Makedonia (kerajaan kuno)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kekaisaran Makedonia)
Lompat ke: navigasi, cari
Makedonia
Μακεδονία
808 SM–168 SM


Matahari Vergina

Makedonia pada tahun 336 SM.
Ibu kota Aigai (Vergina)[1]
(808–399 SM)
Pella[2]
(399–167 SM)
Bahasa Makedonia kuno
Yunani Attika
Yunani Koine
Agama Politeisme Yunani
Bentuk Pemerintahan Monarki
Raja
 -  808 SM–778 SM Karanos
 -  179 SM–168 SM Perseus
Badan legislatif Synedrion
Era sejarah Antikuitas klasik
 -  Didirikan oleh Karanos 808 SM
 -  Vasal Persia[3] 512/511–493 SM
 -  Bagian Persia[3] 492–479 SM
 -  Kejayaan Makedonia 359–336 SM
 -  Penaklukan Persia 335–323 SM
 -  Pembagian Babilonia 323 SM
 -  Pertempuran Pydna 168 SM
Mata uang Tetradrakhma
Pendahulu
Pengganti
Zaman Kegelapan Yunani
Kerajaan Pergamum
Kekaisaran Seleukia
Kerajaan Ptolemaik
Makedonia (provinsi Romawi)

Makedonia atau Makedon (bahasa Yunani: Μακεδονία, Makedonía)[4] adalah sebuah kerajaan kuno di periferi Yunani Arkaik dan Klasik,[5] dan kemudian negara dominan Yunani Hellenistik.[6] Kerajaan tersebut dibentuk dan mula-mula diperintah oleh dinasti Argead, disusul oleh dinasti-dinasti Antipatrid dan Antigonid. Sebagai rumah dari bangsa Makedonia kuno, kerajaan terawal tersebut terpisah di bagian timur laut semenanjung Yunani,[7] yang berbatasan dengan Epirus di bagian barat, Paeonia di bagian utara, Thrace di bagian timur dan Thessaly di bagian selatan.

Sebelum abad ke-4 SM, Makedonia merupakan sebuah kerajaan kecil di luar kawasan yang didominasi oleh negara-kota besar Athena, Sparta dan Thebes, dan sempat menjadi subordinat besar dari Persia Achaemenid.[3] Pemerintahan Philip II (359–336 BC) dipandang sebagai kebangkitan Makedonia, dimana kerajaan tersebut meraih kekuasaan atas seluruh wilayah Yunani. Dengan reformasi tentara yang terdiri dari phalanx yang memakai tombak sarissa, Philip II mengalahkan kekuasaan lama Athena dan Thebes dalam Pertempuran Chaeronea pada 338 SM dan menaklukkan mereka. Sparta menjadi terisolasi dan ditaklukan seabad kemudian oleh Antigonus III Doson. Putra Philip II Aleksander Agung melanjutkan upaya ayahnya untuk mengomandoi seluruh Yunani dengan memimpin federasi negara-negara Yunani, sebuah hal yang membuatnya dapat menghancurkan Thebes saat mereka memberontak. Alexander kemudian memimpin sebuah kampanye penaklukan dekade panjang melawan Kekaisaran Achaemenid, dalam rangka invasi Persia oleh Yunani pada abad ke-5 SM.

Saat peperangan Aleksander Agung, ia melengserkan Kekaisaran Achaemenid dan menaklukan sebuah kawasan yang membentang sampai Sungai Indus. Selama periode tersebut, Kekaisaran Makedonia menjadi kekuatan paling besar di dunia – negara Hellenistik yang membuka periode baru bagi peradaban Yunani Kuno, seni rupa dan sastra Hellenistik|sastra Yunani]] berkembang di wilayah yang baru dikuasai dan kemajuan filsafat, teknik dan ilmu pengetahuan tersebar ke sebagian besar dunia kuno. Sebagian pengaruhnya adalah kontrobusi Aristoteles, yang menjadi pengajar Aleksander dan tulisan-tilisannya menjadi batu pijakan bagi filsafat Barat. Raja-raja Makedonia, yang memegang kekuasaan absolut dan mengkomandani sumber daya negara seperti emas dan perak, memfasilitasi operasi penambangan untuk pembuatan mata uang, membiayai tentara mereka dan, pada masa pemerintahan Philip II, angkatan laut Makedonia. Tak seperti negara-negara suksesor diadochi lainnya, pemujaan kekaisaran yang dimajukan oleh Aleksander tak pernah diadopsi di Makedonia, sehingga para penguasa Makedonia tak pernah mengasumsikan perannya sebagai pendeta tinggi kerajaan tersebut dan pelindung utama pemujaan agama Hellenistik domestik dan internasional. Otoritas raja-raja Makedonia secara teori terbatas pada lembaga ketentaraan, sementara beberapa munisipalitas dalam persemakmuran Makedonia menikmati otonomi tingkat tinggi dan bahkan memiliki pemerintahan demokratik dengan majelis-majelis populer.

Setelah Aleksander meninggal pada 323 SM, peperangan Diadochi terjadi dan kekaisaran berumur pendeknya terpecah. Makedonia menjadi pusat politik dan budaya Yunani di kawasan Laut Tengah bersama dengan Mesir Ptolemaik, Kekaisaran Seleucid dan Kerajaan Pergamon. Kota-kota penting seperti Pella, Pydna, dan Amphipolis terlibat dalam perebutan kekuasaan. Kota-kota baru didirikan, seperti Tesalonika oleh perampas kekuasaan Cassander (mengambil nama dari istrinya Thessalonike dari Makedonia).[8] Keruntuhan Makedonia dimulai dengan Peperangan Makedonia dan kebangkitan Romawi sebagai penguasa Laut Tengah utama. Pada akhir Perang Makedonia Kedua pada 168 SM, monarki Makedonia runtuh dan digantikan oleh negara-negara klien Romawi. Kebangkitan jangka pendek monarki pada Perang Makedonia Ketiga tahun 150–148 SM berakhir dengan pendirian provinsi Romawi Makedonia.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Makedonia (bahasa Yunani: Μακεδονία, Makedonía) datang dari etnonim Μακεδόνες (Makedónes), yang kata itu sendiri berasal dari kata bahasa Yunani kuno μακεδνός (makednós), artinya "tinggi", diyakini mendeskripsikan rakyatnya.[9] Kata tersebut juga berbagi akar yang sama dengan kata μάκρος (mákros), yang artinya "panjanh" dalam bahasa Yunani kuno dan modern.[10] Nama tersebut awalnya diyakini memiliki arti "orang dataran tinggi", "orang tinggi", atau "orang yang bertumbuh tinggi".[11] Robert S. P. Beekes mendukung bahwa kedua istilah tersebut adalah asal muasal substrata Pra-Yunani dan tak dapat dijelaskan dalam hal morfologi Indo-Eropa.[12]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah awal dan legenda[sunting | sunting sumber]

Halaman depan salah satu makam kerajaan di Vergina, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO

Para sejarawan Yunani Klasik Herodotus dan Thucydides melaporkan legenda bahwa raja-raja Makedonia dari dinasti Argead adalah keturunan dari Temenus, raja Argos, dan mengklaim Heracles sebagai salah satu leluhur mereka serta keturunan langsung dari Zeus, pemimpin dewa pantheon Yunani.[13] Pernyataan bahwa keluarga Argead adalah kerurunan dari Temenus dalam legenda diterima oleh otoritas Hellanodikai dari Permainan Olimpiade Kuno, mengijinkan Aleksander I dari Makedonia (m. 498–454 SM) untuk memasuki kompetisi karena identitas dan warisan Yunani-nya.[14] Masa pemerintahan ayah Alexander Amyntas I dari Makedonia (m. 547–498 SM) pada periode Arkhaik menandai titik dimana Makedonia memasukki catatan sejarah, semenjak sangat sedikit yang diketahui tentang raja-raja sebelum masa pemerintahannya.[15] Legenda-legenda yang berseberangan menyatakan bahwa Perdiccas I dari Makedonia atau Caranus dari Makedonia adalah pendiri dinasti Argead, dengan lima atau delapan raja sebelum Amyntas I.[16]

Kerajaan Makedonia terletak di sepanjang sungai Haliacmon dan Axius di Makedonia Hilir, utara Gunung Olympus. Sejarawan Robert Malcolm Errington mengeluarkan teori bahwa salah satu raja Argead terawal harus mendirikan Aigai (sekarang Vergina) sebagai ibukota mereka pada pertengahan abad ke-7 SM.[17] Sebelum abad ke-4 SM, kerajaan tersebut melingkupi kawasan di sekitaran bagian barat dan tengah kawasan Makedonia di Yunani modern.[18] Kerajaan tersebut secara bertahap meluas ke wilayah Makedonia Hulu, yang ditinggali oleh suku Lyncestae dan Elimiotae Yunani, dan ke kawasan Emathia, Eordaia, Bottiaea, Mygdonia, Crestonia, dan Almopia, yang diduduki oleh berbagai suku bangsa seperti Thracia dan Phrygia.[note 1] Para tetangga non-Yunani Makedonia meliputi Thracia, yang tinggal di kawasan timur laut, Illyria di barat laut, dan Paeonia di utara, sementara wilayah Thessaly di selatan dan Epirus di bagian barat ditinggali oleh bangsa Yunani dengan budaya sama dengan bangsa Makedonia.[19]

Sebuah octadrachm perak dari Aleksander I dari Makedonia (m. 498–454 SM), yang dibuat sekitar tahun 465–460 SM, yang menampilkan sebuah figur ekuestrian yang mengenakan chlamys (jubah pendek) dan petasos (hiasan kepala) saat membawa dua tombak dan menunggangi seekor kuda

Setahun setelah Darius I dari Persia (m. 522–486 SM) meluncurkan sebuah invasi ke Eropa melawan Skitia, Paeonia, Thracia, dan beberapa negara-kota Yunani di Balkan, jenderal Persia Megabazus memakai diplomasi untuk membujuk Amyntas I agar menjadikannya vassal Kekaisaran Achaemenid, memulai periode Makedonia Achaemenid.[note 2] Hegemoni Persia Achaemenid atas Makedonia banyak disebabkan oleh Pemberontakan Ionian (499–493 SM), saat jenderal Persia Mardonius membuatnya kembali berada di bawah kekuasaan Achaemenid.[20] Meskipun Makedonia diberi tingkat otonom yang besar dan tak pernah dijadikan satrapy (semacam provinsi) Kekaisaran Achaemenid, wilayah tersebut dijadikan tempat untuk menyediakan pasukan bagi tentara Achaemenid.[21] Alexander I menyediakan dukungan militer Makedonia kepada Xerxes I (m. 486–465 SM) pada invasi Persia kedua oleh Yunani pada 480–479 SM, dengan pasukan Makedonia bertarung di pihak Persia pada Pertempuran Platea tahun 479 SM.[22] Setelah kemenangan Yunani di Salamis pada 480 SM, Alexander I diangkat menjadi diplomat Achaemenid untuk menyiapkan traktat perdamaian dan aliansi dengan Athena, suatu tawaran yang kemudian ditolak.[23] Tak lama setelah itu, pasukan Achaemenid terpaksa menarim diri dari Eropa daratan, menandai akhir kekuasaan Persia atas Makedonia.[24]

Keterlibatan dalam dunia Yunani Klasik[sunting | sunting sumber]

Makedon (jingga) dalam Perang Peloponnesia pada sekitar tahun 431 SM, dengan Athena dan Liga Delia (kuning), Sparta dan Liga Peloponnesia (merah), negara-negara independen (biru), dan Kekaisaran Achaemenid Persia (ungu)

Meskipun awalnya adalah sebuah vassal Persia Alexander I dari Makedon memajukan hubungan diplomatik bersahabat dengan bekas musuh-musuh Yunani-nya, koalisi pimpinan Athena dan Sparta dari negara-negara kota Yunani.[25] Namun, penerusnya Perdiccas II (m. 454–413 SM) memimpin bangsa Makedonia untuk berperang dalam empat konflik terpisah melawan Athena, pemimpin Liga Delia, yang menguasai kawasan pesisirnya di Makedonia Hilir seperti halnya pergerakan-pergerakan penguasa Thracia Sitalces dari kerajaan Odrysia mengancam integritas teritorial Makedonia di timur laut.[26] Negarawan Athena Pericles menyatakan kolonisasi terhadap Sungai Strymon dekat Kerajaan Makedonia, dimana kota kolonial Amphipolis didirikan pada 437/436 SM sehingga Athena dapat menyediakan suplai emas dan perak serta kayu dan pitch untuk mendukung angkatan laut Athena.[27] Dua perang terpisah melawan Athena terjadi antara 433 dan 431 SM, yang timbul akibat persekutuan Athena dengan seorang saudara dan sepupu dari Perdiccas II yang tekah menberontak melawannya.[28] Raja Makedonia kemudian menyatakan pemberontakan melawan para sekutu Athena di Chalcidice dan memenangkan kota strategis Potidaea.[29] Kota Potidaea kemudian dikepung oleh Athena setelah mereka menaklukkan kota-kota Makedonia Therma dan Beroea, namun pengepungan tersebut gagal, Therma kembali ke tangan Makedonia dan sebagian besar Chalcidice diserahkan kepada Athena dalam sebuah traktat perdamaian yang dilakukan oleh Sitalces, yang memberi bantuan militer kepada Athena dalam pertukaran untuk mengakuisisi sekutu-sekutu Thracia yang baru.[30]

Pada 429 SM, pada puncak Perang Peloponnesia (431–404 SM) antara Athena dan Sparta, Perdiccas II mengirim bantuan militer kepada pasukan Sparta di Acarnania, namun pasukan Makedonia terlambat datang, membolehkan pasukan Athena menimbulkan Pertempuran Naupactus.[31] Pasukan Athena bergerak pada tahun yang sama dengan Sitalces menginvasi Makedonia, namun pasukan Athena kemudian menawarkan dukungan angkatan laut kepada penguasa Thracia yang berkuasa di Chalcidice, diyakini karena kekhawatiran akan ambisi regionalnya.[32] Sitalces mundur dari Makedonia karena penipisan bekal para tentara pada musim dingin.[33] Pada 424 SM, Perdiccas II membantu sekutu-sekutu Athena di Thrace untuk berbalik bersekutu dengan Sparta.[34] Sebagai balasannya, jenderal Sparta Brasidas sepakat untuk membantu Perdiccas II meredam pemberontakan Arrhabaeus, seorang penguasa lokal Lynkestis (di Makedonia Hulu), meskipun ia mengekspresikan perhatian atas pasukan Illyria masif yang bersekutu dengan Arrhabaeus dan meninggalkan sekutu-sekutu Chalcidia Sparta yang menangkis serangan Athena saat pasukan Sparta pergi.[35] Di Pertempuran Lyncestis, pasukan Makedonia panik dan lari sebelum pertarungan dimulai melawan pasukan Arrhabaeus, memberikan kesempatan kepada Brasidas, yang para pasukannya merampas kereta perbekalan Makedonia yang ditinggalkan.[36] Akibatnya, Perdiccas II berbalik dan bersekutu dengan pasukan Athena sebagai gantinya, memblok kekuatan Peloponnesia pimpinan Brasidas di Thessaly dan memaksa Arrhabaeus dan para pemberontak lainnya untuk menyerah dan menerima raja Makedonia sebagai penguasa berdaulat mereka.[37]

Sebuah didrachm Makedonia yang dibuatbpada masa pemerintahan Archelaus I dari Makedon (m. 413–399 SM)

Brasidas wafat pada 422 SM, saat bangsa Athena dan Sparta mengadakan sebuah perjanjian dengan Perdamaian Nicias yang membebaskan Makedonia dari obligasi-obligasinya sebagai sekutu Athena.[38] Setelah Pertempuran Mantinea karya 418 SM, bangsa Sparta yang menang membentuk sebuah aliansi dengan Argos, sebuah pakta militer Perdiccas II ditujukan untuk memberikan ancaman terhadap para sekutu Sparta yang masih tersisa di Chalcidice.[39] Saat Argos mendadak beralih keterpihakan sebagai seorang demokrasi pro-Athena, angkatan laut Athena dapat membentuk sebuah blokade melawan pelabuhan-pelabuhan Makedonia dan menginvasi Chalcidice pada 417 SM.[40] Perdiccas II mengadakan perdamaian pada 414 SM, membentuk sebuah aliansi dengan Athena yang diteruskan oleh putranya dan penerusnya Archelaus I (m. 413–399 SM).[41] Athena kemudian menyediakan dukungan angkatan laut kepada Archelaus I saat pengepungan Pydna oleh Makedonia pada 410 SM, dalam pertukaran untuk kayu dan peralatan angkatan laut.[42]

Meskipun Archelaus I menghadapi beberapa pemberontakan dalam negeri dan dibayangi invasi bangsa Illyria pimpinan Sirras dari Lynkestis, ia mampu menghimpun kekuatan Makedonia di Thessaly dimana ia mengirim bantuan militer kepada para sekutunya.[43] Meskipun ia masih mempertahankan Aigai sebagai pusat seremonial dan relijius, Archelaus I memindahkan ibukota kerajaan ke utara Pella, yang kemudian dilewati oleh sebuah danau dengan sebuah sungai yang menghubungkannya ke Laut Aegea.[44] Ia menghimpun mata uang Makedonia dengan pembuatan koin-koin dengan kadar perak yang tinggi serta mengeluarkan koin tembaga terpisah.[45] Pemerintahan kerajaannya diisi dengan para inteletual terkenal seperti pengarang drama Athena Euripides.[46] Saat Archelaus I dibunuh (diyakini karena hubungan percintaan homoseksual dengan para anggota kerajaan di pemerintahannya), kerajaan tersebut diwarnai pertikaian, dalam sebuah era yang berlangsung dari 399 sampai 393 SM yang meliputi masa pemerintahan dari empat penguasa berbeda: Orestes, putra Archelaus I; Aeropus II, paman, wali raja, dan pembunuh Orestes; Pausanias, putra Aeropus II; dan Amyntas II, yang menikahi putri bungsu Archelaus I.[47] Sangat sedikit yang diketahui tentang periode tegang tersebut; era tersebut berakhir saat Amyntas III (m. 393–370 SM), putra Arrhidaeus dan cucu Amyntas I, membunuh Pausanias dan mengklaim tahta Makedonia.[48]

Stater perak Amyntas III dari Makedonia (m. 393–370 SM)

Amyntas III terpaksa melarikan diri dari kerajaannya pada sekitar tahun 393 atau 383 SM (berdasarkan pada catatan konflik), dalam rangka menghindari invasi masif oleh Dardani Illyria pimpinan Bardylis.[note 3] Pretender untuk tahta Argaeus memerintah saat ia tak ada, sehingga Amyntas III kemudian kembali ke kerajaannya dengan bantuan sekutu-sekutu Thessalia.[49] Amyntas III juga hampir dilengserkan oleh pasukan kota Khalsidia Olynthos, namun dengan bantuan Teleutias, saudara raja Sparta Agesilaus II, pasukan Makedonia memaksa Olynthos untuk menyerah dan membubarkan Liga Khalsidia mereka pada 379 SM.[50]

Alexander II (m. 370–368 SM), putra dari Eurydice I dan Amyntas III, menggantikan ayahnya dan menginvasi Thessaly untuk berperang melawan tagus (pemimpin militer Thessalia tertinggi) Alexander dari Pherae, dan menaklukan kota Larissa.[51] Pasukan Thessalia, yang memutuskan untuk menghindari Alexander II dan Alexander dari Pherae atas perintah para pemimpin mereka, meminta bantuan kepada Pelopidas dari Thebes; ia berhasil merebut kembali Larissa dan, dalam sebuah perjanjian perdamaian yang diadakan bersama dengan Makedonia, meraih sandera-sandera aristokratik termasuk saudara Alexander II dan kelak raja Philip II (m. 359–336 SM).[52] Saat Alexander dibunuh oleh saudara iparnya Ptolemy dari Aloros, Ptolemy bertindak sebagai pemangku jabatan atas Perdiccas III (m. 368–359 SM), adik Alexander II, yang kemudian memerintahkan agar Ptolemy dieksekusi saat mencapai usia mayoritas pada 365 SM.[53] Masa kekuasaan Perdiccas III ditandai dengan stabilitas politik dan pemulihan keuangan.[54] Namun, sebuah invasi Athena yang dipimpin oleh Timotheus, putra Conon, membuat kota Methone dan Pydna ditaklukan, dan sebuah invasi Illyria yang dipimpin oleh Bardylis berujung pada terbunuhnya Perdiccas III dan 4,000 pasukan Makedonia dalam pertempuran.[55]

Kebangkitan Makedonia[sunting | sunting sumber]

Kiri, patung dada Philip II dari Makedonia (m. 359–336 SM) dari periode Hellenistik, disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek. Kanan, patung dada lainnya dari Philip II, sebuah salinan Romawi abad ke-1 Masehi dari karya asli Yunani Hellenistik, sekarang disimpan di Museum Vatikan. Kiri, patung dada Philip II dari Makedonia (m. 359–336 SM) dari periode Hellenistik, disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek. Kanan, patung dada lainnya dari Philip II, sebuah salinan Romawi abad ke-1 Masehi dari karya asli Yunani Hellenistik, sekarang disimpan di Museum Vatikan.
Kiri, patung dada Philip II dari Makedonia (m. 359–336 SM) dari periode Hellenistik, disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek. Kanan, patung dada lainnya dari Philip II, sebuah salinan Romawi abad ke-1 Masehi dari karya asli Yunani Hellenistik, sekarang disimpan di Museum Vatikan.
Peta Kerajaan Makedonia pada masa kematian Philip II pada 336 SM (biru muda), dengan kawasan asli yang berdiri pada tahun 431 SM (garis merah), dan negara-negara dependen (kuning)

Philip II berusia dua puluh empat tahun saat ia naik tahta pada 359 SM.[56] Melalui pemakaian diplomasi, ia dapat menghindarkan pasukan Thracia di bawah kepemimpinan Berisades untuk memberikan dukungan mereka terhadap Pausanias, seorang pretender dari tahta tersebut, dan pasukan Athena berhenti mendukung pretender lainnya.[57] Ia mewujudkannya dengan menemui pasukan Thracia dan sekutu-sekutu Paeonian dan mendirikan sebuah traktat dengan Athena yang mencairkan ulang klaim-klaimnya atas Amphipolis.[58] Ia juga dapat menjalin perdamaian dengan Illyria yang telah mengancam perbatasan-perbatasannya.[59]

Philip II menjalani masa-masa awalnya dengan secara radikal mentransformasikan tentara Makedonia. Sebuah reformasi dari organisasinya, peralatannya dan pelatihannya, termasuk pengenalan phalanx Makedonia bersenjatakan tembiang panjang (semacam sarissa), agar dapat bertarung melawan musuh-musuh Illyria dan Paeonia-nya.[60] Catatan-catatan berlawanan dalam sumber-sumber kuno membuat para cendekiawan modern mendebatkan tentang bagaimana kebanyakan pendahulu kerajaan Philip berkontribusi pada reformasi tersebut dan pernyataan bahwa gagasan-gagasannya dipengaruhi oleh tahun-tahun penahanannya di Thebes pada masa remajanya saat ketegangan politik pada masa hegemoni Theba, khususnya setelah pertemuan dengan jenderal Epaminondas.[61]

Bangsa Makedonia dan Yunani secara tradisional mempraktikkan monogami, namun Philip II mempraktikkan poligami dan menikahi tujuh istri dengan mungkin hanya satu istri yang tidak ikut dalam loyalitas subyek-subyek aristokratiknya atau sekutu-sekutu barunya.[note 4] Pernikahan pertamanya adalah dengan Phila dari Elimeia dari kalangan aristokrasi Makedonia Hulu serta putri Illyria Audata untuk mewujudkan aliansi pernikahan.[62] Untuk mendirikan sebuah aliansi dengan Larissa di Thessaly, ia menikahi bangsawati Thessalia Philinna pada 358 SM, yang menganugerahinya seorang putra yang kemudian memerintah dengan sebutan Philip III Arrhidaeus (m. 323–317 SM).[63] Pada 357 SM, ia menikahi Olympias untuk menghimpun sebuah aliansi dengan Arybbas, Raja Epirus dan bangsa Molossia. Pernikahan tersebut dianugerahi seorang putra yang kemudian memerintah dengan sebutan Alexander III (lebih dikenal sebagai Alexander Agung) dan diklaim merupakan keturunan dari Achilles dalam legenda melalui warisan dinasti dari Epirus.[64] Tak jelas apakah raja-raja Persia Achaemenid mempengaruhi praktik poligami Philip II atau tidak, meskipun pendahulunya Amyntas III memiliki tiga putra yang diyakini dari istri keduanya Gygaea: Archelaus, Arrhidaeus, dan Menelaus.[65] Philip II menghukum mati Archelaus pada 359 SM, sementara dua saudara seayah Philip II lainnya kabur ke Olynthos, yang menyebabkan sebuah casus belli untuk Perang Olynthia (349–348 SM) melawan Liga Kalsidia.[66]

Saat Athena sebelumnya diduduki dengan Perang Sosial (357–355 SM), Philip II mengambil alih Amphipolis dari mereka pada 357 SM dan pada tahun berikutnya menaklukan kembali Pydna dan Potidaea, yang ia serahkan kepada Liga Kalsidia sesuai perjanjian dalam sebuah traktat.[67] Pada 356 SM, ia mengambil alih Crenides, merombaknya menjadi Filipi, sementara jenderalnya Parmenion mengalahkan raja Illyria Grabos dari Grabaei.[68] Pada pengepungan Methone tahun 355–354 SM, Philip II kehilangan mata kanannya akibat luka panah, namun memutuskan untuk menaklukan kota tersebut dan memperlakukan para penduduknya dengan baik, tak seperti Potidaea, yang memperbudaknya.[note 5]

Philip II kemudian melibatkan Makedonia dalam Perang Keramat Ketiga (356–346 SM). Ini dimulai saat Phocis menaklukan dan merampas kuil Apollo di Delphi sebagai balasan terhadap pengajuan gaji yang tak dibayar, menyebabkan Liga Amfiktionik mendeklarasikan perang terhadap Phocis dan sebuah perang saudara terjadi antara para anggota Liga Thessalia yang bersekutu dengan Phocis atau Thebes.[69] Kampanye awal Philip II melawan Pherae di Thessaly [pada 353 SM atas perantaraan Larissa yang berakhir dengan dua kekalahan besar oleh jenderal Phocia Onomarchus.[note 6] Philip II berbalik mengalahkan Onomarchus pada 352 SM di Pertempuran Lapangan Crocus, yang berujung pada terpilihnya Philip II menjadi pemimpin (archon) Liga Thessalia, memberikannya sebuah kursi di Dewan Amfiktionik, dan mengadakan aliansi pernikahan dengan Pherae dengan menikahi Nicesipolis, kemenakan dari tiran Jason dari Pherae.[70]

Setelah berkampanye melawan penguasa Thracia Cersobleptes, pada 349 SM, Philip II memulai perangnya melawan Liga Kalsidia, yang telah berdiri kembali pada 375 SM setelah pembubaran sementara.[71] Disamping sebuah intervensi Athena oleh Charidemus,[72] Olynthos ditaklukan olehPhilip II pada 348 SM, para penduduknya dijual menjadi budak, termasuk beberapa warga Athena.[73] Pasukan Athena, khususnya dalam serangkaian pidato dari Demosthenes yang dikenal sebagai Olynthiacs, gagal menjalin persekutuan untuk serangan balasan dan pada 346 SM menjalin sebuah traktat dengan Makedonia yang dikenal sebagai Perdamaian Filokrates.[74] Traktat tersebut menyatakan bahwa Athena akan mencairkan kembali klaim atas kawasan pantai Makedonia, Chalcidice, dan Amphipolis sebagai balasan terhadap pembebasan para pasukan Athena yang diperbudak serta memastikan agar Philip II tak akan menyerang pemukiman-pemukiman Athena di Thracian Chersonese.[75] Selain itu, Phocis dan Thermopylae ditaklukan oleh pasukan Makedonia, para perompak kuil Delfik dieksekusi, dan Philip II dianugerahi dua kursi Phocia atas Dewan Amfiktionik dan jabatan pemandu acara di Dewan Amfiktionik dan jabatan pemandu acara atas Permainan Pythia.[76] Pihak Athena awalnya menentang keanggotaannya pada dewan tersebut dan menolak untuk hadir ke acara permainan tersebut sebagai tanda protes, namun kemudian mereka menerima keadaan tersebut, diyakini setelah beberapa pernyataan dari Demosthenes dalam orasinya Tentang Perdamaian.[77]

Kiri, sebuah Niketerion (medali kemenangan) yang menampilkan ukiran dari gambar raja Philip II dari Makedonia, abad ke-3 Masehi, diyakini dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Alexander Severus. Kanan, reruntuhan Philippeion di Olympia, Yunani, yang dibangun oleh Philip II dari Makedonia untuk merayakan kemenangannya di Pertempuran Chaeronea pada 338 SM.[78] Kiri, sebuah Niketerion (medali kemenangan) yang menampilkan ukiran dari gambar raja Philip II dari Makedonia, abad ke-3 Masehi, diyakini dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Alexander Severus. Kanan, reruntuhan Philippeion di Olympia, Yunani, yang dibangun oleh Philip II dari Makedonia untuk merayakan kemenangannya di Pertempuran Chaeronea pada 338 SM.[78]
Kiri, sebuah Niketerion (medali kemenangan) yang menampilkan ukiran dari gambar raja Philip II dari Makedonia, abad ke-3 Masehi, diyakini dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Alexander Severus. Kanan, reruntuhan Philippeion di Olympia, Yunani, yang dibangun oleh Philip II dari Makedonia untuk merayakan kemenangannya di Pertempuran Chaeronea pada 338 SM.[78]

Pada beberapa tahun berikutnya, Philip II mereformasi pemerintahan-pemerintahan lokal di Thessaly, berkampanye melawan penguasa Illyria Pleuratus I, melengserkan Arybbas di Epirus atas kehendak saudara iparnya Alexander I (melalui pernikahan Philip II dengan Olympias), dan mengalahkan Cersebleptes di Thrace. Ini membolehkannya menempatkan kontrol Makedonia atas aHellespont dalam antisipasi dari sebuah invasi terhadap Anatolia Achaemenid.[79] Pada 342 SM, Philip II menaklukan sebuah kota Thracian di sebuah kawasan yang sekarang adalah Bulgaria dan mengganti namanya menjadi Philippopolis (sekarang Plovdiv).[80] Perang pecah dengan Athena pada 340 SM saat Philip II mengadakan dua pengepungan mutlak atas Perinthus dan Byzantion, disusul oleh sebuah kampanye sukses melawan bangsa Skitia di sepanjang sungai Danube dan keterlibatan Makedonia dalam Perang Keramat Keempat melawan Amphissa pada 339 SM.[81] Thebes menghumpun garisun Makedonia dari Nicaea (dekat Thermopylae), yang membuat Thebes tergabung dengan Athena, Megara, Korintus, Achaea, dan Euboea dalam sebuah konfrontasi terakhir melawan Makedonia di Pertempuran Chaeronea pada 338 SM.[82] Setelah Makedonia menang, Philip II menghimpun sebuah oligarki di Thebes, sehingga menyamai Athena, dengan harapan dapat memanfaatkan angkatan laut mereka dalam sebuah rencana invasi terhadap Kekaisaran Achaemenid.[83] Ia kemudian bertanggung jawab atas pembentukan Liga Korintus yang meliputi negara-negara kota Yunani besar kecuali Sparta. Disamping pengkhususan resmi Kerajaan Makedonia dari lima tersebut, pada 337 SM, Philip II terpilih menjadi pemimpin (hegemon) dari dewannya (synedrion) dan kepala komandan (strategos autokrator) dari sebuah kampanye mendatang untuk menginvasi Kekaisaran Achaemenid.[84] Kekhawatiran Panhellenik terhadap invasi Persia lainnya terhadap Yunani diyakini berkontribusi terhadap keputusan Philip II untuk menginvasi Kekaisaran Achaemenid.[85] Persia menawarkan bantuan kepada Perinthus dan Byzantion pada 341–340 SM, menyoroti kebutuhan strategis Makedonia untuk mengamankan Thrace dan Laut Aegea melawan peningkatan pengaruh Achaemenid, karena raja Persia Artaxerxes III makin mengkonsolidasikan kekuasaannya atas bagian-bagian di barat Anatolia.[86] Kawasan yang jauh lebih kaya dan sumber dayanya lebih berharga ketimbang Balkan tersebut juga disoroti oleh raja Makedonia karena potensi ekonominya.[87]

Saat Philip II menikahi Cleopatra Eurydice, kemenakan jenderal Attalus, perbincangan soal para pewaris potensial baru di pesta pernikahan melirik putra Philip II, Alexander, seorang veteran Pertempuran Chaeronea, dan ibunya Olympias.[88] Mereka kabur bersama ke Epirus sebelum Alexander dipanggil lagi ke Pella oleh Philip II.[88] Saat Philip II mengadakan sebuah pernikahan antara putranya Arrhidaeus dan Ada dari Caria, putri Pixodarus, satrap Persia dari Caria, Alexander berintervensi dan sebagai gantinya diusulkan untuk menikahi Ada. Philip II kemudian menunda pernikahan tersebut bersmaaan dan mengasingkan para penasehat Alexander Ptolemy, Nearchus, dan Harpalus.[89] Atas rekonsiliasi dengan Olympias, Philip II mengangkat putri mereka Cleopatra untuk menikahi saudara Olympia (dan paman Cleopatra) Alexander I dari Epirus, namun Philip II dibunuh oleh penjaganya, Pausanias dari Orestis, saat pesta pernikahan mereka dan digantikan oleh Alexander pada 336 SM.[90]

Kekaisaran[sunting | sunting sumber]

Kiri, Patung dada Aleksander Agung karya pemahat Athena  Leochares, 330 SM, Museum Acropolis, Athena. Kanan, Patung dada Aleksander Aung, sebuah salinan Romawi dari Era Kekaisaran (abad ke-1 atau ke-2 SM) dari sebuah pahatan perunggu asli yang dibuat oleh pemahat Yunani Lysippos, Louvre, Paris. Kiri, Patung dada Aleksander Agung karya pemahat Athena  Leochares, 330 SM, Museum Acropolis, Athena. Kanan, Patung dada Aleksander Aung, sebuah salinan Romawi dari Era Kekaisaran (abad ke-1 atau ke-2 SM) dari sebuah pahatan perunggu asli yang dibuat oleh pemahat Yunani Lysippos, Louvre, Paris.
Kiri, Patung dada Aleksander Agung karya pemahat Athena Leochares, 330 SM, Museum Acropolis, Athena. Kanan, Patung dada Aleksander Aung, sebuah salinan Romawi dari Era Kekaisaran (abad ke-1 atau ke-2 SM) dari sebuah pahatan perunggu asli yang dibuat oleh pemahat Yunani Lysippos, Louvre, Paris.
Kekaisaran Aleksander Agung pada masa kematiannya pada 323 SM

Para cendekiawan modern berpendapat soal kemungkinan peran Alexander III "Agung" dan ibunya Olympias dalam pembunuhan Philip II, dengan alasan bahwa Aleksander dikecualikan dari rencana invasinya ke Asia, dan sebagai gantinya memilihnya untuk bertindak sebagai pemangku raja Yunani dan deputi hegemon Liga Korintus, dan menyematkan pewaris laki-laki potensial lainnya antara Philip II dan istri barunya, Cleopatra Eurydice.[note 7] Alexander III (m. 336–323 SM) diproklamasikan menjadi raja oleh sebuah majelis dari para tenara dan aristokrat utama, terutama Antipater dan Parmenion.[91] Pada akhir masa pemerintahan dan karier militernya pada 323 SM, Aleksander memerintah atas sebuah kekaisaran yang terbentang dari Yunani daratan, Asia Kecil, Syam, Mesir kuno, Mesopotamia, Persia, dan sebagian besar Asia Tengah dan Selatan (termasuk wilayah yang sekarang menjadi Pakistan).[92] Salah satu tindakan pertamanya adalah memakamkan ayahnya di Aigai.[93] Para anggota Liga Korintus yang menyebarkan kabar kematian Philip II, namun kemudian ditahan oleh pasukan militer atas alasan diplomasi, memilih Alexander sebagai hegemon liga untuk melaksanakan rencana invasi terhadap Persia Achaemenid.[94]

Pada 335 SM, Aleksander bertarung melawan suku Thracia dari Triballi di Pegunungan Haemus dan di sepanjang sungai Danube, memaksa mereka menyerah di Pulau Peuce.[95] Tak lama setelahnya, raja Illyria Cleitus dari Dardani mengancam untuk menyerang Makedonia, namun Aleksander memegang inisiatifnya dan mengepung Dardani di Pelion (sekarang Albania).[96] Saat Thebes kembali memberontak dari Liga Korintus dan mengepung garisun Makedonia di Cadmea, Alexander meninggalkan front Illyria dan berpawai ke Thebes, yang ia tempatkan di bawah pengepungan.[97] Setelah menerobos tembok, pasukan Alexander membunuh 6,000 orang Thebes, menjadikan 30,000 penduduk sebagai tahanan perang, dan membakar kota tersebut sampai rata sebagai peringatan bagi seluruh negara Yunani lainnya kecuali Sparta untuk tindak menantang Aleksander lagi.[98]

Sepanjang karier militernya, Aleksander memenangkan setiap pertempuran yang ia sendiri komandani.[99] Kemenangan pertamanya melawan bangsa Persia di Asia Kecil dalam Pertempuran Granicus pada 334 SM memakai kontigen kavaleri kecil sebagai kekhasan untuk membolehkan infanterinya melintasi sungai yang disusul oleh perubahan kavaleri dari kavaleri pengikutnya.[100] Alexander memimpin perubahan kavaleri di Pertempuran Issus pada 333 SM, memaksa raja Persia Darius III dan tentaranya untuk melarikan diri.[100] Meskipun memiliki jumlah pasukan lebih banyak, Darius III kembali terpaksa melarikan diri dari Pertempuran Gaugamela pada 331 SM.[100] Raja Persia kemudian ditangkap dan dieksekusi oleh satrapnya sendiri dari Bactria dan kerabatnya, Bessus, pada 330 SM. Raja Makedonia kemudian memburu dan mengeksekusi Bessus di sebuah tempat yang sekarang berada di Afghanistan, sesambil mengamankan kawasan Sogdia.[101] Pada Pertempuran Hydaspes tahun 326 SM (sekarang di Punjab), dimana gajah-gajah perang Raja Porus dari Paurawas mengancam pasukan Aleksander, ia menempatkan orang-orang berpangkat di sekitaran gajah-gajah tersebut dan mempersenjatai mereka dengan tembiang sarissa mereka.[102] Saat pasukan Makedonia-nya mengancam akan melakukan pemberontakan pada 324 SM di Opis, Babilonia (sekarang dekat Baghdad, Irak), Aleksander sebagai gantinya menawarkan gelar-gelar militer Makedonia dan tanggung-tanggung jawab yang lebih besar kepada unit-unit dan perwira-perwira Persia, memaksa tentaranya memberikan permintaan maaf di sebuah perjamuan makan malam dari rekonsiliasi antara Persia dan Makedonia.[103]

Mosaik Pemburuan Rusa, sekitar tahun 300 SM, dari Pella; figur di bagian kanan diyakini adalah Aleksander Agung karena tanggal mozaik tersebut bersamaan dengan pemangkasan rambut bagian tengahnya (anastole); figur di bagian kiri yang memegang kapak dua mata (diasosiasikan dengan Hephaistos) diyakini adalah Hephaestion, salah satu pengikut setia Aleksander.

Alexander diyakini mengisi pemerintahannya sendiri dengan mengeluarkan tanda-tanda megalomania.[104] Selain mengeluarkan propaganda efektif seperti memotong Ikatan Gordia, ia juga berupaya untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai dewa hidup dan putra Zeus setelah ia mengunjungi orakel di Siwah, Gurun Libya (sekarang Mesir) pada 331 SM.[105] Upayanya pada 327 SM saat ia diberi penyembahan terhadapnya di Bactra dalam sebuah tindakan proskynesis membuat raja-raja Persia menganggapnya sebagai penistaan agama oleh para kalangan Makedonia dan Yunani setelah sejarawannya Callisthenes menolak untuk ikut ritual tersebut.[104] Saat Alexander membunuh Parmenion di Ecbatana (sekarang dekat Hamadan, Iran) pada 330 SM, ini menjadi "pendorong pertumbuhan pergumulan antara kepentingan raja dan kalangan dari negara dan masyarakatnya", menurut Errington.[106] Pembunuhannya terhadap Cleitus si Hitam pada 328 SM disebut sebagai "kendendaman dan kesembronoan" oleh Dawn L. Gilley dan Ian Worthington.[107] Mengikuti kebiasaan poligami ayahnya, Aleksander mendorong pasukannya untuk menikahi wanita asli di Asia, dengan memberikan contoh saat ia menikahi Roxana, seorang putri Sogdian dari Bactria.[108] Ia kemudian menikahi Stateira II, putri sulung Darius III, dan Parysatis II, putri bungsu Artaxerxes III, di pernikahan Susa pada 324 SM.[109]

Sementara itu, di Yunani, raja Sparta Agis III berupaya untuk memimpin sebuah pemberontakan Yunani melawan Makedonia.[110] Ia dikalahkan pada 331 SM di Pertempuran Megalopolis oleh Antipater, yang menjabat sebagai wali raja Makedonia dan deputi hegemon Liga Korintus di pihak Aleksander.[note 8] Sebelum Antipater mengadakan kampanyenya di Peloponnese, Memnon, gubernur Thrace, memadamkan pemberontakan dengan memakai diplomasi.[111] Antipater menyerahkan hukuman terhadap Sparta kepada Liga Korintus yang dikepalai oleh Aleksander, yang secara mutlak memajukan Sparta dalam kondisi mereka mengajukan lima bangsawan sebagai sandera.[112] Hegemoni Antipater kurang populer di Yunani karena prakteknya (diyakini oleh tatanan Aleksander) kurang berisi dan mengarisunkan kota-kota dengan pasukan Makedonia, sehingga pada 330 SM, Aleksander mendeklarasikan bahwa tirani-tirani yang dihimpun di Yunani dibubarkan dan kebebasan Yunani direstorasikan.[113]

Kerajaan-kerajaan diadochi pada sekitar tahun 301 SM, setelah Pertempuran Ipsus
  Kerajaan Ptolemy I Soter
  Kerajaan Cassander
  Kerajaan Lysimachus
  Kerajaan Seleucus I Nicator
  Epirus
Lain-lain
Sebuah stater emas dari Philip III Arrhidaeus (m. 323–317 SM) menampilkan gambar Athena (kiri) dan Nike (kanan)

Saat Aleksander Agung wafat di Babilonia pada 323 SM, ibunya Olympias menuduh Antipater dan faksinya meracuninya, meskipun tak ada bukti yang mendukungnya.[114] Dengan tanpa pewaris tahta resmi, komando militer Makedonia menjadi terbagi, dengan satu sisi memproklamasikan saudara tiri Aleksander, Philip III Arrhidaeus (m. 323–317 SM) sebagai raja dan sisi lainnya berpihak pada putra Alekander dengan Roxana yang masih bayi, Aleksander IV (m. 323–309 SM).[115] Selain bangsa Euboea dan Boeotia, bangsa Yunani juga mengadakan pemberontakan melawan Antipater yang dikenal sebagai Perang Lamian (323–322 SM).[116] Saat Antipater kalah pada 323 SM dalam Pertempuran Thermopylae, ia kabur ke Lamia dimana ia dikepung oleh komandan Athena Leosthenes. Sebuah pasukan Makedonia pimpinan Leonnatus menyelamatkan Antipater dengan mengadakan pengepungan.[117] Antipater memadamkan pemberontakan tersebut, sehingga kematiannya pada 319 SM membuat kekuasaan menjadi lowong sehingga dua raja Makedonia yang diproklamasikan menjadi bahan pertikaian dalam sebuah perebutan kekuasaan antar diadochi, para bekas jenderal tentara Aleksander.[118]

Sebuah dewan tentara dibentuk di Babilonia setelah kematian Aleksander, yang mengangkat Philip III sebagai raja dan kiliarkhi Perdiccas sebagai walinya.[119] Antipater, Antigonus Monophthalmus, Craterus, dan Ptolemy membentuk sebuah koalisi yang melawan Perdiccas dalam sebuah perang saudara yang disulut oleh perampasan kendaraan angkut jasad Aleksander Agung.[120] Perdiccas dibunuh pada tahun 321 SM oleh para perwiranya sendiri saat kampanye gagal di Mesir melawan Ptolemy, dimana pawainya di sepanjang Sungai Nil mengakibatkan 2,000 pasukannya tenggelam.[121] Meskipun Eumenes dari Cardia berencana membunuh Craterus dalam pertempuran, ini memiliki sedikit bahkan tak berdampak sama sekali pada timbulnya Pemisahan Triparadisus pada tahun 321 SM di Siria dimana koalisi yanbg menang memegang gak atas kawasan dan kekuasaan yang baru.[122] Antipater diangkat menjadi wali raja atas dua raja. Sebelum Antipater wafat pada 319 SM, ia mengangkat loyalis Argead sejati Polyperchon sebagai penerusnya, dengan jaminan putranya sendiri Cassander dan menghiraukan hak raja untuk memiliki wali raja yang baru (semenjak Philip III dianggap mentalnya tidak stabil), yang juga menyebabkan pergesekan dalam koalisi tentara.[123]

Membentuk sebuah aliansi dengan Ptolemy, Antigonus, dan Lysimachus, Cassander memerintahkan perwiranya Nicanor untuk menaklukkan benteng Munichia di kota pelabuhan Athena Piraeus dalam rangka meneguhkan dekrit Polyperchon yang menyatakan bahwa kota-kota Yunani harus terbebas dari garisun Makedonia, menimbulkan Perang Diadochi Kedua (319–315 SM).[124] Kegagalan militer yang timbul dari Polyperchon, pada 317 SM, Philip III, dengan cara bertunangan secara politik dengan Eurydice II dari Makedon, secara resmi menggantikannya sebagai wali raja dengan Cassander.[125] Setelah itu, Polyperchon meminta bantuan dari Olympias di Epirus.[125] Sebuah pasukan bersama dari Epirotes, Aetolians, dan Polyperchon menginvasi Makedonia dan memaksa tentara Philip III dan Eurydice untuk menyerah, membolehkan Olympias untuk mengeksekusi rajanya dan memaksa ratunya untuk melakukan bunuh diri.[126] Olympias kemudian memerintahkan agar Nicanor dan puluhan bangsawan Makedonia lainnya untuk dibunuh, namun pada musim semi tahun 316 SM, Cassander mengalahkan pasukannya, menangkapnya, dan menempatkannya pada pengadilan atas dakwaan pembunuhan sebelum memutuskan agar ia dihukum mati.[127]

Cassander menikahi putri Philip II Thessalonike dan meluaskan kontrol Makedonia dari Illyria sampai Epidamnos. Pada 313 SM, wilayah tersebut direbut kembali oleh raja Illyria Glaucias dari Taulanti.[128] Pada 316 SM, Antigonus mengambil wilayah Eumenes dan memutuskan untuk menggulingkan Seleucus Nicator dari satrapi Babilonia-nya, membuat Cassander, Ptolemy, dan Lysimachus untuk mengeluarkan ultimatum bersama terhadap Antigonus pada tahun 315 SM agar ia menyerahkan berbagai kawasan di Asia.[8] Antigonus menjanjikan persekutuan dengan Polyperchon, yang sekarang berbasis di Korintus, dan mengeluarkan sebuah ultimatum-nya sendiri kepada Cassander, mendakwanya atas dakwaan pembunuhan karena mengeksekusi Olympias dan menuntut agar ia melepas kendalinya atas keluarga kerajaan, Raja Aleksander IV dan ibu suri Roxana.[129] Konflik tersebut berlangsung sampai musim dingin tahun 312/311 SM, saat sebuah penetapan perdamaian baru mengakui Cassander sebagai jenderal Eropa, Antigonus sebagai "pertama di Asia", Ptolemy sebagai jenderal Mesir, dan Lysimachus sebagai jenderal Thrace.[130] Cassander memerintahkan agar Alexander IV dan Roxana dihukum mati pada musim dingin tahun 311/310 SM, dan pada tahun 306–305 SM, diadochi tersebut mendeklarasikan raja-raja dari kawasan mereka masing-masing.[131]

Era Hellenistik[sunting | sunting sumber]

Permulaan Yunani Hellenistik diartikan dengan perjuangan antara dinasti Antipatrid, mula-mula dipimpin oleh Cassander (m. 305–297 SM), putra Antipater, dan dinasti Antigonid, pimpinan jenderal Makedonia Antigonus I Monophthalmus (m. 306–301 SM) dan putranya, kelak raja Demetrius I (m. 294–288 SM). Cassander mengepung Athena pada 303 SM, namun terpaksa beretret ke Makedonia saat Demetrius menginvasi Boeotia dalam rangka berupaya untuk menghimpun susunan retretnya.[132] Saat Antigonus dan Demetrius berupaya untuk merombak Liga Hellenik pimpinan Philip II dengan diri mereka sendiri sebagai hegemon ganda, sebuah koalisi saingan dari Cassander, Ptolemy I Soter (m. 305–283 SM) dari dinasti Ptolemaik Mesir, Seleucus I Nicator (m. 305–281 BC) dari Kekaisaran Seleucid, dan Lysimachus (m. 306–281 SM), Raja Thrace, mengalahkan pasukan Antigonids di Pertempuran Ipsus pada 301 SM, membunuh Antigonus dan memaksa Demetrius untuk melarikan diri.[133]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lewis & Boardman 1994, hlmn. 723–724, lihat pula Hatzopoulos 1996, hlmn. 105–108 untuk pengusiran para penduduk asli Makedonia oleh Phrygia.
  2. ^ Olbrycht 2010, hlmn. 342–343; Sprawski 2010, hlmn. 131, 134; Errington 1990, hlmn. 8–9.
    Errington secara skeptis menyatakan bahwa pada masa itu, Amyntas I dari Makedonia ditawarkan ajuan vassal dari pihak manapun, yang kebanyakan diterima. Ia juga menyatakan tentang bagaimana raja Makedonia tersebur melakukan tindakannya sendiri, seperti mengundang tiran Athena yang diasingkan Hippias untuk mengungsi ke Anthemous pada 506 SM.
  3. ^ Roisman 2010, hlmn. 158–159; lihat pulao Errington 1990, hlm. 30 untuk informasi selengkapnya; sejarawan Yunani Diodorus Siculus memberikan catatan konflik tentang invasi Illyria pada 393 SM dan 383 SM, yang dapat menjadi perwakilan dari sebuah invasi tunggal pimpinan Bardylis dari Dardani.
  4. ^ Müller 2010, hlmn. 169–170, 179.
    Müller bersikap skeptis terhadap klaim-klaim Plutarch dan Athenaeus bahwa Philip II dari Makedonia menikahi Cleopatra Eurydice dari Makedonia, seorang wanita muda, murni cinta atau karena krisis pertengahan hidup-nya sendiri. Cleopatra adalah putri dari jenderal Attalus, yang mersama dengan mertuanya Parmenion memberikan komando pos-pos di Asia Kecil (sekarang Turki) setelah pernikahan tersebut. Müller juga menduga bahwa pernikahan tersebut adalah salah satu tindakan politik dalam rangka mewujukan loyalitas dari sebuah wangsa bangsawan Makedonia berpengaruh.
  5. ^ Müller 2010, hlmn. 171–172; Buckler 1989, hlmn. 63, 176–181; Cawkwell 1978, hlmn. 185–187.
    Cawkwell secara berseberangan menyatakan bahwa tanggal pengepungan tersebut adalah 354–353 SM.
  6. ^ Müller 2010, hlmn. 172–173; Cawkwell 1978, hlmn. 60, 185; Hornblower 2002, hlm. 272; Buckler 1989, hlmn. 63–64, 176–181.
    Secara berseberangan, Buckler menyatakan bahwa tanggal kampanye awalnya adalah 354 SM, sementara menyatakan bahwa kampanye Thessalia kedua berakhir dalam Pertempuran Lapangan Crocus terjadi pada 353 SM.
  7. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 189–190; Müller 2010, hlm. 183.
    Disamping dugaan Aleksander III dari Makedonia sebagai terduga potensial dalam rencana pembunuhan Philip II dari Makedonia, N. G. L. Hammond dan F. W. Walbank mendiskusikan kemungkinan terduga Makedonia serta asing, seperti Demosthenes dan Darius III: Hammond & Walbank 2001, hlmn. 8–12.
  8. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 199–200; Errington 1990, hlmn. 44, 93.
    Gilley dan Worthington mendiskusikan ambiguitas terkait gelar Antipater di samping deputi hegemon Liga Korintus, dengan beberapa sumber menyebutnya wali raja, yang lainnya gubernur, yang lainnya jenderal biasa.
    N. G. L. Hammond dan F. W. Walbank menyatakan bahwa Aleksander Agung meninggalkan "Makedonia di bawah komando Antipater, dalam kasus terdapat sebuah kebangkitan di Yunani." Hammond & Walbank 2001, hlm. 32.

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hatzopoulos 1996, hlmn. 105–106; Roisman 2010, hlm. 156
  2. ^ Engels 2010, hlm. 92; Roisman 2010, hlm. 156
  3. ^ a b c Sprawski 2010, hlmn. 135–138; Olbrycht 2010, hlmn. 342–345
  4. ^ Ancient: [ma͜akedoní.a͜a]
  5. ^ Hornblower 2008, hlmn. 55–58
  6. ^ Austin 2006, hlmn. 1–4
  7. ^ "Macedonia". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica Online. 23 October 2015. Diakses tanggal 5 February 2017. 
  8. ^ a b Adams 2010, hlm. 215
  9. ^ Liddell, Henry George; Scott, Robert. (1940). "μακεδνός," in Jones, Henry Stuart; McKenzie, Roderick. A Greek-English Lexicon. Oxford: Clarendon Press. Accessed online at Crane, Gregory R. (ed), The Perseus Digitial Library. Tufts University. Accessed 2 February 2017.
  10. ^ Liddell, Henry George; Scott, Robert. (1940). "μάκρος," in Jones, Henry Stuart; McKenzie, Roderick. A Greek-English Lexicon. Oxford: Clarendon Press. Accessed online at Crane, Gregory R. (ed), The Perseus Digitial Library. Tufts University. Accessed 2 February 2017.
  11. ^ Engels 2010, hlm. 89; Borza 1995, hlm. 114; Eugene N. Borza menyatakan bahwa "orang dataran tinggi" atau "Makedones" dari kawasan pegunungan barat Makedonia berasal dari kawasan barat laut Yunani; merek pada masa sebelumnya bermigrasi ke selatan untjk menjadi "bangsa Doria".
  12. ^ Beekes 2010, hlm. 894
  13. ^ King 2010, hlm. 376; Sprawski 2010, hlm. 127; Errington 1990, hlmn. 2–3.
  14. ^ Badian 1982, hlm. 34; Sprawski 2010, hlm. 142.
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama king_2010_376
  16. ^ King 2010, hlm. 376; Errington 1990, hlmn. 3, 251.
  17. ^ Errington 1990, hlm. 2.
  18. ^ Thomas 2010, hlmn. 67–68, 74–78.
  19. ^ Anson 2010, hlmn. 5–6.
  20. ^ Olbrycht 2010, hlm. 344; Sprawski 2010, hlmn. 135–137; Errington 1990, hlmn. 9–10.
  21. ^ Olbrycht 2010, hlmn. 343–344; Sprawski 2010, hlm. 137; Errington 1990, hlm. 10.
  22. ^ King 2010, hlm. 376; Olbrycht 2010, hlmn. 344–345; Sprawski 2010, hlmn. 138–139.
  23. ^ Sprawski 2010, hlmn. 139–140.
  24. ^ Olbrycht 2010, hlm. 345; Sprawski 2010, hlmn. 139–141; lihat pula Errington 1990, hlmn. 11–12 untuk penjelasan lebih lanjut.
  25. ^ Sprawski 2010, hlmn. 141–143; Errington 1990, hlmn. 9, 11–12.
  26. ^ Roisman 2010, hlmn. 145–147.
  27. ^ Roisman 2010, hlmn. 146–147; Müller 2010, hlm. 171; Cawkwell 1978, hlm. 72; lihat pula Errington 1990, hlmn. 13–14 untuk penjelasan lebih lanjut.
  28. ^ Roisman 2010, hlmn. 146–147.
  29. ^ Roisman 2010, hlmn. 146–147; lihat pula Errington 1990, hlm. 18 untuk penjelasan lebih lanjut.
  30. ^ Roisman 2010, hlmn. 147–148; Errington 1990, hlmn. 19–20.
  31. ^ Roisman 2010, hlm. 149.
  32. ^ Roisman 2010, hlmn. 149–150; Errington 1990, hlm. 20.
  33. ^ Roisman 2010, hlm. 150; Errington 1990, hlm. 20.
  34. ^ Roisman 2010, hlmn. 150–151; Errington 1990, hlmn. 21–22.
  35. ^ Roisman 2010, hlmn. 151–152; Errington 1990, hlmn. 21–22.
  36. ^ Roisman 2010, hlm. 152; Errington 1990, hlm. 22.
  37. ^ Roisman 2010, hlmn. 152–153; Errington 1990, hlmn. 22–23.
  38. ^ Roisman 2010, hlm. 153; Errington 1990, hlmn. 22–23.
  39. ^ Roisman 2010, hlmn. 153–154; lihat pula Errington 1990, hlm. 23 untuk penjelasan lebih lanjut.
  40. ^ Roisman 2010, hlm. 154; lihat pula Errington 1990, hlm. 23 untuk penjelasan lebih lanjut.
  41. ^ Roisman 2010, hlm. 154; Errington 1990, hlmn. 23–24.
  42. ^ Roisman 2010, hlmn. 154–155; Errington 1990, hlm. 24.
  43. ^ Roisman 2010, hlmn. 155–156.
  44. ^ Roisman 2010, hlm. 156; Errington 1990, hlm. 26.
  45. ^ Roisman 2010, hlmn. 156–157.
  46. ^ Roisman 2010, hlmn. 156–157; Errington 1990, hlm. 26.
  47. ^ Roisman 2010, hlmn. 157–158; Errington 1990, hlmn. 28–29.
  48. ^ Roisman 2010, hlmn. 158; Errington 1990, hlmn. 28–29.
  49. ^ Roisman 2010, hlm. 159; lihat pula Errington 1990, hlm. 30 untuk penjelasan lebih lanjut.
  50. ^ Roisman 2010, hlmn. 159–160; Errington 1990, hlmn. 32–33.
  51. ^ Roisman 2010, hlm. 161; Errington 1990, hlmn. 34–35.
  52. ^ Roisman 2010, hlmn. 161–162; Errington 1990, hlmn. 35–36.
  53. ^ Roisman 2010, hlmn. 162–163; Errington 1990, hlm. 36.
  54. ^ Roisman 2010, hlmn. 162–163.
  55. ^ Roisman 2010, hlmn. 163–164; Errington 1990, hlm. 37.
  56. ^ Müller 2010, hlmn. 166–167; Buckley 1996, hlmn. 467–472.
  57. ^ Müller 2010, hlmn. 167–168; Buckley 1996, hlmn. 467–472.
  58. ^ Müller 2010, hlmn. 167–168; Buckley 1996, hlmn. 467–472; Errington 1990, hlmn. 38.
  59. ^ Müller 2010, hlm. 167.
  60. ^ Müller 2010, hlm. 168.
  61. ^ Müller 2010, hlmn. 168–169.
  62. ^ Müller 2010, hlm. 169.
  63. ^ Müller 2010, hlm. 170; Buckler 1989, hlm. 62.
  64. ^ Müller 2010, hlmn. 170–171; Gilley & Worthington 2010, hlm. 187.
  65. ^ Müller 2010, hlmn. 167, 169; Roisman 2010, hlm. 161.
  66. ^ Müller 2010, hlmn. 169, 173–174; Cawkwell 1978, hlm. 84; Errington 1990, hlmn. 38–39.
  67. ^ Müller 2010, hlm. 171; Buckley 1996, hlmn. 470–472; Cawkwell 1978, hlmn. 74–75.
  68. ^ Müller 2010, hlm. 172; Hornblower 2002, hlm. 272; Cawkwell 1978, hlm. 42; Buckley 1996, hlmn. 470–472.
  69. ^ Müller 2010, hlmn. 171–172; Buckler 1989, hlmn. 8, 20–22, 26–29.
  70. ^ Müller 2010, hlm. 173; Cawkwell 1978, hlmn. 62, 66–68; Buckler 1989, hlmn. 74–75, 78–80; Worthington 2008, hlmn. 61–63.
  71. ^ Müller 2010, hlm. 173; Cawkwell 1978, hlm. 44; Schwahn 1931, col. 1193–1194.
  72. ^ Cawkwell 1978, hlm. 86.
  73. ^ Müller 2010, hlmn. 173–174; Cawkwell 1978, hlmn. 85–86; Buckley 1996, hlmn. 474–475.
  74. ^ Müller 2010, hlmn. 173–174; Worthington 2008, hlmn. 75–78; Cawkwell 1978, hlmn. 96–98.
  75. ^ Müller 2010, hlm. 174; Cawkwell 1978, hlmn. 98–101.
  76. ^ Müller 2010, hlmn. 174–175; Cawkwell 1978, hlmn. 95, 104, 107–108; Hornblower 2002, hlmn. 275–277; Buckley 1996, hlmn. 478–479.
  77. ^ Müller 2010, hlm. 175.
  78. ^ Errington 1990, hlm. 227.
  79. ^ Müller 2010, hlmn. 175–176; Cawkwell 1978, hlmn. 114–117; Hornblower 2002, hlm. 277; Buckley 1996, hlm. 482; Errington 1990, hlm. 44.
  80. ^ Mollov & Georgiev 2015, hlm. 76.
  81. ^ Müller 2010, hlm. 176; Cawkwell 1978, hlmn. 136–142; Errington 1990, hlmn. 82–83.
  82. ^ Müller 2010, hlmn. 176–177; Cawkwell 1978, hlmn. 143–148.
  83. ^ Müller 2010, hlm. 177; Cawkwell 1978, hlmn. 167–168.
  84. ^ Müller 2010, hlmn. 177–179; Cawkwell 1978, hlmn. 167–171; see also Hammond & Walbank 2001, hlm. 16 untuk penjelasan selengkapnya.
  85. ^ Olbrycht 2010, hlmn. 348, 351
  86. ^ Olbrycht 2010, hlmn. 347–349
  87. ^ Olbrycht 2010, hlm. 351
  88. ^ a b Müller 2010, hlmn. 179–180; Cawkwell 1978, hlm. 170.
  89. ^ Müller 2010, hlmn. 180–181; lihat pula Hammond & Walbank 2001, hlm. 14 untuk penjelasan selengkapnya.
  90. ^ Müller 2010, hlmn. 181–182; Errington 1990, hlm. 44; Gilley & Worthington 2010, hlm. 186; lihat Hammond & Walbank 2001, hlmn. 3–5 untuk penjelasan soal penangkapan dan pengadilan yudisial dari terdakwa lainnya dalam persekongkolan dalam pembunuhan Philip II dari Makedonia.
  91. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 190; Müller 2010, hlm. 183; Renault 2001, hlmn. 61–62; Fox 1980, hlm. 72; lihat pula Hammond & Walbank 2001, hlmn. 3–5 untuk penjelasan selengkapnya.
  92. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 186.
  93. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 190.
  94. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 190–191; see also Hammond & Walbank 2001, hlmn. 15–16 for further details.
  95. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 191; Hammond & Walbank 2001, hlmn. 34–38.
  96. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 191; Hammond & Walbank 2001, hlmn. 40–47.
  97. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 191; lihat pula Errington 1990, hlm. 91 dan Hammond & Walbank 2001, hlm. 47 untuk penjelasan selengkapnya.
  98. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 191–192; lihat pula Errington 1990, hlmn. 91–92 untuk penjelasan selengkapnya.
  99. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 192–193.
  100. ^ a b c Gilley & Worthington 2010, hlm. 193.
  101. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 193–194; Holt 2012, hlmn. 27–41.
  102. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 193–194.
  103. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 194; Errington 1990, hlm. 113.
  104. ^ a b Gilley & Worthington 2010, hlm. 195.
  105. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 194–195.
  106. ^ Errington 1990, hlmn. 105–106.
  107. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 198.
  108. ^ Holt 1989, hlmn. 67–68.
  109. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 196.
  110. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 199; Errington 1990, hlm. 93.
  111. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 200–201; Errington 1990, hlm. 58.
  112. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 201.
  113. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 201–203.
  114. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 204; lihat pula Errington 1990, hlm. 44 untuk penjelasan selengkapnya.
  115. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 204; lihat pula Errington 1990, hlmn. 115–117 untuk penjelasan selengkapnya.
  116. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 204; Adams 2010, hlm. 209; Errington 1990, hlmn. 69–70, 119.
  117. ^ Gilley & Worthington 2010, hlmn. 204–205; Adams 2010, hlmn. 209–210; Errington 1990, hlmn. 69, 119.
  118. ^ Gilley & Worthington 2010, hlm. 205; lihat pula Errington 1990, hlm. 118 untuk penjelasan selengkapnya.
  119. ^ Adams 2010, hlmn. 208–209; Errington 1990, hlm. 117.
  120. ^ Adams 2010, hlmn. 210–211; Errington 1990, hlmn. 119–120.
  121. ^ Adams 2010, hlm. 211; Errington 1990, hlmn. 120–121.
  122. ^ Adams 2010, hlmn. 211–212; Errington 1990, hlmn. 121–122.
  123. ^ Adams 2010, hlmn. 207 n. #1, 212; Errington 1990, hlmn. 122–123.
  124. ^ Adams 2010, hlmn. 212–213; Errington 1990, hlmn. 124–126.
  125. ^ a b Adams 2010, hlm. 213; Errington 1990, hlmn. 126–127.
  126. ^ Adams 2010, hlmn. 213–214; Errington 1990, hlmn. 127–128.
  127. ^ Adams 2010, hlm. 214; Errington 1990, hlmn. 128–129.
  128. ^ Adams 2010, hlmn. 214–215.
  129. ^ Adams 2010, hlmn. 215–216.
  130. ^ Adams 2010, hlm. 216.
  131. ^ Adams 2010, hlmn. 216–217; Errington 1990, hlm. 129.
  132. ^ Adams 2010, hlm. 217; Errington 1990, hlm. 145.
  133. ^ Adams 2010, hlm. 217; Errington 1990, hlmn. 145–147; Bringmann 2007, hlm. 61.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Online

Cetak

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Templat:EB1911 Poster