Kekhalifahan Fathimiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kekhalifahan Fatimiyah)
Kekhalifahan Fatimiyah

الخلافة الفاطمية
Al-Khilafah al-Fāṭimīyah
909–1171
Bendera Kekhalifahan Fatimiyah
Bendera
Perkembangan wilayah Kekhalifahan Fatimiyah
Perkembangan wilayah Kekhalifahan Fatimiyah
Ibu kota
Agama
Islam Syiah Ismailiyyah
PemerintahanTeokrasi
Khilafah
Khalifah 
• 909-934 (pertama)
Ubaidillah al-Mahdi Billah
• 1160-1171 (terakhir)
Al-'Āḍid
Sejarah 
• Didirikan
5 Januari 909
• Pendirian Kairo
8 Agustus 969
• Dibubarkan
1171
Luas
9.000.000 km2 (3.500.000 sq mi)
Populasi
• 
62000000
Mata uangDinar
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kekalifahan Abbasiyah
Aghlabiyyah
dnsDinasti
Ikhsyidiyah
dnsDinasti
Ayyubiyyah
Muwahidun
Murabitun
krjKerajaan
Yerusalem
Kepangeranan Antiokhia
County Edessa
County Tripoli
dnsDinasti
Zirid
Emirat Sisilia
Negara Sisilia
Sekarang bagian dari Tunisia
 Mesir
 Palestina
 Suriah

 Arab Saudi
 Algeria
 Libya
 Israel
 Yordania
 Lebanon
 Maroko
 Italia

 Malta
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn (Arab: الفاطميون, translit: al-Fāthimiyyūn) adalah kekhalifahan Syiah Ismaili yang berdiri sejak abad kesepuluh hingga kedua belas Masehi. Dinasti ini mencakup wilayah yang luas di Afrika Utara, mulai dari Samudera Atlantik di barat hingga Laut Merah di timur. Dinasti Fatimiyah, sebuah dinasti asal Arab, menelusuri nenek moyang mereka hingga putri Nabi Muhammad, Fatimah dan suaminya, 'Ali bin Abi Thalib. Khalifah Fatimiyah diakui sebagai imam yang sah oleh berbagai komunitas Isma'ili serta oleh denominasi di banyak negeri Muslim lain dan wilayah sekitarnya. Berasal pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, Fatimiyah menaklukkan Ifriqiya dan mendirikan kota al-Mahdiyya. Dinasti Ismaili menguasai wilayah di sepanjang pantai Mediterania Afrika dan akhirnya menjadikan Mesir sebagai pusat kekhalifahan. Pada puncaknya, kekhalifahan mencakup—selain Mesir—berbagai wilayah di Maghreb, Sudan, Sisilia, Levant, dan Hejaz. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti.

Kebangkitan Fatimiyah[sunting | sunting sumber]

Fatimiyah berasal dari suatu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ("Ifriqiya") namun setelah penaklukan Mesir sekitar 971, ibu kotanya dipindahkan ke Kairo.

Pada masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Pada masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudra Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.

Fatimiyah didirikan pada 909 oleh ˤAbdullāh al-Mahdī Billa, yang melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Nabi Muhammad dari jalur Fāthimah az-Zahra dan suaminya ˤAlī ibn-Abī-Tālib, Imām Shīˤa pertama. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fātimiyyūn "Fatimiyah".

Dengan cepat kendali Abdullāh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb, wilayah yang kini adalah Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibu kota yang dibangun di Tunisia.

Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhshidiyah dan mendirikan ibu kota baru di al-Qāhirat "Sang Penunduk" (Kairo modern)- rujukan pada munculnya planet Mars. Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan.

Tak seperti pemerintahan di sama, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islām, seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi'ah. Toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan (pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk "Mad Caliph" Al-Hakim bi-Amrillah).

Masyarakat[sunting | sunting sumber]

Komunitas Beragama[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Fatimiyah sangat pluralistik. Syi'ah Ismailiyah adalah agama negara dan istana khalifah, namun sebagian besar penduduknya menganut agama atau denominasi yang berbeda. Sebagian besar penduduk Muslim tetap Sunni, dan sebagian besar penduduk tetap beragama Kristen. Orang Yahudi adalah minoritas yang lebih kecil. Seperti dalam masyarakat Islam lainnya pada masa itu, non-Muslim diklasifikasikan sebagai dzimmi, sebuah istilah yang menyiratkan pembatasan dan kebebasan tertentu, meskipun keadaan praktis dari status ini bervariasi dari konteks ke konteks. Para ahli umumnya sepakat bahwa, secara keseluruhan, pemerintahan Fatimiyah sangat toleran dan inklusif terhadap komunitas agama yang berbeda. Tidak seperti pemerintah-pemerintah Eropa Barat pada masa itu, kemajuan dalam jabatan-jabatan negara Fatimiyah lebih bersifat meritokratis daripada turun-temurun. Anggota aliran Islam lainnya, seperti Sunni, mempunyai kemungkinan yang sama untuk diangkat ke jabatan-jabatan pemerintahan seperti halnya kaum Syiah. Toleransi diperluas ke non-Muslim, seperti Kristen dan Yahudi, yang menduduki tingkat tinggi dalam pemerintahan berdasarkan kemampuan, dan kebijakan toleransi ini memastikan aliran uang dari non-Muslim untuk membiayai pasukan besar Mamluk yang dibawa oleh Khalifah. masuk dari Circassia oleh pedagang Genoa.

Ismailiyah[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Fathimiyah menyebarkan ajaran Syiah dengan aliran Ismailiyah. Ajaran ini mulai disebarkan di Kairo dan wilayah sekitarnya. Proses penyebarannya bersamaan dengan konflik militer dan budaya dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang mengikuti aliran Sunni.[1]

Kejatuhan[sunting | sunting sumber]

Pada 1040-an, Ziriyah (gubernur Afrika Utara pada masa Fatimiyah) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Fatimiyah dan berpindahnya mereka ke Islām Sunnī, yang menimbulkan serangan Banū Hilal yang menghancurkan. Setelah 1070, Fatimiyah mengendalikan pesisir Syam dan bagian Suriah terkena serangan bangsa Turki, kemudian Pasukan Salib, sehingga wilayah Fatimiyah menyempit sampai hanya meliputi Mesir.

Setelah terjadi pembusukan sistem politik Fatimiyah pada 1160-an, penguasa Zengid Nūr ad-Dīn memerintahkan jenderalnya yaitu Salahuddin Ayyubi untuk menaklukkan Mesir. Penaklukan berhasil dilakukan pada tahun 1169 M.[butuh rujukan]Dinasti Ayyubiyah terbentuk pada tahun 1174 M dengan pengangkatan Salahuddin Ayyubi sebagai sultan.[2]

Ibukota[sunting | sunting sumber]

Al-Mahdiyya[sunting | sunting sumber]

Al-Mansuriyya[sunting | sunting sumber]

Kairo[sunting | sunting sumber]

Para Imām Fatimiyah[sunting | sunting sumber]

Kata "Imām" sebagaimana yang digunakan dalam Islām Shīˤa berarti pemimpin pengganti dalam komunitas muslim dari keturunan langsung ˤAlī ibn-Abī-Tālib.

  1. Abū Muḥammad ˤAbdu l-Lāh (ˤUbaydu l-Lāh) al-Mahdī bi'llāh (910-934) pendiri Fatimiyah
  2. Abū l-Qāsim Muḥammad al-Qā'im bi-Amr Allāh bin al-Mahdi Ubaidillah(934-946)
  3. Abū Ṭāhir Ismā'il al-Manṣūr bi-llāh (946-953)
  4. Abū Tamīm Ma'add al-Mu'izz li-Dīn Allāh (953-975) Mesir ditaklukkan semasa pemerintahannya
  5. Abū Manṣūr Nizār al-'Azīz bi-llāh (975-996)
  6. Abū 'Alī al-Manṣūr al-Ḥākim bi-Amr Allāh (996-1021)
  7. Abū'l-Ḥasan 'Alī al-Ẓāhir li-I'zāz Dīn Allāh (1021-1036)
  8. Abū Tamīm Ma'add al-Mustanṣir bi-llāh (1036-1094)
  9. al-Musta'lī bi-llāh (1094-1101) pertikaian atas suksesinya menimbulkan perpecahan Nizari.
  10. al-Āmir bi-Aḥkām Allāh (1101-1130) Penguasa Fatimiyah di Mesir setelah tak diakui sebagai Imam oleh tokoh Ismailiyah Mustaali Taiyabi.
  11. 'Abd al-Majīd al-Ḥāfiẓ (1130-1149)
  12. al-Ẓāfir (1149-1154)
  13. al-Fā'iz (1154-1160)
  14. al-'Āḍid (1160-1171)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Zaghrut, Fathi (April 2022). Artawijaya, ed. Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam. Diterjemahkan oleh Irham, Masturi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 30. ISBN 978-979-592-978-9. 
  2. ^ Zakariya, Din Muhammad (2018). Sejarah Peradaban Islam: Prakenabian hingga Islam di Indonesia (PDF). Malang: CV. Intrans Publishing. hlm. 34. ISBN 978-602-08996-4-0.