Tidur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang anak laki-laki yang sedang tidur.

Tidur adalah keadaan istirahat alami pada berbagai binatang menyusui, burung, ikan, dan binatang tidak bertulang belakang seperti lalat buah Drosophila. Pada manusia dan banyak spesies lainnya, tidur penting untuk kesehatan.

Tanda tanda kehidupan seperti kesadaran, puls, dan frekuensi pernapasan mengalami perubahan. Dalam tidur normal biasanya fungsi saraf motorik juga saraf sensorik untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan diblokade, sehingga pada saat tidur cenderung tidak bergerak dan daya tanggap pun berkurang

Fase peralihan dari sadar ke tidur disebut sebagai pradormitium dan fase peralihan dari tidur kembali ke sadar disebut sebagai postdormitium. Di dalam ilmu kedokteran ilmu yang mempelajari gangguan tidur disebut sebagai somnologie.

Siapa yang tidur[sunting | sunting sumber]

Dalam dunia hewan tidur adalah hal yang umum walaupun begitu ini tidak universal. Hewan darat misalnya tidur dengan menutup mata, sedangkan hewan laut belum dapat 100 persen dibuktikan, walau banyak yang mengganggap bahwa mereka juga tidur. Lumba-lumba atau paus bahkan mengorok. Lumba-lumba misalnya tidur dengan satu bagian otak saja atau hemisphare, hal ini dikarenakan penyesuaian kebutuhan seekor lumba-lumba bernapas dalam air. Oleh sebab itu lumba lumba tidak melalui fase tidur REM. Contoh lain misalnya singa laut dan anjing laut; mereka dapat tidur di darat maupun di laut. jika di darat mereka mengalami fase tidur yang sama seperti manusia, jika di laut mengalami fase tidur yang sama seperti lumba-lumba.

Saat ini, semua hewan bertulang belakang (lebih tepatnya bertulang rahang) dipercaya ilmuwan mengalami fase tidur yang sama seperti manusia (perkecualian: echidna). Burung juga menunjukkan tidur, walau tidak pasti apakah mereka tidur dengan menonaktifkan sebagian otak. Pada beberapa binatang lain seperti ular, kadal atau ikan sulit ilmuwan percaya mereka juga tidur. Penilaian dalam eksperimen menjadi semakin sulit ketika harus membedakan istirahat biasa suatu organisme dari keadaan tidur.

Manusia[sunting | sunting sumber]

Mengantuk merupakan tanda seseorang harus tidur.

Manusia menghabiskan sepertiga dari waktu hidupnya dengan tidur. Tidur bukan saja karena kelelahan tetapi juga karena kebiasaan dan pola hidup.[rujukan?] Faktor keamanan harus dibangun untuk mengatasi kemungkinan terjadinya kriminalitas ketika kita sedang tidur. Untuk itu selalu periksa keamanan rumah sebelum tidur.

Kekurangan tidur[sunting | sunting sumber]

Akibat kekurangan tidur pada manusia.

Kekurangan tidur biasanya disebabkan karena begadang ataupun karena insomnia. Beberapa akibat yang timbul akibat kurang tidur antara lain:

  • Halusinasi [1]
  • Mudah ​​marah [2]
  • Penurunan kognitif [3]
  • Mudah lupa [4]
  • Menguap parah [2]
  • Gejala mirip dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) [2]
  • Gangguan penilaian moral [5]
  • Berkurangnya kemampuan reaksi dan akurasi [6]
  • Getaran (meriang atau mengigil) [7]
  • Sakit atau nyeri otot [8]
  • Risiko Diabetes Tipe 2 [9]
  • Pertumbuhan melambat [10]

[3]

  • Risiko obesitas [11]

[12]

  • Penurunan suhu tubuh [3]
  • Peningkatan tingkat variabilitas jantung [3]
  • Risiko penyakit jantung [13]
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh [3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ National Institute of Neurological Disorders and Stroke -- Brain Basics: Understanding Sleep
  2. ^ a b c http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Sleep_deprivation?OpenDocument. 
  3. ^ a b c d e eMedicine Specialties > Neurology > Sleep-Related Diseases > Normal Sleep, Sleep Physiology, and Sleep Deprivation Author: M Suzanne Stevens, MD. Updated: Oct 29, 2008
  4. ^ Teachers of Psychology in Secondary Schools
  5. ^ "The Effects of 53 Hours of Sleep Deprivation on Moral Judgment". Journal SLEEP 30 (3). 
  6. ^ http://oem.bmjjournals.com/cgi/content/abstract/57/10/649.  Occup Environ Med 2000;57:649-655 doi:10.1136/oem.57.10.649
  7. ^ Smith, Andrew P. Handbook of Human Performance. hlm. p.240. 
  8. ^ Morin, Charles M. Insomnia. hlm. p.28. 
  9. ^ Daniel J. Gottlieb, et al. Association of Sleep Time With Diabetes Mellitus and Impaired Glucose Tolerance. Arch Intern Med. Vol. 165 No. 8 2005; 165: 863-867 PMID 15851636. 
  10. ^ Sleep deprivation effects on the activity of the hypothalamic-pituitary-adrenal and growth axes: potential clinical implications. Alexandros N. Vgontzas, George Mastorakos, Edward O. Bixler, Anthony Kales, Philip W. Gold & George P. Chrousos, published in Clinical Endocrinology, Volume 51 Issue 2 Page 205, August 1999
  11. ^ The association between short sleep duration and obesity in young adults: a 13-year prospective study., Sleep, Jun 15;27(4):661-6 2004
  12. ^ Inadequate sleep as a risk factor for obesity: analyses of the NHANES I, Oct 1;28(10):1289-96 2005
  13. ^ Sleep, Less and More, Linked to Heart Disease. By Jeanie Lerche Davis.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik. Terima kasih.