Seni

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Patung emas bidadari Majapahit, contoh karya seni dengan keterampilan tinggi.

Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya), seperti tari, lukisan, ukiran.[1] Seni meliputi banyak kegiatan manusia dalam menciptakan karya visual, audio, atau pertunjukan yang mengugkapkan imajinasi, gagasan, atau keperigelan teknik pembuatnya, untuk dihargai keindahannya atau kekuatan emosinya.[2][3] Kegiatan-kegiatan tersebut pada umumnya berupa penciptaan karya seni, kritik seni, kajian sejarah seni dan estetika seni.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Asal mula kata seni dalam bahasa Indonesia tidak begitu jelas dan memiliki banyak teori, di antaranya adalah:

  • Kata seni dari bahasa Melayu Riau (Sungai Rokan) sonik yang berasal dari kata 'so' atau 'se' artinya adalah 'satu', berasal dari bahasa Sanskerta 'swa' (satu), yang digabung dengan kata 'nik' yang artinya sesuatu yang sangat kecil atau halus. Kata sonik/sonit/seni berarti suatu yang halus bentuk rupa maupun sifatnya.[4]
  • Kata seni dari bahasa Sansekerta sani yang artinya persembahan, pelayanan dan pemberian yang tulus.[5]
  • Kata seni dari bahasa Belanda genie yang artinya kemampuan luar biasa yang dibawa sejak lahir,[5] seperti makna ketiga kata seni dalam KBBI yang berarti genius.[1]

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Terdapat permasalahan alih bahasa ketika bahasa Indonesia terpapar konsep-konsep Barat, seperti apa yang kita sebut sekarang sebagai seni, walaupun gejala kesenian telah ada sebelumnya dan istilah padanannya dapat digali dari kosakata lokal, seperti kata kagunan dalam bahasa Jawa dan kabinangkitan dalam bahasa Sunda. Memadankan kata seni untuk art atau kunst sesungguhnya terdengar sangat ganjil karena sampai abad ke-19, kata seni hanya sering digunakan pada konteks air seni yang merupakan penghalusan istilah untuk kencing.[6] Sedangkan kata seni untuk menyebut sesuatu kecil atau lembut tidak banyak digunakan.

Sebelum istilah seni populer seperti sekarang, istilah kunst dalam kamus Belanda-Melayu (Klinkert atau Mayer atau Badings yang terbit pada penghujung abad ke-19 atau permulaan abad ke-20) diterjemahkan menjadi hikmat, ilmu, pengetahuan, kepandaian dan ketukangan.[7] Kamus Umum Bahasa Indonesia (terbit pertama kali 1953) oleh Purwadarminta ditengarai ialah kamus yang merekam kata seni dengan makna yang baru untuk pertama kalinya. Meskipun Purwadarminta bukanlah yang mula-mula menggunakan istilah "seni" dan "seni rupa", tetapi hal ini membuat polemik di kalangan seniman karena seakan-akan menimbulkan ketimpangan persepsi antara seni di Indonesia dan seni di Barat.[8][9]

Istilah "seni rupa", "seni musik", "seni teater", "seni sastra" dll. dalam bahasa Indonesia ditengarai memperlihatkan gejala adverbial. Gejala ini menunjukkan kata-kata penting (rupa, musik, tari, sastra) hanya sekadar kata keterangan (adverb) untuk kata seni. Keutamaan pada istilah-istilah itu terletak pada kata "seni"-nya. Istilah "seni" sendiri dalam bahasa Indonesia tidak membawa sifat kebendaan, walaupun merupakan kata benda abstrak. Dengan demikian, semua ungkapan seni punya kedudukan sejajar. Seni menjadi istilah yang 'terbuka'. Ungkapan seni bahkan tidak dibatasi pada seni rupa, seni tari, seni musik, dan seni teater saja (dikenal menampilkan ungkapan pribadi). Deretan istilah ini bisa diperpanjang dengan seni keris, seni batik, seni ronggeng (dan sebagainya) yang dikenal sebagai kesenian di dunia tradisi. Maka, kata seni tidak memiliki bentuk dan merupakan kondisi mental yang bisa berwujud banyak hal selama memiliki gejala seni. Gejala tersebut membuat pengertian seni dalam bahasa Indonesia lebih dekat kepada estetika.[10][9] Oleh karenanya, terdapat banyak kesulitan dalam menyeimbangkan perkembangan wacana seni di Indonesia dan Barat, misalkan seni tari jika diterjemahkan secara formal menjadi dance art tidak akan masuk akal bagi pemakai bahasa Inggris, juga seperti seni ukir, seni musik, dsj. Bahasa Inggris dan beberapa bahasa lain juga membedakan antara istilah art dan (the) arts.

Istilah seni kemungkinan besar ditemukan—atau lebih tepatnya dimaknai ulang—oleh S. Sudjojono melalui Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang kala itu sangat giat mencari padanan istilah berbahasa Indonesia. Istilah baru yang juga diperkenalkan antara lain seni lukis, lukisan, pelukis, lukisan kampas (kanvas), pematung, seni rupa, cukilan, alam benda, potret diri, watak, sanggar, sketsa, etsa, seniman, telanjang dan lain-lain. Sementara itu, istilah seniman (untuk menyebut pelaku seni) muncul pada akhir 1930-an di dalam tulisan-tulisan S Sudjojono mengenai seni lukis Indonesia. S Sudjojono mengakui bahwa istilah ”seniman” ini pertama kali diusulkan oleh Ki Mangunsarkoro—mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.[11][12] Tulisan-tulisan S.Sudjojono juga membantu istilah-istilah tersebut semakin populer, khususnya buku Seni lukis, kesenian, dan seniman yang terbit pertama kali 1946.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bentuk kesenian tertua yang ditemukan adalah seni rupa, yang meliputi penciptaan gambar atau benda yang sekarang digolongkan menjadi lukisan, patung, cetakan, fotografi dan media rupa lainnya.[13] Bentuk seni seperti patung, lukisan gua, lukisan batu, dan petroglif dari zaman Paleolitikum Akhir telah ada sejak dari 40.000 tahun yang lalu. Lukisan gua di Sulawesi disebut sebagai salah satu artefak seni tertua di dunia.[14] Akan tetapi, makna sesungguhnya dari seni tersebut masih dalam perdebatan karena kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang menghasilkannya. Di gua Lubang Jeriji Saleh, Kalimantan Timur, para arkeolog menemukan gambar serupa binatang sapi yang ditegaskan sebagai karya seni figuratif tertua di dunia, diperkirakan berasal dari 40 ribu hingga 52 ribu tahun lalu (periode Paleolitik Atas dan akhir zaman es), lebih tua 5000 tahun dari penemuan sebelumnya di Sulawesi.[15] Benda seni yang disebut tertua lainnya berasal dari gua di Afrika Selatan, berusia 75.000 tahun, berbentuk rangkaian cangkang keong kecil-kecil yang dilubangi.[16] Wadah yang kemungkinan untuk tempat cat juga ditemukan dengan usia 100.000 tahun. Cangkang kerang dengan goresan oleh Homo erectus yang ditemukan tahun 2014 dipercaya berasal dari 430.000 dan 540.000 tahun yang lalu.[17]

Banyak tradisi besar dalam seni memiliki akar dari salah satu peradaban besar kuno, yakni Mesir Kuno, Mesopotamia, Persia, India, Tiongkok, Yunani Kuno, Romawi, juga Inka, Maya dan Olmek. Tiap-tiap pusat peradaban awal ini mengembangkan gaya khas dalam keseniannya. Dikarenakan ukuran dan usia peradaban-peradaban tersebut, terdapat lebih banyak karya seni yang terselamatkan dan lebih banyak pengaruh yang disebarluaskan kepada budaya-budaya yang datang kemudian. Sebagian dari peradaban tersebut bahkan memiliki catatan terawal bagaimana seniman bekerja. Sebagai contoh, seni zaman Yunani melihat pemujaan bentuk tubuh manusia dan pengembangan keterampilan yang berimbang untuk menunjukkan proporsi otot, ketenangan, kecantikan, dan anatomi yang tepat.[18]

Dalam seni peradaban Bizantium dan Abad Pertengahan Barat, banyak seni berfokus pada ekspresi subjek tentang budaya Alkitab dan keagamaan, dan menggunakan gaya yang menunjukkan kemuliaan yang lebih tinggi bagi dunia surgawi, seperti penggunaan emas pada latar belakang lukisan, atau kaca dalam mosaik atau jendela, yang juga menyajikan figur-figur dalam bentuk yang ideal, berpola (datar). Namun demikian, tradisi realis klasik bertahan dalam karya-karya kecil Bizantium, dan realisme terus tumbuh dalam seni Katolik Eropa.[19]

Seni Renaisans kemudian berkembang dengan lebih menekankan pada penggambaran realistik dunia bendawi, dan tempat manusia di dalamnya. Hal itu tercermin dari penggambaran jasmani tubuh manusia, dan perkembangan metode sistematis penggambaran jauh-dekat dari sudut pandang grafis untuk mendapatkan kesan ruang tiga dimensi.[20]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Alexander Baum Garton 
Seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.
Aristoteles 
Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.
Immanuel Kant 
Seni adalah sebuah impian karena rumus rumus tidak dapat mengihtiarkan kenyataan.
Ki Hajar Dewantara 
Seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.
Leo Tolstoy 
Seni adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.
Sudarmaji 
Seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang.

Cabang-cabang seni[sunting | sunting sumber]

Umumnya seni dibagi menjadi dua cabang besar, yakni seni murni (fine art) dan seni terapan (applied art). Seni rupa murni tidak memerhatikan unsur praktis. Karya seni rupa murni adalah ungkapan daya cipta pembuatnya. Cabang-cabang seni rupa murni di antaranya adalah[21]:

Sementara itu, seni rupa terapan merupakan cabang seni yang memerhatikan nilai kepraktisan atau kegunaan dari karya seni. Seni rupa terapan seringkali disebut juga dengan desain. Cabang-cabang seni rupa terapan antara lain adalah:

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Hasil Pencarian - KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2018-10-29. 
  2. ^ "art | Definition of art in English by Oxford Dictionaries". Oxford Dictionaries | English. Diakses tanggal 2018-10-29. 
  3. ^ "Definition of ART". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-29. 
  4. ^ "Indonesian Art & Culture Community | Ada apa dengan istilah seniman?". indonesianartculture.org. Diakses tanggal 2018-10-27. 
  5. ^ a b Yusa, I. Made Marthana (2016-03-31). SINERGI SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI: DALAM PROSES BERKARYA KREATIF DI DUNIA TEKNOLOGI INFORMASI. Stimik Stikom Indonesia. ISBN 9786027066502. 
  6. ^ Susanto, Sophia (April 2012) The Problematic Rupture of ‘Gerakan Seni Rupa Baru’: The Indonesian New Art Movement of the 1970s. Hal. 22-23. http://archive.ivaa-online.org/files/uploads/texts/20120400%20The%20Problematic%20Rupture%20of%20GSRB.pdf
  7. ^ Sudjoko dalam Sachari, Agus (1986) Seni, Desain dan Teknologi. Bandung: Penerbit Pustaka. Hal.75
  8. ^ World, Denny JA's. "Denny JA's World : Wawancara saya dengan saya - Jim Supangkat". Denny JA's World. Diakses tanggal 2018-10-28. 
  9. ^ a b Supangkat, Jim (2006). Ikatan silang budaya: seni serat Biranul Anas. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9789799100597. 
  10. ^ "ideology". mbewthea.angelfire.com. Diakses tanggal 2018-10-29. 
  11. ^ "Hyphen — » Seniman atau "seniman"? (11 September-2 Oktober 2011)". hyphen.web.id. Diakses tanggal 2018-10-28. 
  12. ^ Sudjojono, S. (2017-06-12). Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9786024243074. 
  13. ^ Matthew; Thierry Lenain; Hubert Locher (22 Juni 2012). Art History and Visual Studies in Europe: Transnational Discourses and National Frameworks. BRILL. pp. 222–223. ISBN 978-90-04-21877-2. Diakses 23 June 2018.
  14. ^ Cyranoski, David (2014-10-08). "World's oldest art found in Indonesian cave". Nature (dalam bahasa Inggris). doi:10.1038/nature.2014.16100. ISSN 1476-4687. 
  15. ^ "Gambar Hewan Tertua Dari 40 Ribu Tahun Lalu Ditemukan di Kalimantan - Nationalgeographic.grid.id". 2018-11-08. Diakses tanggal 2018-11-09. 
  16. ^ Radford, Tim (2004-04-16). "World's oldest jewellery found in cave". the Guardian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-11-02. 
  17. ^ Brahic, Catherine. "Shell 'art' made 300,000 years before humans evolved". New Scientist (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-11-02. 
  18. ^ Gombrich, p.83, pp.75-115 pp.132-141, pp.147-155, p.163, p.627.
  19. ^ Gombrich, pp.86-89, pp.135-141, p.143, p.179, p.185.
  20. ^ Tom Nichols (1 Desember 2012). Renaissance Art: A Beginner's Guide. Oneworld Publications. ISBN 978-1-78074-178-9.
  21. ^ Seni dan Budaya. PT Grafindo Media Pratama. ISBN 9789797583699.