Suku Dayak Modang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Suku Dayak Modang adalah bagian dari suku Dayak yang mendiami wilayah Kabupaten Kutai, Provinsi Kalimantan Timur. Suku Dayak Modang terutama menempati Kecamatan Kembang Janggut, Long Beleh, Muara Ancalong, dan Muara Wahau. Y. Mallinckrodt mengemukakan bahwa masyarakat Dayak Modang adalah sub kelompok orang Bahau. Tetapi, saat ini Dayak Modang dianggap sebagai kelompok tersendiri atau lepas dari kelompok Bahau.[1] Jumlah populasi suku Dayak Modang sekitar 15.000 (1981 Wurm and Hattori).[2]

Asal Usul[sunting | sunting sumber]

Suku Dayak Modang berasal dari daerah Apo Kayan, yang merupakan daerah yang seolah-olah menjadi pusat pulau Kalimantan. Daerah ini berbatasan dengan Serawak, Malaysia Timur. Saat ini, daerah Apo Kayan menjadi bagian wilayah Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Masyarakat Modang menjadi kelompok awal yang meninggalkan Apo Kayan dibanding sub kelompok Bahau lainnya. Kemudian, orang Modang mendiami wilayah di sekitar aliran Sungai Belayan, Sungai Kelinjau, dan Sungai Telen. Ketiga sungai tersebut adalah anak Sungai Mahakam. Selama perjalanan dalam migrasi tersebut mereka bertemu dengan budaya lain dan membetuk budaya yang bervariasi atau membentuk budaya yang berbeda dari kelompok asalnya (kelompok Bahau).[1]

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Suku Dayak Modang pada umumnya memanfaatkan aliran sungai sebagai sarana prasarana perhubungan dengan mengendarai perahu motor atau perahu dayung. Masyarakat ini hidup dari berladang dengan tanaman padi dan sistem yang digunakan adalah ladang berpindah. Mereka juga memenuhi kebutuhan dengan mengumpulkan hasil hutan, serta menangkap ikan dari sungai di sekitar pemukiman.

Kekerabatan yang dianut suku Dayak Modang adalah bilateral, yang artinya menarik garis keturunan baik pada pihak ayah maupun ibu. Sesudah menikah, sepasang pengantin bebas menentukan tempat tinggal, apakah di lingkungan kerabat suami atau istri.[1]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Dayak Modang menggunakan bahasa Modang dalam percakapan sehari-harinya.

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Hudoq[sunting | sunting sumber]

Tari Hudog adalah tarian yang menggunakan topeng dan terdapat kepercayaan bahwa saat melaksanakan tari Hudoq para dewa utusan Sang Pencipta datang ke dunia untuk membantu kehidupan manusia, membantu mengusir hama penyakit padi dan segala hal buruk yang akan menimpa kampung. Penari Hudoq mengenakan kostum yang berasal dari daun pisang hingga menutupi mata kaki dan memakai topeng kayu yang menggambarkan ekspresi tokoh – tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Dayak.[3] Hudoq dimulai dengan Sakaeng Ngaweit, yaitu ritual monolog yang mempunyai tujuan untuk menyampaikan permohonan. Sesudah itu, sekelompok ibu/perempuan dewasa menari dan melantunkan syair, membentuk arak-arakan di sepanjang jalan menuju rumah adat (lamin adat atau Maeso Puen).[4] Pada zaman dahulu, sebagian masyarakat percaya bahwa orang yang sakit akan lekas sembuh apabila terkena kibasan kostum dari penari Hudoq tersebut.[3]

Ngewae[sunting | sunting sumber]

Ngewae adalah tari untuk menyambut kelahiran anak bangsawan.[1]

Njiek Hapoi[sunting | sunting sumber]

Njiek Hapoi merupakan tarian sebagai wujud penghormatan terhadap raja atau tamu terhormat.[1]

Njiek Tewea[sunting | sunting sumber]

Tarian ini adalah tari merumput padi atau setelah memotong padi yang bersifat hiburan.[1]

Njiek Kenkah Gundea[sunting | sunting sumber]

Njiek Kenkah Gundea adalah tari yang bersifat hiburan.[1]

Njiek Ndaae Tegun[sunting | sunting sumber]

Njiek Ndaae Tegun atau biasa disebut dengan tarian burung enggang merupakan tari yang juga berguna untuk hiburan.[1]

Ding Wuk[sunting | sunting sumber]

Nyayian ini mengiringi tarian Ding Wuk, yang digunakan sebagai hiburan pada malam ada keramaian, menyambut tamu, pesta makan nasi baru, dan sebagainya. Tarian Ding Wuk berkaitan dengan legenda dari cerita perkawinan anak raja Modang dengan putri raja lain.[1]

Dung[sunting | sunting sumber]

Dung merupakan nyanyian para laki-laki ketika pulang berperang yang bernada sedih mengenang anggotanya yang gugur. Saat menyanyikannya, para lelaki itu duduk melingkar dalam rumah panjang semalaman. Dini hari, mereka turun dari rumah dan berjalan hilir mudik dalam kampung sambil bernyanyi sampai siang hari.[1]

Netna[sunting | sunting sumber]

Netna adalah nyanyian hiburan pada saat memotong padi untuk mendorong semangat dalam bekerja.[1]

Ngen Jiu Hen Ie[sunting | sunting sumber]

Ngen Jiu Hen Ie merupakan lagu hiburan ketika duduk bersama menikmati sinar bulan purnama. Nyanyian ini dilakukan oleh pria dan wanita dengan saling bersahutan dengan lirik yang panjang.[1]

Jong Nyelong[sunting | sunting sumber]

Jong Nyelong adalah nyanyian sebagai pengiring tari untuk ungkapan rasa syukur karena keberhasilan panen di ladang. Jong Nyelong dibawakan oleh pria dan wanita tanpa iringan musik.[1]

Jantung Utang[sunting | sunting sumber]

Jantung utang artinya adalah kayu yang dipukul. Jantung Utang adalah sejenis alat musik pukul yang terdiri dari bilah-bilah kayu. Alat musik ini dimiliki oleh suku Dayak Kenyah, tetapi seiring dengan perpindahan suku Dayak Kenyah dari pedalaman ke daerah lain, Jantung Utang dapat ditemukan pada suku Dayak Modang, Bahau, Segai, Tumbit, Kayan, Brusu, dan lain-lain. [5]

Ritual[sunting | sunting sumber]

Ritual Pelekatan Nama[sunting | sunting sumber]

Doa dan harapan tercermin pada nama seseorang, artinya seseorang yang menyandang nama tersebut diharapkan akan memperoleh hal-hal yang baik dalam kehidupan. Pemberian nama pada suku Dayak Modang disertai dengan prosesi pelekatan nama. Ritual Nen Kaeg Heig Metaeyang (yang mewujudkan permohonan kepada Yang Maha Kuasa) menjadi permulaan dari prosesi pelekatan namapada suku Dayak Modang. Sesudah selesai merapalkan mantera atau doa-doa dengan posisi menghadap ke sungai Mahakam, pimpinan upacara adat meletakkan sembilan telur ayam kampung ke ujung setiap tongkat mambu yang telah ditancapkan dengan berjejer, yang pada bagian bawahnya terdapat sirih, beras, dan rokok. Setelah itu, dilakukan penyembelihan seekor ayam jantan yang berwarna merah, darah ayam tersebut disangga dalam piring putih yang berisi beras dan telur, yang kemudian akan ditaruh di Mahakam. Bunyi gendang dan tabuhan gong mengiringi seluruh rangkaian ritual pelekatan nama.

Kemudian, orang tua membawa anak laki-lakinya yang akan diberi nama menuju ke tempat pelaksanaan adat atau. Tempat ini disebut dengan Hewat yang beralaskan tikar purun. Ibu memasang gelang manik pada anak tersebut. Pemasangan ini bermakna sebagai ikatan hubungan. Selanjutnya, dilaksanakan prosesi Me et Jiem atau pemotongan rambut anak oleh tetua adat, yang mempunyai arti penataan awal tata adat kehidupan atau merupakan ungkapan proses pertumbuhan. Setelah prosesi Me et Jiem usai, dilakukan ritual Net Leug atau memohon calon nama untuk anak melalui perantara daun pisang ambon yang telah dibentuk menjadi kotak dengan ukuran 3x4 cm sebanyak tiga rangkap.

Pemimpin upacara memegang dua potong daun pisang ambon itu dalam posisi berdiri. Daun tersebut dilemparkan keatas dan dibiarkan jatuh ke tanah sembari mengucap doa. Posisi daun yang baru jatuh tersebut dilihat, apabila kedua daun terlentang atau tertelungkup berarti terdapat pertanda Tidak, sehingga prosesi harus dilaksanakan lagi. Apabila posisi daun pisang yang dijatuhkan salah satu terlentang dan yang lainnya tertelungkup, itu berarti nama yang sudah diajukan pihak keluarga mendapat jawaban Ya dari leluhur mereka atau telah mendapat persetujuan.

Kemudian dilaksanakan ritual Ensoet Kenean atau memakaikan pakaian adat dan pusaka warisan kepada anak yang dilakukan oleh para tetua. Ritual tersebut melambangkan hubungan kekerabatan turun temurun yang memiliki makna penguatan identitas. Untuk mewujudkan rasa syukur, dilangsungkan ritual Newag Jip Edat atau pemotongan hewan berupa babi jantan yang diganti dengan dua ekor ayam jantan. Ritual Newag Jip Edat ini merupakan penghantar adat yang telah ditetapkan kepada Yang Maha Kuasa dan leluhur. Darah dari ayam tersebut akan dioleskan ke tangan, kaki, dan kepala pada anak dan orang tuanya, serta dioleskan pula ke benda-benda pusaka keluarga, antara lain Mandau, sebagai lambang pengukuhan secara spiritual.

Setelah ritual Ensoet Kenean selesai, akan dilaksanakan tarian adat Ngewai, yakni para tetua dan seluruh keluarga menari mengelilingi tempat ritual adat sebanyak delapan kali putaran. Tarian tersebut menggambarkan tahap-tahap proses kehidupan alam fana hingga alam baka. Ritual penetral lingkungan (yang dimaksudkan untuk menghilangkan hal-hal yang akan mengganggu kehidupan) akan menjadi penutup prosesi pemberian nama. Pada prosesi ini seusai membaca mantera, seorang tetua adat mengibas-ngibaskan rangkaian daun bambu, daun temali, peredang dan anak ayam ke lingkungan sekitar, termasuk kepada keluarga yang hadir pada ritual itu. Setiap anggota keluarga juga diminta untuk meludahi daun-daun tersebut. Berikutnya, anak ayam itu disembelih di bawah tongkat bambu, lalu tetua adat melihat isi perutnya untuk mengetahui apakah para leluhur berkenan tidak atas upacara adat yang telah dilaksanakan.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m Melalatoa, M. Junus (1995). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid L-Z. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. hlm. 578-579. 
  2. ^ Hidayah, Zulyani (2015). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor indonesia. hlm. 264. 
  3. ^ a b Herjayanti, Risna (2014). "MAKNA SIMBOLIK TARI HUDOQ PADA UPACARA PANEN BAGI MASYARAKAT SUKU DAYAK GA'AY KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR". Universitas Negeri Yogyakarta. 
  4. ^ ditindb (2015-12-17). "HUDOQ". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 2019-04-10. 
  5. ^ Achmat, Hasjim (1986). Peralatan hiburan dan Kesenian Trasisional Daerah Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 50-53. 
  6. ^ Kukar, Humas. "Ritual Pelekatan Nama Dayak Modang, Meriahkan EIFAF". humas.kukarkab.go.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2019-04-10.