Gereja Latin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ritus Latin)
Lompat ke: navigasi, cari
Gereja Latin
Basilika Santo Petrus, tempat dikuburkannya Santo Petrus
Basilika Santo Petrus, tempat dikuburkannya Santo Petrus
Klasifikasi Katolik
Orientasi Kekristenan Barat
Struktur organisasi Episkopal
Pemimpin Paus Fransiskus
Daerah Roma dan seluruh dunia
Didirikan abad pertama
Gabungan dari Gereja Katolik
Memisahkan diri Protestanisme, Anglikanisme, Katolik Lama
Anggota 1.197 juta (Des 2011)
Nama lain Gereja Katolik Latin
Situs web www.vatican.va
Bagian dari serial tentang
Gereja Katolik
StPetersBasilicaEarlyMorning.jpg
Organisasi

Paus: Fransiskus
Tahta Suci •  Dewan Kardinal
Konsili Ekumenis •  Kebijakan episkopal
Gereja Latin •  Gereja-Gereja Katolik Timur
Hukum kanon

Latar Belakang

Kristianitas •  Sejarah •  Katolikisme
Suksesi apostolik
Empat Ciri Gereja
Sepuluh Perintah Allah
Penyaliban / Kebangkitan / Kenaikan Yesus
Maria Diangkat ke Surga

Teologi

Trinitas (Bapa • Putera • Roh Kudus)
Apologetik •  Rahmat Ilahi •  Sakramen
Purgatorium •  Keselamatan •  Dosa asal
Para Kudus •  Dogma
Perawan Maria
(Mariologi • Dikandung Tanpa Noda)

Liturgi dan Peribadatan

Liturgi •  Doa •  Ekaristi
Ibadat Harian •  Tahun Liturgi
Kanon Alkitab •  Kitab Suci Katolik

Ritus

Roma •  Armenia •  Aleksandria •  Bizantium
Antiokhia •  Suriah Barat •  Suriah Timur

Kontroversi

Kritik •  Seks dan gender (Moralitas seksual)
Kasus pelecehan seksual

Topik-topik lain

Seni rupa •  Ekumenisme •  Evolusi
Pelayanan kesehatan •  Monastisisme
Musik •  Ilmu pengetahuan
Ajaran sosial •  Peradaban manusia

Gereja Latin merupakan bagian dari Gereja Katolik, didefinisikan sebagai sebuah Gereja partikular sui iuris atau otonom. Ada berbagai Gereja partikular otonom dalam Gereja Katolik; contoh lainnya adalah Gereja Maronit, Gereja Katolik-Yunani Ukraina, dan Gereja Katolik Siro-Malabar. Masing-masing Gereja tersebut berbeda satu sama lain dalam hal liturgi (perayaan, busana/jubah, nyanyian, bahasa), tradisi devosional, teologi, hukum kanon, dan imam (meski berada di wilayah yang sama dengan lainnya), tetapi semuanya memegang iman yang sama, dan memandang persekutuan dengan Uskup Roma, yaitu Paus, sebagai hal yang penting untuk menjadi seorang Katolik.

Gereja Latin merupakan yang terbesar di antara yang lain, dengan jumlah umat jauh lebih banyak dibandingkan dengan gabungan lainnya. Gereja ini awalnya berkembang di Eropa Barat dan Afrika Utara, wilayah-wilayah di mana bahasa Latin pernah dipahami dan dituturkan oleh semua orang yang berpendidikan formal.[butuh rujukan] Gereja Latin terkadang disebut juga Gereja Barat. Semua Gereja partikular otonom lainnya, total sejumlah 23, berasal dari timur dan oleh sebab itu secara kolektif dikenal sebagai Gereja Katolik Timur. Karena sarana yang memungkinkan semua orang pada saat ini untuk tinggal di sebuah negara yang berbeda, umat seluruh Gereja partikular itu tidak lagi sebatas wilayah asal mereka dan dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia.

Terminologi[sunting | sunting sumber]

"Gereja" dan "ritus"[sunting | sunting sumber]

Kitab Hukum Kanonik Gereja Timur tahun 1990 mendefinisikan penggunaan dalam Kitab tersebut (in hoc Codice) mengenai istilah "Gereja" dan "ritus" sebagai berikut:

Gereja : Sekelompok umat beriman Kristiani yang dipersatukan oleh suatu hirarki menurut norma hukum di mana otoritas tertinggi Gereja secara tegas atau tersirat mengakui sebagai sui iuris apa yang disebut dalam Kitab ini sebagai suatu Gereja sui iuris.[1]
Ritus : Suatu ritus adalah keadaan, budaya, warisan liturgis, teologis, spiritualitas dan disipliner yang menjadi bagian dari sejarah suatu masyarakat yang berbeda, di mana cara tersendiri dalam menghidupi iman mereka itu terwujud dalam masing-masing Gereja sui iuris.[2]

Selaras dengan definisi-definisi di atas mengenai penggunaan istilah dalam Kanon yang mengatur Gereja-Gereja Katolik Timur, Gereja Latin dapat didefinisikan sebagai salah satu kelompok umat beriman Kristiani yang dipersatukan oleh suatu hirarki dan diakui oleh otoritas tertinggi Gereja Katolik sebagai suatu Gereja partikular yang otonom. Sedangkan Ritus Latin adalah seluruh warisan dari Gereja partikular yang berbeda tersebut, yang dengannya mewujudkan caranya sendiri dalam menghidupi imannya, termasuk liturgi, teologi, spiritualitas, tradisi, dan hukum kanon yang tersendiri.

Seseorang menjadi umat atau milik sebuah Gereja partikular, dan mewarisi ritus atau warisan tertentu (partikular) itu.[3] Karena suatu ritus memiliki elemen-elemen liturgis, teologis, spiritual dan disipliner, maka seorang umat juga beribadat, menerima katekisasi, berdoa dan diatur berdasarkan ritus partikularnya.

Gereja-Gereja partikular yang mewarisi dan melanggengkan suatu warisan tertentu diidentifikasikan oleh metonimia dengan warisan tersebut. Dengan demikian, "ritus" didefinisikan sebagai "suatu pembagian dalam Gereja Kristen menggunakan suatu liturgi yang khas",[4] atau cukup disebut sebagai "sebuah Gereja Kristen".[5] Dalam pengertian ini istilah "ritus" dan "Gereja" dianggap sama, sebagaimana tercantum dalam glosarium yang dibuat oleh Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat dan direvisi pada tahun 1999 yang menyatakan bahwa masing-masing "Gereja ritus Timur (Oriental) ... dipandang sejajar dengan ritus Latin di dalam Gereja".[6] Demikian pula Konsili Vatikan II menyatakan bahwa "merupakan pemikiran dalam Gereja Katolik bahwa masing-masing Ritus atau Gereja individual harus mempertahankan tradisinya secara utuh dan seluruhnya dan juga harus menyesuaikan cara hidupnya untuk menjawab kebutuhan dalam waktu dan tempat yang berbeda",[7] dan membahas tentang para patriark dan "uskup agung mayor yang memimpin secara keseluruhan dari beberapa ritus atau gereja individual".[8] Maka "ritus" digunakan sebagai "suatu sebutan teknis atas apa yang saat ini dapat disebut sebagai Gereja partikular".[9] "Gereja atau ritus" juga digunakan sebagai sebuah judul tunggal dalam klasifikasi koleksi Perpustakaan Kongres Amerika Serikat.[10]

"Katolik Latin" dan "Katolik Roma"[sunting | sunting sumber]

Terkadang Takhta Suci menggunakan istilah "Katolik Roma" (ataupun "Katolik" saja) untuk merujuk pada keseluruhan Gereja Katolik yang dalam persekutuan penuh dengan Uskup dan Gereja Roma.[11][12] Pada ensikliknya tanggal 26 Juli 1755, Allatae sunt, Paus Benediktus XIV menggunakan istilah Gereja "Roma" setara dengan "Latin".[13] Adrian Fortescue, pada Catholic Encyclopedia tahun 2010, membuat perbedaan antara "Gereja Roma" (Roman Church) dan "Gereja dari Roma" (Church of Rome). Ia mengatakan bahwa ungkapan "Gereja dari Roma" biasa digunakan oleh non-Katolik untuk merujuk Gereja Katolik tetapi, menurutnya, ungkapan tersebut hanya dapat digunakan secara tepat untuk merujuk Keuskupan Roma; dan istilah "Gereja Roma", dalam konteks patriarkat, dapat digunakan setara dengan "Gereja Latin" : "Seorang Katolik Jerman, sesungguhnya, bukanlah umat Gereja dari Roma tetapi Gereja dari Cologne, atau Munich-Freising, atau apa pun itu, dalam persatuan dengan dan di bawah ketaatan pada Gereja Roma (meskipun, tanpa diragukan lagi, dengan suatu perluasan lebih jauh [istilah] Gereja Roma dapat digunakan sebagai ekuivalensi Gereja Latin untuk patriarkat)".[14]

Beberapa umat Katolik Timur menggunakan ungkapan "Katolik Roma" dalam arti "Katolik Latin",[15] sementara lainnya "bangga menyebut diri mereka Katolik Roma",[16] dan ungkapan "Katolik Roma" terkadang nampak dalam nama gabungan beberapa paroki dan Gereja Katolik Timur.[17]

Karakteristik yang membedakan[sunting | sunting sumber]

Warisan liturgi[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 24 Oktober 1998 Kardinal Joseph Ratzinger berbicara mengenai ritus-ritus liturgi Latin: "Berapa bentuk ritus Latin selalu ada selama ini dan hanya perlahan-lahan dilepaskan, sebagai suatu dampak berkumpulnya [umat dari] berbagai bagian Eropa. Sebelum Konsili telah ada berdampingan bersama Ritus Roma yaitu Ritus Ambrosian, Mozarabik dari Toledo, Braga, Kartusian, Karmelit, dan yang paling terkenal dari semuanya, Ritus Dominikan, dan mungkin masih ada ritus-ritus lain yang tidak saya ketahui."[18] Saat ini ritus liturgi Latin yang paling umum adalah Ritus Roma (baik dalam bentuknya yang "biasa" ataupun yang "luar biasa" seperti versi tahun 1962 yang penggunaannya telah disahkan untuk zaman sekarang), Ritus Ambrosian, Ritus Mozarabik dan beberapa variasi Ritus Roma seperti Penggunaan Anglikan. Ke-23 Gereja Katolik Timur memiliki 5 keluarga besar ritus liturgi: Ritus Aleksandria (3 Gereja), Ritus Antiokhia atau Suriah Barat (3 Gereja), Ritus Armenia (1 Gereja), Ritus Bizantium (14 Gereja), dan Ritus Suriah Timur atau Kaldea (2 Gereja). Ritus liturgi Latin, seperti juga Ritus Armenia, hanya digunakan dalam satu Gereja partikular otonom.

Warisan disipliner[sunting | sunting sumber]

Hukum kanon untuk Gereja Latin dikodifikasikan dalam Kitab Hukum Kanonik, yang telah ada 2 edisi, yang pertama dikeluarkan oleh Paus Benediktus XV pada tahun 1917, dan yang kedua oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1983. Gereja Katolik Timur, yang masing-masingnya memiliki hukum kanon tersendiri, memiliki kesamaan kanon-kanon yang mana dikodifikasi dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Timur pada tahun 1990.[19]

Dalam Gereja Latin, norma untuk pemberian Krisma adalah orang yang menerimakannya, selain dalam bahaya kematian, harus "dapat menggunakan akal, dituntut telah menerima pengajaran secukupnya, berdisposisi baik, dan dapat membarui janji-janji baptis",[20] dan supaya "Ekaristi Maha Kudus dapat diterimakan kepada anak-anak, dituntut bahwa mereka memiliki pemahaman cukup dan dipersiapkan secara seksama sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai kapasitas mereka dan mampu menyambut Tubuh Kristus dengan iman dan bakti".[21] Dalam Gereja-Gereja Timur, sakramen-sakramen tersebut biasanya diberikan segera setelah pembaptisan, bahkan untuk bayi.[22]

Selibat, sebagai suatu konsekuensi dari panggilan untuk mempraktekkan pantang yang sempurna, merupakan kewajiban bagi para imam dalam Gereja Latin.[23] Pengecualian yang langka dimungkinkan bagi para pria yang bergabung dengan Gereja Katolik setelah sebelumnya melayani sebagai klerus dalam gereja lain.[24] Hal ini berbeda dengan disiplin pada sebagian besar tahbisan dalam Gereja Katolik Timur, di mana Imamat (selain episkopat) dapat diterimakan bagi pria yang telah menikah. Sedangkan dalam Gereja Latin seorang pria yang telah menikah tidak dapat ditahbiskan, bahkan untuk diakonat, kecuali ia ditetapkan secara sah untuk menjadi seorang diakon tetap dan bukan menjadi seorang imam.[25] Baik Gereja Latin maupun Gereja-Gereja Katolik Timur sama-sama tidak memperbolehkan perkawinan setelah tahbisan.[26] Selain itu juga tidak ada perbedaan disiplin antara Gereja-Gereja tersebut terkait mereka yang telah mengikrarkan kaul religius untuk hidup selibat.

Para uskup dalam Gereja Latin ditunjuk oleh Paus atas saran dari bebagai dikasteri dari Kuria Roma; khususnya Kongregasi bagi Para Uskup, Kongregasi bagi Penginjilan (bagi negara-negara yang dilayaninya), Sacra Congregatio pro Negotiis Ecclesiasticis Extraordinariis dari Sekretariat Negara Tahta Suci (bagi penunjukan yang memerlukan persetujuan atau pemberitahuan terlebih dahulu dari pemerintah sipil), dan Kongregasi bagi Gereja-gereja Oriental (dalam wilayah kerjanya, bahkan untuk penunjukan uskup Latin). Sinode Gereja-Gereja dengan keuskupan agung mayor dan patriarkal Timur memilih para uskup untuk wilayah mereka masing-masing, hanya menerima surat pengakuan dari Paus. Sementara para uskup untuk wilayah lain dan mereka yang berasal dari Gereja-Gereja Katolik Timur yang lebih kecil ditunjuk dengan cara yang sama seperti para uskup Latin, atas saran dari Kongregasi bagi Gereja-gereja Oriental.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Latin) CCEO, canon 27
  2. ^ CCEO, canon 28 §1
  3. ^ (Inggris) Code of Canon Law, canons 383 §2, 450 §1, 476, 479 §2, 1021
  4. ^ (Inggris) Rite, Merriam Webster Dictionary 
  5. ^ (Inggris) Rite, Collins English Dictionary 
  6. ^ (Inggris) Glossary of Church Terms
  7. ^ (Inggris) Decree on the Eastern Rite Orientalium Ecclesiarum, 2
  8. ^ Orientalium Ecclesiarum, 10
  9. ^ (Inggris) William W. Bassett, The Determination of Rite, an Historical and Juridical Study (Gregorian University Bookshop, 1967 ISBN 978-88-7652129-4), p. 73
  10. ^ (Inggris) Library of Congress Classification - KBS Table 2
  11. ^ Istilah 'Gereja Roma' dan 'Gereja Katolik Roma' setidaknya bermula dari awal Abad Pertengahan, tetapi penekanan atas istilah-istilah ini mengemuka setelah Reformasi Protestan. Alasannya untuk menekankan pembedaan dari bukan sekedar menjadi seorang Kristen, karena baptisan, tetapi menjadi seorang Katolik karena dalam persekutuan dengan sang Paus. ((Inggris) John Hardon, Modern Catholic Dictionary).
  12. ^ Paus Pius XII mengatakan dalam Humani generis bahwa "Tubuh Mistik Kristus dan Gereja Katolik Roma adalah hal yang sama dan satu" ((Inggris) Encyclical Humani generis, 27). Paus Benediktus XVI menyebut Gereja tersebut sebagai "Gereja Katolik Roma" dalam suatu pertemuan di Warsawa pada 25 Mei 2006 dan dalam deklarasi bersama yang ditandatanganinya dengan Uskup Agung Canterbury, Rowan Williams, pada 23 November 2006 dan dengan Patriark Bartolomeus I dari Konstantinopel pada 30 November 2006.
  13. ^ "Gereja Oriental terdiri dari empat ritus - Yunani, Armenia, Suriah, dan Koptik; semua ritus ini disebut dengan nama tunggal Gereja Oriental atau Yunani, sebagaimana nama Gereja Roma atau Latin menandakan Ritus Roma, Ambrosian, dan Mozarabik, maupun ritus-ritus khusus dari berbagai Ordo Reguler yang berbeda" ((Inggris) Encyclical Allatae sunt, 3)
  14. ^ (Inggris) Adrian Fortescue, "Latin Church" in Catholic Encyclopedia (New York 1910)
  15. ^ Misalnya, "Kami bukan umat Katolik Roma" ((Inggris) Fran Colie: Roman or Melkite, What's the Difference); "Katolik Bisantin memegang keyakinan yang sama seperti Katolik Roma, namun seringkali memiliki penekanan berbeda" ((Inggris) Saint Michaels Byzantine Catholic Church); Richard P. McBrien, Catholicism, HarperCollins: 1994. pp. 4-5, etc.
  16. ^ "Ditengah-tengah umat Muslim, kaum skismatik, dan kalangan bidah, mereka bangga menyebut diri mereka Katolik Roma" ((Inggris) Catholic Encyclopedia, article Maronites).
  17. ^ Mesin pencari Google menghasilkan 9.670 hasil terkait "Maronite Roman Catholic".
  18. ^ (Inggris) Address on 24 October 1998 for the tenth anniversary of the motu proprio Ecclesia Dei
  19. ^ (Latin) Codex Canonum Ecclesiarum Orientalium, Libreria Editrice Vaticana, 1990 
  20. ^ (Inggris) Code of Canon Law, canon 889 §2
  21. ^ (Inggris) Code of Canon Law, canon 913 §1
  22. ^ (Latin) Code of Canons of the Eastern Churches, canons 695 §1 and 710
  23. ^ (Inggris) Code of Canon Law, canon 277 §1
  24. ^ (Inggris) Anglicanorum coetibus, VI §§1-2
  25. ^ (Inggris) Code of Canon Law, canon 1042
  26. ^ (Inggris) Code of Canon Law, canon 1087

Pranala luar[sunting | sunting sumber]