Kerajaan Bourgogne

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Kerajaan Bourgogne merupakan sebuah kerajaan yang terdiri dari beberapa negara yang terletak di Eropa Barat pada masa Abad Pertengahan. Sejarah Bourgogne berkorelasi dengan wilayah perbatasan Perancis, Italia dan Swiss dan termasuk kota-kota modern Jenewa dan Lyon.

Sebagai sebuah entitas politik, Bourgogne telah eksis di dalam sejumlah bentuk dengan batas-batas yang berbeda, terutama ketika dibagi ke dalam Bourgogne Hulu dan Hilir dan Provence. Kedua entitas ini — yang pertama pada sekitar abad ke-6, yang kedua pada sekitar abad ke-11— disebut sebagai Kerajaan Bourgogne. Pada saat itu terdapat Bourgogne Hilir, Kadipaten Bourgogne dan Provinsi Bourgogne.

Kerajaan Bourgogne setelah pemukiman mereka di Savoia dari tahun 443.
Bourgogne sebagai bagian dari Kerajaan Franka di antara tahun 534 dan 843.
Kerajaan-kerajaan Bourgogne Hulu dan Hilir pada tahun 879 dan 933.
Kerajaan Arles (1033–1378).
Kepemilikan Wangsa Valois-Bourgogne di masa pemerintahan Charles Martin pada akhir abad ke-15.

Kerajaan Bourgogne (abad ke-4 – 534 M)[sunting | sunting sumber]

Bourgogne dinamakan seperti Burgundian, Suku bangsa Jermanik yang berasal dari daratan Skandinavia yang kemudian menetap di pulau Bornholm, yang namanya di dalam bahasa Norse kuno adalah Burgundarholmr ("Pulau Burgundian"). Dari sana mereka bermigrasi ke selatan melalui wilayah-wilayah Jerman ke Galia Romawi dan menetap di wilayah bagian barat Pegunungan Alpen dan lembah Rhone, dan mendirikan sebuah Kerajaan Barbar suku bangsa Bourgogne.

Dokumentasi pertama meskipun tidak historis memastikan Raja Burgundian adalah Gjúki (Gebicca), yang hidup di akhir abad ke-4. Di dalam perjalanan dari Penyeberangan Rhine pada tahun 406 suku bangsa Burgundian menetap sebagai Foederatus di dalam provinsi Romawi Jermania Hilir di sepanjang Rhine Tengah. Situasi mereka memburuk ketika di sekitar tahun 430 raja mereka Gunnar memulai beberapa serangan ke negara tetangganya Gallia Belgica, yang menyebabkan kekalahan telak oleh gabungan pasukan Romawi dan Hun di bawah pimpinan Flavius Aetius pada tahun 436 di dekat Worms, Jerman (asal puisi abad pertengahan Nibelungenlied).

Burgundian yang tersisa dari tahun 443 seterusnya menetap di wilayah Sapaudia (antara lain wilayah Savoia), sekali lagi sebagai again as Foederatus di dalam Provinsi Maxima Sequanorum, Romawi. Upaya mereka untuk memperbesar kerajaan mereka di sepanjang Sungai Rhone mengantar mereka ke dalam konflik dengan Kerajaan Visigoth di selatan. Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476, Raja Gondovald bersekutu dengan Raja Franka, Clovis I melawan ancaman Theodoric yang Agung. Ia kemudian mampu mengatur akuisisi Burgundian berdasarkan Hukum Burgundian, sebuah undang-undang Jermanik kuno.

Kemerosotan Kerajaan dimulai ketika mereka diserang oleh mantan sekutu Franka mereka. Pada tahun 523 putra-putra Clovis I berkampanye di wilayah-wilayah Bourgogne dengan hasutan ibunda mereka, Clotilda, yang ayahandanya Raja Chilperic II telah dibunuh oleh Gondebaud. Pada tahun 532 bangsa Burgundian dengan telak dikalahkan oleh suku Franka di Autun, dimana rajanya, Godomar III dibunuh dan wilayah-wilayah Burgundian dianeksasi oleh Kerajaan Franka pada tahun 534.

Bourgogne Franka, 534–933[sunting | sunting sumber]

Sementara itu tidak ada lagi sebuah kerajaan Burgundian yang mandiri, di antara tahun 561 dan 584 dan di sekitar tahun 639 dan 737 beberapa penguasa Franka dari Dinasti Meroving menggunakan gelar "Raja Bourgogne".

Kerajaan Provence, 855–863[sunting | sunting sumber]

Partisi kerajaan Charlemagne oleh ahli waris langsungnya dari Wangsa Karoling menyebabkan kerajaan berumur pendek di Franka Tengah, yang diciptakan setelah Perjanjian Verdun pada tahun 843. Perjanjian tersebut termasuk wilayah-wilayah dari Laut Utara ke Italia selatan dan dipimpin oleh Kaisar Lothair I. Bagian barat laut di bekas wilayah-wilayah Burgundian sebagai Kadipaten Bourgogne (Bourgogne) dimasukkan ke dalam kerajaan Franka Barat. Sesaat sebelum kematiannya pada tahun 855, Lothair I membagi kerajaannya di antara ketiga putranya menjadi tiga bagian - Lotharingia, Kerajaan Italia dan wilayah-wilayah Bourgogne Hilir dan Provence yang diserahkan kepada putra bungsunya - Charles dari Provence. Pembagian tersebut menimbulkan konflik yang lebih banyak lagi, karena wangsa Karoling yang lebih tua yang memerintah di Franka Barat dan Franka Timur menilai diri mereka sendiri sebagai ahli waris Franka Tengah yang sejati.

Karena Charles dari Provence masih terlalu muda untuk memerintah, kekuasaan yang sesungguhnya dipegang oleh pemangku takhta, Comte Gérard II yang istrinya adalah saudari ipar Kaisar Lothair I. Gérard II merupakan seorang pemangku raja yang kuat, ia membela kerajaan dari bangsa Viking, yang menjarah sampai sejauh Valence. Pamanda Charles, Karl yang Botak dari Franka Barat, berupaya untuk campur tangan di Provence pada tahun 861 setelah menerima banding intervensi dari Comte Arles. Ia menyerang Provence sampai Macon sebelum ditahan oleh Hincmar.

Bourgogne Hulu dan Hilir[sunting | sunting sumber]

Setelah pada tahun 858 Comte Gérard mengatur apabila Charles dari Provence meninggal tanpa keturunan, Kerajaan Provence akan kembali ke tangan kakanda Charles, Lothaire II dari Lorraine yang memerintah di Lotharingia. Ketika Charles meninggal pada tahun 863, kakanda sulungnya, Ludwig II menuntut Provence untuk dirinya sendiri, sehingga kerajaan dibagi di antara dua saudaranya yang tersisa: Lothaire II menerima keuskupan Lyon, Vienne dan Grenoble, yang akan dipimpin oleh Gérard; dan Ludwig II menerima Arles, Aix dan Embrun.

Setelah kematian Lothaire II, menurut Perjanjian Meerssen pada tahun 870, bagian utara bekas wilayah Franka Tengah dialokasikan untuk Raja Ludwig II si Jerman dari Franka Timur dan wilayah-wilayah selatan Charles dari Provence diberikan kepada Karl yang Botak dari Franka Barat.

Setelah pemecatan Karl yang Botak pada tahun 877, diikuti oleh kematian putranya yang tidak cakap, Louis II dari Perancis dua tahun kemudian, seorang bangsawan Franka yang bernama Boso dari Provence mengumumkan dirinya sendiri sebagai "Raja Bourgogne dan Provence" di Vienne pada tahun 879 dan mendirikan kerajaannya di Bourgogne Hilir dan Provence.

Bourgogne Hulu (yang berpusat di wilayah yang sekarang Swiss barat, dan termasuk beberapa wilayah tetangga sekarang di Perancis dan Italia dan beberapa yang kemudian menjadi Franche-Comté) tetap berada di bawah pengaruh raja Franka Timur, Karl III. Dari tahun 887 wilayah-wilayah utara tersebut membentuk Kerajaan Bourgogne Hulu, yang dicanangkan oleh bangsawan Welf Rodolphe dari Bourgogne di Saint-Maurice, Swiss.

Kerajaan Arles, 933–1378 [sunting | sunting sumber]

Penguasa Bourgogne Hulu, Rodolphe II (putra dan ahli waris Rodolphe I) memperoleh Bourgogne Hilir dari Hugues dari Italia pada tahun 933 dan menciptakan sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Arles yang mandiri sampai tahun 1033 ketika kerajaan tersebut diserap ke dalam Kekaisaran Romawi Suci di bawah pimpinan Konrad II. Kerajaan tersebut merupakan salah satu dari tiga kerajaan di dalam Kekaisaran dari jaman abad pertengahan, yang lainnya adalah Kerajaan Jerman dan Kerajaan Italia.

Kerajaan tersebut perlahan-lahan terfragmentasi karena terus dibagi di antara ahli waris atau hilang dan diperoleh melalui diplomasi dan pernikahan dinastik.

Pada tahun 1378, ketika Kerajaan Arles punah, sebagian besarnya telah dipegang oleh Provinsi Savoia dan wilayah-wilayah sisanya diserahkan kapada Dauphin Perancis, Charles VI oleh Kaisar Karl IV yang menciptakan Dauphiné.

"Tiga Kerajaan Bourgogne"[sunting | sunting sumber]

Di akhir abad ke-15, Karl yang Botak menciptakan sebuah proyek kerajaan mandiri sepenuhnya dengan menggabungkan wilayah-wilayahnya ke dalam sebuah "Tiga Kerajaan Bourgogne" dengan dirinya sendiri sebagai rajanya. Karl bahkan membujuk Kaisar Friedrich III, Kaisar Romawi Suci untuk memahkotainya sebagai raja di Trier. Upacara yang direncanakan tidak dapat dilangsungkan karena Kaisar melarikan diri suatu malam di bulan September 1473, karena ia merasa tidak nyaman dengan sikap adipati tersebut. Pada akhirnya kadipaten ini berakhir dengan sebuah wilayah yang mandiri dengan kekalahan dan mutilasi Karl di medan Pertempuran Nancy.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]