Sejarah Gereja Katolik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sejarah Gereja Katolik bermula dari pribadi dan ajaran Yesus Kristus (ca. 4 SM – ca. 30 M). Gereja Katolik mengaku sebagai kelanjutan dari paguyuban umat Kristen perdana yang dibentuk oleh Yesus Kristus,[1] dan menghormati uskup-uskupnya sebagai para pengganti rasul-rasul Yesus, teristimewa Uskup Roma (Sri Paus) sebagai satu-satunya pengganti Santo Petrus,[2] rasul yang diangkat Yesus menjadi kepala Gereja dan berkarya di kota Roma, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.[3][4] Pada akhir abad ke-2, para uskup mulai menyelenggarakan muktamar-muktamar tingkat regional guna menuntaskan berbagai permasalahan terkait doktrin dan kebijakan.[5] Pada abad ke-3, Uskup Roma mulai menjadi semacam hakim agung dalam penanganan perkara-perkara yang tidak dapat dituntaskan oleh uskup-uskup lain.[6]

Agama Kristen menyebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Romawi, meskipun ditindas karena bertentangan dengan agama leluhur bangsa Romawi, yang kala itu menjadi agama negara. Penindasan terhadap umat Kristen mulai mereda sesudah agama Kristen dilegalkan oleh Kaisar Konstantinus I pada tahun 313. Pada tahun 380, Kaisar Teodosius I menetapkan agama Kristen Katolik sebagai agama negara Kekaisaran Romawi. Agama Kristen menjadi agama negara di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi sampai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, dan tetap menjadi agama negara Kekaisaran Bizantin sampai kota Konstantinopel jatuh ke tangan bangsa Turki. Tujuh Konsili Oikumene yang terdahulu diselenggarakan pada kurun waktu agama Kristen masih menjadi agama negara. Menurut sejarawan Gereja, Eusebius, Uskup Kaisarea, ada lima keuskupan yang terkemuka pada kurun waktu ini, yakni keuskupan Roma, keuskupan Konstantinopel, keuskupan Antiokhia, keuskupan Yerusalem, dan keuskupan Aleksandria. Kelima-limanya secara serempak disebut Pentarki.

Pertempuran-pertempuran di Toulouse mampu mempertahankan keberadaan Gereja Katolik di belahan Dunia Barat, meskipun kota Roma diluluhlantakkan pada tahun 850, dan kota Konstantinopel telah terkepung. Pada abad ke-11, kerenggangan hubungan antara Gereja Yunani di belahan Dunia Timur dan Gereja Latin di belahan Dunia Barat akhirnya bermuara pada Skisma Timur-Barat, yang turut disebabkan oleh sengketa seputar ruang lingkup kewenangan Sri Paus. Perang Salib IV dan peristiwa penjarahan kota Konstantinopel oleh bala tentara salib membuat perpecahan kedua Gereja menjadi paripurna. Pada abad ke-16, Gereja Katolik menanggapi gerakan Reformasi Protestan dengan gerakan pembaharuan internal yang dikenal dengan sebutan gerakan Kontra Reformasi.[7] Pada abad-abad selanjutnya, agama Kristen Katolik menyebar ke seluruh dunia, kendati mengalami penurunan jumlah pemeluk di Eropa sebagai dampak dari pertumbuhan agama Kristen Protestan serta merebaknya sikap skeptis terhadap agama selama dan sesudah Abad Pencerahan. Konsili Vatikan II yang diselenggarakan pada era 1960-an menghasilkan perubahan-perubahan terpenting dalam praktik-praktik Gereja Katolik selepas Konsili Trento, empat abad sebelumnya.

Awal mula Gereja[sunting | sunting sumber]

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus. Alkitab Perjanjian Baru meriwayatkan perbuatan dan ajaran Yesus, bagaimana ia memilih kedua belas rasulnya, dan amanatnya kepada mereka untuk melanjutkan karyanya.[8][9] Gereja Katolik mengajarkan bahwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul, dalam peristiwa yang disebut pentakosta, menandai permulaan karya pelayanan Gereja Katolik di muka umum.[10] Umat Katolik meyakini bahwa Santo Petrus adalah Uskup Roma yang pertama, dan rasul yang menahbiskan Linus menjadi Uskup Roma berikutnya, dan dengan demikian memulakan urut-urutan suksesi apostolik (alih kepemimpinan rasuliah) yang berkesinambungan sampai dengan Uskup Roma saat ini, Fransiskus. Dengan kata lain, Gereja Katolik menjaga kesinambungan suksesi apostolik Uskup Roma, yakni Sri Paus - pengganti Santo Petrus.[11]

Berkat Pengakuan Petrus yang diriwayatkan dalam Injil Matius, Kristus menetapkan Petrus sebagai "cadas" yang akan menjadi landasan bagi tegaknya Gereja Kristus.[12][13] Meskipun sejumlah pengkaji telah menyatakan bahwa Petrus adalah uskup pertama kota Roma,[14][a] menurut pengkaji lain, keberadaan lembaga kepausan tidak bergantung pada gagasan bahwa Petrus adalah Uskup Roma atau bahkan pada gagasan bahwa Petrus pernah tinggal di Roma.[15] Banyak pengkaji meyakini bahwa struktur kepemimpinan Gereja Roma mula-mula terdiri atas sekumpulan imam/uskup, sebelum menerapkan struktur kepemimpinan Gereja yang terdiri atas satu orang uskup dan sekumpulan imam pada abad ke-2,[16][b] dan bahwasanya para pujangga di kemudian hari menyematkan istilah "Uskup Roma" pada para mendiang rohaniwan Roma yang terkemuka, dan juga pada Petrus sendiri.[16] Berdasarkan pendapat ini, Oscar Cullmann[18] dan Henry Chadwick[19] mempertanyakan keberadaan suatu keterkaitan resmi antara Petrus dan lembaga kepausan modern, sementara Raymond E. Brown berpendapat bahwa, sekalipun pembahasan mengenai Petrus selaku uskup lokal kota Roma merupakan suatu tindakan yang anakronistis, umat Kristen kala itu memang sudah menganggap Petrus memiliki "peranan-peranan yang berkontribusi secara hakiki bagi perkembangan peranan lembaga kepausan dalam Gereja di kemudian hari". Menurut Brown, peranan-peranan ini "sangat besar dampaknya terhadap pandangan orang tentang Uskup Roma, uskup dari kota tempat Petrus wafat, dan tempat Paulus bersaksi tentang kebenaran Kristus, selaku pengganti Petrus yang mengemban tugas penggembalaan Gereja sejagat".[16]

Tatanan perdana[sunting | sunting sumber]

Kondisi Kekaisaran Romawi kala itu membuka peluang bagi penyebaran gagasan-gagasan baru. Jaringan jalan raya serta perhubungan laut dan perairan yang dibina dengan baik oleh Kekaisaran Romawi mempermudah orang untuk melakukan perjalanan jauh, sementara Pax Romana memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain tanpa mengkhawatirkan gangguan keamanan. Pemerintah mendorong warga negara, terutama yang berdiam di daerah perkotaan, untuk belajar bahasa Yunani, dan penguasaan lingua franca tersebut memudahkan warga negara di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi untuk mengungkapkan gagasannya dan memahami gagasan orang lain.[20] Rasul-rasul Yesus mendapatkan pengikut-pengikut baru di dalam paguyuban-paguyuban umat Yahudi di seluruh kawasan Laut Tengah,[21] dan sekitar 40 paguyuban umat Kristen telah terbentuk pada 100 M.[22] Meskipun sebagian besar berlokasi di dalam wilayah Kekaisaran Romawi, paguyuban-paguyuban umat Kristen juga terbentuk di Armenia, Iran, dan sepanjang daerah Pesisir Malabar di India.[23][24] Agama baru ini menarik banyak peminat, terutama di kota-kota; mula-mula tersebar di kalangan budak belian dan orang-orang dari kalangan bawah, namun kemudian menyebar pula di kalangan perempuan bangsawan.[25]

Mula-mula umat Kristen masih beribadat bersama-sama dengan umat Yahudi, sehingga disebut umat Kristen Yahudi oleh para sejarawan, akan tetapi dalam jangka waktu dua puluh tahun sesudah Yesus wafat, hari Minggu dijadikan hari peribadatan utama.[26] Setelah para pendakwah seperti Paulus dari Tarsus mulai mendapatkan pengikut baru dari kalangan non-Yahudi, ajaran Kristen lambat laun terpisahkan dari praktik-praktik agama Yahudi[21] dan tumbuh menjadi agama tersendiri,[27] meskipun pembahasan-pembahasan seputar hubungan antara Paulus dari Tarsus dan agama Yahudi masih diperdebatkan sampai sekarang. Untuk menyelesaikan perbedaan ajaran antargolongan yang saling bersaing dalam Gereja, pada ca. 50 M, para rasul menyelenggarakan konsili yang pertama dalam sejarah Gereja, yakni Konsili Yerusalem. Konsili ini menetapkan bahwa orang-orang non-Yahudi dibenarkan menjadi umat Kristen tanpa perlu menaati seluruh hukum Musa.[5] Ketegangan yang terus meningkat dalam waktu singkat semakin memperlebar kesenjangan antara umat Kristen dan umat Yahudi. Keterpisahan ini nyaris purna manakala umat Kristen menolak ikut serta dalam Pemberontakan Bar Kohba yang dikobarkan orang Yahudi pada 132.[28] Meskipun demikian, sejumlah paguyuban umat Kristen masih mempertahankan anasir-anasir praktik agama Yahudi.[29]

Menurut beberapa sejarawan dan pengkaji, tatanan Gereja perdana tidaklah kaku, sehingga membuka peluang bagi munculnya berbagai macam tafsir atas keyakinan-keyakinan Kristen.[30] Dengan maksud antara lain untuk memastikan adanya konsistensi yang lebih besar dalam ajaran-ajarannya, pada penghujung abad ke-2, paguyuban-paguyuban umat Kristen telah mengembangkan suatu hierarki yang lebih tertata, yakni satu orang uskup dengan kewenangan atas seluruh rohaniwan di dalam kota kediamannya.[31] Tatanan ini terus berkembang dan di kemudian hari melahirkan jabatan uskup metropolit. Organisasi Gereja mulai meniru organisasi kekaisaran; uskup-uskup di kota-kota yang memiliki peranan penting di bidang politik memiliki kewenangan yang lebih besar atas uskup-uskup di kota-kota sekitarnya.[32] Gereja di Antiokhia, Aleksandria, dan Roma menempati posisi-posisi tertinggi.[33] Semenjak abad ke-2, uskup-uskup kerap berhimpun untuk bermusyawarah dalam sinode-sinode regional guna menuntaskan permasalahan-permasalahan seputar doktrin dan kebijakan.[5] Duffy berpendapat bahwa pada abad ke-3, Uskup Roma mulai bertindak selaku mahkamah banding untuk perkara-perkara yang tidak dapat dituntaskan oleh uskup-uskup lain.[6]

Doktrin Gereja semakin disempurnakan oleh sejumlah teolog dan pengajar berwibawa, yang secara kolektif disebut Bapa-Bapa Gereja.[34] Semenjak 100 M, pengajar-pengajar proto-ortodoks seperti Ignasius dari Antiokhia dan Ireneus merumuskan ajaran Katolik sedemikian rupa sehingga sangat berbeda dari ajaran-ajaran lain, misalnya ajaran-ajaran Gnostik.[35] Pada abad-abad pertama keberadaannya, Gereja merumuskan ajaran-ajaran dan tradisi-tradisinya menjadi satu kesatuan yang utuh dan sistematis di bawah pengaruh para ahli apologetika teologi seperti Paus Klemens I, Yustinus Martir, dan Agustinus dari Hipo.[36]

Aniaya[sunting | sunting sumber]

Berbeda dari kebanyakan agama lain di Kekaisaran Romawi, agama Kristen mewajibkan pemeluknya untuk mendustakan semua ilah lain. Kewajiban semacam ini diadopsi dari agama Yahudi. Penolakan umat Kristen untuk ikut serta merayakan hari-hari besar agama leluhur menghalangi mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat. Sikap seperti ini membuat warga non-Kristen, termasuk para pejabat pemerintah, khawatir dewa-dewi akan murka, sehingga ketenteraman dan kesejahteraan Kekaisaran Romawi juga akan ikut terancam. Selain itu, keakraban khusus antarsesama pemeluk agama Kristen dan kerahasiaan praktik-praktik peribadatannya menimbulkan desas-desus bahwa umat Kristen melakukan inses dan kanibalisme. Penindasan-penindasan yang timbul akibat desas-desus ini, meskipun lazimnya bersifat lokal dan sporadis, merupakan salah satu unsur pembentuk wawasan diri umat Kristen sampai agama Kristen dilegalkan pada abad ke-4.[37][38] Serangkaian penindasan yang lebih terorganisasi terhadap umat Kristen dilancarkan pada akhir abad ke-3, manakala para kaisar mengumumkan bahwa krisis militer, politik, dan ekonomi yang melanda Kekaisaran Romawi adalah akibat dari murka dewa-dewi. Segenap warga diperintahkan untuk mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi dengan ancaman hukuman mati.[39] Umat Yahudi dikecualikan dari perintah ini jika bersedia membayar pajak khusus Yahudi. Jumlah umat Kristen yang dieksekusi mati berkisar dari beberapa ratus jiwa sampai 50.000 jiwa.[40] Banyak yang melarikan diri[41] atau murtad. Silang pendapat seputar status orang-orang murtad yang kembali ke pangkuan Gereja merupakan penyebab skisma Donatisme dan skisma Novasianisme.[42]

Sekalipun berulang kali ditindas, karya pewartaan Injil terus berjalan, dan akhirnya bermuara pada Maklumat Milan yang melegalkan agama Kristen pada tahun 313.[43] Pada tahun 380, agama Kristen telah menjadi agama negara Kekaisaran Romawi.[44] Filsuf religius Simone Weil mengemukakan dalam tulisannya bahwa "pada zaman Konstantinus, keadaan pengharapan apokaliptik tentunya sudah lumayan menipis. [Kedatangan Kristus yang sudah di ambang pintu, pengharapan akan hari penghabisan - merupakan 'bahaya sosial yang sangat besar.'] Selain itu, semangat hukum lama, yang sangat jauh terpisah dari segala macam perkara mistik, tidak begitu beda dari semangat Romawi itu sendiri. Roma dapat menyesuaikan diri dengan Allah Bala Tentara."[45]

Akhir Abad Kuno[sunting | sunting sumber]

Kaisar Konstantinus I menetapkan hak-hak Gereja pada tahun 315

Ketika dinobatkan menjadi Kaisar Romawi Barat pada tahun 312, Konstantinus mengakui bahwa kemenangannya adalah anugerah dari Allah orang Kristen. Banyak prajurit bala tentara Konstantinus adalah pemeluk agama Kristen, dan bala tentara ini merupakan tumpuan kekuasaannya. Bersama Lisinius, Kaisar Romawi Timur, ia menerbitkan Maklumat Milan yang mewajibkan sikap toleransi terhadap semua agama yang hidup dan berkembang di dalam wilayah Kekaisaran Romawi. Maklumat ini tidak banyak berpengaruh terhadap sikap dan perilaku warga negara.[46] Berbagai undang-undang baru dirumuskan untuk membakukan sejumlah keyakinan dan amalan Kristen.[c][47] Jasa terbesar Konstantinus bagi agama Kristen adalah pengayoman yang ia berikan. Ia menganugerahkan berbidang-bidang tanah serta sejumlah besar uang kepada Gereja, dan memberi hak untuk dikecualikan dari kewajiban membayar pajak serta berbagai keistimewaan hukum lainnya bagi properti dan personel Gereja.[48] Anugerah-anugerah ini serta anugerah-anugerah yang diterima di kemudian hari membuat Gereja menjadi pemilik tanah terluas di wilayah barat Kekaisaran Romawi pada abad ke-6.[49] Banyak dari anugerah-anugerah ini dibiayai dengan dengan dana dari pajak berat yang dibebankan atas lembaga-lembaga pengamalan kepercayaan leluhur.[48] Sejumlah lembaga ini terpaksa bubar akibat kekurangan dana. Manakala lembaga-lembaga ini bubar, Gereja pun mengambil alih peran mereka selaku penyantun fakir miskin.[50] Sebagai cerminan dari kedudukan yang kian menanjak naik di tengah-tengah masyarakat Kekaisaran Romawi, kaum rohaniwan mulai berpakaian selayaknya warga rumah tangga istana, antara lain dengan mengenakan korkap.[51]

Pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus, sekitar separuh dari orang-orang yang mengaku memeluk agama Kristen tidak tergolong anggota jemaat Kristen arus utama.[52] Kaisar Konstantinus khawatir umat Kristen yang tidak bersatu akan membuat Allah tidak berkenan dan akan membuahkan petaka bagi negara, oleh karena itu ia membubarkan sejumlah sekte Kristen dengan kekuatan militer maupun lewat jalur hukum.[53] Untuk menyelesaikan berbagai sengketa lain, Kaisar Konstantinus memprakarsai penyelenggaraan konsili oikumene guna menetapkan tafsir-tafsir doktrin Gereja yang bersifat mengikat.[54]

Ketetapan mengenai keilahian Kristus yang dihasilkan Konsili Nicea pada tahun 325 menimbulkan skisma. Agama Kristen aliran baru, yang disebut Arianisme, berkembang di luar wilayah Kekaisaran Romawi.[55] Guna membedakan dirinya dengan aliran Arianisme, Gereja Katolik mengedepankan devosi terhadap Bunda Maria. Tindakan ini malah menimbulkan skisma-skisma lain.[56][57]

Pada tahun 380, agama Kristen aliran utama–lawan dari aliran Arianisme–dijadikan agama resmi negara Kekaisaran Romawi.[58] Agama Kristen kian lama kian identik dengan negara Kekaisaran Romawi, sampai-sampai menjadi penyebab tindakan persekusi terhadap umat Kristen di negara-negara lain, karena para penguasa di negara-negara itu khawatir umat Kristen akan memberontak demi mendukung Kaisar Romawi.[59] Pada tahun 385, kewenangan hukum baru bagi Gereja ini untuk pertama kalinya menjatuhkan pidana mati sebagai hukuman bagi ahli bidah Kristen, yakni terhadap Prisilianus.[60]

Pada kurun waktu inilah, susunan kitab-kitab yang dihormati sebagai Kitab Suci untuk pertama kalinya ditetapkan dalam konsili-konsili atau sinode-sinode waligereja melalui tahapan-tahapan 'kanonisasi' yang resmi. Sebelum konsili-konsili atau sinode-sinode ini diselenggaraan, susunan Alkitab sudah mencapai bentuk yang nyaris identik dengan bentuk yang ada sekarang ini. Menurut beberapa keterangan tertulis, Konsili Roma untuk pertama kalinya mengakui kanon Alkitab secara resmi pada tahun 382, dengan menetapkan daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang sahih, dan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin yang dikenal dengan sebutan Vulgata dikerjakan pada tahun 391.[61] Menurut keterangan-keterangan tertulis lain, Konsili Kartago tahun 397 adalah konsili yang menetapkan bentuk paripurna Alkitab sebagaimana yang ada sekarang ini.[62] Konsili Efesus tahun 431 memperjelas kodrat inkarnasi Yesus, dengan menyatakan bahwa Yesus adalah manusia yang seutuhnya sekaligus Allah yang seutuhnya.[63] Dua dasawarsa kemudian, Konsili Kalsedon mengukuhkan primasi Paus Roma, sehingga kian meretakkan hubungan baik antara Roma dan Konstantinopel, pusat utama Gereja Timur.[64] Muncul pula sengketa monofisitisme tentang bagaimana persisnya kodrat inkarnasi Yesus. Sengketa ini bermuara pada perpecahan antara Gereja Katolik dan Gereja-Gereja yang tergabung dalam persekutuan Gereja Ortodoks Oriental.[65]

Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Awal Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Setelah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476, agama Kristen Katolik bersaing dengan aliran Kristen Arian dalam mencari pengikut baru dari suku-suku barbar.[66] Semenjak Klovis I, raja orang Franka, meninggalkan agama lelulurnya dan memeluk agama Kristen Katolik pada tahun 496, agama Kristen Katolik mulai berkembang dengan lancar di kawasan barat Eropa.[67]

Santo Benediktus, sesepuh dunia zuhud Gereja Barat sekaligus penyusun Regula Santo Benediktus. Detail dari fresko karya Fra Angelico, ca. 1437–1446.

Pada tahun 530, Santo Benediktus menyusun Regula Benediktus sebagai panduan praktis dalam menjalani kehidupan sehari-hari di biara. Regula ini tersebar ke biara-biara di seantero Eropa.[68] Biara-biara menjadi saluran utama peradaban yang melestarikan berbagai keterampilan dan kepandaian serta budaya intelektual di sekolah-sekolah, skriptorium-skriptorium, dan perpustakaan-perpustakaannya. Biara-biara menjadi pusat pertanian, ekonomi, dan produksi sekaligus menjadi pusat kehidupan rohani.[69] Pada kurun waktu inilah orang Visigoth dan orang Lombardi beralih keyakinan dari Kristen Arian ke Kristen Katolik.[67] Paus Gregorius Agung berjasa besar dalam peralihan keyakinan orang Visigoth dan orang Lombardi, penataan ulang struktur dan administrasi Gereja, serta pelaksanaan usaha-usaha dakwah yang baru.[70] Misionaris-misionaris dari Roma semisal Santo Agustinus dari Canterbury, yang diutus untuk menyebarkan agama Kristen di tengah-tengah suku bangsa Angli-Saksen, maupun misionaris-misionaris dari Irlandia dan Skotlandia, Santo Kolumbanus, Santo Bonifasius, Santo Wilibrordus, Santo Anskarius, dan banyak misionaris lain membawa agama Kristen sampai ke kawasan utara Eropa, dan mendakwahkan iman Katolik kepada suku-suku Jermani serta suku-suku Slav, juga kepada orang Viking dan suku-suku Skandinavia lainnya pada abad-abad sesudahnya.[71] Sekalipun tidak bersifat mutlak sebagaimana yang diklaim oleh sebagian pihak, Sinode Whitby tahun 664 merupakan suatu peristiwa penting dalam penyatuan kembali Gereja Kelt di Kepulauan Inggris ke dalam hierarki Gereja Roma, sesudah putus hubungan dengan Roma akibat invasi suku-suku penganut agama leluhur. Di Italia, peristiwa penghibahan di Sutri tahun 728 dan penghibahan Pipin tahun 756 menjadikan lembaga kepausan sebagai penguasa sebuah kerajaan dengan wilayah yang lumayan luas. Penghibahan Konstantinus, yang mungkin sekali direkayasa pada abad ke-8, semakin mengukuhkan kekuasaan Sri Paus atas bekas wilayah barat Kekaisaran Romawi.

Pada permulaan abad ke-8, kebijakan anti-ikon di Romawi Timur menjadi biang keladi utama dari sengketa antara Gereja Timur dan Gereja Barat. Para Kaisar Romawi Timur melarang pembuatan dan penghormatan gambar-gambar religius, karena dianggap melanggar Dasa Titah. Agama-agama besar lain di Dunia Timur semisal agama Yahudi dan agama Islam juga memiliki larangan serupa. Paus Gregorius III menentang keras larangan ini.[72] Irene, permaisuri kaisar baru yang sehaluan dengan Sri Paus, menggelar sebuah konsili oikumene untuk menuntaskan permasalahan ini. Pada tahun 787, bapa-bapa (para uskup peserta) Konsili Nikea II "menyambut hangat para utusan beserta surat dari Sri Paus".[73] Dalam sidang penutup konsili yang dipimpin oleh wakil-wakil Paus Hadrianus I,[74] 300 orang uskup peserta konsili "menerima ajaran Sri Paus",[73] yang membenarkan pembuatan dan penghormatan ikon.

Dengan penobatan Karel Agung oleh Paus Leo III pada tahun 800, serta penganugerahan gelar Patricius Romanorum (Bangsawan Orang Romawi) dan penyerahan kunci Makam Santo Petrus kepadanya, lembaga kepausan mendapatkan pelindung baru di Dunia Barat. Dukungan pelindung baru membuat para paus sampai taraf tertentu dapat memerdekakan diri dari kekuasaan kaisar di Konstantinopel, tetapi pelindung baru ini juga menjadi salah satu pangkal penyebab skisma. Para kaisar dan para Batrik Konstantinopel menganggap diri mereka sebagai penerus sejati Kekaisaran Romawi semenjak permulaan sejarah Gereja.[75] Paus Nikolaus I menolak mengakui kesahihan jabatan Fotios I selaku Batrik Konstantinopel, yang sebaliknya mendakwa Sri Paus sebagai ahli bidah lantaran mempertahankan frasa filioque dalam syahadat, dan oleh karena itu dianggap sama saja dengan percaya bahwa Roh Kudus keluar dari Allah Bapa "dan Putra". Dukungan pelindung baru memang memperkuat lembaga kepausan menjadi, tetapi dalam jangka panjang justru menciptakan masalah baru bagi para paus, yakni kontroversi investitur, manakala para kaisar berusaha menempatkan orang-orang yang dikehendakinya pada jabatan uskup dan bahkan jabatan paus.[76][77] Setelah Kekaisaran Karoling terpecah belah dan laskar-laskar Islam mulai kerap melancarkan rongrongan ke wilayah Italia, lembaga kepausan, yang sudah tidak memiliki perlindung sama sekali, memasuki kurun waktu ketidakberdayaan.[78]

Puncak Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Santo Tomas Aquinas menatang seluruh Gereja dan teologinya

Zaman Industri[sunting | sunting sumber]

Konsili Vatikan I[sunting | sunting sumber]

Sebelum Konsili Vatikan I, pada 1854, Paus Pius IX dengan dukungan penuh dari sebagian besar uskup Gereja Katolik yang ia mintai saran antara 1851–1853, mempermaklumkan dogma Maria dikandung tanpa noda.[79] Delapan tahun sebelumnya, pada 1846, Sri Paus sudah mengabulkan harapan para uskup dari Amerika Serikat, dan mempermaklumkan Bunda Maria yang dikandung tanpa noda sebagai pelindung Amerika Serikat.[80]

Dalam Konsili Vatikan I, sekitar 108 orang bapa konsili meminta agar menambahkan frasa "perawan tak bernoda" ke dalam doa Salam Maria.[81] Sejumlah bapa konsili meminta agar dogma Maria dikandung tanpa noda dimasukkan ke dalam syahadat Gereja, namun ditentang oleh Paus Pius IX[82] Banyak dari umat Katolik Prancis menghendaki agar konsili oikumene ini mendogmatisasi infalibilitas Sri Paus dan keyakinan bahwa Maria telah diangkat ke surga.[83] Pada Konsili Vatikan I, ada sembilan petisi mariologi yang mendukung keyakinan Maria diangkat ke surga dijadikan dogma, yang justru ditentang keras oleh beberapa bapa konsili, terutama yang berasal dari Jerman. Pada 1870, Konsili Vatikan I mengukuhkan doktrin infalibilitas Sri Paus bilamana dilaksanakan dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang didefinisikan secara khusus.[84][85] Kontroversi mengenai hal ini dan isu-isu lainnya mengakibatkan segolongan kecil umat Katolik memisahkan diri dan membentuk Gereja Katolik Lama.[86]

Ajaran sosial[sunting | sunting sumber]

Gereja, yang lamban bereaksi terhadap perkembangan industrialisasi dan pemiskinan buruh, pertama-tama berusaha meneduhkan situasi dengan meningkatkan karya amal kasih. Pada 1891 Paus Leo XIII menerbitkan Rerum novarum yang memuat definisi martabat dan hak-hak pekerja industri menurut Gereja.

Revolusi Industri memunculkan banyak keprihatinan mengenai memburuknya pekerjaan dan kondisi hidup kaum buruh di perkotaan. Dipengaruhi oleh Uskup Jerman yang bernama Wilhelm Emmanuel Freiherr von Ketteler, Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik Rerum novarum pada 1891. Ensiklik ini berisi penjabaran ajaran sosial Katolik yang menolak sosialisme namun menganjurkan regulasi ksyarat-syarat kerja. Rerum novarum mendesak dilakukannya penetapan upah hidup dan pengakuan hak kaum buruh untuk membentuk serikat-serikat buruh.[87]

Quadragesimo anno dikeluarkan oleh Paus Pius XI pada 15 Mei 1931, 40 tahun sesudah terbitnya Rerum novarum. Berbeda dari Paus Leo XIII yang lebih banyak membahas mengenai kondisi kaum buruh, Paus Pius XI memusatkan perhatiannya pada implikasi-implikasi etis dari tata tertib sosial dan ekonomi. Ia mengimbau agar dilakukan rekonstruksi tata tertib sosial berdasarkan prinsip solidaritas dan subsideritas.[88] Ia mengungkap pula mengenai bahasa-bahaya besar yang mengancam kemerdekaan dan martabat luhur manusia yang muncul dari kapitalisme yang tanpa batasan dan komunisme totaliter.

Ajaran-ajaran sosial dari Paus Pius XII mengulangi ajaran-ajaran ini, dan menjabarkannya secara lebih terperinci bukan hanya bagi kaum buruh dan kaum pemilik modal, melainkan juga bagi profesi-profesi lain seperti politikus, pendidik, ibu rumah tangga, petani, ahli pembukuan, organisasi internasional, dan segala aspek kehidupan termasuk militer. Ia bahkan melangkah lebih jauh lagi daripada Paus Pius XI dengan merumuskan pula ajaran-ajaran sosial di bidang kedokteran, psikologi, olah raga, televisi, ilmu pengetahuan, hukum, dan pendidikan. Nyaris tidak ada isu sosial yang tidak dibahas dan dihubungkan dengan iman Kristen oleh Paus Pius XII.[89] Ia dijuluki "Paus Teknologi" karena kesediaan dan kesanggupannya untuk menguji dampak-dampak sosial dari kemajuan teknologi. Pokok perhatian utamanya adalah keberlangsungan hak-hak dan kemuliaan martabat tiap-tiap manusia. Dengan bermulanya Abad Antariksa menjelang akhir masa jabatannya, Paus Pius XII menelaah implikasi-implikasi sosial dari penjelajahan antariksa dan satelit-satelit terhadap sarana pemersatu umat manusia dengan mengimbau masyarakat untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas yang baru dalam terang ajaran-ajaran Sri Paus sebelumnya mengenai subsidiaritas.[90]

Lembaga-lembaga peranan wanita[sunting | sunting sumber]

Suster-suster Katolik dan anak-anak penderita kusta di Hawaii pada 1886. Perempuan-perempuan Katolik semisal Santa Marianne Cope berperan utama dalam mengembangkan dan menjalankan berbagai sistem pendidikan dan perawatan kesehatan modern.

Kaum perempuan Katolik telah berperan penting dalam penyediaan pendidikan dan pelayanan kesehatan sebagai wujud pengamalan ajaran sosial Katolik. Tarekat-tarekat kuno seperti Karmelit telah melakukan karya sosial selama berabad-abad.[91] Pada abad ke-19, marak bermunculan tarekat-tarekat religius baru bagi kaum perempuan yang berkiprah di bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan.Dari antara tarekat-tarekat ini, Tarekat Suster-Suster Don Bosco, Tarekat Suster-Suster Klaretin, dan Tarekat Misionaris Maria Fransiskan adalah tarekat-tarekat religius Katolik untuk kaum perempuan yang paling besar.[92]

Tarekat Suster-Suster Belas Kasih dibentuk oleh Catherine McAuley di Irlandia pada tahun 1831. Anggota-anggotanya tarekat ini di kemudian hari mendirikan rumah-rumah sakit dan sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia.[93]

Mariologi[sunting | sunting sumber]

Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus, karya Filippo Lippi

Para paus telah berulang kali menonjolkan kaitan erat antara Perawan Maria sebagai Bunda Allah dan penerimaan penuh akan Yesus Kristus sebagai Putra Allah.[94][95]

  1. ^ "Vatican congregation reaffirms truth, oneness of Catholic Church". Catholic News Service. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Juli 2007. Diakses tanggal 17 Maret 2012. 
  2. ^ (Inggris) "Paragraph 862", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012, diakses tanggal 16 November 2014 
  3. ^ Hitchcock, Geography of Religion (2004), hlm. 281, kutipan: "Beberapa di antaranya (jemaat-jemaat Kristen) didirikan oleh Petrus, murid yang ditunjuk Yesus menjadi pendiri Gereja. Manakala jabatan ini terlembagakan, para sejarawan pun menelaah masa lampau dan mengakui bahwa Petrus adalah paus pertama paguyuban umat Kristen di kota Roma"
  4. ^ Norman, The Roman Catholic Church an Illustrated History (2007), hlmn. 11, 14, kutipan: "Gereja ini didirikan oleh Yesus sendiri semasa hidupnya di dunia.", "Karya kerasulan ini dibentuk di Roma, ibu kota dunia ketika Gereja pertama kali berdiri; jelas-jelas kota inilah yang menjadi pusat kesejagatan ajaran agama Kristen–para uskup Romalah yang sejak semula diminta uskup-uskup lain untuk mengeluarkan amar putusan bilamana terjadi silang pendapat."
  5. ^ a b c Chadwick, Henry, hlm. 37.
  6. ^ a b Duffy, hlm. 18.
  7. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Norman81
  8. ^ Kreeft, hlm. 980.
  9. ^ Bokenkotter, hlm. 30.
  10. ^ Barry, hlm. 46.
  11. ^ (Inggris) CCC, 880–881, Vatican.va, diakses tanggal 1 November 2014 
  12. ^ Christian Bible, Matius 16:13-20
  13. ^ "Saint Peter the Apostle: Incidents important in interpretations of Peter". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 8 November 2014. 
  14. ^ a b Wikisource-logo.svg Joyce, George (1913). "The Pope". Dalam Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  15. ^ "Was Peter in Rome?". Catholic Answers. 10 Agustus 2004. Diakses tanggal 9 November 2014. andaikata Petrus tidak pernah menginjakkan kakinya di kota Roma, ia tetap dapat menjadi paus pertama, karena salah seorang penggantinya dapat saja menjadi pemegang jabatan itu yang pertama kali menetap di Roma. Bagaimanapun juga, kepausan ada karena dilembagakan oleh Kristus semasa hidupnya, jauh sebelum Petrus diriwayatkan telah berkunjung ke Roma. Sudah tentu ada rentang waktu selama beberapa tahun manakala lembaga kepausan belum memiliki kaitan dengan kota Roma. 
  16. ^ a b c Raymond E. Brown, 101 Questions and Answers on the Bible (Paulist Press 2003 ISBN 978-0-80914251-4), hlmn. 132–134
  17. ^ Bart D. Ehrman. "Peter, Paul, and Mary Magdalene: The Followers of Jesus in History and Legend." Oxford University Press, USA. 2006. ISBN 0-19-530013-0. hlm. 84
  18. ^ Oscar Cullmann (1962), Peter: Disciple, Apostle, Martyr (ed. ke-2), Westminster Press hlm. 234
  19. ^ Henry Chadwick (1993), The Early Church, Penguin Books hlm. 18
  20. ^ Bokenkotter, hlm. 24.
  21. ^ a b Chadwick, Henry, hlmn. 23–24.
  22. ^ Hitchcock, Geography of Religion (2004), hlm. 281, kutipan: "Pada 100 M, lebih dari 40 jemaat Kristen tumbuh di kota-kota yang tersebar di sekeliling Laut Tengah, termasuk dua jemaat di Afrika Utara, yakni di Aleksandria dan Kirene, serta beberapa jemaat di Italia."
  23. ^ A.E. Medlycott, India and The Apostle Thomas, hlmn.1-71, 213-97; M.R. James, Apocryphal New Testament, hlmn.364-436; Eusebius, Historia, bab 4:30; J.N. Farquhar, The Apostle Thomas in North India, bab 4:30; V.A. Smith, Early History of India, hlm.235; L.W. Brown, The Indian Christians of St. Thomas, hlmn.49–59
  24. ^ stthoma.com, stthoma.com, diakses tanggal 8 Agustus 2013 
  25. ^ McMullen, hlmn. 37, 83.
  26. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlm. 115
  27. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 109.
  28. ^ Davidson, The Birth of the Church' (2005), hlm. 146
  29. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlm. 149
  30. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn.127–131.
  31. ^ Duffy, hlmn. 9–10.
  32. ^ Markus, hlm. 75.
  33. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 134.
  34. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 141.
  35. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlmn. 169, 181
  36. ^ Norman, The Roman Catholic Church an Illustrated History (2007), hlmn. 27–8, quote: "Sejumlah ahli apologetika kenamaan yang muncul silih berganti menambah kewibawaan intelektual atas kumpulan ajaran yang dimiliki lembaga kepausan, tepat pada waktunya, dalam kurun waktu awal perkembangannya, manakala ketiadaan suatu jawatan pengajaran dapat memecah-belah kesaksian universal, sehingga menjadi satu kesatuan gagasan yang utuh. Pada penghujung abad pertama, muncul Santo Klemens dari Roma, pengganti Santo Petrus yang ketiga selaku Uskup Roma; pada abad kedua muncul Santo Ignasius dari Antiokhia, Santo Ireneus dari Lyons, dan Santo Yustinus Martir; pada abad keempat muncul Santo Agustinus dari Hipo.
  37. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn. 155–159, 164.
  38. ^ Chadwick, Henry, hlm. 41.
  39. ^ Chadwick, Henry, hlmn. 41–42, 55.
  40. ^ Heikki Räisänen (2010). The Rise of Christian Beliefs: The Thought World of Early Christians. Fortress Press. hlm. 292. ISBN 9781451409536. 
  41. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 174.
  42. ^ Duffy, hlm. 20.
  43. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlmn. 58-59
  44. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlm. 59
  45. ^ Weil, Letter to a Priest, excerpt 35
  46. ^ McMullen, hlm. 44.
  47. ^ Bokenkotter, hlm. 41.
  48. ^ a b McMullen, hlm. 49–50.
  49. ^ Duffy, hlm. 64.
  50. ^ McMullen, hlm. 54.
  51. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 199.
  52. ^ McMullen, hlm. 93.
  53. ^ Duffy, hlm. 27. Chadwick, Henry, hlm. 56.
  54. ^ Duffy, hlm. 29. MacCulloch Christianity, hlm. 212.
  55. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 221.
  56. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 225.
  57. ^ Chadwick, Henry, hlmn. 56–57.
  58. ^ Duffy, hlm. 34.
  59. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn. 185, 212.
  60. ^ "Lecture 27: Heretics, Heresies and the Church". 2009. Diakses tanggal 24 April 2010.  Review of Church policies towards heresy, including capital punishment (lihat Sinode di Saragossa).
  61. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlmn. 61–62
  62. ^ Denzinger 186 menurut penomoran baru, 92 Archived 18 April 2010 di Wayback Machine. menurut penomoran lama
  63. ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 35
  64. ^ Bokenkotter, A Concise History of the Catholic Church (2004), hlmn. 84–93
  65. ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity (2002), hlm. 142, Bab 4 Eastern Christendom karya Kallistos Ware
  66. ^ Le Goff, Medieval Civilization (1964), hlmn. 5–20
  67. ^ a b Le Goff, Medieval Civilization (1964), hlm. 21
  68. ^ Woods, How the Church Built Western Civilization (2005), hlm. 27
  69. ^ Le Goff, Medieval Civilization (1964), hlm. 120
  70. ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 50–52
  71. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlmn. 84–6
  72. ^ Vidmar, Jedin 34
  73. ^ a b Duffy, Saints and Sinners (1997), hlmn. 63, 74
  74. ^ Franzen 35
  75. ^ Jedin 36
  76. ^ Vidmar, The Catholic Church Through the Ages (2005), hlmn. 107–111
  77. ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 78, quote: "Pengganti Paus Paskalis, Paus Eugenius II (824–7), justru terpilih berkat pengaruh kaisar, sehingga menghilangkan sebagian besar dari keuntungan-keuntungan yang sudah dicapai lembaga kepausan. Ia mengakui kedaulatan kaisar atas Negara Gereja, dan menerima undang-undang dasar sodoran dari Lothair yang mengesahkan pengawasan kekaisaran atas tata usaha pemerintahan Roma, memaksa seluruh warga Negara Gereja untuk bersumpah setia kepada kaisar, dan mewajibkan paus terpilih untuk bersumpah setia kepada kaisar sebelum dinobatkan. Bahkan pada masa jabatan Paus Sergius II (844–847), ditetapkan bahwa paus terpilih tidak boleh dinobatkan tanpa mandat kaisar, dan upacara penobatan harus dihadiri oleh wakil kaisar. Pemberlakuan ketetapan ini sama saja dengan menghidupkan kembali sejumlah aturan Kekaisaran Romawi Timur yang jauh lebih merendahkan martabat."
  78. ^ Franzen. 36–42
  79. ^ John Paul II, General Audience, Vatican.va, Maret 24, 1993, diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Agustus 2011, diakses tanggal 8 Agustus 2013 
  80. ^ Pius IX dalam Bäumer, hlm. 245
  81. ^ and to add the Immaculata to the Litany of Loreto.
  82. ^ Bauer 566
  83. ^ Civilta Catolica 6 Februari 1869.
  84. ^ Leith, Creeds of the Churches (1963), p. 143
  85. ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 232
  86. ^ Fahlbusch, The Encyclopedia of Christianity (2001), hlm. 729
  87. ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 240
  88. ^ Duffy 260
  89. ^ Franzen, 368
  90. ^ Felicity O'Brien, Pius XII, London 2000, hlm.13
  91. ^ Geoffrey Blainey; A Short History of Christianity; Penguin Viking; 2011
  92. ^ 140th anniversary of largest women’s religious institute : News Headlines, Catholic Culture, 3 Mei 2012, diakses tanggal 8 Agustus 2013 
  93. ^ Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Sisters of Mercy". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  94. ^ Mystici corporis, Lumen gentium dan Redemptoris Mater menyajikan pemahaman Katolik modern mengenai keterkaitan ini.
  95. ^ lihat Mystici corporis yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII, dan Redemptoris Mater yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II: Konsili Vatikan II, dengan menghadirkan Maria dalam misteri Kristus, juga menemukan jalan untuk memahami misteri Gereja secara lebih mendalam. Maria, sebagai Bunda Kristus, bersatu sedemikian rupa dengan Gereja, "yang didirikan Tuhan sebagai tubuh-Nya sendiri."


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tag <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan, atau </ref> penutup tidak ada