Kekaisaran Brasil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kekaisaran Brasil
Império do Brasil

1822–1889
 

Bendera Kekaisaran Kedua terdiri dari  warna hijau dan belah ketupat berwarna emas di tengah, dengan lambang kekaisaran di dalamnya Lambang Brasil yang terdiri dari perisai berwarna hijau dengan bola armilari emas di atas Salib Ordo Kristus berwarna merah dan putih, yang dikelilingi oleh lingkaran biru dengan 20 bintang perak. Di bawahnya terdapat dua cabang pohon; cabang di kiri adalah cabang tanaman kopi, sementara cabang di kanan adalah cabang tembakau. Di atas perisai terdapat emas dan mahkota yang berhiaskan perhiaskan
Bendera Grand imperial coat of arms
Semboyan
Independência ou Morte!
"Merdeka atau Mati!"
Lagu kebangsaan
Hino da Independência (1822–1831)
"Lagu Kemerdekaan"
Hino Nacional Brasileiro (1831–1889)
" Lagu Kebangsaan Brasil"
Peta Amerika Selatan; wilayah Kekaisaran Brasil ditandai berwarna hijau
Wilayah terluas Kekaisaran Brasil tahun 1822–1828, termasuk bekas provinsi Cisplatina
Ibu kota Rio de Janeiro
Bahasa Portugis
Agama Katolik Roma
Pemerintahan Monarki konstitusional
Kaisar
 -  1822–1831 Pedro I
 -  1831–1889 Pedro II
Perdana Menteri
 -  1843–1844 Marquis Paraná (de facto)
 -  1847–1848 Viscount Caravelas Kedua (jabatan didirikan)
 -  1889 Viscount Ouro Preto (terakhir)
Badan legislatif Majelis Umum
 -  Majelis tinggi Senat
 -  Majelis rendah Bilik Deputi
Era sejarah Abad ke-19
 -  Kemerdekaan 7 September 1822
 -  Pedro I naik tahta 12 Oktober 1822
 -  Penetapan konstitusi kekaisaran 25 Maret 1824
 -  Pedro II 7 April 1831
 -  Penghapusan perbudakan 13 Mei 1888
 -  Monarki dibubarkan 15 November 1889
Populasi
 -  Perk. 1823 4,000,000 
 -  Perk. 1854 7,000,700 
 -  Perk. 1872 9,930,479 
 -  Perk. 1890 14,333,915 
Mata uang Real

Kekaisaran Brasil adalah sebuah negara yang berdiri pada abad ke-19 dan meliputi wilayah yang kini merupakan bagian dari Brasil dan Uruguay. Negara ini merupakan monarki konstitusional parlementer representatif yang dipimpin oleh Kaisar Dom Pedro I dan putranya, Dom Pedro II; keduanya merupakan anggota Wangsa Braganza, salah satu cabang Dinasti Capetia. Awalnya Brasil merupakan koloni Kerajaan Portugal. Wilayah ini kemudian menjadi pusat kedudukan Imperium Portugal pada tahun 1808 dengan Rio de Janeiro sebagai ibukotanya setelah Dom João VI melarikan diri dari Portugal akibat invasi Napoleon I. João VI nantinya kembali ke Portugal dan meninggalkan putra sulung dan penerusnya, Pedro, di Brasil sebagai wali raja. Pada 7 September 1822, Pedro menyatakan kemerdekaan Brasil dan ia diangkat menjadi Kaisar Brasil pertama pada tanggal 12 Oktober setelah berhasil memenangkan perang melawan Portugal. Negara baru ini sangat besar, tetapi berpenduduk jarang dan memiliki keanekaragaman etnis.

Tidak seperti republik-republik Hispanik di sekelilingnya, Brasil mengalami stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi, serta secara konstitusional menjamin kebebasan berpendapat dan menghormati hak-hak sipil, walaupun terdapat batasan bagi perempuan dan budak; bahkan budak dianggap bukan sebagai warga negara, tetapi sebagai properti.Parlemen Kekaisaran Brasil yang bikameral dan badan legislatif di tingkat provinsi dan lokal dipilih melalui metode yang relatif demokratis pada masa tersebut. Akibatnya, meletus konflik ideologis antara Pedro I dengan faksi di parlemen terkait peran raja dalam pemerintahan. Pedro I juga menghadapi permasalahan lain, seperti kegagalan dalam Perang Cisplatine melawan Provinsi Bersatu Río de la Plata yang mengakibatkan lepasnya salah satu provinsi Brasil (nantinya menjadi Uruguay) pada tahun 1828. Walaupun berperan penting dalam memerdekakan Brasil, Pedro menjadi Raja Portugal pada tahun 1826, tetapi mengundurkan diri untuk memberikan jabatan kepada putri tertuanya. Dua tahun kemudian tahta sang putri diambil alih oleh adik Pedro  I. Karena merasa tidak mampu mengurus masalah Brasil dan Portugal secara bersamaan, Pedro I mengundurkan diri dari jabatan Kaisar Brasil pada tanggal 7 April 1831 dan kemudian langsung berangkat ke Eropa untuk mengembalikan putrinya ke tahta.

Penerus Pedro I adalah putranya yang masih berumur lima tahun, Pedro II. Karena Pedro masih kecil, perwalian yang lemah diadakan. Kekosongan kekuasaan yang diakibatkan oleh ketiadaan kaisar sebagai penentu dalam sengketa politik mengakibatkan perang saudara regional antara faksi-faksi lokal. Walaupun mewarisi negara yang berada di ambang kehancuran, setelah dewasa Pedro II berhasil membawa perdamaian dan kestabilan, serta membuat Brasil menjadi kekuatan internasional baru. Brasil berhasil memenangkan tiga konflik internasional (Perang Platine, Perang Uruguay, dan Perang Paraguay), serta sengketa-sengketa internasional lain dan perselisihan-perselisihan domestik. Berkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi, banyak imigran yang datang dari Eropa, termasuk imigran Protestan dan Yahudi, walaupun Brasil sendiri mayoritas tetap beragama Katolik. Perbudakan, yang sebelumnya menyebar luas, mulai dibatasi oleh berbagai undang-undang hingga akhirnya dihapuskan pada tahun 1888. Seni visual, sastra, dan teater Brasil juga berkembang pada masa ini. Walaupun sangat dipengaruhi oleh gaya Eropa dari Neoklasikisme hingga Romantisisme, masing-masing konsep disesuaikan agar dapat menghasilkan budaya khas Brasil sendiri.

Walaupun Brasil menikmati perdamaian dan kesejahteraan ekonomi, secara pribadi Pedro tidak ingin monarki berlanjut setelahnya. Seiring bertambahnya umur Pedro, ia tidak mencoba mempertahankan institusi monarki. Karena ia tidak memiliki keturunan yang layak menjadi penerus (calon penerusnya adalah putrinya, Isabel, dan Pedro II serta kelas penguasa Brasil menolak kaisar perempuan), penguasa-penguasa politik Kekaisaran meyakini bahwa tidak ada alasan untuk mempertahankan monarki. Meskipun sebagian besar orang Brasil tidak antusias dalam menerima bentuk pemerintahan republikan, pada tanggal 15 November 1889, setelah berkuasa selama 58 tahun, Pedro II dijatuhkan oleh kudeta yang hanya didukung oleh pemimpin-pemimpin militer yang bermaksud untuk mendirikan sebuah republik yang dikepalai oleh seorang diktator.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kemerdekaan dan tahun awal[sunting | sunting sumber]

Peta yang menunjukkan Kekaisaran Brasil dan provinsi-provinsinya
Kekaisaran Brasil sekitar tahun 1824. RS=Rio Grande do Sul, RN=Rio Grande do Norte, PB=Paraíba, PE=Pernambuco, AL=Alagoas, SE=Sergipe. Ibukota kekaisaran Rio de Janeiro terletak di provinsi dengan nama yang sama.

Wilayah yang kini dikenal dengan nama Brasil diklaim oleh Portugal pada 22 April 1500, ketika penjelajah Pedro Álvares Cabral mendarat di pesisir wilayah tersebut.[1] Permukiman permanen didirikan pada tahun 1532, dan dalam tiga ratus tahun ke depan Portugal secara perlahan memperluas wilayahnya ke barat hingga hampir mencapai ujung perbatasan Brasil saat ini.[2] Pada tahun 1808, angkatan bersenjata Kaisar Perancis Napoleon I menyerbu Portugal dan memaksa keluarga kerajaan Portugal (Wangsa Braganza, cabang Wangsa Kapetia) ke dalam pembuangan. Wangsa tersebut pindah ke kota Rio de Janeiro di Brasil, yang kemudian menjadi ibukota tidak resmi Imperium Portugal.[3]

Pada tahun 1815, putra mahkota Portugal pangeran Dom João (nantinya menjadi Dom João VI) yang saat itu bertindak sebagai wali mendirikan Kerajaan Bersatu Portugal, Brasil, dan Algarve, sehingga menaikkan status Brasil dari koloni menjadi kerajaan. Satu tahun kemudian, ia naik tahta setelah kematian ibunya, Maria I dari Portugal. Ia kembali ke Portugal pada April 1821 dan menjadikan putra dan penerusnya, Pangeran Dom Pedro, sebagai wali yang memerintah di Brasil.[4][5] Pemerintah Portugal segera mencabut otonomi politik yang diberikan kepada Brasil semenjak tahun 1808.[6][7] Ancaman pencabutan otonomi memicu perlawanan di Brasil. José Bonifácio de Andrada dan pemimpin-pemimpin Brasil lainnya berhasil meyakinkan Pedro untuk menyatakan kemerdekaan Brasil dari Portugal pada 7 September 1822.[8][9] Pada 12 Oktober, sang pangeran dinyatakan sebagai Pedro I, Kaisar pertama Kekaisaran Brasil, yang merupakan sebuah monarki konstitusional.[10][11] Deklarasi kemerdekaan ini ditentang oleh satuan militer yang masih setia kepada Portugal. Akibatnya, meletuslah perang kemerdekaan di seluruh negeri, dan pertempuran pecah di wilayah utara, timur laut, dan selatan. Tentara Portugal terakhir menyerah pada Maret 1824,[12][13] dan kemerdekaan Brasil diakui oleh Portugal pada Agustus 1825.[14]

Pedro I menghadapi beberapa krisis pada masa kekuasaannya. Para pemberontak di Provinsi Cisplatina berusaha melepaskan diri pada tahun 1825, dan kemudian Provinsi Bersatu Rio de la Plata (nantinya Argentina) mencoba mencaplok wilayah Cisplatina, sehingga memicu Perang Cisplatina: "sebuah perang di selatan yang panjang, memalukan, dan pada akhirnya sia-sia".[15] Pada Maret 1826, João VI meninggal dan Pedro I mewarisi kerajaan Portugal, dan ia sempat menjadi Raja Pedro IV dari Portugal sebelum mengundurkan diri untuk memberikan jabatan kepada putri tertuanya, Maria II.[16] Keadaan memburuk pada tahun 1828 ketika provinsi Cisplatina lepas dari Brasil dan kemudian menjadi republik Uruguay yang merdeka.[17] Pada tahun yang sama, tahta Maria II di Lisbon direbut oleh Pangeran Miguel, adik Pedro I.[18]

Kesulitan lain muncul ketika parlemen Kekaisaran, Majelis Umum, dibuka pada tahun 1826. Pedro I dan banyak anggota legislatif menginginkan badan yudikatif yang independen, badan legislatif yang dipilih oleh rakyat, dan pemerintahan yang dipimpin oleh kaisar dengan berbagai wewenang dan hak prerogratif.[19] Anggota parlemen lain mendukung struktur serupa, tetapi menginginkan agar peran kaisar dikurangi dan agar badan legislatif menjadi badan yang dominan dalam pembuatan kebijakan dan pemerintahan.[20] Akibatnya, antara tahun 1826 hingga 1830, terjadi perdebatan mengenai badan mana yang sebaiknya mendominasi pemerintahan.[15] Karena tidak mampu mengurus masalah di Brasil dan Portugal secara bersamaan, Kaisar mengundurkan diri dan digantikan oleh putranya, Pedro II, pada 7 April 1831. Pedro I kemudian langsung berlayar ke Eropa untuk mengembalikan putrinya ke tahta.[21]

Anarkisme[sunting | sunting sumber]

Istana Kota yang merupakan kantor pemerintahan Kekaisaran Brasil pada tahun 1840.

Setelah kepergian Pedro I yang mendadak, Brasil dikepalai oleh seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Kekaisaran terancam tidak memiliki eksekutif yang kuat selama dua belas tahun ke depan karena berdasarkan konstitusi Pedro II baru akan mencapai usia dewasa dan mulai menjalankan wewenang sebagai kaisar pada 2 Desember 1843.[22] Maka dari itu, beberapa wali dipilih untuk memimpin negara hingga Pedro II menjadi dewasa. Namun, para wali ini memiliki sedikit wewenang dan sepenuhnya tunduk kepada Majelis Umum, sehingga tidak dapat mengisi kekosongan di puncak pemerintahan Brasil.[23]

Perwalian ini tidak dapat menyelesaikan sengketa dan persaingan di antara faksi-faksi nasional dan lokal. Pada tahun 1834, Majelis Umum meloloskan amandemen konstitusi yang dissebut Ato Adicional untuk mengurangi perselisihan dengan memberikan otonomi yang lebih besar kepada pemerintah provinsi dan lokal. Namun, amandemen tersebut malah menyuburkan persaingan dan ambisi lokal. Kekerasan pecah di seluruh negeri.[24] Partai-partai semakin bersaing memperebutkan kursi pemerintahan provinsi dan munisipal karena partai yang menguasai suatu provinsi akan menguasai sistem politik dan pemilihannya juga. Partai-partai yang kalah pemilihan umum memberontak dan mencoba mengambil kekuasaan dengan paksa, sehingga beberapa pemberontakan meletus.[25]

Para politikus yang memperoleh kekuasaan pada tahun 1830-an telah mengetahui lika-liku jalan menuju kekuasaan. Menurut sejarawan Roderick J. Barman, pada tahun 1840 "mereka sudah tidak lagi memiliki keyakinan bahwa mereka dapat menguasai negara sendirian. Mereka menerima Pedro II sebagai figur penguasa yang sangat diperlukan untuk keberlangsungan negeri."[26] Beberapa politikus tersebut (yang kemudian akan membentuk Partai Konservatif pada tahun 1840-an) meyakini bahwa Brasil memerlukan figur yang netral: figur yang tidak terkait dengan faksi dan kepentingan politik sehingga dapat menyelesaikan masalah dan menengahi sengketa.[27] Mereka menginginkan kaisar yang lebih bergantung kepada dewan legislatif, namun memiliki kekuatan yang lebih besar seperti yang telah dianjurkan pada awal masa perwalian oleh saingan mereka (yang nantinya membentuk Partai Liberal).[28] Namun, kaum liberal melakukan inisiatif untuk menurunkan usia kedewasaan Pedro II dari delapan belas menjadi empat belas. Sang kaisar dinyatakan layak untuk memimpin pada Juli 1840.[29]

Konsolidasi[sunting | sunting sumber]

Recife, ibukota Pernambuco (wilayah timur laut Brasil), dua tahun setelah pemberontakan Praieira.

Untuk mencapai tujuan mereka, kaum liberal bersekutu dengan kelompok pelayan istana berkedudukan tinggi dan politikus penting: "Faksi Orang Istana". Orang-orang istana ini merupakan bagian dari lingkaran dalam kaisar dan berpengaruh terhadap kaisar,[30] sehingga kabinet diisi oleh orang-orang istana dan liberal. Namun, dominasi mereka tidak berlangsung lama. Pada tahun 1846, Pedro II telah matang secara jasmani maupun kejiwaan. Ia bukan lagi seorang pemuda berusia 14 tahun yang mudah dipengaruhi oleh gosip, usulan rencana rahasia, atau taktik manipulatif lain;[31] kelemahan sang kaisar muda mulai menghilang secara perlahan dan kelebihannya semakin tampak.[31] Ia berhasil menghentikan pengaruh orang-orang istana dengan mengeluarkan mereka dari lingkaran dalamnya tanpa perlu mengakibatkan gangguan ketertiban umum.[32] Ia juga memberhentikan orang-orang liberal, yang terbukti tidak efektif dalam menjalankan tugas jabatannya, dan meminta kaum konservatif untuk membentuk pemerintahan pada tahun 1848.[33]

Kemampuan kaisar dan kabinet konservatif diuji oleh tiga krisis yang berlangsung di antara tahun 1848 dan 1852.[34] Krisis pertama terkait dengan impor budak yang ilegal. Impor budak telah dilarang semenjak tahun 1826 sebagai bagian dari perjanjian dengan Britania.[33] Namun, perdagangan manusia masih berlanjut, dan pemerintah Britania meloloskan Undang-Undang Aberdeen pada tahun 1845 yang memberi wewenang kepada kapal-kapal perang Britania untuk memasuki kapal Brasil dan menangkap siapapun yang didapati terlibat dalam perdagangan budak.[35] Sementara Brasil menghadapi masalah ini, pemberontakan Praieira, yang merupakan konflik yang meletus di antara faksi-faksi politik lokal di provinsi Pernambuco (dan yang melibatkan pendukung liberal dan orang istana). Konflik meletus 6 November 1848, tetapi berhasil dipadamkan pada Maret 1849. Pemberontakan ini merupakan pemberontakan terakhir yang meletus pada periode kekaisaran, dan pemadamannya menandai periode perdamaian internal selama empat puluh tahun di Brasil. Hukum Eusébio de Queirós kemudian diundangkan pada 4 September 1850 dan memberikan wewenang yang besar kepada pemerintah untuk melawan perdagangan budak ilegal. Dengan undang-undang baru ini, Brasil mulai melancarkan penghapusan impor budak. Pada tahun 1852, krisis pertama telah diselesaikan, dan Britania sendiri merasa bahwa Brasil sudah berhasil menghapuskan perdagangan budak.[36]

Krisis ketiga adalah konflik dengan Konfederasi Argentina yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan atas wilayah-wilayah di sebelah Río de la Plata dan pelayaran bebas di sungai tersebut.[37] Semenjak tahun 1830-an, diktator Argentina Juan Manuel de Rosas telah mendukung pemberontakan di Uruguay dan Brasil. Kekaisaran Brasil tidak dapat menghadapi ancaman Rosas hingga tahun 1850,[37] ketika persekutuan dibentuk oleh Brasil, Uruguay, dan orang-orang Argentina yang tidak puas dengan Rosas,[37] sehingga memicu Perang Plata pada 18 Agustus 1851 dan pelengseran pemimpin Argentina pada Februari 1852.[38][39] Keberhasilan Kekaisaran Brasil dalam menangani krisis-krisis ini meningkatan stabilitas dan martabat negara, dan Brasil berubah menjadi kekuatan regional.[40] Di kancah internasional, bangsa Eropa memandang Kekaisaran Brasil sebagai negara yang mewujudkan asas-asas liberal seperti kebebasan pers dan penghormatan kebebasan sipil dalam konstitusi. Monarki parlementer representatif Brasil juga berbanding terbalik dengan kediktatoran dan ketidakstabilitas yang menghantui negara-negara Amerika Selatan lain pada saat itu.[41]

Pertumbuhan[sunting | sunting sumber]

Lokomotif Pequenina (Yang Kecil) di provinsi Bahia (Brasil timur laut) sekitar tahun 1859.
Pembangunan di dermaga Recife pada tahun 1862.

Pada permulaan tahun 1850-an, Brasil menikmati stabilitas dan kesejahteraan ekonomi.[42] Berbagai infrastruktur sedang dibangun, seperti rel kereta api, telegraf elektrik, dan jalur kapal uap yang menyatukan Brasil menjadi suatu kesatuan nasional.[42] Setelah lima tahun bertugas, kabinet konservatif diberhentikan dan pada September 1853, Honório Hermeto Carneiro Leão, Marquis Paraná, ketua Partai Konservatif, ditugaskan untuk membentuk kabinet baru.[43] Kaisar Pedro II ingin menjalankan rencana yang ambisius, yang disebut “Konsiliasi ",[44] dan rencana ini dimaksudkan untuk memperkuat peran parlemen dalam penyelesaian sengketa politik negara.[43][45]

Paraná mengundang beberapa orang liberal untuk bergabung dengan kaum konservatif dan bahkan mengangkat beberapa menjadi menteri. Kabinet yang baru, walaupun sangat berhasil, dihantui oleh pertentangan dari anggota ultrakonservatif dari Partai Konservatif yang menolak adanya kaum liberal. Mereka merasa bahwa kabinet telah menjadi mesin politik yan dicemari oleh orang liberal yang tidak sejalan dengan gagasan-gagasan partai konservatif dan lebih tertarik dengan jabatan.[46] Meskipun terdapat ketidakpercayaan semacam ini, Paraná tetap teguh dalam pendiriannya.[47][48] Namun, pada September 1856, pada puncak kariernya, ia meninggal mendadak, walaupun kabinetnya masih bertugas setelahnya hingga Mei 1857.[49]

Partai Konservatif telah terpecah menjadi dua faksi: di satu sisi terdapat kaum ultrakonservatif, dan di sisi lain adalah konservatif moderat yang mendukung program Konsiliasi.[50] Kaum konservatif dipimpin oleh Joaquim Rodrigues Torres, Viscount Itaboraí, Eusébio de Queirós, dan Paulino Soares de Sousa, Viscount Uruguai Pertama—mereka bertiga merupakan mantan menteri dalam kabinet 1848–1853. Negarawan-negarawan tua ini telah mengambil alih Partai Konservatif setelah kematian Paraná.[51] Setelah tahun 1857, kabinet-kabinet yang dibentuk tidak bertahan lama. Kabinet-kabinet tersebut jatuh dalam waktu singkat karena tidak adanya mayoritas di Bilik Deputi.

Anggota Partai Liberal yang tersisa menggunakan kesempatan ini untuk kembali ke kancah politik nasional dengan kekuatan baru. Mereka mengejutkan pemerintah ketika mereka berhasil memenangkan beberapa kursi di Bilik Deputi pada tahun 1860.[52] Ketika anggota konservatif yang moderat memutuskan untuk bergabung dengan kaum liberal dan membentuk partai politik baru, "Liga Progresif",[53] kaum konservatif tidak lagi menjadi mayoritas di parlemen. Mereka mengundurkan diri, dan pada Mei 1862 Pedro II mendirikan sebuah kabinet yang progresif.[54]

Meskipun terjadi dinamisme politik semacam ini, periode setelah tahun 1853 merupakan periode perdamaian dan kesejahteraan untuk Brasil: "Sistem politik berjalan dengan lancar. Kebebasan sipil dijamin. Jalur kereta api, telegraf, dan kapal uap mulai dibangun. Negara Brasil tidak lagi diganggu oleh sengketa atau konflik yang mengguncangnya selama tiga puluh tahun pertamanya."[55]

Perang Paraguay[sunting | sunting sumber]

Artileri Brasil saat Perang Paraguay pada tahun 1866.
Tentara Brasil berlutut di hadapan ibadah keagamaan selama Perang Paraguay pada tahun 1868.

Periode ketenangan berakhir ketika konsul Britania di Rio de Janeiro hampir memicu perang di antara Britania Raya dan Brasil. Ia mengirimkan ultimatum yang berisi permintaan-permintaan menghina yang disebabkan oleh dua insiden kecil pada akhir tahun 1861 dan awal tahun 1862.[56] Pemerintah Brasil menolak tunduk, sehingga sang konsul memerintahkan agar kapal perang Britania datang untuk merebut kapal pedagang Brasil sebagai ganti rugi.[57] Brasil bersiap-siap menghadai perang,[58][59] dan pelindung-pelindung pantai diberi izin untuk menembak kapal perang Britania yang merebut kapal pedagang Brasil.[60] Pemerintah Brasil kemudian memutuskan hubungan diplomatik dengan Britania pada Juni 1863.[61]

Sementara Britania mengancam, Brasil harus mengalihkan perhatian ke perbatasan selatannya. Perang saudara telah pecah di Uruguay.[62] Konflik tersebut mengakibatkan pembunuhan orang Brasil di Uruguay dan penjaharan harta benda mereka.[63] Kabinet progresif Brasil memutuskan untuk melakukan campur tangan dan mengirim angkatan bersenjata yang menyerbu Uruguay pada Desember 1864, sehingga memicu Perang Uruguay.[64] Pada saat yang sama, diktator Paraguay, Francisco Solano López, mencoba mengambil untung atas keadaan di Uruguay pada akhir tahun 1864 dengan mencoba untuk menjadikan negaranya kekuatan regional. Pada November 1864, ia memerintahkan agar kapal uap sipil Brasil direbut (memicu Perang Paraguay) dan kemudian menyerbu Brasil.[65][66]

Intervensi militer Brasil segera berubah menjadi perang besar di Amerika Selatan bagian tenggara. Namun, ancaman meletusnya konflik di dua front (dengan Britania dan Paraguay) sudah hilang kita pada September 1865 pemerintah Britania mengirim utusan yang secara terbuka meminta maaf atas krisis yang terjadi di antara kedua negara.[67][68] Serangan Paraguay pada tahun 1864 memperpajang konflik, dan harapan akan kemampuan kabinet progresif dalam memenangkan perang telah pupus.[69] Selain itu, semenjak dibentuk, Liga Progresif dihantui oleh konflik internal antar faksi konservatif moderat dan liberal.[69][70]

Kabinet Progresif mengundurkan diri dan kaisar mengangkat Viscount Itaboraí sebagai kepala kabinet baru pada Juli 1868, sehingga mengembalikan kaum konservatif ke kekuasaan.[71] Hal ini mendorong kedua faksi dalam partai progresif untuk bersatu dan mengganti nama partai mereka menjadi Partai Liberal. Faksi progresif ketiga yang lebih kecil dan radikal akan menyatakan diri sebagai republikan pada tahun 1870—yang beralamat buruk bagi kekaisaran.[72] Meskipun begitu, "kementerian yang dibentuk oleh viscount Itaboraí merupakan badan yang jauh lebih cakap dari kabinet sebelumnya",[71] dan konflik dengan Paraguay berakhir setelah Brasil dan sekutunya memperoleh kemenangan mutlak pada Maret 1870.[73] Lebih dari 50.000 tentara Brasil gugur dalam pertempuran,[74] dan biaya perang tercatat sebelas kali lebih besar dari anggaran tahunan pemerintah.[75] Namun, Brasil saat itu sangat sejahtera sehingga pemerintah dapat melunasi semua utang perang dalam waktu sepuluh tahun.[76][77] Konflik ini juga menjadi pendorong produksi nasional dan pertumbuhan ekonomi.[78]

Puncak kejayaan[sunting | sunting sumber]

Sekelompok budak berkumpul di sebuah peternakan di provinsi Minas Gerais (Brasil tenggara) pada tahun 1876.

Kemenangan diplomatik atas Imperium Britania, kemenangan militer atas Uruguay pada tahun 1865, dan keberhasilan dalam Perang Paraguay pada tahun 1870 menandai dimulainya "zaman keemasan" Kekaisaran Brasil.[79] Ekonomi Brasil tumbuh pesat; proyek jalur kereta api, perkapalan, dan proyek modernisasi lainnya dimulai; jumlah imigran juga bertambah banyak.[80] Di kancah internasional pada saat itu, Kekaisaran Brasil dianggap sebagai negara yang modern dan progresif, kedua setelah Amerika Serikat di benua Amerika; negara ini juga dikenal akan ekonominya yang stabil dan potensi investasinya yang besar.[79]

Pada Maret 1871, Pedro II mengangkat José Paranhos, Viscount Rio Branco, sebagai ketua kabinet; ia ditugaskan untuk membuat undang-undang yang membebaskan semua anak yang lahir dari budak perempuan[81] Rancangan undang-undang yang kontroversial ini dimasukkan ke dalam Bilik Deputi pada bulan Mei dan menghadapi "oposisi yang teguh, yang mempunyai dukungan dari sekitar sepertiga anggota perwakilan dan mencoba mengerahkan opini publik untuk melawan kebijakan ini."[82] Rancangan undang-undang ini pada akhirnya diberlakukan pada bulan September dan disebut "Hukum Kelahiran Bebas".[82] Namun, keberhasilan Rio Branco merusak stabilitas kekaisaran dalam jangka panjang. Hukum ini "memecah kaum konservatif menjadi dua, [yaitu] faksi yang mendukung reformasi kabinet Rio Branco dan faksi kedua—yang disebut escravocratas—yang tak henti-hentinya dalam melakukan oposisi ", sehingga membentuk generasi ultrakonservatif yang baru.[83]

Akibat "Hukun Kelahiran Bebas" dan dukungan Pedro II atas hukum tersebut, kaum ultrakonservatif tidak lagi setia kepada kekaisaran.[83] Partai Konservatif sudah pernah mengalami perpecahan sebelumnya, yaitu pada tahun 1850-an ketika dukungan Kaisar terhadap kebijakan konsiliasi mengakibatkan munculnya kaum Progresif. Kaum ultrakonservatif yang dipimpin oleh Eusébio, Uruguai, dan Itaboraí, yang menentang konsiliasi pada tahun 1850-an masih meyakini bahwa kaisar adalah figur yang sangat penting dalam sistem politik Brasil: kaisar dianggap berperan sebagai penengah yang netral apabila terjadi kebuntuan politik.[84] Sebaliknya, generasi baru ultrakonservatif belum pernah mengalami periode perwalian dan tahun-tahun awal masa kekuasaan Pedro II, ketika bahaya dari luar dan dalam mengancam keberlangsungan kekaisaran; mereka hanya tahu periode kesejahteraan, perdamaian, dan pemerintahan yang stabil.[26] Bagi mereka—dan bagi kelas penguasa pada umumnya—keberadaan kaisar yang netral dan dapat menyelesaikan sengketa politik tidak lagi penting. Selain itu, Pedro II telah memihak salah satu faksi dalam perdebatan mengenai perbudakan, sehingga ia tidak lagi dianggap sebagai penengah yang netral. Akibatnya, para politikus ultrakonservatif muda merasa tidak ada alasan untuk mempertahankan jabatan kaisar.[85]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Viana 1994, hlm. 42–44.
  2. ^ Viana 1994, hlm. 59, 65, 66, 78, 175, 181, 197, 213, 300.
  3. ^ Barman 1988, hlm. 43–44.
  4. ^ Barman 1988, hlm. 72.
  5. ^ Viana 1994, hlm. 396.
  6. ^ Barman 1988, hlm. 75, 81–82.
  7. ^ Viana 1994, hlm. 399, 403.
  8. ^ Viana 1994, hlm. 408–408.
  9. ^ Barman 1988, hlm. 96.
  10. ^ Viana 1994, hlm. 417–418.
  11. ^ Barman 1988, hlm. 101–102.
  12. ^ Viana 1994, hlm. 420–422.
  13. ^ Barman 1988, hlm. 104–106.
  14. ^ Barman 1988, hlm. 128.
  15. ^ a b Barman 1988, hlm. 131.
  16. ^ Barman 1988, hlm. 142.
  17. ^ Barman 1988, hlm. 151.
  18. ^ Barman 1988, hlm. 148–149.
  19. ^ Barman 1999, hlm. 18–19.
  20. ^ Barman 1999, hlm. 19.
  21. ^ Barman 1988, hlm. 159.
  22. ^ Barman 1988, hlm. 160.
  23. ^ Barman 1988, hlm. 161–163.
  24. ^ Barman 1999, hlm. 61.
  25. ^ Barman 1988, hlm. 179–180.
  26. ^ a b Barman 1999, hlm. 317.
  27. ^ Barman 1999, hlm. 64.
  28. ^ Barman 1999, hlm. 58.
  29. ^ Barman 1999, hlm. 68–73.
  30. ^ Barman 1999, hlm. 49.
  31. ^ a b Barman 1999, hlm. 109.
  32. ^ Barman 1999, hlm. 114.
  33. ^ a b Barman 1999, hlm. 123.
  34. ^ Barman 1999, hlm. 122.
  35. ^ Barman 1999, hlm. 122–123.
  36. ^ Barman 1999, hlm. 124.
  37. ^ a b c Barman 1999, hlm. 125.
  38. ^ Barman 1999, hlm. 126.
  39. ^ Carvalho 2007, hlm. 102–103.
  40. ^ Levine 1999, hlm. 63–64.
  41. ^ See:
  42. ^ a b Barman 1999, hlm. 159.
  43. ^ a b Vainfas 2002, hlm. 343.
  44. ^ Lira 1977, Vol 1, hlm. 182.
  45. ^ Barman 1999, hlm. 162.
  46. ^ See:
  47. ^ Barman 1999, hlm. 166.
  48. ^ Nabuco 1975, hlm. 162.
  49. ^ Nabuco 1975, hlm. 313.
  50. ^ Nabuco 1975, hlm. 346, 370, 373, 376.
  51. ^ Nabuco 1975, hlm. 346.
  52. ^ Nabuco 1975, hlm. 364–365.
  53. ^ Nabuco 1975, hlm. 378.
  54. ^ Nabuco 1975, hlm. 374–376.
  55. ^ Barman 1999, hlm. 192.
  56. ^ See:
  57. ^ See:
  58. ^ Calmon 1975, hlm. 680.
  59. ^ Doratioto 2002, hlm. 98, 203.
  60. ^ Calmon 1975, hlm. 684.
  61. ^ See:
  62. ^ See:
  63. ^ Lira 1977, Vol 1, hlm. 220.
  64. ^ See:
  65. ^ Carvalho 2007, hlm. 109.
  66. ^ Lira 1977, Vol 1, hlm. 227.
  67. ^ Calmon 1975, hlm. 748.
  68. ^ Lira 1977, Vol 1, hlm. 237.
  69. ^ a b Barman 1999, hlm. 222.
  70. ^ Nabuco 1975, hlm. 592.
  71. ^ a b Barman 1999, hlm. 223.
  72. ^ Nabuco 1975, hlm. 666.
  73. ^ Barman 1999, hlm. 229–230.
  74. ^ Doratioto 2002, hlm. 461.
  75. ^ Doratioto 2002, hlm. 462.
  76. ^ Calmon 2002, hlm. 201.
  77. ^ Munro 1942, hlm. 276.
  78. ^ Barman 1999, hlm. 243.
  79. ^ a b Lira 1977, Vol 2, hlm. 9.
  80. ^ Barman 1999, hlm. 240.
  81. ^ Barman 1999, hlm. 235.
  82. ^ a b Barman 1999, hlm. 238.
  83. ^ a b Barman 1999, hlm. 261.
  84. ^ Barman 1999, hlm. 234, 317.
  85. ^ Barman 1999, hlm. 318.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]