Dinasti Ayyubiyyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Dinasti Ayyubiyyah
ایوبیان
الأيوبيون
1171–13411


Bendera

Wilayah terluas dinasti Ayyubiyyah dibawah Saladin ,tahun 1188
Ibu kota Kairo (1174–1250)
Bahasa Arab
Kurdi3
Koptik
Agama Islam Sunni
Bentuk Pemerintahan Monarki
Sultan
 -  1174–1193 Saladin (pertama)
 -  1331–1341 Al-Afdal (terakhir dilaporkan)
Sejarah
 -  Didirikan 1171
 -  Dibubarkan 13411
Luas
 -  Perkiraan tahun 1190[1] 2.000.000 km² (772.204 mil²)
Populasi
 -  Perk. Abad ke-12 7.200.000 (perkiraan)2 
Mata uang Dinar
Pendahulu
Pengganti
Fatimiyah
Dinasti Zengid
Kerajaan Yerusalem
Kesultanan Mamluk (Kairo)
Sekarang bagian dari  Mesir
 Irak
 Israel
 Yordania
 Lebanon
 Libya
Bendera Negara Palestina Otoritas Palestina
 Arab Saudi
 Sudan
 Suriah
 Tunisia
 Turki
 Yaman
1 Sebuah cabang dari dinasti Ayyubiyah memerintah Hisn Kayfa sampai awal abad ke-16.
2 Jumlah penduduk wilayah Ayyubiyah tidak diketahui. Angka ini hanya mencakup penduduk Mesir, Suriah, Irak utara, Palestina, dan Yordania. Wilayah Ayyubiyah lainnya, termasuk Yaman, Hijaz, Nubia, dan Libya timur tidak termasuk.
3 Kurdi adalah bahasa ibu Dinasti Ayyubiyah, tetapi dari akhir abad ke-12 dan seterusnya penguasa Ayyubiyah berbicara Arab lancar dan ditinggalkan Kurdi.

Dinasti Ayyubiyyah (bahasa Arab: الأيوبيون al-Ayyūbīyūn; bahasa Kurdi: خانەدانی ئەیووبیان Xanedana Eyûbiyan) adalah sebuah dinasti Muslim yang berasal dari suku Kurdi,[2][3][4] yang didirikan oleh Saladin dan berpusat di Mesir. Dinasti tersebut memerintah sebagian besar Timur Tengah pada abad ke-12 dan ke-13. Saladin menjadi vizier Mesir Fatimiyyah sebelum melengserkan Fatimiyyah pada 1171. Tiga tahun kemudian, ia memproklamasikan dirinya sendiri sebagai sultan setelah kematian mantan pentingginya, penguasa Zengid Nur al-Din.[5] Pada dekade berikutnya, Ayyubiyyah meluncurkan penaklukan ke seluruh kawasan tersebut dan pada 1183, mereka menguasai Mesir, Suriah, utara Mesopotamia, Hejaz, Yaman, dan pesisir Afrika Utara sampai perbatasan Tunisia saat ini. Sebagian besar Kerajaan Yerusalem jatuh ke tangan Saladin setelah kemenangannya dalam Pertempuran Hattin pada 1187. Namun, tentara Salib masih menguasai garis pesisir Palestina pada 1190an.

Setelah kematian Saladin, putra-putranya saling berebut kekuasaan kesultanan, namun saudara Saladin al-Adil menjadi petinggi sultan Ayyubiyyah pada 1200, dan seluruh sultan Ayyubiyyah dari Mesir pada masa selanjutnya adalah keturunan-keturunannya. Pada 1230an, emir-emir Suriah berupaya untuk meraih kemerdekaan mereka dari Mesir dan kerayaan Ayyubiyyah terpecah sampai Sultan as-Salih Ayyub mengembalikan persatuannya dengan menaklukan sebagian besar Suriah, kecuali Aleppo, pada 1247. Kemudian, dinasti-dinasti Muslim lokal mendompleng Ayyubiyyah dari Yaman, Hejaz, dan sebagian Mesopotamia. Setelah kematiannya pada 1249, as-Salih Ayyub digantikan di Mesir oleh al-Mu'azzam Turanshah. Namun, al-Mu'azzam Turanshah dilengserkan oleh para jenderal Mamluk yang telah menangkis invasi Delta Nil oleh pasukan Salib. Hal ini mengakhiri kekuasaan Ayyubiyyah di Mesir; upaya-upaya para emir Suriah, yang dipimpin oleh an-Nasir Yusuf dari Aleppo, untuk merebut kembali Mesir gagal. Pada 1260, bangsa Mongol merebut Aleppo dan menaklukan sisa-sisa kawasan Ayyubiyyah pada masa berikutnya. Kesultanan Mamluk mengusir bangsa Mongol, membiarkan kepangeranan Ayyubiyyah Hamat sampai melengserkan penguasa terakhirnya pada 1341.

Pada masa kekuasaan mereka yang relatif pendek, Ayyubiyyah mengalami era kejayaan ekonomi di wilayah yang mereka kuasai, dan fasilitas dan perlindungan yang diberikan oleh Ayyubiyyah membuat kegiatan intelektual bangkit di dunia Islam. Masa tersebut juga ditandai oleh proses Ayyubiyyah dalam memperkuat dominasi Muslim Sunni di kawasan tersebut dengan membangun sejumlah madrasah di kota-kota besar.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal muasal[sunting | sunting sumber]

Pendahulu dinasti Ayyubiyyah, Najm ad-Din Ayyub bin Shadhi, berasal dari suku Kurdi Rawadiyyah, yang suku itu sendiri merupakan sebuah cabang dari konfederasi Hadhabani. Para leluhur Ayyub bermukim di kota Dvin, utara Armenia.[2] Rawadiyyah merupakan kelompok Kurdi dominan di distrik Dvin, membentuk bagian dari elit politik-militer di kota tersebut.[2]

Puncaknya menjadi tak mengenakan di Dvin saat para jenderal Turki merebut kota tersebut dari pangeran Kurdi-nya. Shadhi meninggalkan dua putranya Ayyub dan Asad ad-Din Shirkuh.[2] Temannya Mujahid ad-Din Bihruz—gubernur militer utara Mesopotamia di bawah naungan bangsa Seljuk—menyambutnya dan mengangkatnya menjadi gubernur Tikrit. Setelah Shadhi meninggal, Ayyub menggantikannya pada jabatan gubernur di kota tersebut dengan bantuan saudaranya Shirkuh. Secara bersama-sama, mereka juga mengurusi kota tersebut, yang memberikan mereka ketenaran dari para penduduk lokal.[6] Pada saat itulah, Imad ad-Din Zangi, penguasa Mosul, dikalahkan oleh Abbasiyyah di bawah kepemimpinan Khalifah al-Mustarshid dan Bihruz. Dalam penawarannya untuk kabur dari medan tempur ke Mosul melalui Tikrit, Zangi mencari perlindungan bersama dengan Ayyub dan menawarkan bantuannya dalam tugas tersebut. Ayyub meniyakan dan menyediakan kapal kepada Zangi dan para pengikutnya untuk melintasi Sungai Tigris dan mendapatkan perlindungan ke Mosul.[7]

Sebagai bakasan karena tekah membantu Zangi, otoritas Abbasiyyah membalas budi kepada Ayyub. Pada insiden terpisah, Shirkuh membunuh orang kepercayaan Bihruz atas dakwaan bahwa ia melakukan serangan seksual kepada seorang wanita di Tiktit. Pengadilan Abbasiyyah mengeluarkan perintah penangkapan untuk Ayyub dan Shirkuh, namun sebelum kakak beradik tersebut ditangkap, mereka pergi dari Tikrit ke Mosul pada 1138.[7] Saat mereka datang ke Mosul, Zangi menyediakan merek dengan seluruh fasilitas yang mereka butuhkan dan ia merekrut dua kakak berakhir tersebut dalam layanan mereka. Ayyub diangkat menjadi komandan Ba'albek dan Shirkuh masuk pelayanan putra Zangi, Nur ad-Din. Menurut sejarawan Abdul Ali, keluarga Ayyubiyyah meraih pengaruh di bawah perawatan dan perlindungan Zangi.[7]

Pendirian di Mesir[sunting | sunting sumber]

Pada 1164, Nur al-Din memerintahkan Shirkuh untuk memimpin pasukan ekspedisioner untuk menghalau pasukan Salib dari pendirian kekuasaan mereka di Mesir. Shirkuh mengangmat putra Ayyub, Saladin, sebagai perwira di bawah komandonya.[8] Mereka berhasil mendompleng Dirgham, vizier Mesir, dan mengangkat lagi pendahulunya Shawar. Setelah diangkat lagi, Shawar memerintahkan Shirkuh untuk menarik pasukannya dari Mesir, namun Shirkuh menolak, dengan mengklaim Nur al-Din akan bersikukuh.[9] Sepanjang tahun-tahun berikutnya, Shirkuh dan Saladin mengalahkan pasukan kombinasi pasukan Salib dan Shawar, mula-mula di Bilbais, kemudian di sebuah tempat dekat Giza, dan di Iskandariyah, dimana Saladin singgah untuk berlindung saat Shirkuh membujuk pasukan Salib di Mesir Hilir.[10]

Shawar wafat pada 1169 dan Shirkuh menjadi vizier, namun ia juga wafat setahun kemudian.[11] Setelah Shirkuh wafat, Saladin diangkat menjadi vizier oleh khalifah Fatimiyah al-Adid karena "tak ada yang lebih waras atau lebih muda" ketimbanb Saladin, dan "tidak ada satupun emir yang menaunginya atau melayaninya", menurut kronik Muslim abad pertengahan Ibnu al-Athir.[12] Saladin kemudian menyadari bahwa ia sendiri lebih independen ketimbang sebelmnya pada masa karirnya, tertama saat Nur al-Din melakukan upaya berpengaruh di Mesir. Ia mengijinkan kakak Saladin, Turan-Shah, untuk menaungi Saladin dalam tawaran keluarga Ayyubiyah dan kemudian menempatkan jabatannya di Mesir. Nur al-Din mengiyakan permintaan Saladin agar ia bergabung dengan ayahnya Ayyub. Namun, Ayyub utamanya mengamini agar kedaulatan Abbasiyah diproklamasikan di Mesir, dimana Saladin berkuasa karena jabatannya sebagau vizier Fatimiyah. Meskipun Nur al-Din gagal membujuk Ayyubiyah bersaing, terutama sejumlah gubernur lokal di Suriah, tidak secara bulat membalikkan Saladin.[13]

Saladin mengkonsolidasikan kekuasaannya di Mesir setelah memerintahkan Turan-Shah untuk meredam sebuah pemberontakan di Kairo yang dilakukan oleh resimen Nubia sebanyak 50,000 pasukan pimpinan tentara Fatimiyah. Setelah kesuksesan tersebut, Saladin mulai memberikan jabatan tingkat tinggi kepada para anggota keluarganya di negara tersbeut dan meningkatkan pengaruh Muslim Sunni di Kairo yang didominasi Muslim Syiah dengan memerintahkan pembangunan sebuah kolese untuk fikih Maliki Islam Sunni di kota tersebut, dan yang lainnya untuk aliran Syafi'i, yang ditempatkan di al-Fustat.[14] Pada 1171, al-Adid wafat dan Saladin memajukan kekuasaannya, secara efektif mengambil alih kekuasaan atas negara tersebut. Setelah merebut kekuasaan, ia mengalihkan persekutuan Mesir ke Kekhalifahan Abbasiyah yang berbasis Baghdad yang menganut Islam Sunni.[8]

Ekspansi[sunting | sunting sumber]

Penaklukan Afrika Utara dan Nubia[sunting | sunting sumber]

Saladin datang ke Iskandariyah pada 1171–72 dan menyadari bahwa dirinya menghadapi dilema dari beberapa pendukung di kota tersebut, namun uangnya sedikit. Konsili keluarga diadakan disana oleh para emir Eyyubiyah Mesir dimana mereka memutuskan bahwa al-Muzaffar Taqi al-Din Umar, keponakan Saladin, akan meluncurkan sebuah ekspedisi melawan kawasan pesisir Barqa (Cyrenaica) di barat Mesir dengan pasukan sejumlah 500 kavaleri. Dalam rangka penyerbuan, sebuah surat dikirim ke suku-suku Bedouin di Barqa, menegur tindak perampasan mereka terhadap para penjelajah dan memerintahkan mereka untuk membayar zakat. Surat tersebut dikumpulkan dari peternakan mereka.[15]

Pada akhir 1172, Aswan dikepung oleh para bekas prajurit Fatimiyah dari Nubia dan gubernur kota tersebut, Kanz al-Dawla—seorang mantan loyalis Fatimiyah—meminta penindakan dari Saladin. Penindakan tersebut diberikan setelah bangsa Nubia memasukki Aswan, namun pasukan Ayyubiyah yang dipimpin oleh Turan-Shah maju dan menaklukan utara Nubia setelah menaklukan kota Ibrim. Turan-Shah dan para prajurit Kurdinya terpojok sementara disana. Dari Ibrim, mereka menyerbu kawasan-kawasan sekitar, mengadakan operasi-operasi mereka setelah diberi kesempatan gencatan senjata dari raja Nubia yang berbasis di Dongola. Meskipun Turan-Shah awalnya menanggapi dengan seruan perang, ia kemudian mengirim seorang duta kepada Dongola, yang setelah kembali menjelaskan kemiskinan di kota tersebut dan Nubia pada umumnya kepada Turan-Shah. Akibatnya, Ayyubiyah, seperti para pendahulu Fatimiyah mereka, membatalkan ekspansi lanjutan ke kawasan selatan Nubia karena kemiskinan kawasan tersebut, namun meminta Nubia untuk memberikan perlindungan terhadap Aswan dan Mesir Hulu.[16] Garisun Ayyubiyah di Ibrim menarik diri ke Mesir pada 1175.[17]

Pada 1174, Sharaf al-Din Qaraqush, seorang komandan di bawah al-Muzaffar Umar, menaklukan Tripoli dari bangsa Norman dengan tentara Turki dan Bedouin.[15][18]

Penaklukan Arabia[sunting | sunting sumber]

Pada 1173, Saladin mengirim Turan-Shah untuk menaklukkan Yaman dan Hejaz. Penulis Muslim Ibnu al-Athir dan kemudian al-Maqrizi menyatakan bahwa alasan dibalik penaklukan Yaaman adalah Ayyubiyah khawatir Mesir jatuh ke tangan Nur al-Din, mereka dapat mencari perlindungan di sebuah kawasan jauh. Pada Mei 1174, Turan-Shah menaklukkan Zabid dari dinasti Kharijit dan mengeksekusi pemimpinnya Mahdi Abd al-Nabi, dan kemudian pada tahun tersebut, Aden direbut dari suku Syiah Banu Karam.[19] Aden menjadi pelabuhan maritim utama dinasti tersebut di Samudera Hindia dan kota kepangeranan Yaman,[20] meskipun ibukota resmi Yaman Ayyubiyah adalah Ta'iz.[21] Kemajuan Ayyubiyah menandai permulaan masa kejayaan terbarukan di kota tersebut yang mengalami kemajuan pada infrastruktur komersialnya, pendiriian lembaga-lembaga baru, dan pembuatan koin-koinnya sendiri.[20] Setelah kejayaan tersebut, Ayyubiyah mengimplementasikan pajak baru yang dikumpulkan oleh galai-galai.[22]

Turan-Shah mendompleng para penguasa Hamdaniyah di Sana'a dan menaklukan kota pegunungan tersebut pada 1175.[19] Dengan menaklukkan Yaman, Ayyubiyyah mengembangkan sebuah armada pesisir, al-asakir al-bahriyya, yang mereka juga untuk menjaga pesisir laut di bawah kekaisaraan mereka dan melindunginya dari penyerbuan bajak laut.[23] Penaklukan tersebut mendatangkan signifikansi besar bagi Yaman karena Ayyubiyah menyatukan tiga negara independen pada masa sebelumnya (Zabid, Aden, dan Sana'a) di bawah sebuah kekuasaan tunggal. Namun saat Turan-Shah memindahkan kegubernurannya ke Yaman pada 1176, kebangkitan pecah di kawasan tersebut dan tak terelakkan sampai 1182 saat Saladin memajukan saudaranya yang lain Tughtekin Sayf al-Islam sebagai gubernur Yaman.[19]

Dari Yaman, seperti halnya dari Mesir, Ayyubiyah berniat mendominasi rute dagang Laut Merah yang bergantung pada Mesir dan memperkuat cengkeraman mereka terhadap Hejaz, dimana sebuah perhentian dagang penting, Yanbu, berada.[24] Untuk menunjang perdagangan di Laut Merah, Ayyubiyah membangun fasilitas-fasilitas di sepanjang rute dagang Laut Merah-Samudera Hindia untuk menyertai para pedagang.[25] Ayyubiyah juga berniat untuk mengembalikan klaim pengesahan mereka atas Kekhalifahan tersebut dengan mengambil kedaulatan atas kota-kota suci Islam Mekkah dan Madinah.[24] Penaklukan dan kemajuan ekonomi yang diambil alih oleh Saladin secara bulat mendirikan hegemoni Mesir di kawasan tersebut.[25]

Penaklukan Suriah dan Mesopotamia[sunting | sunting sumber]

Meskipun masih menjadi vasal Nur al-Din, Saladin makin mengadopsi sebuah kebijakan luar negeri independen. Kemerdekaan tersebut menjadi makin menjadi setelah Nur al-Din wafat pada 1174.[8] Setelah itu, Saladin menaklukkan Suriah dari Zengid, dan pada 23 November, ia disambut di Damaskus oleh gubernur kota tersebut. Pada 1175, ia mengambil alih Hamat dan Homs, namun gagal merebut Aleppo setelah mengepungnya.[26] Kekuasaan atas Hom diserahkan kepada para keturunan Shirkuh pada 1179 dan Hamat diberikan kepada keponakan Saladin, al-Muzaffar Umar.[27] Kesuksesan Saladin mengejutkan Emir Saif al-Din dari Mosul, kepala Zengid pada masa itu, yang menganggap Suriah sebagai lahan keluarganya dan murka saat mengetahui bahwa kawasan tersebut dirampas oleh bekas pelayan Nur al-Din. Ia mengerahkan tentara untuk melawan Saladin di dekat Hamat. Meskipun sangat kalah jumlah, Saladin dan para prajurit veterannya berhasil mengalahkan Zengid.[26] Setelah kemenangannya, ia memproklamasikan dirinya sendiri menjadi raja dan mencabut nama as-Salih Ismail al-Malik (putra remaja Nur al-Din) dalam salat-salat Jumat dan koin Islam, menggantikannya dengan namanya sendiri. Khalifah Abbasiyah, al-Mustadi, menyambut kenaikan tahta Saladin dan memberinya gelar "Sultan Mesir dan Suriah".[28]

Pada musim semi 1176, pertikaian besar lainnya terjadi antara Zengid dan Ayyubiyah, kali ini di Tell Sultan yang berjarak,15 kilometer (9,3 mi) dari Aleppo. Saladin kembali meraih kemenangan, namun Saif al-Din melarikan diri. Ayyubiyah berniat untuk menaklukkan kota-kota Suriah lainnya di utara, yakni Ma'arat al-Numan, A'zaz, Buza'a, dan Manbij, namun gagal menaklukkan Aleppo pada pengepungan kedua. Namun, sebuah perjanjian dilangsungkan dimana Gumushtigin, gubernur Aleppo, dan sekutu-sekutunya di Hisn Kayfa dan Mardin, mengakui Saladin sebagai penguasa berdaulat Ayyubiyah di Suriah, sementara Saladin membolehkan Gumushtigin dan as-Salih al-Malik untuk meneruskan kekuasaan mereka atas Aleppo.[29]

Saat berada di Suriah, saudaranya al-Adil memerintah Mesir,[30] dan pada 1174–75, Kanz al-Dawla dari Aswan memberontak melawan Ayyubiyah dengan tujuan membangkitkan lagi kekuasaan Fatimiyah. Para bekingan utamanya adalah suku-suku Bedouin lokal dan Nubia, selain ia juga mendapatkan dukungan dari kelompok lainnya, seperti orang Armenia. Entah kebetulan atau mungkin janjian, sebuah kebangkitan oleh Abbas bin Shadi terjadi di Qus sepanjang Sungai Nil di tengah Mesir. Kedua pemberontakan tersebut diredam oleh al-Adil.[31] Selama sisa-sisa tahun tersebut dan sepanjang awal 1176, Qaraqush melanjutkan penyerbuan-penyerbuannya di barat Afrika Utara, membawa Ayyubiyah dalam konflik dengan Almohad yang memerintah Maghreb.[15]

Pada 1177, Saladin memimpi pasukan sekitar 26,000 pasukan, menurut pembuat kronik Perang Salib William dari Tyre, ke selatan Palestina setelah menyadari bahwa sejumlah besar prajurit Kerajaan Yerusalem mengepung Harim, utara Aleppo. Mendadak diserang oleh Templar di bawah pimpinan Baldwin IV dari Yerusalem dekat Ramla, tentara Ayyubiyah dikalahkan di Pertempuran Montgisard, dengan mayoritas pasukannya tewas. Saladin singgah di Homs pada tahun berikutnya dan sejumlah pertikaian antara pasukannya, yang dikomandani oleh Farrukh Shah, dan pasukan Salib terjadi.[32] Tak terelakkan, Saladin menginvasi negara-negara Salib dari barat dan mengalahkan Baldwin di Pertempuran Marj Ayyun pada 1179. Pada tahun berikutnya, ia menghancurkan istana pasukan Salib yang bari dibangun dari Chastellet di Pertempuran Jacob's Ford. Dalam kampanye tahun 1182, ia bertikai dengan Baldwin lagi dalam Pertempuran Istana Belvoir di Kawkab al-Hawa.[33] na'ib (deputi gubernur) Ayyubiyah dari Yaman, Uthman al-Zandjili, menaklukkan sebagian besar Hadramaut pada 1180, setelah Turan-Shah pulang ke Yaman.[34]

Pada Mei 1182, Saladin menaklukkan Aleppo setelah pengepungan besar; gubernur baru kota tersebut, Imad al-Din Zangi II, tak populer dengan subyek-subyeknya dan menyerahkan Aleppo setelah Saladin sepakat untuk merestorasi kekuasaan sebelumnya Zangi II atas Sinjar, Raqqa, dan Nusaybin, yang setelah itu dijadikan kawasan vassal Ayyubiyah.[35] Aleppo resmi berada di tangan Ayyubiyah pada 12 Juni. Sehari setelahnya, Saladin berpawai ke Harim, dekat Antiokhia yang dikuasai pasukan Salib dan menaklukkan kota tersebut saat garisunnya melengserkan paksa pemimpinnya, Surhak, yang kemudian ditahan dan dibebaskan oleh al-Muzaffar Umar.[36] Menyerahnya Aleppo dan persekutuan Saladin dengan Zangi II telah membuat Izz al-Din al-Mas'ud dari Mosul menjadi satu-satunya rival Muslim besar dari Ayyubiyah. Mosul telah mengalami penyerbuan singkat pada musim gugur 1182, namun setelah mediasi dari khalifah Abbasiyah an-Nasir, Saladin menarik pasukannya. Mas'ud berupaya untuk menyekutukan dirinya sendiri dengan Artuqid dari Mardin, namun mereka menjadi sekutu dari Saladin sebagai gantinya. Pada 1183, Irbil juga mengalihkan penyekutuannya kepada Ayyubiyah. Mas'ud kemudian memberikan dukungan kepada Pahlawan bin Muhammad, gubernur Azerbaijan, dan meskipun ia tidak biasanya ikut campur di kawasan tersebut, kemungkinan ikut campur Pahlawan membuat Saladin meluncurkan serangan-serangan lanjutan melawan Mosul.[37]

Sebuah aransemen dinegosiasikan dimana al-Adil memerintah Aleppo atas nama putra Saladin al-Afdal, sementara Mesir diperintah oleh al-Muzaffar Umar atas nama putra Saladin lainnya Uthman. Saat dua putra tersebut beranjak dewasa, mereka akan memegang kekuasaan di dua kawasan tersebut, namun jika wafat, salah satu saudara Saladin akan mengambil alih tempat mereka.[38] Pada musim panas 1183, setelah mencapai timur Galilea, penyerbuan Saladin berpuncak dalam Pertempuran al-Fule di Lembah Jezreel antara ia dan tentara Salib di bawah pimpinan Guy dari Lusignan. Kebanyakan pertarungan berakhir tak mutlak. Kedua pasukan tersebut menarik diri semil satu sama lain dan saat pasukan Salib mendiskusikan hal internal, Saladin menaklukkan Dataran Golan, memotong pasukan Salib dari sumber suplai utama mereka. Pada Oktober 1183 dan kemudian pada 13 Agustus 1184, Saladin dan al-Adil mengepung Karak yang dikuasai pasukan Salib, namun tak dapat menaklukkannya. Setelah itu, Ayyubiyah menyerbu Samaria, membakar Nablus. Saladin kembali ke Damaskus pada September 1184 dan perdamaian antara negara-negara Salib dan kekaisaran Ayyubiyah berlangsung pada 1184–1185.[39]

Saladin meluncurkan serangan terakhirnya melawan Mosul pada akhir 1185, mengharapkan kemenangan muda atas Mas'ud, namun gagal karena kerusuhan masif tak terelakkan di kota tersebut dan penyakit berat yang menyebabkan Saladin mundur ke Harran. Dengan naungan Abbasiyah, Saladin dan Mas'ud menegosiasikan sebuah traktat pada Maret 1186 yang menempatkan kekuasaan Mosul kepada Zengid, namun dengan syarat menyuplai Ayyubiyah dengan dukungan militer saat diminta.[37]

Penaklukan Palestina dan Transyordania[sunting | sunting sumber]

Seluruh Kerajaan Yerusalem jatuh ke tangan Ayyubiyah setelah mereka menang melawan tentara Salib dalam Pertempuran Hattin pada 1187; ilustrasi dari Les Passages faits Outremer par les Français contre les Turcs et autres Sarrasins et Maures outremarins, sekitar tahun 1490

Saladin mengepung Tiberias di timur Galilea pada 3 Juli 1187 dan tentara Salib berupaya untuk menyerang Ayyubiyah di Kafr Kanna. Setelah mendengar pawai pasukan Salib, Saladin memimpin pasukan penjaganya kembali ke kamp utama mereka di Kafr Sabt, meninggalkan sebuah detasemen kecil di Tiberias. Dengan pandangan yang jelas dari tentara Salib, Saladin memerintahkan al-Muzaffar Umar untuk menghalang-halangi tentara Salib masuk dari Hattin dengan mengambil posisi di dekat Lubya, sementara Gokbori dan pasukannya ditempatkan di sebuah bukit dekat al-Shajara. Pada 4 Juli, tentara Salib maju ke Tanduk Hattin dan bertarung melawan pasukan Muslim, namun mengalami kekalahan. Empat hari setelah pertempuran, Saladin mengundang al-Adil untuk bergabung dengannya dalam penaklukan kembali Palestina. Pada 8 Juli, kekuatan tentara Salib di Acre direbut oleh Saladin, sementara pasukannya merebut Nazareth dan Saffuriya; brigade lainnya merebut Haifa, Caesarea, Sebastia dan Nablus, sementara al-Adil menaklukkan Mirabel dan Jaffa. Pada 26 Juli, Saladin kembali ke pesisir dan meraih Sarepta, Sidon, Beirut, dan Jableh.[40] Pada Agustus, Ayyubiyah menaklukan Ramla, Darum, Gaza, Bayt Jibrin, dan Latrun. Ascalon direbut pada 4 September.[41] Pada September–Oktober 1187, Ayyubiyah mengepung Yerusalem, merebutnya pada 2 Oktober setelah negosiasi dengan Balian dari Ibelin.[42]

Karak dan Mont Real di Transyordania kemudian direbut, disusul oleh Safad di timur laut Galilea. Pada akhir 1187, Ayyubiyah meraih kekuasaan atas seluruh kerajaan tentara Salib di Syam dengan pengecualian Tyre, yang berada di bawah kepemimpinan Conrad dari Montferrat. Pada Desember, tentara Ayyubiyah yang terdiri dari garisun Saladin dan saudara-saudaranya dari Aleppo, Hamat, dan Mesir mengepung Tyre. Setengah armada angkatan laut Muslim direbut oleh pasukan Conrad pada 29 Desember, disusul oleh kekalahan Ayyubiyah di garis pesisir kota tersebut. Pada 1 Januari 1188, Saladin mengadakan sebuah konsili perang dimana penarikan diri dari Tripoli disepakati.[43]

Meskipun mereka bertarung dengan tentara Salib di Syam, pasukan Ayyubiyah di bawah pimpinan Sharaf al-Din menggulingkan kekuasaan Kairouan dari Almohad di Afrika Utara.[15]

Perang Salib Ketiga[sunting | sunting sumber]

Paus Gregorius VIII menyerukan Perang Salib Ketiga melawan kaum Muslim pada awal 1189. Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, Philip Augustus dari Perancis, dan Richard si Hati Singa dari Inggris membentuk sebuah alainsi untuk menaklukkan kembali Yerusalem. Setelah itu, pasukan Salib dan Ayyubiyah bertarung di dekat Acre pada tahun tersebut dan diikuti oleh bala bantuan dari Eropa. Dari 1189 sampai 1191, Acre dikepung oleh pasukan Salib, dan meskipun Muslim mengalami kesuksesan awal, kota tersebut jatuh ke tangan pasukan Richard. Pembantaian 2,700 penduduk Muslim terjadi, dan pasukan Salib berencana untuk merebut Ascalon di bagian selatan.[44]

Pasukan Salib, yang sekarang bersatu di bawah komando Richard, mengalahkan Saladin di Pertempuran Arsuf, membolehkan pasukan Salib menaklukkan Jaffa dan sebagian besar pesisir Palestina, namun mereka tak dapat memulihkan kawasan-kawasan dalam. Selain itu, Richard menandatangani sebuah traktat dengan Saladin pada 1192, merestorasi Kerajaan Yerusalem pada jalur pesisir antara Jaffa dan Beirut. Ini merupakan upaya perang besar terakhir dari karier Saladin, yang wafat pada tahun berikutnya.

Pertikaian atas kesultanan[sunting | sunting sumber]

Negara dinasti Ayyubiyah dan tetangga-tetangganya setelah kematian Saladin

Meskipun mendirikan sebuah kekaisaran tersentralisasi, Saladin telah mendirikan kepemilikan warisan di seluruh wilayahnya, membagi kekaisarannya pada kerabatnya, dengan para anggota para anggota keluarga memimpin atas kepangeranan dan wilayah semi-otonom.[8] Meskipun pangeran-pangeran (emir) menempatkan persekutuan terhadap sultan Ayyubiyah, mereka memegang kemerdekaan relatif dalam kawasan mereka sendiri.[45] Setelah Saladin wafat, az-Zahir mengambil alih Aleppo dari al-Adil sesuai aransemen dan al-Aziz Uthman mengambil alih Kairo, sementara putra sulungnya, al-Afdal memegang Damaskus,[46] yang juga meliputi Palestina dan sebagian besar Gunung Lebanon.[47] Al-Adil kemudian mengakuisisi al-Jazira (Mesopotamia Hulu), dimana ia mendirikan dinasti Zengid dari Mosul. Pada 1193, Mas'ud dari Mosul bergabung dengan pasukan Zangi II dari Sinjar dan berpindah ke koalisi Zengid untuk menaklukkan al-Jazira. Namun, sebelum pemberontakan besar manapun tercapai, Mas'ud jatuh sakit dan pulang ke Mosul, dan al-Adil kemudian meminta Zangi untuk segera membuat perdamaian sebelum Zengid mengalami kehilangan wilayah di tangan Ayyubiyah.[37] Putra Al-Adil al-Mu'azzam memegang kekuasaan Karak dan Transyordania.[46]

Namun, putra-putra Saladin kemudian bertikai atas pembagian kekaisaran. Saladin telah melantik al-Afdal untuk kegubernuran Damaskus dengan tujuan agar putranya masih dapat memandang kota tersebut sebagai tempat kediaman kepangeranannya dalam rangka menjunjung keutamaan jihad (perjuangan suci) melawan negara-negara Salib. Namun, Al-Afdal menemukan bahwa menyadari bahwa pemberiannya kepada Damaskus berkontribusi terhadap kekurangmampuannya. Beberapa emir subordinat ayahnya meninggalkan kota tersebut ke Kaior untuk melobi Uthman untuk melengserkannya atas klaim bahwa ia tak berpengalaman dan berniat melengserkan pasukan lama Ayyubiyah. Al-Adil kemudian meminta Uthman untuk bertindak dalam rangka menghindari ketidakkompensian al-Afdal dalam mengambil alih kekaisaran Ayyubiyah. Kemudian, pada 1194, Uthman secara terbuka menuntut kesultanan tersebut. Uthman mengklaim tahta dalam serangkaian serangan di Damaskus pada 1196, memaksa al-Afdal ditempatkan pada jabatan rendah di Salkhad. Al-Adil menjadikan dirinya sendiri di Damaskus sebagai letnan Uthman, namun berpengaruh besar di kekaisaran tersebut.[47]

Saat Uthman wafat dalam sebuah kecelakaan berburu di dekat Kairo, al-Afdal kembali menjadi sultan (meskipun putra Uthman, al-Mansur merupakan penguasa nominal Mesir), al-Adil absen dalam sebuah kampanye di timur laut. Al-Adil kembali dan menduduki Istana Damaskus, namun kemudian dihadapkan dengan serangakuan dari pasukan campuran dari al-Afdal dan saudaranya az-Zahir dari Aleppo. Pasukan tersebut didisintegrasikan di bawah kepemimpinan al-Afdal dan pada 1200, al-Adil kembali melakukan serangannya.[48] Setelah Uthman wafat, dua klan mamluk (prajurit budak) masuk dalam konflik. Mereka adalah Asadiyya dan Salahiyya, keduanya dibentuk oleh Shirkuh dan Saladin. Salahiyya membekingi al-Adil dalam perjuangannya melawan al-Afdal. Dengan dukungan mereka, al-Adil menaklukkan Kairo pada 1200,[49] dan memaksa al-Afdal untuk menerima pencekalan internal.[48] Ia memproklamasikan dirinya sendiri menjadi Sultan Mesir dan Suriah setelahnya dan mempercayakan kegubernuran Damaskus kepada al-Mu'azzam dan al-Jazira kepada putranya yang lain al-Kamil.[49] Selain itu, pada sekitar tahun 1200, seorang sharif (kepala suku yang berkaitan dengan nabi Islam Muhammad), Qatada bin Idris, merebut kekuasaan di Mekkah dan diangkat menjadi emir kota tersebut oleh al-Adil.[24]

Al-Afdal berupaya merebut lagi Damaskus untuk terakhir kalinya, namun gagal. Al-Adil memasukki kota tersebut dengan sambutan pada 1201.[48] Setelah itu, garis al-Adil, ketimbang garis Saladin, mendominasi 50 tahun masa pemerintahan Ayyubiyah berikutnya.[48] Namun, az-Zahir masih memegang Aleppo dan al-Afdal memberikan Samosata di Anatolia.[49] Al-Adil membagi wilayah-wilayahnya kepada para putranya: al-Kamil menggantikannya di Mesir, al-Ashraf meraih al-Jazira, dan al-Awhad diberi Diyar Bakr, namun kawasan Diyar Bakr dialihkan ke domain al-Ashraf setelah al-Awhad wafat.[49]

Al-Adil mengembangkan pertikaian terbuka dari lobi Hanbali di Damaskus karena sebagian besar menghiraukan pasukan Salib serta hanya meluncurkan satu kampanye melawan mereka. Al-Adil meyakini bahwa tentara Salib tak dapat dikalahkan dalam pertarungan langsung. Kampanye-kampanye terdahulu juga melibatkan kesulitan pengutamaan koalisi Muslim koheren. Tren di bawah al-Adil bertumbuh kuat di kekaisaran tersebut, utamanya melalui otoritas Ayyubiyah di al-Jazira dan Armenia. Abbasiyah kemudian mengakui peran al-Adil sebagai sultan pada1207.[48] Sebuah kampanye militer pasukan Salib diluncurkan pada 3 November 1217, yang dimulai dengan sebuah serangan terhadap Transyordania. Al-Mu'azzam meminta al-Adil untuk meluncurkan sebuah serangan balasan, namun ia menolak usulan putranya.[50] Pada 1218, benteng Damietta di Delta Nil dikepung oleh pasukan Salib. Setelah dua upaya gagal, benteng tersebut akhirnya ditaklukkan pada 25 Agustus. Enam hari kemudian, al-Adil wafat karena syok mendadak atas direbutnya Damietta.[51]

Al-Kamil memproklamasikan dirinya sendiri menjadi sultan di Kairo, sementara saudaranya al-Mu'azzam mengklaim tahta di Damaskus. Al-Kamil berupaya untuk merebut lagi Damietta, namun dipukul mundur oleh Yohanes dari Brienne. Setelah mengetahui persekongkolan melawannya, ia kabur, meninggalkan pasukan Mesir tanpa pemimpin. Merasa panik, namun dengan bantuan al-Mu'azzam, al-Kamil bersatu lagi dengan pasukannya. Namun, pada masa itu, pasukan Salib merebut kampnya. Ayyubiyah memberikan tawaran untuk bernegosiasi untuk penarikan dari Damietta, menawarkan restorasi Palestina kepada Kerajaan Yerusalem, dengan pengecualian benteng Mont Real dan Karak.[52] Hal ini ditoleh oleh pemimpin Perang Salib Kelima, Pelagius dari Albano, dan pada 1221, pasukan Salib mundur dari Delta Nil setelah Ayyubiyah menang di Mansura.[8]

Disintegrasi[sunting | sunting sumber]

Kehilangan wilayah dan menyerahkan Yerusalem[sunting | sunting sumber]

Al-Kamil (kanan) dan Frederick II menandatangani sebuah traktat yang merestorasikan Yerusalem kepada pasukan Salib selama sepuluh tahun; dari Nuova Cronica, pertengahan abad ke-14

Di timur, Khwarezemiyyah di bawah Jalal ad-Din Mingburnu menaklukkan kota Khilat dari al-Ashraf,[53] sementara loyalis Rasuliyyah mulai merebut kawasan-kawasan Ayyubiyah di Arabia. Pada 1222, Ayyubiyah melantik pemimpin Rasuliyyah Ali Bin Rasul sebagai gubernur Mekkah. Pemerintahan Ayyubiyah di Yaman dan Hejaz menurun dan gubernur Ayyubiyah Yaman, Mas'ud bin Kamil, terpaksa pergi ke Mesir pada 1223. Ia mengangkat Nur ad-Din Umar menjadi deputi gubernurnya saat ia absen.[54] Pada 1224, dinasti al-Yamani lokal meraih kekuasaan atas Hadramaut dari Ayyubiyah yang telah menyerahkannya karena keadaan tegang dari pemerintahan mereka di wilayah Yaman.[34] Setelah kematian Mas'ud bin Kamil pada 1229, Nur ad-Din Umar mengangkat dirinya sendiri menjadi penguasa independen Yaman dan berhenti membayar upeti tahunan kepada kesulatanan Ayyubiyah di Mesir.[54]

Di bawah Frederick II, Perang Salib Keenam diluncurkan, yang makin merunyamkan pertikaian internal yang sedang terjadi antara al-Kamil dari Mesir dan al-Mu'azzam dari Suriah.[8] Kemudian, al-Kamil menawarkan Yerusalem kepada Frederick untuk menghindari invasi Mesir oleh Suriah, namun ditolak. Posisi Al-Kamil menguat saat al-Mu'azzam wafat pada 1227 dan digantikan oleh putranya an-Nasir Dawud. Al-Kamil melanjutkan negosiasi dengan Frederick II di Acre pada 1228, yang berujung pada perjanjian yang ditandatangani pada Februari 1229. Perjanjian tersebut memberikan pasukan Salib kekuasaan atas Yerusalem yang tak dibentengi selama lebih dari sepuluh tahun, selain juga melindungi kekuasaan Muslim atas tempat-tempat suci Islam di kota tersebut.[45] Meskipun traktat tersebut tak berarti dalam hal militer, an-Nasir Dawud menggunakannya untuk menimbulkan sentimen penduduk Suriah dan ceramat Jumat oleh seorang pengkotbah populer di Masjid Umayyad "mengurangi kerumunan dengan rasa tangis dan air mata".[55]

Kesepakatan dengan pasukan Salib tersebut disertai dengan redistribusi kepangeranan-kepangeranan Ayyubiyah dimana Damaskus dan kawasan-kawasannya diperintah oleh al-Ashraf, yang mengakui kedaulatan al-Kamil. An-Nasir Dawud menolak kesepakatan tersebut, dengan alasan ketegangan antara Ayyubid dengan pasukan Salib.[55] Pasukan Al-Kamil mencapai untuk meneguhkan perjanjian yang diproporsalkan pada Mei 1229. Pengepengan tersebut memiliki pengaruh besar pada kota tersebut, namun para penduduknya berpihak pada an-Nasir Dawud, mendukung peran stabil al-Mu'azzam dan mengecam traktat dengan Frederick. Namun, setelah sebulan, an-Nasir Dawud menyatakan perdamaian dan memberikan kepangeranan baru yang berpusat di sekitaran Karak, sementara al-Ashraf, gubernur Diyar Bakr, memegang jabatan kegubernuran Damaskus.[56]

Sementara itu, Seljuk maju ke al-Jazira,[57] dan para keturunan Qatada bin Idris bertarung dengan pemimpin-pemimpin Ayyubiyah mereka atas kekuasaan Mekkah. Konflik antara mereka dimanfaatkan oleh Rasuliyyah dari Taman yang berupaua mengakhiri kekuasaan Ayyubiyah di Hejaz dan menjadikan kawasan tersebut berada di bawah kekuasaan mereka pada 1238 saat Nur al-Din Umar menaklukkan Mekkah.[24][54]

Pemisahan Suriah-Mesir[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Al-Ashraf di Damaskus berjalan stabil, namun ia dan emir-emir Suriah lainnya berupaya untuk meraih kemerdekaan mereka dari Kairo. Di tengah ketegangan tersebut al-Ashraf wafat pada Agustus 1237 setelah sakit empat bulan dan digantikan oleh saudaranya as-Salih Ismail. Dua bulan kemudian, tentara Mesir pimpinan al-Kamil datang dan mengepung Damaskus, namun as-Salih Ismail telah menghancurkan sub-subperkotaan dari kota tersebut untuk memberantas tempat-tempat perlindungan pasukan al-Kamil.[58] Pada 1232, al-Kamil mengangkat putra sulungnya as-Salih Ayyub untuk memerintah Hisn Kayfa, namun setelah al-Kamil wafat pada 1238, as-Salih Ayyub mempersengketakan proklamasi adiknya al-Adil II sebagai sultan di Kairo. As-Salih Ayyub kemudian menduduki Damaskus pada Desember 1238, namun pamannya Ismail merebut kota tersebut pada September 1239. Sepupu Ismail, an-Nasir Dawud telah ditahan Ismail di Karak dalam menghindari penangkapan oleh al-Adil II. Ismail bersekutu dengan Dawud yang membebaskannya pada tahun berikutnya, membolehkannya memproklamasikan dirinya sendiri menjadi sultan di tempat al-Adil II pada Mei 1240.

Sepanjang awal 1240an, as-Salih Ayyub meraih pujian karena melawan orang-orang yang mendukung al-Adil II, dan ia kemudian bertikai dengan an-Nasir Dawud yang telah berekonsiliasi dengan as-Salih Ismail dari Damaskus. Sultan-sultan rival as-Salih Ayyub dan Ismail berupaya untuk bersekutu dengan pasukan Salib melawan yang lainnya.[59] Pada 1244, persekutuan Ayyubiyah dari Suriah dengan pasukan Salib diputus dan berkonfrontasi dengan koalisi as-Salih Ayyub dan Khwarizmiyyah di Hirbiya, dekat Gaza. Sebuah pertempuran besar terjadi, yang mengakibatkan kemenangan besar bagi as-Salih Ayyub dan keruntuhan Kerajaan Yerusalem.[60]

Restorasi persatuan[sunting | sunting sumber]

Pada 1244–1245, as-Salih Ayyub telah merebut kawasan yang sekarang menjadi wilayah Tepi Barat dari an-Nasir Dawud; ia meraih kekuasaan atas Yerusalemn, kemudian berpawai untuk merebut Damaskus, yang jatuh relatif mudah pada Oktober 1245.[60] Tak lama setelah itu, Sayf al-Din Ali menyerahkan kepangerannnya Ajlun dan bentengnya kepada as-Salih Ayyub. Terputusnya persekutuan antara Khwarizmiyah dan as-Salih Ayyub berakhir dengan penghancuran pihak Khwarizmiyah oleh al-Mansur Ibrahim, emir Ayyubiyah Homs, pada Oktober 1246.[60] Dengan kekalahan Khwarizimiyah, as-Salih Ayyub dapat menyelesaikan penaklukan selatan Suriah.[61] Jenderalnya Fakhr ad-Din mendatangi kawasan-kawasan an-Nasir Dawud. Ia menjarah kota hilir Karak, kemudian mengepung bentengnya. Serangan menyusul dengan pasukan an-Nasir Dawud atau Fakhr ad-Din mengajak pasukan lainnya. Peristiwa tersebut kemudian berujung pada perebutan benteng tersebut oleh an-Nasir Dawud, namun menyerahkan bagian lain dari kepangeranannya kepada as-Salih Ayyub. Bermukim di Palestina dan Transyordania, Fakhr ad-Din bergerak ke utara dan berpawai ke Bosra, tempat terakhir yang masih dipegang oleh Ismail. Pada pengepungan tersebut, Fakhr ad-Din jatuh sakit, namun para komandannya melanjutkan serangan melawan kota tersebut, yang jatuh pada Desember 1246.[62]

Pada Mei 1247, as-Salih Ayyub menjadi pemimpin dari Suriah selatan Danau Homs, serta meraih kekuasaan atas Banyas dan Salkhad. Dengan lawan-lawan Ayyubiyah sejawatnya, kecuali untuk Aleppo yang berada di bawah kepemimpinan an-Nasir Yusuf, as-Salih Ayyub mengalami serangan terbatas melawan pasukan Salib, mengirim Fakhr ad-Din untuk bergerak melawan kawasan-kawasan mereka di Galilea. Tiberias jatuh pada 16 Juni, disusul oleh Gunung Tabor dan Kawkab al-Hawa tak lama setelahnya. Safad dengan benteng Templarnya tidak sampai-sampai, sehingga pasukan Ayyubiyah berpawai ke selatan menuju Ascalon. Menghadapi perlawanan dari garisun pasukan Salib, sebuah flotilla Mesir dikirim oleh as-Salih Ayyub untuk mendukung pengepungan tersebut dan pada 24 Oktober, pasukan Fakhr ad-Din mencapai sisi balik dari tembok tersebut dan membunuh atau menangkap seluruh garisun. Kota tersebut dihancurkan dan meninggalkan puing-puing.[62]

As-Salih Ayyub kembali ke Damaskus untuk melihat perkembangan di utara Suriah. Al-Ashraf Musa dari Homs menyerahkan pasukan penting Salamiyah kepada as-Salih Ayyub pada musim dingin sebelumnya, diyakini untuk menjalin hubungan pelindung-klien mereka. Hal ini membuat Ayyubiyah dari Aleppo khawatir jika pasukan tersebut digunakan sebagai basus untuk pengambilalihan militer atas kota mereka. An-Nasir Yusuf menyadari ketidaksenangan tersebut dan memutuskan untuk menganeksasi Homs pada musim dingin 1248. Kota tersebut menyerah pada Agustus dan an-Nasir Yusuf memaksa al-Ashraf Musa untuk memegang kekuasaan atas Homs, namun ia diperbolehkan untuk memegang wilayah sekitara Palmyra dan Tell Bashir di Gurun Suriah. As-Salih Ayyub mengirim Fakhr ad-Din untuk kembali menaklukkan Homs, namun Aleppo membalas dengan mengirim pasukan ke Kafr Tab, selatan kota tersebut.[63] An-Nasir Dawud pergi dari Karak ke Aleppo untuk mendukung an-Nasir Yusuf, namun dalam absensinya, saudara-saudaranya al-Amjad Hasan dan az-Zahir Shadhi menahan pewarisnya al-Mu'azzam Isa dan kemudian secara pribadi datang ke kamp as-Salih Ayyub di al-Mansourah di Mesir untuk menawarkannya kekuasaan atas Karak dalam rangka mengembalikannya ke genggaman Mesir. As-Salih Ayyub sepakat dan mengirim sida-sida Badr al-Din Sawabi untuk bertindak sebagai gubernurnya di Karak.[64]

Kejatuhan[sunting | sunting sumber]

Kebangkitan Mamluk dan kejatuhan Mesir[sunting | sunting sumber]

Pada 1248, armada Salib dari 1,800 perahu dan kapal datang ke Siprus dengan tujuan meluncurkan Perang Salib Ketujuh melawan Muslim dengan menaklukkan Mesir. Komandan mereka, Louis IX, berupaya untuk meminta Mongol untuk meluncurkan serangan terkoordinasi di Mesir, namun gagal terwujud, pasukan Salib berlayar ke Damietta dan penduduk lokal disana kabur setelah mereka mendarat. Saat as-Salih Ayyub, yang berada di Suriah pada waktu itu, mendengarnya, ia bergegas kembali Ke Mesir, menghindari Damietta, dan sebagai gantinya melewati Mansurah. Disana, ia menghimpun pasukan dan memajukan pasukan komando yang melecehkan pasukan Salib.[65]

As-Salih Ayyub jatuh sakit dan kesehatannya makin menurun karena rasa tertekan dari serangan pasukan Salib. Istrinya Shajar al-Durr menyerukan pertemuan seluruh jenderal perang dan kemudian menjadi ketua komandan pasukan Mesir. Ia memerintahkan agar Mansurah dibentengi dan menyampaikan sejumlah besar tujuan dan mengkonsentrasikan pasukannya disana. Ia juga menghimpun armada perang dan menempatkan mereka di berbagai titik strategis di sepanjang Sungai Nil. Pasukan Salib yang berupaya untuk menaklukkan Mansurah diserang dan Raja Louis menyadari bahwa dirinya sendiri dalam posisi kritis. Ia memutuskan untuk menyeberangi Nil untuk meluncurkan serangan kejutan melawan Mansurah. Sementara itu, as-Salih Ayyub wafat, namun para jenderal Bahri Malmuk pimpinan Shajar al-Durr dan as-Salih Ayyub, termasuk Rukn al-Din Baybars dan Aybak, membalas serangan tersebut dan memberikan kekalahan besar terhadap pasukan Salib. Selain itu, pasukan Mesir memotong jalur suplai pasukan Salib dari Damietta, dalam rangka menghindari bala bantuan. Putra As-Salih Ayyub dan sultan Ayyubiyah yang baru diproklamasikan al-Mu'azzam Turan-Shah mendatangi Mansurah pada saat itu dan menyatakan perang melawan pasukan Salib. Pasukan Salib akhirnya menyerah di Pertempuran Fariskur, dan Raja Louis dan para pengikutnya ditangkap.[66]

Al-Mu'azzam Turan-Shah mengaliensasi Mamluk tak alam setelah kemenangan mereka di Mansurah dan mengancam mereka dan Shajar al-Durr. Khawatir akan posisi kekuasaan mereka, Mamluk Bahri memberontak melawan sultan dan membunuhnya pada April 1250.[45] Aybak menikahi Shajar al-Durr dan kemudian mengambil alih pemerintahan Mesir dengan nama al-Ashraf II yang menjadi sultan, namun hanya secara nominal.[67]

Dominansi Aleppo[sunting | sunting sumber]

Memiliki tujuan merestorasi supremasi keturunan-keturunan langsung Saladin dalam keluarga Ayyubiyah,[68] an-Nasir Yusuf kemudian meraih bekingan seluruh emir-emir Ayyubiyah yang berbasis di Suriah melawan Mesir dominasi Mamluk. Pada 1250, ia merebut Damaskus dengan relatif mudah dan pengecualian untuk Hamat dan Transyordania, otoritas langsung an-Nasir Yusuf yang berdiri belum terpatahkan dari Sungai Khabur di utara Mesopotamia sampai Semenanjung Sinai. Pada Desember 1250, ia menyerang Mesir setelah mendengar kematian al-Mu'azzam Turan-Shah dan kenaikan tahta Shajar al-Durr. Tentara An-Nasir Yusuf lebih besar dan memiliki peralatan yang lebih baik ketimbang tentara Mesir, yang terdiri dari pasukan Aleppo, Homs, Hama, dan pasukan-pasukan dari para putra Saladin yang masih ada, Nusrat ad-Din dan Turan-Shah ibn Salah ad-Din.[69] Sehingga, hal tersebut mengalami kekalahan besar bagi pihak pasukan Aybak. An-Nasir Yusuf kemudian kembali ke Suriah, yang perlahan memerosotkan kekuasaannya.[68]

Mamluk melupakan sebuah aliansi dengan pasukan Salib pada Maret 1252 dan sepakat untuk bersama-sama meluncurkan kampanye melawan an-Nasir Yusuf. Raja Louis, yang dibebaskan setelah pembunuhan al-Mu'azzam Turan-Shah, memimpin pasukannya ke Jaffa, sementara Aybak memutuskan untuk mengirim pasukannya ke Gaza. Setelah mendengan persekutuan tersebut, an-Nasir Yusuf kemudian memindahkan pasukannya ke Tell al-Ajjul, tepa di luar Gaza, dalam rangka menghindari pertemuan pasukan Mamluk dan pasukan Salib. Sementara itu, sisa-sisa pasukan Ayyubiyah ditempatkan di Lembah Yordania. Mewujudkan perang antara mereka akan sangat bermanfaat bagi pasukan Salib, Aybak dan an-Nasir Yusuf menerima mediasi Abbasiyah melalui Najm ad-Din al-Badhirai. Pada April 1253, sebuah traktat ditandatangani dimana Mamluk akan tetap menguasai seluruh Mesir dan Palestina, namun tak termasuk Nablus, sementara an-Nasir Yusuf akan diangkat menjadi penguasa Muslim Suriah. Kemudian, pemerintah Ayyubiyah resmi berakhir di Mesir.[70] Setelah konflik berkembang antara Mamluk dan Ayyubiyah kembali terjadi, al-Badhirai menghimpun traktat lainnya, kali ini memberikan kekuasaan an-Nasir Yusuf atas wilayah kekuasaan Mamluk di Palestina dan al-Arish di Sinai. Selain itu, an-Nasir Yusuf menyerahkan Yerusalem kepada seorang Mamluk bernama Kutuk sementara Nablus dan Jenin diberikan kepada Baibars.[71]

Selama setahun setelah kesepakatan dengan Mamluk, masa tenang terjadi sepanjang masa pemerintahan an-Nasir Yusuf, namun pada 11 Desember 1256 ia mengirim dua duta ke Abbasiyah di Baghdad dalam rangka pentahbisan formal dari khalifah al-Musta'sim, untuk perannya sebagai "Sultan". Permintaan tersebut berhubungan dengan persaingan an-Nasir dengan Aybak, karena gelar tersebut digunakan dalam persengketaan masa mendatang dengan Mamluk. Namun, Mamluk telah mengirim duta-duta mereka ke Baghdad sebelum memutuskan agar an-Nasir Yusuf tidak diberi gelar tersebut, menempatkan al-Musta'sim dalam posisi berbeda.[71]

Pada awal 1257, Aybak dibunuh dalam sebuah persekongkolan, dan digantikan oleh putranya yang berusia 15 tahun, al-Mansur Ali, sementara Saif ad-Din Qutuz memejang jabatan berpengaruh. Taj lama setelah kenaikan tahta al-Mansur Ali, rumor-rumor kosnpirasi lainnya ditujukan kepada an-Nasir Yusuf. Konspirasi yang dituduh, vizier al-Mansur Ali, Sharaf ad-Din al-Fa'izi, ditahan oleh otoritas Mesir. Bahri Mamluk di Suriah yang dipimpin oleh Baibars membujuk an-Nasir Yusuf untuk berintervensi dengan menginvasi Mesir, namun ia tidak melakukannya karena khawatir dinasti Bahri akan merampas tahtanya jika mereka meraih Mesir.

Kemerdekaan Karak[sunting | sunting sumber]

Kawasan Ayyubiyyah pada 1257. Kawasan berwarna merah bata dikuasai oleh an-Nasir Yusuf, sementara kawasan berwarna merah tua berada di bawah kekuasaan nominal al-Mughith Umar dari Kerak

Hubungan antara an-Nasir Yusuf dan Bahri Mamluk makin tegang setelah an-Nasir Yusuf menolak untuk menginvasi Mesir. Pada Oktober 1257, Baibars dan orang-orang Mamluk sejawatnya meninggalkan Damaskus atau diusir dari kota tersebut dan mereka bersama-sama pindah ke selatan Yerusalem. Saat gubernur Kutuk menolak untuk membantu mereka melawan an-Nasir Yusuf, Baibars melengserkannya dan memerintahkan agar al-Mugith Umar, emir Karak, disebutkan dalam kotbah di Masjid al-Aqsa; sepanjang tahun, al-Mugith Umar telah membolehkan para pembangkang politik Kairo dan Damaskus, yang mendapatkan perlindungan dari otoritas Mamluk dan Ayyubiyah, meraih keselamatan di wilayah kekuasaannya.[72]

Tak lama setelah merebut Yerusalem, Baibars menaklukkan Gaza dan an-Nasir Yusuf menanggapinya dengan mengirim tentaranya ke Nablus. Sebuah pertempuran terjadi dan Mamluk kabur melintas Sungai Yordan menuju kawasan Balqa. Dari sana, mereka mencapai Zughar di ujung selatan Laut Mati dimana mereka mengirim pengajuan mereka ke Karak. Hubungan baru Al-Mughith Umar dengan Baibars memadatkan kemerdekaannya dari Suriah pimpinan an-Nasir Yusuf. Untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut, al-Mughith Umar mulai membagi-bagikan wilayah kekuasaan Palestina dan Transyordania kepada Bahri Mamluk.[72] Persekutuan baru tersebut menghimpun sebuah pasukan kecil dan mengepalai Mesir. Pada perpecahan awal di Palestina dan al-Arish, mereka menarik diri setelah menyaksikan bagaimana mereka kalah jumlah dengan pasukan Mesir. Namun, Al-Mughith Umar dan Baibars tak diam saja, dan mengirim pasukan sejumlah 1,500 kavaleri reguler ke Sinai pada permulaan 1258, namun kembali dikalahkan oleh Mamluk dari Mesir.[73]

Invasi Mongol dan kejatuhan kekaisaran[sunting | sunting sumber]

Penaklukan Mongol di Suriah Ayyubiyah

Ayyubiyah berada di bawah kedaulatan nominal Kekaisaran Mongol setelah pasukan Mongol mentargetkan wilayah kekuasaan Ayyubiyah di Anatolia pada 1244. An-Nasir Yusuf mengirim sebuah kedutaan besar ke ibukota Mongol Karakorum pada 1250, tak lama setelah meraih kekuasaan. Namun, pemahaman tersebut tak tercapai dan Khan Agung Mongol, Möngke, mengeluarkan perintah kepada saudaranya Hulagu untuk meluaskan wilayah kekaisaran tersebut ke Sungai Nil. Hulagu pun menghimpun 120,000 tentara dan pada 1258, merebut Baghdad dan membantai para penduduknya, termasuk Khalifah al-Musta'sim dan sebagian besar keluarganya setelah Ayyubiyah gagal untuk menghimpun tentara untuk melindungi kota tersebut.[74] Pada tahun yang sama, bangsa Mongol merebut Diyar Bakr dari Ayyubiyah.[75]

An-Nasir Yusuf mengirim seorang delegasi ke Hulagu setelahnya, untuk mengulang lagi ajuannya. Hulagu menolak untuk menerimanya dan an-Nasir Yusuf meminta bantuan ke Kairo. Peristiwa tersebut bertepatan dengan sebuah kudeta sukses oleh Mamluk yang berbasis di Kairo melawan kepemimpinan simbolik Ayyubiyah di Mesir, dengan pasukan Qutuz resmi merebut kekuasaan. Sementara itu, pasukan Ayyubiyah ditempatkan di Birzeh, tepat di utara Damaskus untuk mempertahankan kota tersebut melawan bangsa Mongol yang sekarang berpawai menuju utara Suriah. Aleppo kemudian dikepung selama seminggu dan pada Januari 1260, kota tersebut jatuh ke tangan bangsa Mongol. Masjid Besar dan Istana Aleppo dirampas dan sebagian besar penduduknya dibunuh atau dijual menjadi budak.[76] Penghancuran Aleppo menyebabkan kepanikan bagi Muslim Suriah ; emir Ayyubiyah Homs, al-Ashraf Musa, menawarkan persekutuan dengan Mongol atas persetujuan tentara mereka dan membolehkan keberlanjutan pemerintahan di kota tersebut oleh Hulagu. Hama juga menyerah tanpa perlawanan, namun tidak menggabungkan pasukan dengan Mongol.[77] An-Nasir Yusuf memutuskan untuk kabur ke Damaskus untuk mencari perlindungan di Gaza.[76]

Hulagu berangkat ke Karakorum dan meninggalkan Kitbuqa, seorang jenderal Kristen Nestorian, untuk melanjutkan penaklukan Mongol. Damaskus menyerah setelah kedatangan tentara Mongol, namun tidak dihancurkan seperti kota-kota Muslim lainnya yang ditaklukkan. Namun, dari Gaza, an-Nasir Yusuf memutuskan untuk memajukan garisun kecil yang ia tinggalkan di Istana Damaskus untuk memberontak melawan penjajah Mongol. Mongol membalasnya dengan meluncurkan serangan artileri masif ke istana tersebut dan saat menyadari bahw an-Nasir Yusuf tak dapat mencapai kota tersebut dengan bala bantuan, garisun tersebut menyerah.[76]

Mongols melanjutkannya dengan menaklukkan Samaria, membunuh sebagian besar garisun Ayyubiyyah di Nablus, dan kemudian maju ke selatan, sampai ke Gaza,a tanpa halangan. An-Nasir Yusuf kemudian ditaklukkan oleh Mongol dan memajukan garisun di Ajlun untuk menaklukkannya. Setelah itu, gubernur Ayyubiyyah junior Banyas bersekutu dengan Mongol,[77] yang sekarang meraih kekuasaan atas sebagian besar Suriah dan al-Jazira, secara efektif mengakhiri kekuasaan Ayyubiyyah di kawasan tersebut. Pada 3 September 1260, tentara Mamluk yang berbasis di Mesir pimpinan Qutuz dan Baibars menantang otoritas Mongol dan mengalahkan pasukan mereka dalam Pertempuran Ain Jalut, di luar Zir'in, Lembah Jezreel. Lima hari kemudian, Mamluk merebut Damaskus dan dalam sebulan, sebagian besar Suriah berada dalam cengkeraman Bahri Mamluk.[76] Sementara itu, an-Nasir Yusuf dibunuh saat ditangkap.[78]

Sisa-sisa dinasti[sunting | sunting sumber]

Beberapa emir Ayyubiyah di Suriah dibujuk oleh Qutuz untuk bersekutu dengan Mongol, namun semenjak al-Ashraf Musa membangkang dan bertarung bersama dengan Mamluk di Ain Jalut, ia dapat meneruskan pemerintahannya atas Homs. Al-Mansur dari Hamat bertarung bersama dengan Mamluk dari saat mereka memulai penaklukkan dan karena itu,[78] Hamat tetal diperintah oleh para keturunan Ayyubiyyah dari al-Muzaffar Umar. Setelah al-Ashraf Musa wafat pada 1262, sultan Mamluk baru, Baibars, menganeksasi Homs. Pada tahun berikutnya, al-Mughith Umar memutuskan untuk menyerahkan Karak kepada Baibars dan dieksekusi tak lama setelahnya karena sebelumnya berpihak dengan Mongol.[78]

Penguasa Ayyubiyyah terakhir dari Hamat wafat pada 1299 dan Hamat jatuh ke tangan Mamluk. Namun, pada 1310, di bawah perlindungan sultan Mamluk al-Nasir Muhammad, Hamat merestorasikan Ayyubiyyah di bawah geografer dan pengarang terkenal Abu al-Fida. Abu al-Fida wafat pada 1331 dan diteruskan oleh putranya al-Afdal Muhammad, yang kemudian kehilangan jabatan Mamluk-nya. Ia dicabut dari jabatannya pada 1341 dan Hamat menjadi resmi berada di bawah kekuasaan Mamluk.[79]

Di tenggara Anatolia, Ayyubiyah masih memerintah kepangeranan Hisn Kayfa dan masih memegang kekuasaan otonom, lepas dari kekuasaan Ilkhanate Mongol, yang memerintah utara Mesopotamia sampai 1330an. Setelah perpecahan Ilkhanate tersebut, bekas vasal di kawasan tersebut, Artuqid, berperang melawan Ayyubiyah di Hisn Kayfa pada 1334, namun kalah, dengan Ayyubiyyah meraih wilayah Artuqid di tepi kiri Sungai Tigris.[80] Pada abad ke-14, Ayyubiyyah membangun lagi istana Hisn Kayfa yang dijadikan sebagai kekuatan mereka. Ayyubiyyah di Hisn Kayfa menjadi vasal Mamluk dan kemudian Dulkadiriyah sampai jatuh ke tangan Kekaisaran Utsmaniyah pada awal abad ke-16.[81]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Pemerintah[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Sehuah koin Ayyubiyyah yang dibuat di Aleppo mencantumkan nama Emir al-Zahir

Saladin menstrukturkan kekaisaran Ayyubiyah dengan kedaulatan kolektif yakni kojfederasi kepangeranan yang diadakan bersama dengan gagasan pemerintahan keluarga. Di bawah aransemen tersebut, terdapat sejumlah "sultan petty" meskipun satu anggota keluarga, as-Sultan al-Mu'azzam, memegang jabatan tertinggi. Setelah kematian Saladin, jabatan tersebut menjadi terbuka bagi siapapun yang dianggap layak untuk memegangnya. Kemudian, persaingan antara Ayyubiyyah dari Mesir dan Suriah mencapai titik dimana para penguasa setiap wilayah pada masa itu berseteru dengan pasukan Salib melawan satu sama lain.[82] Pemerintahan Ayyubiyyah berbeda di dua kawasan tersebut. Di Suriah, setiap kota besar diperintah sebagai kepangeranan yang relatif indepencen di bawah seorang anggota keluarga Ayyubiyyah, sementara di Mesir, tradisi lama dari pemerintahan tersentralisasi menaungi Ayyubiyyah untuj mengutamakan kontrol langsung atas provinsi dari Kairo.[83] Namun, Baghdad, kursi Kekhalifahan, menghadapi hegemoni budaya dan politik atas kawasan Ayyubiyyah, terutama di Asia Barat Daya. Selain itu, qadi ("kepala keadilan") Damaskus masih diangkat oleh Abbasiyyah pada masa kekuasaan Ayyubiyyah.[82]

Kekuasaan politik terkonsentrasi dalam rumah tangga Ayyubiyyah yang tak hanya terkarakteristikkan oleh hubungan darah; budak dan kenalan dapat memegang kekuasaan besar, dan bahkan tertinggi di dalamnya. Merupakan hal umum bagi para ibu penguasa Ayyubiyyah muda untuk bertindak pada kekuasaan independen atau dalam beberapa kasus, memerintah dalam hak mereka sendiri. Orang-orang kasim diberi kekuasaan substansial di bawah Ayyubiyyah, menjabat sebagai hadirin dan atabeg dalam rumah tangga atau sebagai emir, gubernur, dan komandan tentara di luar rumah tangga. Salah satu pendukung paling berpengaruh Saladin adalah si kasim Baha ad-Din ibn Shaddad yang membantunya melengserkan Fatimiyah, merampas properti mereka, dan membangun tembok istana Kairo. Setelah kematian al-Aziz Uthman, ia menjadi regen putranya al-Mansur dan secara efektif memdrintah atas Mesir selama jangka pendek sebelum kedatangan al-Adil. Sultan-sultan berikutnya mengangkat orng-orang kasim menjadi deputi sultan dan bahkan menganugerahi mereka kedaulatan atas kota-kota tertentu, seperti Shams al-Din Sawab yang diberi kota-kota Jazira Amid dan Diyar Bakr pada 1239.[84]

Ayyubiyyah memiliki tiga prinsip dalam merekrut elit-elit terdidik yang mereka butuhkan untuk mengurusi kota-kota mereka. Beberapa pemimpin lokal tersebut, yang dikenal sebagai shaykh, memasuki pelayanan rumah tangga pemerintahan Ayyubiyyah dan kemudian ajuan untuk kekuasaan mereka didukung dari pendapatan dan pengaruh Ayyubiyyah. Selain itu, pendapatan dibayar langsung dari diwan, sebuah badan pemerintahan negara tingkat tinggi. Metode ketiganya adalah penerapan pendapatan amal shaykh, yang dikenal sebagai wakaf.[85] Ayyubiyyah, seperti berbagai pendahulu mereka di kawasan tersebut, memiliki beberapa badan kenegaraan yang mempenetrasikan kota-kota mereka. Untuk menghubungkan diri mereka sendiri dengan elit terdidik dari kota-kota mereka, mereka mengeluarkan penggunaan politik dari praktik perlindungan. Penerapan pendapatan wakaf kepada kalangan elit tersebut sama dengan penerapan fief (iqta'at) kepada para komandan dan jenderal tentara. Dalam kedua kasus, hal tersebut membolehkan Ayyubuyyah untuk merekrut seorang dependen, namun tidak dengan elit subordinat secara administratif.[86]

Setelah mereka menaklukkan Yerusalem pada 1187, Ayyubiyyah di bawah Saladin mula-mula membuat jabatan amir al-hajj (komandan peziarahan) untuk melindungi karavan Haji tahunan yang pergi dari Damaskus ke Mekkah dengan melantik Tughtakin bin Ayyub pada jabatan tersebut.[87]

Kursi pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kursi pemerintahan Ayyubiyyah dari pemerintahan Saladin dari 1170an sampai masa pemerintahan al-Adil pada 1218 berada di Damaskus. Kota tersebut menyediakan dorongan strategis dalam perang dengan pasukan Salib dan membolehkan sultan untuk memantau vasal-vasalnya yang relatif ambisius di Suriah dan al-Jazira. Kairo terlalu terpencil untuk dijadikan sebagai basis operasi, namun selalu dijadikan sebagai pendirian ekonomi kekaisaran. Hal tersebut membuat kota tersebut menjadi konstituen kritis dalam penentuan pendirian Ayyubiyyah.[82] Saat Saladin diproklamasikan menjadi sultan di Kairo pada 1171, ia memilih Istana Barat Kecil yang dibangun oleh Fatimiyah (bagian dari kompleks istana yang lebih besar di Kairo yang terisolasi dari perkotaan) sebagai kursi pemerintahan. Saladin sendiri tinggal di bekas istana vizier Fatimiyah, Turan-Shah memegang bekas tempat tinggal pangeran Fatimiyah, dan ayah mereka menduduki Paviliun Mutiara yang berada di luar Kairo menghadap bendungan kota. Sultan-sultan Ayyubiyyah suksesif dari Mesir tinggal di Istana Barat Kecil.[88]

Setelah al-Adil I meraih tahta di Kairo dan dengan kesultanan oligarki Ayyubiyyah, periode persaingan antara Damaskus dan Kairo menjadi perhatian utama kekaisaran Ayyubiyyah. Di bawah al-Adil dan al-Kamil, Damaskus masih menjadi provinsi otonom yang penguasanya memegang hak untuk menentukan pewarisnya sendiri, namun pada masa pemerintahan as-Salih Ayyub, kamlanye-kampanye militer melawan Suriah membuat Damaskus diturunkan menjadi vasal Mesir.[89] Selain itu, Ayyub mendirikan aturan-aturan baru baik dalam administrasi maupun pemerintahan dalam rangka mensentralisasikan rezimnya; ia memberikan jabatan-jabatan paling berpengarub dari negara tersebut kepada orang-orang kepercayaan terdekatnya, disamping para kerabat Ayyubiyyah-nya. Contohnya, istrinya Shajar al-Durr, memegang urusan-urusan Mesir saat ia berada di Suriah. Ayyub resmi mendelegasikan otoritasnya kepada almarhum putranya Khalil dan mengangkat al-Durr resmi bertindak atas perantaraan Khalil.[90]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Agama, etnisitas dan bahasa[sunting | sunting sumber]

Minaret Masjid Besar Istana Aleppo, yang dibangun oleh az-Zahir Ghazi pada 1214

Pada abad ke-12, Islam menjadi agama dominan di Timur Tengah. Namun, hal ini tidak menandakan bahwa agama tersebut menjadi mayoritas di luar Semenanjung Arabia. Bahasa Arab merupakan bahasa budaya tinggi dan populasi perkotaan, meskipun bahasa lainnya yang telah ada dari zaman sebelum pemerintahan Islam masih digunakan umum hal tertentu.[91] Kebanyakan orang Mesir berbicara memakai bahasa Arab pada masa Ayyubiyyah berkuasa disana.[92]

Rumpun bahasa Kurdi menjadi bahasa ibu dari orang-orang Ayyubiyyah awal, pada masa mereka berangkat dari Dvin. Sultan Saladin memakai bahas Arab dan bahasa Kurdi, dan nampaknya juga bahasa Turki.[93][94] Menurut Yasser Tabbaa, seorang antropolog yang mengkhususkan diri dalam budaya Islam abad pertengahan,[95] para penguasa Ayyubiyyah yang memerintah pada abad ke-12 menjauhkan diri dari asal muasal Kurdi, dan tak seperti pendahulu mereka Seljuk dan penerus mereka Mamluk, mereka ter-"Arabisasi". Bahasa dan budaya Arab[96] membentuk komponen utama dari identitas mereka selain warisan Kurdi mereka.[97] Marga-marga Arab lebih sering digunakan di kalangan Ayyubiyyah, sebuah suku yang sebagian terasimilasi dalam dunia berbahasa Arab sevelum para anggotanya berkuasa, ketimbang nama-nama non-Arab. Beberspa pengecualian meliputi marga non-Arab Turan-Shah. Kebanyakan penguasa Ayyubiyyah memakai bahasa Arab dan beberapa orang dari mereka, seperti az-Zahir Ghazi, al-Mu'azzam Isa dan emir-emir minor Hamat, mengkomposisikan puisi Arab.[98]

Arabisasi keluarga pemerintahan Ayyubiyyah berbeda dari pangkat-pangkat tentara mereka, yang kurang kohesi budaya, dengan Turk dan Kurdi mendominasi kavaleri dan nomadik Turcoman dan Arab mengisi pangkat infanteri. Kelompok-kelompok tersebut biasanya ditempatkan dalam kawasan-kawasan pastoral di luar kota-kota, pusat-pusat kehidupan budaya, dan saat mereka terisolasi dari lingkungan perkotaan dominan Arab. Isolasi tersebur membolehkan mereka menyajikan tradisi mereka.[99] Saladin diyakini berbicara dalam bahasa Turki kepada para komandan militernya.[94] Seperti pendahulu Fatimiyah, para penguasa Ayyubiyyah dari Mesir mengutamakan pasukan substansial mamluk (budak militer). Pada paruh pertama abad ke-13, mamluk kebanyakan datang dari Turk Kipchak dan Sirkasia dan terdapat bukti kuat bahwa pasukan tersebut masih memakai bahasa Turki Kipchak.[100][101]

Mayoritas populasi Suriah pada abad ke-12 terdiri dari Muslim Sunni, biasanya dari latar belakang Arab atau Kurdi. Terdapat juga sejumlah komunitas Muslim Syiah Dua Belas Imam, Druze, dan Alawit. Ismaili berjumlah kecil dan kebanyakan berdarah Persia, yang bermigrasi dari Alamut. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan pegunungan dekat garis pantai utara Suriah.[102] Komunitas Nasrani besar ada di utara Suriah, Palestina, Transyordania dan Mesopotamia Hulu. Mereka memakai bahasa Aram dan asli dari kawasan tersebut, kebanyakan menganut Gereja Ortodoks Suryani. Mereka tinggal di desa-desa Kristen atau campuran populasi Muslim dan Nasrani, biara-biara, dan kota-kota kecil dimana mereka tampak bersahabat dengan para tetangga Muslim mereka. Secara ideologi, mereka dipimpin oleh Patriarkh Antiokhia.[103]

Di Yaman dan Hadramaut, sebagian besar penduduknya menganut Islam Syiah dalam bentuk Zaydi. Para penduduk Mesopotamia Hulu terdiri dari Muslim Sunni Kurdi dan Turki, meskipun terdapat minoritas Yazidi signifikan di kawasan itu juga. Yahudi menyebar ke seluruh dunia Islam dan sebagian besar kota Ayyubiyyah memiliki komunitas Yahudi karena Yahudi memainkan peran penting dalam perdagangan, pabrik, keuangan, dan pengobatan. Di Yaman dan beberapa bagian Suriah, Yahudi juga tinggal di kota-kota pedesaan. Emir Ayyubiyyah di Yaman pada 1197–1202, al-Malik Mu'izz Isma'il, berupaya untuk memaksa Yahudi di Aden menjadi mualaf, namun prosesnya mentok setelah ia wafat pada 1202. Dalam komunitas Yahudi, terutama di Mesir dan Palestina, terdapat minoritas Karait.[91]

Di Mesir, terdapat komunitas besar Kristen Koptik, Melkit, Turki, Armenia dan orang kulit hitam Afrika—Armenia dan orang kulit hutam Afrika memiliki jumlah yang besar di Mesir Hulu. Di bawah Fatimiyah, non-Muslim di Mesir umumnya makmur, dengan pengecualian masa pemerintahan Khalifah al-Hakim. Namun, dengan kenaikan tahta Shirkuh pada jabatan vizier, sejumlah edik dikeluarkan melawan penduduk non-Muslim. Dengan kemajuan pasukan ekspedisioner Suriah (yang terdiri dari Turk Oghuz dan Kurdi) ke Mesir, arus penindasan minoritas dan penganiayaan keagamaan terjadi.[104] Insiden-insiden tersebut terjadi saat Shirkuh dan Saladin menjadi vizier untuk khalifah Fatimiyyah.[104]

Pada permulaan masa pemerintahan Saladin sebagai sultan di Mesir, setelah dinasehati penasehatnya, Qadi al-Fadil, orang Nasrani dilarang bekerja dalam administrasi fiskal, namun berbagai emir Ayyubiyyah masih membolehkan oleh Kristen untuk berugas dalam jabatan-jabatan mereka. Sejumlah aturan lainnya dikeluarkan, yang meliputi larangan konsumsi alkohol, prosesi keagamaan, dan membunyikan lonceng gereja. Perpindahan agama dari orang-orang berpangkat tinggi yang beragama Nasrani beserta keluarga mereka ke Islam terjadi pada masa awal pemerintahan Ayyubiyyah.[105] Menurut sejarawan Yaakov Lev, penindasan non-Muslim memiliki beberapa dampak permanen pada mereka, namun, dampaknya bersifat lokal dan berisi.[104] Untuk mengurusi perdagangan Laut Tengah, Ayyubiyyah membolehkan bangsa-bangsa Eropa—terutama bangsa Italia, selain juga bangsa Perancis dan bangsa Catalan—untuk bermukim di Iskandariyah dalam jumlah hesar. Namu, setelah Perang Salib Kelima, 3,000 pedagang dari kawasan tersebut ditangkap atau diusir.[85]

Ayyubiyyah utamanya mempekerjakan Kurdi, Turki dan orang-orang dari Kaukasus pada jabatan-jabatan berpangkat tinggi di bidang militer dan birokrat. Tidak banyak diketahui tentang jejak para prajurit tentara Ayyubiyyah, namun sejumlah pasukan kavaleri diketahui berjumlah antara 8,500 dan 12,000. Kavaleri kebanyakan terdiri dari Kurdi, Turki, dan Turkomen merdeka yang para emir dan sultan Ayyubiyyah jadikan budak (mamluk). Selain itu, terdapat auksilier Arab, bekas unit-unit Fatimiyah seperti orang Nubia, dan orang-orang dari kawasan Arab yang terpisah—terutama dari suku Kinaniyya, yang kebanyakan ditempatkan untuk mempertahankan Mesir. Persaingan antara pasukan Kurdi dan Turki terjadi saat jabatan-jabatan utama diperebutkan dan menjelang akhir kekuasaan Ayyubiyyah, orang Turki kalah jumlah dengan orang Kurdi dalam ketentaraan. Meskipun berlatar belakang Kurdi, para sultan masih menjadi bagian dari kedua grup tersebut.[106]

Populasi[sunting | sunting sumber]

Tidak ada jumlah akurat untuk populasi dari berbagai kawasan di bawah kekuasaan Ayyubiyyah. Colin McEvedy dan Richard Jones menyatakan bahwa pada abad ke-12, Suriah memiliki populasi sebesar 2.7 juta, Palestina dan Transyordania memiliki 500,000 penduduk, dan Mesir memiliki populasi di bawah 5 juta.[107] Josiah C. Russel menyatakan bahwa pada periode yang sama, terdapat 2.4 juta orang di Suriah hidup di 8,300 desa, meninggalkan populasi 230,000–300,000 tinggal di sepuluh kota, delapan diantaranya adalah kota Muslim yang berada di bawah kekuasaan Ayyubiyyah. Yang terbesar adalah Edessa (pop. 24,000), Damaskus (pop. 15,000), Aleppo (pop. 14,000), dan Yerusalem (pop. 10,000). Kota-kota kecilnya meliputi Homs, Hamat, Gaza, dan Hebron.[108]

Russel memperkirakan populasi desa Mesir berjumlah 3.3 juta di 2,300 desa, sebuah kepadatan tinggi bagi populasi pedesaan. Ia berpendapat bahwa produktivitas tinggi tanah Mesir membuat pertumbuhan pertanian meningkat. Populasi perkotaannya berjumlah kurang dari itu, 233,100, yang melingkupi 5.7% dari total populasi Mesir. Kota-kota terbesarnya adalah Kairo (pop. 60,000), Iskandariyah (pop. 30,000), Qus (pop. 25,000), Damietta (pop. 18,000), Fayyum (pop. 13,000), dan Bilbeis (pop. 10,000). Sejumlah kota kecil berada di pinggiran Sungai Nil. Kota-kota kecil tersebut adalah Damanhur, Asyut, dan Tanta. Kota-kota di Mesir juga padat penduduk, terutaka karena urbanisasi dan industrialisasi yang lebih -besar ketimbang tempat lainnya.[108]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Sebuah contoh tembikar Ayyubiyyah dari Mesir

Menekan tentara Salib keluar dari sebagian besar Suriah, Ayyubuyyah umumnya mengadopsi kebijakan damai dengan mereka. Perang dengan pasukan Salib tidak menghindarkan Muslim di bawah pemerintahan Ayyubuyyah dari pengembangan hubungan komersial dengan negara-negara Eropa. Hal ini membuahkan interaksi antar kedua pihak dalam bidang aktivitas ekonomi yang berbeda, terutama pertanian dan perdagangan.[109]

Sejumlah ukuran diambil oleh Ayyubiyyah untuk meningkatkan produksi pertanian. Bendungan-bendungan memfasilitasi irigasi lahan-lahan pertanian di seluruh kekaisaran tersebut. Penanaman tebu resmi mendatangkan tuntutan besar dari para penduduk lokal dan Eropa. Beberapa tanaman diperkenalkan ke Eropa dalam perdagangan dengan Zengid dan Ayyubiyyah, yang meliputi biji wijen, carob, millet, beras, lemon, melon, aprikot, dan bawang merah.[109]

Faktor utama yang menggelembungkan industri dan perdagangan di bawah Ayyubiyyah adalah peminatan baru bangsa Eropa yang berkembang saat mereka menjalin kontak dengan Muslim. Komoditasnya meliputi dupa, aroma, minyak wangi, dan tanaman aromatik dari Arabia dan India, serta jahe, tawas, dan lidah buaya. Selain itu, bangsa Eropa mengembangkan rasa-rasa baru dalam hal mode, busana, dan perabotan rumah. Permadani, karpet, dan tapestri dibuat di Timur Tengah dan Asia Tengah diperkenalkan ke dunia Barat melalui interaksi pasukan Salib-Ayyubiyyah. Para peziarah Nasrani yang mengunjungi Yerusalem kembali dengan relikuier Arab untuk menyimpan relik. Selain itu, karya-karya seni rupa timur dalam rupa kaca, tembikar, emas, perak, dll bernilai tinggi di Eropa.[109]

Tuntutan Eropa untuk produk-produk pertanian dan komoditas industrial menggerakkan kegiatan maritim dan perdagangan internasional menjadi hal yang tak terkira. Ayyubiyyah memainkan peran utama dalam hal ini karena mereka menguasai rute dagang laut yang melewati pelabuhan-pelabuhan Yaman dan Mesir melalui Laut Merah.[109] Kebijakan dagang Ayyubiyyah menempatkan mereka dalam posisi kemajuan besar; meskipun mereka bekerjasama dengan Genoa dan Venesia di Laut Tengah, mereka menghalangi mereka dari akses menuju Laut Merah. Selain itu, mereka menaungi perdagangan Samudera Hindia secara khusus di tangan mereka. Dalam perdagangan Laut Tengah, Ayyubiyyah mendapatkan keuntungan besar dalam bentuk pajak dan komisi yang mereka dapatkan dari bangsa Italia.[110]

Setelah perkembangan perdagangan internasional, prinsip-prinsip dasar dari kredit dan perbankan dikembangkan. Para pedagang Yahudi dan Italia gjat menjadi agen perbankan di Suriah, yang mentransaksikan bisnis atas perantara master-master mereka. Nilai tukar juga digunakan mereka dalam kesepakatan mereka satu sama lain dan uang didepositokan di berbagai pusat perbankan di seluruh Suriah. Kegiatan perdagangan dan industri menyediakan sultan-sultan Ayyubuyyah dengan dana-dana yang diperlukan untuk pengeluaran militer serta untuk pengembangan dan pekerjaan gaya hidup sehari-hari.Perhatian khusus dibuat kepada bidang ekonomi kekaisaran tersebut di bawah al-Adil dan al-Kamil. Al-Kamil mengutamakan kontrol ketat atas pengeluaran; dikatakan bahwa saat kematiannya, ia meninggalkan harta yang setara dengan biaya setahun penuh.[110]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Menjadikan diri mereka sendiri terdidik, para penguasa Ayyubiyyah menjadi pelindung mutlak kegiatan pemahaman dan pendidikan. Sekolah-sekolah berjenis madrasah yang berbeda dibangun oleh mereka di seluruh kekaisaran, tak hanya untuk pendidikan, namun juga pengetahuan populer Islam Sunni. Menurut Ibnu Jubayr, di bawah Saladin, Damaskus memiliki 20 sekolah, 100 permandian, dan sejumlah besar biara dervish Sufi. Ia juga membangun beberapa sekolah di Aleppo, Yerusalem, Kairo, Iskandariyah, dan berbagai kota di Hejaz. Selain itu, beberapa sekolah juga dibangun oleh para penerusnya. Istri-istri dan putri-putri mereka, komandan-komandan dan bangsawan-bangsawan juga mendirikan dan membiayai sejumlah lembaga pendidikan.[110]

Meskipun Ayyubiyyah berasal dari mazhab Shafi'i, mereka membangun sekolah-sekolah untuk pengajaran dalam seluruh empat sistem pemikiran relijius-yudisial Sunni. Sebelum Ayyubuyyah mengambil alih, tak ada sekolah-sekolah bagi mazhab Hanbali dan Maliki di Suriah, namun Ayyubiyyah mendirikan sekolah-sekolah terpisah bagi mereka. Pada pertengahan abad ke-13, Ibnu Shaddad mendirikan 40 sekolah Shafi'i, 34 sekolah Hanafi, 10 sekolah Hanbali, dan tiga sekolah Maliki di Damaskus.[111]

Saat Saladin merestorasikan ortodoksi Sunni di Mesir, 10 madrasah didirikan pada masa pemerintahannya, dan 25 madrasah tambahan pada seluruh masa pemerintahan Ayyubiyyah. Setiap tempat mereka memiliki signifikansi relijius, politik dan ekonomi, terutama di al-Fustat. Kebanyakan sekolah didedikasikan kepada mazhab Shafi'i, namun yang lainnya untuk mazhab Maliki dan Hanafi. Madrasah-madrasah yang dibangun di dekat makam Imam al-Shafi'i berada di pusat-pusat peziarahan penting dan menjadi fokus besar dari devosi Sunni.[112] Sekitar 26 sekolah dibangun di Mesir, Yerusalem dan Damaskus oleh para pejabat pemerintah berpangkat tinggi, dan secara tak lazim pada masa itu, para komandan juga mendirikan sekitar 18 sekolah di Mesir, termasuk dua lembaga pengobatan.[111]

Kebanyakan sekolah menjadi tempat tinggal para guru dan murid yang tinggal sesuai dengan aturan. Para guru diangkat menjadi yuris, teolog, dan tradisional yang meraih gaji mereka dari lembaga-lembaga dimana mereka mengajar. Setiap murid menerima sebuah kamar dimana mereka tinggal, seorang guru menginstruksikannya saat ia minta, dan giat memberikah seluruh kebutuhannya. Madrasah-madrasah dianggap menjadi lembaga paling prestisius di masyarakat. Di bawah Ayyubiyyah, tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dalam pemerintahan tanpa meraih pendidikan dari madrasah.[111]

Ilmu dan pengobatan[sunting | sunting sumber]

Fasilitas dan perlindungan yang diberikan oleh Ayyubiyyah berujung pada kebangkitan dalam aktivitas intelektual dalam berbagai cabang ilmu dan pemahaman di seluruh kawasan yang mereka kuasai. Mereka memegang peminatan istimewa dalam bidang pengobatan, farmakologi, dan botani. Saladin membangun dan mengurusi dua rumah sakit di Kairo yang meliputi Rumah Sakit Nuri di Damaskus yang tak hanya merawat pasien, namun juga menyediakan pembelajaran medis. Beberapa ilmuwan dan dokter berkembang pada periode tersebut di Mesir, Suriah dan Irak. Beberapa diantara mereka adalah Maimonides, Ibnu Jami, Abdul Latif al-Baghdadi, al-Dakhwar, Rashidun al-Suri, dan Ibnu al-Baitar. Beberapa cendekiawan melayani rumah tangga Ayyubiyyah secara langsung, menjadikannya dokter-dokter pribadi para sultan.[113]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Tembok Ayyubiyyah di Kairo, dibongkar saat pembangunan Taman Al-Azhar, Januari 2006

Arsitektur militer menjadi ekspresi tertinggi periode Ayyubiyyah, serta kekuatan untuk membentengi restorasi Islam Sunni, khususnya di Mesir yang sebelumnya didominasi Syiah dengan membangun madrasah-madrasah Sunni. Perubahan Saladin paling radikal diimplementasikan di Mesir membuat Kairo dan al-Fustat ditutup dalam sebuah tembok kota.[114] Beberapa teknik perbentengan dipelajari dari pasukan Salib, seperti tembok-tembok yang mengikuti topografi alami. Beberapa juga diwarisi dari Fatimiyah seperti makikolasi dan menara bundar, sementara teknik-teknik lainnya dikembangkan sendiri oleh Ayyubiyyah, terutama perencanaan konsentrik.[115]

Wanita Muslim, terutama dari keluarga Ayyubiyyab, keluarga-keluarga gubernur lokal, dan keluarga-keluarga ulama (cendekiawan relijius) mengambikmperan aktif dalam arsitektur Ayyubiyyah. Damaskus menyaksikan perlindungan paling berkelanjutan dari arsitektur keagamaan oleh wanita. Mereka bertanggung jawab untuk pembangunan 15 madrasah, enam hospis Sufi, dan 26 lembaga amal dan keagamaan. Di Aleppo, Madrasah al-Firdaus, yang dikenal sebagai bangunan Ayyubiyyah paling impresif di Suriah, memiliki ratu pemangku Dayfa Khatun sebagai pelindungnya.[116]

Pada September 1183, pembangunan Istana Kairo dimuai atas perintah Saladin. Menurut al-Maqrizi, Saladin memilih Perbukitan Muqattam untuk membangun istana tersebut karena udara disana lebih segar ketimbang tempat lainnya di kota tersebut, namun pembangunannya tidak ditentukan oleh atmosfir yang menyehatkan; disampinb keperluan defensif dan keberadaan benteng-benteng dan istana-istana di Suriah. Tembok-tembok dan menara-menara bagian utara istana tersebut kebanyakan adalah karya-karya Saladin dan al-Kamil.[114] Dua menara Saladin dibangun menurut unit semi-melingkar. Al-Kamil mehyelesaikan istana tersebut; ia mengokohkan dan memperbesar beberapa menara yang ada, dan juga menambahkan sejumlah menara persegi yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan. Menurut Richard Yeomans, kebanyakan struktur al-Kamil merupakan serangkaian tempat penyimpanan rektangular masif yang dilindungi tembok-tembok di sebelah utara.[117] Seluruh perbentengan al-Kamil dapat diidentifikasikan oleh batubatanya yang timbul dan berkarat sementara menara-menara Saladin memiliki bebatuan yang dihaluskan. Gaya timbul tersebut menjadi fitur umum dalam perbentengan Ayyubiyyah lainnya menjadi hal umum pada benteng Ayyubiyyah lainnya, da dapat dilihat di Istana Damasks dan Bosra, Suriah.[112]

Citra data scan laser 3D dari Gerbang Bab al-Barqiyya di Tembok Ayyubiyyah abad ke-12 yang membatasi Taman Al-Azhar. Gerbang benteng tersebut dibangun dengan volume saling menunci yang mengelilingi seluruh tempat tersebut dalam rangka menyediakan keamanan dan kendali lebih keimbag gerbang-gerbang kota yan biasanya; gambar dari kemitraan riset Yayasan Aga Khan/CyArk

Aleppo mengalami perubaan besar pada masa Ayyubiyyah, khususnya pada masa pemerintahan az-Zahir Ghazi. Prestasi arsitektur Ayyubiyyah berfokus pada empat kawasan: istana, pengerjaan air, perbentengan, dan pengembangan ekstramural. Pembangunan ulang total kota tersebut dimulai saat az-Zahir Ghazi menghilangkan vallum Nur ad-Din—yan pada masa itu digunakan untuk kebutuhan temporer—dan membangun tembok utara dan barat laut—dalam rangak memerikan perlindungan dari serangan luar—dari Bab al-Jinan sampai Bab al-Nasr. Ia memberikan bangunan-bangunan menara pada tembok tersebut kepada para pangeran dan perwira militerya; setiap menara diidentifikasikan dengan seorang pangeran tertentu yang namanya dituliskan didalamnya. Kemudian, az-Zahir Ghazi meluaskan tembok timur sampai ke selatan dan timur, merefleksikan keinginannya untuk menyatukan benteng yang sudah ada, Qala'at al-Sharif, di luar kota tersebut dalam naungan Aleppo.[118] Bab Qinnasrin dibangun ulang seluruhnya oleh an-Nasir Yusuf pada 1256. Gerbang tersebut menjadi adikarya arsitektur militer Ayyubiyah abad pertengahan.[119] Puncaknya, arsitektur Ayyubiyah meninggalkan impresi tak berkesudahan di Aleppo. Istananya dibangun ulang, jaringan airnya diperluas, dan jalan-jalan dan perempatan disediakan air mancur dan permandian. Selain itu, puluhan biara, masjid, madrasah, dan mausoleum dibangun di seluruh kota tersebut.[120]

Periode Ayyubiyyah di Yerusalem seelah penaklukannya oleh Saladin ditandai oleh investas besar dalam pembangunan rumah, pasar, permandian umum, dan penginapan peziarah. Sejumlah pengerjaan dilakukan di kompleks al-Haram.[121] Saladin memerintahkan agar seluruh tembok dalam dan tiang Kubah Batu dilapisi dengan marmer dan ia menginisiasian renovasi mosaik-mosaik pada drum kubah. mihrab masjid al-Aqsa diperbaiki dan pada 1217, al-Mu'azzam Isa membangun serambi utara masjid dengan tiga gerbang.[122] Kubah Mi'raj juga dibangun dan direstorasi untuk mendirikan kubah-kubah di kompleks al-Haram.[123]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Turchin, Peter; Adams, Jonathan M.; Hall, Thomas D (December 2006). "East-West Orientation of Historical Empires" (PDF). Journal of world-systems research 12 (2): 219–229. Diakses tanggal 9 January 2012. 
  2. ^ a b c d Humphreys 1987
  3. ^ Özoğlu 2004, hlm. 46
  4. ^ Bosworth 1996, hlm. 73
  5. ^ Eiselen 1907, hlm. 89
  6. ^ Ali 1996, hlm. 27
  7. ^ a b c Ali 1996, hlm. 28
  8. ^ a b c d e f Shillington 2005, hlm. 438
  9. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 8
  10. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 14
  11. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 25
  12. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 28
  13. ^ Lev 1999, hlmn. 96–97
  14. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 41
  15. ^ a b c d Lev 1999, hlm. 101
  16. ^ Lev 1999, hlm. 100
  17. ^ Fage 1978, hlm. 583
  18. ^ Lane-Poole 1894, hlm. 75
  19. ^ a b c Houtsma & Wensinck 1993, hlm. 884
  20. ^ a b Margariti 2007, hlm. 29
  21. ^ McLaughlin 2008, hlm. 131
  22. ^ Lofgren 1997, hlm. 181
  23. ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 10
  24. ^ a b c d Salibi 1998, hlm. 55
  25. ^ a b Daly & Petry 1998, hlmn. 217–218
  26. ^ a b Lane-Poole 1906, hlm. 141
  27. ^ Lane-Poole 1894, hlm. 76
  28. ^ Lane-Poole 1906, hlmn. 142–146
  29. ^ Lane-Poole 1906, hlmn. 146–148
  30. ^ Lev 1999, hlm. 22
  31. ^ Lev 1999, hlmn. 100–101
  32. ^ Lane-Poole 1906, hlmn. 155–156
  33. ^ Smail 1995, hlmn. 35–36
  34. ^ a b Brice 1981, hlm. 338
  35. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 195
  36. ^ Lyons & Jackson 1982, hlmn. 202–203
  37. ^ a b c Bosworth et al. 1989, hlm. 781
  38. ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 221
  39. ^ Lane-Poole 1906, hlmn. 177–181
  40. ^ Lane-Poole 1906, hlm. 219
  41. ^ Lane-Poole 1906, hlm. 223
  42. ^ Lane-Poole 1906, hlm. 230
  43. ^ Lane-Poole 1906, hlmn. 239–240
  44. ^ Lane-Poole 1906, hlmn. 289–307
  45. ^ a b c Meri & Bacharach 2006, hlm. 84
  46. ^ a b Richard & Birrell 1999, hlm. 240
  47. ^ a b Burns 2005, hlm. 179
  48. ^ a b c d e Burns 2005, hlm. 180
  49. ^ a b c d Richard & Birrell 1999, hlm. 241
  50. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 297
  51. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 300
  52. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 301
  53. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 315
  54. ^ a b c Ali 1996, hlm. 84
  55. ^ a b Burns 2005, hlm. 184
  56. ^ Burns 2005, hlm. 185
  57. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 322
  58. ^ Burns 2005, hlm. 186
  59. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 328
  60. ^ a b c Richard & Birrell 1999, hlm. 330
  61. ^ Humphreys 1977, hlm. 288
  62. ^ a b Humphreys 1977, hlm. 290
  63. ^ Humphreys 1977, hlmn. 293–295
  64. ^ Humphreys 1977, hlm. 297
  65. ^ Ali 1996, hlm. 35
  66. ^ Ali 1996, hlm. 36
  67. ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 349
  68. ^ a b Tabbaa 1997, hlmn. 29–30
  69. ^ Humphreys 1977, hlm. 316
  70. ^ Humphreys 1977, hlmn. 322–323
  71. ^ a b Humphreys 1977, hlm. 328
  72. ^ a b Humphreys 1977, hlmn. 330–331
  73. ^ Humphreys 1977, hlm. 332
  74. ^ Burns 2005, hlmn. 195–196
  75. ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 128
  76. ^ a b c d Burns 2005, hlm. 197
  77. ^ a b Grousset 2002, hlm. 362
  78. ^ a b c Abulafia, McKitterick & Fouracre 2005, hlm. 616
  79. ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 163
  80. ^ Singh 2000, hlmn. 203–204
  81. ^ Ayliffe et al. 2003, hlm. 913
  82. ^ a b c Jackson 1996, hlm. 36
  83. ^ Hourani & Ruthven 2002, hlm. 131
  84. ^ Daly & Petry 1998, hlmn. 239–240
  85. ^ a b Daly & Petry 1998, hlm. 231
  86. ^ Daly & Petry 1998, hlm. 232
  87. ^ Sato 2014, hlm. 134
  88. ^ Lev 1999, hlm. 11
  89. ^ Jackson 1996, hlm. 37
  90. ^ Vermeulen, De Smet & Van Steenbergen 2001, hlmn. 211–212
  91. ^ a b Hourani & Ruthven 2002, hlmn. 96–97
  92. ^ Goldschmidt 2008, hlm. 48
  93. ^ Magill 1998, hlm. 809
  94. ^ a b France 1998, hlm. 84
  95. ^ Yasser Tabbaa: Biography. Institute of Ismaili Studies.
  96. ^ Angold 2006, hlm. 391
  97. ^ Fage & Oliver 1977, hlmn. 37–38
  98. ^ Humphreys 1977, hlmn. 189–190
  99. ^ Tabbaa 1997, hlm. 31
  100. ^ Catlos 1997, hlm. 425
  101. ^ Flinterman 2012, hlmn. 16–17
  102. ^ Willey 2005, hlm. 41
  103. ^ Baer 1989, hlmn. 2–3
  104. ^ a b c Lev 1999, hlm. 192
  105. ^ Lev 1999, hlmn. 187–189
  106. ^ Daly & Petry 1998, hlm. 226
  107. ^ Shatzmiller 1994, hlmn. 57–58
  108. ^ a b Shatzmiller 1994, hlmn. 59–60
  109. ^ a b c d Ali 1996, hlm. 37
  110. ^ a b c Ali 1996, hlm. 38
  111. ^ a b c Ali 1996, hlm. 39
  112. ^ a b Yeomans 2006, hlm. 111
  113. ^ Ali 1996, hlmn. 39–41
  114. ^ a b Yeomans 2006, hlmn. 104–105
  115. ^ Peterson, 1996, p. 26.
  116. ^ Necipoğlu, 1994, pp. 35–36.
  117. ^ Yeomans 2006, hlmn. 109–110
  118. ^ Tabbaa 1997, hlm. 19
  119. ^ Tabbaa 1997, hlmn. 21–22
  120. ^ Tabbaa 1997, hlm. 26
  121. ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 209
  122. ^ Ma'oz and Nusseibeh, 2000, pp. 137–138.
  123. ^ le Strange 1890, hlmn. 154–155

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]