Perang Salib

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Pertempuran Perang Salib Kedua (ilustrasi dalam naskah Histoire d'Outremer karya Wilhelmus dari Tirus, 1337)
Peta Mediterania Timur pada tahun 1135, memperlihatkan wilayah yang dikuasai tentara salib dan daerah sekitarnya.

Perang Salib (bahasa Latin: Expeditio Sacra, Jelajah Suci) adalah serangkaian perang agama yang direstui Gereja Latin pada Abad Pertengahan. Menurut anggapan umum, Perang Salib adalah sebutan bagi perang-perang di kawasan timur Laut Tengah yang bertujuan membebaskan Tanah Suci dari penjajahan Islam, namun sesungguhnya istilah "Perang Salib" juga digunakan sebagai sebutan bagi perang-perang yang direstui Gereja di kawasan-kawasan lain. Perang Salib dikobarkan dengan berbagai alasan, baik untuk memberantas penyembahan berhala dan ajaran sesat, untuk menyelesaikan pertikaian di antara pihak-pihak yang sama-sama beragama Kristen Katolik, maupun demi mencapai maksud-maksud politik dan penguasaan wilayah. Ketika pertama kali berkobar, perang-perang semacam ini belum disebut "Perang Salib". Istilah "Perang Salib" baru mengemuka sekitar tahun 1760.

Pada 1095, Paus Urbanus II menyeru dunia Kristen untuk mengobarkan Perang Salib Pertama dalam khotbahnya pada penyelenggaraan Konsili Clermont. Ia mengimbau para hadirin untuk mengerahkan kekuatan militer demi membantu Kekaisaran Bizantin dan Kaisar Bizantin, Aleksios I, yang kala itu memerlukan tambahan pasukan guna menghadapi orang-orang Turki yang telah bermigrasi ke barat dan telah menjajah Anatolia. Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh Sri Paus adalah terjaminnya keleluasaan dan keamanan bagi para peziarah Kristen untuk berziarah ke tempat-tempat suci agama Kristen di kawasan timur Laut Tengah yang telah diduduki kaum Muslim, namun para pakar tidak sependapat mengenai apakah jaminan akses bagi para peziarah ini adalah motif utama dari Sri Paus sendiri ataukah motif utama dari pihak-pihak yang menanggapi seruannya. Mungkin saja Sri Paus sebenarnya bermaksud untuk mempersatukan kembali belahan Timur dan belahan Barat Dunia Kristen yang terpisah semenjak peristiwa Skisma Timur-Barat pada 1054, serta menjadikan dirinya sendiri sebagai kepala segenap Gereja. Kemenangan awal yang diraih bala tentara Kristen dalam Perang Salib menghasilkan pendirian empat Negara Tentara Salib yang pertama di kawasan timur Laut Tengah, yakni Kabupaten Edessa, Kepangeranan Antiokhia, Kerajaan Yerusalem, dan Kabupaten Tripoli. Tanggapan yang menggebu-gebu terhadap seruan Paus Urbanus dari seluruh kalangan masyarakat Eropa Barat menjadi preseden bagi perang-perang Salib selanjutnya. Para sukarelawan menjadi Tentara Salib dengan mengikrarkan kaul di muka umum dan menerima indulgensi paripurna dari Gereja. Sebagian sukarelawan berharap akan diangkat beramai-ramai ke surga dari Yerusalem atau beroleh ampunan dari Allah atas segala dosanya, sementara sukarelawan yang lain ikut serta menjadi Tentara Salib demi menunaikan kewajiban feodal, demi kemuliaan dan kehormatan, atau demi keuntungan ekonomi dan politik.

Upaya dua abad untuk membebaskan Tanah Suci dari penjajahan kaum Muslim berakhir dengan kegagalan. Sesudah Perang Salib Pertama, masih berkobar lagi enam Perang Salib besar dan banyak Perang Salib yang kecil-kecil. Setelah benteng-benteng terdepan Kristen Katolik yang terakhir ditaklukkan pada 1291, tidak ada lagi Perang Salib, tetapi keuntungan yang berhasil dikumpulkan bertahan lebih lama di kawasan utara dan barat Eropa. Perang Salib Wendi dan perang-perang Salib yang dikobarkan oleh Uskup Agung Bremen berhasil mempersatukan seluruh kawasan timur laut Semenanjung Baltik serta suku-suku di Mecklenburg dan Lausitz di bawah kendali pihak Kristen Katolik pada penghujung abad ke-12. Pada permulaan abad ke-13, Tarekat Kesatria Teuton mendirikan sebuah Negara Tentara Salib di Prusia, dan monarki Perancis memanfaatkan Perang Salib Albigensia untuk memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Laut Tengah. Sepak terjang Kesultanan Turki-Osmanli pada penghujung abad ke-14 ditanggapi pihak Kristen Katolik dengan perang-perang Salib yang berakhir dengan kekalahan bala Tentara Salib di Nikopolis pada 1396 dan di Varna pada 1444. Eropa di bawah kendali pihak Kristen Katolik terpuruk dalam keadaan kacau-balau, dan babak terakhir dalam perseteruan Kristen–Islam ditandai oleh dua peristiwa yang menggetarkan: jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Turki-Osmanli pada 1453, dan kemenangan akhir Spanyol atas bangsa Moro dengan takluknya Granada pada 1492. Gagasan Perang Salib terus hidup, sekurang-kurangnya dalam wujud Tarekat Kesatria Hospitalis, sampai akhir abad ke-18, namun tumpuan minat orang Eropa Barat telah beralih ke Dunia Baru.

Para sejarawan modern berbeda pendapat perihal Tentara Salib. Bagi sebagian sejarawan, sepak terjang bala Tentara Salib tidaklah sejalan dengan tujuan mulia yang semula didengung-dengungkan, dan tidak selaras dengan sikap lembaga kepausan selaku pandu akhlak Dunia Kristen, sebagaimana yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa Sri Paus adakalanya menjatuhkan hukuman pengucilan terhadap para Tentara Salib. Bala Tentara Salib dalam pergerakannya seringkali melakukan aksi penjarahan, dan pada umumnya panglima-panglima Tentara Salib bertahan menguasai wilayah yang telah berhasil direbut, alih-alih mengembalikannya kepada Kekaisaran Bizantin. Selama berkobarnya Perang Salib Rakyat, ribuan orang Yahudi tewas terbunuh dalam aksi kejam yang kini disebut sebagai Peristiwa Pembantaian Rheinland. Konstantinopel dijarah habis-habisan selama Perang Salib Keempat. Meskipun demikian, Perang Salib berdampak besar bagi peradaban Dunia Barat: perang-perang ini membuka kembali perairan Laut Tengah bagi kegiatan niaga dan pelayaran (memungkinkan berkembangnya Genova dan Venesia); memadu jati diri kolektif Gereja Latin di bawah kepemimpinan Sri Paus; serta menjadi sumber kisah-kisah kepahlawanan, perilaku kesatria, dan kesalehan yang menjiwai roman, filsafat, dan sastra Abad Pertengahan. Perang Salib juga memperkukuh pertalian antara Dunia Kristen Barat, feodalisme, dan militerisme.

Peristilahan[sunting | sunting sumber]

Istilah "Perang Salib" dalam bahasa Indonesia adalah terjemahan dari istilah Arab "hurubul salibiyah" (Arab: حروب الصليبية‎, perang-perang salib). Istilah terjemahan ini dijadikan padanan istilah Belanda "kruistochten" (penjelajahan-penjelajahan salib) atau "kruisvaarten" (pelayaran-pelayaran salib) yang berkonotasi "perang" atau "aksi militer".

Ketika Paus Urbanus menyerukan pengerahan bala tentara ke Tanah Suci, belum ada istilah "Perang Salib". Istilah yang digunakan kala itu adalah "iter" (lawatan), atau "peregrinatio" (ziarah). Perang-perang dengan restu Gereja ini baru dikait-kaitkan dengan istilah "salib" setelah kata "crucesignatus" (orang yang diberi tanda salib) dari bahasa Latin mulai digunakan pada akhir abad ke-12.[1] Menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, etimologi kata "crusade" (istilah Inggris untuk "Perang Salib") berkaitan dengan kata croisade dalam bahasa Perancis modern, croisée dalam bahasa Perancis kuno, crozada dalam bahasa Provençal, cruzada dalam bahasa Portugis dan Spanyol, dan crociata dalam bahasa Italia. Semua kata ini adalah turunan dari kata cruciāta atau cruxiata dalam bahasa Latin Abad Pertengahan, yang mula-mula berarti "menyiksa" atau "menyalibkan", namun sejak abad ke-12 juga berarti "membuat tanda salib".[2] Meskipun istilah "Perang Salib" telah digunakan oleh para sejarawan sebagai sebutan bagi perang-perang suci yang dilakukan umat Kristen semenjak 1095, peristiwa-peristiwa yang disebut sebagai "Perang Salib" sangatlah banyak dan beragam sehingga penggunaan istilah ini dapat saja menimbulkan salah paham, khususnya terkait perang-perang salib perdana.[1]

Perang Salib di Tanah Suci lazimnya dipilah-pilah menjadi sembilan perang yang berbeda, mulai dari Perang Salib pertama (1095–1099) sampai Perang Salib kesembilan (1271–1272). Pemilahan menjadi sembilan perang inilah yang digunakan oleh sejarawan Charles Mills dalam karya tulisnya yang berjudul History of the Crusades for the Recovery and Possession of the Holy Land (1820), dan seringkali digunakan sebagai bentuk pemilahan yang paling mudah, meskipun sebenarnya masih dapat diperdebatkan. Perang Salib kelima dan keenam yang dipimpin oleh Kaisar Friedrich II dapat saja dianggap sebagai satu kali peperangan, demikian pula dengan Perang Salib kedelapan dan kesembilan yang dipimpin oleh Raja Louis IX.[3]

Istilah "Perang Salib" dapat saja dimaknai secara berbeda, tergantung pada pandangan penulis yang menggunakannya. Giles Constable menjabarkan empat sudut pandang berbeda di kalangan para pengkaji sejarah sebagai berikut:[4]

  • Sudut pandang kaum tradisionalis. Kaum tradisionalis membatasi pengertian Perang Salib sebagai perang-perang yang dilakukan oleh umat Kristen di Tanah Suci semenjak 1095 sampai 1291, "baik untuk menolong umat Kristen di negeri itu maupun untuk memerdekakan Yerusalem dan Makam Suci dari penjajahan".[5]
  • Sudut pandang kaum pluralis. Kaum pluralis menggunakan istilah Perang Salib sebagai sebutan bagi segala macam aksi militer yang direstui secara terbuka oleh paus yang sedang menjabat.[6] Pemaknaan seperti ini mencerminkan pandangan Gereja Katolik Roma (termasuk tokoh-tokoh Abad Pertengahan pada masa Perang Salib seperti Santo Bernardus dari Clairvaux) bahwasanya setiap perang yang direstui oleh Sri Paus dapat disebut secara sah sebagai Perang Salib, tanpa membeda-bedakan sebab, alasan, maupun tempatnya. Definisi yang luas ini mencakup pula aksi-aksi penyerangan terhadap kaum penyembah berhala dan ahli bidah seperti Perang Salib Albigensia, Perang Salib Utara, dan Perang Salib Husite. Definisi ini juga mencakup perang-perang demi keuntungan politik dan penguasaan wilayah seperti Perang Salib Aragon di Sisilia, Perang Salib yang dimaklumkan Sri Paus Inosensius III terhadap Markward dari Anweiler pada 1202,[7] dan yang dimaklumkan terhadap orang-orang Stedingen, beberapa Perang Salib yang dimaklumkan (oleh paus-paus yang berbeda) terhadap Kaisar Friedrich II beserta putra-putranya,[8] dua Perang Salib yang dimaklumkan terhadap para penentang Raja Henry III dari Inggris,[9] dan aksi penaklukan kembali Semenanjung Iberia oleh umat Kristen.[10]
  • Sudut pandang kaum generalis. Kaum generalis memandang Perang Salib sebagai segala macam perang suci yang berkaitan dengan Gereja Latin dan yang dilakukan sebagai tindakan bela agama.
  • Sudut pandang popularis. Kaum popularis membatasi pengertian Perang Salib sebagai perang-perang yang bercirikan gerakan khalayak ramai dengan alasan keagamaan, yakni hanya Perang Salib pertama, dan mungkin pula Perang Salib Rakyat.[4]

Istilah yang digunakan sebagai sebutan umum bagi umat Muslim kala itu adalah "Sarasen"; sebelum abad ke-16, istilah "Muslim" dan "Islam" jarang digunakan oleh orang Eropa.[11] Istilah "Sarasen" dalam bahasa Yunani (Σαρακηνοί, Sarakēnoí) dan bahasa Latin (Saraceni) berasal dari sebutan pada milenium pertama bagi bangsa-bangsa non-Arab yang mendiami daerah padang pasir di sekitar Provinsi Arabia Petrea.[12] Istilah ini kemudian digunakan pula sebagai sebutan bagi suku-suku Arab, dan pada abad ke-12 menjadi penanda suku bangsa dan agama yang sinonim dengan kata "Muslim" dalam sastra Latin Abad Pertengahan.[13] Istilah "orang Franka" (Faranji atau Faranggi) dan "orang Latin" (Latini) digunakan sebagai sebutan bagi orang-orang Eropa Barat semasa Perang Salib, guna membedakan mereka dari "orang Yunani" (umat Kristen Timur).[14][15] Para penulis sejarah Muslim pada Abad Pertengahan seperti Ali ibn al-Athir menyebut Perang Salib sebagai "perang-perang orang Franka" (Arab: حروب الفرنجة‎, hurubul faranjah). Istilah yang digunakan sebagai padanan "Perang Salib" dalam bahasa Arab modern adalah "kampanye-kampanye salib" (Arab: حملات صليبية‎, hamalāt ṣalībiyah). Istilah Arab modern ini sebenarnya adalah serapan dan terjemahan dari istilah "Perang Salib" yang digunakan dalam historiografi Barat.[16]

Penulisan sejarah[sunting | sunting sumber]

Selama masa Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi pada abad ke-16, para sejarawan memandang Perang-perang Salib melalui kaca mata keyakinan religius mereka masing-masing. Kaum Protestan memandangnya sebagai suatu wujud dari kejahatan kepausan, dan kaum Katolik memandangnya sebagai pemaksaan kekuatan demi kebaikan.[17] Para sejarawan Abad Pencerahan cenderung melihat Abad Pertengahan secara umum, dan Perang-perang Salib tersebut secara khusus, sebagai berbagai upaya dari budaya-budaya barbar yang didorong oleh fanatisme.[18] Saat awal periode Romantik pada abad ke-19, pandangan keras seputar Perang-perang Salib dan zamannya telah melunak;[19] keilmuan di kemudian hari pada abad tersebut menekankan pengkhususan dan detail.[20]

Para akademisi Abad Pencerahan dari abad ke-18 dan para sejarawan Barat modern mengungkapkan kemarahan moral atas perilaku para tentara salib. Pada tahun 1950-an Steven Runciman menulis, "Cita-cita yang tinggi ternoda oleh kekejaman dan keserakahan ... Perang-perang Suci tersebut tidak lebih dari suatu tindakan intoleransi yang lama dalam nama Allah".[21] Abad ke-20 menghasilkan tiga tulisan sejarah yang penting tentang Perang-perang Salib: oleh Runciman, René Grousset, dan suatu karya dari berbagai penulis yang disunting oleh K. M. Stetton.[22] Selama abad itu, dikembangkan dua definisi mengenai Perang-perang Salib; salah satunya mencakup semua upaya yang dipimpin oleh paus di Asia Barat dan Eropa,[23] namun sejarawan Thomas Madden menulis, "Perang salib, yang pertama dan terutama, merupakan suatu perang terhadap kaum Muslim demi membela iman Kristen ... Mereka memulainya sebagai suatu akibat dari penaklukan kaum Muslim atas wilayah-wilayah kaum Kristen." Madden menuliskan bahwa tujuan dari Paus Urbanus adalah bahwa "umat Kristen dari Timur harus terbebas dari kondisi-kondisi yang memalukan dan kejam di bawah kekuasaan Muslim."[24]

Setelah jatuhnya Akko pada tahun 1291, dukungan Eropa untuk Perang-perang Salib terus berlanjut meskipun ada kritikan dari berbagai orang pada zaman tersebut (misalnya Roger Bacon, yang percaya bahwa perang-perang itu tidak efektif: "Mereka yang bertahan hidup, bersama-sama dengan anak-anak mereka, adalah lebih dan lebih lagi disakiti hatinya terhadap iman Kristen").[25] Menurut sejarawan Norman Davies, Perang-perang Salib bertentangan dengan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah yang didukung oleh Paus Urbanus dan memperkuat hubungan antara militerisme, feudalisme, dan dunia Kristen Barat. Pembentukan ordo-ordo religius militer mengejutkan kaum Bizantium Ortodoks, dan para tentara salib menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan mereka ke timur. Dengan melanggar sumpah mereka untuk mengembalikan wilayah kepada kaum Bizantium, mereka seringkali mempertahankan wilayah tersebut untuk dimilki sendiri.[26][27][28] Permulaan Perang Salib Rakyat memprakarsai terjadinya suatu pogrom di Rhineland dan pembantaian ribuan orang Yahudi di Eropa Tengah; selama abad ke-19 akhir, perang salib ini digunakan oleh beberapa sejarawan Yahudi untuk mendukung Zionisme.[29] Perang Salib Keempat mengakibatkan perampokan atas Konstantinopel, sehingga secara efektif mengakhiri segala kesempatan mendamaikan Skisma Timur–Barat dan menyebabkan jatuhnya Kekaisaran Bizantium kepada kekuasaan Ottoman. Para sejarawan Abad Pencerahan mengkritik salah sasarannya Perang-perang Salib—khususnya Perang Salib Keempat—yang mana menyerang suatu kekuasaan Kristen (Kekaisaran Bizantium) bukannya kekuasaan Islam. David Nicolle menyebutkan kontroversi Perang Salib Keempat dalam "pengkhianatan" atas Bizantium karyanya,[30] dan dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire Edward Gibbon menuliskan bahwa upaya-upaya para tentara salib akan lebih efektif jika memperbaiki negara-negara mereka sendiri.[26]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Wilayah terluas yang dikuasai Kesultanan Seljuk Raya pada tahun 1092.

Setelah pasukan Muslim mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Palestina berada di bawah kendali Kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah.[31][32][33] Hubungan politik, perdagangan, dan toleransi antara negara-negara Arab dan Kristen Eropa mengalami pasang surut hingga tahun 1072, ketika Fatimiyah kehilangan kendali atas Palestina dan beralih ke Kekaisaran Seljuk Raya yang berkembang pesat.[34] Kendati kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus, penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangunnya kembali.[35] Para penguasa Muslim mengizinkan peziarahan oleh umat Katolik ke tempat-tempat suci. Para pemukim Kristen dianggap sebagai dzimmi dan perkawinan campur tidaklah jarang terjadi.[36] Budaya dan keyakinan hidup berdampingan dan saling bersaing, namun kondisi-kondisi daerah perbatasan tidak bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik.[37] Gangguan atas peziarahan oleh karena penaklukan bangsa Turk Seljuk memicu dukungan bagi Perang-perang Salib di Eropa Barat.[38]

Lukisan seorang penguasa di atas singgasana sedang menempatkan kakinya di atas seseorang yang sedang berbaring di lantai.
Terjemahan Perancis dari De Casibus Virorum Illustrium karya Boccaccio memperlihatkan Sultan Seljuk Alp Arslan secara ritual mempermalukan Romanos IV pada tahun 1071 setelah Pertempuran Manzikert; Alp Arslan mengizinkan Romanos untuk kembali Konstantinopel, di mana ia terbunuh oleh kaum Bizantium.

Kekaisaran Bizantium melakukan ekspansi wilayah pada awal abad ke-10 melalui Basilius II yang menghabiskan sebagian besar kekuasaannya selama setengah abad dengan melakukan berbagai penaklukan. Meskipun ia mewariskan peningkatan harta benda, ia menelantarkan urusan-urusan domestik dan mengabaikan tugas untuk menggabungkan hasil-hasil penaklukannya ke dalam ekumene Bizantium. Tak ada satu pun penerus Basilius yang memiliki bakat politik atau militer, dan tugas mengatur Kekaisaran semakin banyak diserahkan kepada pelayanan sipil. Upaya-upaya mereka untuk mengembalikan perekonomian Bizantium ke dalam kemakmuran bahkan memicu inflasi. Untuk menyeimbangkan anggaran yang semakin tidak stabil, tentara tetap Basilius dibubarkan dan tentara thematiknya digantikan dengan tagmata. Setelah kekalahan pasukan Bizantium pada tahun 1071 dalam Pertempuran Manzikert, bangsa Turk Seljuk menguasai hampir keseluruhan Anatolia dan kekaisaran tersebut kerap kali mengalami perang saudara.[39]

Penaklukan kembali Semenanjung Iberia dari kekuasaan kaum Muslim dimulai pada abad ke-8, mencapai titik baliknya dengan direbutnya kembali Toledo pada tahun 1085.[40] Kendati dalam Konsili Clermont tahun 1095[41] Paus Urbanus II telah memperbandingkan peperangan Iberia dengan Perang Salib Pertama yang dimaklumkannya, namun status perang salib baru diperoleh melalui ensiklik Paus Kallistus II tahun 1123.[42] Setelah ensiklik ini, kepausan tersebut menyatakan perang-perang salib Iberia pada tahun 1147, 1193, 1197, 1210, 1212, 1221, dan 1229. Hak-hak istimewa tentara salib juga diberikan kepada mereka yang membantu ordo-ordo militer utama (Kesatria Templar dan Kesatria Hospitalis) dan ordo-ordo Iberian yang pada akhirnya bergabung dengan kedua ordo utama: Ordo Calatrava dan Ordo Santiago. Dari tahun 1212 hingga 1265 kerajaan-kerajaan Kristen Iberia mendesak kaum Muslim sampai ke Keamiran Granada di ujung selatan semenanjung tersebut. Pada tahun 1492 keamiran ini ditaklukkan, kaum Muslim dan Yahudi dipaksa keluar dari semenanjung tersebut.[43]

Suatu kepausan reformis yang agresif mengalami perselisihan dengan monarki-monarki sekuler Barat dan Kekaisaran Timur, menyebabkan Skisma Timur–Barat[44] dan Kontroversi Penobatan (yang dimulai sekitar tahun 1075 dan berlanjut selama Perang Salib Pertama). Kepausan tersebut mulai menegaskan kemerdekaannya dari para penguasa sekuler dan menyusun alasan-alasan penggunaan kekuatan bersenjata secara tepat oleh kalangan Katolik. Hasilnya adalah kesalehan yang ketat, suatu minat dalam hal-hal keagamaan, dan propaganda keagamaan yang menganjurkan suatu perang yang benar untuk merebut kembali Palestina dari kaum Muslim. Pandangan mayoritas adalah bahwa umat non-Kristen tidak dapat dipaksa untuk menerima baptisan Kristen atau diserang secara fisik karena memiliki iman yang berbeda, namun ada kaum minoritas yang meyakini bahwa konversi paksa dan pembalasan dapat dibenarkan karena penolakan atas pemerintahan dan iman Kristen.[45] Partisipasi dalam perang seperti demikian dipandang sebagai suatu bentuk penitensi yang mana dapat mengganti kerugian akibat dosa.[46] Di Eropa, bangsa Jerman melakukan ekspansi dengan mengorbankan bangsa Slavia[47] dan Sisilia ditaklukkan oleh seorang petualang Norman bernama Robert Guiscard pada tahun 1072.[48]

Ilustrasi dari Livre des Passages d'Outre-mer (kr. 1490) memperlihatkan Paus Urbanus II dalam Konsili Clermont. (dari Bibliothèque Nationale)

Kaisar Alexius I Komnenus meminta bantuan militer (kemungkinan tentara bayaran untuk memperkuat tagmatanya) dari Paus Urbanus II pada Konsili Piacenza tahun 1095 untuk memerangi Seljuks; ia secara berlebihan menceritakan bahaya yang dihadapi Kekaisaran Timur agar dapat memperoleh pasukan yang dibutuhkannya.[49] Pada tanggal 27 November 1095, dalam Konsili Clermont yang dihadiri hampir 300 klerus Perancis, Paus Urbanus mengangkat isu-isu mengenai masalah yang terjadi di Timur dan perjuangan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) melawan kaum Muslim. Lima sumber utama seputar informasi terkait konsili ini adalah: Gesta Francorum (Perbuatan-perbuatan Bangsa Franka), sebuah karya anonim bertarikh antara tahun 1100–1101; Fulcher dari Chartres, seorang imam yang menghadiri konsili ini; Robert sang Rahib, yang mungkin menghadirinya; Baldric, Uskup Agung Dol, dan Guibert dari Nogent (yang mana tidak menghadirinya). Laporan-laporan tersebut berupa tulisan tinjauan ke belakang yang sangat jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya.[50] Dalam Historia Iherosolimitana karyanya tahun 1106–1107, Robert sang Rahib menuliskan bahwa Paus Urbanus meminta kaum Kristen barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium karena "Deus vult" ("Allah menghendakinya") dan menjanjikan absolusi bagi para pesertanya; menurut sumber-sumber lainnya, paus tersebut menjanjikan suatu indulgensi. Dalam laporan-laporan itu, Paus Urbanus menekankan untuk merebut kembali Tanah Suci daripada sekadar membantu sang kaisar dan ia mendaftar pelanggaran-pelanggaran mengerikan yang diduga dilakukan oleh kaum Muslim. Perang salib tersebut diserukan di seluruh Perancis; Paus Urbanus menulis kepada mereka "yang menanti di Flandria" bahwa bangsa Turk, selain menghancurkan "gereja-gereja Allah di wilayah-wilayah timur", telah merebut "Kota Suci Kristus, yang dihiasi oleh sengsara dan kebangkitan-Nya—dan merupakan penghujatan untuk mengatakannya—telah menjualnya dan gereja-gerejanya ke dalam perbudakan keji". Meskipun sang paus tidak secara eksplisit menyebut penaklukan kembali Yerusalem, ia menyerukan "pembebasan" militer atas Gereja-gereja Timur dan menunjuk Adhemar dari Le Puy untuk memimpin perang salib ini (yang mana dimulai pada tanggal 15 Agustus, pada peringatan Maria Diangkat ke Surga).[51]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perang Salib I (1096–1099) dan akibat langsungnya[sunting | sunting sumber]

Rute Perang Salib Pertama di Asia.

Pada tahun 1095 Paus Urbanus II di Roma menerima seorang utusan Kaisar Bizantium Alexius I dari Konstantinopel yang mencari bantuan darurat untuk menghadapi ancaman bangsa Turk. Paus tersebut bertindak segera dan melangsungkan suatu perang salib dengan tujuan mengamankan akses menuju tempat-tempat suci. Sejarawan Paul Everett Pierson mengatakan kalau ia juga "berharap bahwa jika para tentara salib membantu Gereja Timur dengan mengalahkan bangsa Turk, Gereja akan bersatu kembali di bawah kepemimpinannya."[52] Karena terinsiprasi oleh khotbah Paus Urbanus II, Peter sang Pertapa memimpin sebanyak 20.000 orang, sebagian besar petani, menuju Tanah Suci tak lama setelah Paskah tahun 1096.[53] Ketika mereka tiba di Jerman pada musim semi tahun 1096, unit-unit tentara salib memulai pembantaian Rhineland di kota Speyer, Worms, Mainz, dan Cologne, kendati ada upaya-upaya oleh para uskup Katolik untuk melindungi orang-orang Yahudi. Para pemimpin utamanya misalnya Emicho dan Peter sang Pertapa. Aktivitas anti-Yahudi ini memiliki kisaran yang luas, mulai dari kekerasan spontan secara terbatas sampai dengan serangan militer skala penuh terhadap komunitas-komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne.[54] Hal ini merupakan peristiwa besar pertama terkait kekerasan anti-Yahudi di Eropa, dan dikutip oleh kaum Zionis pada abad ke-19 sebagai kebutuhan akan suatu negara Yahudi.[55] Ketika kelompok tersebut sampai di Kekaisaran Bizantium, Kaisar Alexius mendesak mereka agar menunggu para bangsawan barat, tetapi mereka bersikeras untuk melanjutkan dan jatuh dalam suatu penyergapan oleh bangsa Turk di luar kota Nicea, di mana hanya sekitar 3.000 orang yang berhasil meloloskan diri.[56]

Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel.[57][58] Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang.[59] Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium.[60] Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia.[61][62][63] Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari Bouillon, Robert Curthose, Hugues I dari Vermandois, Baudouin dari Boulogne, Tancred dari Hauteville, Raymond IV dari Toulouse, Bohemond dari Taranto, Robert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis dan Heinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi.[64]

Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Ketika mereka memasuki Antiokhia, para tentara salib membantai penduduk Muslim dan menjarah kota tersebut. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni.[65] Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius.[66] Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka.[67]

Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Mereka mulai melakukan pembantaian penduduk sipil Muslim dan Yahudi, serta menjarah atau menghancurkan masjid-masjid atau kota itu sendiri.[68] Dalam Historia Francorum qui ceperunt Iherusalem karyanya, Raymond D'Aguilers meninggikan tindakan-tindakan yang mana akan dianggap sebagai kekejaman dari suatu sudut pandang modern.[69] Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem.[70] Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut[71] dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks "skismatik" dari timur.[72]

Setelah Perang Salib Pertama berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan I mengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah.[73]

Abad ke-12[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke-12, praktik perang salib dengan skala yang lebih kecil terus berlangsung. Paus Kallistus II memaklumkan Perang Salib Venesia yang berlangsung pada tahun 1122–1124;[74] kunjungan Foulques V, Comte Anjou, pada tahun 1120 dan 1129 serta Konrad III dari Jerman pada tahun 1124 menghasilkan pengakuan atas Kesatria Templar oleh Paus Honorius II. Pemberian indulgensi oleh Paus Innosensius II pada tahun 1135 atas keterlibatan dalam perang salib bagi mereka yang menentang musuh-musuh kepausan dipandang oleh beberapa sejarawan sebagai awal mula perang-perang salib yang bermotif politik.[75] Negara-negara tentara salib pada awalnya aman, tetapi Imad ad-Din Zengi, setelah ditunjuk sebagai gubernur Mosul pada tahun 1127, merebut Aleppo pada tahun 1128 dan Edessa (Urfa) pada tahun 1144.[76] Kekalahan-kekalahan ini menyebabkan Paus Eugenius III menyerukan perang salib lainnya pada tanggal 1 Maret 1145.[77] Perang salib baru ini didukung oleh berbagai pengkhotbah, yang paling terkenal ialah Bernardus dari Clairvaux.[78] Para pasukan dari Perancis dan Jerman, masing-masing dipimpin oleh Raja Louis VII dan Konrad III, bergerak menuju Yerusalem pada tahun 1147 dan juga melakukan pengepungan atas Damaskus, tetapi gagal meperoleh satu pun kemenangan penting.[79] Sementara itu sekelompok tentara salib dari Eropa utara berhenti di Portugal dan bersekutu dengan raja Portugal, yakni Afonso I, untuk merebut kembali Lisbon dari kaum Muslim pada tahun 1147.[80] Sebuah detasemen dari grup tentara salib ini membantu Comte Ramón Berenguer IV dari Barcelona untuk menaklukkan kota Tortosa pada tahun berikutnya.[81]

Di Tanah Suci, baik raja Perancis maupun Jerman telah kembali ke negara mereka masing-masing pada tahun 1150 tanpa ada satu pun perubahan berarti. Bernardus dari Clairvaux, yang melalui khotbah-khotbahnya mendorong keikutsertaan dalam Perang Salib Kedua, kecewa dengan terjadinya kekerasan dan pembantaian terhadap penduduk Yahudi di Rhineland.[82] Pada tahun 1172 Heinrich sang Singa, Adipati Sachsen, melakukan suatu peziarahan yang terkadang dianggap sebagai suatu perang salib.[83] Pada saat yang sama, bangsa Saxon dan Dane berperang melawan orang Wendi dalam Perang Salib Wendi. Kaum Wendi mengalahkan Dane; Saxon tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perang salib tersebut.[84] Perang-perang salib terus berlanjut padahal tidak ada bulla kepausan resmi yang dikeluarkan untuk memberikan wewenang berlangsungnya perang-perang salib baru.[85] Heinrich memulai kembali upaya untuk menaklukkan kaum Wendi pada tahun 1160, dan mereka dikalahkan olehnya pada tahun 1162.[86]

Miniatur Raja Philippe II dari Perancis ketika tiba di Tanah Suci.

Saladin membangun suatu kesatuan kekuatan oposisi dan memberikan ancaman baru kepada negara-negara Latin.[87] Setelah kemenangannya di Pertempuran Hattin, ia dengan mudah mengalahkan para tentara salib yang tercerai berai pada tahun 1187 dan merebut kembali Yerusalem pada tanggal 29 September tahun itu. Syarat-syarat perjanjian diatur dan kota itu menyerah; Saladin memasuki kota pada tanggal 2 Oktober.[88] Menurut Benediktus dari Peterborough, Paus Urbanus III meninggal dunia karena kesedihan yang mendalam pada tanggal 19 Oktober 1187 setelah mendengar berita mengenai kekalahan tersebut.[89] Pada tanggal 29 Oktober Paus Gregorius VIII mengeluarkan sebuah bulla kepausan, Audita tremendi, yang memaklumkan dilangsungkannya Perang Salib Ketiga. Friedrich I, Kaisar Romawi Suci, Philippe II dari Perancis, dan Richard I dari Inggris berencana untuk merebut Yerusalem kembali dan mereka mengorganisir pasukan masing-masing. Friedrich meninggal dunia dalam perjalanan ke Yerusalem; beberapa pasukannya dapat mencapai Tanah Suci. Dua pasukan lainnya berhasil sampai tetapi dilanda pertengkaran politik. Philippe kembali ke Perancis, meninggalkan sebagian besar pasukannya. Richard menaklukkan Pulau Siprus dari kaum Bizantium pada tahun 1191 karena para korban kapal karam termasuk saudarinya ditawan oleh penguasa pulau itu, Isaakius Komnenos.[90] Ia kemudian merebut kembali kota Akko setelah suatu pengepungan yang lama. Bala tentara salib melakukan perjalanan ke selatan di sepanjang pantai Mediterania, mengalahkan kaum Muslim di dekat Arsuf, dan merebut kembali kota pelabuhan Yafo. Mereka telah berada di dekat Yerusalem, tetapi kekurangan perbekalan memaksa mereka untuk mengakhiri perang salib ini tanpa merebut Yerusalem.[91] Richard meninggalkannya pada tahun berikutnya setelah menegosiasikan suatu perjanjian dengan Saladin. Ketentuan-ketentuan itu mengizinkan kaum Katolik yang tidak bersenjata untuk berziarah ke Yerusalem dan mengizinkan para pedagang untuk berdagang.[92] Heinrich VI, Kaisar Romawi Suci, memprakarsai Perang Salib Jerman pada tahun 1197 untuk memenuhi janji-janji yang dibuat oleh ayahnya, Friedrich. Dengan dipimpin oleh Konrad dari Wittelsbach, Uskup Agung Mainz, pasukan tersebut tiba di Akko dan merebut kota Sidon dan Beirut. Namun sebagian besar tentara salib itu kembali ke Jerman setelah Heinrich meninggal dunia.[93]

Abad ke-13[sunting | sunting sumber]

Dua orang Kesatria Livonia; penggambaran dari abad ke-19.

Ketika Paus Selestinus III menyerukan suatu perang salib terhadap kaum pagan di Eropa Utara pada tahun 1193, Uskup Berthold dari Hanover memimpin sejumlah besar pasukan untuk mengalahkannya dan ia meninggal dunia tahun 1198. Menanggapi kekalahan tersebut, Paus Innosensius III mengeluarkan sebuah bulla kepausan yang menyatakan suatu perang salib terhadap etnis Livonia yang mana kebanyakan menganut paganisme.[94] Albrecht von Buxthoeven, setelah dikonsekrasi sebagai uskup pada tahun 1199, tiba pada tahun berikutnya dengan suatu kekuatan yang besar dan menjadikan Riga sebagai takhta keuskupannya pada tahun 1201. Pada tahun 1202 ia membentuk Kesatria Livonian untuk membantunya mengkonversi kaum pagan ke dalam Katolikisme dan, yang lebih penting, untuk melindungi perdagangan Jerman. Etnis Livonia tersebut ditaklukkan dan dikonversi antara tahun 1202 dan 1209.[95] Pada tahun 1217 Paus Honorius III menyatakan suatu perang salib terhadap orang Prusia,[96] dan pada tahun 1226 Konrad I dari Masovia memberikan Chełmno kepada para Kesatria Teutonik sebagai sebuah basis bagi perang salib ini.[97] Pada tahun 1236 para Kesatria Livonia dikalahkan oleh orang Lithuania di Saule, dan pada tahun 1237 Paus Gregorius IX menggabungkan sisa-sisa dari ordo militer tersebut ke dalam Kesatria Teutonik sebagai Ordo Livonian.[98]

Pada tahun 1249 para Kesatria Teutonik menyelesaikan penaklukan mereka atas orang Prusia Lama, dan memerintahnya sebagai para lord dari kaisar Jerman. Mereka kemudian menaklukkan dan mengkonversi orang Lithuania, suatu proses yang berlangsung sampai tahun 1380-an.[99] Ordo tersebut gagal menaklukkan bangsa Rusia Ortodoks, khususnya Republik Pskov dan Novgorod (dengan dukungan dari Paus Gregorius IX), sebagai bagian dari Perang Salib Utara. Pada tahun 1240 pasukan Novgorod mengalahkan bangsa Swedia dalam Pertempuran Neva,[100] dan dua tahun kemudian mereka mengalahkan Ordo Livonian dalam Pertempuran di Es.[101]

Paus Innosensius III mulai berkhotbah di Inggris, Jerman, dan khususnya Perancis, tentang apa yang kemudian menjadi Perang Salib Keempat pada tahun 1200.[102] Ini menjadi semacam kendaraan bagi ambisi politik Doge Enrico Dandolo dari Venesia (suatu negara vasal dari Bizantium pada saat itu) dan Raja Jerman Philip dari Swabia, yang beristrikan Irene dari Bizantium. Dandolo melihat suatu kesempatan untuk memperluas kekuasaan Venesia di Timur Dekat dan melepaskan diri dari keterikatan Bizantium; Philip melihat perang salib tersebut sebagai suatu kesempatan untuk mengembalikan keponakannya yang diasingkan, Alexius IV Angelus, ke singgasana Bizantium.[103] Meskipun para tentara salib membuat kontrak dengan orang Venesia untuk suatu armada dan perbekalan untuk mengangkut mereka ke Tanah Suci, mereka tidak mampu membayar karena jumlah kesatria yang tiba di Venesia terlalu sedikit. Karenanya mereka sepakat untuk mengalihkan perang salib ke Konstantinopel dan berbagi apa yang dapat dirampas sebagai pembayaran. Sebagai jaminannya para tentara salib merebut kota Kristen Zara pada tanggal 24 November 1202, dan mereka semua yang terlibat diekskomunikasi oleh Paus Innosensius yang terkejut karena peristiwa itu.[104] Mereka mendapat perlawanan terbatas dalam pengepungan awal mereka atas Konstantinopel, dengan berlayar menyusuri Dardanelles dan menembus tembok-tembok laut. Alexius IV Angelus mati dicekik setelah suatu kudeta kekaisaran, sehingga menggagalkan usaha mereka, dan mereka mengulangi pengepungan itu pada bulan April 1204. Kali ini kota tersebut dijarah, gereja-gereja dirampok, dan banyak penduduk dibunuh; para tentara salib membagi kekaisaran ini menjadi berbagai fief Latin dan koloni Venesia. Yang terakhir, pertahanan La Cava dan Nikosia dititikberatkan.[105] Pada bulan April 1205 para tentara salib dikalahkan oleh kaum Bulgar dan sisa-sisa orang Yunani di Adrianopel, di mana Kaloyan dari Bulgaria menangkap dan memenjarakan kaisar Latin yang baru, yaitu Baudouin dari Flandria.[106][107] Kendati menyesalkan tindakan-tindakan itu, kepausan tersebut pada awalnya mendukung penyatuan kembali gereja-gereja Timur dan Barat secara paksa.[108] Perang Salib Keempat secara efektif menyebabkan adanya dua Kekaisaran Romawi di Timur: suatu kekaisaran Latin di selat tersebut (Konstantinopel) yang bertahan sampai tahun 1261 dan suatu enklave Bizantium yang memerintah dari Nicea, yang mana kemudian berhasil menguasainya kembali dengan memanfaatkan tidak adanya armada Venesia. Bagaimanapun Venesia adalah pewaris atau penerima manfaat satu-satunya.[109]

Paus Innosensius III mengekskomunikasi kaum Albigens (kiri), dan pembantaian Albigens oleh tentara salib (kanan).

Meskipun Perang Salib Albigensian dilangsungkan pada tahun 1208 untuk mengatasi kaum Katar (Albigens) dari Ositania (Perancis selatan masa kini), perjuangan panjang selama beberapa dekade menyimpan banyak keinginan dari Perancis utara untuk memperluas kontrolnya ke selatan sebagaimana dilakukannya dengan memerangi bidah tersebut. Kaum Katar akhirnya berhasil dihalau ke bawah tanah, dan Perancis selatan kehilangan kemerdekaannya.[110] Pada tahun 1221 Paus Honorius III meminta Raja András II untuk mengatasi para bidat di Bosnia, dan pasukan Hungaria menanggapi tambahan permintaan kepausan pada tahun 1234 dan 1241; kampanye yang belakangan berakhir dengan adanya invasi Mongol di Hungaria pada tahun 1241. Gereja Bosnia merupakan Katolik secara teologis, tetapi skismanya dengan Gereja Katolik Roma berlangsung hingga melewati akhir Abad Pertengahan.[111] Paus Innosensius III menyatakan bahwa suatu perang salib baru akan dimulai pada tahun 1217, dan ia menyelenggarakan Konsili Lateran IV pada tahun 1215. Tentara salib ini sebagian besar berasal dari Jerman, Flandria, dan Frisia, dengan sejumlah besar pasukan dari Hungaria yang dipimpin oleh András II dan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Adipati Luitpold VI dari Austria. András dan Luitpold tiba di Akko pada bulan Oktober 1217, namun hanya sedikit hasil yang dicapai dan András kembali ke Hungaria pada bulan Januari 1218. Setelah kedatangan lebih banyak tentara salib, Luitpold dan Raja Yerusalem Jean dari Brienne mengepung Damietta di Mesir;[112] mereka merebutnya pada bulan November 1219. Upaya-upaya lanjutan oleh Pelagio Galvani, seorang legatus kepausan, untuk bergerak lebih jauh ke Mesir tidak membuahkan hasil.[113] Karena diblokir oleh pasukan Sultan Ayyubiyyah Al-Kamil, para tentara salib terpaksa menyerah. Al-Kamil memaksa dikembalikannya Damietta, setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 8 tahun, dan para tentara salib meninggalkan Mesir.[114]

Friedrich II (kiri) bertemu dengan al-Kamil (kanan) dalam sebuah naskah beriluminasi dari Nuova Cronica karya Giovanni Villani.

Setelah berulang kali melanggar sumpahnya dalam perang salib, Kaisar Friedrich II diekskomunikasi.[115] Ia akhirnya berlayar dari Brindisi, mendarat di Akko pada bulan September 1228 setelah suatu perhentian di Siprus.[116] Friedrich menyepakati suatu perjanjian damai dengan Al-Kamil yang mana memungkinkan kaum Kristen Latin untuk menguasai sebagian besar Yerusalem dan sejalur wilayah dari Akko menuju Yerusalem, dengan kaum Muslim menguasai daerah-daerah suci mereka di Yerusalem. Sebagai imbalannya, Friedrich berjanji untuk melindungi Al-Kamil terhadap semua musuh sekalipun mereka kaum Kristen.[117] Setelah Perang Salib Keenam berlangsung Perang Salib Para Baron, yakni suatu upaya oleh Raja Thibaut I dari Navarre pada tahun 1239 dan 1240 yang berawal dari panggilan Paus Gregorius IX pada tahun 1234 untuk kembali berhimpun pada bulan Juli 1239 setelah gencatan senjata berakhir. Selain Thibaut, Peter dari Dreux, Hugues IV dari Bourgogne dan bangsawan Perancis lainnya juga berpartisipasi. Mereka tiba di Akko pada bulan September 1239. Setelah suatu kekalahan pada bulan November di Gaza, Thibaut mengatur dua perjanjian—satu perjanjian dengan kaum Ayyubiyyah dari Damaskus dan perjanjian lainnya dengan kaum Ayyubiyyah dari Mesir—yang mana mengembalikan wilayah kepada negara-negara yang tergabung dalam perang salib tetapi menyebabkan ketidakpuasan di kalangan tentara salib. Thibaut kembali ke Eropa pada bulan September 1240; Richard dari Cornwall, adik Raja Henry III dari Inggris, mengambil salib tersebut dan tiba di Akko beberapa minggu kemudian. Setelah menegakkan perjanjiannya Thibaut, Richard meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke Eropa pada bulan Mei 1241.[118]

Selama musim panas tahun 1244 pasukan Khwarezmia yang dikirim oleh putra al-Kamil, yaitu as-Salih Ayyub, menyerang dan mengambil alih Yerusalem. Kaum Franka bersekutu dengan Ismail, paman Ayyub, dan al-Mansur Ibrahim, amir dari Ḥimṣ; pasukan gabungan mereka memasuki pertempuran di La Forbie di Gaza. Pasukan salib dan sekutunya dikalahkan dalam waktu 48 jam oleh pasukan Khwarezmia.[119] Raja Louis IX dari Perancis mengorganisir suatu perang salib setelah mengambil salib tersebut pada bulan Desember 1244, memberitakan dan melakukan perekrutan antara tahun 1245 sampai 1248.[120] Pasukan Louis berlayar dari Perancis pada bulan Mei 1249, mendarat di Mesir dekat Damietta pada tanggal 5 juni 1249. Setelah banjir dari sungai Nil surut, pasukan tersebut bergerak ke pedalaman pada bulan November dan pada bulan Februari telah berada di dekat Mansura. Mereka dikalahkan, dan Louis ditangkap saat ia mundur kembali ke Damietta.[121] Ia ditebus dengan harga 800.000 bezant, dan disepakati suatu gencatan senjata selama 10 tahun. Louis pergi ke Suriah, menetap di sana sampai tahun 1254 untuk memperkuat dan memperkokoh kerajaan Yerusalem.[122]

Pada tahun 1256 orang Venesia terusir dari Tirus, menggerakkan terjadinya Perang Santo Sabas atas wilayah di Akko yang diklaim oleh Genoa dan Venesia.[123] Meskipun orang Venesia menaklukkan wilayah yang disengketakan itu (dengan menghancurkan benteng pertahanan Santo Sabas), mereka tidak dapat mengusir orang Genoa. Selama blokade 14 bulan, Genoa bersekutu dengan Philippe dari Montfort, John dari Arsuf, dan Kesatria Hospitalis; sementara Venesia didukung oleh Comte Yafo dan Kesatria Templar.[124] Pada tahun 1261 orang Genoa dapat diusir tetapi Paus Urbanus IV, karena khawatir atas dampak perang tersebut pada pertahanan terhadap orang Mongol, mengorganisir suatu konsili perdamaian.[125] Konflik tersebut berlanjut pada tahun 1264 ketika orang Genoa mendapat bantuan dari Mikhael VIII Palaiologos, Kaisar Nicea, dan Venesia tidak berhasil dalam usahanya menaklukkan Tirus. Kedua belah pihak menggunakan serdadu Muslim (terutama Turkopol) untuk melawan musuh Kristen mereka, dan orang Genoa menjalin aliansi dengan Sultan Mesir Baibars.[126] Perang ini secara signifikan mengganggu kemampuan kerajaan tersebut dalam menghadapi ancaman eksternal. Selain bangunan-bangunan keagamaan, kebanyakan bangunan berkubu di Akko dihancurkan; pada satu titik, kota itu dikatakan tampak seperti telah dirusak oleh pasukan Muslim. Menurut Rothelin, yang melanjutkan Sejarah karya William dari Tirus, 20.000 orang tewas dalam konflik tersebut (sementara negara-negara tentara salib sangat kekurangan prajurit). Perang ini berakhir pada tahun 1270, dan pada tahun 1288 Genoa mendapatkan kembali kawasannya di Akko.[127]

Pada tahun 1266 saudara Louis IX, Charles, merebut Sisilia yang sebelumnya menguasai sebagian daerah di Laut Adriatik timur, yaitu Kerkyra, kota-kota Butrinto, Avlona, dan Suboto. Perjanjian Viterbo disepakati dengan pengasingan Baudouin II dari Konstantinopel dan Guillaume dari Villehardouin; para ahli waris dari kedua pangeran Latin ini akan dinikahkan dengan anak-anak Charles, dan jika tidak ada ahli waris maka Charles akan memperoleh kepangeranan dan kekaisaran tersebut. Charles memalingkan perang salib saudaranya demi kepentingannya sendiri, ia membujuk Louis untuk mengarahkan yang disebut Perang Salib Kedelapan itu untuk melawan vasal yang memberontak dari Charles, yakni Tunis. Namun wafatnya Louis, penyakit yang menyebar di kalangan tentara salib, dan badai yang menghancurkan armada kapalnya memaksa Charles untuk menunda rencana yang telah disusunnya atas Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos khawatir dengan perang salib yang telah direncanakan Charles untuk memulihkan Kekaisaran Latin, yang mana telah jatuh pada tahun 1261, dan terhadap ekspansi Charles di Mediterania. Rencana Charles tertunda karena Michael memulai negosiasi dengan Paus Gregorius X demi persatuan gereja-gereja Yunani dan Latin. Dalam Konsili Lyon II, penyatuan gereja-gereja tersebut dideklarasikan sehingga Charles dan Philippe dari Courtenay terpaksa menjalin gencatan senjata dengan kaum Bizantium. Penyatuan ini nantinya terbukti tidak dapat diterima oleh kalangan Yunani. Michael juga mendanai Genoa untuk mendorong pemberontakan di wilayah-wilayah Italia utara yang dikuasai Charles.[128] Pada tahun 1268 Charles mengeksekusi Konradin, cicit Isabella dari Jerusalem dan pretender utama atas singgasana Yerusalem, ketika ia merebut Sisilia dari Kekaisaran Romawi Suci. Charles membeli hak penguasaan Yerusalem dari Maria dari Antiokhia, satu-satunya cucu yang masih hidup dari Ratu Isabella, sehingga menciptakan suatu klaim untuk menandingi Hugues III dari Siprus (cicit Isabella).

Charles menghabiskan hidupnya dengan upaya-upaya untuk menghimpunkan suatu kekaisaran Mediterania; ia dan Louis memandang diri mereka sebagai instrumen Allah untuk menegakkan kepausan.[129] Louis IX mengabaikan para penasihatnya sehingga pada tahun 1270 ia kembali menyerang bangsa Arab di Tunis. Cuacanya panas, dan pasukannya hancur oleh penyakit. Louis meninggal dunia, sehingga mengakhiri upaya besar yang terakhir untuk mengambil alih Tanah Suci.[130] Dari tahun 1265 sampai 1271, para mamluk yang dipimpin oleh Sultan Baibars mendesak kaum Franka ke beberapa pos pesisir kecil.[131] Yang kemudian menjadi Edward I dari Inggris berjanji untuk ikut serta dengan Louis IX dalam perang salib, namun ia terlambat dan baru sampai di Afrika Utara pada bulan November 1270. Setelah wafatnya Louis, Edward pergi ke Sisilia dan kemudian ke Akko pada bulan Mei 1271. Bagaimanapun pasukannya kecil, dan ia tidak senang dengan gencatan senjata antara Baibars dan Raja Hugues dari Yerusalem. Edward belajar dari kematian ayahnya dan suksesinya ke singgasana terjadi pada bulan Desember 1272, tetapi ia tidak kembali ke Inggris hingga tahun 1274 (walau ia meraih sedikit pencapaian di Tanah Suci).[132] Konklaf pada tahun 1281 yang memilih seorang paus Perancis, yaitu Paus Martinus IV, membawa kekuasaan kepausan sepenuhnya ke lini belakang Charles. Ia berkampanye di Albania dan Akhaya, namun tidak berhasil, menjelang persiapan untuk melangsungkan perang salibnya (dengan 400 kapal yang membawa 27.000 kesatria berkuda) terhadap Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos bersekutu dengan Pero III dari Aragon untuk memicu suatu pemberontakan, yang kemudian disebut Vespers Sisilia, di mana armada kapal tentara salib ditinggalkan dan dibakar. Orang-orang Sisilia mengangkat Pero sebagai raja, dan Wangsa Anjou Kapetia diasingkan dari Sisilia. Paus Martinus mengekskomunikasi Pero dan melangsungkan suatu perang salib terhadap Aragon sebelum Charles wafat pada tahun 1285, yang mana memungkinkan Henri II dari Siprus untuk merebut kembali Yerusalem. Salah satu faktor kemunduran para tentara salib adalah perpecahan dan konflik seputar kepentingan kaum Kristen Latin di Mediterania timur. Paus Martinus dipandang membahayakan kepausan dengan mendukung Charles dari Anjou, dengan ceroboh melangsungkan "perang-perang salib" sekuler terhadap Sisilia dan Aragon sehingga menodai gemerlap spiritualnya. Jatuhnya otoritas moral kepausan dan bangkitnya nasionalisme membunyikan lonceng kematian bagi praktik perang salib, yang akhirnya mengarah pada Kepausan Avignon dan Skisma Barat. Perang Salib Aragon dinyatakan oleh Paus Martinus terhadap Pero III pada tahun 1284 dan 1285, di mana Pero mendukung pasukan anti Angevin ("dari Anjou") di Sisilia setelah Vespers Sisilia dan Paus Martinus mendukung Charles dari Anjou. Paus Bonifasius VIII menyatakan suatu perang salib terhadap Federico III dari Sisilia (putra bungsu Pero) pada tahun 1298, namun ia tidak mampu menghalangi pengakuan dan pemahkotaan Federico sebagai raja Sisilia.[133]

Tanah daratan negara-negara Tentara Salib dari outremer tersebut lenyap dengan jatuhnya Tripoli pada tahun 1289 dan Akko pada tahun 1291.[134] Kebanyakan kaum Kristen Latin yang tersisa pergi ke berbagai tempat tujuan dalam Frankokratia ("pemerintahan Franka"), dibunuh, atau diperbudak.[135] Upaya-upaya praktik perang salib kecil masih ada pada abad ke-14; Pierre I dari Siprus merebut dan menjarah Aleksandria pada tahun 1365 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Salib Aleksandria, namun motivasinya lebih kepada kepentingan ekonomi daripada religius.[136] Louis II memimpin Perang Salib Mahdiya untuk melawan bajak laut Muslim di Afrika Utara; setelah pengepungan selama 10 minggu, para tentara salib menyepakati gencatan senjata selama 10 tahun.[137]

Abad ke-14 dan ke-15[sunting | sunting sumber]

Pertempuran antara kaum Hussit dan tentara salib; Kodeks Jena, abad ke-15.

Sejumlah perang salib dilangsungkan selama abad ke-14 dan ke-15 untuk menghadapi ekspansi Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah); yang pertama (pada tahun 1396) dipimpin oleh Sigismund dari Luxemburg, raja Hungaria. Banyak bangsawan Perancis yang bergabung dengan Sigismund, misalnya Jean II dari Bourgogne (putra Adipati Bourgogne). Kendati Sigismund menyarankan para tentara salib untuk berfokus pada pertahanan ketika mereka sampai di Donau, mereka mengepung kota Nikopol. Ottoman mengalahkan mereka dalam Pertempuran Nikopolis pada tanggal 25 September, menawan 3.000 orang.[138] Perang Salib Hussit, dikenal juga dengan sebutan Peperangan Hussit atau Peperangan Bohemian, merupakan aksi militer terhadap pengikut Jan Hus di Bohemia dari tahun 1420 sampai 1431. Berbagai perang salib dinyatakan sebanyak lima kali selama periode ini: tahun 1420, 1421, 1422, 1427, dan 1431. Ekspedisi-ekspedisi tersebut memaksa pasukan Hussit, yang mana tidak setuju dengan banyak hal doktrinal, untuk bersatu mengusir penjajah. Peperangan ini beakhir tahun 1436 dengan ratifikasi Compactata Iglau oleh Gereja.[139]

Raja Polandia-Hungaria Władysław Warneńczyk menyerang wilayah yang baru ditaklukkan Ottoman, sampai ke Beograd pada bulan Januari 1444; Sultan Murad II menolak suatu negosiasi gencatan senjatan beberapa hari setelah ratifikasinya. Upaya-upaya lanjutan oleh para tentara salib berakhir dalam Pertempuran Varna pada tanggal 10 November, suatu kemenangan mutlak Ottoman yang menyebabkan mundurnya para tentara salib. Penarikan ini, menyusul upaya terakhir pihak Barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium, mengakibatkan kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453. János Hunyadi dan Yohanes dari Capistrano mengorganisir suatu perang salib pada tahun 1456 untuk membebaskan Beograd dari pengepungan Ottoman.[140] Pada bulan April 1487 Paus Innosensius VIII menyerukan suatu perang salib terhadap kaum Waldensian dari Savoy, Piemonte, dan Dauphiné di Perancis selatan dan Italia utara. Satu-satunya upaya yang benar-benar dilakukan, yang mana menghasilkan sedikit perubahan, adalah di Dauphiné.[141]

Negara-negara tentara salib[sunting | sunting sumber]

Kekaisaran Bizantium dan Latin pada tahun 1205.

Perang Salib Pertama mendirikan empat negara tentara salib yang pertama di Mediterania Timur: County Edessa (1098–1149), Kepangeranan Antiokhia (1098–1268), Kerajaan Yerusalem (1099–1291), dan County Tripoli (1104—kendati Tripoli belum ditaklukkan hingga 1109—sampai 1289). Kerajaan Armenia Kilikia telah ada sebelum Perang-perang Salib, tetapi status kerajaan diperolehnya dari Paus Innosensius III dan kemudian mendapat pengaruh barat sepenuhnya oleh Wangsa Lusignan. Menurut sejarawan Jonathan Riley-Smith, negara-negara ini merupakan contoh awal dari "Eropa di luar negeri". Mereka umumnya dikenal dengan sebutan outremer, dari bahasa Perancis outre-mer ("luar negeri", bahasa Inggris: overseas).[142]

Perang Salib Keempat mendirikan sebuah Kekaisaran Latin di timur dan memungkinkan pembagian wilayah Bizantium oleh para pesertanya. Kaisar Latin mengendalikan seperempat wilayah Bizantium, Venesia tiga perdelapannya (termasuk tiga perdelapan kota Konstantinopel), dan sisanya dibagi-bagi di antara para pemimpin perang salib lainnya. Peristiwa ini mengawali periode sejarah Yunani yang dikenal sebagai Frankokratia atau Latinokratia ("pemerintahan Franka [atau Latin]"), sedangkan para bangsawan Eropa Barat Katolik—terutama dari Perancis dan Italia—mendirikan negara-negara di bekas wilayah Bizantium dan memerintah bangsa Yunani Bizantium Ortodoks di wilayah-wilayah tersebut. Partitio terrarum imperii Romaniae merupakan suatu catatan penting tentang properti keluarga dan pembagian administratif Bizantium (episkepsis) pada awal abad ke-13.[21]

Keuangan[sunting | sunting sumber]

Dirham kaum Kristen dengan tulisan Arab (1216–1241).

Perang-perang salib menghabiskan banyak biaya; seiring dengan bertambah banyaknya perang, biayanya semakin meningkat. Paus Urbanus II meminta kaum kaya untuk membantu para lord Perang Salib Pertama, seperti Adipati Robert dari Normandia dan Comte Raymond dari St. Gilles, yang mensubsidi para kesatria dalam pasukan mereka. Total biaya yang dikeluarkan Raja Louis IX dari Perancis selama perang-perang salib tahun 1284–1285 diperkirakan 1.537.570 livre, yakni enam kali penghasilan tahunan sang raja. Ini mungkin konservatif, sebab catatan-catatan menunjukkan bahwa Louis menghabiskan 1.000.000 livre di Palestina setelah kampanye Mesir. Para pemimpin perang meminta subsidi dari para subjek mereka,[143] dan derma serta hibah yang dimintakan saat penaklukan Palestina merupakan sumber-sumber penghasilan tambahan. Para paus memerintahkan supaya kotak-kotak kolekte ditempatkan di gereja-gereja dan, sejak pertengahan abad ke-12, memberikan indulgensi sebagai ganti sumbangan dan hibah yang diberikan.[144]

Ordo-ordo militer[sunting | sunting sumber]

Ordo-ordo militer, terutama ordo Templar dan Hospitalis, memainkan peranan penting dalam pemberian dukungan bagi Negara-negara Tentara Salib, karena mereka menyediakan pasukan para prajurit yang sangat terlatih dan termotivasi yang menjadi penentu pada saat-saat kristis.[145] Kesatria Hospitalis dan Templar menjadi organisasi internasional, dengan berbagai depot di seluruh Eropa Barat dan di Timur. Kesatria Teutonik berfokus di Baltik, dan ordo-ordo militer Spanyol dari Santiago, Calatrava, Alcántara, dan Montesa terkonsentrasi di Semenanjung Iberia. Ordo Hospitalis (Para Kesatria dari Ordo Rumah Sakit Santo Yohanes Yerusalem) didirikan di Yerusalem sebelum Perang Salib Pertama namun misinya jauh lebih diperluas sejak Perang-perang Salib dimulai.[146] Setelah jatuhnya Akko mereka pindah ke Pulau Siprus, menaklukkan dan memerintah Pulau Rodos (1309–1522) dan Malta (1530–1801). Ordo Templar (Para Sesama Prajurit Miskin dari Kristus dan dari Bait Salomo) didirikan pada tahun 1118 untuk melindungi para peziarah dalam perjalanan mereka ke Yerusalem. Mereka menjadi kaya dan berkuasa melalui perbankan dan realestat. Pada tahun 1322 Raja Perancis menekan ordo ini seolah-olah karena kasus sodomi, sihir, dan bidah, tetapi kemungkinan karena alasan-alasan politik dan keuangan.[147]

Peranan perempuan, anak-anak, dan kelas[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi Perang Salib Anak-anak karya Gustave Doré (1892).

Kaum perempuan terkait erat dengan Perang-perang salib; mereka membantu dalam perekrutan, mengambil alih tanggung jawab para tentara salib dalam ketidakhadiran mereka, juga menyediakan dukungan moral dan keuangan.[148][149] Para sejarawan berpendapat bahwa peranan paling signifikan yang dimainkan oleh kaum perempuan di Barat adalah mempertahankan status quo.[150] Para pemilik lahan yang pergi ke Tanah Suci meninggalkan kendali atas properti mereka kepada para pengawas yang mana seringkali merupakan para istri atau ibu mereka. Karena Gereja menyadari adanya risiko terhadap keluarga dan properti yang mungkin melemahkan semangat para tentara salib, perlindungan khusus dari kepausan merupakan suatu hak istimewa dalam praktik perang salib.[151] Sejumlah perempuan aristokrat berpartisipasi dalam perang-perang salib, misalnya Aliénor dari Aquitaine (yang bergabung dengan suaminya, Louis VII).[152] Perempuan non-aristokrat juga melayani dalam posisi-posisi seperti tukang cuci.[150] Yang lebih kontroversial adalah kaum perempuan yang mengambil peranan aktif (bertentangan dengan feminitas mereka); laporan-laporan tentang kaum perempuan yang ikut bertempur terutama diceritakan oleh para sejarawan Muslim, yang mana menggambarkan kaum perempuan Kristen yang membunuh secara kejam dan amoral.[153]

Perang Salib Anak-anak dikatakan sebagai suatu gerakan Katolik di Perancis dan Jerman pada tahun 1212 yang berupaya untuk mencapai Tanah Suci. Narasi tradisionalnya mungkin berupa paduan dari beberapa pengertian faktual dan mitos dari periode tersebut yang mencakup visiun dari seorang pemuda Jerman atau Perancis, suatu niat untuk secara damai mengkonversi kaum Muslim di Tanah Suci menjadi penganut Kristen, sekelompok yang terdiri dari beberapa ribu pemuda yang melakukan perjalanan ke Italia, dan anak-anak yang dijual sebagai budak.[154] Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 1977 meragukan keberadaan peristiwa-peristiwa ini, dan banyak sejarawan meyakini bahwa mereka (atau utamanya) bukan anak-anak tetapi sekelompok "kaum miskin yang mengembara" di Jerman dan Perancis, yang mana sebagian dari mereka berupaya untuk mencapai Tanah Suci dan sebagian lainnya yang tidak pernah berniat untuk melakukannya.[155][156][157][158]

Tiga upaya untuk bergabung dalam perang salib dilakukan oleh kaum petani selama pertengahan tahun 1250-an dan awal abad ke-14. Yang pertama, Perang Salib Para Gembala (1251), diserukan di Perancis utara. Setelah suatu pertemuan dengan Blanca dari Kastilia, gerakan tersebut menjadi tidak terorganisir dan dibubarkan oleh pemerintah.[159] Yang kedua, pada tahun 1309, terjadi di Inggris, Perancis timur laut, dan Jerman; sebanyak 30.000 petani tiba di Avignon sebelum kemudian dibubarkan.[160] Yang ketiga, pada tahun 1320, menjadi serangkaian serangan terhadap kaum klerus dan Yahudi sehingga akhirnya dibubarkan secara paksa.[161] Bagaimanapun "perang salib" ini terutama dipandang sebagai suatu pemberontakan terhadap monarki Perancis. Kaum Yahudi telah diizinkan untuk kembali ke Perancis, setelah sebelumnya diusir pada tahun 1306; semua hutang kepada kaum Yahudi sebelum pengusiran mereka ditagih oleh monarki tersebut, sehingga memicu terjadinya Pastoureaux (istilah yang digunakan untuk menyebut gerakan ini).[162]

Peninggalan[sunting | sunting sumber]

Penggambaran dari abad ke-20 terkait suatu kemenangan Saladin.

Orang Eropa Barat yang berada di Timur mengadopsi adat istiadat setempat, memandang diri mereka sebagai warga dari rumah baru mereka dan terjadi perkawinan campur.[163] Hal ini menyebabkan adanya orang-orang dan budaya yang diturunkan dari sisa-sisa penduduk Eropa di negara-negara tentara salib, terutama kaum Levantin Perancis di Lebanon, Palestina, dan Turki. Para pedagang dari republik maritim di sekitar Laut Tengah atau Mediterania (Venesia, Genoa, Ragusa) melanjutkan kehidupan mereka di Konstantinopel, Smirna, dan bagian-bagian lain Anatolia serta pantai Mediterania timur selama pertengahan era Bizantium dan Ottoman. Orang-orang ini, yang dikenal dengan sebutan Franko-Levantin (Levantin Perancis; Frankolevantini; bahasa Italia: Levantini; bahasa Yunani: Φραγκολεβαντίνοι; dan bahasa Turki: Levantenler, Tatlısu Frenkleri), merupakan umat Katolik Roma.

Perang-perang Salib pada saat itu mempengaruhi sikap Gereja Barat terhadap peperangan; panggilan secara rutin untuk melangsungkan perang salib dikatakan membiasakan para klerus terhadap tindak kekerasan. Mereka juga memicu suatu perdebatan seputar legitimasi merebut tanah dan kepemilikan dari kaum pagan dengan alasan murni keagamaan yang mana kembali muncul ke permukaan selama Zaman Penjelajahan pada abad ke-15 dan ke-16.[164] Kebutuhan akan praktik perang salib mendorong perkembangan pemerintahan sekuler, yang mana tidak semuanya berdampak positif; sumber daya yang digunakan dalam peperangan seharusnya dapat digunakan oleh negara-negara berkembang untuk kebutuhan lokal maupun regional.[165]

Karena prestise dan kekuasaannya diangkat oleh Perang-perang Salib, kuria kepausan pada saat itu menjadi memiliki kendali yang lebih besar atas Gereja barat dan memperluas sistem perpajakan kepausan melalui struktur gerejawi Barat. Sistem indulgensi bertumbuh signifikan di Eropa pada abad pertengahan akhir dan memicu Reformasi Protestan pada awal abad ke-16.[166]

Meskipun Perang Salib Albigensian dimaksudkan untuk menghilangkan Katarisme di Languedoc, namun Perancis mengakuisisi daratan dengan ikatan bahasa dan budaya yang lebih dekat dengan Catalunya. Perang salib ini juga berperan dalam pembentukan dan pelembagaan Ordo Dominikan dan Inkuisisi Abad Pertengahan.[167] Penganiaan terhadap orang Yahudi dalam Perang Salib I menjadi bagian dari sejarah panjang antisemitisme di Eropa.[168] Kebutuhan untuk meningkatkan, mengangkut, dan mensuplai pasukan dalam jumlah besar menyebabkan kenaikan aktivitas perdagangan antara Eropa dan outremer tersebut. Genoa dan Venesia mengalami perkembangan dengan adanya koloni-koloni perdagangan yang menguntungkan di negara-negara tentara salib di Tanah Suci dan (kemudian) di wilayah Bizantium yang direbutnya.[169]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  • Milkhemet Mitzvah
  • Perang agama
  • Referensi[sunting | sunting sumber]

    1. ^ a b Asbridge 2012, hlm. 40
    2. ^ "Crusade". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2nd ed. 1989.
    3. ^ Davies 1997, hlm. 358
    4. ^ a b Constable 2001, hlmn. 12–15
    5. ^ Constable 2001, hlm. 12
    6. ^ Riley-Smith 2009, hlm. 27
    7. ^ Lock 2006, hlmn. 255–56
    8. ^ Lock 2006, hlmn. 172–80
    9. ^ Lock 2006, hlm. 167
    10. ^ Davies 1997, hlmn. 362–64
    11. ^ Tolan 2002, hlm. xv
    12. ^ Retso 2003, hlmn. 505–06
    13. ^ Retso 2003, hlm. 96
    14. ^ "Frank". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2nd ed. 1989.
    15. ^ "Latin". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2nd ed. 1989.
    16. ^ Determann 2008, hlm. 13
    17. ^ Lock 2006, hlm. 257
    18. ^ Lock 2006, hlm. 259
    19. ^ Lock 2006, hlm. 261
    20. ^ Lock 2006, hlm. 266
    21. ^ a b Runciman 1951, hlm. 480
    22. ^ Lock 2006, hlm. 269
    23. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Lock 2006 270
    24. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Madden 2005 xii, 4, 8
    25. ^ Rose 2009, hlm. 72
    26. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Davies 1997, p. 358
    27. ^ Kolbaba 2000, hlm. 49
    28. ^ Vasilev 1952, hlm. 408
    29. ^ AlthoffFriedGeary 2002, hlmn. 305–308
    30. ^ Nicolle 2011, hlm. 5
    31. ^ Wickham 2009, hlm. 280
    32. ^ Lock 2006, hlm. 4
    33. ^ Hindley 2004, hlm. 14
    34. ^ Hindley 2004, hlm. 15
    35. ^ Pringle 1999, hlm. 157
    36. ^ Findley 2005, hlm. 73
    37. ^ Hindley 2004, hlmn. 15–16
    38. ^ TolanVeinsteinHenry 2013, hlm. 37
    39. ^ Asbridge 2011, hlm. 97
    40. ^ Bull 1999, hlmn. 18–19
    41. ^ Barber 1992, hlmn. 341–345
    42. ^ Lock 2006, hlmn. 205–209
    43. ^ Lock 2006, hlm. 211
    44. ^ Mayer 1988, hlmn. 2–3
    45. ^ Riley-Smith 2009, hlmn. 10–11
    46. ^ Riley-Smith 2005, hlmn. 8–10
    47. ^ Housley 2006, hlm. 31
    48. ^ Mayer 1988, hlmn. 17–18
    49. ^ Mayer 1988, hlmn. 6–7
    50. ^ Strack 2012, hlmn. 30–45
    51. ^ Riley-SmithRiley-Smith 1981, hlm. 38
    52. ^ Paul Everett Pierson (2009). The Dynamics of Christian Mission. WCIU Press. hlm. 103. 
    53. ^ Hindley 2004, hlmn. 20–21
    54. ^ Chazan 1996, hlm. 60
    55. ^ Slack 2013, hlmn. 108–109
    56. ^ Hindley 2004, hlm. 23
    57. ^ Hindley 2004, hlmn. 27–30
    58. ^ Lock 2006, hlmn. 20–21
    59. ^ Hindley 2004, hlmn. 30–31
    60. ^ Tyerman 2006, hlmn. 106–110
    61. ^ Asbridge 2011, hlmn. 50–52
    62. ^ Asbridge 2011, hlm. 46
    63. ^ Riley-Smith 2005, hlmn. 32–36
    64. ^ Hindley 2004, hlmn. 25–26
    65. ^ Tyerman 2006, hlmn. 143–146
    66. ^ Mayer 1988, hlmn. 60–61
    67. ^ Tyerman 2006, hlmn. 146–153
    68. ^ Tyerman 2006, hlmn. 156–158
    69. ^ Sinclair 1995, hlmn. 55–56
    70. ^ Riley-Smith 2005, hlmn. 50–51
    71. ^ Riley-Smith 2005, hlmn. 23–24
    72. ^ Tyerman 2006, hlmn. 192–194
    73. ^ Housley 2006, hlm. 42
    74. ^ Lock 2006, hlmn. 144–145
    75. ^ Lock 2006, hlmn. 146–147
    76. ^ Riley-Smith 2005, hlmn. 104–105
    77. ^ Lock 2006, hlm. 144
    78. ^ Hindley 2004, hlmn. 71–74
    79. ^ Hindley 2004, hlmn. 77–85
    80. ^ Hindley 2004, hlmn. 75–77
    81. ^ Villegas-Aristizabal 2009, hlmn. 63–129
    82. ^ Hindley 2004, hlm. 77
    83. ^ Lock 2006, hlm. 151
    84. ^ Lock 2006, hlm. 148
    85. ^ Lock 2006, hlm. 213
    86. ^ Lock 2006, hlmn. 55–56
    87. ^ Holt 1983, hlmn. 235–239
    88. ^ Asbridge 2011, hlmn. 343–357
    89. ^ Asbridge 2011, hlm. 367
    90. ^ Flori 1999, hlm. 132
    91. ^ Lock 2006, hlmn. 151–154
    92. ^ Asbridge 2011, hlmn. 512–513
    93. ^ Lock 2006, hlm. 155
    94. ^ Lock 2006, hlm. 82
    95. ^ Lock 2006, hlm. 84
    96. ^ Lock 2006, hlm. 92
    97. ^ Lock 2006, hlm. 96
    98. ^ Lock 2006, hlm. 103
    99. ^ Lock 2006, hlmn. 221–222
    100. ^ Lock 2006, hlm. 104
    101. ^ Lock 2006, hlm. 221
    102. ^ Tyerman 2006, hlmn. 502–508
    103. ^ Davies 1997, hlmn. 359–360
    104. ^ Lock 2006, hlmn. 158–159
    105. ^ Riley-Smith 1995, hlm. 181
    106. ^ Lock 2006, hlmn. 159–161
    107. ^ Tyerman 2006, hlmn. 554–561
    108. ^ Asbridge 2011, hlmn. 531–532
    109. ^ Davies 1997, hlm. 360
    110. ^ Lock 2006, hlmn. 163–165
    111. ^ Lock 2006, hlmn. 172–173
    112. ^ Lock 2006, hlmn. 168–169
    113. ^ Riley-Smith 2005, hlmn. 179–180
    114. ^ Hindley 2004, hlmn. 561–562
    115. ^ Lock 2006, hlm. 169
    116. ^ Asbridge 2011, hlmn. 566–568
    117. ^ Asbridge 2011, hlm. 569
    118. ^ Lock 2006, hlmn. 173–174
    119. ^ Asbridge 2011, hlmn. 574–576
    120. ^ Tyerman 2006, hlmn. 770–775
    121. ^ Hindley 2004, hlmn. 194–195
    122. ^ Lock 2006, hlm. 178
    123. ^ Marshall 1994, hlmn. 39
    124. ^ Marshall 1994, hlmn. 10
    125. ^ Riley-Smith 1973, hlm. 37
    126. ^ Marshall 1994, hlmn. 59
    127. ^ Marshall 1994, hlmn. 41
    128. ^ Baldwin 2014
    129. ^ Setton 1985, hlm. 201
    130. ^ Strayer 1969, hlm. 487
    131. ^ Tyerman 2006, hlmn. 816–817
    132. ^ Lock 2006, hlm. 164
    133. ^ Lock 2006, hlm. 186
    134. ^ Lock 2006, hlm. 122
    135. ^ Tyerman 2006, hlmn. 820–822
    136. ^ Lock 2006, hlmn. 195–196
    137. ^ Lock 2006, hlm. 199
    138. ^ Lock 2006, hlm. 200
    139. ^ Lock 2006, hlmn. 201–202
    140. ^ Lock 2006, hlmn. 202–203
    141. ^ Lock 2006, hlm. 204
    142. ^ "Outremer". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2nd ed. 1989.
    143. ^ Riley-Smith 2009, hlmn. 43–44
    144. ^ Riley-Smith 2009, hlm. 44
    145. ^ Alfred J. Andrea, Encyclopedia of the Crusades (2003) pp 213-15
    146. ^ Helen J. Nicholson, The Knights Hospitaller (2001).
    147. ^ Davies 1997, hlmn. 359
    148. ^ Hodgson 2007, hlmn. 39–44
    149. ^ Maier 2004, hlmn. 61–82
    150. ^ a b EdingtonLambert 2002, hlm. 98
    151. ^ Hodgson 2007, hlmn. 110–112
    152. ^ Owen 1993, hlm. 22
    153. ^ Nicholson 1997, hlm. 337
    154. ^ Zacour 1969, hlmn. 325–342
    155. ^ Raedts 1977, hlm. 279–323
    156. ^ Russell, Oswald, "Children's Crusade", Dictionary of the Middle Ages, 1989
    157. ^ Bridge 1980
    158. ^ Miccoli 1961, hlm. 407–443
    159. ^ Lock 2006, hlm. 179
    160. ^ Lock 2006, hlmn. 187–188
    161. ^ Lock 2006, hlm. 190
    162. ^ Tuchman 2011, hlm. 41
    163. ^ Krey 2012, hlmn. 280–281
    164. ^ Housley 2006, hlmn. 146–147
    165. ^ Housley 2006, hlmn. 149
    166. ^ Housley 2006, hlmn. 147–149
    167. ^ Strayer 1992, hlm. 143
    168. ^ Housley 2006, hlmn. 161–163
    169. ^ Housley 2006, hlmn. 152–154

    Bibliografi[sunting | sunting sumber]

    • Althoff, Gerd; Fried, Johannes; Geary, Patrick J. (2002). Medieval Concepts of the Past: Ritual, Memory, Historiography. 9780521780667. ISBN 9780521780667. 
    • Asbridge, Thomas (2011). The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Ecco. ISBN 978-0-06-078729-5. 
    • Baldwin, Philip B. (2014). 'Pope Gregory X and the crusades'. Boydell & Brewer Ltd. ISBN 9781843839163. 
    • Barber, Malcolm (1992). The Two Cities: Medieval Europe 1050–1320. Routledge. ISBN 0-415-09682-0. 
    • Bridge, Antony (1980). The Crusades. London: Granada Publishing. ISBN 0-531-09872-9. 
    • Bull, Marcus (1999). "Origins". Dalam Riley-Smith, Jonathan. The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. ISBN 0-19-280312-3. 
    • Chazan, Robert (1996). European Jewry and the First Crusade. U. of California Press. hlm. 60. 
    • Cohn, Norman (1970). The pursuit of the Millennium. 
    • Daniel, Norman (1979). The Arabs and Mediaeval Europe. Longman Group Limited. ISBN 0-582-78088-8. 
    • Davies, Norman (1997). Europe – A History. Pimlico. ISBN 0-7126-6633-8. 
    • Edington, Susan B.; Lambert, Sarah (2002). Gendering the Crusades. Columbia University Press. 
    • Findley, Carter Vaughan (2005). The Turks in World History. Oxford University Press. ISBN 0-19-516770-8. 
    • Flori, Jean (1999), Richard Coeur de Lion: le roi-chevalier (dalam bahasa French), Paris: Biographie Payot, ISBN 978-2-228-89272-8 
    • Harris, Jonathan (2014), Byzantium and the Crusades, Bloomsbury, 2nd ed. ISBN 978-1-78093-767-0
    • Hillenbrand, Carole (1999). The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press. 
    • Hindley, Geoffrey (2004). The Crusades: Islam and Christianity in the Struggle for World Supremacy. Carrol & Graf. ISBN 0-7867-1344-5. 
    • Hodgson, Natasha (2007). Women, Crusading and the Holy Land in Historical Narrative. Boydell. 
    • Holt, P. M. (1983). "Saladin and His Admirers: A Biographical Reassessment". Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London. 46 (2): 235–239. doi:10.1017/S0041977X00078824. JSTOR 615389. 
    • Housley, Norman (2006). Contesting the Crusades. Blackwell Publishing. ISBN 1-4051-1189-5. 
    • Krey, August C. (2012). The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Participants. Arx Publishing. ISBN 9781935228080. 
    • Kahf, Mohja (1999). Western Representations of the Muslim Women: From Termagant to Odalisque. University of Texas Press. ISBN 978-0-292-74337-3. 
    • Kolbaba, T. M. (2000). The Byzantine Lists: Errors of the Latins. University of Illinois. 
    • Lock, Peter (2006). Routledge Companion to the Crusades. Routledge. ISBN 0-415-39312-4. 
    • Madden, Thomas F. (2005). The New Concise History of the Crusades. Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-7425-3822-1. 
    • Maier, C.T. (2004). "The roles of women in the crusade movement: a survey". Journal of medieval history (30#1): 61–82. 
    • Marshall, Christopher (1994). Warfare in the Latin East, 1192–1291. Cambridge University Press. ISBN 9780521477420. 
    • Mayer, Hans Eberhard (1988). The Crusades (edisi ke-Second). Oxford University Press. ISBN 0-19-873097-7. 
    • Miccoli, Giovanni (1961). "La crociata dei fancifulli". Studi medievali. Third Series. 
    • Nelson, Laura N. (2007). The Byzantine Perspective of the First Crusade. ProQuest. ISBN 9780549426554. 
    • Nicholson, Helen (1997). "Women on the Third Crusade". Journal of Medieval History. 23 (4). doi:10.1016/S0304-4181(97)00013-4. 
    • Nicholson, Helen (2004). The Crusades. Greenwood Publishing Group. ISBN 9780313326851. 
    • Nicolle, David (2011). The Fourth Crusade 1202–04: The Betrayal of Byzantium. Osprey Publishing. 
    • Pringle, Denys (1999). "Architecture in Latin East". Dalam Riley-Smith, Jonathan. The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. ISBN 0-19-280312-3. 
    • Owen, Roy Douglas Davis (1993). Eleanor of Aquitaine: Queen and Legend. Blackwell Publishing. 
    • Retso, Jan (2003). The Arabs in Antiquity: Their History from the Assyrians to the Umayyads. Routledge. ISBN 978-0-7007-1679-1. 
    • Raedts, P (1977). "The Children's Crusade of 1213". Journal of Medieval History. 3. doi:10.1016/0304-4181(77)90026-4. 
    • Riley-Smith, Jonathan (1973). The Feudal Nobility and the Kingdom of Jerusalem, 1174–1277. Archon Books. ISBN 9780208013484. 
    • Riley-Smith, Johnathan (1995). The Oxford Illustrated History of the Crusades. Oxford Press. ISBN 978-0192854285. 
    • Riley-Smith, Jonathan (2005). The Crusades: A Short History (edisi ke-Second). Yale University Press. ISBN 0-300-10128-7. 
    • Riley-Smith, Jonathan (2009). What Were the Crusades?. Palgrave Macmillan. ISBN 978-0230220690. 
    • Riley-Smith, Louise; Riley-Smith, Johnathan (1981). The Crusades: Idea and Reality, 1095–1274. Documents of Medieval History. 4. E. Arnold. ISBN 0-7131-6348-8. 
    • Rose, Karen (2009). The Order of the Knights Templar. 
    • Runciman, Steven (1951). A History of the Crusades: The Kingdom of Acre and the Later Crusades (edisi ke-reprinted 1987). Cambridge University Press. 
    • Setton, Kenneth M. (1985). 'A History of the Crusades: The Impact of the Crusades on the Near East. University of Wisconsin Press. ISBN 0-299-09144-9. 
    • Sinclair, Andrew (1995). Jerusalem: The Endless Crusade. Crown Publishers. 
    • Slack, Corliss K (2013). Historical Dictionary of the Crusades. Scarecrow Press. hlm. 108–9. 
    • Strack, Georg (2012). "The Sermon of Urban II in Clermont and the Tradition of Papal Oratory" (PDF). Medieval Sermon Studies (30#1): 30–45. doi:10.1179/1366069112Z.0000000002. 
    • Strayer, Joseph Reese (1992). The Albigensian Crusades. University of Michigan Press. ISBN 0-472-06476-2. 
    • Strayer, Joseph R. (1969). "The Crusades of Louis IX". Dalam Wolff, R. L. and Hazard, H. W. The Later Crusades, 1189–1311. hlm. 487–521. 
    • Tolan, John Victor (2002). Saracens: Islam in the Medieval European Imagination. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-12333-4. 
    • Tolan, John; Veinstein, Gilles; Henry, Laurens (2013). Europe and the Islamic World: A History. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-14705-5. 
    • Tuchman, Barbara W. (2011). A Distant Mirror: The Calamitous 14th Century. Random House Publishing Group. ISBN 9780307793690. 
    • Tyerman, Christopher (2006). God's War: A New History of the Crusades. Belknap Press. ISBN 978-0-674-02387-1. 
    • Vasilev, Aleksandr Aleksandrovich (1952). History of the Byzantine Empire: 324–1453. University of Wisconsin Press. 
    • Villegas-Aristizabal, L (2009). "Anglo-Norman involvement in the conquest of Tortosa and Settlement of Tortosa, 1148–1180". Crusades (8): 63–129. 
    • Wickham, Chris (2009). The Inheritance of Rome: Illuminating the Dark Ages 400–1000. Penguin Books. ISBN 978-0-14-311742-1. 
    • Zacour, Norman P. (1969). "The Children's Crusade". Dalam Wolff, R. L. and Hazard, H. W. The Later Crusades, 1189–1311. hlm. 325–342. 

    Informasi lanjutan[sunting | sunting sumber]