Kosmopolitanisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kosmopolitanisme adalah ideologi yang menyatakan bahwa semua suku bangsa manusia merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas yang sama. Seseorang yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dalam bentuk apapun disebut kosmpolitan atau kosmopolit.[1]

Komunitas kosmopolitan bisa saja didasarkan pada moralitas inklusif, hubungan ekonomi bersama, atau struktur politik yang mencakup berbagi bangsa. Dalam komunitas kosmopolitan, orang-orang dari berbagai tempat (e.g. negara-bangsa) membentuk hubungan yang saling menghargai. Kwame Anthony Appiah pernah memaparkan adanya kemungkinan komunitas kosmopolitan ketika orang-orang dari berbagai bidang (fisika, ekonomi, dll.) membina hubungan yang saling menghargai meski memiliki kepercayaan yang berbeda (agama, politik, dll.).[2]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata ini berasal dari bahasa Yunani κοσμοπολίτης, kosmopolites, i.e. "warga dunia". Kata itu sendiri berasal dari κόσμος, kosmos, i.e. "Dunia" dan πολίτης, polites, i.e. "warga".[3][4]

Kosmopolitanisme filosofis[sunting | sunting sumber]

Akar filsafat[sunting | sunting sumber]

Kosmopolitanisme dapat ditelusuri kembali sampai era Diogenes dari Sinope (c. 412 SM), bapak pendiri gerakan Sinis di Yunani Kuno. Mengenai Diogenes, pernah diceritaka bahwa: "Saat ditanyai asalnya, ia menjawab: 'Aku adalah warga dunia (kosmopolitês)'".[5] Ini adalah terobosan baru, karena dasar identitas sosial terluas di Yunani waktu itu adalah negara-kota sendiri atau bangsa Yunani (Hellenik) sebagai satu kelompok. Kaum Stoik, yang kelak mengembangkan ide Diogenes menjadi konsep lengkap, menegaskan bahwa setiap manusia "tinggal [...] di dua komunitas – komunitas lokal tubuh kita, dan komunitas argumen dan aspirasi manusia".[6] Cara yang paling umum untuk memahami kosmpolitanisme Stoik adalah mempelajari model identitas lingkaran Hierocles yang menyatakan bahwa kita perlu menggambarkan diri kita seperti lingkaran terpusat, lingkaran pertama adalah diri sendiri, kemudian keluarga dekat, lalu keluarga jauh, kelompok lokal, warga kota, warga negara, dan umat manusia. Dalam lingkaran-lingkaran ini, manusia merasakan "kedekatan" atau "rasa sayang" terhadap satu sama lain yang oleh kaum Stoik disebut Oikeiôsis. Tugas warga dunia adalah "menggambar lingkaran sampai ke tengah sehingga seluruh manusia menjadi warga kota kita sampai [lingkaran] seterusnya".[7]

Pemikir kosmpolitan modern[sunting | sunting sumber]

Immanuel Kant mengusung ide ius cosmopoliticum

Dalam esainya tahun 1795, Perpetual Peace, Immanuel Kant mengusung ius cosmopoliticum (hukum/hak kosmopolitan) sebagai prinsip pemandu untuk melindungi masyarakat dari perang, dan mendasarkan hak kosmopolitan ini secara moral pada prinsip keramahan (hospitality) universal. Kant mengklaim bahwa perluasan keramahan sampai pada "pelaksanaan hak atas permukaan bumi yang dimiliki umat manusia" (lihat warisan bersama manusia) pada akhirnya akan "membawa umat manusia lebih dekat dengan konstitusi kosmopolitan".[8]

Konsep filsafat Emmanuel Levinas mengenai etika dan konsep filsafat Jacques Derrida mengenai keramahan menciptakan kerangka teoretis untuk hubungan antarmanusia dalam kehidupan sehari-hari dan terlepas dari berbagai bentuk hukum tertulis. Bagi Levinas, dasar etika sudah termaktub dalam kewajiban menanggapi yang Lain (the Other). Dalam Being for the Other, ia menulis bahwa tidak ada hukum moral universal, melainkan rasa tanggung jawab (kebaikan, rasa iba, amal) yang diinginkan oleh yang Lain dalam keadaan rapuh. Kedekatan yang Lain adalah hal penting dalam konsep Levinas; wajah yang Lain adalah sesuatu yang menggerakkan tanggapan.

Bagi Derrida, dasar etika adalah keramahan, kesiapan, dan keinginan untuk menyambut yang Lain ke rumah seseorang. Menurutnya, etika adalah keramahan. Keramahan yang murni dan tanpa syarat adalah keinginan yang mendasari keramahan bersyarat yang diperlukan dalam hubungan antarmanusia. Teori etika dan keramahan Levinas dan Derrida menunjukkan kemungkinan penerimaan yang Lain sebagai sikap yang berbeda namun setara. Isolasi bukan alternatif yang pantas di dunia, jadi penting untuk mempertimbangkan cara terbaik mendekati interaksi semacam ini, sekaligus menentukan apa yang dipertaruhkan untuk kita dan lainnya: syarat keramahan apa yang perlu diterapkan dan sudahkah kita menanggapi panggilan yang Lain. Selain itu, kedua teori ini mengungkapkan pentingnya mempertimbangkan cara terbaik berinteraksi dengan yang Lain dan lainnya dan apa yang dipertaruhkan.

Dalam wawancara dengan Geoffrey Bennington tahun 1997, Derrida merangkum "kosmpolitanisme" seperti ini:[9]

Ada tradisi kosmopolitanisme, dan jika kita punya waktu, kita bisa mempelajari tradisi ini yang datang dari pemikiran Yunani bersama kaum Stoik yang memiliki konsep 'warga dunia'. Kalian juga punya St. Paul dalam tradisi Kristen serta penyamaan warga dunia sebagai saudara. St. Paul mengatakan bahwa kita semua bersaudara, sama-sama anak Tuhan, jadi kita bukanlah orang asing, kita merupakan warga dunia; dan tradisi inilah yang bisa kita terapkan sampai Kant muncul; di dalam konsep kosmpolitanismenya, kita menemukan syarat keramahan. Namun dlama konsep kosmpolitik Kant, ada beberapa syarat: pertama kamu tentu harus menyambut orang asing, orang luar, sampai ia merasa seperti warga negara lain, sampai kammu memberinya hak berkunjung dan bukan hak tinggal, dan ada beberapa syarat lain yang tidak bisa saya rangkum di sini dengan cepat, tetapi konsep kosmopolitik yang sangat baru dan patut dihargai (menurutku kosmopolitanisme adalah hal yang sangat bagus) ini adalah konsep yang sangat terbatas.

Bennington. Politics and Friendship: A Discussion with Jacques Derrida. 1997.

Keadaan kosmpolitanisme terjadi pasca Perang Dunia Kedua. Sebagai tanggapan atas Holocaust dan pembantaian lainnya, konsep kejahatan terhadap kemanusiaan menjadi kategori hukum internasional yang diterima secara umum. Ini jelas-jelas menunjukkan kemunculan dan penerimaan ide tanggung jawab individu yang dianggap ada di dalam diri seluruh manusia.[10]

Kosmopolitan filosofis adalah universalis moral. Mereka percaya bahwa semua manusia, bukan saja rekan seperjuangan atau sesama warga negara, berasal dari standar modal yang sama. Batas antara bangsa, negara, budaya, dan masyarakat menjadi tidak relevan secara moral. Salah satu kosmopolitan kontemporer yang sering dikutip adalah Kwame Anthony Appiah.[11]

Sejumlah filsuf dan pakar berpendapat bahwa kondisi objektif dan subjektif yang mulai muncul dalam sejarah modern, fase peradaban keplanetan, menciptakan potensi laten penentuan identitas kosmopolitan sebagai warga global dan kemungkinan terbentuknya gerakan warga global.[12] Kondisi objektif dan subjektif baru dalam fase keplanetan ini meliputi telekomunikasi mutakhir dan terjangkau; perjalanan luar angkasa dan foto-foto pertama yang menunjukkan planet rapuh kita mengambang di tengah luasnya jagat raya; teori pemanasan global dan ancaman ekologi lain terhadap keberadaan manusia secara kolektif; institusi global baru seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Perdagangan Dunia, atau Mahkamah Internasional; berdirinya perusahaan transnasional dan integrasi pasar yang sering disebut globalisasi ekonomi; kemunculan lembaga swadaya masyarakat global dan gerakan sosial transnasional seperti World Social Forum; dan lain-lain. Globalisasi, istilah yang lebih lazim, lebih mengacu pada hubungan ekonomi dan perdagangan dan tidak membahas transisi budaya, sosial, politik, lingkungan, demografi, nilai, dan pengetahuan yang sedang terjadi.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Cosmopolitan". Dictionary.com. Diakses tanggal 7 April 2012. 
  2. ^ Kwame Anthony Appiah, "Cosmopolitan Patriots," Critical Inquiry 23, no. 3 (Spring, 1997): 617–639.
  3. ^ κοσμοπολίτης. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project.
  4. ^ "cosmopolitan".  "cosmopolite". Online Etymology Dictionary. 
  5. ^ Diogenes Laertius, The Lives of Eminent Philosophers, Book VI, passage 63; online text in Greek and in English at the Perseus Project.
  6. ^ Nussbaum, Martha C. (1997). Kant and Stoic Cosmopolitanism, in The Journal of Political Philosophy, Volume 5, Nr 1, pp. 1–25
  7. ^ Ibid: p. 9
  8. ^ Immanuel Kant. 'Toward Perpetual Peace' in Practical Philosophy – Cambridge Edition of the Works of Immanuel Kant. Gregor MJ (trans.). Cambridge University Press, Cambridge. 1999. p329 (8:358).
  9. ^ Bennington, Geoffrey (December 1, 1997). "Politics and Friendship: A Discussion with Jacques Derrida". Sussex, UK: Centre for Modern French Thought, University of Sussex. Diakses tanggal July 16, 2012. 
  10. ^ Beck, Ulrich (2006). The Cosmopolitan Vision, Cambridge: Polity Press, p. 45
  11. ^ Appiah, Kwame Anthony (2006), Cosmopolitanism. Ethics in a World of Strangers, London: Penguin Books
  12. ^ GTI Paper Series see Dawn of the Cosmopolitan: The Hope of a Global Citizens Movement, paper #15, and Global Politics and Institutions, paper #3

Sumber[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Templat:Topik Supranasionalisme/Pemerintahan dunia

Templat:Konformitas