Bahasa pijin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bahasa Pijin atau Pidgin adalah sebuah bentuk bahasa kontak yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang penutur bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin biasanya memiliki tata bahasa yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin tidak memiliki penutur bahasa ibu. Jika memiliki penutur asli maka bahasa ini disebut bahasa kreol.

Bahasa pijin diperkirakan berasal dari wilayah Afrika Barat di daerah Nigeria dan sekitarnya. Saat zaman perbudakan dimulai oleh bangsa Amerika dan Eropa, penduduk Afrika Barat dijadikan budak oleh mereka. Karena mereka kurang memahami kosakata yang diucapkan majikannya, mereka mencampur kosakata bahasa Inggris atau bahasa Prancis dengan bahasa ibu mereka sehingga menciptakan tata bahasa yang baru.

Bahasa pijin dituturkan di banyak negara di Afrika Barat dan negara kepulauan di Samudra Pasifik sedangkan bahasa kreol dituturkan di Kepulauan Karibia dan Amerika Selatan. Masing-masing bahasa pijin memiliki dialek tersendiri sesuai kondisi geografis, sosial, dan budaya. Tetapi bahasa pijin masih bertumpu pada bahasa induknya, kebanyakan kosakata bahasa pijin diambil dan dimodifikasi dari bahasa Inggris dan bahasa Prancis.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Secara etimologis, kata “pijin” kemungkinan besar berasal dari istilah bahasa Inggris “business” yang berarti “perdagangan”. Pada awalnya, kata ini merupakan ragam yang penting sebagai bahasa bantu dalam sebuah kontak bahasa. Karena pengaruh substratum Cina, kemungkinan perkembangan kata “pijin” adalah sebagai berikut: /business/ > /pizin/ > /pizin/ > /pizin/ > /pidgin/ > /pijin/.[1]

Kemunculan[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya, bahasa pijin muncul dalam suatu keadaan kebahasaan darurat. Ekspansi kolonialisme dan imperialisme Eropa mengakibatkan bangsa Eropa dan penduduk asli memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi. Para penduduk setempat tidak memahami bahasa para pendatang, tapi mereka memiliki keinginan untuk mengerti.[2]

Bangsa Eropa, misalnya, menyederhanakan tata bahasa dan kosakata mereka dengan harapan dapat berkomunikasi dengan penduduk asli. Sebaliknya, penduduk asli juga berusaha untuk mempermudah sistem bahasanya agar bangsa Eropa dapat memahami mereka. Hal ini mengakibatkan kedua belah pihak dapat berkomunikasi, tetapi secara terpatah-patah.[2]

Lama-kelamaan muncullah suatu bahasa campuran dengan sebuah konvensi kebahasaan yang lebih ketat. Bahasa campuran ini sering muncul dalam situasi kontak bahasa dari dua kebudayaan yang berbeda. Di dalam bahasa campuran ini, bahasa yang mempunyai prestise sosial yang lebih tinggi akan berkembang menjadi penyumbang yang dominan.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Soekiman 2014, hlm. 31.
  2. ^ a b c Soekiman 2014, hlm. 32.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]