Sejarah Gereja Katolik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Sejarah Gereja Katolik bermula dari karya dakwah Yesus Kristus (ca. 4 SM – ca. 30 M) yang hidup di wilayah Tetrarki Wangsa Herodes (kelak dijadikan Provinsi Yudea dalam wilayah Kekaisaran Romawi).[1] Gereja Katolik mengajarkan bahwa dirinya merupakan kesinambungan dari paguyuban umat Kristen perdana yang didirikan oleh Yesus Kristus,[2] uskup-uskupnya adalah para pengganti rasul-rasul Yesus, dan Uskup Roma (Sri Paus) adalah satu-satunya pengganti Santo Petrus[3] yang–menurut riwayat dalam Alkitab Perjanjian Baru–ditunjuk oleh Yesus menjadi kepala Gereja dan berdakwah di kota Roma.[4][5] Pada akhir abad ke-2, para uskup mulai menyelenggarakan sinode-sinode tingkat regional untuk membahas dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan doktrin dan kebijakan.[6] Pada abad ke-3, Uskup Roma mulai bertindak sebagai hakim banding untuk perkara-perkara yang tidak dapat diputuskan oleh uskup-uskup lain.[7]

Agama Kristen tersebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Romawi, meskipun mengalami penindasan karena bertentangan dengan agama negara yang mempraktikkan penyembahan berhala. Pada 313, penindasan terhadap umat Kristen perdana akhirnya mereda setelah agama Kristen dilegalisasi oleh Kaisar Konstantinus I. Pada 380, agama Kristen Katolik dipermaklumkan sebagai agama negara Kekaisaran Romawi oleh Kaisar Teodosius I. Agama Kristen menjadi agama negara sampai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, dan bertahan sebagai agama negara Kekaisaran Romawi Timur sampai dengan jatuhnya kota Konstantinopel. Tujuh Konsili Ekumene yang pertama diselenggarakan pada kurun waktu ketika agama Kristen menjadi agama negara. Menurut sejarawan Gereja, Eusebius dari Kaisarea, selama kurun waktu ini ada lima keuskupan (yurisdiksi dalam Gereja Katolik) yang dihormati sebagai keuskupan-keuskupan utama, yakni Roma, Konstantinopel, Antiokhia, Yerusalem, dan Aleksandria. Kelima keuskupan utama ini dikenal dengan sebutan Pentarki.

Selama lima abad selanjutnya, sejarah Gereja Katolik diwarnai bentrok antara umat Kristen dan umat Islam di seantero kawasan Laut Tengah. Pertempuran Poitiers dan Pertempuran Toulouse mampu mempertahankan keberadaan Gereja Katolik di belahan dunia barat, meskipun Roma hancur luluh pada 850, dan Konstantinopel telah terkepung. Pada abad ke-11, renggangnya hubungan antara Gereja Yunani di timur dan Gereja Latin di barat akhirnya berujung pada Skisma Timur-Barat yang juga turut disebabkan oleh pertikaian seputar kewenangan Sri Paus. Perang salib keempat dan penjarahan Konstantinopel oleh para tentara salib menjadikan perpecahan itu bersifat final. Pada abad ke-16, Gereja Katolik menanggapi gerakan Reformasi Protestan dengan melakukan perubahan dan pembaharuan yang dikenal dengan sebutan Kontra Reformasi.[8] Di abad-abad berikutnya, agama Kristen Katolik tersebar ke seluruh dunia, meskipun mengalami penurunan jumlah pemeluk di Eropa yang disebabkan oleh pertumbuhan agama Kristen Protestan dan munculnya sikap skeptis terhadap agama selama dan sesudah Abad Pencerahan. Konsili Vatikan II di era 1960-an menghasilkan perubahan-perubahan terpenting dalam praktik-praktik Gereja Katolik selepas Konsili Trento empat abad sebelumnya.

Awal mula Gereja[sunting | sunting sumber]

Awal mula[sunting | sunting sumber]

Menurut tradisi Katolik, Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus. Kitab Suci Perjanjian Baru meriwayatkan perbuatan-perbuatan dan ajaran-ajaran Yesus, bagaimana ia memilih kedua belas rasulnya, dan amanatnya kepada mereka untuk melanjutkan dakwahnya.[9][10] Gereja Katolik mengajarkan bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul (dikenal dengan sebutan pentakosta) menandai awal mula karya pelayanan Gereja Katolik bagi masyarakat umum.[11] Umat Katolik meyakini bahwa Santo Petrus adalah uskup pertama kota Roma dan rasul yang menahbiskan Linus sebagai uskup penggantinya. Pentahbisan Linus merupakan awal dari garis suksesi apostolik yang berkesinambungan sampai kepada Uskup Roma saat ini, Fransiskus. Karena itulah Gereja Katolik menghormati Uskup Roma, Sri Paus, sebagai pengganti Santo Petrus.[12]

Berkat Pengakuan Petrus yang diriwayatkan dalam Injil Matius, Kristus menetapkan Petrus sebagai "batu karang" yang akan menjadi landasan bagi pembangunan Gereja Kristus.[13][14] Meskipun sejumlah pengkaji telah menyatakan bahwa Petrus adalah uskup pertama kota Roma,[15][a] yang lain berpendapat bahwa lembaga kepausan tidak bergantung pada gagasan bahwa Petrus adalah Uskup Roma atau bahkan pada gagasan bahwa Petrus pernah tinggal di Roma.[16]

Tatanan Gereja perdana[sunting | sunting sumber]

Kondisi Kekaisaran Romawi kala itu memungkinkan tersebarnya gagasan-gagasan baru. Pembangunan dan penataan jaringan jalan raya serta perhubungan laut dan perairan mempermudah orang untuk melakukan perjalanan, sementara Pax Romana memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain tanpa perlu mengkhawatirkan gangguan keamanan. Pemerintah kekaisaran mendorong warga negara, terutama yang tinggal di daerah perkotaan, untuk belajar bahasa Yunani, dan penguasaan lingua franca tersebut memudahkan orang untuk mengungkapkan dan memahami gagasan-gagasan.[17] Rasul-rasul Yesus berhasil menarik pemeluk-pemeluk baru di kalangan paguyuban-paguyuban umat Yahudi di seluruh kawasan Laut Tengah,[18] dan sekitar 40 paguyuban umat Kristen telah terbentuk pada tahun 100.[19] Meskipun sebagian besar dari paguyuban-paguyuban ini berlokasi di dalam wilayah Kekaisaran Romawi, paguyuban-paguyuban umat Kristen juga terbentuk di Armenia, Iran, dan sepanjang daerah Pesisir Malabar di India.[20][21] Agama baru ini menarik banyak peminat, terutama di daerah-daerah perkotaan; mula-mula tersebar di kalangan budak belian dan orang-orang dari kalangan bawah, namun kemudian menyebar pula di kalangan kaum perempuan bangsawan.[22]

Mula-mula umat Kristen masih beribadat bersama-sama dengan para pemeluk agama Yahudi. Umat Kristen yang masih beribadat bersama umat Yahudi ini disebut umat Kristen Yahudi oleh para sejarawan. Meskipun demikian, dalam dua puluh tahun sesudah Yesus wafat, hari Minggu dijadikan hari peribadatan utama.[23] Setelah para pendakwah seperti Paulus dari Tarsus mulai menarik pemeluk baru dari kalangan orang-orang non-Yahudi, ajaran Kristen lambat laun terpisahkan dari praktik-praktik keagamaan Yahudi[18] dan tumbuh menjadi agama tersendiri,[24] meskipun hal-hal seputar hubungan antara Paulus dari Tarsus dan agama Yahudi masih diperdebatkan sampai sekarang. Untuk menyelesaikan perbedaan pandangan di antara golongan-golongan yang saling bersaing dalam Gereja, pada atau sekitar tahun 50, para rasul menyelenggarakan konsili yang pertama dalam sejarah Gereja, yakni Konsili Yerusalem. Konsili ini memutuskan bahwa orang-orang non-Yahudi dibenarkan menjadi pemeluk agama Kristen tanpa kewajiban menaati seluruh hukum Musa.[6] Ketegangan yang terus meningkat akhirnya membuat keterpisahan umat Kristen dari umat Yahudi menjadi semakin melebar dan nyaris paripurna manakala umat Kristen menolak ikut serta dalam Pemberontakan Bar Kohba yang dikobarkan orang Yahudi pada 132,[25] kendati sejumlah paguyuban umat Kristen masih mempertahankan beberapa praktik agama Yahudi.[26]

Menurut beberapa sejarawan dan pengkaji, Gereja perdana tidak diorganisasikan secara kaku, sehingga terbuka peluang bagi munculnya berbagai macam tafsir atas kepercayaan Kristen.[27]

Persekusi[sunting | sunting sumber]

Tidak seperti sebagian besar agama yang ada di wilayah Kekaisaran Romawi, agama Kristen mewajibkan para pemeluknya untuk menafikan semua ilah lain, sama seperti agama Yahudi. Penolakan umat Kristen untuk ikut serta merayakan hari-hari besar pagan menghalangi mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat. Warga masyarakat non-Kristen–termasuk para pejabat pemerintah–khawatir sikap semacam ini akan membangkitkan amarah para dewa, sehingga merupakan ancaman terhadap ketenteraman dan kesejahteraan Kekaisaran Romawi. Selain itu, keakraban antarsesama pemeluknya dan kerahasiaan seputar praktik-praktik keagamaannya menimbulkan desas-desus bahwa umat Kristen melakukan inses dan kanibalisme; persekusi-persekusi yang timbul karenanya, meskipun biasanya bersifat lokal dan sporadis, merupakan salah satu unsur khas dari pemahaman diri Kristiani sampai agama Kristen dilegalisasi pada abad ke-4.[28][29] Serangkaian tindak persekusi yang lebih terorganisasi terhadap umat Kristen dilancarkan pada akhir abad ke-3, setelah para kaisar mempermaklumkan bahwa krisis militer, politik, dan ekonomi yang melanda Kekaisaran Romawi adalah wujud dari kemurkaan para dewa. Seluruh warga negara diperintahkan untuk mempersembahkan kurban dengan ancaman hukuman mati jika ingkar.[30] Umat Yahudi dikecualikan selama mereka bersedia membayar pajak khusus bagi umat Yahudi. Jumlah umat Kristen yang dieksekusi mati berkisar dari beberapa ratus jiwa sampai 50.000 jiwa.[31] Banyak yang melarikan diri[32] atau murtad. Perbedaan pendapat mengenai status orang-orang murtad yang kembali ke pangkuan Gereja adalah penyebab terjadinya skisma Donatisme dan skisma Novasianisme.[33] Hubungan antara Gereja dan pemerintah kekaisaran senantiasa berubah-ubah: "Tiberius menghendaki agar Kristus dijadikan salah satu dewa di Panteon dan menolak melakukan persekusi terhadap umat Kristen. Di kemudian hari sikap ini berubah. [-] Bagaimana caranya menjelaskan fakta bahwa orang-orang sekaliber Trayanus dan teristimewa Markus Aurelius begitu gencar menindas umat Kristen? Sementara di lain pihak, Komodus dan kaisar-kaisar lalim lainnya justru bermurah hati kepada mereka."[34] Kendati ditindas, karya pewartaan Injil tetap terus berjalan, dan pada akhirnya agama Kristen dilegalisasi dengan terbitnya Maklumat Milano pada 313.[35] Pada 380, agama Kristen telah dijadikan agama negara Kekaisaran Romawi.[36] Filsuf religius, Simone Weil, menulis: "Pada zaman Konstantinus, tingkat pengharapan apokaliptis tentunya sudah menipis. [Kedatangan Kristus yang sudah dekat harinya, penantian akan Hari Kiamat - merupakan 'suatu bahaya sosial yang sangat besar.'] Disamping itu, semangat hukum lama, yang sangat jauh terpisahkan dari segala macam ajaran mistik, tidaklah jauh berbeda dari semangat bangsa Romawi sendiri. Roma dapat menyesuaikan diri dengan Tuhan sarwa sekalian alam."[37]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wikisource-logo.svg Joyce, George (1913). "The Pope". Di Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
    Sehubungan dengan anggapan bahwa Petrus adalah Uskup Roma yang pertama, "Tidaklah sukar untuk menunjukkan fakta bahwa statusnya [Petrus] sebagai Uskup Roma didukung banyak sekali bukti sehingga dapat dipastikan secara historis. Sehubungan dengan hal ini, sebaiknya dimulai dengan bukti-bukti dari abad ketiga, manakala rujukan-rujukan mengenai statusnya itu semakin sering muncul, dan setelah itu barulah ditelaah mundur dari titik waktu ini. Pada pertengahan abad ketiga, Santo Siprianus secara terang-terangan menyebut Takhta Keuskupan Roma sebagai Takhta Santo Petrus, dan menyebutkan bahwa Kornelius telah mewarisi "kedudukan Fabianus yang adalah kedudukan Petrus" (Ep 55:8; cf. 59:14). Firmilianus dari Kaisarea mencermati bahwa Stefanus mengklaim berhak menyelesaikan kontroversi seputar baptisan ulang atas dasar statusnya selaku waris jabatan Petrus (Siprianus, Ep. 75:17). Ia tidak menafikan klaim itu: meskipun sudah pasti akan ia nafikan, andaikata dapat ia lakukan. Jadi, pada tahun 250, status Petrus sebagai Uskup Roma diakui oleh orang-orang yang benar-benar tahu kebenarannya, tidak saja di Roma tetapi juga di Gereja-Gereja di Afrika dan Asia Kecil. Pada perempat pertama abad itu (sekitar tahun 220), Tertulianus (De Pud. 21) menyebutkan tentang klaim Kalistus bahwa kuasa Petrus untuk mengampuni dosa telah diturunkan secara istimewa kepada dirinya. Andaikata Gereja Roma hanya sekadar didirikan saja oleh Petrus dan tidak mengakuinya sebagai uskup pertama, maka tidak ada dasar bagi klaim-klaim semacam itu. Tertulianus, sama halnya dengan Firmilianus, punya motif yang kuat untuk menafikan klaim itu. Lagi pula, ia sendiri menetap di Roma, dan tentunya akan tahu persis jika gagasan mengenai status Petrus selaku Uskup Roma itu, sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para penentangnya, baru muncul pada tahun-tahun pertama abad ketiga, sebagai ganti riwayat yang lebih tua bahwasanya Gereja Roma didirikan bersama-sama oleh Petrus dan Paulus, dan bahwasanya Uskup Roma yang pertama adalah Linus. Sekitar waktu yang sama, Hipolitus (karena Lightfoot tentunya telah bertindak benar dengan meyakininya sebagai penulis bagian pertama dari "Catalogus Liberianus" — "Klemens dari Roma", 1:259) mencantumkan nama Petrus dalam daftar Uskup Roma...."[15]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Smith, David (6 September 2015). "From Bethlehem to Egypt to Nazareth, Jesus’s family accepted changes around them". Jerusalem Post. Diakses tanggal 19 November 2016.  Yesus lahir di Betlehem, Yehuda, sekitar 4 SM. Keluarga Yesus mengungsi ke Mesir dan kembali ke Nazaret, Galilea, kira-kira setahun kemudian. Daerah Galilea dan sekitarnya ditaklukkan oleh Kekaisaran Romawi pada 6 M, dan menjadi bagian dari wilayah Provinsi Yudea.
  2. ^ "Vatican congregation reaffirms truth, oneness of Catholic Church". Catholic News Service. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Juli 2007. Diakses tanggal 17 Maret 2012. 
  3. ^ (Inggris) "Paragraph 862", Catechism of the Catholic Church, Second Edition (Libreria Editrice Vaticana), 2012, diakses tanggal 16 November 2014 
  4. ^ Hitchcock, Geography of Religion (2004), hlm. 281, kutipan: "Beberapa di antaranya (jemaat-jemaat Kristen) didirikan oleh Petrus, murid yang ditunjuk Yesus menjadi pendiri Gereja. Begitu jabatan ini dilembagakan, para sejarawan pun menelaah masa lampau dan mengakui bahwa Petrus adalah paus pertama jemaat Kristen di kota Roma"
  5. ^ Norman, The Roman Catholic Church an Illustrated History (2007), hlmn. 11, 14, kutipan: "Gereja ini didirikan oleh Yesus sendiri semasa hidupnya di dunia.", "Karya kerasulan ini dibentuk di Roma, ibu kota dunia ketika Gereja pertama kali berdiri; jelas-jelas kota inilah yang menjadi pusat universalitas ajaran agama Kristen–para uskup Romalah yang sejak semula diminta uskup-uskup lain untuk memberikan keputusan terkait perselisihan pendapat."
  6. ^ a b Chadwick, Henry, hlm. 37.
  7. ^ Duffy, hlm. 18.
  8. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Norman81
  9. ^ Kreeft, hlm. 980.
  10. ^ Bokenkotter, hlm. 30.
  11. ^ Barry, hlm. 46.
  12. ^ (Inggris) CCC, 880–881, Vatican.va, diakses tanggal 1 November 2014 
  13. ^ Christian Bible, Matius 16:13-20
  14. ^ "Saint Peter the Apostle: Incidents important in interpretations of Peter". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 8 November 2014. 
  15. ^ a b Wikisource-logo.svg Joyce, George (1913). "The Pope". Di Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  16. ^ "Was Peter in Rome?". Catholic Answers. 10 Agustus 2004. Diakses tanggal 9 November 2014. andaikata Petrus tidak pernah menginjakkan kakinya di kota Roma, ia tetap dapat menjadi paus pertama, karena salah seorang penggantinya dapat saja menjadi pemegang jabatan itu yang pertama kali menetap di Roma. Bagaimanapun juga, kepausan ada karena dilembagakan oleh Kristus semasa hidupnya, jauh sebelum Petrus diriwayatkan telah berkunjung ke Roma. Sudah tentu ada rentang waktu selama beberapa tahun manakala lembaga kepausan belum memiliki kaitan dengan kota Roma. 
  17. ^ Bokenkotter, hlm. 24.
  18. ^ a b Chadwick, Henry, hlmn. 23–24.
  19. ^ Hitchcock, Geography of Religion (2004), hlm. 281, kutipan: "Pada tahun 100, lebih dari 40 jemaat Kristen tumbuh di kota-kota yang tersebar di sekeliling Laut Tengah, termasuk dua jemaat di Afrika Utara, yakni di Aleksandria dan Kirene, serta beberapa jemaat di Italia."
  20. ^ A.E. Medlycott, India and The Apostle Thomas, hlmn.1-71, 213-97; M.R. James, Apocryphal New Testament, hlmn.364-436; Eusebius, Historia, bab 4:30; J.N. Farquhar, The Apostle Thomas in North India, bab 4:30; V.A. Smith, Early History of India, hlm.235; L.W. Brown, The Indian Christians of St. Thomas, hlmn.49–59
  21. ^ stthoma.com, stthoma.com, diakses tanggal 8 Agustus 2013 
  22. ^ McMullen, hlmn. 37, 83.
  23. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlm. 115
  24. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 109.
  25. ^ Davidson, The Birth of the Church' (2005), hlm. 146
  26. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlm. 149
  27. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn.127–131.
  28. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn. 155–159, 164.
  29. ^ Chadwick, Henry, hlm. 41.
  30. ^ Chadwick, Henry, hlmn. 41–42, 55.
  31. ^ Heikki Räisänen (2010). The Rise of Christian Beliefs: The Thought World of Early Christians. Fortress Press. p. 292. ISBN 9781451409536. 
  32. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 174.
  33. ^ Duffy, hlm. 20.
  34. ^ Simone Weil, Surat kepada seorang Imam, butir ke-35
  35. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlmn. 58–9
  36. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlm. 59
  37. ^ Weil, Surat kepada seorang Imam, butir ke-35

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]