Romawi Kuno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Romawi Kuno
Roma
753 SM–476 M


Senātus Populus que Rōmānus
(Senat Beserta Rakyat Romawi)

Wilayah peradaban bangsa Romawi:
Ibu kota Roma, dan beberapa kota lain menjelang keruntuhannya, teristimewa Konstantinopel dan Ravenna.
Bahasa Latin
Bentuk pemerintahan Kerajaan (753–509 SM)
Republik (509–27 SM)
Kekaisaran (27 SM–476 M)
Era sejarah Sejarah kuno
 -  Berdirinya Roma 753 SM
 -  Penggulingan Tarquinus Si Tinggi Hati 509 SM
 -  Octavianus dipermaklumkan menjadi Augustus 27 SM
 -  Runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat 476 M
Warning: Value not specified for "continent"
Romawi Kuno
Roman SPQR banner.svg

Artikel ini adalah bagian dari seri:
Politik dan pemerintahan
Romawi Kuno


Periode

Kerajaan Romawi
753 SM509 SM
Republik Romawi
508 SM27 SM
Kekaisaran Romawi
27 SM seterusnya
Principatus
Dominatus
Tetrarki

Konstitusi Romawi

Konstitusi Kerajaan Romawi
Konstitusi Republik Romawi
Konstitusi Kekaisaran Romawi
Konstitusi Kekaisaran Romawi terakhir
Sejarah konstitusi Romawi
Senat
Majelis legislatif
Hakim eksekutif

Pejabat Negara
Pejabat Negara Luar Biasa
Gelar dan Penghormatan
Kaisar
Hukum dan preseden

Negara lain · Atlas
 Portal politik

Dalam historiografi, Romawi Kuno adalah peradaban bangsa Romawi mulai dari berdirinya kota Roma di Italia pada abad ke-8 sebelum tarikh Masehi sampai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 tarikh Masehi, yakni kurun waktu yang mencakup zaman Kerajaan Romawi (753 – 509 SM), zaman Republik Romawi (509 – 27 SM), dan zaman Kekaisaran Romawi sampai dengan tumbangnya Romawi Barat (27 SM – 476 M).[1] Cikal bakal peradaban ini adalah sebuah permukiman suku bangsa Italik di Jazirah Italia, yang didirikan pada tahun 753 SM dan berkembang menjadi kota Roma, kota yang namanya menjadi cikal bakal dari nama kekaisaran yang menjadikannya ibu kota, sekaligus cikal bakal dari nama peradaban yang dikembangkan dan disebarluaskan oleh kekaisaran itu. Kekaisaran Romawi tumbuh menjadi salah satu kekaisaran terbesar di Dunia Kuno, kendati pusat pemerintahannya tetap berkedudukan di kota Roma, dengan populasi seramai kira-kira 50 sampai 90 juta jiwa (sekitar 20% dari keseluruhan populasi dunia kala itu),[2] dan wilayah seluas 5 juta persegi pada tahun 117 M.[3]

Selama berabad-abad, negara yang didirikan bangsa Romawi bervolusi dari sebuah negara monarki elektif menjadi negara republik kuno yang demokratis, dan selanjutnya menjadi imperium kediktatoran militer semielektif yang kian lama kian autokratis. Melalui perang penaklukan serta asimilasi budaya dan bahasa, Kekaisaran Romawi pada masa jayanya menguasai kawasan pesisir utara Afrika, Mesir, kawasan selatan Eropa, sebagian besar kawasan barat Eropa, Jazirah Balkan, Jazirah Krimea, dan sebagian besar kawasan Timur Tengah, termasuk Syam serta sejumlah daerah di Mesopotamia dan Jazirah Arab. Romawi Kuno kerap disandingkan dengan Yunani Kuno dalam kelompok peradaban Abad Kuno. Budaya serta masyarakat kedua peradaban ini sangat mirip satu sama lain, dan dikenal dengan sebutan Dunia Yunani-Romawi.

Peradaban Romawi Kuno telah berkontribusi terhadap bahasa, agama, masyarakat, teknologi, hukum, politik, pemerintahan, peperangan, kesenian, kesusastraan, arsitektur, dan teknik Zaman Modern. Roma memprofesionalisasi serta mengembangkan kekuatan militernya, dan menciptakan sistem pemerintahan res publica, yang menginspirasi pembentukan negara-negara republik pada Zaman Modern[4][5][6] semisal Amerika Serikat dan Prancis. Peradaban Romawi Kuno sudah mampu melakukan rekayasa yang mengagumkan di bidang teknologi dan arsitektur, misalnya membangun jaringan talang air bersih dan jalan raya, serta membangun monumen-monumen, istana-istana, dan fasilitas-fasilitas umum berukuran raksasa.

Perang Punik melawan Kartago adalah serangkaian perang yang mengantar Roma menjadi salah satu kekuatan dunia. Dalam perang beruntun ini, Roma berhasil merebut pulau-pulau yang strategis, yakni Korsika, Sardinia, dan Sisilia, berhasil merebut Hispania (Spanyol dan Portugal sekarang ini), serta berhasil meluluhlantakkan kota Kartago pada tahun 146 SM. Segala keberhasilan ini menciptakan supremasi Roma di kawasan Laut Tengah. Pada penghujung zaman Republik (27 SM), Roma telah berhasil menundukkan negeri-negeri di sekeliling Laut Tengah bahkan lebih jauh lagi. Wilayah kekuasaannya membentang dari Samudra Atlantik sampai ke Jazirah Arab, dan dari muara Sungai Rhein sampai ke Afrika Utara. Kekaisaran Romawi bermula seiring tamatnya riwayat Republik dan berakhirnya masa kediktatoran militer Augustus Caesar. Perang 721 tahun antara Roma lawan Persia bermula pada tahun 92 SM dengan meletusnya Perang Roma-Partia, dan kelak menjadi konflik terlama sepanjang sejarah umat manusia, serta berdampak besar terhadap masa depan kedua belah pihak.

Pada masa pemerintahan Traianus, luas wilayah Kekaisaran Romawi mencapai puncaknya, membentang dari seantero kawasan Laut Tengah sampai ke pantai Laut Utara di sebelah utara, dan pantai Laut Tengah serta pantai Laut Kaspia di sebelah timur. Adab dan adat Republik mulai memudar pada zaman kekaisaran, manakala perang saudara menjadi peristiwa lumrah yang mengawali kemunculan kaisar baru.[7][8][9] Negara-negara pecahan Kekaisaran Romawi, semisal Kekaisaran Palmira, sempat menyekat wilayah kekaisaran selama masa krisis pada abad ke-3.

Akibat digerogoti kekacauan di dalam negeri dan serangan suku-suku bangsa asing yang hijrah ke wilayahnya, bagian barat Kekaisaran Romawi akhirnya terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan orang barbar yang merdeka pada abad ke-5. Peristiwa keterpecahan ini digunakan para sejarawan sebagai tonggak sejarah yang memisahkan kurun waktu Kuno dalam sejarah sejagat dari kurun waktu "kegelapan" pra-Abad Pertengahan di Eropa. Bagian timur Kekaisaran Romawi bertahan menyintasi abad ke-5, dan tetap hadir sebagai salah satu kekuatan dunia sepanjang "Abad Kegelapan" dan Abad Pertengahan sampai akhirnya tumbang pada tahun 1453. Kendati warga negara Kekaisaran Romawi tidak membeda-bedakan bagian barat dari bagian timur, para sejarawan Zaman Modern lazimnya menggunakan istilah "Kekaisaran Romawi Timur" sebagai sebutan bagi Kekaisaran Romawi yang tersisa pada Abad Pertengahan, guna membedakannya dari Kekaisaran Romawi yang seutuhnya pada Abad Kuno.[10]

Mitos asal usul[sunting | sunting sumber]

Menurut mitos asal usulnya, kota Roma didirikan pada tanggal 21 April 753 SM, di tepi Sungai Tiber, kawasan tengah Jazirah Italia, oleh dua bersaudara kembar Romulus dan Remus, cucu-cucu Numitor, raja orang Latini Alba Longa, keturunan pahlawan besar Troya, Aeneas (bahasa Yunani: Αἰνείας, Aineías).[11] Rhea Silvia, anak perempuan Raja Numitor, adalah ibu kandung si kembar.[12][13] Konon Rhea Silvia berbadan dua setelah digagahi Mars, dewa perang bangsa Romawi, sehingga si kembar Romulus dan Remus pun dianggap sebagai manusia-manusia setengah dewa.

Menurut legenda, kota Roma didirikan pada tahun 753 SM oleh Romulus dan Remus, dua bersaudara kembar yang dibesarkan oleh seekor serigala betina

Raja Numitor dimakzulkan saudara kandungnya, Amulius. Karena khawatir suatu ketika nanti Romulus dan Remus akan merebut kembali singgasana, Amulius menyuruh orang menenggelamkan kedua bayi kembar itu.[13] Seekor serigala betina (atau seorang istri gembala menurut sejumlah riwayat lain) menyelamatkan dan membesarkan mereka. Sesudah beranjak dewasa, si kembar merebut dan menyerahkan kembali singgasana Alba Longa kepada Numitor.[14][13]

Si kembar selanjutnya mendirikan kota mereka sendiri. Malangnya Remus tewas dibunuh Romulus dalam pertengkaran mengenai letak kerajaan yang akan mereka dirikan. Menurut beberapa sumber, keduanya mempertengkarkan soal siapa yang akan menjadi raja, atau siapa yang namanya akan dijadikan nama kota.[15] Nama Romuluslah yang akhirnya menjadi nama kota binaan si kembar.[13] Guna menarik kaum pendatang, Roma menawarkan suaka bagi kaum papa, orang-orang buangan, dan orang-orang yang keberadaannya tidak diharapkan. Kebijakan ini menimbulkan masalah, karena jumlah warga laki-laki terus meningkat, sementara warga perempuan menjadi langka. Romulus melawat kota demi kota dan suku demi suku di sekitar kota Roma dalam rangka mencarikan istri bagi warganya, tetapi Roma sudah telanjur disesaki orang-orang yang tidak disukai sehingga usaha Romulus menemui jalan buntu. Menurut legenda, orang Latini akhirnya mengundang orang Sabini menghadiri perayaan meriah yang mereka selenggarakan, lalu melarikan anak-anak gadis mereka, sehingga orang Latini dan orang Sabini akhirnya berbaur.[16]

Menurut legenda lain yang dicatat oleh sejarawan Yunani, Dionisios dari Halikarnasos, Aeneas memimpin serombongan pengungsi Troya berlayar mencari tempat untuk mendirikan kota Troya yang baru, setelah kota Troya diluluhlantakkan orang-orang Yunani dalam Perang Troya. Setelah mengarungi laut yang bergelora, mereka akhirnya mendarat di tepi Sungai Tiber. Tak seberapa lama menjejaki daratan, para penumpang lelaki sudah ingin kembali berlayar, bertolak belakang dengan keinginan para penumpang perempuan. Roma, salah seorang penumpang perempuan, mengajak perempuan-perempuan lain bersama-sama membakar kapal guna membatalkan pelayaran. Para penumpang lelaki mula-mula memarahi Roma, tetapi akhirnya sadar bahwa tempat persinggahan mereka sesungguhnya layak dijadikan tempat bermukim yang baru. Permukiman yang mereka dirikan di tepi Sungai Tiber diberi nama Roma, sama seperti nama perempuan yang telah membakar kapal mereka.[17]

Pujangga Romawi, Vergilius, meriwayatkan kembali legenda ini dalam syair wiracarita gubahannya, Aeneis. Dikisahkan bahwa Aeneas, si pangeran Troya, telah ditakdirkan dewata menjadi pendiri Troya baru. Para penumpang perempuan juga dikisahkan menolak untuk kembali berlayar, tetapi tidak berlanjut dengan pembangunan permukiman di tepi Sungai Tiber. Sesudah berlabuh di Italia, Aeneas, yang hendak memperistri Lavinia, harus berperang melawan Turnus, yang sudah lebih dahulu mengincar Lavinia. Menurut syair wiracarita ini, raja-raja Alba Longa termasuk nasab Aeneas, sehingga Romulus, pendiri kota Roma, adalah salah seorang keturunannya.

Kekaisaran Romawi TimurKekaisaran Romawi BaratKekaisaran RomawiRepublik RomawiKerajaan Romawi

Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Penari dan musisi, lukisan Etruski pada dinding Makam Macan Tutul di Tarquinia, Italia

Kota Roma tumbuh dari permukiman-permukiman di sekitar dangkalan Sungai Tiber, salah satu titik persimpangan lalu lintas dan perniagaan.[14] Berdasarkan bukti-bukti arkeologi, desa Roma mungkin didirikan pada abad ke-8 SM, kendati mungkin pula sudah didirikan seawal-awalnya pada abad ke-10 SM, oleh para warga suku Latini di Italia, di puncak Bukit Palatium.[18][19]

Bangsa Etruski, yang sudah lebih dahulu mendiami daerah Etruria di sebelah utara, agaknya telah menancapkan kekuasaan politik di kawasan itu pada penghujung abad ke-7 SM, dan menjadi semacam golongan elit kaum ningrat serta penguasa monarki. Kekuasaan bangsa Etruski agaknya pudar pada penghujung abad ke-6 SM, dan pada waktu inilah suku-suku Latini dan Sabini terdahulu menghidupkan kembali pemerintahan mereka dengan menciptakan sebuah republik dengan lebih banyak batasan bagi pemimpin dalam menjalankan kekuasaan.[20]

Tradisi bangsa Romawi dan bukti arkeologi mengarah pada sebuah lingkungan di Forum Romanum sebagai tempat raja memerintah sekaligus sebagai pusat keagamaan yang mula-mula. Numa Pompilius, Raja Roma yang kedua, pengganti Romulus, mengawali kegiatan pembangunan kota Roma dengan mendirikan regia (keraton), dan asrama perawan Vesta.

Republik[sunting | sunting sumber]

Patung dada Lucius Iunius Brutus di Museum Capitolini, patung perunggu Romawi, abad ke-4 sampai penghujung abad ke-3 SM

Menurut tradisi dan pujangga-pujangga terkemudian semisal Livius, Republik Romawi bermula sekitar tahun 509 SM,[21] manakala Raja Roma ke-7, Tarquinus Si Tinggi Hati, digulingkan oleh Lucius Iunius Brutus, dan suatu sistem pemerintahan baru dibentuk sebagai pengganti sistem monarki, dengan majelis magistratus (pejabat negara) sebagai para penyelenggara pemerintahan, yang dipilih tiap-tiap tahun untuk mengepalai berbagai bidang urusan ketatanegaraan.[22] Undang-undang dasar negara Republik Romawi mengatur pemisahan dan perimbangan kewenangan. Para magistratus terpenting adalah dua orang consul, yang bersama-sama menjalankan kewenangan eksekutif semisal imperium, yakni kewenangan memerintah bala tentara.[23] Para consul harus bekerja sama dengan senatus. Mula-mula senatus adalah dewan penasihat yang beranggotakan orang-orang dari kalangan ningrat, yakni kaum patricius, tetapi kewenangan maupun jumlah anggotanya lama-kelamaan semakin besar.[24]

Para magistratus lain adalah tribunus, quaestor, aedilis, praetor, dan censor.[25] Keanggotaan majelis magistratus mula-mula hanya terbuka bagi kaum patricius, tetapi di kemudian hari terbuka pula bagi kaum plebs, yakni kalangan rakyat jelata.[26] Sidang-sidang pemungutan suara di negara Republik Romawi adalah comitia centuriata (sidang seratus warga), yang melakukan pemungutan suara untuk mengambil keputusan terkait pemakluman perang, kesepakatan damai, dan pemilihan orang-orang yang akan menduduki jabatan-jabatan terpenting, serta comitia tributa (sidang warga suku), yang melakukan pemungutan suara untuk memilih orang-orang yang akan menduduki jabatan-jabatan yang tidak begitu penting.[27]

Italia (menurut tapal batas saat ini) pada tahun 400 SM

Pada abad ke-4 SM, Roma diserang orang Galia, yang kala itu telah memperluas wilayah kekuasaannya ke Jazirah Italia melintasi Lembah Po dan menerobos masuk ke Etruria. Pada tanggal 16 Juli 390 SM, bala tentara Galia di bawah pimpinan seorang kepala suku bernama Brennus menggempur orang Romawi di tepi Sungai Allia, hanya sepuluh mil ke utara dari kota Roma. Brennus berhasil mengalahkan orang Romawi, dan orang Galia pun langsung bergerak menuju Roma. Sebagian besar warga Roma telah mengungsi, tetapi sejumlah warga berkubu di Bukit Capitolinus, dan bertekad melawan musuh sampai titik darah yang penghabisan. Orang Galia menjarah dan membumihanguskan kota Roma, lalu mengepung Bukit Capitolinus. Aksi pengepungan berlangsung selama tujuh bulan sampai orang Galia bersedia berdamai dengan orang Romawi dengan imbalan 1000 pon (450 kg) emas.[28] Menurut legenda terkemudian, petugas Romawi yang mengawasi kegiatan penimbangan emas mendapati orang Galia menggunakan dacin yang sudah diakali. Orang Romawi pun segera menghunus senjata dan mengalahkan orang Galia. Panglima mereka, Marcus Furius Camillus, memuji kegigihan orang Romawi dengan kalimat "Roma membeli kemerdekaannya dengan besi, bukan dengan emas."[29]

Bangsa-bangsa lain di Jazirah Italia, termasuk orang Etruski, satu demi satu ditundukkan oleh orang Romawi.[30] Ancaman terakhir terhadap hegemoni Romawi di Jazirah Italia muncul tatkala Tarentum, salah satu koloni orang Yunani yang cukup besar, mendatangkan Piros dari Epiros (bahasa Latin: Pyrrhus Epirotes; bahasa Yunani: Πύρρος της Ηπείρου, Piros tis Ipeirou) pada tahun 281 SM untuk melawan orang Romawi, tetapi berakhir dengan kegagalan.[31][30] Orang Romawi memantapkan keberhasilan aksi-aksi penaklukan mereka dengan mendirikan koloni-koloni Romawi di tempat-tempat strategis, sehingga menciptakan rentang kendali yang kukuh mencengkeram daerah-daerah taklukan mereka di Jazirah Italia.[30]

Perang Punik[sunting | sunting sumber]

Pergeseran wilayah kekuasaan Romawi dan Kartago selama Perang Punik
  Wilayah Kartago
  Wilayah Romawi
Salah satu aksi pengepungan bangsa Romawi yang paling masyhur adalah aksi pengepungan Numantia, kubu pertahanan orang Keltiberia di tengah kawasan utara wilayah Spanyol sekarang ini, oleh Scipio Aemilianus pada tahun 133 SM[32]
Patung dada Scipio Africanus Tua di Museum Arkeologi Nasional Napoli (Nomor Inventaris 5634),
diperkirakan berasal dari pertengahan abad pertama SM[33]
Ditemukan dalam penggalian di Vila Papirus, situs arkeologi Herculaneum, oleh Karl Jakob Weber, 1750–65[34]

Pada abad ke-3 SM, Roma mendapat lawan baru yang tangguh, yakni Kartago, negara kota bangsa Fenisia yang kaya lagi makmur dan berhasrat menguasai seluruh kawasan sekitar Laut Tengah. Roma dan Kartago pernah bersekutu pada zaman Piros dari Epiros, musuh bersama mereka, tetapi hegemoni Roma di daratan Italia dan kejayaan bahari Kartago melambungkan masing-masing kota menjadi dua kekuatan utama di sebelah barat kawasan Laut Tengah, dan benturan kepentingan kedua kota atas kawasan Laut Tengah tak ayal berujung sengketa.

Perang Punik I meletus pada tahun 264 SM, manakala kota Messana meminta bantuan Kartago untuk menuntaskan pertikaian dengan Hieron II dari Sirakusa (bahasa Latin: Hiero Syracusanus; bahasa Yunani: Ἱέρων των Συρακουσών, Hieron ton Sirakouson). Setelah orang Kartago turun tangan, Messana meminta Roma mengusir mereka. Roma melibatkan diri dalam perang ini karena Sirakusa dan Messana terlampau dekat dengan kota-kota Yunani di kawasan selatan Italia yang baru saja takluk, dan Kartago kini mampu menyerang masuk ke dalam wilayah kekuasaan Romawi. Selain itu, Roma juga juga berharap dapat memasukkan Sisilia ke dalam wilayah kekuasaannya.[35]

Kendati sudah biasa bertempur di darat, kali ini orang Romawi harus bertempur pula di laut untuk mengalahkan seteru barunya. Kartago adalah sebuah negara bahari, sementara negara Republik Romawi tidak memiliki cukup kapal maupun pengalaman tempur di laut, sehingga mustahil dapat memenangkan perang tanpa lebih dahulu bersusah payah dalam waktu yang lama. Kendati demikian, Roma berhasil mengalahkan dan memaksa Kartago untuk berdamai sesudah 20 tahun lebih saling memerangi. Salah satu penyebab meletusnya Perang Punik II[36] adalah syarat membayar pampasan perang yang terpaksa disetujui Kartago demi tercapainya kesepakatan damai seusai Perang Punik I.[37]

Perang Punik II termasyhur karena kehebatan panglima-panglima perangnya, yakni Hannibal Barca (bahasa Punik: 𐤇𐤍𐤁𐤏𐤋 𐤁𐤓𐤒, Hanibaʿal Baraq) dan Hasdrubal Barca (bahasa Punik: 𐤏𐤆𐤓‬‬𐤁‬𐤏𐤋 𐤁𐤓𐤒, ʿAzrubaʿal Baraq) di kubu Kartago, serta Marcus Claudius Marcellus, Quintus Fabius Maximus Verrucosus, dan Publius Cornelius Scipio di kubu Roma. Semasa berlangsungnya Perang Punik II, Roma juga terlibat dalam Perang Makedonia I. Perang Punik II bermula dengan invasi nekat atas Hispania oleh Hannibal Barca, Senapati Kartago yang pernah memimpin aksi-aksi militer Kartago di Sisilia pada Perang Punik I. Hannibal, putra Hamilcar Barca (bahasa Punik: 𐤇𐤌𐤋𐤒𐤓𐤕 𐤁𐤓𐤒, Hamilqart Baraq), bergerak cepat melintasi Hispania menuju Pegunungan Alpen Italia, sehingga menggentarkan sekutu-sekutu Roma di Italia. Cara terbaik menggagalkan usaha Hannibal untuk membuat orang-orang Italia mengkhianati Roma adalah memperlambat laju pergerakan bala tentara Kartago dengan serangan-serangan gerilya guna memangkas kekuatan tempur mereka sedikit demi sedikit. Muslihat ini diusulkan oleh Quintus Fabius Maximus sehingga akhirnya terkenal dengan sebutan Muslihat Fabius, dan Quintus Fabius Maximus sendiri kelak dijuluki Cunctator (Si Penghambat). Akibat muslihat ini, Hannibal tidak dapat menggerakkan cukup banyak kota di Italia untuk melawan Roma maupun untuk menambah kekuatan tempurnya yang sudah menyusut akibat aksi-aksi gerilya Romawi, sehingga jumlah prajurit dan alat tempurnya tidak cukup memadai untuk dikerahkan mengepung Roma.

Kendati demikian, Hanibal tetap saja merajalela di Italia sampai 16 tahun lamanya. Setelah Hannibal diperkirakan sudah kehabisan perbekalan, orang Romawi pun mengeluarkan jagoan mereka, Publius Cornelius Scipio. Senapati Romawi ini berhasil mengalahkan adik Hannibal, Hasdrubal Barca, di daerah yang kini menjadi wilayah negara Spanyol, dengan maksud meronggong daerah sekitaran ibu kota musuh yang tidak dijaga sehingga Hannibal terpaksa harus pulang untuk mempertahankan kota Kartago. Perang Punik II berakhir dengan kemenangan mutlak Romawi dalam Pertempuran Zama pada bulan Oktober 202 SM di Afrika, yang membuat Publius Cornelius Scipio mendapatkan agnomen Africanus. Sekalipun banyak berkorban, Roma juga mendapatkan banyak keuntungan, yakni kedaulatan atas Hispania berkat aksi penaklukan Publius Cornelius Scipio, dan kedaulatan atas Sirakusa, daerah kekuasaan terakhir bangsa Yunani di Pulau Sisilia, berkat aksi penaklukan Marcus Claudius Marcellus.

Setengah abad lebih sesudah peristiwa-peristiwa ini, Kartago sudah benar-benar terpuruk, dan Roma sudah tidak lagi memusingkan seteru Afrikanya itu. Perhatian Republik Romawi kala itu sepenuhnya diarahkan pada kerajaan-kerajaan Helenistik di Yunani dan pemberontakan-pemberontakan di Hispania. Kendati demikian, sesudah melunasi pampasan perang, Kartago merasa tidak perlu lagi tunduk dan patuh pada Roma, berlawanan dengan pandangan senat Romawi. Ketika diinvasi Numidia pada tahun 151 SM, Kartago meminta Roma turun tangan. Duta-duta pun diutus ke Kartago, antara lain Marcus Porcius Cato. Setelah menginsyafi bahwa Kartago masih berpeluang bangkit dari keterpurukan dan kembali berjaya, Marcus Porcius Cato senantiasa mengakhiri setiap pidatonya, apa pun isinya, dengan kalimat "Ceterum censeo Carthaginem esse delendam" (akhir kata, menurut hemat saya, Kartago harus dibinasakan).

Perang Punik III meletus pada tahun 149 SM, ketika Roma memaklumkan perang melawan Kartago, yang telah lancang memerangi Numidia tanpa persetujuan Roma. Dengan mengerahkan seluruh warganya, Kartago mampu menangkis serangan pertama Roma. Kendati demikian, Kartago tidak cukup tangguh untuk membendung serangan Scipio Aemilianus, yang meluluhlantakkan seantero kota beserta tembok-temboknya, memperbudak dan menjual habis seluruh warganya, serta menegakkan kedaulatan Romawi di atas bekas wilayah kekuasaan Kartago, yang menjadi cikal bakal dari Provinsi Afrika jajahan Romawi. Dengan demikian, zaman Perang Punik pun berakhir. Semua perang ini membuat Roma mendapatkan daerah-daerah jajahan seberang laut yang pertama (Sisilia, Hispania, dan Afrika), melambungkan Roma menjadi salah satu negara kekaisaran utama, dan menjadi awal dari berakhirnya demokrasi. [38][39]

Tamatnya republik[sunting | sunting sumber]

Seusai mengalahkan Makedonia dan Kekaisaran Wangsa Seleukos pada abad ke-2 SM, orang Romawi menjadi bangsa yang paling unggul di Laut Tengah.[40][41] Penaklukan kerajaan-kerajaan Helenistik ini kian mendekatkan budaya Romawi dengan budaya Yunani, sehingga membuat para petinggi Romawi meninggalkan peri kehidupan khas orang desa, lalu mulai bergaya hidup mewah dan berperilaku layaknya warga kota besar. Dari sudut pandang militer, Roma kala itu adalah sebuah kekaisaran yang padu, dan tidak punya musuh besar.

Gaius Marius, salah seorang senapati sekaligus politikus Romawi yang secara dramatis menata ulang militer Romawi

Dominasi asing menimbulkan pertikaian di dalam negeri. Para senator menggelembungkan pundi-pundi pribadi dengan mengisap kekayaan provinsi-provinsi jajahan. Para prajurit, yang kebanyakan adalah petani-petani kecil, harus menjalani masa bakti yang lebih lama di luar negeri sehingga ladang-ladang mereka terbengkalai. Meningkatnya ketergantungan terhadap tenaga budak belian dan pertambahan jumlah latifundium memperkecil lapangan kerja tenaga upahan.[42][43]

Pendapatan negara dari jarah, merkantilisme di provinsi-provinsi baru, dan sistem ijon menciptakan peluang-peluang ekonomi baru bagi para hartawan, sehingga muncullah suatu golongan baru dalam masyarakat, yakni kalangan saudagar yang disebut Eques (kesatria).[44] Lex Claudia (Undang-Undang Claudius) melarang anggota-anggota senat untuk berkiprah di bidang perniagaan, sehingga kendati kaum Eques secara teori boleh menjadi anggota senat, kiprah mereka di bidang politik sangat dibatasi.[44][45] Senat tak henti-hentinya berbantah-bantahan, berulang kali menghalangi usaha-usaha reformasi agraria yang penting, dan menolak memberi peluang yang lebih besar bagi kaum Eques untuk urun rembuk dalam urusan pemerintahan.

Gerombolan-gerombolan warga kota pengangguran, yang dikendalikan oleh senator-senator yang saling bersaing, mengintimidasi para pemilih dengan kekerasan. Keadaan semacam ini mencapai puncaknya pada akhir abad ke-2 SM, manakala Gracchus bersaudara, dua orang tribun adik-beradik, memperjuangkan pengesahan dan penerapan undang-undang reformasi pertahanan, yang mengatur tentang pembagi-bagian kembali tanah-tanah milik kaum Patricius kepada kaum Plebs. Gracchus bersaudara tewas dibunuh orang, dan senat meloloskan rancangan undang-undang baru yang mementahkan kembali semua jerih payah Gracchus bersaudara.[46] Peristiwa ini menimbulkan keretakan hubungan yang terus melebar di antara kaum Plebs (kubu populares) dan kaum Eques (kubu optimates).

Gaius Marius dan Lucius Cornelius Sulla[sunting | sunting sumber]

Gaius Marius, seorang homo novus, yang belum lama terjun ke bidang politik berkat sokongan keluarga Metellus, tampil menjadi salah seorang tokoh pemimpin Republik Romawi, ketika terpilih menjadi konsul untuk pertama kalinya pada tahun 107 SM, setelah mengemukakan bahwa mantan induk semangnya, Quintus Caecilius Metellus Numidicus, tidak mampu mengalahkan dan meringkus Iugurtha, Raja Numidia. Sesudah terpilih, Gaius Marius pun mulai melaksanakan usaha-usaha reformasi di bidang militer. Ketika membentuk pasukan dalam rangka memerangi Iugurtha, ia merekrut para warga termiskin (suatu inovasi), dan banyak pula warga tak berlahan yang diterima menjadi prajurit. Kebijakan semacam ini memupuk kesetiaan bala tentara pada senapati. Seumur hidupnya, Gaius Marius terpilih menjadi konsul sebanyak tujuh kali. Belum pernah ada orang sebelum Gaius Marius yang terpilih kembali menjadi konsul sampai tujuh kali.

Ketika itulah Gaius Marius mulai bertikai dengan Lucius Cornelius Sulla. Gaius Marius, yang hendak menangkap Iugurtha, meminta Bocchus, menantu Iugurtha sendiri, untuk menyerahkan Iugurtha kepadanya. Ketika niat Gaius Marius tidak tercapai, Lucius Cornelius Sulla, yang kala itu adalah salah seorang perwira bawahan Gaius Marius, nekat menerjang bahaya demi dapat bertatap muka secara langsung Bocchus dan berhasil membujuknya untuk untuk menyerahkan Iugurtha. Keberhasilan Lucius Cornelius Sulla sangat menggusarkan Gaius Marius karena sekian banyak seterunya terus-menerus memanas-manasi Lucius Cornelius Sulla untuk menentangnya. Kendati demikian, Gaius Marius tetap saja terpilih menjadi konsul sampai lima kali berturut-turut dari tahun 104 sampai dengan tahun 100 SM, karena Roma masih membutuhkan kehadiran seorang pemimpin militer untuk menundukkan orang Kimbri dan orang Teuton, yang mengancam ketenteraman Roma.

Sesudah Gaius Marius pensiun, Roma untuk beberapa waktu lamanya dapat menikmati masa damai. Pada kurun waktu inilah para socius (sekutu) di Italia meminta pengakuan dan hak suara selaku warga negara Republik Romawi. Tokoh pembaharu, Marcus Livius Drusus, mendukung pengabulan permintaan mereka melalui undang-undang tetapi ia tewas dibunuh orang, dan para socius bangkit memberontak melawan Roma dalam Perang Sekutu. Ketika kedua konsul gugur, Gaius Marius diangkat menjadi panglima perang bersama-sama dengan Lucius Iulius Caesar dan Lucius Cornelius Sulla.[47]

Seusai Perang Sekutu, Gaius Marius dan Lucius Cornelius Sulla menjadi tokoh-tokoh militer terkemuka di Roma, dan para pendukung mereka saling berseteru memperebutkan kekuasaan. Pada tahun 88 SM, Lucius Cornelius Sulla terpilih menjadi konsul untuk pertama kalinya, dan tugas perdananya adalah mengalahkan Mitridates VI dari Pontus, yang berniat menguasai bagian timur dari wilayah kekuasaan bangsa Romawi. Kendati demikian, para pendukung Gaius Marius berhasil memperjuangkan pengangkatannya menjadi senapati di luar kemauan Lucius Cornelius Sulla maupun Senat, sehingga mengobarkan amarah Lucius Cornelius Sulla. Demi mengukuhkan kekuasaannya sendiri, Lucius Cornelius Sulla mengambil suatu langkah yang mengejutkan sekaligus melanggar hukum, yakni memimpin perbarisan legiun-legiunnya menuju Roma, membunuh semua orang yang menunjukkan keberpihakan pada Gaius Marius, menancapkan kepala korban-korbannya pada galah, lalu dipajang di Forum Romanum. Pada tahun berikutnya, yakni tahun 87 SM, Gaius Marius, yang tadinya lari menghindari aksi militer Lucius Cornelius Sulla, pulang ke Roma selagi Lucius Cornelius Sulla sibuk berperang di Yunani. Ia merebut kekuasaan bersama-sama dengan Konsul Lucius Cornelius Cinna, membunuh konsul yang satunya lagi, yakni Gnaeus Octavius, dan menjadi konsul untuk ketujuh kalinya. Dengan maksud membangkitkan amarah Lucius Cornelius Sulla, Gaius Marius dan Lucius Cornelius Cinna membantai orang-orang yang mendukung Lucius Cornelius Sulla sebagai bentuk balas dendam atas pembantaian para pendukung Gaius Marius.[47][48]

Gaius Marius wafat pada tahun 86 BC, karena usia yang sudah lanjut maupun akibat kondisi kesehatan yang memburuk, hanya beberapa bulan sesudah merebut kekuasaan. Lucius Cornelius Cinna berkuasa mutlak sampai wafat pada tahun 84 SM. Sepulangnya dari medan perang di bagian timur wilayah kekuasaan Romawi, Lucius Cornelius Sulla dengan leluasa mengukuhkan kekuasaannya. Pada tahun 83 SM, untuk kedua kalinya ia memimpin perbarisan menuju Roma dan meneror seisi kota. Ribuan patricius, eques, dan senator dieksekusi mati. Lucius Cornelius Sulla juga menjadi diktator sampai dua kali masa jabatan, dan menjadi sekali menjadi konsul. Masa pemerintahannya merupakan pangkal dari krisis dan kemerosotan Republik Romawi.[47]

Gaius Iulius Caesar dan Triumviratus I[sunting | sunting sumber]

Pendaratan bangsa Romawi di Kent pada tahun 55 SM. Kedatangan 100 kapal dan dua legiun tentara Romawi di bawah pimpinan Gaius Iulius Caesar disambut dengan perlawanan sengit dari warga pribumi, mungkin sekali di dekat Deal. Setelah kapal-kapalnya binasa diamuk badai dan bala tentara yang dipimpinnya berhasil merangsek masuk ke daerah pedalaman, Gaius Iulius Caesar menarik mundur pasukannya ke Galia melalui Selat Inggris. Telik sandi pun disebar dari Galia, dan pada tahun berikutnya, Iulius Caesar kembali menginvasi Inggris dengan lebih bersungguh-sungguh daripada sebelumnya.

Pada pertengahan abad pertama SM, perpolitikan Romawi Kuno dilanda kemelut. Gelangang politik di Roma menjadi ajang pertarungan dua kubu, yakni kubu Populares yang hendak mencari dukungan rakyat, dan kubu Optimates yang hendak mempertahankan hak istimewa kaum ningrat sebagai penyelenggara negara. Lucius Cornelius Sulla menyingkirkan semua tokoh pimpinan kubu Populares, dan usaha perombakan undang-undang dasar yang dilakukannya menghilangkan semua kewenangan (misalnya kewenangan Tribunus Plebis, tribun dari kaum Plebs) yang mendukung kubu Populares. Sementara itu, tekanan sosial dan ekonomi terus meningkat. Roma telah berubah menjadi sebuah metropolis yang dihuni kalangan ningrat kaya raya, para pemburu kekuasaan yang terlilit utang, dan sehimpunan besar kaum buruh yang seringkali terdiri atas petani-petani miskin. Kelompok-kelompok masyarakat kalangan buruh mendukung rencana makar Senator Lucius Sergius Catilina. Rencana makar gagal terwujud karena Konsul Marcus Tullius Cicero buru-buru menangkap dan menghukum mati para pemimpin gerakan makar.

Di tengah segala ingar-bingar ini muncul Gaius Iulius Caesar, tokoh dari kalangan ningrat yang tidak bergelimang harta. Bibinya yang bernama Iulia adalah istri Gaius Marius,[49] sementara ia sendiri menunjukkan keberpihakan pada kubu Populares. Demi mendapatkan kekuasaan, Gaius Iulius Caesar mendamaikan dua tokoh terkuat di Roma yang saling berseteru, yakni Marcus Licinius Crassus, yang sudah banyak berjasa memberi bantuan dana kepadanya saat baru merintis karier, dan Gnaeus Pompeius, yang ia ambil jadi menantu. Bersama kedua orang kuat Roma ini, ia membentuk sebuah persekutuan tidak resmi yang disebut Triumviratus (ketriwiraan). Rancangan ini memuaskan semua pihak. Marcus Licinius Crassus, hartawan terkaya di Roma, menjadi semakin kaya dan akhirnya berhasil menduduki jabatan senapati tinggi, Gnaeus Pompeius kian leluasa mempengaruhi senat, sementara Gaius Iulius Caesar sendiri mendapatkan jabatan konsul dan jabatan senapati Romawi di Galia.[50] Selama masih seiya sekata, ketiga tokoh ini adalah penguasa-penguasa de facto Republik Romawi.

Pada tahun 54 SM, putri Gaius Iulius Caesar, istri Gnaeus Pompeius, wafat saat bersalin, sehingga terputuslah satu mata rantai pengikat persekutuan triwira. Pada tahun 53 SM, Marcus Licinius Crassus menginvasi Partia dan gugur dalam Pertempuran Haran. Triumviratus pun tercerai berai dengan wafatnya Marcus Licinius Crassus, yang sebelumnya menjadi penengah antara Gaius Iulius Caesar dan Gnaeus Pompeius Magnus. Tanpa kehadirannya, kedua senapati Romawi ini pun mulai saling sikut berebut kekuasaan. Gaius Iulius Caesar menaklukkan Galia, menghimpun harta berlimpah, dihormati di Roma, dan dijunjung tinggi oleh legiun-legiun yang sudah kenyang asam garam pertempuran. Ia pun kian dipandang sebagai lawan berat oleh Gnaeus Pompeius, dan dibenci banyak tokoh kubu Optimates. Karena yakin bahwa Gaius Iulius Caesar dapat dijegal dengan cara-cara yang sah, para kaki tangan Gnaeus Pompeius bersiasat memisahkan Gaius Iulius Caesar dari legiun-legiunnya sebagai langkah awal dari usaha menyeretnya ke hadapan mahkamah, memiskinkannya, dan menjatuhkan hukuman buang padanya.

Untuk melawan nasib buruk yang sudah menunggunya, Gaius Iulius Caesar memimpin pasukannya menyeberangi Sungai Rubico dan menginvasi Roma pada tahun 49 SM. Gnaeus Pompeius dan para kaki tangannya kabur meninggalkan Jazirah Italia, diburu Gaius Iulius Caesar. Pertempuran Farsalos adalah kemenangan yang gilang gemilang bagi Gaius Iulius Caesar. Dalam pertempuran ini dan dalam aksi-aksi militer lainnya, ia menyingkirkan seluruh tokoh pimpinan kubu Optimates, yakni Metellus Scipio, Cato Muda, dan putra Gnaeus Pompeius yang juga bernama Gnaeus Pompeius. Gnaeus Pompeius senior tewas terbunuh di Mesir pada tahun 48 SM. Dengan demikian, tinggal Gaius Iulius Caesar seorang diri menjadi orang kuat Roma sekaligus sasaran kebencian banyak tokoh ningrat. Ia diserahi banyak jabatan dan dianugerahi banyak penghargaan. Hanya dalam lima tahun, ia sudah menduduki jabatan konsul sebanyak empat kali, jabatan diktator biasa sebanyak dua kali, dan jabatan diktator istimewa sebanyak dua kali, yang pertama untuk masa jabatan sepuluh tahun, sedangkan yang kedua untuk seumur hidup. Ia tewas dibunuh komplotan Liberator pada tahun 44 SM, bertepatan dengan Idus Martiae (hari raya dewa Mars).[51]

Octavianus dan Triumviratus II[sunting | sunting sumber]

Pertempuran Aktion, karya Laureys a Castro, dilukis pada tahun 1672, Museum Bahari Nasional, London

Terbunuhnya Gaius Iulius Caesar menimbulkan kekacauan politik dan sosial di Roma. Tanpa kepemimpinannya selaku diktator, pemerintahan Roma dijalankan oleh sahabat sekaligus rekan kerjanya, Marcus Antonius. Tak lama kemudian, Octavius, anak angkat Gaius Iulius Caesar berdasarkan surat wasiatnya, tiba di Roma. Octavianus (para sejarawan menyamakan Octavius dengan Octavianus berdasarkan tata nama orang Romawi) berusaha merapat pada kubu pro mendiang Caesar. Pada tahun 43 SM, bersama Marcus Antonius dan Marcus Aemilius Lepidus, sahabat karib mendiang,[52] ia membentuk persekutuan Triumviratus II melalui undang-undang. Persekutuan ini direncanakan berlaku sampai lima tahun. Saat Triumviratus II terbentuk, 130–300 orang senator dieksekusi mati, dan harta kekayaan mereka disita, karena diputus bersalah telah mendukung komplotan Liberator.[53]

Pada tahun 42 SM, senat mempermaklumkan keilahian Gaius Iulius Caesar dengan gelar Divus Iulius (Dewata Iulius), sehingga Octavianus selaku ahli warisnya pun disebut Divi Filius (Putra Dewata).[54] Pada tahun yang sama Octavianus dan Marcus Antonius berhasil mengalahkan para pembunuh Gaius Iulius Caesar sekaligus pemimpin komplotan Liberator, yakni Marcus Iunius Brutus dan Gaius Cassius Longinus, dalam Pertempuran Filipi. Triumviratus II terkenal dengan proscriptio, maklumat pelaknatan sebagai musuh negara, yang diterbitkannya bagi banyak senator dan tokoh-tokoh kaum eques. Selepas pemberontakan adik Marcus Antonius, Lucius Antonius, lebih dari 300 orang senator dan tokoh kaum eques yang terlibat dieksekusi mati pada hari Idus Martiae, kendati Lucius Antonius sendiri tidak dieksekusi mati.[55] Triumviratus II mengeluarkan maklumat pelaknatan terhadap sejumlah tokoh penting, termasuk Marcus Tullius Cicero, orang yang dibenci Marcus Antonius;[56] Quintus Tullius Cicero, adik Marcus Tullius Cicero; dan Lucius Iulius Caesar, saudara sepupu sekaligus sahabat Gaius Iulius Caesar yang mendukungMarcus Tullius Cicero. Kendati demikian, Lucius Iulius Caesar akhirnya diberi pengampunan, mungkin atas permintaan kakaknya yang bernama Iulia, ibu dari Marcus Antonius.[57]

Triumviratus II membagi-bagi wilayah kekuasaan Republik Romawi menjadi daerah-daerah kekuasaan ketiga anggotanya. Marcus Aemilius Lepidus mendapatkan Provinsi Afrika, Marcus Antonius mendapatkan provinsi-provinsi di sebelah timur, sementara Octavianus tetap tinggal di Italia serta memerintah atas Hispania dan Galia]]. Masa ikatan persekutuan Triumvirat II berakhir pada tahun 38 BC tetapi diperbaharui untuk lima tahun lagi. Kendati demikian, sudah hubungan baik antara Octavianus dan Marcus Antonius sudah retak, dan Marcus Aemilius Lepidus dipaksa mengundurkan diri pada tahun 36 SM setelah mengkhianati Octavianus di Sisilia. Pada akhir masa ikatan persekutuan, Marcus Antonius tinggal di Mesir, yang kala itu merupakan sebuah kerajaan yang merdeka dan makmur di bawah daulat kekasih Marcus Antonius, yakni Ratu Kleopatra VII. Hubungan asmara Marcus Antonius dan Ratu Kleopatra dipandang sebagai pengkhianatan terhadap negara, karena Kelopatra adalah kepala negara asing. Selain itu, gaya hidup Marcus Antonius dinilai kelewat berfoya-foya dan terlampau keyunani-yunanian bagi seorang pejabat negara Republik Romawi.[58] Setelah peristiwa Penghibahan di Aleksandria, yang membuat Ratu Kleopatra mendapatkan gelar "Ratu Segala Raja", dan anak-anak Marcus Antonius dari Kleopatra mendapatkan gelar penguasa atas daerah-daerah di sebelah timur yang baru saja ditaklukkan, pecah perang antara Octavianus dan Marcus Antonius. Octavianus membinasakan bala tentara Mesir dalam Pertempuran Aktion pada tahun 31 SM. Marcus Antonius dan Kleopatra mati bunuh diri. Mesir ditundukkan di bawah kedaulatan Romawi, dan suatu zaman baru pun bermula bagi bangsa Romawi.

Kekaisaran[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 27 SM, saat berumur 36 tahun, Octavianus adalah satu-satunya pemimpin bangsa Romawi. Pada tahun yang sama, ia menamakan dirinya Augustus (Yang Mulia).

Militer[sunting | sunting sumber]

Templat:Militer Romawi

Replika modern dari zirah jenis lorica segmentata, dikenakan serangkai dengan baju halkah sesudah abad pertama tarikh Masehi
Rekonstruksi menara Romawi di LimesTaunus, Jerman

Sebagaimana angkatan bersenjata negara-negara kota pada zamannya yang terpengaruh peradaban Yunani, angkatan bersenjata Romawi terdahulu (ca. tahun 500 SM) adalah barisan militia warga kota yang menerapkan siasat perang ala hoplites. Jumlah personelnya tidak seberapa (populasi laki-laki merdeka yang layak bertempur kala itu berjumlah sekitar 9.000 jiwa) dan ditata menjadi lima golongan prajurit, sama seperti lima golongan Comitia Centuriata (sidang majelis seratus warga), lembaga politik warga Roma. Tiga pasukan beranggotakan para hoplites (prajurit berperlengkapan tombak dan perisai), dan dua pasukan beranggotakan para prajurit pejalan kaki bersenjata ringan. Angkatan bersenjata Romawi terdahulu terbatas siasat tempurnya, dan pada dasarnya disiagakan untuk bertahan.[59][60][61]

Pada abad ke-3 SM, bangsa Romawi meninggalkan gelar pasukan hoplites dan beralih ke suatu tatanan yang lebih luwes, yakni satuan-satuan beranggotakan 120 (kadang-kadang 60) prajurit yang disebut manipulus, yang mampu berolah gerak secara lebih mandiri di medan tempur. Tiga puluh satuan manipulus dalam tiga barisan berikut pasukan-pasukan bantu merupakan satu legio (legiun), dengan jumlah keseluruhan antara 4.000 dan 5.000 prajurit.[59][60]

Satu legiun Republik Romawi terdahulu terdiri atas lima macam pasukan dengan perlengkapan dan posisi yang berbeda dalam gelar pasukan, yakni tiga baris manipulus pejalan kaki bersenjata berat (barisan hastati, barisan principes, dan barisan triarii), sepasukan prajurit pejalan kaki bersenjata ringan (velites), dan sepasukan prajurit berkuda (equites). Seiring pertumbuhan negara, orientasi angkatan bersenjata pun bergeser dari pertahanan ke penyerangan, dan sikapnya pun menjadi jauh lebih garang terhadap negara-negara kota di sekitarnya.[59][60]

Pada masa-masa awal berdirinya Republik Romawi, satu legiun berkekuatan penuh sewajarnya beranggotakan 4.000 sampai 5.000 prajurit, terdiri atas 3.600 sampai 4.800 prajurit pejalan kaki bersenjata berat, beberapa ratus prajurit pejalan kaki bersenjata ringan, dan beberapa ratus prajurit berkuda.[59][62][63] Legiun-legiun seringkali sangat kekurangan anggota, baik karena kegagalan perekrutan angota baru maupun karena kehilangan anggota lama yang mengalami kecelakaan, menjadi korban pertempuran, terserang penyakit, atau melakukan desersi. Semasa perang saudara, legiun-legiun Gnaeus Pompeius di wilayah timur berkekuatan penuh karena baru saja direkrut, sementara kekuatan tempur legiun-legiun Gaius Iulius Caesar kebanyakan jauh di bawah angka wajar selepas masa bakti di Galia. Keadaan yang sama juga berlaku pada pasukan-pasukan bantu masing-masing.[64][65]

Sampai menjelang berakhirnya zaman Republik Romawi, legiuner lazimnya adalah petani Romawi pemilik tanah dari desa (seorang adsiduus) yang menjalani masa bakti sebagai prajurit dalam aksi militer tertentu (seringkali setiap tahun),[66] menyiapkan sendiri perlengkapan tempur dan, khusus bagi para equites, tunggangannya.

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Bangsa Romawi Kuno menguasai daratan yang sangat luas dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang berlimpah-limpah.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Potret kaca emas sebuah keluarga di Mesir jajahan Romawi. Rangkaian huruf Yunani pada potret ini mungkin adalah nama seniman pembuatnya atau mungkin pula nama pater familias yang tidak tampak dalam potret.[67]

Satuan dasar masyarakat Romawi adalah rumah tangga dan keluarga besar.[68] Rumah tangga beranggotakan kepala rumah tangga, yang disebut pater familias (bapa keluarga), istrinya, anak-anaknya, dan sanak saudaranya. Rumah-rumah tangga kelas atas juga beranggotakan budak-budak belian dan para pelayan.[68] Kepala rumah tangga memiliki kewenangan mutlak, yang disebut patria potestas (kewenangan bapa), atas semua orang yang tinggal seatap dengannya. Ia berwenang menjodohkan, menceraikan, maupun menjual anak-anaknya sebagai budak belian. Ia juga berwenang mengklaim harta benda milik anggota rumah tangganya sebagai harta bendanya sendiri, bahkan berwenang menghukum maupun membunuh anggota rumah tangganya. Kewenangan yang terakhir ini agaknya tidak lagi dijalankan selepas abad pertama SM.[69]

Patria potestas juga menaungi putra-putra pater familias yang sudah dewasa berikut rumah tangga mereka masing-masing. Seorang laki-laki tidak dianggap sebagai pater familias, dan tidak pula benar-benar memiliki harta benda, selama ayahnya masih hidup.[69][70] Pada permulaan sejarah Romawi Kuno, seorang perempuan yang sudah menikah dengan sendirinya tunduk di bawah manus (kendali) pater familias keluarga besar suaminya. Adat semacam ini sudah ditinggalkan pada akhir kurun waktu Republik Romawi, karena perempuan kala itu boleh memilih untuk tetap menjadi anggota keluarga ayahnya sendiri, alih-alih menjadi anggota keluarga besar suaminya.[71] Kendati demikian, semua anak yang ia lahirkan tetap terbilang sebagai anggota keluarga suaminya, karena bangsa Romawi merunut hubungan kekerabatan melalui alur silsilah laki-laki.[72]

Anak-anak Romawi Kuno kurang dicurahi kasih sayang. Anak-anak lelaki maupun perempuan diasuh oleh ibu atau salah seorang kerabat mereka yang sudah uzur. Anak-anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya seringkali dijual sebagai budak belian.[73] Anak-anak boleh ikut bersantap bersama seluruh anggota keluarga di meja makan, tetapi tidak diperbolehkan ikut berbincang-bincang bersama orang-orang dewasa.

Anak-anak keluarga ningrat biasanya diajari bahasa Latin dan bahasa Yunani oleh seorang inang pengasuh berkebangsaan Yunani. Anak-anak lelaki diajari kepandaian berenang dan berkuda oleh ayah mereka, tetapi adakalanya si ayah cukup mengupah seorang budak untuk menggantikannya. Anak-anak lelaki Romawi Kuno mulai bersekolah pada umur tujuh tahun. Karena tidak ada gedung sekolah, kegiatan belajar mengajar dilakukan di atas sotoh rumah. Jika hari gelap, murid harus membawa serta pelita ke sekolah. Papan-papan bersalut lilin digunakan sebagai media tulis karena papirus dan perkamen terlampau mahal. Anak-anak dapat pula belajar menulis di permukaan pasir. Bekal makanan yang mereka bawa ke sekolah adalah seketul roti.[74]

Rumah-rumah tangga yang berkerabat membentuk satu keluarga besar (gens). Selain merupakan kelompok kekerabatan yang dipersatukan oleh pertalian darah atau adopsi, keluarga besar juga merupakan persekutuan politik dan ekonomi. Sejumlah keluarga terkemuka (gens maior, jamak: gentes maiores) tampil mendominasi kancah politik, teristimewa pada zaman Republik Romawi.

Bagi masyarakat Romawi Kuno, terutama masyarakat kalangan atas, perkawinan seringkali dipandang sebagai persekutuan harta dan politik ketimbang persatuan sepasang kekasih. Biasanya seorang ayah mulai mencarikan jodoh bagi anak gadisnya pada saat si anak gadis mencapai umur antara dua belas dan empat belas tahun. Suami lazimnya lebih tua daripada istri, dan jika anak-anak gadis kalangan atas menikah pada usia yang sangat muda, maka ada bukti bahwa perempuan-perempuan di luar kalangan atas seringkali kawin pada usia belasan akhir atau 20-an awal.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Kehidupan masyarakat Romawi Kuno berkisar di seputar kota Roma, yang luasnya mencakup tujuh bukit. Ada banyak sekali bangunan raksasa di kota ini, antara lain Amphitheatrum Flavium (gelanggang pertunjukan Flavius), Forum Traiani (alun-alun Traianus), dan Pantheum (kuil segala dewa-dewi). Ada pula gedung-gedung pementasan, gedung-gedung perguruan sekaligus pusat kebugaran, pasar-pasar, gorong-gorong pembuangan, rumah-rumah pemandian lengkap dengan perpustakaan dan toko-toko, serta pancuran-pancuran air minum yang dialirkan beratus-ratus meter melalui talang-talang raksasa. Jenis bangunan hunian di seluruh wilayah Romawi Kuno berkisar dari rumah-rumah tinggal sederhana sampai vila-vila di daerah pedesaan.

Di ibu kota Roma, wisma-wisma kediaman kaisar berdiri megah di Bukit Palatium. Kaum Plebs dan kaum Eques tinggal di pusat kota, berdesak-desakan dalam hunian-hunian susun atau Insula, yang mirip sekali dengan kampung-kampung kumuh pada Zaman Modern. Hunian-hunian yang seringkali dibangun oleh juragan-juragan tanah dari kalangan atas untuk disewakan ini kerap berpusat pada suatu collegium (perhimpunan) atau taberna (kedai). Para penghuninya dijatahi pasokan gandum cuma-cuma, dihibur dengan pertunjukan-pertunjukan adu ketangkasan gladiator, dan terikat dalam hubungan anak semang - induk semang dengan orang-orang Patricius, yakni orang-orang yang mereka mintai bantuan dan yang kepentingannya mereka junjung.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Seorang gadis berambut pirang sedang membaca, fresko Romawi langgam Pompeii IV (60–79 M), Pompeii, Italia

Bahasa asli bangsa Romawi adalah bahasa Latin, salah satu bahasa dalam rumpun bahasa Italik. Tata bahasa Latin sedikit sekali bergantung pada urut-urutan kata, dan justru mengandalkan sistem pengimbuhan kata dasar sebagai sarana penyampai maksud.[75] Aksaranya dikembangkan dari aksara Etruski, yang diturunkan dari aksara Yunani.[76] Sekalipun seluruh karya sastra Latin yang sintas sampai sekarang adalah karya-karya susastra yang ditulis dalam bahasa Latin Klasik, sebuah bahasa susastra yang sangat tertata lagi muluk berbunga-bunga dari abad pertama sebelum permulaan tarikh Masehi, bahasa tutur di Kekaisaran Romawi sesungguhnya adalah bahasa Latin Umum, yang cukup berbeda dari bahasa Latin Klasik, baik dalam tata bahasa maupun kosa kata, dan ujung-ujungnya juga dalam pelafalan.[77] Para penutur bahasa Latin mampu memahami kedua ragam bahasa ini sampai dengan abad ke-7, manakala bahasa tutur sudah sangat jauh menyimpang dari bahasa susastra sampai-sampai 'bahasa Latin Klasik' alias 'bahasa Latin yang baik dan benar' harus dipelajari sebagai bahasa sekunder.[78]

Kendati bahasa Latin tetap menjadi bahasa sastra utama di Kekaisaran Romawi, posisinya sebagai bahasa tutur akhirnya tergeser oleh bahasa Yunani, yang menjadi bahasa para petinggi terpelajar, karena sebagian besar karya sastra yang dipelajari oleh bangsa Romawi tertulis dalam bahasa Yunani. Di belahan timur Kekaisaran Romawi, yang kelak menjadi Kekaisaran Romawi Timur, bahasa Latin tidak kunjung mampu menggeser bahasa Yunani, dan sesudah kemangkatan Kaisar Iustinianus, bahasa Yunani menjadi bahasa resmi pemerintahan Kekaisaran Romawi Timur.[79] Gerak ekspansi Kekaisaran Romawi telah menyebarluaskan bahasa Latin ke seluruh Eropa. Bahasa Latin Umum pun berkembang menjadi macam-macam dialek yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, dan lambat laun berubah menjadi bahasa-bahasa berlainan yang kini digolongkan ke dalam rumpun bahasa Romawi.

Baca juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "ancient Rome | Facts, Maps, & History". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-05. 
  2. ^ Ada beragam perkiraan jumlah populasi Kekaisaran Romawi.
    • Scheidel (2006, hlm. 2) memperkirakan ada 60 juta jiwa.
    • Goldsmith (1984, hlm. 263) memperkirakan ada 55 juta jiwa.
    • Beloch (1886, hlm. 507) memperkirakan ada 54 juta jiwa.
    • Maddison (2006, hlmn. 51, 120) memperkirakan ada 48 juta jiwa.
    • Populasi Kekaisaran Romawi dalam situs web unrv.com memperkirakan ada 65 juta jiwa (memuat pula angka-angka perkiraan lain antara 55 dan 120 juta jiwa).
    • McLynn, Frank (2011). Marcus Aurelius: Warrior, Philosopher, Emperor (dalam bahasa Inggris). Random House. hlm. 3. ISBN 9781446449332. Angka perkiraan populasi Kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan Marcus Aurelius yang agaknya paling mendekati kebenaran adalah antara tujuh puluh dan delapan puluh juta jiwa. 
    • McEvedy dan Jones (1978).
    • Angka-angka pukul rata dari beragam sumber yang terdaftar dalam Perkiraan Populasi Dunia Sepanjang Sejarah yang disusun oleh Biro Sensus Amerika SerikatDiarsipkan 13 October 2013 di Wayback Machine.
    • Kremer, Michael (1993). "Population Growth and Technological Change: One Million B.C. to 1990" dalam The Quarterly Journal of Economics 108(3): 681–716.
  3. ^ * Taagepera, Rein (1979). "Size and Duration of Empires: Growth-Decline Curves, 600 B.C. to 600 A.D.". Social Science History. 3 (3/4): 115–138. doi:10.2307/1170959. JSTOR 1170959. 
  4. ^ Furet, François; Ozouf, Mona, ed. (1989). A Critical Dictionary of the French Revolution. Harvard University Press. hlm. 793. ISBN 978-0674177284. 
  5. ^ Luckham, Robin; White, Gordon (1996). Democratization in the South: The Jagged Wave. Manchester University Press. hlm. 11. ISBN 978-0719049422. 
  6. ^ Sellers, Mortimer N. (1994). American Republicanism: Roman Ideology in the United States Constitution. NYU Press. hlm. 90. ISBN 978-0814780053. 
  7. ^ Ferrero, Guglielmo (1909). The Greatness and Decline of Rome, Jilid 2. Diterjemahkan oleh Zimmern, Sir Alfred Eckhard; Chaytor, Henry John. G.P. Putnam's Sons. hlm. 215. 
  8. ^ Hadfield, Andrew Hadfield (2005). Shakespeare and Republicanism. Cambridge University Press. hlm. 68. ISBN 978-0521816076. 
  9. ^ Gray, Christopher B (1999). The Philosophy of Law: An Encyclopedia, Jilid 1. Taylor & Francis. hlm. 741. ISBN 978-0815313441. 
  10. ^ "Byzantine Empire". Ancient History Encyclopedia. Diakses tanggal 2017-09-05. 
  11. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 3. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  12. ^ Cavazzi, F. "The Founding of Rome". Illustrated History of the Roman Empire. Diakses tanggal 8 Maret 2007. 
  13. ^ a b c d Livius, Titus (1998). The Rise of Rome, Buku 1–5. Diterjemahkan oleh Luce, T.J. Oxford: Oxford World's Classics. hlm. 8–11. ISBN 978-0-19-282296-3. 
  14. ^ a b Durant, Will; Durant, Ariel (1944). The Story of Civilization – Volume III: Caesar and Christ. Simon and Schuster, Inc. hlm. 12–14. ISBN 978-1567310238. 
  15. ^ Roggen, Hesse, Haastrup, Omnibus I, H. Aschehoug & Co 1996
  16. ^ Myths and Legends- Rome, the Wolf, and Mars. Diakses 8 Maret 2007.
  17. ^ Mellor, Ronald and McGee Marni, The Ancient Roman World hlm. 15 (Dikutip 15 Maret 2009)
  18. ^ Matyszak, Philip (2003). Chronicle of the Roman Republic. London: Thames & Hudson. hlm. 19. ISBN 978-0-500-05121-4. 
  19. ^ Duiker, William; Spielvogel, Jackson (2001). World History (edisi ke-3). Wadsworth. hlm. 129. ISBN 978-0-534-57168-9. 
  20. ^ Ancient Rome and the Roman Empire oleh Michael Kerrigan. Dorling Kindersley, London: 2001. ISBN 0-7894-8153-7. hlm. 12.
  21. ^ Langley, Andrew dan Souza, de Philip, "The Roman Times", Candle Wick Press, Massachusetts
  22. ^ Matyszak, Philip (2003). Chronicle of the Roman Republic. London: Thames & Hudson. hlm. 43–44. ISBN 978-0-500-05121-4. 
  23. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 41–42. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  24. ^ Hooker, Richard (6 Juni 1999). "Rome: The Roman Republic". Washington State University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Mei 2011. Diakses tanggal 24 Maret 2007. 
  25. ^ Magistratus oleh George Long, M.A. pada hlmn. 723–724 A Dictionary of Greek and Roman Antiquities karya William Smith, D.C.L., LL.D. Diterbitkan oleh John Murray, London, 1875. Situs web, 8 Desember 2006. Diakses 24 Maret 2007.
  26. ^ Livius, Titus (1998). "Buku II". The Rise of Rome, Buku 1–5. Diterjemahkan oleh Luce, T.J. Oxford: Oxford World's Classics. ISBN 978-0-19-282296-3. 
  27. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 39. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  28. ^ secara harfiah, "libra" Romawi, cikal bakal dari satuan berat pon.
  29. ^ [1] Plutarch, Parallel Lives, Life of Camillus, XXIX, 2.
  30. ^ a b c Haywood, Richard (1971). The Ancient World. United States: David McKay Company, Inc. hlm. 350–358. 
  31. ^ Pyrrhus of Epirus (2) dan Pyrrhus of Epirus (3) oleh Jona Lendering. Livius.org. Diakses 21 Maret 2007.
  32. ^ Bennett, Matthew; Dawson, Doyne; Field, Ron; Hawthornwaite, Philip; Loades, Mike (2016). The History of Warfare: The Ultimate Visual Guide to the History of Warfare from the Ancient World to the American Civil War. hlm. 61. 
  33. ^ AncientRome.ru. "Basis data seni rupa Zaman Kuno." Diakses 25 Agustus 2016.
  34. ^ AncientRome.ru. "Publius Cornelius Scipio Africanus." Diakses 25 Agustus 2016.
  35. ^ [2] Cassius Dio, Roman History, XI, XLIII.
  36. ^ New historical atlas and general history By Robert Henlopen Labberton. hlm. 35.
  37. ^ Hugh Chisholm (1911). The Encyclopædia Britannica: A Dictionary of Arts, Sciences, Literature and General Information. Encyclopædia Britannica Company. hlm. 652–. Diakses tanggal 31 May 2012. 
  38. ^ Haywood, Richard (1971). The Ancient World. United States: David McKay Company, Inc. hlm. 376–393. 
  39. ^ Rome: The Punic Wars by Richard Hooker. Washington State University. 6 Juni 1999. Diakses 22 Maret 2007.
  40. ^ Bury, John Bagnell (1889). History of the Later Roman Empire. London, New York: MacMillan and Co. 
  41. ^ Rome: The Conquest of the Hellenistic Empires Diarsipkan 1 May 2011[Date mismatch] di Wayback Machine. oleh Richard Hooker. Washington State University. 6 Juni 1999. Diakses 22 Maret 2007.
  42. ^ Duiker, William; Spielvogel, Jackson (2001). World History (edisi ke-3). Wadsworth. hlm. 136–137. ISBN 978-0-534-57168-9. 
  43. ^ Fall of the Roman Republic, 133–27 BC. Universitas Purdue. Diakses 24 Maret 2007.
  44. ^ a b Eques (Knight) oleh Jona Lendering. Livius.org. Diakses 24 Maret 2007.
  45. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 38. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  46. ^ Tuma, Elias H. (1965). Twenty-six Centuries of Agrarian Reform: A Comparative Analysis. University of California Press. hlm. 34. 
  47. ^ a b c William Harrison De Puy (1893). The Encyclopædia britannica: a dictionary of arts, sciences, and general literature; cetak ulang R.S. Peale, dilengkali peta-peta baru dan artikel-artikel asli Amerika. Werner Co. hlm. 760–. Diakses tanggal 31 Mei 2012. 
  48. ^ Henry George Liddell (1855). A history of Rome, to the establishment of the empire. hlm. 305–. Diakses tanggal 31 Mei 2012. 
  49. ^ Plutarch Parallel Lives, Life of Caesar, I,2
  50. ^ Scullard, Howard Hayes (1982). From the Gracchi to Nero (edisi ke-5). Routledge. ISBN 978-0-415-02527-0.  Bab VI–VIII.
  51. ^ Julius Caesar (100–44 BC). BBC. Diakses 21 Maret 2007.
  52. ^ [3] Plutarkos, Riwayat Yulius Kaisar. Diakses 1 Oktober 2011
  53. ^ Augustus (31 BC – 14 AD) oleh Garrett G. Fagan. De Imperatoribus Romanis. 5 Juli 2004. Diakses 21 Maret 2007.
  54. ^ Uang-Uang Logam Kaisar Agustus Diarsipkan 25 May 2009[Date mismatch] di Wayback Machine.; sekeping uang logam dari tahun 38 SM bertuliskan kalimat "Divi Iuli filius" (putra Dewata Iulius), kepingan lain dari tahun 31 SM bertuliskan kalimat "Divi filius" (Auguste vu par lui-même et par les autres oleh Juliette Reid Diarsipkan 19 March 2009[Date mismatch] di Wayback Machine.).
  55. ^ [4] Suetonius, The Twelve Caesars, Augustus, XV.
  56. ^ [5] Plutarkos, Riwayat Tokoh-Tokoh Sezaman, Riwayat Markus Antonius, II, 1.
  57. ^ Ancient Library Diarsipkan 5 June 2011[Date mismatch] di Wayback Machine.. Diakses 9 September 2011
  58. ^ [6] Plutarkos, Riwayat Tokoh-Tokoh Sezaman, Riwayat Markus Antonius, LXXI, 3–5.
  59. ^ a b c d Keegan, John (1993). A History of Warfare. New York: Alfred A. Knopf. hlm. 263–264. ISBN 978-0-394-58801-8. 
  60. ^ a b c Potter, David (2004). "The Roman Army and Navy". Dalam Flower, Harriet I. The Cambridge Companion to the Roman Republic. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 67–70. ISBN 978-0-521-00390-2. 
  61. ^ Pembahasan mengenai siasat-siasat tempur dan latar belakang sosial budaya hoplites, baca Victor Davis Hanson, The Western Way of War: Infantry Battle in Classical Greece, Alfred A. Knopf (New York 1989) ISBN 0-394-57188-6.
  62. ^ Goldsworthy, Adrian (1996). The Roman Army at War 100 BC–AD 00. Oxford: Oxford University Press. hlm. 33. ISBN 978-0-19-815057-2. 
  63. ^ Jo-Ann Shelton (penyunting), As the Romans Did: A Sourcebook in Roman Social History, Oxford University Press (New York 1998)ISBN 0-19-508974-X, hlmn. 245–249.
  64. ^ Goldsworthy, Adrian (2003). The Complete Roman Army. London: Thames and Hudson, Ltd. hlm. 22–24, 37–38. ISBN 978-0-500-05124-5. 
  65. ^ Goldsworthy, Adrian (2008). Caesar: Life of a Colossus. Yale University Press. hlm. 384, 410–411, 425–427. ISBN 978-0300126891.  Faktor penting lain yang dibahas oleh Goldsworthy adalah ketiadaan legiuner pelaksana tugas terpisah.
  66. ^ Antara tahun 343 SM dan 241 SM, Angkatan bersenjata Romawi bertempur setiap tahun, kecuali pada 5 tahun tanpa aksi militer.Oakley, Stephen P. (2004). "The Early Republic". Dalam Flower, Harriet I. The Cambridge Companion to the Roman Republic. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 27. ISBN 978-0-521-00390-2. 
  67. ^ Baca "Masterpieces. Desiderius' Cross". Fondazione Brescia Musei. Diakses tanggal 2 Oktober 2016. . Untuk penjabaran kajian ilmiah atas Medali Brescia, baca Daniel Thomas Howells (2015). "Katalog Kaca Emas Buatan Akhir Abad Kuno di British Museum (PDF)." London: the British Museum (Arts and Humanities Research Council), hlm. 7. Diakses 2 Oktober 2016. Potret kaca emas (agaknya buatan seniman Yunani Aleksandria, ditilik dari penggunaan dialek Mesir pada kalimat dalam potret) diperkirakan berasal daro abad ke-3 M; Beckwith, John, Early Christian and Byzantine Art, Penguin History of Art (now Yale), Edisi ke-2. 1979, ISBN 0140560335, hlm. 25; Boardman, John (penyunting), The Oxford History of Classical Art, 1993, OUP, ISBN 0198143869, hlmn. 338–340; Grig, Lucy, "Portraits, Pontiffs and the Christianization of Fourth-Century Rome", Papers of the British School at Rome, Jld. 72, (2004), hlmn. 203–230, JSTOR 40311081, hlm. 207; Jás Elsner (2007). "The Changing Nature of Roman Art and the Art Historical Problem of Style," in Eva R. Hoffman (penyunting), Late Antique and Medieval Art of the Medieval World, 11–18. Oxford, Malden & Carlton: Blackwell Publishing. ISBN 978-1-4051-2071-5, hlm. 17, gambar 1.3 pada hlm. 18.
  68. ^ a b Duiker, William; Spielvogel, Jackson (2001). World History (edisi ke-3). Wadsworth. hlm. 146. ISBN 978-0-534-57168-9. 
  69. ^ a b Casson, Lionel (1998). Everyday Life in Ancient Rome. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. hlm. 10–11. ISBN 978-0-8018-5992-2. 
  70. ^ Family Values in Ancient Rome oleh Richard Saller. The University of Chicago Library Digital Collections: Fathom Archive. 2001. Diakses 14 April 2007.
  71. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 339. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  72. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 340. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  73. ^ Rawson, Beryl (1987). The Family in Ancient Rome: New Perspectives (dalam bahasa Inggris). Cornell University Press. hlm. 2 prakata. ISBN 978-0801494604. 
  74. ^ Lifepac History & Geography, Grade 6 Unit 3, hlm. 28.z
  75. ^ Latin Online: Series Introduction oleh Winfred P. Lehmann dan Jonathan Slocum. Linguistics Research Center. The University of Texas at Austin. 15 Februari 2007. Diakses 1 April 2007.
  76. ^ Calvert, J.B. (8 Agustus 1999). "The Latin Alphabet". University of Denver. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 April 2007. Diakses tanggal 1 April 2007. 
  77. ^ Classical Latin Supplement. hlm. 2. Retrieved 2 April 2007.
  78. ^ József Herman, Vulgar Latin, Terjemahan Bahasa Inggris 2000, hlmn. 109–114 ISBN 978-0271020013
  79. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 203. ISBN 978-0-19-512332-6. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]