Stratum (linguistik)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dalam ilmu bahasa, stratum (serapan dari bahasa Latin, berarti "lapisan") atau strata adalah bahasa yang mempengaruhi, atau dipengaruhi oleh yang lain melalui kontak. Substratum atau substrata adalah bahasa yang memiliki pengaruh atau gengsi yang lebih rendah dari yang lain, sedangkan superstratum atau superstrata adalah bahasa yang memiliki pengaruh atau gengsi yang lebih tinggi. Kedua bahasa substratum dan superstratum saling mempengaruhi, tetapi dengan cara yang berbeda. Adstratum atau adstrata adalah bahasa yang berhubungan dengan bahasa lain tanpa memiliki gengsi dan pengaruh yang lebih tinggi ataupun lebih rendah. Gagasan "strata" pertama kali dikembangkan oleh ahli bahasa Italia bernama Graziadio Isaia Ascoli (1829–1907).[1]

Kedua konsep tersebut berlaku untuk situasi di mana bahasa pendatang memantapkan dirinya di wilayah lain, biasanya sebagai hasil perpindahan penduduk. Kasus superstratum (bahasa lokal bertahan dan bahasa pendatang menghilang) atau kasus substratum (bahasa lokal menghilang dan digantikan oleh bahasa pendatang) berlaku biasanya hanya akan terlihat setelah beberapa generasi, di mana bahasa pendatang ada dalam budaya diaspora. Agar bahasa pendatang tetap bertahan (kasus substratum), pendatang perlu mengambil posisi yang sangat berpengaruh (secara politik atau ekonomi) atau berimigrasi dalam jumlah yang relatif lebih besar dibanding penduduk lokal (seperti invasi atau penjajahan. Contoh yang terkenal yaitu Kekaisaran Romawi yang memunculkan bahasa-bahasa Roman di luar Semenanjung Italia, menggantikan bahasa Galia dan bahasa Indo-Eropa lainnya). Kasus superstratum mengacu pada populasi invasi oleh kalangan yang berpengaruh, yang pada akhirnya mengadopsi bahasa asli kalangan jelata. Contohnya adalah suku Burgundia dan Franka di Prancis kuno, yang akhirnya meninggalkan bahasa Jermanik mereka dan beralih menuturkan bahasa Roman, yang menciptakan bahasa atau ragam yang lebih baru, yaitu bahasa Prancis.

Contoh terkenal substratum dan superstratum[sunting | sunting sumber]

Pengaruh substratum terhadap superstratum[sunting | sunting sumber]

Daerah Bahasa baru Substratum Superstratum Superstratum diperkenalkan oleh atau melalui
Tiongkok (Baiyue), Vietnam Utara Yue (Viet), berbagai Min, sebagian Wu (Wenzhou) Berbagai bahasa Yue Tionghoa Kuno Sinifikasi (melalui kampanye militer Qin terhadap suku-suku Yue, kampanye militer Han terhadap Minyue, dan perluasan wilayah Dinasti Han ke Kawasan Selatan), antara milenium pertama SM dan milenium pertama Masehi
Syam Arab Syam Aram Barat Arab Klasik Bangsa Arab melalui Penaklukan Muslim Awal
Mesir Arab Mesir Koptik
Mesopotamia Arab Mesopotamia Aram Timur
Maghrib (Afrika Utara) Arab Aljazair, Libya, Maroko, dan Arab Tunisia Berber, Punik, dan Latin Umum
Etiopia Amhar Kush Tengah Semit Selatan Ekspansi Semit pada Zaman Perunggu
Eritrea/Etiopia Tigrinya, Tigré, dan Ge'ez Kush Tengah dan Kush Utara
Inggris Inggris Kuno Britonik Umum Sachsen Kuno dan Angli Pemukiman Angli-Sachsen di Britania
Irlandia Inggris Irlandia Irlandia (Gaelik) Inggris Modern Awal, Skots Awal (atau "Inggris Pertengahan Utara", dari Inggris Northumbria Kuno) Bangsa Inggris selama masa Plantation pada abad ke-16
Skotlandia Inggris Skotlandia Skots Pertengahan dan Gaelik Skotlandia (dari penduduk asli Skotlandia) Bangsa Inggris selama Reformasi Skotlandia pada abad ke-16
Singapura Mandarin Singapura Ragam Tionghoa Selatan: Hokkien, Tiochiu, Kanton, Hainan Mandarin Baku Pemerintah Singapura selama Kampanye Berbicara Mandarin
Prancis Prancis Galia Latin Umum, kemudian Franka[2] Bangsa Romawi setelah Perang Galia, kemudian berbagai suku Jermanik selama Masa Migrasi
Portugal Portugis Galaekia dan Lusitania Latin Umum, kemudian Visigoth
Kepulauan Canaria Spanyol Canaria Guanche Spanyol Andalusia dalam penggabungan Kepulauan Canaria ke dalam kekuasaan Kerajaan Kastila Suku Andalusia selama penggabungan Kepulauan Canaria ke dalam kekuasaan Kerajaan Kastila
Meksiko Spanyol Meksiko Nahuatl Spanyol pada abad ke-15 Bangsa Spanyol selama penjajahan oleh Spanyol
of the 15th century
Andes Tengah Spanyol Andes Quechua, Aymara
Paraguay Spanyol Paraguay Guarani
Filipina Chavacano Tagalog, Iloko, Hiligaynon, Cebu, Sama, Suluk, Yakan, dan Melayu
Brasil Portugis Brasil Tupi, Bantu[3] Portugis pada abad ke-15 Bangsa Portugis selama masa penjajahan
Angola Portugis Angola Umbundu, Kimbundu, dan Kongo Bangsa Portugis selama penjajahan di Afrika
Jamaika Patwa Jamaika bahasa-bahasa Afrika yang dibawa oleh budak-budak Inggris Modern Awal Bangsa Inggris selama penjajahan
India Bahasa Inggris India berbagai bahasa di India
Israel Ibrani Modern Arab, Yiddi, Jerman, Rusia, dan bahasa-bahasa diaspora Yahudi lainnya Ibrani Alkitabiah dan Mishnaik yang dibakukan Imigran Yahudi pada akhir abad ke-19
dan awal ke-20
yang berhasil memperkenalkan kembali bahasa Ibrani
Shetland dan Orkney Skots Kepulauan Norn Skots Akuisisi oleh Kerajaan Skotlandia pada abad ke-15
Norwegia Bokmål Norwegia Kuno Denmark Persatuan dengan Kerajaan Denmark, 1380–1814.
Argentina/Uruguay Spanyol Rio Plata Napolitan dan berbagai bahasa di Italia Spanyol Migrasi bangsa Italia ke Uruguay dan Argentina

Pengaruh Superstratum terhadap substratum[sunting | sunting sumber]

Daerah Bahasa Baru Substratum Superstratum Superstratum diperkenalkan oleh
Prancis Prancis Kuno Gallo-Roman Franka Dinasti Meroving di Galia pada tahun 500 Masehi
Inggris Inggris Pertengahan Inggris Kuno Prancis Kuno Bangsa Norman selama penaklukan ke Inggris
Yunani Yunani Dhimotiki Yunani Abad Pertengahan Turki Utsmaniyah Orang Turki Utsmani setelah Kejatuhan Konstantinopel dan selama penguasaan atas Yunani
Spanyol Spanyol Bahasa-bahasa di Iberia Latin, Visigoth; Arab (melalui Muzarab) Penaklukan oleh Romawi (abad pertama SM hingga abad ke-5 M); Visigoth dan suku-suku Jermanik lainnya; Umayyah selama penaklukan ke Iberia, dan penutur bahasa Arab dan Muzarab di al-Andalus yang terasimilasi di Kastila dan Kerajaan Kristen selama Reconquista
Malta Malta Arab Klasik dan Arab Sisilia Sisilia, kemudian Italia, dan bahasa Roman lainnya[4] Penguasaan oleh bangsa Norman dan Aragon, pendirian Kesatria Hospitaller di kepulauan Laut Tengah pada abad ke-16[5]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Contoh stratum[sunting | sunting sumber]

Artikel yang berkaitan[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Why Don't the English Speak Welsh?" Hildegard Tristram, chapter 15 in The Britons in Anglo-Saxon England, N. J. Higham (ed.), The Boydell Press 2007 ISBN 1843833123, pp. 192–214. [1] Diarsipkan 2011-07-19 di Wayback Machine.
  2. ^ Michaelis, Susanne (2008). Roots of Creole structures: weighing the contribution of substrates and superstrates. John Benjamins Publishing Company. hlm. XVI. ISBN 9789027252555. Diakses tanggal 2010-01-20. 
  3. ^ The Genesis and Development of Brazilian Vernacular Portuguese Diarsipkan 2017-10-10 di Wayback Machine. Page 246, etc
  4. ^ Lıngwa u lıngwıstıka. Borg, Karl. Valletta, Malta: Klabb Kotba Maltin. 1998. ISBN 99909-75-42-6. OCLC 82586980. 
  5. ^ Brincat, Joseph M. (2000). Il-Malti, elf sena ta' storja. Malta: Pubblikazzjonijiet Indipendenza. ISBN 99909-41-68-8. OCLC 223378429. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Benedict, Paul K. (1990). Japanese/Austro-Tai. Ann Arbor: Karoma.
  • Cravens, Thomas D. (1994). "Substratum". The Encyclopedia of Language and Linguistics, ed. by R. E. Asher et al. Vol. 1, pp. 4396–4398. Oxford: Pergamon Press.
  • Hashimoto, Mantaro J. (1986). "The Altaicization of Northern Chinese". Contributions to Sino-Tibetan studies, eds John McCoy & Timothy Light, 76–97. Leiden: Brill.
  • Janhunen, Juha (1996). Manchuria: An Ethnic History. Helsinki: Finno-Ugrian Society.
  • Jungemann, Frédéric H. (1955). La teoría del substrato y los dialectos Hispano-romances y gascones. Madrid.
  • Lewin, Bruno (1976). "Japanese and Korean: The Problems and History of a Linguistic Comparison". Journal of Japanese Studies 2:2.389–412
  • Matsumoto, Katsumi (1975). "Kodai nihongoboin soshikikõ: naiteki saiken no kokoromi". Bulletin of the Faculty of Law and Letters (Kanazawa University) 22.83–152.
  • McWhorter, John (2007). Language Interrupted: Signs of Non-Native Acquisition in Standard Language Grammars. USA: Oxford University Press.
  • Miller, Roy Andrew (1967). The Japanese language. Chicago: University of Chicago Press.
  • Murayama, Shichiro (1976). "The Malayo-Polynesian Component in the Japanese Language". Journal of Japanese Studies 2:2.413–436
  • Shibatani, Masayoshi (1990). The languages of Japan. Cambridge: Cambridge UP.
  • Singler, John Victor (1983). "The influence of African languages on pidgins and creoles". Current Approaches to African Linguistics (vol. 2), ed. by J. Kaye et al., 65–77. Dordrecht.
  • Singler, John Victor (1988). "The homogeneity of the substrate as a factor in pidgin/creole genesis". Language 64.27–51.
  • Vovin, Alexander (1994). "Long-distance relationships, reconstruction methodology and the origins of Japanese". Diachronica 11:1.95–114.
  • Wartburg, Walter von (1939). Réponses au Questionnaire du Ve Congrès international des Linguistes. Bruges. 
  • Weinreich, Uriel (1979) [1953]. Languages in contact: findings and problems. New York: Mouton Publishers. ISBN 978-90-279-2689-0.