Sigmund Freud

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sigismund Schlomo Freud
Sigmund Freud LIFE.jpg
Sigmund Freud pada tahun 1920.
LahirSigismund Schlomo Freud
(1856-05-06)6 Mei 1856
Freiberg, Moravia, Austria–Hongaria, sekarang Republik Ceko
Meninggal23 September 1939(1939-09-23) (umur 83)
London, Inggris, Britania Raya
Tempat tinggalAustria, Britania Raya
KebangsaanAustria
AlmamaterUniversitas Vienna
Dikenal atasPsikoanalisis
PenghargaanGoethe Prize
Karier ilmiah
BidangNeurologi
Filosofi
Psikiatri
Psikologi
Psikoterapi
Psikoanalisis
Literatur
InstitusiUniversitas Vienna
TerinspirasiAristoteles, Börne, Brentano, Breuer, Charcot, Darwin, Dostoyevsky, Empedocles, Fliess, Goethe, Haeckel, Hartmann, Jackson, Jacobsen, Kant, Mayer, Nietzsche, Plato, Schopenhauer, Shakespeare, Sophocles
MenginspirasiAdorno, Althusser, Bass, Bloom, Breton, Brown, Chodorow, Dalí, Deleuze, Derrida, Firestone, Anna Freud, Fromm, Gallop, Gilligan, Grosz, Guattari, Habermas, Horney, Irigaray, Janov, Jones, Jung, Kandel, Khanna, Klein, Kovel, Kristeva, Lacan, Lyotard, Marcuse, Merleau-Ponty, Mitchell, Molyneux, Paglia, Perls, Rank, Reich, Ricœur, Rieff, Sartre, Solms, Stekel, Sullivan, Trilling
Tanda tangan
FreudSignature.svg

Sigmund Freud (6 Mei 1856 – 23 September 1939) adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi.[1] Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious).[2] Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya.

Pengalaman seksual dari yg ibu seperti menyusui. Selanjutnya mengalami perkembangannya atau tersublimasi, hingga memunculkan berbagai perilaku lain yang disesuaikan dengan aturan norma masyarakat atau norma ayah. Setelah kolega kerjanya yang berma Alferd Adler mengungkapkan adanya insting mati di dalam diri manusia, walaupun Freud pada awalnya menolak pernyataan Adler tersebut dengan menyangkalnya habis-habisan. Pada akhirnya, Freud menyejajarkan atau tidak menunggalkan insting seksual saja yang ada di dalam diri manusia, tetapi disandingkan dengan insting mati (Thanatos). Walaupun begitu, dia tidak pernah menyinggung bahwa sebetulnya asal teori tersebut mulanya dikemukakan oleh Adler.

Freud tertarik dan mempelajari hipnosis di Prancis, lalu menggunakannya untuk membantu penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnosis setelah ia berhasil menggunakan metode baru untuk menyembuhkan penderita tekanan psikologis, yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut berasal dari konsep alam bawah sadar. Asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang tetapi terus mendorong keluar tanpa disadari sehingga menimbulkan permasalahan, sedangkan analisis mimpi digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar. Pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan, dan berbagai macam aktivitas emosi lain hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Oleh karena itu, metode analisis mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, dan kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Hal-hal ini dilakukan untuk mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai "obat dengan berbicara". Hal-hal ini menjadi unsur inti psikoanalisis. Freud terutama tertarik pada kondisi yang dulu disebut histeria dan sekarang disebut sindrom konversi.

Teori-teori Freud serta caranya mengobati pasien menimbulkan kontroversi di Wina abad ke sembilan belas dan masih diperdebatkan sengit hingga sekarang. Gagasan Freud biasanya dibahas dan dianalisis sebagai karya sastra, filsafat, dan budaya umum, selain sebagai debat yang berkelanjutan sebagai risalah ilmiah dan kedokteran ini.

Freud merupakan tokoh menonjol terkait dengan pendapat-pendapatnya di bidang psikologi. Banyak istilah-istilahnya yang digunakan oleh umum, misalnya: ego, super ego, dan kompleks Oedipus.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Sigmund Freud lahir di Freiberg pada tanggal 6 Mei 1856. Keluarganya merupakan keturunan Yahudi.[3] Ayahnya bernama Yakub Freud sedangkan ibunya bernama Amalia Natashon. Ibunya menikah dengan ayahnya ketika ibunya berusia 19 tahun.[4] Ayahnya memiliki dua istri. Ia merupakan anak pertama dari ayahnya dengan ibu dari istri kedua.[5] Ayah Freud bekerja sebagai seorang pedagang. Ibunya dinikahi ketika anak dari istri pertamanya telah berusia dewasa. Freud memiliki dua kakak tiri laki-laki dari istri pertama ayahnya.[6] Usia kakak tiri Freud hampir sama dengan usia ibunya. Ketika masih kecil, Freud bermain dengan keponakannya yang merupakan anak dari kakak tirinya yang tertua.[4] Karena kondisi ekonomi yang memburuk, keluarganya pindah ke Wina ketika Freud masih berusia 4 tahun.[7]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sigmund Freud menempuh pendidikan di sebuah tempat yang setingkat dengan sekolah menengah atas. Tempat ini disebut gymnase. Di tempat ini, ia memperoleh pelajaran klasik mengenai kebudayaan Yunani dan kebudayaan Romawi Kuno. Ia juga menerima pelajaran mengenai humanisme. Selama menempuh pendidikan, Freud mempelajari beberapa bahasa, yaitu bahasa Latin, bahasa Prancis dan bahasa Inggris. Bahasa Prancis dan bahasa Inggris dikuasainya dengan baik. Sementara di rumah, ia menerima pendidikan agama dengan mempelajari bahasa Ibrani, bahasa Italia dan bahasa Spanyol.[8]

Pemikiran-pemikiran[sunting | sunting sumber]

Alam bawah sadar[sunting | sunting sumber]

Freud membagi keadaan jiwa manusia menjadi dua bagian dengan tiga tingkatan. Bagiannya yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran ini terbagi menjadi dua tingkatan, yaitu sadar dan pra-sadar. Sedangkan ketidaksadaran menjadi tingkatan tersendiri.[9] Freud menyatakan bahwa alam bawah sadar merupakan bagian terbesar dari pikiran. Alam bawah sadar merupakan tempat menyimpan pemikiran-pemikiran yang rumit seperti nafsu, insting, kenangan, atau emosi yang timbul akibat trauma. Alam bawah sadar bagi Freud merupakan sumber motivasi terhadap hasrat individu yang bersifat sederhana hingga yang bersifat kreatif.[10] Menurut Freud, sumber alam bawah sadar ini berasal dari pewarisan filogenetika. Pewarisan ini memberikan pengalaman-pengalaman yang mengalami pengulangan secara genetika.[11] Karenanya, sebagian besar perilaku manusia yang terbentuk oleh kekuatan psikologi tidak mampu disadari keberadaannya. Hal ini juga membuat manusia tidak mampu memahami motivasi dirinya.[12]

Teori kepribadian[sunting | sunting sumber]

Pemikiran Sigmund Freud tentang kepribadian berkaitan dengan teorinya yang lain tentang mimpi. Kesimpulan yang diperolehnya dalam penelitiannya tentang mimpi, bahwa seluruh aktivitas manusia sangat dipengaruhi oleh alam bawah sadar. Kesimpulan ini berlaku pada aktivitas manusia yang bersifat normal maupun yang tidak normal. Pada taraf tertentu, adanya mimpi menandakan bahwa seluruh manusia mengidap neurosis. Aktivitas manusia yang mengalami tekanan memiliki keterkaitan yang sangat erat terhadap mimpi yang berasal dari alam bawah sadar. Tekanan tersebut berubah menjadi perilaku aneh dan kebiasan neurosis lainnya di dalam mimpi.[13]

Teori kepribadian manusia yang dikembangkan oleh Freud juga berasal dari pengalaman-pengalamannya dalam menangani pasien yang mengalami pernah mengalami mimpi. Ia juga mengalami langsung mimpi-mimpi yang kemudian dianalisisnya. Teori kepribadian manusia yang dikembangkan olehnya juga merupakan hasil dari banyak bacaan Freud di bidang ilmu dan humaniora. Freud merevisi teori kepribadian yang dibuatnya selama 50 tahun terakhir dari masa hidupnya.[14]

Freud berpendapat bahwa perbedaan karakteristik fisik membuat kepribadian antara laki-laki dan perempuan juga berbeda. Menurutnya, perbedaan ini telah menjadi takdir dari Tuhan yang tidak dapat diubah, ditukar dan diprotes. Ia juga meyakini bahwa melawan kodrat atas hal ini merupakan tindakan yang tidak beretika. Karenanya, Freud menyatakan bahwa disposisi fisiologi dan biologi adalah sebuah takdir. [15]

Psikoanalisis[sunting | sunting sumber]

Sigmund Freud menjadi pencetus pertama mengenai teori psikoanalisis. Teori ini digunakan untuk memberikan penjelasan mengenai kepribadian individu secara sistematis berdasarkan kualitas kejiwaannya. Psikoanalisis juga disebut psikologi dalam. Alasannya adalah penerangan yang diberikan tidak hanya kepribadian yang tampak dari luar, tetapi juga kepribadian yang terdapat di dalam diri individu yang sifatnya tidak disadari.[16]

Ia mengemukakan bahwa ketidaksadaran merupakan faktor terpenting dalam pikiran manusia. Ia memiliki minat terhadap eksplorasi psikoanalitik. Penelitiannya mengenai psikoanalisis bertujuan menemukan cara pikiran manusia dapat bekerja secara normal. Pemikiran awal mengenai psikoanalisis dikemukakan pada tahun 1893 oleh Freud bersama dengan Josef Breuer. Keduanya menerbitkan sebuah buku berjudul Studi tentang Histeria.[17]

Dalam karyanya yang berjudul Ego dan Id (1923), Freud membedakan perilaku manusia menjadi dua bagian yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Proporsi kedua bagian ini diumpamakan seperti gunung es yang tampak di laut. Terdapat bagian yang timbul dan terdapat bagian yang tenggelam.[18] Bagian kesadaran adalah bagian gunung es yang tampak, sedangkan bagian ketidaksadaran adalah bagian gunung es yang tidak tampak. Ukuran bagian yang tidak tampak ini lebih besar dibandingkan dengan bagian gunung es yang tampak. Perumpamaan ini diartikan bahwa ketidaksadaran merupakan bagian yang memiliki banyak insting yang menyebabkan munculnya semua perilaku manusia. Konsep kesadaran dan ketidaksadaran oleh Freud direvisi lagi untuk kemudian diperkenalkan sebagai id, ego, dan super-ego.[17]

Freud juga membagi teori psikoanalisis menjadi tiga aspek yang berbeda, yaitu struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian. Struktur kepribadian adalah uraian mengenai sistem-sistem psikologis dalam diri manusia. Dinamika kepribadian adalah cara kerja yang saling mempengaruhi di antara sistem-sistem psikologi yang ada di dalam struktur kepribadian. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan. Sedangkan perkembangan kepribadian diartikan secara sederhana sebagai penerapan dari sistem-sistem psikologi dalam hidup manusia.[19]

Id, ego dan super-ego[sunting | sunting sumber]

Id, ego dan super-ego merupakan struktur kepribadian manusia yang ditetapkan oleh Freud. Id berhubungan dengan prinsip kenikmatan dan kesenangan. Ego berhubungan dengan kesadaran dan tanggapan terhadap kenyataan sehingga menghasilkan pengambilan keputusan. Sedangkan super-ego berhubungan dengan penilaian nilai-nilai atau norma-norma yang berkaitan dengan kebaikan atau keburukan. Id berbentuk kebutuhan alami dan kebutuhan biologis manusia, seperti makan, minum dan persetubuhan. Ego merupakan penentu terhadap kenyataan yang sifatnya psikologis. Pemenuhan kebutuhan id secara sosial diterima. Sedangkan keberterimaan super-ego ditentukan oleh moral. Super-ego dapat membatasi id dan memaksa ego.[20] Freud menetapkan bahwa dominasi diperoleh oleh id.[21] Konflik yang terjadi antara id, ego dan super-ego menurut Freud merupakan penyebab terjadinya konflik pada kepribadian manusia.[22]

Asosiasi bebas dan analisis impian[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Freud hanya menjadi teori kepribadian. Namun, pada perkembangan selanjutnya, psikonalisis juga menjadi salah satu metode dalam psikoterapi.[23] Freud menggunakan psikoanalisis yang dikembangkannya sebagai metode perawatan medis dan terapi bagi penderita penyakit saraf dan penderita gangguan jiwa.[24]

Freud kemudian mengadakan terapi menggunakan dua metode utama, yaitu asosiasi bebas dan analisis impian. Asosiasi bebas merupakan metode yang dilakukan setelah terapi awal selesai. Pasien diminta untuk menyampaikan hal apa saja yang teringat dalam pikirannya setelah menerima terapi. Hal-hal ini kemudian dianalisis dalam hubungan asosiasi untuk dikaji secara mendalam. Hal-hal ini umumnya berbentuk kata-kata. Landasan asosiasi bebas adalah asumsi umum bahwa permasalahan individu umumnya terlintas dalam kata-kata. Sedangkan metode analisis impian menggunakan tema-tema tertentu yang dipilih oleh pasien dan tema yang muncul ketika pasien mengalami mimpi. Metode ini didasarkan kepada adanya impian yang ingin dicapai individu dalam menyelesaikan permasalahan yang paling mendasar dan paling mendalam yang dialaminya. Permasalahan ini memperoleh represi yang kuat dan ditampilkan dalam bentuk penyakit atau kondisi badan.[25]

Teori perkembangan psikoseksual[sunting | sunting sumber]

Teori perkembangan psikoseksual menyatakan bahwa ada perkembangan kepribadian yang dihasilkan melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak. Kepribadian in terbentuk karena adanya tujuan mencari kesenangan-energi dari id yang memusat pada area sensitif seksual tertentu.[26] Pembentukan kepribadian individu menurut Freud terjadi pada usia lima tahun pertama manusia.[27] Perkembangan awal ini kemudian mempengaruhi perilaku individu di masa depan. Teori perkembangan psikoseksual didukung oleh banyak ahli psikologi perkembangan. Namun, teori ini juga merupakan salah satu teori yang paling kontroversial.[26]

Agama[sunting | sunting sumber]

Sigmund Freud merupakan salah satu pemikir yang meragukan keberadaan agama.[28] Sikap Freud terhadap agama dan spiritualitas sangat pesimis. Dalam teori kepribadiannya, ia menjelaskan bahwa keberagamaan dan spiritualitas merupakan fenomena yang menyatakan ketidakmampuan manusia dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Menurut Freud, manusia meyakini agama dan spiritualitas hanya sebagai bentuk pertahanan diri dan pengurangan beban kehidupan.[29]

Freud memilih menghubungkan antara agama dengan kondisi alam bawah sadar manusia. Ia mengaitkan agama dengan sistem kejiwaan yang dibuatnya yaitu id, ego, dan super-ego. Dalam hal ini, Freud menghubungkan agama dengan psikoanalisis. Ia berupaya menemukan kesamaan antara kondisi kejiwaan pasien neurosis dengan mitos-mitos antropologi budaya di masyarakat primitif.[30]

Perkembangan manusia[sunting | sunting sumber]

Freud mengatakan sebuah ungkapan bahwa anak-anak adalah ayah bagi manusia.[31] Ungkapan ini berarti bahwa masa kanak-kanak sangat menentukan perkembangan manusia di masa dewasa.[32] Freud mengaitkan kehidupan masa kecil sebagai penentu perilaku manusia ketika dewasa.[33] Freud meyakini bahwa kedewasaan secara biologis mempengaruhi perkembangan psikologi manusia. Ia juga meyakini bahwa kedewasaan individu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosial.[34]

Di lain hal, Freud memandang hakikat manusia secara materialisme, mekanisme dan pesimisme. Freud memiliki pandangan bahwa manusia pada hakikatnya dilahirkan dalam keadaan jahat. Daya-daya yang bersifat negatif atau merusak merupakan penyebab dari perilaku manusia. Pemikiran yang melandasinya adalah adanya kecemasan, rasa permusuhan dan agresi. Manusia hanya dapat berkembang ke arah yang bersifat positif jika ada pendampingan secara interpersonal.[35] Freud menyatakan bahwa perilaku agresif telah menjadi bawaan lahir dari manusia.[36]

Kriminalitas[sunting | sunting sumber]

Kriminalitas dalam pandangan Freud adalah hasil dari hati nurani yang terlalu berlebihan dalam memikirkan sesuatu. Kondisi berlebihan ini kemudian menimbulkan perasaan bersalah yang tidak dapat ditahan oleh indvidu. Perasaan bersalah ini mendorong individu untuk berbuat jahat dengan tujuan untuk memperoleh hukuman. Perasaan bersalah ini kemudian mereda setelah individu memperoleh hukuman.[37]

Teori psikologi dalam[sunting | sunting sumber]

Teori psikologi dalam merupakan teori yang menjelaskan tentang permainan. Teori ini dikembangkan bersama oleh Freud dan Alfred Adler. Freud menyatakan bahwa permainan merupakan pernyataan dari nafsu-nafsu yang terletak di alam bawah sadar. Sumber nafsu ini menurutnya adalah nafsu seksual.[38]

Pengaruh pemikiran[sunting | sunting sumber]

Psikonalisis yang dirintis oleh Freud merupakan salah satu aliran psikologi yang berpengaruh di dunia Barat maupun dunia Muslim. Penerimaan atas gagasannya ini berbentuk penerapan psikoanalisis sebagai basis utama dalam kajia mengenai perilaku dan kejiwaan manusia. Penerimaan ini berlaku secara lintas budaya, lintas bangsa dan lintas benua. Psikoanalisis Freud tidak hanya mempengaruhi bidang psikologi dan kedokteran, tetapi juga mempengaruhi bidang filsafat, agama, seni, sastra, antropologi dan politik.[39]

Julia Kristeva[sunting | sunting sumber]

Konsep Freud tentang ayah dalam prasejarah individu dikembangkan lebih lanjut oleh Julia Kristeva menjadi ayah imajiner. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kristeva di dalam bukunya yang berjudul Tales of Love. Ia meyalini bahwa konsep Freud ini merupakan pernyataan mengenai adanya ayah yang penuh cinta. Karenan pengaruh Freud, Kristeva mengomentari Jacques Lacan yang tidak mampu mengetahui konsep ayah yang penuh cinta dari konsep Freud.[40]

Psikologi sastra[sunting | sunting sumber]

Freud merupakan salah satu tokoh yang mengkaji hubungan antara psikologi dan sastra.[41] Psikologi sastra merupakan hasil dari perpaduan antara psikologi dan sastra. Analisis pada psikologi sastra dilandasi dengan psikoanalisis Freud, khususnya teori kepribadian. Psikologi sastra menggunakannya untuk mengetahui gangguan jiwa yang dialami oleh tokoh utama di dalam suatu karya sastra.[42]

Literatur biblioterapi afeksi[sunting | sunting sumber]

Literatur biblioterapi afeksi merupakan jenis biblioterapi yang banyak diterapkan kepada anak-anak. Biblioterapi afeksi membantu pembaca terhubung ke pengalaman emosi dan kondisi manusia melalui proses identifikasi. Medianya berupa cerita fiksi dan literatur yang rumit. Teori-teori psikodinamik menjadi dasar bagi biblioterapi afeksi. Teori-teori ini berasal dari pemikiran Sigmund Freud dan Anna Freud.[43]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Karen Horney[sunting | sunting sumber]

Karen Horney mengkritik pemikiran dari Freud saat ia baru memulai kariernya di bidang psikologi perempuan. Pada tahun 1922, ia mengembangkan pemikirannya sendiri mengenai psikologi perempuan. Pada tahun yang sama, ia menghadiri Kongres Psikologi Internasional di Berlin. Horney menjadi wanita pertama yang melakukan sebuah presentasi makalah pada kongres ini. Pada pertemuan ini, Freud menjadi pimpinan sidang. Kritik Horney terhadap Freud berkaitan dengan iri penis. Ia menyatakan bahwa pendapat Freud ini tidak memiliki data yang adekuat. Alasannya adalah wanita yang diwawancarai oleh Freud untuk menjelaskan iri penis merupakan wanita yang menderita neurosis.[44]

Wafat[sunting | sunting sumber]

Tentara Jerman Nazi telah menduduki Austria pada tahun 1938. Sigmund Freud menjadi salah satu sasaran dari kekerasan tentara ini, karena ia merupakan keturunan Yahudi. Karenanya, Freud memanfaatkan hubungannya dalam skala mancanegara untuk mengadakan penerbangan ke London. Ia kemudian menetap di London hingga akhir hayatnya.[45] Sekitar 80 tahun dari usianya dilalui di kota Wina.[46] Freud wafat di London pada tanggal 23 September 1939.[47]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Karya-karya Freud[sunting | sunting sumber]

Korespondensi[sunting | sunting sumber]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris)Feist J. dan G. J. Feist.2006.Theories of Personality 6th ed.Singapore:McGraw-Hill International Edition
  2. ^ (Inggris) Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah.
  3. ^ Hamali, Syaiful (2018). "Kepribadian Dalam Teori Sigmound Freud Dan Nafsiologi Dalam Islam". Al-Adyan. 13 (1): 287. ISSN 1907-1736. 
  4. ^ a b Riyadi, Fahmi (2015). "Sigmund Freud: Dari Psikoanalisis ke Agama" (PDF). Studi Multidisipliner. 2 (1): 3. 
  5. ^ Sumadi, Eko (2018). "Anomali Pendidikan Karakter". Jurnal Tarbawi. 15 (2): 26. ISSN 2088-3102. 
  6. ^ Hariyanto, Ishak (2016). "Etika Psikoanalisis Sigmund Freud sebagai Landasan Kesalehan Sosial". Al-Tazkiah. 5 (2): 100. 
  7. ^ Hutapea, Bonar (2011). "Menggeser Kesadaran Sebagai Pusat Manusia Yang Mutlak dan Otonom: Subjek Freudian Dalam Kritik Terhadap Filsafat Subjektivitas" (PDF). Psikobuana. 3 (2): 142. ISSN 2085-4242. 
  8. ^ Milner, Max (1992). Freud dan Interpretasi Sastra (PDF). Jakarta: Intermasa. hlm. 1. ISBN 979-8114-84-1. 
  9. ^ Hidayah, N., dkk. (2017). Psikologi Pendidikan (PDF). Malang: Universitas Negeri Malang. hlm. 44. ISBN 978-979-495-934-3. 
  10. ^ Wjiaya, A., dan Darmawan, I. P. A. (2019). "Optimalisasi Superego dalam Teori Psikoanalisis Sigmund Freud untuk Pendidikan Karakter" (PDF). Proceedings Seminar Nasional: Merajut Keragaman Untuk Mencapai Kesejahteraan Psikologis Dalam Konteks Masyarakat 5.0: 22. 
  11. ^ Warsah, Idi (2017). "Kontekstualita, Vol. 33, No. 1, 2017 54Interkoneksi Pemikiran Al-Ghazāli dan Sigmund Freud Tentang Potensi Manusia". Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial dan Keagamaan. 33 (1): 63. ISSN 2548-1770. 
  12. ^ Rahmawati (2016). Fitriastuti, T., dan Kiswanto, ed. Manajemen Pemasaran (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 39–40. 
  13. ^ Helmy, Muhammad Irfan (2018). "Kepribadian Dalam Perspektif Sigmund Freud dan Al-Qur'an: Studi Komparatif". Nun. 4 (3): 109. 
  14. ^ Waslam (2015). "Kepribadian dalam Teks Sastra: Suatu Tinjauan Teori Sigmund Freud". Jurnal Pujangga. 1 (2): 138–139. 
  15. ^ Nurhayati, Eti (2016). "Integrasi Perspektif Psikologi dan Islam dalam Memahami Kepribadian Laki-laki dan Perempuan" (PDF). Proceeding of International Conference On Islamic Epistemology: 44. ISBN 978-602-361-048-8. 
  16. ^ Saleh, Adnan Achiruddin (2018). Pengantar Psikologi (PDF). Makassar: Penerbit Aksara Timur. hlm. 15–16. ISBN 978-602-5802-10-2. 
  17. ^ a b Megantara, P., dkk. (2019). "Kajian Psikoanalisis dalam Novel Kala Karya Syahid Muhammad dan Stefani Bella". Caraka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Bahasa Daerah. 9 (2): 119. 
  18. ^ Adnan, M. A. B., dkk. (2016). "Stifin Personality Menurut Perspektif Islam" (PDF). Seminar Psikologi Kebangsaan-iii 2016: 453. 
  19. ^ Haslinda (2019). Azis, Sitti Aida, ed. Kajian Apresiasi Prosa Fiksi Berbasis Kearifan Lokal Makassar (PDF). Makassar: LPP Unismuh Makassar. hlm. 261–262. ISBN 978-602-8187-87-9. 
  20. ^ Falah, Fajrul (2021). "Godaan Versus Integritas Seorang Hakim dalam Cerpen "Yang Mulia" Karya Insan Budi Maulana (Pendekatan Psikoanalisis Sigmund Freud)". Nusa. 16 (1): 90–91. 
  21. ^ Haryadi. "Membangun Karakter Mahasiswa melalui Tokoh Utama dalam Novel Merahnya Merah Karya Iwan Simatupang" (PDF). Prosiding Konferensi Nasional Ke-4 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah: 12. ISBN 978-602-19568-1-6. 
  22. ^ Prasasti, B. W. D., dan Anggraini, P. (2019). "Peran Id, Ego, dan Superego dalam Pembentukan Kepribadian Tokoh Asih dalam Novel Lengking Burung Kasuari Karya Nunuk Y Kusmiana". Estetika. 2 (1): 36. doi:10.36379/estetika.v1i1. 
  23. ^ Sari, Dewi Purnama (2021). "Gangguan Kepribadian Narsistik dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental". Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. 5 (1): 105. doi:10.29240/jbk.v5i1.2633. ISSN 2580-3646. 
  24. ^ Wijaya, Reffyando (2017). "Makna Hubungan Antartokoh dalam Proses Pembentukan Kepribadian Ganda Tokoh Suguro pada Novel Sukyandaru Karya Endo Shusaku" (PDF). Japanology. 5 (2): 204. 
  25. ^ Riskasari, W., dkk. (2016). Psikologi Klinis Kelautan: Kasus-kasus dalam Bidang Klinis (PDF). Surabaya: Hang Tuah University Press. hlm. 171. ISBN 978-979-3153-92-6. 
  26. ^ a b Habibie, Alfadl (2017). "Pengenalan Aurat bagi Anak Usia Dini dalam Pandangan Islam". Jurnal Pendidikan: Early Childhood. 1 (2): 4. 
  27. ^ Nurhayati, Eti (2016). Psikologi Pendidikan Inovatif (PDF) (edisi ke-2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 3. ISBN 978-602-229-916-5. 
  28. ^ Kasno (2018). Salsabila, Intan, ed. Filsafat Agama (PDF). Surabaya: Alpha. hlm. 106. ISBN 978-602-6681-18-8. 
  29. ^ Rusydi, Ahmad (2015). Kecemasan dan Psikoterapi Spiritual Islam (PDF). Istana Publishing. hlm. 3–4. 
  30. ^ Ahmad, Maghfur (2011). "Agama dan Psikoanalisa Sigmund Freud". Religia. 14 (2): 278. 
  31. ^ Wahyudi, I Wayan, ed. (2020). Quo Vadis Pendidikan Karakter dalam Merajut Harapan Bangsa yang Bermartabat (PDF). Denpasar: UNHI Press. hlm. 191. ISBN 978-623-7963-17-2. 
  32. ^ Hidayah, N., dkk. (2019). Fakhruddiana, Fuadah, ed. Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus (PDF). Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru. hlm. 20. ISBN 978-623-7080-83-1. 
  33. ^ Hatta, Kusmawati (2016). Trauma dan PemulihannyaSebuah Kajian Berdasarkan Kasus Pasca Konflik dan Tsunami (PDF). Banda Aceh: Dakwah Ar-Raniry Press. hlm. 80. ISBN 978-602-60756-3-5. 
  34. ^ Ananda, R., dan Abdillah (2018). Chaniago, N. S., dan Fadhli, M., ed. Pembelajaran Terpadu: Karakteristik, Landasan, Fungsi, Prinsip dan Model (PDF). Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia. hlm. 57. ISBN 978-602-51316-1-5. 
  35. ^ Umami, Ida (2014). Suhendi, ed. Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan (PDF). Metro Lampung: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung. hlm. 20. 
  36. ^ Suciati (2021). Memahami Perilaku Komunikasi Kaum Milenial: Sebuah Tinjauan Psikologis dan Perspektif Islam (PDF). Yogyakarta: Buku Litera. hlm. 6. ISBN 978-623-6034-02-6. 
  37. ^ Subagya, Agus (2018). Fadil, M. Y., dan Prasiwi, P., ed. "Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kejahatan Pencabulan Terhadap Anak dan Upaya Penanggulangannya" (PDF). Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper UNS 2018: 83. ISBN 978-602-6363-56-5. 
  38. ^ Kuswardinah, Asih (2019). Ilmu Kesejahteraan Keluarga (PDF). Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. hlm. 75. ISBN 979-100-645-8. 
  39. ^ Afrizal, Lalu Heri (2014). "Psikoanalisa Islam, Menggali Struktur Psikis Manusia dalam Perspektif Islam". Jurnal Kalimah. 12 (2): 238–239. 
  40. ^ Handayani, C. S., dkk. (2013). Subyek yang Dikekang: Pengantar ke Pemikiran Julia Kristeva, Simone de Beauvoir Michel Foucault, Jacques Lacan (PDF). Jakarta: Komunitas Salihara-Hivos. hlm. 13. ISBN 978-602-96660-5-2. 
  41. ^ Ahmadi, Anas (2015). Psikologi Sastra (PDF). Surabaya: Unesa University Press. hlm. 5. ISBN 978-979-028-756-3. 
  42. ^ Noermanzah (2016). "Kajian Teoretik dan Penerapan Pendekatan Psikologi Sastra dalam Penelitian Sastra" (PDF). Seminar Nasional Language Education and Literature (LANGEL) ke-1: 499. 
  43. ^ Hidayat, Dede Rahmat (2018). Konseling di Sekolah: Pendekatan-Pendekatan Kontemporer (PDF). Jakarta: Prenadamedia Group. hlm. 53. ISBN 978-602-422-217-8. 
  44. ^ Hidayat, Dede Rahmat (2015). Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling (PDF). Bogor: Penebit Ghalia Indonesia. hlm. 111. 
  45. ^ Zaenuri, Ahmad (2005). "Estetika Ketidaksadaran: Konsep Seni menurut Psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939)". Harmonia: Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni. VI (3): 2. 
  46. ^ Juraman, Stefanus Rodrick (2017). "Naluri Kekuasaan Sigmund Freud: Book Review" (PDF). Jurnal Studi Komunikasi (edisi ke-3). 1: 281. ISSN 2549-7294. 
  47. ^ Husin (2017). "Id, Ego dan Superego Dalam Pendidikan Islam". Jurnal Ilmiah Al Qalam. 11 (3): 48. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]