Lompat ke isi

Fransiskus Xaverius

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Fransiskus Xaverius

Lukisan Santo Fransiskus Xaverius, dipajang di Museum Kota Kobe, Jepang
LahirFrancisco de Jasso y Azpilicueta
(1506-04-07)7 April 1506
Xavier, Kerajaan Navarra
Meninggal2 Desember 1552(1552-12-02) (umur 46)
Pulau Shangchuan, Kepulauan Chuanshan, Xinning, Tiongkok
Dihormati di
Beatifikasi25 Oktober 1619, Roma, Negara Kepausan, oleh Paus Paulus V
Kanonisasi12 Maret 1622, Roma, Negara Kepausan, oleh Paus Gregorius XV
Pesta3 Desember
Atribut
Pelindung
Gelar bangsawan untuk
Francis Xavier
Gaya referensiBapak Pendeta
Gaya penyebutanBapak
Gaya anumertaSanto

Fransiskus Xaverius (nama lahir Francisco de Jasso y Azpilicueta; bahasa Baska: Frantzisko Xabierkoa; bahasa Latin: Franciscus Xaverius; bahasa Spanyol: Francisco Javier; bahasa Portugis: Francisco Xavier; 7 April 1506  2 Desember 1552), yang dihormati sebagai Santo Fransiskus Xaverius, adalah seorang misionari Katolik asal Navarra. Ia merupakan salah seorang pendiri Serikat Yesus dan, mengatasnamakan Imperium Portugal, memimpin misionaris Kristen pertama ke Jepang.[3][4]

Lahir di kota Xavier, Kerajaan Navarra (saat ini bagian dari daerah otonomi Navarra, Spanyol), ia merupakan rekan Ignatius dari Loyola dan merupakan salah satu dari tujuh Yesuit yang mengikrarkan kaul kemiskinan dan kemurnian di Montmatra, Paris pada tahun 1534.[5] Ia kemudian memimpin misi penyebaran injil ke Benua Asia, terutama di daerah koloni Portugis di Asia dan memulai peran signifikan bagi penginjilan di India. Pada tahun 1546, Fransiskus Xaverius menulis surat kepada Raja João III dari Portugal untuk menguatkan iman umat Kristen di Goa. Beberapa sejarawan menginterpretasikan surat tersebut sebagai permohonan untuk pelaksanaan Inkuisisi Goa,[6][7] sementara yang lain menganggap surat tersebut hanya meminta pengangkatan seorang menteri khusus yang didedikasikan untuk menguatkan pengaruh agama Kristen di Goa.[8]

Fransiskus Xaverius juga, sebagai perwakilan Raja Portugal, juga melakukan misi Kekristenan di daerah Nusantara (termasuk Kalimantan dan Kepulauan Maluku), Jepang, dan daerah lain di Asia. Di beberapa daerah, ia sering mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa setempat dan menghadapi berbagai penolakan. Misi tersebut tidak lebih sukses dari pada misi yang ia lakukan di India. Xaverius kemudian memperpanjang misinya ke Ming Tiongkok, di mana ia meninggal di Pulau Shangchuan.

Pada tanggal 25 Oktober 1619, ia dibeatifikasi oleh Paus Paulus V dan pada tanggal 12 Maret 1622, ia dikanonisasi oleh Paus Gregorius XV. Pada tahun 1624, ia diumumkan menjadi salah satu santo pelindung Navarra, bersamaan dengan Santo Fermin. Tanggal ia meninggal, yaitu 3 Desember, dirayakan sebagai "Hari Raya Navarra". Ia dianggap sebagai misionaris terbesar semenjak Rasul Paulus, dan dikenal dengan sebutan "Rasul Hindia", "Rasul Timur Jauh", "Rasul Tiongkok", dan "Rasul Jepang".[9] Pada tahun 1927, Paus Pius XI mempublikasikan dekrit Apostolicorum in Missionibus, yang menamakan Fransiskus Xaverius bersama dengan Thérèse dari Lisieux sebagai santo-santa pelindung semua misi luar negeri.[10]

Kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]

Fransiskus Xaverius terlahir dengan nama Francisco de Jasso y Azpilicueta di Kastel Xavier, dekat Sangüesa dan Pamplona, di Kerajaan Navarra pada tanggal 7 April 1506. Ia merupakan anak dari Don Juan de Jasso y Atondo, bangsawan dari Idocín, kepala Majelis Kerajaan Navarra, dan seneschal bagi Kastel Xavier. Ayahnya juga merupakan doktor hukum lulusan Universitas Bologna,[11] yang merupakan bagian dari keluarga bangsawan dari Saint-Jean-Pied-de-Port, dan kemudian menjabat sebagai menteri keuangan sekaligus penasihat pribadi bagi Raja Yohanes III dari Navarra.[12] Ibu Fransiskus Xaverius ialah Doña María de Azpilcueta y Aznárez, pewaris Kastel Xavier, yang memiliki hubungan darah dengan teolog Martín de Azpilcueta.[13] Saudara Fransiskus, Miguel de Jasso, yang kemudian menjadi Miguel de Javier, mewarisi Xavier dan Idocín setelah kedua orang tuanya meninggal.

Pada tahun 1512, Fernando, Raja Aragon dan wali Kastilia menginvasi Navarra sebagai bagian dari kampanye penaklukannya. Selama perang, ayah Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1515, ketika ia masih berusia sembilan tahun. Setahun kemudian, saudara-saudaranya menjadi bagian dalam pasukan gabungan Navarra-Prancis untuk mengusir Spanyol, tetapi upaya mereka gagal. Kardinal Cisneros, wali bagi Juana dari Kastilia, menyita tanah keluarga mereka, menghancurkan benteng, gerbang, dan dua menara kastel keluarga mereka, serta menyumbat parit-paritnya. Tinggi menara benteng mereka juga dikurangi setengahnya, sehingga yang tersisa dari kastel tersebut hanya kediaman keluarga di dalamnya.[14]

Pada tahun 1525, Fransiskus Xaverius berkuliah di Collège Sainte-Barbe, Universitas Paris.[15] Pada masa awal kuliah, ia dikenal sebagai seorang atlet[16] dan memiliki kemampuan melompat tinggi.[17] Pada tahun 1529, ia tinggal serumah dengan temannya, Petrus Faber. Ignatius dari Loyola, seorang murid baru, juga menjadi teman serumah mereka. Ignatius yang saat itu berusia 38 tahun, mengajak teman sekamarnya yang lebih muda (Pierre dan Fransiskus masih berusia 23 tahun saat itu) untuk menjadi pastor. Pierre tertarik, tetapi Fransiskus memilih untuk mencapai cita-cita duniawi, dan menganggap bahwa ajakan Ignatius sebagai lelucon belaka dan bersikap sarkastis terhadap upaya Ignatius untuk meyakinkannya.[18]

Ketika Petrus meninggalkan rumah penginapan bersama mereka untuk mengunjungi orang tuanya, Ignatius yang saat itu sendirian dengan Fransiskus kembali mengajaknya untuk menjadi pastor. Menurut berbagai biografi tentang dirinya, Fransiskus konon ditanyai pertanyaan "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?" oleh Ignatius.[19] Sementara itu, menurut James Broderick, pertanyaan semacam itu bukanlah karakteristik dari Ignatius dan tidak ada bukti yang mendukung bahwa ia melakukan hal itu.[18] Bagaimanapun, Ignatius pada akhirnya dapat meyakinkan Fransiskus dalam momen tersebut.[20]

Fransiskus kemudian lulus dengan memperoleh gelar magister seni pada tahun 1530. Dia kemudian melanjutkan studi filosofi Aristotelian di Collège de Beauvais di universitas yang sama.[18]

Karya misi

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 15 Agustus 1534, Fransiskus Xaverius bersama dengan Ignatius dari Loyola, Petrus Faber, dan empat orang lainnya yang juga merupakan mahasiswa di Paris (Alfonso Salmeron, Diego Laynez, Nicolas Bobadilla, serta Simão Rodrigues) bertemu di ruang bawah tanah di bawah Gereja Saint Denis (sekarang Gereja Saint-Pierre de Montmartre), Montmartre. Ketujuh orang tersebut mengikat kaul kesucian, kemiskinan, dan ketaatan kepada Paus dan berjanji untuk pergi ke Tanah Suci untuk menobatkan orang-orang kafir.[21][22] Pada tahun yang sama, Fransiskus mulai mempelajari teologi dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 24 Juni 1537.

Setelah melalui diskusi panjang, Ignatius menyusun formula untuk ordo keagamaan baru yang disebut sebagai Serikat Yesus (Yesuit) pada tahun 1539.[20] Ordo keagamaan tersebut disetujui oleh Paus Paulus III setahun kemudian.[23]

Pada tahun yang sama, perwakilan Raja João III dari Portugal bagi Takhta Suci, Pedro Mascarenhas, memohon misionaris untuk dikirim dan menyebarkan agama Kristen di wilayah jajahan Portugis di India, di mana sang raja merasa bahwa nilai-nilai Kekristenan sedang terkikis di antara orang Portugis di sana. Setelah permohonan diajukan beberapa kali kepada Paus, João III didorong oleh rektor Collège Sainte-Barbe, Diogo de Gouveai, untuk merekrut murid-murid Universitas Paris yang masuk dalam Ordo Yesuit.[24]

Ignatius selaku pemimpin ordo kemudian menunjuk Nicolas Bobadilla dan Simão Rodrigues untuk menjawab panggilan tersebut. Ketika mereka bersiap, Bobadilla jatuh sakit parah. Mengetahui hal itu, meski merasa ragu dan gelisah, Ignatius meminta Fransiskus untuk menggantikan Bobadilla. Dengan demikian, Fransiskus Xaverius memulai karyanya sebagai misionaris Yesuit pertama.[25][26][27]

Fransiskus Xaverius berpamitan dengan João III dari Portugal ke India Portugis

Ketika ia berangkat dari Roma ke Lisboa pada tanggal 15 Maret 1540 bersama dengan Pedro Mascarenhas, ia membawa serta sebuah brevir, sebuah katekismus, dan De institutione bene vivendi per exempla sanctorum (Petunjuk untuk Kehidupan yang Berbudi Luhur Menurut Teladan Para Santo) oleh humanis asal Kroasia, Marko Marulić,[28] yang merupakan buku terkenal dalam masa Reformasi Katolik. Menurut sebuah surat yang ia kirimkan pada Balthasar Gago di Goa pada tahun 1549, buku tersebut merupakan satu-satunya buku yang ia baca atau pelajari.[29] Ketika ia sampai di Lisboa pada bulan Juni, ia dipanggil dalam audiensi pribadi di hadapan Raja João dan Ratu Catarina.[30]

Goa dan India

[sunting | sunting sumber]
Lukisan Santo Fransiskus Xaverius mengajar di Goa (1610) karya André Reinoso

Fransiskus Xaverius bertolak dari Lisboa pada tanggal 7 April 1541. Ia didampingi oleh dua anggota Yesuit lainnya dan Martim Afonso de Sousa, dengan menumpang kapal Santiago.[31] Pada waktu ia pergi, Fransiskus diangkat oleh Paus sebagai nunsius apostolik untuk wilayah Timur.[27] Dari Bulan Agustus 1541 hingga bulan Maret 1542, ia singgah di Mozambik, dan kemudian mencapai Goa, yang pada waktu itu merupakan ibu kota koloni Portugis di India, pada tanggal 6 Mei.

Pada kala itu, Bangsa Portugis telah menetap di Goa tiga puluh tahun sebelum kedatangan Fransiskus. Ia sendiri telah diberi tugas dari Raja Joao III untuk memulihkan agama Kristen di antara para pemukim Portugis. Menurut Teotonio R. DeSouza, laporan kritis yang ditemukan baru-baru ini menunjukkan bahwa yang "sebagian besar dari mereka yang dikirim sebagai 'penemu' merupakan orang-orang buangan dari masyarakat Portugis, yang direkrut dari penjara-penjara".[32] Para prajurit, pelaut, atau pedagang di sana tidak datang untuk melakukan pekerjaan misionaris, dan kebijakan Kerajaan Portugal umumnya mengasingkan kaum bangsawan yang tidak puas dengan pemerintahan pusat. Banyak pendatang Portugis tersebut menjalin hubungan dengan perempuan setempat dan mengadopsi budaya India. Para misionaris menentang dan mendeskripsikan hal tersebut sebagai perilaku yang "mengundang skandal dan tidak memiliki kedisiplinan".[33][halaman dibutuhkan]

Penduduk Kristen di Goa telah memiliki gereja, pendeta, dan uskup sendiri, tetapi hanya sedikit pengkhotbah dan tidak ada imam yang datang dari luar kota Goa. Maka dari itu, Fransiskus memutuskan untuk memulai pekerjaannya dengan mengajar orang Portugis terlebih dahulu, dan mendedikasikan waktunya untuk mengajari anak-anak. Dalam lima bulan pertamanya, ia mengajar, berkhotbah, dan melayani orang sakit.[34] Setelah itu, ia mulai mengajak anak-anak dan pelayan lokal mengikuti pelajaran katekismusnya dengan jalan-jalan sambil membunyikan lonceng.[35] Ia kemudian diundang untuk memimpin Kolese Santo Paulus, seminari perintis di sana, untuk mengajari para imam sekuler. Kolese tersebut kemudian menjadi kantor pusat Yesuit pertama di Asia.[36]

Upaya konversi

[sunting | sunting sumber]
Cetak batu berwarna abad ke-19 yang menggambarkan konversi Paravar oleh Fransiskus Xaverius di India Selatan

Fransiskus mengetahui akan keberadaan kaum Parava, sebuah kelompok masyarakat (Jāti) yang tinggal di pantai yang membentang dari Tanjung Komorin (sekarang Kanyakumari), India Selatan hingga Mannar di pulau Sailan. Kelompok masyarakat tersebut dikenal sebagai penyelam mutiara dan telah lama dibaptis sekitar tahun lalu sebagai balas budi terhadap orang Portugis yang membantu mereka melawan bangsa Moor. Meski demikian, mereka belum terdidik secara iman. Maka dari itu, pada tanggal 20 Oktober 1542, ditemani dengan beberapa imam pribumi dari seminari di Goa, Fransiskus berlayar ke Tanjung Komorin.[35]

Dalam pelayanan di antara kaum Paravar, Fransiskus mengajari mereka yang telah dibaptis sebelumnya untuk mengajar dan berkhotbah kepada mereka yang belum menerimanya. Mengetahui hal itu, para Brahmana dan otoritas Muslim Travancore menentang usaha konversi tersebut dan menolak ajarannya. Gubuk yang ia bangun berulang kali dibakar oleh mereka, dan suatu ketika, ia harus bersembunyi di balik dahan-dahan pohon besar untuk menyelamatkan nyawanya.[35] Kendati demikian, Fransiskus terus mengajar selama tiga tahun di India Selatan dan Sailan dan telah mengonversi banyak orang menjadi Katolik. Ia juga telah membangun sekitar 40 gereja di sepanjang pantai tersebut. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi makam Rasul Tomas di Meilapore, Madras (sekarang Chennai), yang kala itu dikuasai oleh India Portugis.[27] Pada akhir masa misinya di tahun 1545, ia merencanakan perjalanan misi baru ke Makassar, di pulau Sulawesi.

Sebagai misionaris Yesuit pertama di India, Fransiskus telah mengalami kesulitan untuk mencapai keberhasilannya. Para penerusnya, seperti Roberto de Nobili, Matteo Ricci, dan Constanzo Beschi, melakukan pendekatan yang berbeda dengan Fransiskus, yaitu mengonversi para bangsawan terlebih dahulu untuk meraih orang banyak, alih-alih langsung berinteraksi dan mengonversi rakyat kelas bawah. Fransiskus sendiri kemudian mengubah pendekatannya di Jepang, ketika ia memberikan penghormatan kepada Kaisar dan meminta audiensi dengannya.[37]

Asia Tenggara

[sunting | sunting sumber]
Lukisan Santo Fransiskus Xaverius Memberikan Ilham kepada Pasukan Portugis untuk Melawan Bajak Laut dari Aceh karya André Reinoso (1619)

Fransiskus tiba di Melaka Portugis pada musim semi 1545. Ia memulai pekerjaannya sebagai misionaris sampai akhir tahun, ketika ia menunggu kapal tumpangan yang akan membawanya ke Makassar. Namun, kapal tersebut tidak kunjung tiba sehingga ia membatalkan tujuan misinya. Sebagai gantinya, pada bulan Januari 1546, Fransiskus pergi ke Kepulauan Maluku dan tiba di tempat yang sekarang dikenal sebagai Hative Kecil di Pulau Ambon pada tanggal 14 Februari 1546.[38] Ia tinggal di sana sampai pertengahan bulan Juni sebelum ia memulai pelayanannya di berbagai tempat di kepulauan tersebut seperti Ternate dan Pulau Morotai.[34]

Setelah hari raya Paskah tahun 1547, ia kembali ke pulau Ambon, dan kemudian menuju Malaka pada tanggal 15 Mei 1547.[39] Ketika ia berada sana, daerah itu diserang oleh Kesultanan Aceh. Fransiskus kemudian berperan sebagai pengkhotbah bagi pasukan Portugis di sana, di mana mereka kemudian memenangkan pertempuran di Sungai Perlis meskipun mereka kalah jumlah.[40]

Lukisan Perawan Maria dengan Kanak-kanak Yesus dan Lima Belas Misterinya oleh seniman tidak dikenal asal Jepang, dilukis sekitar tahun 1600. Pada bagian bawah tengah terdapat tokoh Yesuit Ignatius dari Loyola (kiri) dan Fransiskus Xaverius (kanan)

Pada bulan Desember 1547, di Malaka, Fransiskus Xaverius berjumpa dengan seorang bangsawan Jepang dari Kagoshima bernama Anjirō.[34] Anjirō telah mendengar kabar mengenai Fransiskus pada tahun 1545 dan berlayar dari Kagoshima ke Malaka dengan maksud bertemu dengannya. Anjirō sendiri telah melarikan diri dari Jepang setelah dituduh melakukan pembunuhan. Ia lalu mencurahkan isi hatinya kepada Fransiskus, menceritakan riwayat hidupnya serta adat dan budaya tanah airnya. Anjirō, yang merupakan seorang samurai[butuh rujukan], bersedia membantu Fransiskus dengan keahliannya sebagai mediator dan penerjemah dalam karya misi di Jepang yang kini tampaknya semakin dapat terwujud. Ia kemudian dibaptis dan memperoleh nama baptis "Paulo de Santa Fe".

Mengenai pertemuannya dengan Anjirō, Fransiskus menulis demikian:

Saya bertanya [kepada Anjirō] apakah orang-orang Jepang bersedia menjadi Kristen jika saya pergi bersamanya ke negeri itu, dan dia menjawab bahwa mereka tidak akan serta-merta menjadi Kristen, namun terlebih dahulu akan mengajukan banyak pertanyaan lalu melihat apa saja yang saya ketahui. Di atas segala-galanya, mereka akan mencermati apakah hidup saya sesuai dengan ajaran saya… Semua pedagang Portugis yang kembali dari Jepang meyakinkan saya bahwa dengan pergi ke sana saya dapat mempersembahkan lebih banyak pelayanan bagi Allah Tuhan kita, lebih daripada di antara orang-orang India, karena orang Jepang adalah suatu ras yang amat mementingkan akal budi.


Sebelum memulai perjalanannya ke Jepang, Fransiskus menyempatkan diri kembali ke India pada bulan Januari 1548.[41] Selama 15 bulan berikutnya ia disibukkan dengan berbagai perjalanan dan urusan-urusan administrasi di India. Karena tidak senang dengan apa yang dianggapnya sebagai “sikap hidup yang tidak-Kristiani” dari orang-orang Portugis, yang menghambat usaha penyebaran agama Kristen,[butuh rujukan] ia berangkat dari Selatan ke Timur Benua Asia. Ia meninggalkan Goa pada tanggal 15 April 1549, singgah sebentar di Malaka dan mengunjungi Kanton dengan ditemani Anjirō, dua pria Jepang lain, Pastur Cosme de Torrès dan Bruder Juan Fernández. Ia juga membawa serta hadiah-hadiah bagi "Raja Jepang" karena ia berniat untuk memperkenalkan diri sebagai Nuncio Apostolik bagi negara tersebut.

Fransiskus sampai ke Jepang pada tanggal 27 Juli 1549, tetapi karena kapal mereka belum mendapat izin memasuki pelabuhan, maka mereka baru mendarat tanggal 15 Agustus[42] di Kagoshima, pelabuhan utama provinsi Satsuma di Pulau Kyūshū. Ia disambut dengan ramah-tamah dan dijamu oleh keluarga Anjirō hingga bulan Oktober 1550.[19] Selain itu, sebagai perwakilan dari Raja Portugis, Fransiskus juga diterima dengan baik oleh daimyō Satsuma, Shimazu Takahisa.[butuh rujukan] Dari Oktober hingga Desember 1550, ia berdiam di Yamaguchi.[butuh rujukan] Tak lama sebelum Natal, ia menuju Kyoto tetapi gagal bertemu Kaisar Go-Nara.[butuh rujukan] Ia kembali ke Yamaguchi pada bulan Maret 1551 dan diizinkan berkhotbah oleh daimyō. Akan tetapi karena kurang lancar berbahasa Jepang, ia hanya membacakan dengan lantang terjemahan katekismus yang ia bawa.[butuh rujukan] Ia kemudian dilarang untuk mengonversi rakyat Kagoshima atas perintah daimyō dengan ancaman hukuman mati. Umat Kristen di sana pada akhirnya tidak menerima ajaran katekismusnya di tahun selanjutnya. Mengenai hal itu, misionaris Pedro de Alcáçova mencatat pada tahun 1554:

Di Cangoxima [sic], tempat pertama yang dikunjungi Pastor Fransiskus, terdapat banyak umat Kristen, meskipun tidak ada seorang pun di sana yang mengajar mereka; kekurangan pekerja telah menghalangi seluruh kerajaan tersebut untuk menjadi Kristen.

Pacheco 1974, hlm. 477–480

Fransiskus merupakan misionaris pertama yang mendaratkan kakinya di Jepang.[43] Karena hal itu, ia mengalami kesulitan dalam mengajarkan orang Jepang tentang Kekristenan. Salah satu permasalahan tersebut adalah kendala bahasa, di mana bahasa Jepang tidak seperti bahasa lain yang dipelajari misionaris sebelumnya. Fransiskus sendiri perlu mempelajari bahasa tersebut dalam waktu yang lama.[44] Untuk membantunya dalam mengajari Kekristenan, ia membawa lukisan Madonna and Child (karya Duccio) dan memperlihatkannya kepada masyarakat yang ia ajari.

Salah satu permasalahan bahasa terjadi ketika Fransiskus menjalani hubungan baik dengan para rahib Shingon. Mereka menerima ajaran dari Fransiskus karena ia menggunakan kata “Dainichi” untuk Allah orang Kristen. Begitu Fransiskus mendalami makna religius dari kata itu, ia menggantinya dengan kata “Deusu” dari kata Latin dan Portugis “Deus”.[19] Para rahib pun sadar bahwa Fransiskus tengah menyebarkan suatu agama tandingan dan mulai menentang upayanya untuk mengubah agama umat mereka.

Orang Jepang pada saat itu telah lama menganut agama Buddha dan Shinto. Fransiskus sendiri mencoba mengatasi keraguan sebagian orang Jepang dalam memahami pengajarannya. Mereka yang keliru menafsikan doktrin Katolik sebagai ajaran bahwa setan diciptakan jahat menyimpulkan bahwa Tuhan yang menciptakan mereka tidak mungkin baik. Fransiskus sendiri menghabiskan isi khotbahnya untuk berdiskusi dan memberi jawab atas pertanyaan dari orang-orang Jepang. Dalam pelayanannya tersebut, Fransiskus semakin menghormati rasionalitas dan literasi umum dari orang-orang Jepang yang ia temui. Ia sendiri masih tetap optimistis terhadap prospeknya untuk menyebarkan Kekristenan di negara tersebut.[45][halaman dibutuhkan][46][halaman dibutuhkan][47]

Seiring berjalannya waktu, kehadirannya di Jepang dapat dianggap membuahkan hasil dengan terbentuknya jemaat-jemaat Kristen di Hirado, Yamaguchi dan Bungo. Fransiskus berkarya lebih dari dua tahun di Jepang dan menyaksikan lahirnya imam-imam Yesuit yang akan menjadi penerusnya. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke India. Para sejarawan masih memperdebatkan jalur mana yang ia lalui untuk kembali, tetapi berdasarkan bukti dari kapten kapalnya, ia mungkin telah melakukan perjalanan melalui Tanegashima dan Minato dan menghindari Kagoshima karena permusuhannya dengan daimyō.[42]

Dalam pelayaran Fransiskus ke India, kapalnya diterpa badai yang memaksanya untuk singgah di sebuah pulau dekat Guangzhou, Guangdong. Di sana, ia berjumpa dengan Diégo Pereira, seorang pedagang kaya yang juga merupakan sahabat lamanya dari Kochi. Pereira memperlihatkan padanya sepucuk surat dari orang-orang Portugis yang dipenjarakan di Guangzhou yang meminta seorang duta besar Portugal untuk berbicara dengan Kaisar Jiajing guna membahas nasib mereka. Ketika ia melanjutkan kembali pelayarannya, ia singgah di Malaka pad tanggal 27 Desember 1551, lalu sampai di Goa pada bulan Januari 1552.[butuh rujukan]

Pada tanggal 17 April, Fransiskus berlayar bersama Diégo Pereira, meninggalkan Goa dengan menumpang kapal Santa Cruz menuju Tiongkok. Tujuan pelayarannya ini adalah untuk memperkenalkan dirinya sebagai Nunsio Apostolik dan Pereira sebagai duta besar dari Raja Portugal. Tak lama setelah berlayar, Fransiskus baru menyadari bahwa surat penunjukannya sebagai Nunsio Apostolik tidak ia bawa. Ketika mereka berlabuh di Malaka, Fransiskus digugat oleh Kapten Alvaro de Ataide de Gama yang kini memegang kendali penuh atas bandar itu. De Gama menolak untuk mengakui gelar Nunsionya dan meminta Pereira mengundurkan diri dari jabatannya sebagai duta besar, mengganti para awak kapal, serta menuntut agar hadiah-hadiah bagi Kaisar Tiongkok ditinggalkan di Malaka.[butuh rujukan]

Pada awal bulan September 1552, Santa Cruz mencapai Pulau Shangchuan, 14 km jauhnya dari pesisir Selatan daratan Tiongkok, dekat Taishan, Guangdong. Pada waktu itu, ia hanya ditemani oleh seorang murid Yesuit, Alvaro Ferreira, seorang pria Tionghoa bernama Antonio, dan seorang pelayan dari Malabar bernama Kristoforus.[48] Sekitar pertengahan November, ia mengirim sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa ia telah menemukan seseorang yang dapat membawanya ke daratan Tiongkok jika dibayar dengan sejumlah besar uang, dan ia sedang menunggu orang tersebut. Ia kemudian mengirim Alvaro Ferreira kembali ke Malaka, dan tinggal seorang diri bersama Antonio. Pada tanggal 21 November, ia jatuh sakit seusai merayakan misa dan meninggal di pulau itu di dalam gubuknya pada awal bulan Desember 1552. Gereja Katolik sendiri merayakan 3 Desember sebagai hari kematian Fransiskus Xaverius, tetapi tanggal kematiannya tidak diketahui secara pasti.[49]

Pemakaman dan relik

[sunting | sunting sumber]
Peti mati Santo Fransiskus Xaverius di Basilika Bom Jesus di Goa
Relik berupa tulang lengan atas Santo Fransiskus Xaverius di Saint Francis Xavier's upper arm bone at Gereja Santo Yosef, Macau

Fransiskus pada awalnya dimakamkan di sebuah pantai di Shangchuan. Jenazahnya yang masih utuh dipindahkan dari pulau itu pada bulan Februari 1553 dan disemayamkan sementara waktu di gedung gereja Santo Paulus di Malaka pada tanggal 22 Maret 1553. Sebuah makam terbuka dalam gereja itu saat ini menandai tempat jenazah Xaverius pernah disemayamkan. Pereira tiba dari Goa pada tanggal 15 April 1553, dan tak lama kemudian ia memindahkan jenazah Xaverius ke rumahnya.

Pada tanggal 11 Desember 1553, jenazah Xaverius kembali dibawa berlayar, diangkut dengan sebuah sampan berhias. Peti jenazah ditempatkan dalam sebuah kabin dikelilingi tirai sutera di tengah-tengah lilin-lilin bernyala dan wewangian yang dibakar, diiringi lambaian perpisahan dari seisi bandar Malaka. Ketika melewati selat antara Pulau Penang dan pantai, sampan itu sempat kandas pada gugus pasir tetapi tiba-tiba bertiup angin kencang yang mendorongnya kembali ke perairan dalam. Setelah singgah sebentar di Sailan, kemudian Cochin, akhirnya jenazah Xaverius tiba di Goa pada tanggal 15 Maret 1554.

Keesokan harinya seluruh masyarakat mengiringi pengantaran jenazah orang kudus itu ke katedral. Peti jenazah dibuka dan setelah 16 bulan isinya masih saja segar. Selama tiga hari dan tiga malam berikutnya masyarakat diijinkan memberikan penghormatan terakhir. Ribuan pria dan wanita menciumi kaki jenazah Xaverius dan banyak mujizat dilaporkan terjadi. Jenazah yang tidak membusuk itu kini disemayamkan di Basilika Bom Jésus Diarsipkan 2007-07-05 di Wayback Machine. di Goa, dalam sebuah peti perak pada tanggal 2 Desember 1637. Peti perak itu diturunkan untuk dilihat oleh umum hanya dalam penyelenggaraan pameran umum Diarsipkan 2005-06-17 di Wayback Machine. yang berlangsung selama 6 minggu, tiap 10 tahun sekali, terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2004. Ada silang pendapat mengenai bagaimana jenazah Xaverius tetap utuh sedemikian lama. Beberapa orang berpendapat bahwa jenazahnya telah dimumikan, sementara yang lain menganggapnya sebagai suatu Mujizat.

Lengan depan (siku hingga pergelangan) sebelah kanan, yang digunakan Xaverius untuk memberkati dan membaptis orang, dipisahkan oleh Prefektur Jenderal Serikat Yesus Claudio Acquaviva pada tahun 1614 dan kini dipamerkan dalam sebuah relikuarium (Tempat penyimpanan Relikui) perak dalam gereja Il Gesù,[50] gereja utama Yesuit di Roma.


Pengakuan

[sunting | sunting sumber]

Fransiskus Xaverius diakui sebagai seorang santo oleh Gereja Katolik Roma, Gereja Lutheran dan Gereja Anglikan. Ia dibeatifikasi oleh Sri Paus Paulus V pada tanggal 25 Oktober 1619, dan dikanonisasi oleh Sri Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622, bersamaan dengan kanonisasi Ignatius Loyola.

Sophia University di Tokyo, Jepang didirikan pada tahun 1913 untuk menghormatinya .

Pada tahun 1839, Theodore James Ryken mendirikan Xaverian Brothers, atau Kongregasi Santo Fransiskus Xaverius (CFX). Kini, sebanyak 20 kolose atau SMU merupakan Xaverian Brothers Sponsored Schools (XBSS).

Dia adalah santo pelindung Australia, Kalimantan, Tiongkok, Hindia Timur, Goa, Jepang, dan Selandia Baru. Perayaan peringatannya ditetapkan tiap tanggal 3 Desember.

Banyak gereja di seluruh dunia dinamakan menurut namanya. Salah satunya adalah Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Keuskupan Amboina, Ambon. Basilika Santo Fransiskus Xaverius di Dyersville, Iowa adalah salah satu dari 52 basilika minor di Amerika Serikat dan satu-satunya yang berada di luar kawasan metropolitan.

Ada pula sebuah universitas terkenal di Kanada yang dinamakan menurut namanya di Antigonish, Nova Scotia yakni St. Fransiskus Xaverius University.

Javierada adalah ziarah tahunan dari Pamplona ke Xavier yang dimulai sejak tahun 1940-an.

Xaverius adalah salah satu dari sedikit nama yang dimulai dengan huruf X. Fransiskus Xaverius umum digunakan sebagai nama diri, di Indonesia biasanya disingkat F.X. "Xavier" adalah nama laki-laki yang populer di Portugal, Brasil, Spanyol dan negara-negara berbahasa Spanyol, Prancis dan Belgia. Di Austria dan Bavaria nama ini ditulis Xaver (diucap Ksaber dan kerap mengikuti nama "Francis" yakni Franz-Xaver)

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. "Notable Lutheran Saints". Resurrectionpeople.org. Diarsipkan dari asli tanggal 16 May 2019. Diakses tanggal 16 July 2019.
  2. "Holy Men and Holy Women" (PDF). Churchofengland.org. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 September 2012.
  3. "Saint Francis Xavier". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 12 August 2025.
  4. "Who is Francis Xavier?". Xavier University. Diakses tanggal 12 August 2025.
  5. Attwater 1965, hlm. 141.
  6. Neill 2004, hlm. 160: "By another route I have written to your highness of the great need there is in India for preachers... The second necessity which obtains in India, if those who live there are to be good Christians, is that your highness should institute the holy Inquisition; for there are many who live according to the law of Moses or the law of Muhammad without any fear of God or shame before men".
  7. Rao 1963, hlm. 43.
  8. Neill 2004, hlm. 160–161: [Let the king warn the governor that] "should he fail to take active steps for the great increase of our faith, you are determined to punish him, and inform him with a solemn oath that, on his return to Portugal, all his property will be forfeited for the benefit of the Santa Misericordia, and beyond this tell him that you will keep him in irons for a number of years... There is no better way of ensuring that all in India become Christians than that your highness should inflict severe punishment on a governor".
  9. De Rosa 2006, hlm. 90.
  10. Pope Pius XI (14 December 1927). "Apostolicorum in Missionibus". Papal Encyclicals Online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 March 2015. Diakses tanggal 1 November 2014.
  11. Brodrick 1952, hlm. 17.
  12. Brodrick 1952, hlm. 18.
  13. Brodrick 1952, hlm. 16.
  14. Sagredo 2006.
  15. Brodrick 1952, hlm. 28.
  16. Brodrick 1952, hlm. 21.
  17. Brodrick 1952, hlm. 33.
  18. 1 2 3 Brodrick 1952, hlm. 41.
  19. 1 2 3 Butler.
  20. 1 2 De Rosa 2006, hlm. 93.
  21. De Rosa 2006, hlm. 95.
  22. Brodrick 1952, hlm. 47.
  23. De Rosa 2006, hlm. 37.
  24. Lach 1994, hlm. 12.
  25. De Rosa 2006, hlm. 96.
  26. Brodrick 1952, hlm. 77.
  27. 1 2 3 Wintz 2006a.
  28. Brodrick 1952, hlm. 96.
  29. Kadič 1961, hlm. 12–18.
  30. Brodrick 1952, hlm. 85.
  31. Brodrick 1952, hlm. 100.
  32. DeSouza.
  33. de Mendonça 2002.
  34. 1 2 3 Astrain 1909.
  35. 1 2 3 "'Saint Francis Xavier Apostle of the Indies And Japan', Lives of Saints, John J. Crawley & Co., Inc". ewtn.com. Diarsipkan dari asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 6 April 2015.
  36. "St. Pauls college, Rachol Seminary". Archdiocese of Goa and Daman. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal September 15, 2013. Diakses tanggal Mei 3, 2011.
  37. Duignan 1958, hlm. 725–732.
  38. Heuken, Adolf (2008). Steeinbrink, Karel; Aritonang, Jan Sihar (ed.). A History of Christianity in Indonesia. Brill. hlm. 35. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-27. Diakses tanggal 19 Mei 2020.
  39. Heuken, Adolf (2008). Steeinbrink, Karel; Aritonang, Jan Sihar (ed.). A History of Christianity in Indonesia. Brill. hlm. 37. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-27. Diakses tanggal 19 Mei 2020.
  40. Saturnino Monteiro (1992): Batalhas e Combates da Marinha Portuguesa Volume III, pp. 95–103.
  41. Wintz 2006b.
  42. 1 2 Pacheco 1974, hlm. 477–480.
  43. Endo 1969, hlm. vii, Translator's Preface.
  44. Lang 2019.
  45. Ellis 2003.
  46. Xavier 1992.
  47. "St. Francis Xavier: Letter from Japan, to the Society of Jesus in Europe, 1552". fordham.edu. Diakses tanggal 6 April 2015.
  48. "Saint Francis Xavier: Biography, Missions, Facts, & Legacy". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2019. Diakses tanggal 2 March 2022.
  49. Brockey, Liam Matthew (2015). "The Cruelest Honor: The Relics of Francis Xavier in Early-Modern Asia". The Catholic Historical Review. 101 (1). Catholic Material Culture: 41–64. doi:10.1353/cat.2015.0001. JSTOR 43900075.
  50. Cappella di san Francesco Saverio Diarsipkan 2011-06-17 di Wayback Machine., at the official web site of Il Gesù. Text in Italian.

Buku dan jurnal

[sunting | sunting sumber]

Situs web

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]