah disusun dengan susah payah dari tahun 1677 sampai tahun 1686.[40] Paus Inosensius XI menolak permohonan Rumah Tangga Kepausan untuk mendatangkan kemenakan satu-satunya, Livio Odescalchi, Pangeran Sirmio, ke Roma,[41] kendati ia memang melantik Carlo Stefano Anastasio Ciceri, salah seorang kerabat jauhnya, menjadi kardinal pada tanggal 2 September 1686.[42] Paus Aleksander VIII (1689–1691), pengganti Paus Inosensius XI, adalah paus terakhir yang melantik Kardinal Kerabat.[4] Paus Aleksander VIII juga mementahkan kembali usaha pembaharuan lainnya dari Paus Innosensius XI dengan mengalihkan pendapatan dari bekas Jawatan Kepaniteraan Takhta Suci ke jabatan Wakil Panitera, yang kala itu dipangku oleh kardinal kerabatnya, Pietro Ottoboni.[20] Edith Standen, konsultan Metropolitan Museum of Art, menyebut Pietro Ottoboni sebagai "contoh terakhir yang tidak kalah hebatnya" dari "sejenis makhluk hidup yang dulu begitu gilang-gemilang tetapi kini sudah punah, yakni kardinal kerabat".[43]

Sampai dengan tahun 1692 (dan sesekali sesudahnya), jabatan Kepala Arsiparis Sri Paus dipangku oleh kardinal kerabatnya (atau salah seorang kerabatnya yang bukan rohaniwan), yang biasanya memindahkan arsip-arsip paus ke kumpulan arsip keluarga sepeninggal paus yang bersangkutan.[44] Kumpulan-kumpulan arsip keluarga, teristimewa kumpulan arsip keluarga Barberini, kumpulan arsip keluarga Farnese, kumpulan arsip keluarga Chigi, dan kumpulan arsip keluarga Borghese, berisi dokumen-dokumen penting lembaga kepausan.[45]

Sejak 1692[sunting | sunting sumber]

Paus Inosensius XII menghapuskan jabatan Kardinal Kerabat di Kuria Romawi pada tanggal 22 Juni 1692, dan memperkuat jabatan Kardinal Sekretaris Negara

Paus Inosensius (1691–1700) mengeluarkan bula bertajuk Romanum decet pontificem pada tanggal 22 Juni 1692, mencekal jabatan Kardinal Keponakan, membatasi para penerusnya agar hanya mengangkat satu kardinal kerabat, menyingkirkan berbagai sinecure yang biasanya diberikan kepada kardinal keponakan, dan membekukan stipendium atau dukungan keuangan yang seorang Paus berikan kepada keponakan tersebut dengan jumlah 12,000 scudi[12][34][43] Romanum decet pontificem kemudian dimasukkan dalam Kode Hukum Kanon 1917 dalam kanon 240, 2; 1414, 4; dan 1432, 1.[46] Pada 1694, serangkaian reformasi Innosensius XII dilakukan dengan kampanye khusus untuk menyingkirkan "venalitas" jabatan serta menggantikan para pemangku jabatan pada masa itu.[40] Reformasi tersebut dipandang oleh beberapa cendekiawan sebagai reaksi tertunda terhadap krisis keuangan yang diakibatkan oleh nepotisme Paus Urbanus VIII (1623–1644).[12]

Romualdo Braschi-Onesti, salah satu kardinal keponakan terakhir

Namun, setelah Romanum decet pontificem, hanya tiga dari delapan Paus pada abad ke-18 yang gagal mengangkat seorang keponakan atau saudara menjadi kardinal.[39] Dewan Kardinal lebih sering dipimpin oleh keponakan ketimbang orang terpilih, yang mereka anggap sebagai pilihan alternatif; contohnya, Dewan meminta Paus Benediktus XIII (1724–1730) untuk melantik seorang kardinal keponakan, yang mereka harap menggantikan letnan kepercayaan Benediktus XIII Niccolò Coscia.[34] Paus Gregorius XIII (1572–1585) juga diminta oleh figur-figur penting dalam Dewan untuk melantik kardinal keponakannya: Filippo Boncompagni.[47]

Kardinal-kardinal keponakan pada abad ke-18 mengalami penurunan pengaruh karena kekuasaan Kardinal Sekretaris Negara meningkat.[34] Gereja pada masa jabatan Paus Benediktus XIII (1724–1730) dideskripsikan oleh sejarawan Eamon Duffy sebagai "seluruh penjahat nepotisme tanpa keponakan".[48][49] Neri Maria Corsini, kardinal keponakan Paus Klemens XII (1730–1740) merupakan kardinal keponakan paling berpengaruh pada abad ke-18, karena pamannya telah berusia lanjut dan mengalami kebutaan.[34] Namun, penerus Klemens XII, Paus Benediktus XIV (1740–1758) dideskripsikan oleh Hugh Walpole sebagai "seorang pendeta tanpa kemalasan atau kepentingan, seorang pangeran tanpa orang kesayanan, seorang Paus tanpa keponakan".[48]

Giuseppe Pecci, kerabat Paus terakhir yang diangkat menjadi kardinal

Romualdo Braschi-Onesti, kardinal keponakan Pius VI (1775–1799), adalah salah satu kardinal keponakan terakhir, Meskipun Pius VI berasal dari keluarga bangsawan Cesena, saudari tunggalnya menikah dengan seorang pria dari keluarga miskin Onesti. Kemudian, ia memerintahkan seorang genealog untuk menemukan beberapa trak kebangsawanan dalam silsilah Onesti, sebuah upaya yang hanya menemukan bahwa keluarga tersebut memiliki hubungan dengan Santo Romualdo.[50]

Setelah ketegangan Konklaf kepausan 1800, Paus Pius VII (1800–1823) menghindari pengangkatan kardinal keponakan dan menggantikannya dengan Kardinal Sekretaris Negara-nya, Ercole Consalvi.[51] Pada abad ke-19, satu-satunya keponakan dari seorang Paus yang diangkat menjadi kardinal adalah Gabriele della Genga Sermattei, keponakan Paus Leo XII, yang dijadikan kardinal oleh Paus Gregorius XVI pada 1 Februari 1836.[52] Meskipun institusionalisasi nepotisme dihilangkan pada abad ke-18, "pietas" (tugas untuk keluarga) masih menjadi bahan pembicaraan administrasi kepausan sampai abad ke-20, meskipun harus melewati persetujuan pamannya yang menjadi Paus.[12] Mengikuti contoh Pius VI, Paus Leo XIII (yang mengangkat saudaranya, Giuseppe Pecci, menjadi kardinal pada 12 Mei 1879) dan Pius XII (1939–1958) membangun birokrasi kuria resmi yang sepadan dengan pemerintahan paralel, dimana para anggota keluarga diberi pengaruh.[12] Hilangnya kekuasaan temporal atas Negara Gereja (de facto pada 1870 dengan "Pertanyaan Roma" dan de jure pada 1929 dengan Traktat Lateran) juga menghapuskan kondisi-kondisi struktural yang memberikan pengaruh dalam politik keluarga para Paus dari masa sebelumnya[12]

Peran dalam konklaf[sunting | sunting sumber]

Seorang keponakan Paus mati dua kali; kali kedua seperti seluruh manusia, kali pertama saat pamannya meninggal.

—Kardinal Albani, [34]

Sampai abad ke-18, kardinal keponakan menjadi pialang kekuasaan alami di konklaf setelah pamannya meninggal, sebagai figur yang meminta para kardinal agar tetap menjalankan status quo.[34] Pada beberapa kejadian, kardinal keponakan sering mengkomandani loyalitas makhluk-makhluk pamannya, pada umumnya ia memiliki sebuah peran dalam pengangkatannya.[53] Contohnya, Alessandro Peretti di Montalto memimpin makhluk-makhluk pamannya dalam konklaf kepausan 1590 meskipun hanya 21 orang.[54] Menurut sejarawan konklaf Frederic Baumgartner, "keperluan pelantikan semacam itu membuktikan bahwa keluarga Paus memiliki kekuasaan dan pengaruh pada waktu yang lebih lama ketimbang masa seorang Paus memerintah".[38] Sebuah contoh terkenalnya adalah Paus Gregorius XV (1621–1623) yang menjelang kematiannya di atas kasur meminta Ludovico Ludovisi untuk mengangkat para kerabat di Dewan, ia berkata "meskipun Allah tak merestui satupun orang yang aku lantik".[55]

Paus Leo X dengan sepupunya Giulio de' Medici (kiri, kelak Paus Klemens VII) dan Luigi de' Rossi (kanan), yang ia lantik sebagai kardinal

Namun, kardinal keponakan tidak memegang kepemimpinan makhluk-makhluk paman mereka; contohnya, dalam konklaf kepausan 1621, Scipione Borghese hanya memajukan dua puluh sembilan pemilih (sebuah fraksi dari lima puluh enam kardinal yang dilantik pamannya), Pietro Aldobrandini hanya memajukan sembilan orang (dari tiga belas kardinal tersisa yang dilantik pamannya), Montalto hanya memajukan lima kardinal tersisa yang dilantik pamannya.[56] Pada kenyataannya, persaingan internasional terkadang menggelembungkan loyalitas-loyalitas keluarga ketika kardinal keponakan relatif "kurang mengorganisir".[56] Saat Paus Innosensius X (1644–1655) meninggal sementara jabatan Kardinal Keponakan lowong, faksinya terpecah dan menjadi tidak memiliki pemimpin dalam konklaf, meskipun saudari iparnya Olimpia Maidalchini diundang untuk mengalamatkan para kardinal untuk melakukan pendekatan, satu-satunya wanita yang pernah diberi kehormatan semacam itu.[57]

Instruzione al cardinal Padrone circa il modo come si deve procurare una fazione di cardinali con tutti i requisiti che deve avere per lo stabilimento della sua grandezza ("Instruksi kepada kepala kardinal tentang bagaimana membuat sebuah faksi kardinal dengan seluruh permintaan untuk pendirian kebesarannya"), yang ditemukan dalam arsip Santa Maria de Monserrato menawakran nasihat kepada para kardinal keponakan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan pada Dewan Kardinal.[3] Teks lainnya, Ricordi dati da Gregorio XV al cardinale Lodovisio suo nipote ("Memoir yang dilayangkan oleh Gregorius XV kepada Kardinal Keponakannya Lodovisio") menawarkan nasihat untuk bagaimana naik pangkat di Kuria.[58]

Sebuah analisis dari lima konklaf kepausan antara 1605 dan 1644 menunjukan bahwa para kardinal keponakan umumnya gagal dalam memilih kandidat yang mereka pilih, meskipun orang tersebut biasanya merupakan seorang kardinal yang dilantik oleh almarhum Paus.[59] Biasanya, kardinal mahkota menentang pemilihan kardinal keponakan saat mereka diperintahkan pergi ke Roma untuk mengikuti konklaf, meskipun mereka sama-sama menentang pemilihan kardinal mahkota dari para penguasa monarki lainnya.[60] Pada umumnya, seorang kardinal mahkota memajukan satu suksesor atau lebih dari pamannya untuk diangkat menjadi papabile, baik karena usia mereka yang masih muda dan ketidaksukaan mereka terhadap berbagai kebijakan kepausan yang tak populer dari paman mereka.[53]

Sebuah pemilihan kepausan akan mengirimkan sebuah perubahan nasib yang dramatis bagi seorang kardinal keponakan, yang sering kali mengirimkan orang-orang yang dulunya disayangi ke dalam konflik dengan Paus baru. Contohnya, Prospero Colonna dan Francisco de Borja diekskomunikasi,[61][62] dan Carlo Carafa dihukum mati.[63] Konklaf kepausan Mei 1605 adalah salah satu contoh dari sebuah konklaf dimana seorang kandidat (Antonmaria Sauli) dikalahkan karena kardinal lainnya mengaku membutuhkan "seorang Paus yang akan menindak kardinal keponakan karena merampas kepausan".[64] Sebuah kardinal keponakan juga merupakan sebuah ancaman yang menonjol bagi Paus pada masa kedepannya; contohnya, Ludovisi memimpin penentangan melawan Paus Urbanus VIII (1623–1644), menyerukan sebuah dewan perlawanan terhadap Paus (yang tak pernah terbentuk karena Ludovisi meninggal pada 1632) karena "tak ada satupun orang yang memiliki pendirian untuk menentang kekuasaan tirani Urbanus".[65]

Tinggalan sejarah[sunting | sunting sumber]

Ippolito de' Medici, kardinal keponakan Paus Klemens VII dan putra kandung dari Giuliano di Lorenzo de' Medici

Nepotisme umumnya muncul dalam sejarah kegubernuran, sebagian besar dalam budaya dimana identitas dan loyalitas ditentukan lebih kepada tingkat keluarga ketimbang negara kebangsaan.[66] Penggunaan keponakan, selain keturunan langsung, merupakan sebuah produk tradisi selibasi rohaniwan dalam Gereja Katolik, meskipun pewarisan keturunan dari paman ke keponakan juga terjadi dalam kepatriarkhan Gereja Asiria Timur.[67]

Pelantikan kerabat dan sekutu sebagai kardinal merupakan satu-satunya cara para Paus abad pertengahan dan Renaisans agar menghindari kemungkinan Dewan Kardinal menjadi "saingan gerejawi" dan meneguhkan pengaruh mereka di gereja setelah kematiannya.[68] Institusi kardinal keponakan memiliki dampak memperkaya keluarga Paus dengan memberikan benefice dan memodernisasikan administrasi kepausan, dengan memperbolehkan Paus untuk memerintah melalui seorang wali yang dengan mudah menghindari kekeliruan pada saat yang diperlukan dan memberikan jarak resmi antara orang-orang kepausan dan urusan kepausan pada kehidupan sehari-hari.[12]

Papal Nepotism, or the True Relation of the Reasons Which Impel the Popes to make their Nephews Powerful (1667) karya Gregorio Leti merupakan salah satu contoh kritikan kontemporer tergadap institusi kardinal keponakan; Leti memiliki perbedaan langka dalam seluruh publikasinya pada Index Librorum Prohibitorum ("Daftar Buku Terlarang").[69] Catholic Encyclopedia dari tahun 1913 mempertahankan institusi kardinal keponakan sebagai ukuran perlawanan yang diperlukan untuk intrik gereja lama.[20] Menurut Francis A. Burkle-Young, sebagian besar Paus abad ke-15 menyadari perlunya mengangkat kerabat-kerabat mereka pada Dewan Kardinal karena perpecahan mereka dengan para kardinal mahkota, keluarga-keluarga baron Roma, dan keluarga-keluarga kepangeranan Italia yang juga luput dalam Dewan tersebut.[70]

Kardinal Sekretaris Negara[sunting | sunting sumber]

Jabatan kuria Kardinal Sekretaris Negara dalam beberapa hal menggantikan berbagai peran yang awalnya dipegang oleh kardinal keponakan. Dari 1644 sampai 1692, kekuasaan Kardinal Sekretaris Negara pada dasarnya berbanding terbalik dengan Kardinal Keponakan, dimana Sekretariat menjadi bawahannya.[45] Pada masa jabatan beberapa Paus, contohnya Paus Pius V (1566–1572) dan keponakannya Michele Bonelli, jabatan kardinal keponakan dan sekretaris negara dipegang oleh satu orang yang sama.[71]

Menurut Baumgartner, "kebangkitan administrasi tersentralisasi dengan birokrat-birokrat profesional dengan karier dalam pelayanan kepausan" lebih efektif ketimbang para Paus melakukan nepotisme dan "sangat mengurangi kebutuhan untuk keponakan kepausan".[72] Kebangkitan Kardinal Sekretaris Negara merupakan "unsur paling menonjol dari pengesahan baru tersebut".[72]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sampai dengan masa jabatan Paus Inosensius XII, para paus yang menyimpang dari kelaziman melantik sanak-saudara sendiri menjadi kardinal adalah Paus Pius III, Paus Marselus II, Paus Urbanus VII, dan Paus Leo XI, yang memang tidak pernah melantik seorang pun kardinal sepanjang masa jabatan mereka, serta Paus Adrianus VI, yang hanya melantik satu orang kardinal selama menjabat.
  2. ^ Untuk pembahasan tentang dugaan pelantikan kerabat menjadi kardinal yang diragukan kebenarannya, baca artikel daftar kardinal kerabat

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cardinale 1976, hlm. 133.
  2. ^ Burckhardt dan Middlemore 1892, hlm. 107.
  3. ^ a b Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 114.
  4. ^ a b c d Bunson 1995.
  5. ^ Nepotism.
  6. ^ Vidmar 2005, hlm. 170.
  7. ^ Consistory of 1127.
  8. ^ Essay of a General List of Cardinals (112-2006).
  9. ^ a b c General list of Cardinals: 11th Century (999–1099).
  10. ^ Bargrave 1867, hlm. 3.
  11. ^ The election of Pope Paul II (1464).
  12. ^ a b c d e f g h i j Nepotism 2002, hlm. 1031–1033.
  13. ^ Ekelund, dll 2004, hlm. 703.
  14. ^ Setton 1984, hlm. 639.
  15. ^ Setton 1984, hlm. 711.
  16. ^ Chadwick & 981, hlm. 289.
  17. ^ a b Ekelund, dll 2004, hlm. 702.
  18. ^ a b c d e Laurain-Portemer 2002, hlm. 1467–1469.
  19. ^ Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 141.
  20. ^ a b c d Roman Curia.
  21. ^ a b Avignon.
  22. ^ a b c Hsia 2005, hlm. 102.
  23. ^ a b c Pirie 1965.
  24. ^ a b Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 144.
  25. ^ Bireley 2004.
  26. ^ Osheim.
  27. ^ Munck 1999, hlm. 341.
  28. ^ Baumgartner 2003, hlm. 142.
  29. ^ Gregory XIV.
  30. ^ Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 144–145.
  31. ^ Williams 2004, hlm. 103.
  32. ^ von Rankle 1848, hlm. 307.
  33. ^ Pope Urban VIII.
  34. ^ a b c d e f g Chadwick 1981, hlm. 305.
  35. ^ Pope Clement X.
  36. ^ Chadwick 1981, hlm. 303.
  37. ^ a b Innocent X.
  38. ^ a b Baumgartner 2003, hlm. 130.
  39. ^ a b Chadwick 1981, hlm. 304.
  40. ^ a b Rosa 2002, hlm. 468.
  41. ^ Keyes.
  42. ^ Consistory of September 2, 1686.
  43. ^ a b Standen 1981, hlm. 147-164.
  44. ^ Hansman 1999.
  45. ^ a b Chadwick 1981, hlm. 299.
  46. ^ Guide to documents and events (76–2005).
  47. ^ Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 142.
  48. ^ a b Wilcock 2005.
  49. ^ Duffy 2006.
  50. ^ The Triple Crown: An Account of the Papal Conclaves: XVIIIth Century: PIUS VI (BRASCHI).
  51. ^ The Triple Crown: An Account of the Papal Conclaves: XIXth Century.
  52. ^ Consistory of February 1, 1836.
  53. ^ a b Baumgartner 2003, hlm. 151.
  54. ^ Baumgartner 2003, hlm. 133.
  55. ^ Baumgartner 2003, hlm. 145.
  56. ^ a b Baumgartner 2003, hlm. 143.
  57. ^ Baumgartner 2003, hlm. 155.
  58. ^ Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 93.
  59. ^ Signorotto dan Visceglia 2002, hlm. 121.
  60. ^ Baumgartner 2003, hlm. 150.
  61. ^ Trollope 1876, hlm. 138.
  62. ^ Consistory of September 28, 1500.
  63. ^ Consistory of June 7, 1555.
  64. ^ Baumgartner 2003, hlm. 141.
  65. ^ Baumgartner 2003, hlm. 152.
  66. ^ Chadwick 1981, hlm. 301.
  67. ^ Chadwick 1981, hlm. 302.
  68. ^ Hsia 2005, hlm. 103.
  69. ^ Ambrosini dan Willis 1996, hlm. 138.
  70. ^ The Cardinals of the Holy Roman Church: Papal elections in the Fifteenth Century: The election of Pope Eugenius IV (1431).
  71. ^ Setton 1984, hlm. 912.
  72. ^ a b Baumgartner 2003, hlm. 166.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Ambrosini, Maria Luisa; Willis, Mary (1996), The Secret Archives of the Vatican, Barnes & Noble Publishing, ISBN 0-7607-0125-3 
  • Bargrave, John (1867), Pope Alexander the Seventh and the College of Cardinals, Camden Society 
  • Baumgartner, Frederic J. (2003), Behind Locked Doors: A History of the Papal Elections, Palgrave Macmillan, ISBN 0-312-29463-8 
  • Bireley, Robert (2004), Book Review of Bürokratie und Nepotismus unter Paul V. (1605–1621): Studien zur frühneuzeitlichen Mikropolitik in Rom by Birgit Emich, The Catholic Historical Review 
  • Brixius, J. M. (1912), Die Mitglieder des Kardinalkollegiums von 1130–1181, Berlin 
  • Boutry, Philippe, Levillain (2002), Innocent X 
  • Bunson, Matthew (1995), Cardinal Nephew The Pope Encyclopedia, Crown Trade Paperbacks, ISBN 0-517-88256-6 
  • Burckhardt, Jacob; Middlemore, Samuel George Chetwynd (1892), The Civilisation of the Renaissance in Italy, Sonnenschein 
  • Cardinale, Hyginus Eugene (1976), The Holy See and the International Order, Maclean-Hunter Press 
  • Chadwick, Owen (1981), The Popes and European Revolution, Oxford University Press, ISBN 0-19-826919-6 
  • Duffy, Eamon (2006), Saints & Sinners: A History of the Popes, Yale University Press, ISBN 0-300-11597-0 
  • Ekelund, Robert B., Jr.; Herbert, Robert F.; Tollison, Robert D. (Oktober 2004), The Economics of the Counter-Reformation: Incumbent-Firm reaction to market entry]" (PDF), Economic Inquiry 
  • Hsia, Ronnie Po-chia (2005), The World of Catholic Renewal, 1540–1770, Cambridge University Press, ISBN 0-521-84154-2 
  • Hüls, R. (1977), Kardinäle, Klerus und Kirchen Roms: 1049–1130, Tübingen 
  • Klewitz, H.W. (1957), Reformpapsttum und Kardinalkolleg, Darmstadt 
  • Laurain-Portemer, Madeleine, Levillain (2002), Superintendent of the Ecclesiastical State 
  • Levillain, Philippe (2002), The Papacy: An Encyclopedia, Routledge, ISBN 0-415-92228-3 
  • Maleczek, W. (1984), Papst und Kardinalskolleg von 1191 bis 1216, Wina 
  • Munck, Thomas (1999), Europa XVII wieku, Warsawa 
  • Osheim, Duane J, Review of Kardinal Scipione Borghese, 1605–1633: Vermögen, Finanzen und sozialer Aufstieg eines Papstnepoten, The American Historical Review 
  • Pirie, Valérie (1965), The Triple Crown: An Account of the Papal Conclaves: Preliminary Chapter, Spring Books 
  • Reinhard, Wolfgang, Levillain (2002), Nepotism 
  • Rosa, Mario, Levillain (2002), Curia 
  • Setton, Kenneth Meyer (1984), The Papacy and the Levant (1204–1571), ISBN 0-87169-114-0 
  • Standen, Edith A. (1981), "Tapestries for a Cardinal-Nephew: A Roman Set Illustrating Tasso's "Gerusalemme Liberata", Metropolitan Museum Journal 
  • Tizon-Germe, Anne-Cécile, Levillain (2002), Gregory XIV 
  • Trollope, Thomas Adolphus (1876), The papal conclaves, as they were and as they are, Chapman and Hall 
  • Signorotto, Gianvittorio; Visceglia, Maria Antonietta (2002), Court and Politics in Papal Rome, 1492–1700, Cambridge University Press, ISBN 0-521-64146-2 
  • Vidmar, John (2005), The Catholic Church Through The Ages: A History, Paulist Press, ISBN 0-8091-4234-1 
  • von Rankle, Leopold (1848), The History of the Popes 
  • Williams, George L. (2004), Papal Genealogy: The Families and Descendants of the Popes, McFarland, ISBN 0-7864-2071-5 
  • Zenker, B. (1964), Die Mitglieder des Kardinalkollegiums von 1130 bis 1159, Würzburg 

Situs web[sunting | sunting sumber]