Bangsa Mongol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bangsa Mongol hidup dalam kabilah-kabilah kecil. Kesamaan di antara suku-sukunya dilihat dari kesamaan bahasa, dialek dan nasab. Sedangkan perbedaan di antara suku-sukunya dilihat dari cara bertahan hidup. Bangsa Mongol pernah membentuk kekaisaran besar yaitu Kekaisaran Mongol pada abad ke-13 M. Bangsa Mongol sering disamakan atau dibedakan dengan bangsa Tatar oleh para sejarawan.

Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Leluhur bangsa Mongol hidup dalam kabilah-kabilah yang disebut Amuk. Amuk terbentuk dari anggota yang berjumlah sedikit. Di dalam Amuk terdapat pembagian menjadi cabang kabilah atau kelompok beradasarkan hubungan sosial dari para anggotanya.[1]

Hubungan kesukuan[sunting | sunting sumber]

Persamaan kesukuan[sunting | sunting sumber]

Suku-suku bangsa Mongol biasanya membentuk persatuan antarsuku. Persatuan ini yang kemudian membentuk suku-suku besar. Pembentukannya dilakukan dengan asimilasi antara suku-suku yang masih memiliki hubungan nasab. Bentuk persatuan yang umum terwujud adalah federal. Selain itu, suku-suku bangsa Mongol juga membentuk persatuan dari kesamaan bahasa dan dialek.[1]

Perbedaan kesukuan[sunting | sunting sumber]

Perbedaan di antara suku-suku bangsa Mongol teramati dari keterampilan hidup mereka. Terdapat dua kelompok suku berdasarkan keterampilannya, yaitu suku penggembala dan suku pemburu. Suku penggembala menggembalakan ternak mereka di padang rumput dan sabana. Sedangkan suku pemburu melakukan perburuan di dalam hutan dan semak belukar.[1]

Masa Kekaisaran Mongol[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1206 M, bangsa Mongol di Asia Tengah membentuk Kekaisaran Mongol. Pendirinya adalah Jenghis Khan. Wilayah kekuasaanya meliputi sebagian besar daratan Eurasia. Bagian timurnya meliputi Tiongkok dan bagian baratnya meliputi wilayah kekhalifahan Islam.[2]

Kemiripan dengan bangsa lain[sunting | sunting sumber]

Para pakar sejarah Arab berpendapat bahwa bangsa Mongol disamakan dengan bangsa Tatar. Kesamaan ini ditinjau berdasarkan peperangan-peperangan yang mereka lakukan. Pendapat ini didukung oleh pakar sejarah muslim Arab dan pakar sejarah Eropa Klasik.[3]

Sementara itu, para orientalis Eropa membedakan antara bangsa Tatar dan bangsa Mongol. Mereka mendasarkan pendapat mereka kepada tulisan-tulisan dari seorang sejarawan Persia bernama Rasyiduddin Al-Wazir. Tulisan ini yang utama adalah buku Jami' At-Tarikh (Sejarah Lengkap). Pendapat ini juga didukung oleh orientalis dengan karya tulis ilmiah berbahasa Mongol. Tulisan yang mendukungnya berjudul At-Tarikh As-Sirri li Al-Mongol (Sejarah Rahasia Mongol).[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Zaghrut 2022, hlm. 110.
  2. ^ Qoyum, A., dkk. (2021). Sakti, A., Hidayat, S. E., dan Samidi, S., ed. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. hlm. 16. ISBN 978-602-60042-8-4. 
  3. ^ a b Zaghrut 2022, hlm. 112.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Zaghrut, Fathi (April 2022). Artawijaya, ed. Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam. Diterjemahkan oleh Irham, Masturi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-979-592-978-9.