Higiene

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Poster untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya air bersih (poster dirancang oleh CAWST untuk dipakai di negara-negara Asia).[1]

Higiene adalah serangkaian praktik yang dilakukan untuk menjaga kesehatan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), higiene merujuk pada kondisi dan praktik yang membantu memelihara kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit.[2] Sementara itu, higiene pribadi merujuk pada pemeliharaan kebersihan tubuh.

Banyak orang menyamakan higiene dengan 'kebersihan'. Namun, higiene merupakan istilah yang maknanya sangat luas, yang meliputi kebiasaan seseorang seperti seberapa sering ia mandi, mencuci tangan, dan mengganti pakaian, serta perilakunya untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya, seperti rumah, tempat kerja, dan termasuk kamar mandi. Penerapan higiene secara teratur dianggap sebagai kebiasaan baik oleh masyarakat, sementara ketidakpedulian terhadap higiene dianggap sebagai perilaku yang menjijikan dan tidak sopan. Tujuan dari kebiasaan ini adalah untuk meningkatkan standar kebersihan pada seseorang, meningkatkan kualitas kehidupan, dan memperpanjang umur.[3][4]

Higiene perorangan[sunting | sunting sumber]

Higiene perorangan atau higiene pribadi meliputi kebiasaan membersihkan diri pada seluruh badan, hingga kebiasaan istirahat, kebiasaan berolahraga, pola makanan yang sehat, dan kegiatan lain yang menjaga badan sendiri tetap sehat. Badan manusia yang kotor dan tidak terjaga adalah salah satu tempat terbaik untuk berkembangnya kuman, sehingga badan yang kotor lebih rentan terserang penyakit.

Badan[sunting | sunting sumber]

Badan manusia memiliki sekitar dua juta kelenjar keringat.[5] Keringat yang kering dan lembab, ditambah dengan sel kulit mati, adalah kotoran yang menempel pada badan dan juga bagian dalam pakaian. Jika dibiarkan, selain memberikan rasa gatal, bakteri yang menguraikan keringat juga akan memberikan bau yang tidak sedap.[6] Ini bisa dicegah hanya dengan sering mandi. Mandi bisa dilakukan sekali sehari, atau setiap badan kotor dan penuh keringat. Gunakan sabun untuk mengusap seluruh badan, termasuk bagian bokong, Setelah mandi, gunakan baju yang bersih dan baju yang kotor dicuci. Hindari menggunakan sabun batangan dan handuk bekas orang lain.[5]

Kaki[sunting | sunting sumber]

Kaki digunakan setiap hari untuk berjalan pada tempat yang seringkali kotor. Ditambah dengan keringat yang dihasilkan, kotoran ini dapat terakumulasi dan menjadi sarang berkembang biak untuk bakteri dan jamur. Keringat yang terkumpul dan tidak dibersihkan dapat menjadi sumber bau tidak sedap, sedangkan jamur dapet mengakibatkan tinea pedis atau disebut juga dengan penyakit kutu air. Kaki disarankan untuk dicuci setidaknya sekali sehari.[5]

Ketiak[sunting | sunting sumber]

Ketiak adalah bagian tubuh yang sangat mudah berkeringat dan memiliki ventilasi yang buruk. Setelah pubertas, kelenjar keringat manusia mendapatkan bau tidak sedap khusus yang seringkali mengganggu orang lain.[5] Selain dibersihkan secara rutin, dianjurkan juga untuk menggunakan deodoran.[7]

Kuku[sunting | sunting sumber]

Kuku yang panjang dapat menjadi tempat terkumpulnya kotoran, kuman, dan berpotensi menularkan cacing kepada orang lain.[8] Kotoran ini dapat berasal dari sisa setelah membersihkan buang air besar, atau menyentuh area yang kotor dan terkontaminasi. Potong kuku hingga pendek, tetapi usahakan untuk berhati-hati dan tidak memotong hingga kuku menjadi tajam. Jangan gunakan gunting kuku bekas orang lain, atau setidaknya bersihkan dulu gunting kuku tersebut sebelum digunakan.[5][8] Selain memotong kuku yang panjang, kuku juga dapat dijaga dengan membersihkannya dengan sabun setiap mencuci tangan.[8] Kurangi kebiasaan menggigit kuku.[9]

Mulut[sunting | sunting sumber]

Mulut adalah salah satu tempat yang paling cocok sebagai tempat bakteri tumbuh. Ini dikarenakan mulut adalah tempat dengan temperatur yang sempurna untuk banyak bakteri (37ºC), dan karena mengandung banyak sisa makanan yang sering kali juga membawa bakteri.[5] Menjaga mulut umumnya cukup mudah, yaitu dengan menyikat gigi sebelum sarapan, setelah makan, dan sebelum tidur. Selain itu, disaranakn untuk sering menggunakan dental floss, dan juga untuk sering berkumur.[10]

Tangan[sunting | sunting sumber]

Tangan adalah bagian tubuh manusia yang paling mudah menyebarkan penyakit. Aktivitas manusia sehari-hari seringkali menyebabkan tangan kotor dan terkontaminasi tanpa kita ketahui. Menjaga kebersihan tangan sangatlah penting dalam mencegah penyebaran penyakit. Mencuci tangan tidak efektif jika hanya dibilas menggunakan air. Tangan harus dicuci menggunakan sabun, dengan mengikuti beberapa langkah khusus.[5]

  • Pastikan tangan basah dan berikan sabun
  • Gosok seluruh permukaan dan pergelangan tangan.
  • Bersihkan bagian dalam kuku
  • Lakukan dua langkah diatas selama 15-30 detik. Pada beberapa budaya, anak-anak diajarkan mencuci tangan sambil menyanyikan lagu kecil seperti lagu "Ulang Tahun" yang memiliki durasi yang pas untuk membersihkan tangan.
  • Bilas seluruh busa sabun dengan air mengalir

Terdapat beberapa situasi dimana mencuci tangan setelah melakukan hal tersebut adalah hal yang sangat dianjurkan. Diantaranya adalah setelah menggunakan toilet, setelah mengganti popok bayi, setelah menyentuh bahan makanan mentah, sebelum dan sesudah makan, setelah menyentuh tempat yang pasti terkontaminasi (misal kotak sampah), dan sebelum dan setelah menyentuh bekas luka.[5][11] Ketika batuk atau bersin, usahakan untuk menutup mulut menggunakan tangan, lalu cucilah tangan sebelum menyentuh hal lain.[12][13]

Dalam dunia medis, higiene tangan sangatlah diperhatikan. Seorang pada dunia medis yang ingin merawat seorang pasien tidak harus memastikan bahwa tangan yang mereka gunakan untuk menyentuh pasien tidak terkontaminasi, dan memastikan tangan yang telah terkontaminasi untuk dicuci dengan benar. Umumnya mereka akan menggunakan sarung tangan medis yang akan mereka buang setelah digunakan sekali.[14]

Telinga[sunting | sunting sumber]

Telinga menghasilkan sebuah kotoran yang disebu serumen. Membersihkan telinga menggunakan air dan sabun sudahlah cukup untuk menjaga kebersihannya.[5] Jika pendengaran telinga merasa terganggu oleh serumen yang menumpuk, pergi ke dokter. Jangan pernah berusaha mengeluarkannya sendiri tanpa memiliki pengalaman. Telinga yang lembab juga dapat menjadi sarang bakteri dan menyebabkan infeksi. Infeksi ini umumnya disebut dengan swimmer's ear atau radang telinga luar. Pencegahan dari penyakit ini adalah dengan memastikan telinga tetap kering.[15]

Rambut[sunting | sunting sumber]

Akar rambut menghasilkan minyak yang menjaga agar rambut tetap halus. Akan tetapi, jika tidak rajin dibersihkan, minyak yang menumpuk ini akan membuat rambut terlalu berminyak. Kulit kepala juga memiliki banyak kelenjar keringat yang jika tidak dijaga, bersamaan dengan sel kulit mati yang menumpuk, akan membuat rambut terlihat kotor. Rambut juga adalah tempat nyaman untuk kutu kepala, sehingga rutin membersihkan rambut sangat disarankan. Memotong seluruh rambut adalah salah satu metode ampuh dalam mengusir kutu untuk rambut yang sudah sangat penuh dengan kutu.[5]

Prosedur yang disarankan untuk membersihkan rambut adalah sebagai berikut:

  • Cuci rambut menggunakan sampo atau sabun. Frekuensi menyuci rambut disarankan dua kali dalam seminggu.
  • Usap kulit kepala untuk membantu membuang sel kulit mati atau kotoran lainnya.
  • Bilas dengan air bersih
  • Menggunakan kondisioner dianjurkan jika rambut panjang, tetapi tidak harus.
  • Keringkan rambut dengan handuk. Jangan pernah gunaan handuk bekas orang lain.

Wajah[sunting | sunting sumber]

Wajah kotor dapat menyebabkan jerawat dan masalah wajah lainnya. Akan tetapi, area wajah yang paling penting untuk dijaga adalah area sekitar mata. Mata sering mengeluarkan cairan pelindung. Cairan pelindung ini ketika kering disebut rheum atau juga disebut "belek". Belek dapat terlihat dengan jelas ketika seseorang bangun dari tidur. Belek ini dapat menarik lalat pembawa penyakit. Disarankan untuk selalu mencuci muka pada pagi hari, dan jangan pernah gunakan handuk bekas orang lain.[5]

Higiene lingkungan[sunting | sunting sumber]

Higiene lingkungan adalah kebiasaan untuk menjaga kebersihan tempat tinggal. Higiene lingkungan dapat dibagi dua, yaitu domestik dan komunitas. Higiene domestik adalah kebiasaan menjaga kebersihan rumah, atau tempat tinggal seseorang, sedangkan higiene komunitas adalah menjaga tempat masyarakat beraktivitas, seperti sekolah.

Higiene Domestik[sunting | sunting sumber]

Higiene domestik adalah tanggung jawab masing-masing pemilik tempat tinggal tersebut. Kebiasaan yang dapat dilakukan adalah seperti menggunakan sabun dan air bersih, ventilasi rumah yang bagus, menaruh makanan pada tempat yang bersih, membersihkan kasur tidur, membuang sampah dengan benar, membasmi hama yang umumnya ditemukan di rumah seperti tikus.

Menjaga kebersihan pakaian[sunting | sunting sumber]

Pakaian yang mengakumulasi kotoran dan bekas keringat adalah tempat terbaik untuk bertumbuhnya bakteri. Pakaian manusia modern biasanya terbagi dua, yaitu pakaian dalam dan pakaian luar. Pakaian dalam harus dicuci lebih sering daripada pakaian luar. Mencuci pakaian memerlukan air bersih yang cukup dan detergen. Menyetrika juga salah satu cara yang efektif untuk membunuh bakteri atau serangga yang masih bersisa.[5] Untuk beberapa orang yang tidak memiliki waktu atau tidak bisa membersihkan pakaian, bisa menggunakan penyedia jasa pencucian baju.

Higiene Komunitas[sunting | sunting sumber]

Higiene komunitas umumnya adalah tanggung jawab semua orang, tetapi yang memiliki tanggung jawab terbesar untuk mengurusnya adalah pemerintah daerah tersebut. Tanggung jawab yang dimiliki oleh pemerintah antara lain menangani pemrosesan limbah beracun, kotoran manusia, memastikan suplai air dan udara bebas dari kontaminasi, dan membasmi hama penyebab wabah penyakit.[4] Jika seorang individu ingin berkontribusi kepada kebersihan lingkungan, yang ia dapat lakukan salah satunya adalah tidak membuang sampah sembarangan.

Higiene makanan[sunting | sunting sumber]

Makanan terkontaminasi adalah salah satu penyebab penyakit paling umum di dunia. Makanan yang tidak disimpan dengan benar atau disimpan terlalu lama dapat mengandung senyawa kimia atau tumbuhnya mikroorganisme pada makanan.[3] Ketika memasak makanan sendiri, ada baiknya untuk mencuci makanan terlebih dahulu untuk membuang kontaminasi oleh lalat, dan tangan atau air yang kotor. Setelah mencuci, pastikan makanan dimasak dengan benar untuk membunuh bakteri yang masih bersisa. Ketika membeli makanan sudah jadi, sudah merupakan tugas penjual makanan tersebut untuk menyediakan makanan dengan pantas dan bersih. Penyedia makanan harus mengikuti standar regulasi yang ditetapkan agar tidak memberikan penyakit kepada pelanggannya. Tetap saja ada baiknya untuk tetap berhati-hati saat memakannya, misalnya dengan mencuci tangan terlebih dahulu atau dengan menggunakan peralatan makanan sendiri yang bersih.[16]

Efek[sunting | sunting sumber]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Penyakit sangat mudah menular, tetapi penyakit juga mudah untuk dihindari. Tidak memiliki kebiasaan menjaga diri dapat mengganggu hidup dan juga dapat berakibat fatal. Penyakit pada masa sekarang yang dapat disebabkan oleh kehidupan kurang higien adalah covid-19, diare, flu, dan infeksi cacing.[7] Selain penyakit, terdapat juga organisme seperti serangga yang dapat menular ke manusia lain ketika terdapat kontak badan, seperti kutu. Beberapa jenis kutu selain merusak rambut, juga dapat menularkan penyakit.

Efek tidak menjaga diri sendiri sangatlah beragam, tergantung dari bagian tubuh mana yang tidak dijaga. Seseorang yang tidak menjaga rambut dapat mengalami kerusakan kulit rambut, gatal-gatal, dan infestasi kutu. Badan yang tidak terjaga dapat mengalami gatal-gatal, jerawat, dan terkena kudis. Mulut yang tidak terjaga dapat mengalami gigi keropos, bau mulut yang tidak sedap, dan plak gigi.

Menjaga diri sendiri adalah hal yang dapat dikontrol, tetapi terdapat juga beberapa hal yang lebih sulit untuk dijaga karena seringkali hal tersebut diluar kendali oleh individu. Misalnya adalah memastikan bahwa air yang diminum adalah air yang bersih. Meminum atau menggunakan air yang kotor akan berisiko terkena kolera. Situasi yang tidak bisa dikontrol oleh individu ini adalah alasan mengapa banyak masyarakat pada negara berkembang masih kesulitan dalam memiliki gaya hidup sehat.

Efek pada kehidupan sosial[sunting | sunting sumber]

Manusia memilki kecenderungan untuk menjauh dari hal yang kotor dan jorok. Seseorang yang tidak menjaga kebersihan diri sendiri dapat dijauhi oleh orang di sekitarnya.[3] Isolasi dan kesepian yang dirasakan ini dapat berakibat kepada depresi dan gangguan mental lainnya.

Higiene di pada negara berkembang[sunting | sunting sumber]

Karena kendala finansial, negara dengan tingkat pendidikan rendah seringkali tidak melakukan kebiasaan higiene yang benar. Mencuci baju menggunakan air sungai yang terkontaminasi, atau menjual makanan pinggiran menggunakan bahan bekas, atau tidak mencuci tangan sudah hal yang lazim di masyarakat negara ini. Air yang terkontaminasi, kebiasaan higiene dan sanitasi yang buruk menyebabkan hampir 1.6 juta kematian per tahunnya.[17] Bahkan setelah mempelajari praktik higiene, seringkali mereka terkendala dengan fasilitas yang tidak memadai. Seringkali mau tidak mau merekapun tetap harus menggunakan air yang kotor.[18] Memberikan pendidikan yang baik seringkali tidaklah cukup untuk mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan, masyarakat juga harus diberi insentif untuk melakukannya dari kemauan sendiri. Hal yang bisa dilakukan salah satunya adalah membuat jaringan pipa untuk mendistribusikan air bersih yang mudah dipakai kapan saja,[17] sehingga orang tidak mempunyai alasan untuk tidak menggunakannya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Water, Sanitation and Hygiene Poster Set with Trainer Guide". resources.cawst.org. Centre for Affordable Water and Sanitation Technology (CAWST). Maret 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Juni 2013. 
  2. ^ "Hygiene". afro.who.int. World Health Organization (WHO). Diakses tanggal 2 Februari 2022. 
  3. ^ a b c "TYPES OF HYGIENE". humanitarianglobal.com. 18 November 2021. Diakses tanggal 2 Februari 2022. 
  4. ^ a b "Types Of Hygiene". ecoursesonline.iasri.res.in. Diakses tanggal 2 Februari 2022. 
  5. ^ a b c d e f g h i j k l "Hygiene and Environmental Health Module: 3. Personal Hygiene". open.edu. Diakses tanggal 2 Februari 2022. 
  6. ^ "Personal hygiene". betterhealth.vic.gov.au. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  7. ^ a b "Personal hygiene". healthdirect.gov.au. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  8. ^ a b c "Nail Hygiene". cdc.gov. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  9. ^ Holland, Kimberly. "Creating a Personal Hygiene Routine: Tips and Benefits". healthline.com. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  10. ^ "Children's Oral Health". cdc.gov. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  11. ^ "Keeping Hands Clean". cdc.gov. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  12. ^ "Personal Hygiene: A Guide to Personal Hygiene for Kids". oneeducation.org.uk. 18 November 2021. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  13. ^ "Coughing and Sneezing". cdc.gov. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  14. ^ "Personal Hygiene – key in infection prevention". abena.co.uk. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  15. ^ "Swimming and Ear Infections". cdc.go. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  16. ^ "Basic Personal Hygiene Habits To Practice In Daily Life". trainingexpress.org.uk. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  17. ^ a b "Hygiene in Lower Income Countries". cdc.go. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  18. ^ "Water, Sanitation and Hygiene". unwater.org. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]