Manchukuo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Manchukuo (1932–1934)
滿洲國/满洲国
  Mǎnzhōuguó  (Tionghoa)
満州国
  Manshū-koku  (Jepang)

Kekaisaran Manchu (Raya) (1934–1945)
(大)滿洲帝國/(大)满洲帝国
(Dà) Mǎnzhōu Dìguó  (Tionghoa)
(大)満州帝国
  (Dai) Manshū Teikoku  (Jepang)
Negara boneka Jepang

1932–1945
Bendera Lambang
Lagu kebangsaan
Lagu Kebangsaan Manchukuo
Lokasi Manchuko (merah) dalam lingkup pengaruh Jepang.
Ibu kota Hsinking (Changchun)
(sebelum 9 Agustus 1945)
Tonghua (Linjiang)
(sebelum 18 Agustus 1945)
Bahasa Jepang
Mandarin
Mongolia
Manchu (tidak resmi)[1]
Pemerintahan Negara partai tunggal dibawah monarki konstitusional
Kepala Eksekutif
 -  1932–1934 Aisin-Gioro Puyi
Kaisar
 -  1934–1945 Kangde (Aisin-Gioro Puyi)
Perdana Menteri
 -  1932–1935 Zheng Xiaoxu
 -  1935–1945 Zhang Jinghui
Badan legislatif Majelis Legislatif
Era sejarah Periode antar perang · Perang Dunia II
 -  Diproklamasikan 18 Februari 1932
 -  Dibubarkan Augustus 1945
Mata uang Yuan Manchukuo
Sekarang bagian dari  Republik Rakyat Tiongkok

Manchukuo (Hanzi tradisional: 滿洲國; Hanzi sederhana: 满洲国; pinyin: Mǎnzhōuguó; bahasa Jepang: 滿洲国; arti harfiah: "Negara Manchuria") adalah sebuah negara boneka yang berdiri di daerah Timur Laut Tiongkok dan Mongolia Dalam, yang diperintah dalam bentuk monarki konstitusional. Wilayah ini secara umum dikenal sebagai Manchuria olah orang Barat dan orang Jepang, yang ditetapkan oleh mantan penguasa Tiongkok, Dinasti Qing sebagai "tanah air" kelompok etnis keluarga penguasa yaitu Bangsa Manchu, namun orang-orang Manchu tersebut sendiri tidak pernah menggunakan kata "Manchuria" (滿洲) sebagai nama tempa yang merujuk ke daerah ini.

Pada tahun 1931, daerah ini diserang dan berhasil dikuasai oleh Jepang setelah Insiden Mukden dan satu tahun kemudian pemerintah pro-Jepang didirikan di wilayah ini dengan Puyi, kaisar Qing terakhir, sebagai regent dan kaisar (secara nominal).[2] Pemerintahan Manchukuo dihapuskan setelah kekalahan Kekaisaran Jepang pada akhir Perang Dunia II. Daerah yang secara formal dikuasai oleh negara boneka ini diserang dan berhasil dikuasai oleh tentara Soviet pada Agustus 1945,[3] dan secara formal diserahkan ke administrasi Tiongkok pada tahun berikutnya.[4]

Meskipun nama negara ini menggunakan kata Manchu, orang-orang Manchu hanya menjadi minoritas di negara ini, dan Han Tiongkok menjadi penduduk mayoritas. Populasi orang-orang Korea bertambah pada zaman Manchukuo. Di samping suku-suku tersebut terdapat juga bangsa minoritas, seperti orang Jepang, Mongol, Rusia Putih, dan lainnya. Namun, daerah mayoritas berbangsa Mongol yang ada di Manchukuo barat diperintah dibawah sistem yang sedikit berbeda karena pengakuan dari tradisi Mongolia di sana. Bagian selatan Semenanjung Liaodong diperintah oleh Jepang sebagai Wilayah Sewaan Kwantung.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal[sunting | sunting sumber]

Sebagai akibat langsung dari Perang Rusia-Jepang (1904-1905), pengaruh Jepang menggantikan pengaruh Rusia di Mongolia Dalam. Pada tahun 1906, Jepang membangun Jalur Kereta Api Mongolia Selatan yang menuju Port Arthur (Bahasa Jepang: Ryojun). Antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II Manchuria menjadi medan pertempuran politik dan militer antara Rusia, Jepang, dan Tiongkok. Jepang terpaksa pindah ke Manchuria Luar sebagai akibat dari kekacauan yang disebabkan Revolusi Rusia 1917. Namun, kombinasi keberhasilan militer Soviet dan tekanan ekonomi Amerika memaksa Jepang untuk menarik diri dari daerah ini dan Manchuria Luar kembali ke kekuasaan Uni Soviet di tahun 1925.

Saat zaman panglima perang di Tiongkok, panglima perang Zhang Zuolin mengukuhkan kekuasaanya atas Manchuria Dalam dengan perlindungan Jepang. Namun, Tentara Kwantung Jepang malah menemukan dia terlalu independen. Akibatnya ia dibunuh pada tahun 1928.

Protokol Jepang-Manchukuo 15 September 1932.
Takhta Kaisar Manchukuo sekitar 1937.

Setalah invasi Jepang atas Manchuria pada 1931, militeris Jepang bergerak maju untuk memisahkan wilayah tersebut dari kontrol Tiongkok dan berencana untuk mendirikan negara boneka yang beraliansi dengan Jepang. Untuk membuat suasana legitimasi, kaisar terakhir Tiongkok, Puyi, diundang untuk datang dengan pengikutnya dan diminta menjadi kepala negara Manchuria. Salah satu sahabatnya yang setia adalah Zheng Xiaoxu, seorang reformis dan loyalis Qing.[5]

Pada 18 Februari 1932, Negara Manchu (Manchukuo, Pinyin: Mǎnzhōuguó)[6] diproklamasikan dan diakui oleh Jepang pada 15 September 1932 melalui Protokol Jepang-Manchukuo. Kota Changchun kemudian dinamakan Hsinking (Pinyin: Xinjing) (新京, secara literal "Ibukota Baru") dan menjadi ibukota etintias baru ini. Orang Tionghoa yang hidup di Manchuria mendirikan tentara sukarelawan untuk melawan jepang dan negara baru ini membutuhkan perang yang berlangsung beberapa tahun untuk menenangkan negara.

Jepang awalnya mengangkat Puyi sebagai Kepala Negara pada tahun 1932, dan dua tahun kemudian dia dinyatakan sebagai Kaisar Manchukuo dengan nama zaman Kangde ("Ketenangan dan Kebajikan"; Wade-Giles: Kangte). Manchukuo kemudian menjadi Kekaisaran Manchukuo Raya, seringkali disebut Manchutikuo (Pinyin: Mǎnzhōu Dìguó). Zheng Xiaoxu menjabat sebagai perdana menteri pertama Manchukuo hingga 1935, dan penerusnya adalah Zhang Jinghui menggantikan dia. Puyi tidak lebih dari seorang pemmpin boneka dan otoritas yang nyata berada di tangan para pejabat militer Jepang. Sebuah istana kekaisaran kemudian dibangun untuk Kaisar. Semua menteri Manchu menjabat sebagai kaki tangan para wakil menteri mereka yang berasal dari orang Jepang. Wakil Menteri/Orang-orang Jepang inilah yang membuat semua keputusan.

Dengan cara ini, Jepang secara resmi memisahkan Manchukuo dari Tiongkok pada 1930-an. Dengan investasi Jepang dan sumber daya alam yang kaya, daerah ini menjadi industri pembangkit tenaga listrik. Manchukuo memiliki uang kertas dan perangko pos yang mereka cetak sendiri. Beberapa bank independen juga didirikan.

Pada tahun 1935, Manchukuo membeli Jalur Kereta Api Tiongkok Timur dari Uni Soviet.

Refrensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mitani, Hiromi (1996). "A STUDY OF MANCHUKUO'S LANGUAGE POLICY : THE REPRESENTATION OF NATION AND NATIONAL LANGUAGE IN THE NEW SCHOOL SYSTEM". Essays and studies 46 (2). 
  2. ^ Encyclopædia Britannica article on Manchukuo
  3. ^ [1]
  4. ^ Catatan- meskipun wilayah ini kemudian berada di tangan Pemerintah nasionalis sebelum Perang Saudara Tiongkok berakhir pada tahun 1949, pendudukan Soviet secara singkat membantu mengubah wilayah itu menjadi basis kekuatan pasukan Komunis Tiongkok yang dipimpin oleh Mao Zedong, dimana Tentara Pembebasan Rakyat dapat memasok kekuatan mereka dengan peralatan Jepang dan mendapatkan keuntungan strategis terhadap pemerintah Nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek.
  5. ^ Reginald Fleming Johnston, p. 438.
  6. ^ Between World Wars