Hati nurani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Hati Nurani adalah norma perbuatan terkait dengan rasa kebersalahan dan merupakan inti dari hati kita.[1] [2] Hati nurani dapat bertindak sebagai pemandu dalam pengambilan keputusan dari segi moral.[1] [3] Menggunakan hati nurani merupakan hak masing-masing dari setiap individu.[1]

Jenis-jenis[sunting | sunting sumber]

Hati nurani dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu retrospektif dan prospektif. Hati nurani restrokpektif mampu memberikan penilaian tentang baik atau buruknya suatu perbuatan yang dilakukan seseorang pada masa lalu.[1]Hati nurani prospeksi mampu memberikan penilaian tentang baik atau buruknya seseorang kemasa depan.[1]

Sifat-sifat[sunting | sunting sumber]

Dalam konteksnya hati nurani terbagi menjadi tiga sifat yaitu personal, adipersonal, dan mutlak.[1] Hati nurani bersifat personal selalu berkaitan erat dengan pribadi bersangkutan serta sering berbicara atas nama saya atau hanya pemberi penilaian tentang perbuatan dirinya sendiri.[1] Hati nurani bersifat adipersonal merupakan bentuk hati nurani yang kita sebagai individu hanya menjadi pendengar, serta terlihat aspek trasenden yang melebihi pribadi kita.[4] Hati nurani bersifat mutlak merupakan bentuk sifat khas hati nurani yang berlaku mutlak, atau posisi disaat hati nurani yang mendesak hati kita untuk menaati bisikkannya seakan-akan menyadarkan kita terhadap kewajiban atau mengingatkan kita kepada suatu hal yang harus atau tidak boleh kita lakukan.[4]

Bentuk Komunikasi[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa bentuk komunikasi yang biasanya digunakan oleh hati nurani yaitu berbicara dengan diri atau dialog batin, melalui perasaan, melalui ide yang menginspirasi, melalui pergeseran pandangan,serta secara kebetulan.[5] Berbicara dengan diri atau dialog batin merupakan salah satu cara hati nurani berkomunikasi, misalnya saat hening kita sering mendengar suara hati dengan jelas.[5] Melalui perasaan misalnya saat kita akan melakukan sesuatu, sering kali ada perasaan tertentu yang memberikan sinyal apakah kita bisa terus atau berhenti, jika kita cukup tanggap kita akan merasakan bahwa perasaan ini memberikan sinyal yang cukup keras dari suara hati nurani.[5] Melalui Ide yang menginspirasi misalnya tiada disangka-sangka muncul suatu ide kreatif yang menginspirasi untuk melakukan sesuatu.[5] Dan saat melaksanakan ini ini pun masalah kita selesai jadi ide itu lah jawaban yang kita butuhkan dan merupakan salah satu bentuk komunikasi hati nurani.[5] Melalui pergeseran presepsi misalnya rasa marah dan benci kita terhadap seorang tiba-tiba berubah menjadi rasa kasihan atau pun sayang itu merupakan proses berkembangnya diri kita yang berasal dari sabotase diri yang sangat halus yang tidak kita sadari yaitu hati nurani.[5] Selanjutnya secara kebetulan, sering kali kita mengalami suatu kejadian yang kita anggap suatu kebetulan tetapi sebenarnya bukan kebetulan.[5] Kebetulan yang tidak kebetulan ini sebenarnya bentuk komunikasi hati nurani dengan kita.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g K. Bertens.2007.Etika. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.62-68
  2. ^ Irmansyah Effendi.2011.Hati Nurani. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.9-17
  3. ^ E.Y Kanter.2001.Etika Profesi Hukum. United States:The University of Michigan.20
  4. ^ a b Antonius Atosokhi Gea.2004.Relasi dengan Tuhan. Jakarta:PT Elex Media Komputindo.57
  5. ^ a b c d e f g h Adi W.Gunawan.2009.Quitters Can Win. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.37-39