Kekaisaran Makedonia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Makedonia
Μακεδονία
808 SM–168 SM


Matahari Vergina

Makedonia pada tahun 336 SM.
Ibu kota Aigai (Vergina)[1]
(808–399 SM)
Pella[2]
(399–167 SM)
Bahasa Makedonia kuno
Yunani Attika
Yunani Koine
Agama Politeisme Yunani
Bentuk Pemerintahan Monarki
Raja
 -  808 SM–778 SM Karanos
 -  179 SM–168 SM Perseus
Badan legislatif Synedrion
Era sejarah Antikuitas klasik
 -  Didirikan oleh Karanos 808 SM
 -  Vasal Persia[3] 512/511–493 SM
 -  Bagian Persia[3] 492–479 SM
 -  Naiknya Makedonia 359–336 SM
 -  Penaklukan Persia 335–323 SM
 -  Pembagian Babilonia 323 SM
 -  Pertempuran Pydna 168 SM
Mata uang Tetradrakhma
Pendahulu
Pengganti
Zaman Kegelapan Yunani
Kerajaan Pergamum
Kekaisaran Seleukia
Kerajaan Ptolemaik
Makedonia (provinsi Romawi)

Makedonia atau Makedon (bahasa Yunani: Μακεδονία, Makedonía)[4] adalah sebuah kerajaan kuno di periferi Yunani Arkaik dan Klasik,[5] dan kemudian negara dominan Yunani Hellenistik.[6] Kerajaan tersebut dibentuk dan mula-mula diperintah oleh dinasti Argead, disusul oleh dinasti-dinasti Antipatrid dan Antigonid. Sebagai rumah dari bangsa Makedonia kuno, kerajaan terawal tersebut terpisah di bagian timur laut semenanjung Yunani,[7] yang berbatasan dengan Epirus di bagian barat, Paeonia di bagian utara, Thrace di bagian timur dan Thessaly di bagian selatan.

Sebelum abad ke-4 SM, Makedonia merupakan sebuah kerajaan kecil di luar kawasan yang didominasi oleh negara-kota besar Athena, Sparta dan Thebes, dan sempat menjadi subordinat besar dari Persia Achaemenid.[3] Pemerintahan Philip II (359–336 BC) dipandang sebagai kebangkitan Makedonia, dimana kerajaan tersebut meraih kekuasaan atas seluruh wilayah Yunani. Dengan reformasi tentara yang terdiri dari phalanx yang memakai tombak sarissa, Philip II mengalahkan kekuasaan lama Athena dan Thebes dalam Pertempuran Chaeronea pada 338 SM dan menaklukkan mereka. Sparta menjadi terisolasi dan ditaklukan seabad kemudian oleh Antigonus III Doson. Putra Philip II Aleksander Agung melanjutkan upaya ayahnya untuk mengomandoi seluruh Yunani dengan memimpin federasi negara-negara Yunani, sebuah hal yang membuatnya dapat menghancurkan Thebes saat mereka memberontak. Alexander kemudian memimpin sebuah kampanye penaklukan dekade panjang melawan Kekaisaran Achaemenid, dalam rangka invasi Persia oleh Yunani pada abad ke-5 SM.

Saat peperangan Aleksander Agung, ia melengserkan Kekaisaran Achaemenid dan menaklukan sebuah kawasan yang membentang sampai Sungai Indus. Selama periode tersebut, Kekaisaran Makedonia menjadi kekuatan paling besar di dunia – negara Hellenistik yang membuka periode baru bagi peradaban Yunani Kuno, seni rupa dan sastra Hellenistik|sastra Yunani]] berkembang di wilayah yang baru dikuasai dan kemajuan filsafat, teknik dan ilmu pengetahuan tersebar ke sebagian besar dunia kuno. Sebagian pengaruhnya adalah kontrobusi Aristoteles, yang menjadi pengajar Aleksander dan tulisan-tilisannya menjadi batu pijakan bagi filsafat Barat. Raja-raja Makedonia, yang memegang kekuasaan absolut dan mengkomandani sumber daya negara seperti emas dan perak, memfasilitasi operasi penambangan untuk pembuatan mata uang, membiayai tentara mereka dan, pada masa pemerintahan Philip II, angkatan laut Makedonia. Tak seperti negara-negara suksesor diadochi lainnya, pemujaan kekaisaran yang dimajukan oleh Aleksander tak pernah diadopsi di Makedonia, sehingga para penguasa Makedonia tak pernah mengasumsikan perannya sebagai pendeta tinggi kerajaan tersebut dan pelindung utama pemujaan agama Hellenistik domestik dan internasional. Otoritas raja-raja Makedonia secara teori terbatas pada lembaga ketentaraan, sementara beberapa munisipalitas dalam persemakmuran Makedonia menikmati otonomi tingkat tinggi dan bahkan memiliki pemerintahan demokratik dengan majelis-majelis populer.

Setelah Aleksander meninggal pada 323 SM, peperangan Diadochi terjadi dan kekaisaran berumur pendeknya terpecah. Makedonia menjadi pusat politik dan budaya Yunani di kawasan Laut Tengah bersama dengan Mesir Ptolemaik, Kekaisaran Seleucid dan Kerajaan Pergamon. Kota-kota penting seperti Pella, Pydna, dan Amphipolis terlibat dalam perebutan kekuasaan. Kota-kota baru didirikan, seperti Tesalonika oleh perampas kekuasaan Cassander (mengambil nama dari istrinya Thessalonike dari Makedonia).[8] Keruntuhan Makedonia dimulai dengan Peperangan Makedonia dan kebangkitan Romawi sebagai penguasa Laut Tengah utama. Pada akhir Perang Makedonia Kedua [ada 168 SM, monarki Makedonia runtuh dan digantikan oleh negara-negara klien Romawi. Kebangkitan jangka pendek monarki pada Perang Makedonia Ketiga tahun 150–148 SM berakhir dengan pendirian provinsi Romawi Makedonia.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Makedonia (bahasa Yunani: Μακεδονία, Makedonía) datang dari etnonim Μακεδόνες (Makedónes), yang kata itu sendiri berasal dari kata bahasa Yunani kuno μακεδνός (makednós), artinya "tinggi", diyakini mendeskripsikan rakyatnya.[9] Kata tersebut juga berbagi akar yang sama dengan kata μάκρος (mákros), yang artinya "panjanh" dalam bahasa Yunani kuno dan modern.[10] Nama tersebut awalnya diyakini memiliki arti "orang dataran tinggi", "orang tinggi", atau "orang yang bertumbuh tinggi".[11] Robert S. P. Beekes mendukung bahwa kedua istilah tersebut adalah asal muasal substrata Pra-Yunani dan tak dapat dijelaskan dalam hal morfologi Indo-Eropa.[12]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah awal dan legenda[sunting | sunting sumber]

Halaman depan salah satu makam kerajaan di Vergina, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO

Para sejarawan Yunani Klasik Herodotus dan Thucydides melaporkan legenda bahwa raja-raja Makedonia dari dinasti Argead adalah keturunan dari Temenus, raja Argos, dan mengklaim Heracles sebagai salah satu leluhur mereka serta keturunan langsung dari Zeus, pemimpin dewa pantheon Yunani.[13] Pernyataan bahwa keluarga Argead adalah kerurunan dari Temenus dalam legenda diterima oleh otoritas Hellanodikai dari Permainan Olimpiade Kuno, mengijinkan Aleksander I dari Makedonia (m. 498–454 SM) untuk memasuki kompetisi karena identitas dan warisan Yunani-nya.[14] Masa pemerintahan ayah Alexander Amyntas I dari Makedonia (m. 547–498 SM) pada periode Arkhaik menandai titik dimana Makedonia memasukki catatan sejarah, semenjak sangat sedikit yang diketahui tentang raja-raja sebelum masa pemerintahannya.[15] Legenda-legenda yang berseberangan menyatakan bahwa Perdiccas I dari Makedonia atau Caranus dari Makedonia adalah pendiri dinasti Argead, dengan lima atau delapan raja sebelum Amyntas I.[16]

Kerajaan Makedonia terletak di sepanjang sungai Haliacmon dan Axius di Makedonia Hilir, utara Gunung Olympus. Sejarawan Robert Malcolm Errington mengeluarkan teori bahwa salah satu raja Argead terawal harus mendirikan Aigai (sekarang Vergina) sebagai ibukota mereka pada pertengahan abad ke-7 SM.[17] Sebelum abad ke-4 SM, kerajaan tersebut melingkupi kawasan di sekitaran bagian barat dan tengah kawasan Makedonia di Yunani modern.[18] Kerajaan tersebut secara bertahap meluas ke wilayah Makedonia Hulu, yang ditinggali oleh suku Lyncestae dan Elimiotae Yunani, dan ke kawasan Emathia, Eordaia, Bottiaea, Mygdonia, Crestonia, dan Almopia, yang diduduki oleh berbagai suku bangsa seperti Thracia dan Phrygia.[note 1] Para tetangga non-Yunani Makedonia meliputi Thracia, yang tinggal di kawasan timur laut, Illyria di barat laut, dan Paeonia di utara, sementara wilayah Thessaly di selatan dan Epirus di bagian barat ditinggali oleh bangsa Yunani dengan budaya sama dengan bangsa Makedonia.[19]

Sebuah octadrachm perak dari Aleksander I dari Makedonia (m. 498–454 SM), yang dibuat sekitar tahun 465–460 SM, yang menampilkan sebuah figur ekuestrian yang mengenakan chlamys (jubah pendek) dan petasos (hiasan kepala) saat membawa dua tombak dan menunggangi seekor kuda

Setahun setelah Darius I dari Persia (m. 522–486 SM) meluncurkan sebuah invasi ke Eropa melawan Skitia, Paeonia, Thracia, dan beberapa negara-kota Yunani di Balkan, jenderal Persia Megabazus memakai diplomasi untuk membujuk Amyntas I agar menjadikannya vassal Kekaisaran Achaemenid, memulai periode Makedonia Achaemenid.[note 2] Hegemoni Persia Achaemenid atas Makedonia banyak disebabkan oleh Pemberontakan Ionian (499–493 SM), saat jenderal Persia Mardonius membuatnya kembali berada di bawah kekuasaan Achaemenid.[20] Meskipun Makedonia diberi tingkat otonom yang besar dan tak pernah dijadikan satrapy (semacam provinsi) Kekaisaran Achaemenid, wilayah tersebut dijadikan tempat untuk menyediakan pasukan bagi tentara Achaemenid.[21] Alexander I menyediakan dukungan militer Makedonia kepada Xerxes I (m. 486–465 SM) pada invasi Persia kedua oleh Yunani pada 480–479 SM, dengan pasukan Makedonia bertarung di pihak Persia pada Pertempuran Platea tahun 479 SM.[22] Setelah kemenangan Yunani di Salamis pada 480 SM, Alexander I diangkat menjadi diplomat Achaemenid untuk menyiapkan traktat perdamaian dan aliansi dengan Athena, suatu tawaran yang kemudian ditolak.[23] Tak lama setelah itu, pasukan Achaemenid terpaksa menarim diri dari Eropa daratan, menandai akhir kekuasaan Persia atas Makedonia.[24]

Keterlibatan dalam dunia Yunani Klasik[sunting | sunting sumber]

Makedon (jingga) dalam Perang Peloponnesia pada sekitar tahun 431 SM, dengan Athena dan Liga Delia (kuning), Sparta dan Liga Peloponnesia (merah), negara-negara independen (biru), dan Kekaisaran Achaemenid Persia (ungu)

Meskipun awalnya adalah sebuah vassal Persia Alexander I dari Makedon memajukan hubungan diplomatik bersahabat dengan bekas musuh-musuh Yunani-nya, koalisi pimpinan Athena dan Sparta dari negara-negara kota Yunani.[25] Namun, penerusnya Perdiccas II (m. 454–413 SM) memimpin bangsa Makedonia untuk berperang dalam empat konflik terpisah melawan Athena, pemimpin Liga Delia, yang menguasai kawasan pesisirnya di Makedonia Hilir seperti halnya pergerakan-pergerakan penguasa Thracia Sitalces dari kerajaan Odrysia mengancam integritas teritorial Makedonia di timur laut.[26] Negarawan Athena Pericles menyatakan kolonisasi terhadap Sungai Strymon dekat Kerajaan Makedonia, dimana kota kolonial Amphipolis didirikan pada 437/436 SM sehingga Athena dapat menyediakan suplai emas dan perak serta kayu dan pitch untuk mendukung angkatan laut Athena.[27] Dua perang terpisah melawan Athena terjadi antara 433 dan 431 SM, yang timbul akibat persekutuan Athena dengan seorang saudara dan sepupu dari Perdiccas II yang tekah menberontak melawannya.[28] Raja Makedonia kemudian menyatakan pemberontakan melawan para sekutu Athena di Chalcidice dan memenangkan kota strategis Potidaea.[29] Kota Potidaea kemudian dikepung oleh Athena setelah mereka menaklukkan kota-kota Makedonia Therma dan Beroea, namun pengepungan tersebut gagal, Therma kembali ke tangan Makedonia dan sebagian besar Chalcidice diserahkan kepada Athena dalam sebuah traktat perdamaian yang dilakukan oleh Sitalces, yang memberi bantuan militer kepada Athena dalam pertukaran untuk mengakuisisi sekutu-sekutu Thracia yang baru.[30]

Pada 429 SM, pada puncak Perang Peloponnesia (431–404 SM) antara Athena dan Sparta, Perdiccas II mengirim bantuan militer kepada pasukan Sparta di Acarnania, namun pasukan Makedonia terlambat datang, membolehkan pasukan Athena menimbulkan Pertempuran Naupactus.[31] Pasukan Athena bergerak pada tahun yang sama dengan Sitalces menginvasi Makedonia, namun pasukan Athena kemudian menawarkan dukungan angkatan laut kepada penguasa Thracia yang berkuasa di Chalcidice, diyakini karena kekhawatiran akan ambisi regionalnya.[32] Sitalces mundur dari Makedonia karena penipisan bekal para tentara pada musim dingin.[33] Pada 424 SM, Perdiccas II membantu sekutu-sekutu Athena di Thrace untuk berbalik bersekutu dengan Sparta.[34] Sebagai balasannya, jenderal Sparta Brasidas sepakat untuk membantu Perdiccas II meredam pemberontakan Arrhabaeus, seorang penguasa lokal Lynkestis (di Makedonia Hulu), meskipun ia mengekspresikan perhatian atas pasukan Illyria masif yang bersekutu dengan Arrhabaeus dan meninggalkan sekutu-sekutu Chalcidia Sparta yang menangkis serangan Athena saat pasukan Sparta pergi.[35] Di Pertempuran Lyncestis, pasukan Makedonia panik dan lari sebelum pertarungan dimulai melawan pasukan Arrhabaeus, memberikan kesempatan kepada Brasidas, yang para pasukannya merampas kereta perbekalan Makedonia yang ditinggalkan.[36] Akibatnya, Perdiccas II berbalik dan bersekutu dengan pasukan Athena sebagai gantinya, memblok kekuatan Peloponnesia pimpinan Brasidas di Thessaly dan memaksa Arrhabaeus dan para pemberontak lainnya untuk menyerah dan menerima raja Makedonia sebagai penguasa berdaulat mereka.[37]

Sebuah didrachm Makedonia yang dibuatbpada masa pemerintahan Archelaus I dari Makedon (m. 413–399 SM)

Brasidas wafat pada 422 SM, saat bangsa Athena dan Sparta mengadakan sebuah perjanjian dengan Perdamaian Nicias yang membebaskan Makedonia dari obligasi-obligasinya sebagai sekutu Athena.[38] Setelah Pertempuran Mantinea karya 418 SM, bangsa Sparta yang menang membentuk sebuah aliansi dengan Argos, sebuah pakta militer Perdiccas II ditujukan untuk memberikan ancaman terhadap para sekutu Sparta yang masih tersisa di Chalcidice.[39] Saat Argos mendadak beralih keterpihakan sebagai seorang demokrasi pro-Athena, angkatan laut Athena dapat membentuk sebuah blokade melawan pelabuhan-pelabuhan Makedonia dan menginvasi Chalcidice pada 417 SM.[40] Perdiccas II mengadakan perdamaian pada 414 SM, membentuk sebuah aliansi dengan Athena yang diteruskan oleh putranya dan penerusnya Archelaus I (m. 413–399 SM).[41] Athena kemudian menyediakan dukungan angkatan laut kepada Archelaus I saat pengepungan Pydna oleh Makedonia pada 410 SM, dalam pertukaran untuk kayu dan peralatan angkatan laut.[42]

Meskipun Archelaus I menghadapi beberapa pemberontakan dalam negeri dan dibayangi invasi bangsa Illyria pimpinan Sirras dari Lynkestis, ia mampu menghimpun kekuatan Makedonia di Thessaly dimana ia mengirim bantuan militer kepada para sekutunya.[43] Meskipun ia masih mempertahankan Aigai sebagai pusat seremonial dan relijius, Archelaus I memindahkan ibukota kerajaan ke utara Pella, yang kemudian dilewati oleh sebuah danau dengan sebuah sungai yang menghubungkannya ke Laut Aegea.[44] Ia menghimpun mata uang Makedonia dengan pembuatan koin-koin dengan kadar perak yang tinggi serta mengeluarkan koin tembaga terpisah.[45] Pemerintahan kerajaannya diisi dengan para inteletual terkenal seperti pengarang drama Athena Euripides.[46] Saat Archelaus I dibunuh (diyakini karena hubungan percintaan homoseksual dengan para anggota kerajaan di pemerintahannya), kerajaan tersebut diwarnai pertikaian, dalam sebuah era yang berlangsung dari 399 sampai 393 SM yang meliputi masa pemerintahan dari empat penguasa berbeda: Orestes, putra Archelaus I; Aeropus II, paman, wali raja, dan pembunuh Orestes; Pausanias, putra Aeropus II; dan Amyntas II, yang menikahi putri bungsu Archelaus I.[47] Sangat sedikit yang diketahui tentang periode tegang tersebut; era tersebut berakhir saat Amyntas III (m. 393–370 SM), putra Arrhidaeus dan cucu Amyntas I, membunuh Pausanias dan mengklaim tahta Makedonia.[48]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lewis & Boardman 1994, hlmn. 723–724, lihat pula Hatzopoulos 1996, hlmn. 105–108 untuk pengusiran para penduduk asli Makedonia oleh Phrygia.
  2. ^ Olbrycht 2010, hlmn. 342–343; Sprawski 2010, hlmn. 131, 134; Errington 1990, hlmn. 8–9.
    Errington secara skeptis menyatakan bahwa pada masa itu, Amyntas I dari Makedonia ditawarkan ajuan vassal dari pihak manapun, yang kebanyakan diterima. Ia juga menyatakan tentang bagaimana raja Makedonia tersebur melakukan tindakannya sendiri, seperti mengundang tiran Athena yang diasingkan Hippias untuk mengungsi ke Anthemous pada 506 SM.

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hatzopoulos 1996, hlmn. 105–106; Roisman 2010, hlm. 156
  2. ^ Engels 2010, hlm. 92; Roisman 2010, hlm. 156
  3. ^ a b c Sprawski 2010, hlmn. 135–138; Olbrycht 2010, hlmn. 342–345
  4. ^ Ancient: [ma͜akedoní.a͜a]
  5. ^ Hornblower 2008, hlmn. 55–58
  6. ^ Austin 2006, hlmn. 1–4
  7. ^ "Macedonia". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica Online. 23 October 2015. Diakses tanggal 5 February 2017. 
  8. ^ Adams 2010, hlm. 215
  9. ^ Liddell, Henry George; Scott, Robert. (1940). "μακεδνός," in Jones, Henry Stuart; McKenzie, Roderick. A Greek-English Lexicon. Oxford: Clarendon Press. Accessed online at Crane, Gregory R. (ed), The Perseus Digitial Library. Tufts University. Accessed 2 February 2017.
  10. ^ Liddell, Henry George; Scott, Robert. (1940). "μάκρος," in Jones, Henry Stuart; McKenzie, Roderick. A Greek-English Lexicon. Oxford: Clarendon Press. Accessed online at Crane, Gregory R. (ed), The Perseus Digitial Library. Tufts University. Accessed 2 February 2017.
  11. ^ Engels 2010, hlm. 89; Borza 1995, hlm. 114; Eugene N. Borza menyatakan bahwa "orang dataran tinggi" atau "Makedones" dari kawasan pegunungan barat Makedonia berasal dari kawasan barat laut Yunani; merek pada masa sebelumnya bermigrasi ke selatan untjk menjadi "bangsa Doria".
  12. ^ Beekes 2010, hlm. 894
  13. ^ King 2010, hlm. 376; Sprawski 2010, hlm. 127; Errington 1990, hlmn. 2–3.
  14. ^ Badian 1982, hlm. 34; Sprawski 2010, hlm. 142.
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama king_2010_376
  16. ^ King 2010, hlm. 376; Errington 1990, hlmn. 3, 251.
  17. ^ Errington 1990, hlm. 2.
  18. ^ Thomas 2010, hlmn. 67–68, 74–78.
  19. ^ Anson 2010, hlmn. 5–6.
  20. ^ Olbrycht 2010, hlm. 344; Sprawski 2010, hlmn. 135–137; Errington 1990, hlmn. 9–10.
  21. ^ Olbrycht 2010, hlmn. 343–344; Sprawski 2010, hlm. 137; Errington 1990, hlm. 10.
  22. ^ King 2010, hlm. 376; Olbrycht 2010, hlmn. 344–345; Sprawski 2010, hlmn. 138–139.
  23. ^ Sprawski 2010, hlmn. 139–140.
  24. ^ Olbrycht 2010, hlm. 345; Sprawski 2010, hlmn. 139–141; lihat pula Errington 1990, hlmn. 11–12 untuk penjelasan lebih lanjut.
  25. ^ Sprawski 2010, hlmn. 141–143; Errington 1990, hlmn. 9, 11–12.
  26. ^ Roisman 2010, hlmn. 145–147.
  27. ^ Roisman 2010, hlmn. 146–147; Müller 2010, hlm. 171; Cawkwell 1978, hlm. 72; lihat pula Errington 1990, hlmn. 13–14 untuk penjelasan lebih lanjut.
  28. ^ Roisman 2010, hlmn. 146–147.
  29. ^ Roisman 2010, hlmn. 146–147; lihat pula Errington 1990, hlm. 18 untuk penjelasan lebih lanjut.
  30. ^ Roisman 2010, hlmn. 147–148; Errington 1990, hlmn. 19–20.
  31. ^ Roisman 2010, hlm. 149.
  32. ^ Roisman 2010, hlmn. 149–150; Errington 1990, hlm. 20.
  33. ^ Roisman 2010, hlm. 150; Errington 1990, hlm. 20.
  34. ^ Roisman 2010, hlmn. 150–151; Errington 1990, hlmn. 21–22.
  35. ^ Roisman 2010, hlmn. 151–152; Errington 1990, hlmn. 21–22.
  36. ^ Roisman 2010, hlm. 152; Errington 1990, hlm. 22.
  37. ^ Roisman 2010, hlmn. 152–153; Errington 1990, hlmn. 22–23.
  38. ^ Roisman 2010, hlm. 153; Errington 1990, hlmn. 22–23.
  39. ^ Roisman 2010, hlmn. 153–154; lihat pula Errington 1990, hlm. 23 untuk penjelasan lebih lanjut.
  40. ^ Roisman 2010, hlm. 154; lihat pula Errington 1990, hlm. 23 untuk penjelasan lebih lanjut.
  41. ^ Roisman 2010, hlm. 154; Errington 1990, hlmn. 23–24.
  42. ^ Roisman 2010, hlmn. 154–155; Errington 1990, hlm. 24.
  43. ^ Roisman 2010, hlmn. 155–156.
  44. ^ Roisman 2010, hlm. 156; Errington 1990, hlm. 26.
  45. ^ Roisman 2010, hlmn. 156–157.
  46. ^ Roisman 2010, hlmn. 156–157; Errington 1990, hlm. 26.
  47. ^ Roisman 2010, hlmn. 157–158; Errington 1990, hlmn. 28–29.
  48. ^ Roisman 2010, hlmn. 158; Errington 1990, hlmn. 28–29.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Online

Cetak

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Templat:EB1911 Poster