Sejarah Gereja Katolik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Sejarah Gereja Katolik bermula dari pribadi dan ajaran Yesus Kristus (ca. 4 SM – ca. 30 M) yang hidup di wilayah Tetrarki Wangsa Herodes (di kemudian hari menjadi Provinsi Yudea dalam wilayah Kekaisaran Romawi).[1] Menurut ajarannya sendiri, Gereja Katolik adalah kesinambungan dari paguyuban umat Kristen perdana yang didirikan oleh Yesus Kristus,[2] uskup-uskupnya adalah para pengganti rasul-rasul Yesus, dan Uskup Roma (Sri Paus) adalah satu-satunya pengganti Santo Petrus[3] yang–diriwayatkan dalam Alkitab Perjanjian Baru–ditunjuk oleh Yesus menjadi kepala Gereja dan berkarya di kota Roma.[4][5] Pada akhir abad ke-2, para uskup mulai menyelenggarakan sinode-sinode tingkat regional untuk menuntaskan berbagai perkara terkait ajaran dan kebijakan.[6] Pada abad ke-3, Uskup Roma mulai bertindak sebagai hakim banding bagi perkara-perkara yang tidak dapat dituntaskan oleh uskup-uskup lain.[7]

Agama Kristen menyebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Romawi, meskipun ditindas karena bertentangan dengan penyembahan berhala yang merupakan agama negara. Pada 313, penindasan yang dialami Gereja perdana mulai mereda setelah agama Kristen dilegalkan oleh Kaisar Konstantinus I. Pada 380, Kaisar Teodosius I mempermaklumkan agama Kristen Katolik sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi. Agama Kristen menjadi agama negara hingga runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, dan bertahan sebagai agama negara di wilayah Kekaisaran Romawi Timur hingga jatuhnya kota Konstantinopel. Tujuh Konsili Oikumene yang pertama diselenggarakan pada kurun waktu ketika agama Kristen menjadi agama negara Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan Gereja, Eusebius dari Kaisarea, selama kurun waktu ini ada lima keuskupan (wilayah kewenangan dalam Gereja Katolik) utama yang disegani, yakni Roma, Konstantinopel, Antiokhia, Yerusalem, dan Aleksandria. Lima keuskupan utama ini disebut Pentarki.

Sepanjang lima abad berikutnya, sejarah Gereja Katolik diwarnai bentrok antara umat Kristen dan umat Islam di seantero kawasan Laut Tengah. Pertempuran Poitiers dan Pertempuran Toulouse mampu mempertahankan keberadaan Gereja Katolik di belahan Dunia Barat, meskipun Roma hancur luluh pada 850, dan Konstantinopel telah terkepung. Pada abad ke-11, kerenggangan hubungan antara Gereja Yunani di timur dan Gereja Latin di barat akhirnya bermuara pada Skisma Timur-Barat yang juga turut disebabkan oleh sengketa seputar kewenangan Sri Paus. Perang salib keempat dan penjarahan Konstantinopel oleh bala tentara salib membuat perpecahan itu menjadi paripurna. Pada abad ke-16, Gereja Katolik menanggapi gerakan Reformasi Protestan dengan melakukan perombakan dan pembaharuan yang dikenal dengan sebutan Kontra Reformasi.[8] Pada abad-abad berikutnya, agama Kristen Katolik menyebar ke seluruh dunia, meskipun mengalami penurunan jumlah pemeluk di Eropa akibat pertumbuhan agama Kristen Protestan dan munculnya sikap skeptis terhadap agama selama dan sesudah Abad Pencerahan. Konsili Vatikan II di era 1960-an menghasilkan perubahan-perubahan terpenting dalam praktik-praktik Gereja Katolik sejak penyelenggaraan Konsili Trento empat abad sebelumnya.

Awal mula Gereja[sunting | sunting sumber]

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus. Alkitab Perjanjian Baru meriwayatkan perbuatan dan ajaran Yesus, bagaimana ia memilih kedua belas rasulnya, dan amanatnya kepada mereka untuk melanjutkan karyanya.[9][10] Gereja Katolik mengajarkan bahwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul, dalam peristiwa yang disebut pentakosta, menandai permulaan karya pelayanan Gereja Katolik di muka umum.[11] Umat Katolik meyakini bahwa Santo Petrus adalah Uskup Roma yang pertama, dan rasul yang menahbiskan Linus menjadi Uskup Roma berikutnya, dan dengan demikian memulakan urut-urutan suksesi apostolik (alih kepemimpinan rasuliah) yang berkesinambungan sampai dengan Uskup Roma saat ini, Fransiskus. Dengan kata lain, Gereja Katolik menjaga kesinambungan suksesi apostolik Uskup Roma, yakni Sri Paus - pengganti Santo Petrus.[12]

Berkat Pengakuan Petrus yang diriwayatkan dalam Injil Matius, Kristus menetapkan Petrus sebagai "batu karang" yang akan menjadi landasan bagi tegaknya Gereja Kristus.[13][14] Meskipun sejumlah pengkaji telah menyatakan bahwa Petrus adalah uskup pertama kota Roma,[15][a] menurut pengkaji lain, keberadaan lembaga kepausan tidak bergantung pada gagasan bahwa Petrus adalah Uskup Roma atau bahkan pada gagasan bahwa Petrus pernah tinggal di Roma.[16] Banyak pengkaji meyakini bahwa struktur kepemimpinan Gereja Roma mula-mula terdiri atas sekumpulan imam/uskup, sebelum menerapkan struktur kepemimpinan Gereja yang terdiri atas satu orang uskup dan sekumpulan imam pada abad ke-2,[17][b] dan bahwasanya para pujangga di kemudian hari menyematkan istilah "Uskup Roma" pada para mendiang rohaniwan Roma yang terkemuka, dan juga pada Petrus sendiri.[17] Berdasarkan pendapat ini, Oscar Cullmann[19] dan Henry Chadwick[20] mempertanyakan keberadaan suatu keterkaitan resmi antara Petrus dan lembaga kepausan modern, sementara Raymond E. Brown berpendapat bahwa, sekalipun pembahasan mengenai Petrus selaku uskup lokal kota Roma merupakan suatu tindakan yang anakronistis, umat Kristen kala itu memang sudah menganggap Petrus memiliki "peranan-peranan yang berkontribusi secara hakiki bagi perkembangan peranan lembaga kepausan dalam Gereja di kemudian hari". Menurut Brown, peranan-peranan ini "sangat besar dampaknya terhadap pandangan orang tentang Uskup Roma, uskup dari kota tempat Petrus wafat, dan tempat Paulus bersaksi tentang kebenaran Kristus, selaku pengganti Petrus yang mengemban tugas penggembalaan Gereja sejagat".[17]

Tatanan Gereja perdana[sunting | sunting sumber]

Keadaan Kekaisaran Romawi kala itu memungkinkan tersebarnya gagasan-gagasan baru. Jaringan jalan raya serta perhubungan laut dan perairan yang dibina oleh Kekaisaran Romawi mempermudah orang untuk melakukan perjalanan, sementara Pax Romana memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan lintas daerah tanpa mengkhawatirkan gangguan keamanan. Pemerintah mendorong warga negara, terutama yang mendiami daerah perkotaan, untuk belajar bahasa Yunani, dan penguasaan lingua franca tersebut memudahkan orang untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya serta memahami gagasan-gagasan lain di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi.[21] Rasul-rasul Yesus mendapatkan pengikut-pengikut baru di dalam paguyuban-paguyuban umat Yahudi di seluruh kawasan Laut Tengah,[22] dan sekitar 40 paguyuban umat Kristen telah terbentuk pada 100 M.[23] Meskipun sebagian besar berlokasi di dalam wilayah Kekaisaran Romawi, paguyuban-paguyuban umat Kristen juga terbentuk di Armenia, Iran, dan sepanjang daerah Pesisir Malabar di India.[24][25] Agama baru ini menarik banyak peminat, terutama di kota-kota; mula-mula tersebar di kalangan budak belian dan orang-orang dari kalangan bawah, namun kemudian menyebar pula di kalangan perempuan bangsawan.[26]

Mula-mula umat Kristen masih beribadat bersama-sama dengan umat Yahudi, sehingga disebut umat Kristen Yahudi oleh para sejarawan, akan tetapi dalam jangka waktu dua puluh tahun sesudah Yesus wafat, hari Minggu dijadikan hari peribadatan utama.[27] Setelah para pendakwah seperti Paulus dari Tarsus mulai mendapatkan pengikut baru dari kalangan non-Yahudi, ajaran Kristen lambat laun terpisahkan dari praktik-praktik agama Yahudi[22] dan tumbuh menjadi agama tersendiri,[28] meskipun pembahasan-pembahasan seputar hubungan antara Paulus dari Tarsus dan agama Yahudi masih diperdebatkan sampai sekarang. Untuk menyelesaikan perbedaan ajaran antargolongan yang saling bersaing dalam Gereja, pada ca. 50 M, para rasul menyelenggarakan konsili yang pertama dalam sejarah Gereja, yakni Konsili Yerusalem. Konsili ini menetapkan bahwa orang-orang non-Yahudi dibenarkan menjadi umat Kristen tanpa perlu menaati seluruh hukum Musa.[6] Ketegangan yang terus meningkat dalam waktu singkat semakin memperlebar kesenjangan antara umat Kristen dan umat Yahudi. Keterpisahan ini nyaris purna manakala umat Kristen menolak ikut serta dalam Pemberontakan Bar Kohba yang dikobarkan orang Yahudi pada 132.[29] Meskipun demikian, sejumlah paguyuban umat Kristen masih mempertahankan anasir-anasir praktik agama Yahudi.[30]

Menurut beberapa sejarawan dan pengkaji, tatanan Gereja perdana tidaklah kaku, sehingga membuka peluang bagi munculnya berbagai macam tafsir atas keyakinan-keyakinan Kristen.[31] Dengan maksud antara lain untuk memastikan adanya konsistensi yang lebih besar dalam ajaran-ajarannya, pada penghujung abad ke-2, paguyuban-paguyuban umat Kristen telah mengembangkan suatu hierarki yang lebih tertata, yakni satu orang uskup dengan kewenangan atas seluruh rohaniwan di dalam kota kediamannya.[32] Tatanan ini terus berkembang dan di kemudian hari melahirkan jabatan uskup metropolit. Organisasi Gereja mulai meniru organisasi kekaisaran; uskup-uskup di kota-kota yang memiliki peranan penting di bidang politik memiliki kewenangan yang lebih besar atas uskup-uskup di kota-kota sekitarnya.[33] Gereja di Antiokhia, Aleksandria, dan Roma menempati posisi-posisi tertinggi.[34] Semenjak abad ke-2, uskup-uskup kerap berhimpun untuk bermusyawarah dalam sinode-sinode regional guna menuntaskan permasalahan-permasalahan seputar doktrin dan kebijakan.[6] Duffy berpendapat bahwa pada abad ke-3, Uskup Roma mulai bertindak selaku mahkamah banding untuk perkara-perkara yang tidak dapat dituntaskan oleh uskup-uskup lain.[7]

Doktrin Gereja semakin disempurnakan oleh sejumlah teolog dan pengajar berwibawa, yang secara kolektif disebut Bapa-Bapa Gereja.[35] Semenjak 100 M, pengajar-pengajar proto-ortodoks seperti Ignasius dari Antiokhia dan Ireneus merumuskan ajaran Katolik sedemikian rupa sehingga sangat berbeda dari ajaran-ajaran lain, misalnya ajaran-ajaran Gnostik.[36] Pada abad-abad pertama keberadaannya, Gereja merumuskan ajaran-ajaran dan tradisi-tradisinya menjadi satu kesatuan yang utuh dan sistematis di bawah pengaruh para ahli apologetika teologi seperti Paus Klemens I, Yustinus Martir, dan Agustinus dari Hipo.[37]

Penindasan[sunting | sunting sumber]

Tidak seperti kebanyakan agama lain di Kekaisaran Romawi, agama Kristen mewajibkan pemeluk-pemeluknya untuk menafikan semua ilah lain, sama seperti agama Yahudi. Penolakan umat Kristen untuk ikut serta merayakan hari-hari besar kaum penyembah berhala menghalangi mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Warga non-Kristen–termasuk para pejabat pemerintah–khawatir sikap semacam ini akan membangkitkan amarah para dewa, sehingga menganggapnya sebagai ancaman bagi ketenteraman dan kesejahteraan Kekaisaran Romawi. Selain itu, keakraban antarsesama pemeluk agama Kristen dan kerahasiaan seputar praktik-praktik peribadatannya menimbulkan desas-desus bahwa umat Kristen melakukan inses dan kanibalisme; penindasan-penindasan yang timbul akibat desas-desus ini, meskipun biasanya bersifat lokal dan sporadis, merupakan salah satu unsur khas dari pemahaman diri Kristiani sampai agama Kristen dilegalisasi pada abad ke-4.[38][39] Serangkaian tindak persekusi yang lebih terorganisasi terhadap umat Kristen dilancarkan pada akhir abad ke-3, setelah para kaisar mempermaklumkan bahwa krisis militer, politik, dan ekonomi yang melanda Kekaisaran Romawi adalah wujud dari kemurkaan para dewa. Seluruh warga negara diperintahkan untuk mempersembahkan kurban dengan ancaman hukuman mati jika ingkar.[40] Umat Yahudi dikecualikan selama mereka bersedia membayar pajak khusus bagi umat Yahudi. Jumlah umat Kristen yang dieksekusi mati berkisar dari beberapa ratus jiwa sampai 50.000 jiwa.[41] Banyak yang melarikan diri[42] atau murtad. Perbedaan pendapat mengenai status orang-orang murtad yang kembali ke pangkuan Gereja adalah penyebab terjadinya skisma Donatisme dan skisma Novasianisme.[43] Hubungan antara Gereja dan pemerintah kekaisaran senantiasa berubah-ubah: "Tiberius menghendaki agar Kristus dijadikan salah satu dewa di Panteon dan menolak melakukan persekusi terhadap umat Kristen. Di kemudian hari sikap ini berubah. [-] Bagaimana caranya menjelaskan fakta bahwa orang-orang sekaliber Trayanus dan teristimewa Markus Aurelius begitu gencar menindas umat Kristen? Sementara di lain pihak, Komodus dan kaisar-kaisar lalim lainnya justru bermurah hati kepada mereka."[44] Kendati ditindas, karya pewartaan Injil tetap terus berjalan, dan pada akhirnya agama Kristen dilegalisasi dengan terbitnya Maklumat Milano pada 313.[45] Pada 380, agama Kristen telah dijadikan agama negara Kekaisaran Romawi.[46] Filsuf religius, Simone Weil, menulis: "Pada zaman Konstantinus, tingkat pengharapan apokaliptis tentunya sudah menipis. [Kedatangan Kristus yang sudah dekat harinya, penantian akan Hari Kiamat - merupakan 'suatu bahaya sosial yang sangat besar.'] Disamping itu, semangat hukum lama, yang sangat jauh terpisahkan dari segala macam ajaran mistik, tidaklah jauh berbeda dari semangat bangsa Romawi sendiri. Roma dapat menyesuaikan diri dengan Allah Yang Mahakuasa."[47]

Zaman Pasca-Industri[sunting | sunting sumber]

Konsili Vatikan II[sunting | sunting sumber]

Gereja Katolik dewasa ini[sunting | sunting sumber]

Dialog Katolik-Ortodoks[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Juni 2004, Batrik Oikumene, Bartolomeus I, berkunjung ke Roma pada Hari Santo Petrus dan Santo Paulus (29 Juni) untuk sekali lagi bertemu secara pribadi dengan Paus Yohanes Paulus II, untuk melakukan pembicaraan dengan Dewan Kepausan Bagi Kemajuan Persatuan Umat Kristen, dan untuk menghadiri upacara perayaan hari besar itu di Basilika Santo Petrus.

Keikutsertaan Batrik Oikumene dalam liturgi Ekaristi yang dipimpin oleh Sri Paus mengikuti program kunjungan Batrik Oikumene sebelumnya yang dilakukan oleh Batrik Dimitrios pada 1987 dan Batrik Bartolomeus I sendiri, yakni program yang terdiri atas keikutsertaan penuh dalam Liturgi Sabda, pendarasan Syahadat Nikea-Konstantinopel dalam bahasa Yunani secara bersama-sama oleh Sri Paus dan Batrik Oikumene, dan diakhiri dengan pemberian berkat penutup yang dilakukan secara bersama-sama oleh Sri Paus dan Batrik Oikumene dari depan altar Confessio.[48] Batrik Oikumene tidak ikut serta secara penuh dalam Liturgi Ekaristi yang mencakup konsekrasi dan pembagian komuni.[49][50]

Sesuai dengan praktik Gereja Katolik yang menyertakan klausa filioque bilamana mendaraskan Syahadat Nikea dalam bahasa Latin,[51] tetapi tidak menyertakannya bilamana mendaraskan Syahadat Nikea dalam bahasa Yunani,[52] Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI telah mendaraskan Syahadat Nikea bersama-sama dengan Batrik Dimitrios I dan Batrik Bartholomeus I dalam bahasa Yunani tanpa menyertakan klausa filioque.[53][54] Tindakan kedua batrik ini, yakni mendaraskan syahadat bersama-sama dengan Sri Paus, mendapat kecaman tajam dari sebagian pihak di kalangan Kristen Ortodoks Timur, misalnya Metropolit Kalavryta di Yunani, pada bulan November 2008[55]

Pernyataan Ravenna pada 2007 menegaskan kembali keyakinan-keyakinan ini, dan mengemukakan kembali gagasan bahwa Uskup Roma memang adalah protos (orang nomor satu), meskipun kelak akan digelar pembahasan-pembahasan terkait pelaksanaan yang eklesiologis dan konkrit dari keutamaan Sri Paus.

Kasus pelecehan seksual[sunting | sunting sumber]

Pada 2001, muncul gugatan-gugatan hukum yang mengklaim bahwa imam-imam Katolik telah melakukan pelecehan seksual terhadap kanak-kanak.[56] Untuk menanggapi skandal yang merebak, Gereja Katolik telah menetapkan prosedur-prosedur resmi untuk mencegah tindakan pelecehan, untuk mengimbau masyarakat agar melaporkan tindakan-tindakan pelecehan yang telah terjadi, dan untuk menangani laporan-laporan tersebut dengan segera, meskipun efektifitas dari prosedur-prosedur ini dipermasalahkan oleh kelompok-kelompok yang mewakili para korban pelecehan.[57]

Sejumlah imam mengundurkan diri, yang lain dipecat serta dipenjarakan,[58] dan ada pula penyelesaian-penyelesaian damai secara finansial dengan sejumlah besar korban pelecehan.[56] Konferensi Waligereja Amerika Serikat memerintahkan dilakukannya suatu kajian komprehensif yang akhirnya mendapati bahwa empat persen dari seluruh imam yang bertugas di Amerika Serikat sejak 1950 sampai dengan 2002 telah menghadapi salah satu dari sekian macam dakwaan pelanggaran kesusilaan.

Benediktus XVI[sunting | sunting sumber]

Dengan terpilihnya Paus Benediktus XVI pada 2005, Gereja Katolik telah menyaksikan perlanjutan sebagian besar dari kebijakan-kebijakan pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II, dengan beberapa pengecualian yang menonjol: Paus Benediktus mendesentralisasikan upacara beatifikasi dan membatalkan keputusan pendahulunya terkait pemilihan paus.[59] Pada 2007, ia menciptakan rekor baru dalam sejarah Gereja dengan menyetujui beatifikasi 498 Martir Spanyol. Ensikliknya yang pertama, Deus caritas est, membahas tentang cinta kasih dan seks dalam penentangan berkesinambungan terhadap pandangan-pandangan lain mengenai seksualitas.

Upaya Gereja Katolik untuk memperbaiki hubungan oikumene dengan Gereja Ortodoks Timur diperumit oleh sengketa seputar doktrin maupun sejarah mutakhir dari Gereja-Gereja Katolik Timur, yang mencakup pula permasalahan pengembalian properti Gereja-Gereja Katolik Timur yang diambil alih oleh Gereja Ortodoks semasa Perang Dunia II atas perintah Yosef Stalin.

Fransiskus[sunting | sunting sumber]

Paus Fransiskus adalah paus yang menjabat saat ini. Sesudah pengunduran diri Paus Benediktus, ia terpilih pada 2013 sebagai paus pertama dari tarekat Yesuit sekaligus paus pertama dari Benua Amerika dan paus pertama dari Belahan Selatan Bumi.[60] Semenjak terpilih menjadi paus, ia telah meperlihatkan suatu pendekatan yang lebih sederhana dan kurang formal terhadap jabatan paus, dengan memilih untuk tinggal di wisma tamu Vatikan ketimbang di kediaman resmi Sri Paus.[61] Ia juga telah mengisyaratkan sejumlah perubahan dramatis dalam ranah kebijakan—misalnya menyingkirkan tokoh-tokoh konservatif dari jabatan-jabatan tinggi di Vatikan, mengimbau para uskup untuk hidup lebih bersahaja, dan mengambil sikap yang lebih pastoral terhadap homoseksualitas.[62][63]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wikisource-logo.svg Joyce, George (1913). "The Pope". Dalam Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
    Sehubungan dengan anggapan bahwa Petrus adalah Uskup Roma yang pertama, "Tidaklah sukar untuk menunjukkan fakta bahwa statusnya [Petrus] sebagai Uskup Roma didukung banyak sekali bukti sehingga dapat dipastikan secara historis. Sehubungan dengan hal ini, sebaiknya dimulai dengan bukti-bukti dari abad ketiga, manakala rujukan-rujukan mengenai statusnya itu semakin sering muncul, dan setelah itu barulah ditelaah mundur dari titik waktu ini. Pada pertengahan abad ketiga, Santo Siprianus secara terang-terangan menyebut Takhta Keuskupan Roma sebagai Takhta Santo Petrus, dan menyebutkan bahwa Kornelius telah mewarisi "kedudukan Fabianus yang adalah kedudukan Petrus" (Ep 55:8; cf. 59:14). Firmilianus dari Kaisarea mencermati bahwa Stefanus mengklaim berhak menyelesaikan kontroversi seputar baptisan ulang atas dasar statusnya selaku waris jabatan Petrus (Siprianus, Ep. 75:17). Ia tidak menafikan klaim itu: meskipun sudah pasti akan ia nafikan, andaikata dapat ia lakukan. Jadi, pada tahun 250, status Petrus sebagai Uskup Roma diakui oleh orang-orang yang benar-benar tahu kebenarannya, tidak saja di Roma tetapi juga di Gereja-Gereja di Afrika dan Asia Kecil. Pada perempat pertama abad itu (sekitar tahun 220), Tertulianus (De Pud. 21) menyebutkan tentang klaim Kalistus bahwa kuasa Petrus untuk mengampuni dosa telah diturunkan secara istimewa kepada dirinya. Andaikata Gereja Roma hanya sekadar didirikan saja oleh Petrus dan tidak mengakuinya sebagai uskup pertama, maka tidak ada dasar bagi klaim-klaim semacam itu. Tertulianus, sama halnya dengan Firmilianus, punya motif yang kuat untuk menafikan klaim itu. Lagi pula, ia sendiri menetap di Roma, dan tentunya akan tahu persis jika gagasan mengenai status Petrus selaku Uskup Roma itu, sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para penentangnya, baru muncul pada tahun-tahun pertama abad ketiga, sebagai ganti riwayat yang lebih tua bahwasanya Gereja Roma didirikan bersama-sama oleh Petrus dan Paulus, dan bahwasanya Uskup Roma yang pertama adalah Linus. Sekitar waktu yang sama, Hipolitus (karena Lightfoot tentunya telah bertindak benar dengan meyakininya sebagai penulis bagian pertama dari "Catalogus Liberianus" — "Klemens dari Roma", 1:259) mencantumkan nama Petrus dalam daftar Uskup Roma...."[15]
  2. ^ Menurut beberapa sejarawan, termasuk Bart D. Ehrman, "Petrus, singkatnya, tidak mungkin adalah uskup pertama kota Roma, karena Gereja Roma tidak memiliki uskup seorang pun sampai kurang lebih seratus tahun sesudah Petrus wafat."[18]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Smith, David (6 September 2015). "From Bethlehem to Egypt to Nazareth, Jesus's family accepted changes around them". Jerusalem Post. Diakses tanggal 19 November 2016.  Yesus lahir di Betlehem, Yehuda, sekitar 4 SM. Keluarga Yesus mengungsi ke Mesir dan kembali ke Nazaret, Galilea, kira-kira setahun kemudian. Daerah Galilea dan sekitarnya ditaklukkan oleh Kekaisaran Romawi pada 6 M, dan menjadi bagian dari wilayah Provinsi Yudea.
  2. ^ "Vatican congregation reaffirms truth, oneness of Catholic Church". Catholic News Service. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Juli 2007. Diakses tanggal 17 Maret 2012. 
  3. ^ (Inggris) "Paragraph 862", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012, diakses tanggal 16 November 2014 
  4. ^ Hitchcock, Geography of Religion (2004), hlm. 281, kutipan: "Beberapa di antaranya (jemaat-jemaat Kristen) didirikan oleh Petrus, murid yang ditunjuk Yesus menjadi pendiri Gereja. Begitu jabatan ini dilembagakan, para sejarawan pun menelaah masa lampau dan mengakui bahwa Petrus adalah paus pertama jemaat Kristen di kota Roma"
  5. ^ Norman, The Roman Catholic Church an Illustrated History (2007), hlmn. 11, 14, kutipan: "Gereja ini didirikan oleh Yesus sendiri semasa hidupnya di dunia.", "Karya kerasulan ini dibentuk di Roma, ibu kota dunia ketika Gereja pertama kali berdiri; jelas-jelas kota inilah yang menjadi pusat universalitas ajaran agama Kristen–para uskup Romalah yang sejak semula diminta uskup-uskup lain untuk memberikan keputusan terkait perselisihan pendapat."
  6. ^ a b c Chadwick, Henry, hlm. 37.
  7. ^ a b Duffy, hlm. 18.
  8. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Norman81
  9. ^ Kreeft, hlm. 980.
  10. ^ Bokenkotter, hlm. 30.
  11. ^ Barry, hlm. 46.
  12. ^ (Inggris) CCC, 880–881, Vatican.va, diakses tanggal 1 November 2014 
  13. ^ Christian Bible, Matius 16:13-20
  14. ^ "Saint Peter the Apostle: Incidents important in interpretations of Peter". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 8 November 2014. 
  15. ^ a b Wikisource-logo.svg Joyce, George (1913). "The Pope". Dalam Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  16. ^ "Was Peter in Rome?". Catholic Answers. 10 Agustus 2004. Diakses tanggal 9 November 2014. andaikata Petrus tidak pernah menginjakkan kakinya di kota Roma, ia tetap dapat menjadi paus pertama, karena salah seorang penggantinya dapat saja menjadi pemegang jabatan itu yang pertama kali menetap di Roma. Bagaimanapun juga, kepausan ada karena dilembagakan oleh Kristus semasa hidupnya, jauh sebelum Petrus diriwayatkan telah berkunjung ke Roma. Sudah tentu ada rentang waktu selama beberapa tahun manakala lembaga kepausan belum memiliki kaitan dengan kota Roma. 
  17. ^ a b c Raymond E. Brown, 101 Questions and Answers on the Bible (Paulist Press 2003 ISBN 978-0-80914251-4), hlmn. 132–134
  18. ^ Bart D. Ehrman. "Peter, Paul, and Mary Magdalene: The Followers of Jesus in History and Legend." Oxford University Press, USA. 2006. ISBN 0-19-530013-0. hlm. 84
  19. ^ Oscar Cullmann (1962), Peter: Disciple, Apostle, Martyr (ed. ke-2), Westminster Press hlm. 234
  20. ^ Henry Chadwick (1993), The Early Church, Penguin Books hlm. 18
  21. ^ Bokenkotter, hlm. 24.
  22. ^ a b Chadwick, Henry, hlmn. 23–24.
  23. ^ Hitchcock, Geography of Religion (2004), hlm. 281, kutipan: "Pada 100 M, lebih dari 40 jemaat Kristen tumbuh di kota-kota yang tersebar di sekeliling Laut Tengah, termasuk dua jemaat di Afrika Utara, yakni di Aleksandria dan Kirene, serta beberapa jemaat di Italia."
  24. ^ A.E. Medlycott, India and The Apostle Thomas, hlmn.1-71, 213-97; M.R. James, Apocryphal New Testament, hlmn.364-436; Eusebius, Historia, bab 4:30; J.N. Farquhar, The Apostle Thomas in North India, bab 4:30; V.A. Smith, Early History of India, hlm.235; L.W. Brown, The Indian Christians of St. Thomas, hlmn.49–59
  25. ^ stthoma.com, stthoma.com, diakses tanggal 8 Agustus 2013 
  26. ^ McMullen, hlmn. 37, 83.
  27. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlm. 115
  28. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 109.
  29. ^ Davidson, The Birth of the Church' (2005), hlm. 146
  30. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlm. 149
  31. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn.127–131.
  32. ^ Duffy, hlmn. 9–10.
  33. ^ Markus, hlm. 75.
  34. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 134.
  35. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 141.
  36. ^ Davidson, The Birth of the Church (2005), hlmn. 169, 181
  37. ^ Norman, The Roman Catholic Church an Illustrated History (2007), hlmn. 27–8, quote: "Sejumlah ahli apologetika kenamaan yang muncul silih berganti menambah kewibawaan intelektual atas kumpulan ajaran yang dimiliki lembaga kepausan, tepat pada waktunya, dalam kurun waktu awal perkembangannya, manakala ketiadaan suatu jawatan pengajaran dapat memecah-belah kesaksian universal, sehingga menjadi satu kesatuan gagasan yang utuh. Pada penghujung abad pertama, muncul Santo Klemens dari Roma, pengganti Santo Petrus yang ketiga selaku Uskup Roma; pada abad kedua muncul Santo Ignasius dari Antiokhia, Santo Ireneus dari Lyons, dan Santo Yustinus Martir; pada abad keempat muncul Santo Agustinus dari Hipo.
  38. ^ MacCulloch, Christianity, hlmn. 155–159, 164.
  39. ^ Chadwick, Henry, hlm. 41.
  40. ^ Chadwick, Henry, hlmn. 41–42, 55.
  41. ^ Heikki Räisänen (2010). The Rise of Christian Beliefs: The Thought World of Early Christians. Fortress Press. hlm. 292. ISBN 9781451409536. 
  42. ^ MacCulloch, Christianity, hlm. 174.
  43. ^ Duffy, hlm. 20.
  44. ^ Simone Weil, Surat kepada seorang Imam, butir ke-35
  45. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlmn. 58–9
  46. ^ Collins, The Story of Christianity (1999), hlm. 59
  47. ^ Weil, Surat kepada seorang Imam, butir ke-35
  48. ^ Laporan Mengenai Hubungan Katolik-Ortodoks
  49. ^ Presentasi Perayaan Archived 2004-08-06 di the Wayback Machine.
  50. ^ Pernyataan Bersama
  51. ^ Missale Romanum 2002 (Buku Misa Romawi dalam bahasa Latin), hlm. 513
  52. ^ Ρωμαϊκό Λειτουργικό 2006 (Buku Misa Romawi dalam bahasa Yunani), Jld. 1, hlm. 347
  53. ^ Program PerayaanArchived 2004-08-06 di the Wayback Machine.
  54. ^ Video rekaman pendarasan syahadat bersama
  55. ^ Blog pribadi Metropolit Kalavryta, dilaporkan pula oleh kantor berita keagamaan ini dan oleh Gereja Ortodoks Rusia Archived 2009-09-21 di the Wayback Machine.
  56. ^ a b Bruni, A Gospel of Shame (2002), hlm. 336
  57. ^ David Willey (15 Juli 2010). "Vatican 'speeds up' abuse cases". BBC News. Diakses tanggal 11 Agustus 2013. 
  58. ^ Newman, Andy (2006-08-31). "A Choice for New York Priests in Abuse Cases". The New York Times. Diakses tanggal 13 Maret 2008. 
  59. ^ Moto Proprio, De Aliquibus Mutationibus, 11 Juni 2007
  60. ^ Cardinal Walter Kasper Says Pope Francis Will Bring New Life To Vatican II
  61. ^ Vallely, Paul (14 Maret 2013). "Pope Francis profile: Jorge Mario Bergoglio, a humble man who moved out of a palace into an apartment, cooks his own meals and travels by bus". The Independent. Diakses tanggal 4 Juni 2013. 
  62. ^ Elizabeth Dias, "Pope Francis Willing To 'Evaluate' Civil Unions, But No Embrace of Gay Marriage" TIME 5 Maret 2014
  63. ^ Mariano Castillo, "Pope Francis reassigns conservative American cardinal," CNN 10 November 2014

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]