Suku Dayak Bahau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Foto suku Dayak Bahau sekitar tahun 1898-1900.

Suku Kayan Bahau adalah sebuah sub-suku dari suku Dayak Kayan yang sebagian besar mendiami kawasan Kabupaten Mahakam Ulu [1] dan sebagian kecil berada di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.Suku ini mendiami daerah kecamatan Long Iram, Long Bagun, Long Pahangai, dan Laham. Suku Dayak Bahau dibagi menjadi tiga sub-kelompok yaitu Bahau Modang, Nahau Busang, dan Bahau Saq. Suku Dayak Bahau umumnya tinggal di pinggiran sungai. Rumah-rumah berjejeran di sepanjang sungai.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Suku Dayak Bahau memiliki kebiasaan memanjangkan telinga menggunakan Hisang. Masing-masing anting akan digunakan ketika wanita berumur 5 tahun dan ketika umur bertambah maka anting pun bertambah. Suku Dayak Bahau lebih memilih menggunakan anting perak.

Suku ini juga mentato tubuhnya menggunakan arang pohon Damar. Tato dibuat menggunakan sembilu atau menggunakan jarum. Perempuan yang ingin ditato harus dalam umur 12 sampai 15 tahun. [2]

Pria suku Dayak membuat dua lubang pada daun telinga[3]

Bahasa Bahau[sunting | sunting sumber]

Bahasa Bahau memiliki kode ISO 639-3 "bhv".

Silsilah Bahasa Kayan-Murik[sunting | sunting sumber]

  1. Kayan-Murik (17 bahasa)
    1. Bahasa Kayan(Suku Kayan):
      1. Kbel mcro vivan csm100 new 30.000 outBahasa Bahau(bhv):(Suku Bahau di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur)
      2. Dialek Kayan Busang [bfg]: (Suku Dayak Bahau Busang, di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
      3. Dialek Kayan Wahau [whu]: (Suku Kayan Wahau di Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur)
      4. Dialek Kayan Mahakam [xay]: Suku Kayan Mahakam di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
      5. Dialek Kayan Sungai Kayan [xkn]: Suku Kayan Sungai Kayan di (Malinau, Kalimantan Timur)
      6. Dialek Kayan Baram [KYS]: Suku Kayan Baram, (Sarawak)
      7. Dialek Kayan Rejang [REE]: Suku Kayan Rejang (Sarawak)
      8. Dialek Kayan Mendalam[XKD]: Suku Kayan Mendalam di (Kapuas Hulu, Kalimantan Barat)
    2. Modang:
      1. Bahasa Modang [mxd]: (Suku Dayak Modang, Suku Dayak Wehea di Kutai Timur, Kalimantan Timur)
      2. Bahasa Segai [sge]: (Berau, Kalimantan Timur)
    3. Punan Pegunungan Muller-Pegunungan Schwaner:
      1. Bahasa Aoheng [pni]: (Suku Aoheng/Suku Penihing di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
      2. Bahasa Punan Aput [pud]: (Kalimantan Timur)
      3. Bahasa Punan Merah [puf]: (Kalimantan Timur)
      4. Bahasa Uheng-Kereho [xke]: Suku Punan Uheng-Kereho di (Kapuas Hulu, Kalimantan Barat)
      5. Bahasa Bukat [BVK]: (Suku Bukat di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
      6. Bahasa Hovongan [HOV]: Suku Punan Hovongan di (Kapuas Hulu, Kalimantan Barat)
    4. Murik
      1. Dialek Kayan Murik [MXR]: Suku Kayan Murik di (Sarawak)

Agama dan sistem kepercayaan asli[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar suku Dayak Bahau memeluk agama Katolik, dalam kehidupan sehari-hari banyak yang masih menggunakan unsur-unsur kepercayaan lama. Orang bahau pada masa lalu banyak dewa seperti dewa air, dewa padi, dewa gunung, dewa penjaga kampung dan dewa lainnya.

Terdapat Upadara Hudoq dalam suku Dayak Bahau untuk memanggil roh-roh baik dari Apau Lagaan. Upacara ini dilakukan agar mendapatkan hasil melimpah ketika panen.[4]

Mata pencarian[sunting | sunting sumber]

  • pertanian ladang
  • berburu
  • mencari hasil hutan
  • menangkap ikan

Upacara kematian[sunting | sunting sumber]

Upacara ini berkaitan dengan keyakinan bahwa orang pindah kealam lain,yaitu alam arwah. Ada beberapa tahap kegiatan

  • memandikan mayat(medu pete)
  • acara makan berwaq atau bersantap
  • acara pemakaman dengan membawa barang seperti mandau,guci,sumpitan dan tombak
  • acara mengusir hantu
  • acara memindah roh si mati ke negeri arwah

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) Michaela Haug, Poverty and Decentralisation in East Kalimantan, Centaurus Verlag & Media KG, ISBN 3-8255-0770-X, 9783825507701.
  2. ^ Times, I. D. N.; Karina, Ernia. "Kisah dari Mahakam Ulu: Tato dan Telinga Panjang Dayak Bahau". IDN Times. Diakses tanggal 2020-05-02. 
  3. ^ M.junus, Melalatoa (1995). Ensiklopedia suku bangsa di Indonesia. jakarta: Dapartemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 
  4. ^ Asung, Desi Daria (2019). "RELIGIOSITASDALAM MITOSUPACARA ADAT HUDOQ DAYAK BAHAU DI UJOH BILANG KECAMATAN LONG BAGUNKABUPATEN MAHULU". Ilmu Budaya. 3 (4): 430–441. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]