Suku Dayak Bidayuh
Bidayeh / Bidoih | |
|---|---|
Anak-anak suku Dayak Bidayuh dalam ritual adat Nyobeng | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Sanggau, Bengkayang, Kalimantan Barat:
275.914 (2008)[1] Sarawak: 485.000 (2020).[2] | |
| Bahasa | |
| bahasa Bidayuh ( sdo ) | |
| Agama | |
| Kristen Katolik,dan sedikit Kristen Protestan | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Rumpun Klemantan, suku Dayak |
Suku Dayak Bidayuh merupakan sub-suku dari suku Dayak rumpun Klemantan yang merupakan sub-bagian dari kelompok Bidayuhic yang terdiri atas Suku Dayak Ribun, Suku Dayak Sungkung, Suku Dayak Pandu, Suku Dayak Pompakng, Suku Dayak Lintang, Suku Dayak Pangkodatn, Suku Dayak Jangkang, Suku Dayak Simpakng, Suku Dayak Bisomu, Suku Dayak Simpakng, Suku Dayak Kancikgh, Suku Dayak Ntuka / Mentuka. Asal muasal Suku Dayak Bidayuh adalah dari Gunong Sungkung (Kalimantan Barat).
Daerah domisili
[sunting | sunting sumber]
Suku Dayak Bidayuh adalah salah satu dari tujuh suku besar Dayak di Kalimantan (Murut, Banuaka, Ngaju, Iban, Kayan, Ma'anyan, Bidayuh), yang sebagian besar populasinya mencakup wilayah kabupaten Sanggau, Bengkayang, dan sebagiannya menyebar di wilayah Sekadau, Ketapang, dan Sambas.
Suku Dayak Bidayuh mayoritas berdomisili di Kabupaten Sanggau di antaranya yaitu di Kecamatan Kapuas, Parindu, Jangkang, Bonti, Kembayan, Beduai, Sekayam, Entikong dan Kabupaten Bengkayang.
Manakala di Sarawak, Suku Bidayuh tertumpu di desa-desa di Samarahan dan Kuching. Beberapa ahli sempat meneliti asal mula Suku Bidayuh ini. Namun, tak satupun yang dapat dipastikan kebenarannya dan dapat menyangkut seluruh sendi kehidupan masyarakat Bidayuh. Menurut Prof. Richard McGinn, Suku Dayak Bidayuh memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Suku Jebon layak Bukar-Sadong.[butuh rujukan]
Mata pencaharian
[sunting | sunting sumber]
Kebanyakan mata pencaharian penduduk adalah berladang berpindah, petani karet, buruh serabutan. Hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah dan pedagang, apalagi pejabat pemerintah. Hanya pada dekade ini ada beberapa putra daerah yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan.[butuh rujukan]
Alasan utama mata pencaharian penduduk demikian adalah kurangnya akses ilmu pengetahuan dan teknologi serta minimnya sarana pendidikan di sana. Anak-anak mesti berjalan sejauh puluhan kilometer dengan berjalan kaki untuk mencapai akses pendidikan. Banyak orang tua yang lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan ekonomi daripada pendidikan.
Ada satu hal yang menarik dari kehidupan masyarakat Dayak Bidayuh. Keadaan alam yang tidak mendukung usaha pertanian disikapi dengan membuka ladang pertanian, untuk kemudian dibakar. hal ini dilakukan untuk menggemburkan tanah. Keadaan alam yang demikian diimbangi dengan aneka tanaman hutan yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan terutama buah-buahan. Masyarakat Bidayuh sangat jarang mengonsumsi sayuran. Makanan sehari-hari adalah nasi dan lauk pauk yang diolah sendiri, dengan bumbu-bumbu khas Dayak. Makanan mereka didominasi oleh rasa asin dan asam. Saat musim buah tiba, sebagian besar profesi berubah menjadi petani buah dadakan. Biasanya buah yang dipetik dari hutan dibawa ke pasar untuk dijual. Mereka telah mengenal uang seperti halnya kita.[butuh rujukan]
Agama
[sunting | sunting sumber]Mayoritas penduduk bidayuh di Kalimantan Barat menganut agama Kristen Katolik, sisanya adalah Kristen Protestan, manakala di Sarawak mempunyai bilangan Protestan dan Katolik yang hampir seimbang, dan segelintir yang memeluk agama Islam.[butuh rujukan]
Lagu Daerah Dayak Bidayuh
[sunting | sunting sumber]- Pantun Mekat Bujang (Indonesia)
- Melu Bicinta (Malaysia)
- Kalimantan Pulau Borneo (Indonesia)
- Kambang Layo (Indonesia)
Tari Dayak Bidayuh
[sunting | sunting sumber]Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Inggris) Rumah Panjang Bidayuh Sarawak-Malaysia
- (Inggris) Tari Bidayuh di Bintulu-Sarawak
Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ http://www.scribd.com/doc/76772355/35761837-Faktor-Etnis-Dalam-Pilkada-LSI-Network
- ↑ (Inggris) Bevis, William W. (1995). Borneo log: the struggle for Sarawak's forests. University of Washington Press. hlm. 152. ISBN 0295974168.ISBN 9780295974163