Orang Franka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Suku Franka)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Orang Franka
Franci
Frankish arms.JPG
Bekal kubur bangsawan Franka dari zaman wangsa Meroving
Bahasa
Bahasa Franka Lama
Agama
Kepercayaan leluhur orang Franka, Katolik Roma

Orang Franka (bahasa Latin: Franci, tunggal: Francus) atau bangsa Franka (bahasa Latin: Gens Francorum) adalah sehimpunan suku bangsa Jermani[1] yang namanya pertama kali muncul dalam sumber-sumber Romawi dari abad ke-3 mengenai suku-suku penghuni daerah sekitar bagian hilir dan pertengahan Sungai Rhein di tapal batas wilayah Kekaisaran Romawi. Kemudian hari, sebutan ini dilekatkan pada wangsa-wangsa Jermani berbudaya Romawi yang mendirikan kerajaan di wilayah barat Kekaisaran Romawi pada masa keruntuhannya, dan akhirnya menguasai seluruh kawasan di antara Sungai Sungai Loire dan Sungai Rhein. Orang Franka kemudian menjajah banyak kerajaan kecil yang menjamur pascapenjajahan Romawi serta menjajah pula banyak suku bangsa Jermani lainnya. Para penguasa Franka akhirnya diakui sebagai pengganti sah kaisar wilayah barat Kekaisaran Romawi oleh Gereja Katolik.[2][3][4][a]

Meskipun orang Franka tidak pernah disebut-sebut sebelum abad ke-3, setidaknya beberapa di antara sekian banyak suku yang menjadi cikal bakal bangsa Franka sudah lama dikenal oleh bangsa Romawi, masing-masing dengan nama tersendiri, baik sebagai sekutu penyedia tentara maupun sebagai musuh. Orang Franka pertama kali disebut-sebut ketika daerah sekitar Sungai Rhein lepas dari kekuasaan bangsa Romawi dan para sekutunya. Orang Franka dilaporkan bersatu melancarkan aksi-aksi penyerbuan ke wilayah Kekaisaran Romawi, tetapi aksi-aksi penyerbuan ini sedari awal disebutkan terjadi karena dipicu oleh serangan suku-suku lain ke daerah tempat tinggal mereka, misalnya serangan orang Saksen, maupun karena didorong oleh keinginan suku-suku daerah perbatasan untuk berpindah ke dalam wilayah kekuasaan bangsa Romawi yang sudah mereka kenal baik selama berabad-abad.

Suku-suku Franka di daerah perbatasan dalam wilayah Kekaisaran Romawi adalah orang Franka Sali dan orang Franka Ripuari. Dalam sumber-sumber Romawi, orang Franka Sali disebut-sebut sebagai kelompok masyarakat yang diizinkan menetap di dalam wilayah Kekaisaran Romawi, sementara orang Franka Ripuari disebut-sebut sebagai kelompok masyarakat yang berulang kali berusaha dan akhirnya berhasil merebut kota Köln dari bangsa Romawi, dan menguasai daerah di tepi kiri Sungai Rhein. Kemudian hari, dalam periode konflik antarfaksi pada era 450-an dan 460-an, seorang pemuka Franka bernama Kilderik berhasil menjadi salah seorang kepala laskar angkatan bersenjata Romawi di Galia (kurang lebih sama dengan wilayah negara Prancis sekarang ini) yang terdiri atas laskar-laskar dari berbagai suku bangsa. Kilderik dan putranya, Klovis, harus bersaing melawan seorang tentara Romawi bernama Egidius untuk mendapatkan "jabatan raja" atas masyarakat Franka di daerah sekitar Sungai Loire. Menurut keterangan dari Gregorius Turonensis, Egidius merajai orang Franka selama 8 tahun masa pembuangan Kilderik. Jabatan raja model baru yang agaknya terinspirasi oleh kisah hidup Alarik I ini[5] merupakan titik awal kemunculan wangsa Meroving, wangsa Franka yang berhasil menaklukkan sebagian besar Galia pada abad ke-6, dan berdaulat atas seluruh kerajaan orang Franka di sekitar Sungai Rhein. Bermodalkan wilayah kedaulatan wangsa Meroving ini, pemimpin-pemimpin wangsa Karoling berjuang memperluas wilayah sampai berhasil menjadi kaisar-kaisar baru di Eropa Barat sejak tahun 800.

Pada Abad Pertengahan, istilah "orang Franka" lumrah digunakan sebagai sebutan lain untuk "orang Eropa Barat", karena raja-raja Franka dari wangsa Karoling menguasai sebagian besar Eropa Barat, dan menciptakan tatanan politik yang menjadi dasar dari Ancien Régime, yakni bentuk tata pemerintahan yang diterapkan di Eropa selama berabad-abad sampai dengan meletusnya Revolusi Prancis. Masyarakat Eropa Barat sama-sama beragama Kristen Katolik Roma dan bersekutu dalam Perang Salib di Negeri Syam. Sesudah bercokol di Negeri Syam, mereka tetap menyebut dirinya "orang Franka", dan menyebut negara-negara yang mereka dirikan sebagai negeri-negeri orang Franka. Pada tahun 1099, sebagian besar Laskar Salib di Yerusalem adalah para pendatang Prancis, yakni bangsa yang suatu ketika pernah menyebut dirinya "orang Franka", sementara sisanya adalah para pendatang asal Eropa lainnya, misalnya bangsa Spanyol, bangsa Jerman, dan bangsa Hongaria.[6] Kenyataan ini berdampak panjang terhadap sebutan bagi orang Eropa Barat dalam banyak bahasa di dunia.[7][8][9] Eropa Barat dikenal bangsa Persia dengan nama "Faranggistan", sementara orang Eropa Barat dikenal bangsa Arab dengan sebutan "Faranji".[10]

Semenjak didirikan, kerajaan-kerajaan orang Franka sudah terbagi secara politik maupun hukum menjadi kerajaan timur yang lebih berciri Jermani, dan kerajaan barat yang lebih berciri Romawi. Kerajaan timur kelak menjadi "Kekaisaran Romawi Suci" yang adakalanya disebut "Jerman", sementara kerajaan barat adalah kerajaan orang Franka yang didirikan wangsa Meroving di Galia, daerah yang penduduknya mengamalkan budaya Romawi dan menuturkan bahasa-bahasa rumpun Romawi. Kerajaan bagian barat sampai sekarang dikenal dengan nama Prancis (bahasa Prancis: France), dari kata Latin Francia, yang berarti "negeri orang Franka".

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Macam-macam orang Franka (400–600 M) dalam gambar dari abad ke-19

Franka (Franci) bukanlah nama suku, tetapi dalam jangka waktu beberapa abad berubah menjadi nama dari suku-suku yang membentuk bangsa Franka. Berpatokan pada pendapat Edward Gibbon dan Jacob Grimm,[11] kata "Franka" telah dihubung-hubungkan dengan kata sifat "frank" dalam bahasa Inggris, yang makna purwanya adalah "merdeka".[12] Ada pula teori-teori yang mengatakan bahwa kata "Franka" berasal dari kata Jermani untuk "lembing" (misalnya kata franca dalam bahasa Inggris Lama atau kata frakka dalam bahasa Skandinavia Lama).[13] Mungkin pula nama "Franka" berasal dari bahasa-bahasa Jermani lainnya yang berarti "garang", "bagak", atau "lancang" (kata frech dalam bahasa Jerman, kata vrac dalam bahasa Belanda Pertengahan, kata frǣc dalam bahasa Inggris Lama, dan kata frakkr dalam bahasa Norwegia Lama).[14]

Dalam pidato sanjungannya terhadap Kaisar Konstantinus Agung, sehubungan dengan eksekusi mati para tawanan Franka di gelanggang kota Trier pada tahun 306 maupun beberapa kejadian lain, Emenius menyindir orang Franka dengan kalimat berikut ini:[15][16]

Mana sekarang kegaranganmu? Mana perangai cacau yang tak kunjung andal itu?
(bahasa Latin: Ubi nunc est illa ferocia? Ubi semper infida mobilitas?)

— Emenius

Kata "garang" (bahasa Latin: Feroces) kerap digunakan untuk menyifatkan orang Franka.[17] Ada berbagai macam definisi suku bangsa Franka menurut periode maupun sudut pandang. Selembar formularis (formulir Abad Pertengahan) yang ditulis oleh Marculf sekitar tahun 700 M menunjukkan adanya keberlanjutan identitas kebangsaan dalam suatu masyarakat campuran dengan pernyataan yang berbunyi: "Semua orang yang bermukim [di provinsi pejabat yang bersangkutan], yakni orang Franka, orang Romawi, orang Burgundi, dan bangsa-bangsa lain, hidup... menurut hukum dan adat-istiadat masing-masing."[18] Dalam karya tulis yang ia susun pada tahun 2009, Profesor Christopher Wickham mengemukakan bahwa "kata 'Franka' dengan segera tidak lagi berkonotasi suku bangsa tertentu. Semua orang di sebelah utara Sungai Loire tampaknya dianggap sebagai orang Franka sampai selambat-lambatnya pertengahan abad ke-7 (kecuali orang Breton); Romani [orang Romawi] pada hakikatnya adalah kelompok masyarakat yang mendiami Akuitania sesudah itu".[19]

Mitos asal-usul[sunting | sunting sumber]

Selain Historia Francorum karangan Gregorius Turonensis, yang dianggap sebagai sumber terandal, masih ada dua lagi sumber lama yang menerangkan asal-usul orang Franka dengan lebih banyak bumbu cerita, yakni Tawarikh Fredegarius dari abad ke-7, dan karya tulis anonim dari abad ke-8 yang berjudul Liber Historiae Francorum.

Tawarikh Fredegarius mengutip karya-karya tulis Vergilius maupun Hieronimus, dan mengklaim bahwa orang Franka berasal dari Troya.[20] Priamos digambarkan sebagai raja orang Franka. Rakyat Priamos hijrah ke Makedonia sesudah kota Troya jatuh ke tangan musuh. Dari Makedonia, orang Franka berpencar. Kelompok yang dipimpin Raja Francio merantau ke Eropa sampai ke Francia, sebagaimana Romulus pergi ke Roma. Fredegarius mengklaim pula bahwa Teodemer, yang disebut sebagai Raja Orang Franka oleh Gregorius Turonensis, adalah keturunan Priamos, Friga, dan Francio.

Menurut sumber lain, yakni Gesta Francorum, 12.000 warga Troya, di bawah pimpinan Priamos dan Antenor, berlayar dari Troya sampai ke Sungai Don di Rusia, lalu melanjutkan pelayaran sampai ke Panonia di tepi Sungai Donau, dan menetap di dekat Laut Azov, tempat mereka mendirikan sebuah kota yang diberi nama Sikambria. Orang Sikambri adalah suku paling ternama di kampung halaman orang Franka pada permulaan zaman Kekaisaran Romawi. Sekalipun sudah lama kalah dan bubar sebelum nama Franka muncul dalam catatan sejarah, nama Sikambri masih terus dikenang orang. Para perantau dari Troya tersebut kemudian bergabung dengan angkatan bersenjata Romawi, dan dengan gagah berani berjuang menghalau musuh-musuh mereka ke rawa-rawa Mæotis, sehingga mendapatkan sebutan Franka, yang berarti "garang". Satu dasawarsa kemudian, orang Romawi membunuh Priamos, mengusir Markomer dan Sunno, putra-putra Priamos dan Antenor, serta orang-orang Franka selebihnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah purwa[sunting | sunting sumber]

Sumber-sumber primer tentang orang Franka terdahulu adalah Panegyrici Latini, Amianus Marselinus, Klaudianus, Zosimos, Sidonius Apolinaris and Gregorius Turonensis.

Militer[sunting | sunting sumber]

Keikutsertaan dalam angkatan bersenjata Romawi[sunting | sunting sumber]

suku-suku bangsa Jermani, termasuk suku-suku di kawasan delta Sungai Rhein yang kemudian hari menjadi orang Franka, diketahui ikut serta menjadi bagian dari angkatan bersenjata Romawi sejak zaman Yulius Kaisar. Sesudah pemerintahan bangsa Romawi di Galia bubar pada era 260-an, kesatuan yang dipimpin oleh Postumus, panglima berdarah Jermani asal Batavia, melakukan pemberontakan dan mempermaklumkan Postumus sebagai kaisar baru yang akan memulihkan ketertiban di Galia. Sejak saat itu, prajurit-prajurit Jermani dalam angkatan bersenjata Romawi, terutama orang Franka, dinaikkan pangkatnya. Beberapa dasawarsa kemudian, Karausius orang Menapi mempermaklumkan diri sebagai kaisar atas Britania dan kawasan utara Galia dengan dukungan para prajurit dan laskar Franka. Prajurit-prajurit Franka seperti Magnentius, Silvanus, dan Arbitio menempati posisi kepala pasukan dalam angkatan bersenjata Romawi pada pertengahan abad ke-4. Keterangan dari Amianus Marselinus membuktikan bahwa angkatan bersenjata orang Franka dan orang Alemani dibentuk dan diatur menurut tata cara angkatan bersenjata Romawi.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Dalam konteks linguistik modern, bahasa orang Franka purwa disebut "bahasa Franka Lama" atau "bahasa Franken Lama" dan mengacu kepada dialek-dialek Jermani Barat yang dituturkan orang Franka sebelum terjadinya pergantian konsonan kali kedua dalam bahasa suku bangsa Jermani antara tahun 600 dan 700. Sesudah penggantian konsonan tersebut, muncul berbagai macam dialek bahasa orang Franka. Dialek-dialek yang tidak mengalami pergantian konsonan kemudian hari menjadi bahasa Belanda, sementara dialek-dialek selebihnya mengalami pergantian konsonan sampai taraf yang berbeda-beda dan akhirnya menjadi bagian dari rumpun besar dialek bahasa Jerman.[21]

Belum ada peninggalan tertulis dalam bahasa orang Franka selain dari sejumlah kecil prasasti rune yang ditemukan di bekas wilayah kediaman orang Franka, misalnya Prasasti Bergakker. Perbedaan antara bahasa Belanda Lama dan bahasa Franka Lama sangatlah tipis, mengingat Bahasa Belanda Lama (disebut pula bahasa Franken Hilir Lama) adalah istilah yang digunakan sebagai sebutan bagi varian bahasa suku bangsa Jermani yang tidak terdampak pergantian konsonan kali kedua dalam bahasa suku bangsa Jermanik.[22]

Sudah cukup banyak kosakata bahasa Franka Lama yang dapat direkonstruksi dengan cara menelaah kata-kata serapan dari bahasa suku bangsa Jermani terdahulu yang ditemukan dalam bahasa Prancis Lama maupun dengan cara rekonstruksi perbandingan melalui bahasa Belanda.[23][24] Pengaruh bahasa Franka Lama terhadap kosakata dan fonologi Galia-Romawi sudah lama menjadi pokok perdebatan ilmiah.[25] Pengaruh bahasa orang Franka diduga mencakup sebutan untuk keempat arah mata angin, yakni nord (utara), sud (selatan), est (timur), dan ouest (barat), maupun sekurang-kurangnya 1000 lagi kata turunan.[24]

Meskipun orang Franka pada akhirnya berhasil menaklukkan seluruh Galia, tampaknya masyarakat penutur bahasa Franka Lama hanya menyebar dalam jumlah besar ke kawasan utara Galia saja, yakni kawasan yang bahasanya terpengaruh bahasa Franken Lama. Selama beberapa abad, kawasan utara Galia menjadi kawasan dwibahasa (bahasa Latin Umum dan bahasa orang Franka). Bahasa yang digunakan dalam urusan tulis-menulis, di bidang pemerintahan, dan oleh Gereja adalah bahasa Latin. Urban T. Holmes berpendapat bahwa suatu ragam bahasa Jermani terus dipertuturkan sebagai bahasa kedua oleh para pamong praja Austrasia di kawasan barat dan Neustria di kawasan utara selambat-lambatnya sampai era 850-an, dan baru sepenuhnya lenyap sebagai sebuah bahasa tutur dari daerah-daerah yang sekarang menuturkan bahasa Prancis pada abad ke-10.[26]

Seni rupa dan arsitektur[sunting | sunting sumber]

Kapel istana di Aachen, Jerman, puncak kepandaian arsitektur orang Franka pada zaman wangsa Karoling

Seni rupa dan arsitektur purwa orang Franka termasuk dalam tahap perkembangan seni rupa Zaman Migrasi. Hanya segelintir karya seni dan arsitektur peninggalan Zaman Migrasi yang masih lestari sampai sekarang. Tahap perkembangan berikutnya adalah seni rupa zaman wangsa Karoling, atau, khususnya untuk bidang arsitektur, zaman pra-Romanik. Sangat sedikit karya arsitektur dari zaman wangsa Meroving yang masih lestari. Agaknya gedung-gedung gereja yang pertama kali dibangun orang Franka adalah gedung-gedung berbahan baku kayu. Gedung-gedung gereja kayu yang paling besar ukurannya adalah gedung-gedung jenis basilika. Karya arsitektur dari zaman wangsa Meroving yang paling utuh adalah gedung baptisterium di Poitiers, yang memiliki tiga kubah separuh khas Galia-Romawi. Sejumlah gedung baptisterium berukuran kecil dapat dijumpai di kawasan selatan Prancis. Karena baptisterium lambat laun tidak terpakai, bangunan-bangunan yang sudah ada tidak dimutakhirkan sehingga terlestarikan sampai sekarang dalam bentuk aslinya.

Perhiasan (misalnya kerongsang), senjata (termasuk pedang dengan hiasan pada hulunya), dan sandangan (misalnya mantel dan terompah) telah ditemukan di sejumlah situs makam. Makam Ratu Aregund, yang ditemukan pada tahun 1959, serta harta karun Gourdon, yang dipendam tak lama sesudah tahun 524, merupakan contoh-contoh yang paling menonjol. Segelintir naskah beriluminasi dari zaman wangsa Meroving, misalnya Sacramentarium Gelasianum, memuat banyak sekali corak hias yang menyerupai bentuk satwa. Benda-benda buatan orang Franka tersebut menampakkan pemanfaatan langgam dan corak hias khas Akhir Abad Kuno yang lebih banyak serta tingkat kemahiran dan kerumitan dalam desain dan pembuatan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan barang-barang sezaman dari Kepulauan Inggris. Meskipun demikian, hanya sedikit sekali yang masih lestari, sehingga mungkin saja tidak mewakili barang-barang dengan mutu terbaik dari zaman tersebut.[27]

Barang-barang buatan pusat-pusat utama renaisans Karoling, yang menampakkan peralihan dari kurun waktu sebelumnya, jauh lebih banyak yang masih lestari. Bidang kesenian mendapat dukungan dan kucuran dana dari Karel Agung, seniman-seniman asing didatangkan bilamana keahliannya diperlukan, dan perkembangan seni rupa pada zaman wangsa Karoling menjadi penentu jalan sejarah perkembangan seni rupa Dunia Barat. Naskah-naskah beriluminasi dan papan-papan gading berukir dari zaman Karoling, yang lestari dalam jumlah yang berpatutan, hampir sama mutunya dengan naskah-naskah beriluminasi dan papan-papan gading berukir buatan Konstantinopel. Peninggalan arsitektur Karoling yang paling utama adalah gedung Kapel Istana di Aachen, yang dibangun dengan meniru bentuk gedung Basilika San Vitale di Ravenna. Beberapa pilar kapel istana ini memang didatangkan dari Ravenna. Banyak pula gedung lain yang masih lestari sejak dibangun sampai sekarang, misalnya gedung-gedung biara di Centula dan Sankt Gallen, serta gedung Kölner Dom. Gedung-gedung dan gugus-gugus bangunan tersebut dilengkapi dengan banyak menara.[28]

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama asli[sunting | sunting sumber]

Gambar lebah atau lalat emas yang ditemukan di makam Kilderik I

Jejak-jejak Agama asli orang Franka masih dapat dijumpai dalam sumber-sumber primer, tetapi tidak selamanya dapat dipahami. Tafsir-tafsir yang dicetuskan para ahli pada Zaman Modern sangat berlainan satu sama lain, tetapi agaknya agama asli orang Franka memiliki banyak kesamaan dengan agama-agama asli suku bangsa Jermani lainnya. Mungkin sekali agama asli orang Franka adalah salah satu bentuk dari politeisme suku bangsa Jermani. Agama ini sangat bersifat ritual. Berbagai kegiatan sehari-hari dikaitkan dengan bermacam-macam dewa-dewi. Dewa tertinggi dalam agama asli orang Franka boleh jadi adalah Kuinotaurus, dewa air yang dipercaya sebagai leluhur wangsa Meroving.[29] Banyak dewa-dewi orang Franka hanya dipuja di tempat-tempat tertentu, dan kesaktian mereka terbatas pada daerah-daerah tertentu. Di luar dari daerah-daerah tersebut, mereka tidak dipuja maupun ditakuti. Sebagian besar dewa-dewi orang Franka sangat "membumi" karena berwujud dan berkaitan dengan benda-benda tertentu, bertolak belakang dengan sifat Allah menurut agama Kristen.[30]

Jejak agama asli orang Franka terlihat di situs makam Kilderik I. Jenazah Kilderik ditemukan terbalut sehelai kain bertabur hiasan-hiasan kecil berbentuk lebah. Agaknya ada kaitan antara hiasan berbentuk lebah ini dengan lembing tradisional orang Franka yang dinamakan anggon (sengat) sesuai bentuk mata lembingnya. Mungkin sekali corak fleur de lys (bunga bakung) berasal dari bentuk mata anggon.

Agama Kristen[sunting | sunting sumber]

Patung di Basilika Saint-Remi yang menggambarkan peristiwa pembaptisan Klovis I oleh Santo Remigius sekitar tahun 496

Segelintir orang Franka, seperti Silvanus, sudah lebih dahulu memeluk agama Kristen. Pada tahun 493, Raja Klovis I memperistri seorang putri Katolik dari Burgunia berna Klotilda, dan akhirnya dibaptis pada tahun 496 oleh Santo Remigius setelah berjaya mengalahkan orang Alemani dalam Pertempuran Tolbiakum. Menurut Gregorius Turonensis, lebih dari tiga ratus orang prajuritnya juga ikut serta dibaptis.[31] Keputusan Klovis untuk memeluk agama Kristen berdampak besar terhadap jalan sejarah Eropa, karena kala itu orang Franka adalah satu-satunya suku besar di antara suku-suku bangsa Jermani pemeluk agama Kristen tanpa penganut paham Arianisme dari kalangan bangsawan dalam jumlah besar, sehingga dengan sendirinya terjalin hubungan mesra antara Gereja Katolik dan orang Franka.

Meskipun banyak bangsawan Franka segera mengikuti langkah Klovis memeluk agama Kristen, seluruh rakyat Klovis baru dapat dikristenkan setelah melalui banyak ikhtiar, bahkan rakyat di beberapa daerah baru memeluk agama Kristen dua abad kemudian.[32] Menurut Tawarikh Santo Denisius, tokoh-tokoh Franka yang masih kukuh memeluk agama asli tidak menyetujui keputusan Klovis untuk memeluk agama Kristen. Tokoh-tokoh ini kemudian bersatu memihak Ragnakar, pahlawan yang sangat berjasa membantu perjuangan Klovis menjadi raja orang Franka. Ragnakar akhirnya dihukum mati atas perintah Klovis, tetapi alasannya tidak disebutkan dalam Tawarikh Santo Denisius.[33] Dengan banyak ikhtiar, teristimewa ikhtiar-ikhtiar dari jaringan biara yang terus meluas, satu demi satu daerah penganut agama asli akhirnya dapat diyakinkan untuk beralih ke agama Kristen.[34]

Gereja orang Franka pada zaman wangsa Meroving digembleng oleh kekuatan-kekuatan dari dalam maupun dari luar. Gereja orang Franka harus memaklumi keberadaan hierarki Galia-Romawi yang menentang perubahan adat-istiadatnya, harus mengkristenkan sensibilitas-sensibilitas agama asli serta menekan ekspresi-ekspresinya, harus menciptakan landasan teologi baru bagi bentuk-bentuk jabatan raja wangsa Meroving yang berurat akar pada agama asli suku bangsa Jermani, serta harus pula menyelaraskan diri dengan kegiatan-kegiatan misionaris Irlandia dan Angli-Saksen maupun tuntutan-tuntutan dari Sri Paus.[35] Reformasi zuhud dan hubungan Gereja-negara pada zaman wangsa Karoling merupakan titik zenit Gereja orang Franka.

Para petinggi pada zaman wangsa Meroving kian lama kian berharta, sehingga mampu mendanai banyak biara, termasuk biara misionaris asal Irlandia yang bernama Kolumbanus. Pada abad ke-5, ke-6, dan ke-7, gerakan zuhud muncul sebanyak dua kali di Negeri Franka, sehingga terbit aturan yang mewajibkan semua rahib maupun pertapa untuk menaati Tata Tertib Santo Benediktus.[36] Adakalanya pihak Gereja berselisih dengan raja-raja wangsa Meroving, yang mengaku berhak bersemayam di atas singgasana kerajaan atas dasar kemuliaan nasab dan cenderung kembali mengamalkan poligami seperti para leluhur mereka sebelum kedatangan agama Kristen. Roma mendorong orang Franka agar sedikit demi sedikit beralih dari ritus Galia ke ritus Romawi. Ketika para pembesar istana mengambil alih tampuk pemerintahan, pihak Gereja memberikan dukungan, dan Sri Paus pun menobatkan seorang pembesar istana menjadi kaisar yang lebih sehaluan dengan Gereja.

Hukum[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana lazimnya dalam suku-suku bangsa Jermani, hukum-hukum orang Franka dihafal oleh para "rachimburg", sama seperti para ahli hukum di Skandinavia.[37] Ketika hukum-hukum orang Franka pertama kali muncul dalam bentuk tertulis pada abad ke-6, ada dua golongan masyarakat hukum, yakni orang Franka Sali yang tunduk kepada hukum Sali dan orang Franka Ripuari yang tunduk kepada hukum Ripuari. Masyarakat Galia-Romawi yang mendiami daerah di sebelah selatan Sungai Loire serta kaum rohaniwan tetap tunduk kepada hukum Romawi.[38] Hukum-hukum Jermani sangat mementingkan perlindungan terhadap orang pribadi dan kurang mengutamakan kepentingan negara. Menurut Michel Rouche, "hakim-hakim Franka menangani kasus pencurian anjing secermat hakim-hakim Romawi menangani kasus pertanggungjawaban keuangan seorang curialis atau anggota dewan pemerintah kota".[39]

Warisan sejarah[sunting | sunting sumber]

Kekaisaran Wangsa Karoling (hijau) pada tahun 814

Pada Abad Pertengahan, istilah "orang Franka" pernah digunakan oleh umat Kristen Ortodoks Timur dan umat Islam di sekitar Dunia Kristen (maupun di negeri-negeri yang lebih jauh lagi, misalnya di Asia) sebagai sebutan umum bagi bangsa Eropa dari kawasan barat dan kawasan tengah Benua Eropa, yakni kawasan-kawasan berpenduduk Kristen Katolik ritus Latin yang tunduk pada kewenangan Sri Paus di Roma.[40] Istilah lain yang juga digunakan dengan makna serupa adalah "orang Latin".

Para sejarawan modern kerap melekatkan sebutan "orang Franka" atau "orang Latin" pada umat Kristen Katolik ritus Latin di kawasan timur Mediterania tanpa pandang bulu, dan melekatkan sebutan "Romaios" dan "Rûmi" (orang Romawi) pada umat Kristen Ortodoks. Di beberapa pulau dalam wilayah negara Yunani, umat Kristen Katolik masih disebut "orang Franka" (bahasa Yunani: Φράγκοι, Frangkoi), misalnya di Pulau Siros, tempat umat Kristen Katolik disebut "orang Franka Siros" (bahasa Yunani: Φραγκοσυριανός, Frangkosirianos). Masa pemerintahan Laskar Salib di kepulauan Yunani sampai sekarang disebut "pemerintahan orang Franka" (bahasa Yunani: Φραγκοκρατία, "Frangkokratia"). Umat Kristen Katolik ritus Latin di Timur Tengah (khususnya di Syam) disebut "orang Franka Syam" (bahasa Yunani: Φραγκολεβαντίνοι, Frangkolevantinoi).

Pada abad ke-13 dan ke-14, orang Mongol menyebut bangsa Eropa sebagai "orang Franka".[41] Istilah Franggistan (negeri orang Franka) digunakan umat Islam sebagai sebutan bagi Dunia Kristen Eropa, dan lumrah digunakan beberapa abad lamanya di Iran maupun di Kesultanan Utsmaniyah.

Orang Tionghoa menyebut orang Portugis sebagai "orang Franka" (Hanzi: 佛郎機, fólángjī) pada era 1520-an dalam Pertempuran Tunmen dan Pertempuran Shancaowan. Bunyi karakter 佛郎機 dalam beberapa dialek bahasa Mandarin adalah Fa-lan-ki.

Pada masa pemerintahan Chingtih (tahun 1506), orang-orang asing dari barat yang disebut Fah-lan-ki, dengan alasan hendak mempersembahkan upeti, telah lancang berlayar melewati Selat Bogue, dan menggegerkan seluruh pelosok daerah itu dengan dentuman meriam-meriam mereka yang teramat nyaring. Tingkah mereka pun dilaporkan ke istana, maka turunlah titah untuk selekasnya mengusir mereka, dan menutup usaha mereka.

— Samuel Wells Williams

Lingua Franca (bahasa orang Franka) adalah bahasa pijin yang mula-mula dituturkan pada abad ke-11 oleh orang-orang Kristen Eropa dan umat Islam di bandar-bandar Laut Tengah sampai abad ke-19. Kini istilah Lingua Franka digunakan sebagai sebutan bagi bahasa-bahasa dagang, atau bahasa-bahasa pergaulan antarbangsa.

Berikut ini adalah contoh kata-kata yang bercikal bakal dari istilah "Franka":

Kata "Farang" dalam bahasa Thai digunakan sebagai sebutan bagi semua orang Eropa. Kedatangan tentara Amerika Serikat semasa Perang Vietnam membuat orang Thai mengenal orang Amerika keturunan Afrika. Orang Thai menyebut mereka (dan orang-orang keturunan Afrika pada umumnya) sebagai "Farang hitam" (bahasa Thai: ฝรั่งดำ, Farang dam). Kata "Farang" kadang-kadang dilekatkan pada flora dan fauna yang diperkenalkan oleh bangsa Eropa. Sebagai contoh, dalam bahasa Khmer, satwa kalkun disebut "môn barang" yang secara harfiah berarti "ayam Prancis", sementara dalam bahasa Thai, kata Farang digunakan sebagai sebutan bagi bangsa Eropa maupun buah jambu biji, yakni buah yang diperkenalkan para saudagar Portugis 400 tahun silam. Di negara Israel dewasa ini, kata "Frenk" (פרענק) dari kosakata bahasa Yidis, melalui perkembangan etimologi yang tidak lazim, digunakan sebagai sebutan bagi orang Yahudi Mizrahi dan berkonotasi sangat negatif.

Sejumlah ahli bahasa, antara lain Dr. Jan Tent dan Dr. Paul Geraghty, menduga bahwa istilah "Palangi" atau "Papalangi" dalam bahasa Samoa dan rumpun bahasa Polinesia yang digunakan sebagai sebutan bagi bangsa Eropa, mungkin masih berkaitan dengan istilah "Franka". Mungkin sekali istilah-istilah tersebut adalah kata-kata yang terserap melalui kontak awal masyarakat kepulauan Pasifik dengan orang Melayu.[47]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Drinkwater, John Frederick (2012). "Franks". Dalam Hornblower, Simon; Spawforth, Antony; Eidinow, Esther. The Oxford Classical Dictionary (edisi ke-4). Oxford University Press. ISBN 9780191735257. Diakses tanggal 26 Januari 2020. 
  2. ^ "Holy Roman Empire | Encyclopedia.com". www.encyclopedia.com. 
  3. ^ "Coronation of Charlemagne". unamsanctamcatholicam.com. 
  4. ^ Editors, History com. "Charlemagne". HISTORY. 
  5. ^ (Halsall 2007, hlm. 267)
  6. ^ "Jerusalem in the Crusader Period". Bar-Ilan University. Ingeborg Rennert Center for Jerusalem Studies. Diakses tanggal 29 Oktober 2019. 
  7. ^ Angeliki Laiou; Henry P. Maguire (1992). Byzantium: A World Civilization. Dumbarton Oaks. hlm. 62. ISBN 978-0-88402-200-8. 
  8. ^ Richard W. Bulliett et alii (2011). The Earth and Its Peoples. Cengage Learning. hlm. 333. ISBN 978-0-495-91310-8. 
  9. ^ Janet L. Nelson (2003). The Frankist World. Continuum International. hlm. xiii. ISBN 978-1-85285-105-7. 
  10. ^ Arteaga, Deborah L. Research on Old French: The State of the Art. Springer Science & Business Media. hlm. 206. Diakses tanggal 29 Oktober 2019. 
  11. ^ Perry 1857, hlm. 42.
  12. ^ Contoh: "frank". American Heritage Dictionary.  "frank". Webster's Third New International Dictionary.  dan seterusnya.
  13. ^ Robert K. Barnhart (penyunting), Barnhart Dictionary of Etymology (Bronx, NY: H. W. Wilson, 1988), 406.
  14. ^ Murray, Alexander Callander (2000). From Roman to Merovingian Gaul: A Reader. Broadview Press. hlm. 1. Etimologi 'Franci' tidak dapat dipastikan ('orang-orang garang' adalah penjelasan yang disukai banyak orang), tetapi tidak diragukan lagi kalau nama tersebut berasal dari bahasa Jermani. 
  15. ^ Panegirik tentang Konstantinus, xi.
  16. ^ Howorth 1884, hlm. 217.
  17. ^ Perry 1857, hlm. 43.
  18. ^ James 1988, hlm. 187.
  19. ^ Wickham, Chris (2010) [2009]. The Inheritance of Rome: Illuminating the Dark Ages 400–1000Perlu mendaftar (gratis). Penguin History of Europe, 2. Penguin Books. hlm. 123. ISBN 978-0-670-02098-0. 
  20. ^ Rydberg, Viktor; Anderson, Rasmus B. (Translator) (1889). Teutonic Mythology. Swan Sonnenschein & Co. hlm. 33–36. 
  21. ^ "Rheinischer Fächer – Karte des Landschaftsverband Rheinland". Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 Februari 2009. 
  22. ^ B. Mees, The Bergakker inscription and the beginnings of Dutch, dalam: Amsterdamer beiträge zur älteren Germanistik: Band 56 – 2002, disunting oleh Erika Langbroek, Annelies Roeleveld, Paula Vermeyden, Arend Quak, Diterbitkan oleh Rodopi, 2002, ISBN 9042015799
  23. ^ van der Horst, Joop (2000). Korte geschiedenis van de Nederlandse taal (Kort en goed) (dalam bahasa Dutch). Den Haag: Sdu. hlm. 42. ISBN 90-5797-071-6. 
  24. ^ a b "Romance languages | Description, Origin, Characteristics, Map, & Facts". Encyclopedia Britannica. 
  25. ^ Noske 2007, hlm. 1.
  26. ^ U. T. Holmes, A. H. Schutz (1938), A History of the French Language, hlm. 29, Biblo & Tannen Publishers, ISBN 0-8196-0191-8
  27. ^ Otto Pächt, Book Illumination in the Middle Ages (diterjemahkan dari bahasa Jerman), 1986, Harvey Miller Publishers, London, ISBN 0-19-921060-8
  28. ^ Eduard Syndicus; Early Christian Art; hlmn. 164–174; Burns & Oates, London, 1962
  29. ^ Schutz, 152.
  30. ^ Dalam Sejarah Orang Franka, Gregorius Turonensis mengemukakan bahwa "jadi rupanya bangsa ini senantiasa kecanduan ibadat kafir, dan mereka tidak mengenal Allah, tetapi memberhalakan hutan-hutan dan perairan-perairan, burung-burung dan binatang-binatang buas, maupun benda-benda lain. Mereka terbiasa memuja dan mempersembahkan kurban kepada berhala-berhala itu." (Gregorius Turonensis, Historia Francorum, Buku I.10)
  31. ^ Gregorius Turonensis. "Buku II, 31". History of the Franks. 
  32. ^ Sönke Lorenz (2001), Missionierung, Krisen und Reformen: Die Christianisierung von der Spätantike bis in Karolingische Zeit in Die Alemannen, Stuttgart: Theiss; ISBN 3-8062-1535-9; hlmn. 441–446
  33. ^ Tawarikh Santo Denisius, I.18–19, 23 Diarsipkan 2009-11-25 di Wayback Machine.
  34. ^ Lorenz (2001:442)
  35. ^ J.M. Wallace-Hadrill membahas topik ini dalam The Frankish Church (Oxford History of the Christian Church; Oxford:Clarendon Press) 1983.
  36. ^ Michel Rouche, 435–436.
  37. ^ Michel Rouch, 421.
  38. ^ Michel Rouche, 421–422.
  39. ^ Michel Rouche, 422–423
  40. ^ König, Daniel G., Arabic-Islamic Views of the Latin West. Tracing the Emergence of Medieval Western Europe, Oxford: OUP, 2015, bab 6, hlmn. 289-230
  41. ^ Igor de Rachewiltz – Turks in China under the Mongols, in: China Among Equals: The Middle Kingdom and its Neighbors, 10th–14th Centuries, hlm. 281
  42. ^ Rasyidudin Fazlullah, dikutip dalam Karl Jahn (penyunting) Histoire Universelle de Rasid al-Din Fadl Allah Abul=Khair: I. Histoire des Francs (Texte Persan avec traduction et annotations), Leiden, E. J. Brill, 1951. (Source: M. Ashtiany)
  43. ^ Kamoludin Abdullaev; Shahram Akbarzaheh (27 April 2010). Historical Dictionary of Tajikistan. Scarecrow Press. hlm. 129–. ISBN 978-0-8108-6061-2. 
  44. ^ Myanmar-English Dictionary. Myanmar Language Commission. 1996. ISBN 1-881265-47-1. 
  45. ^ Endymion Porter Wilkinson (2000). Chinese History: A Manual. Harvard Univ Asia Center. hlm. 730–. ISBN 978-0-674-00249-4. 
  46. ^ Park, Hyunhee (27 August 2012). Mapping the Chinese and Islamic Worlds: Cross-Cultural Exchange in Pre-Modern Asia. Cambridge University Press. hlm. 95–. ISBN 978-1-107-01868-6. 
  47. ^ Tent, J., dan Geraghty, P., (2001) "Exploding sky or exploded myth? The origin of Papalagi", Journal of the Polynesian Society, 110, 2: hlmn. 171–214.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Penobatan Karel Agung pada tahun 800 M

Sumber[sunting | sunting sumber]

Sumber primer[sunting | sunting sumber]

  • Fredegarius
    • Fredegarius; John Michael Wallace-Hadrill (1981) [1960]. Fredegarii chronicorum liber quartus cum continuationibus (dalam bahasa Latin and Inggris). Greenwood Press. 
    • Anonim (1973). Liber Historiae Francorum. Diterjemahkan oleh Bachrach, Bernard S. Coronado Press. 
    • Woodruff, Jane Ellen; Fredegar (1987). The Historia Epitomata (third book) of the Chronicle of Fredegar: an annotated translation and historical analysis of interpolated material. Thesis (Ph.D.). University of Nebraska. 

Sumber sekunder[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]