Sanitasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sistem sanitasi: pengumpulan, pengosongan, transportasi, pengolahan, dan pemusnahan atau penggunaan ulang

Sanitasi adalah kondisi kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan penyediaan air minum yang bersih serta pengolahan dan pembuangan kotoran manusia dan air limbah.[1] Mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya serta mencuci tangan dengan sabun merupakan bagian dari sanitasi. Tujuan sanitasi adalah untuk melindungi kesehatan manusia dengan menyediakan lingkungan yang bersih yang akan menghentikan penularan penyakit, terutama melalui jalur fekal–oral.[2] Sebagai contoh, diare, penyebab utama malnutrisi dan hambatan pertumbuhan pada anak, dapat dikurangi melalui sanitasi yang memadai.[3] Banyak penyakit yang mudah menular apabila masyarakat hidup dengan tingkat sanitasi yang rendah, seperti askariasis (salah satu jenis cacingan), kolera, hepatitis, poliomielitis, schistosomiasis, dan trakoma.

Ada berbagai teknologi dan pendekatan sanitasi, misalnya sanitasi total berbasis masyarakat, sanitasi berbasis wadah, sanitasi ekologis, sanitasi darurat, sanitasi lingkungan, dan sanitasi berkelanjutan. Sistem sanitasi mencakup pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan atau penggunaan kembali kotoran (baik manusia atau hewan) dan air limbah (baik yang berasal dari rumah tangga, industri, atau pertanian).[4] Saat digunakan kembali, pengelola sistem sanitasi dapat berfokus pada nutrisi, air, energi, atau bahan organik yang terkandung dalam kotoran dan air limbah. Hal ini disebut sebagai "rantai nilai sanitasi" atau "ekonomi sanitasi".[5][6] Orang-orang yang bertanggung jawab untuk membersihkan, memelihara, atau mengoperasikan teknologi sanitasi pada setiap langkah rantai sanitasi disebut sebagai pekerja sanitasi.[7]:2

Beberapa "tingkat" sanitasi digunakan untuk membandingkan penerapan sanitasi di dalam suatu negara atau di antara sejumlah negara. Tangga sanitasi yang ditetapkan Program Pemantauan Bersama (JMP) pada tahun 2016 dimulai dari buang air besar sembarangan dan terus meningkat ke atas dengan menggunakan istilah "tidak baik", "terbatas", "dasar", dan tingkat tertingginya adalah "dikelola dengan aman".[8] Istilah-istilah ini terutama digunakan untuk menjelaskan penerapan sanitasi di negara-negara berkembang.

Hak asasi manusia atas air dan sanitasi diakui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2010. Sanitasi merupakan prioritas pembangunan internasional dan menjadi subjek Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6.[9] Kurangnya akses terhadap sanitasi tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada martabat manusia dan keselamatan pribadi.

Di Indonesia, sanitasi memiliki beberapa definisi, misalnya sebagai segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan.[10] Sementara itu, beberapa definisi lainnya menitikberatkan pada pemutusan mata rantai patogen dari sumber penularannya dan pengendalian lingkungan.[11][12]

Ruang lingkup[sunting | sunting sumber]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa, "Sanitasi pada umumnya merujuk kepada penyediaan sarana dan pelayanan pembuangan limbah kotoran manusia seperti urin dan feses. Istilah 'sanitasi' juga mengacu kepada pemeliharaan kondisi higienis melalui upaya pengelolaan sampah dan pengolahan limbah cair."[13]

Sanitasi termasuk didalamnya empat prasarana teknologi (walaupun sering kali hanya yang pertama yang berkitan erat dengan istilah 'sanitasi'): Pengelolaan kotoran manusia (feces), sistem pengelolaan air limbah (termasuk instalasi pengolahan air limbah), sistem pengelolaan sampah, sistem drainase atau disebut juga dengan pengelolaan limpahan air hujan.

Terdapat sedikit perbedaan defenisi yang digunakan saat ini. Misalnya, untuk beberapa organisasi, promosi higiene dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari sanitasi, Dengan demikian, Water Supply and Sanitation Collaborative Council (Badan kolaborasi penyediaan air dan sanitasi dunia) mendefenisikan sanitasi sebagai: "pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan atau penggunaan kembali limbah kotoran manusia (feces), limbah cair dan sampah rumah tangga dan juga berkaitan dengan promosi higiene." [14]

Disamping fakta bahwa pengolahan air limbah juga termasuk bagian dari sanitasi, kedua istilah ini sering kali ditulis berdampingan seperti "pengelolaan sanitasi dan air limbah". Istilah sanitasi telah dihubungkan dengan berbagai deskripsi sehingga istilah sanitasi yang berkelanjutan (sustainable sanitasion), sanitasi layak (improved sanitation), sanitasi tidak layak (unimproved sanitation), sanitasi lingkungan (environmnetal sanitation), sanitasi setempat (on-site sanitation), sanitasi ekologi (ecological sanitation), sanitasi (toilet) kering (dry sanitation) banyak digunakan saat ini. Sanitasi seharusnya selalu dikaitkan dengan pendekatan sistem, dimana sanitasi terdiri dari penampungan/pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pembuangan atau penggunaan kembali.[15]

Sanitasi dan kesehatan[sunting | sunting sumber]

Terdapat hubungan yang erat antara sanitasi dan kesehatan. Sarana dan prasarana sanitasi yang tidak cukup dapat berpengaruh pada penyebaran penyakit seperti diare dan kolera melalui beberapa jalur penularan yang dikenal dengan 5F. Jalur penularan tersebut adalah dari Feces (kotoran manusia) masuk ke pencernaan manusia melalui 1) Fluids (air atau cairan), 2) Fields (tanah), 3) Flies (lalat), 4) Fingers (tangan), dan 5) Foods (makanan).[16]

Badan kesehatan dunia menyatakan bahwa sanitasi dan mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi angka kesakitan diare sebanyak 37,5% dan 35%[17]. Beberapa studi juga menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara sanitasi dan kasus diare pada anak [18][19]. Menariknya, bahkan intervensi sanitasi dapat menurunkan kejadian diare pada balita sebesar 12,9% dibandingkan dengan intervensi air bersih yang hanya mencapai 7,3%[19]. Namun dampak dari intervensi sanitasi tidak akan dabat terlihat langsung dalam jangka waktu singkat [20]. Kurangnya sarana dan prasarana sanitasi juga berdampak pada masalah kesehatan lainnya seperti infeksi trakhoma[21] dan kecacingan[22].

Disamping dampak langsung pada kesehatan, kurangnya akses terhadap sarana sanitasi dapat secara tidak langsung berdampak pada kesehatan ibu dan anak dan kasus kekurangan gizi pada anak. Dampak tidak langsung lainnya adalah kesulitan bagi kaum perempuan terkait dengan upaya mendapatkan privasi dan layanan higiene menstruasi (haid bulanan)[23], yang juga berdampak pada tingkat kehadiran siswa perempuan di sekolah[24].

Sanitasi dan air[sunting | sunting sumber]

Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, di mana sanitasi berhubungan langsung dengan [25]:

  1. Kesehatan. Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak efektif.[25]
  2. Penggunaan air. Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.[25]
  3. Biaya dan pemulihan biaya.[25]
a. Biaya pengumpulan, pengolahan dan pembuangan limbah meningkat dengan cepat begitu konsumsi meningkat. Merencanakan hanya satu sisi penyediaan air tanpa memperhitungkan biaya sanitasi akan menyebabkan kota berhadapan dengan masalah lingkungan dan biaya tinggi yang tidak terantisipasi. Pada tahun 1980, Bank Dunia melaporkan bahwa dengan menggunakan praktik-praktik konvesional untuk membuang air dibutuhkan biaya lima sampai enam kali sebanyak biaya penyediaan. Ini adalah untuk konsumsi sekitar 150 hingga 190 liter air per kepala per hari. Informasi lebih baru dari Indonesia, Jepang, Malaysia dan A.S menunjukkan bahwa rasio meningkat tajam dengan meningkatnya konsumsi; dari 1,3 berbanding 1 untuk 19 liter per kepala per hari menjadi 7 berbanding 1 untuk konsumsi 190 liter dan 18 berbanding 1 untuk konsumsi 760 liter.[25]
b. Penggunaan ulang air. Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui atau tidak. Karena itu, peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak dengan memperhatikan sumber-sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak kesehatan masyarakat.[25]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Sanitation". Lexico Dictionaries. Diakses tanggal 9 Juni 2021. 
  2. ^ SuSanA (2008). Towards more sustainable sanitation solutions . Sustainable Sanitation Alliance (SuSanA)
  3. ^ "Diarrhoeal disease". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-17. 
  4. ^ Gates Foundation (2010). "Water Sanitation Hygiene Fact Sheet 2010" (PDF). Gates Foundation. 
  5. ^ Paranipe, Nitin (19 September 2017). "The rise of the sanitation economy: how business can help solve a global crisis". Thompson Reuters Foundation News. Diakses tanggal November 13, 2017. 
  6. ^ Introducing the Sanitation Economy (PDF). Toilet Board Coalition. 2017. 
  7. ^ World Bank, ILO, WaterAid, and WHO (2019). Health, Safety and Dignity of Sanitation Workers: An Initial Assessment. World Bank, Washington, DC.
  8. ^ "Sanitation | JMP". washdata.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-17. 
  9. ^ WHO and UNICEF (2017) Progress on Drinking Water, Sanitation and Hygiene: 2017 Update and SDG Baselines. Geneva: World Health Organization (WHO) and the United Nations Children’s Fund (UNICEF), 2017
  10. ^ "SK Menkes 965/MENKES/SK/XI/1992. Definisi Sanitasi" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2010-11-28. Diakses tanggal 2009-12-24. 
  11. ^ Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim tentang Restribusi Pengawasan Hygiene dan Sanitasi Tempat-Tempat Umum, Tempat Pengolahan Makanan/ Minuman dan Induestri dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim[pranala nonaktif permanen].
  12. ^ A.L. Rante Tampang, Drs, FMIPA - UNCEN Pengaruh Penyakit Cacing pada Murid Kelas III SD Gembala Baik Abepura Terhadap Hasil Belajar[pranala nonaktif permanen]
  13. ^ "Sanitation". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-20. 
  14. ^ "Public Funding for Sanitation - Resources • SuSanA". www.susana.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-20. 
  15. ^ "Department Sanitation, Water and Solid Waste for Development - Eawag". www.eawag.ch (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-20. 
  16. ^ Peal, A. J., Evans, B. E., & van der Voorden, C. (2010). Hygiene and Sanitation Software: An Overview of Approaches. Geneva: Water Supply and Sanitation Collaborative Council.
  17. ^ WHO. (2004, March 2004). Water, Sanitation and Hygiene Links to Health Facts and Figures Retrieved from http://www.who.int/water_sanitation_health/en/factsfigures04.pdf
  18. ^ Fewtrell, L., Kaufmann, R. B., Kay, D., Enanoria, W., Haller, L., & Colford, J. M., Jr. (2005). Water, sanitation, and hygiene interventions to reduce diarrhoea in less developed countries: a systematic review and meta-analysis. The Lancet Infectious Diseases, 5(1), 42-52.
  19. ^ a b Gunther, I., & Fink, G. (2010). Water, Sanitation and Children’s Health: Evidence from 172 DHS Surveys: World Bank. Retrieved from: https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/3762
  20. ^ Huda, T. M. N., Unicomb, L., Johnston, R. B., Halder, A. K., Yushuf Sharker, M. A., & Luby, S. P. (2012). Interim evaluation of a large scale sanitation, hygiene and water improvement programme on childhood diarrhea and respiratory disease in rural Bangladesh. Social Science & Medicine, 75(4), 604-611. doi:10.1016/j.socscimed.2011.10.042
  21. ^ Montgomery, M. A., Desai, M. M., & Elimelech, M. (2010). Assessment of latrine use and quality and association with risk of trachoma in rural Tanzania. Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene, 104(4), 283-289. doi:10.1016/j.trstmh.2009.10.009
  22. ^ Clasen, T. F., Boisson, S., Routray, P., Torondel, B., Bell, M., Cumming, O., . . . Schmidt, W.-P. (2014). Effectiveness of a rural sanitation programme on diarrhoea, soil-transmitted helminth infection, and child malnutrition in Odisha, India: a cluster-randomised trial. Lancet Global Health, 2(11), E645-E653. doi:10.1016/s2214-109x(14)70307-9
  23. ^ Sahoo, K. C., Hulland, K. R. S., Caruso, B. A., Swain, R., Freeman, M. C., Panigrahi, P., & Dreibelbis, R. (2015). Sanitation-related psychosocial stress: A grounded theory study of women across the life-course in Odisha, India. Social Science & Medicine, 139, 80-89. doi:10.1016/j.socscimed.2015.06.031
  24. ^ Dreibelbis, R. (2013). Water, sanitation, and hygiene in primary schools: Determining health and educational impacts and developing a model for sustained service delivery in Kenya. (PhD Disertasion), The Johns Hopkins University, Baltimore, Maryland.
  25. ^ a b c d e f Middleton, Richard. Makalah hijau: Air bersih, Sumber daya yang rawan

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]