Suku Dayak Siang Murung
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Anak-anak dari Dayak Siang di Saripoi, dekat Puruk Cahu (1938) | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| Kalimantan Tengah: 86.000. | |
| Bahasa | |
| Siang, Dayak Ngaju, Bakumpai Banjar, Indonesia | |
| Agama | |
| • • • | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Dayak, Kadorih, Ot Danum, Ngaju, Bakumpai |
Suku Dayak Siang Murung adalah suku asli di kabupaten Murung Raya, bagian timur laut Provinsi Kalimantan Tengah. Suku Dayak Siang Murung merupakan bagian dari Suku Dayak Siang, dan berkerabat dengan Suku Daya Siang Sondang. Keduanya memiliki asal dan akar atau bahasa yang sama, tetapi karena perbedaan wilayah tempat tinggal dan kurun waktu yang agak lama maka keduanya memiliki sedikit perbedaan dalam beberapa kosakata bahasa.
Suku Dayak Siang Murung mendiami tepi Sungai Barito dan sekitarnya serta dataran pesisir dekat sungai besar, sementara Suku Dayak Siang Sondang mendiami wilayah asli asal suku Dayak Siang, yakni Tanah Siang dan Wilayah sekitarnya.[butuh rujukan] Selain itu, masyarakat Dayak Siang juga tersebar di Kecamatan Laung Tuhup, Kecamatan Barito Tuhup Raya, Kecamatan Murung dan Tanah Siang atau daerah Puruk Cahu serta di sekitar Sungai Lahung, Sungai Bomban, dan di sekitar Sungai Babuat.[1]
Bahasa
[sunting | sunting sumber]Suku Dayak Siang Murung memiliki bahasa yang lebih menekan logatnya (bahasa Dayak Siang: Noka'n). Suku Dayak Siang baik Sondang maupun Murung memiliki bahasa yang amat unik dan berbeda dari bahasa Dayak kebanyakan, jika ada suku Dayak lain kebanyakan mencoba mempelajari bahasa Dayak Siang akan mengalami kesulitan pada pelafalan dari beberapa kata dan dialek yang sulit.[butuh rujukan] Sebagai contoh, huruf "s" jika berada diujung kata tidak dibaca "es" tetapi lebih menyerupai "eyhs", demikian juga huruf "l" tidak dilafalkan "l" biasa dalam kebanyakan kata, tetapi lebih ke pelafalan antara "l" dan "r", contoh misal ada kata "Luas" maka dibaca "Lr'uayhs" sesuai lidah Dayak Siang.[butuh rujukan] Selain itu masih banyak pelafalan huruf-huruf tertentu yang berbeda dari bahasa Indonesia dan Dayak pada umumnya.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Suku Dayak Siang mempercayai bahwa sejarah diturunkannya suku mereka berasal dari Mohotara (Tuhan pencipta) di gunung Puruk Kambang, di sekitar wilayah Desa Oreng, Kecamatan Tanah Siang Selatan. Adapun orang pertama dari suku Dayak Siang lahir pertama kali di Desa Korong Pinang berupa suami-istri bernama Langkit dan Mongei. Kemudian, penduduk Dayak Siang berkembang di Desa Tomolum yang merupakan tempat atau perkampungan para sangiang atau dewa.[2]
Fisiognomi
[sunting | sunting sumber]Suku Dayak Siang asli kebanyakan memiliki wajah oriental, dengan mata sipit serta kulit kuning. Hal ini adalah juga jawaban atas asal-usul Suku Dayak Siang yang merupakan keturunan bangsa dari Dataran Tiongkok Selatan, sehingga kadang kala digolongkan juga Ras Neo-Mongoloid.[butuh rujukan] Namun, kini karena perbauran berbagai suku bangsa, suku Siang banyak berbaur dengan Suku dayak lainnya, bahkan suku luar pulau seperti Jawa, dan lain-lainnya yang membuat suku Siang memiliki ciri-ciri mirip orang Indonesia kebanyakan.[butuh rujukan]
Menurut situs Joshua Project, suku Dayak Siang berjumlah 80.000 jiwa.[butuh rujukan]
Budaya
[sunting | sunting sumber]Mata pencaharian
[sunting | sunting sumber]Dalam bercocok tanam, masyarakat Dayak Siang mempunyai budaya dan adat istiadat tersendiri. Salah satunya adalah sistem ladang berpindah dan tradisi Nukan. Kegiatan ini dilakukan pada sekitar bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober setiap tahunnya. Nukan adalah proses menanam padi di mana laki-laki bertugas membuat lubang di tanah untuk benih dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang yang telah dibuat. Prosesi ini akan diiringi oleh musik bernama Kangkurung.[2]
Hidangan
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Dayak Siang Murung memanfaatkan tanaman yang terdapat di lingkungan mereka untuk dijadikan sayur, seperti umbut kelapa sawit, singkong, kelakai atau sejenis tanaman paku, dan kangkung. Seperti yang dilakukan di Desa Dirung Bakung yang memanfaatkan daun singkong menjadi Klupot, di mana daun singkong akan dihancurkan, dibumbui dan dicampur dengan mie instan, lalu ditumis. Selain itu, masyarakat juga mengolah tunas kelapa sawit untuk dimasak menjadi sup dengan kuah bening.[3]
Upacara kematian
[sunting | sunting sumber]Masyarakat yang beragama Kaharingan memiliki upacara ritual Bapura atau masa 40 hari setelah kematian. Tujuan bapura ialah untuk meluruskan jalan lio (arwah) melalui bantuan manyamei agar lio itu tidak tersesat dalam perjalanannya menuju lewu lio (dunia para arwah orang mati). Adapun rangkaian pelaksanaan akan dilakukan siang hari dan dihadiri oleh keluarga yang berduka dan tamu. Selain itu terdapat perlengkapan ritual bapura seperti sekolompok laki-laki dewasa yang memainkan gong, kankanung (gong berukuran kecil), dan ketambung (gendang berukuran kecil).[3]
Ritual ini juga dilengkapi dengan dua orang basi perempuan yang duduk di depan sesajen berupa:[3]
- beras yang diletakkan dalam empat piring putih lalu disusun bertingkat,
- 2 kain bahalai (kain panjang bermotif) yang diletakkan di atas piring berisi beras,
- 1 kain putih yang diletakkan di atas piring putih,
- sirih pinang yang diletakkan di atas kain berwarna putih,
- 1 buah pisau dapur,
- 3 gelas air popa atau anding (minuman khas suku Dayak yang mengandung alkohol dan berempah),
- 1 buah apar (piring besar terbuat dari kuningan) tempat meletakkan sesajen,
- 2 buah lanjung (tas gendong dari anyaman rotan), dengan ukuran sedang dan kecil, untuk diletakkan kain dan bulu burung tingang,
- 2 buah guci berukuran besar dan sedang yang diisi dengan ranting pohon,
- 1 buah talenan,
- 1 buah piring rabun yang diletakkan di atas talenan, dan
- 2 buah alat musik ketambung.
Sedangkan, sesajen yang diperlukan keesokan harinya saat ritual bapura mencapai puncaknya adalah:[3]
- lamak, yaitu kue yang terbuat dari ketan yang digoreng lalu ditusuk dengan bambu seperti sate,
- lemang, yaitu ketan yang dimasak dalam bambu berukuran kira-kira 60 cm,
- ayam rebus yang diletakkan dalam satu piring,
- satu gelas kecil popa atau anding,
- satu guci kecil,
- satu tombak yang diletakkan di dalam guci kecil,
- bagian paha dan kaki ayam yang sudah direbus lalu ditusuk dengan bambu, dan kemudian ditusukkan pada ujung lemang lalu diletakkan dalam guci kecil, dan
- ranting pohon yang sudah tampak kering dan diletakkan di dalam guci kecil.
Mendodoi
[sunting | sunting sumber]Tradisi mendodoi adalah tradisi menyenandungkan lagu pengantar tidur atau dikenal sebagai "dodoi" dengan tujuan media edukasi dasar untuk anak-anak.[1]
Tarian
[sunting | sunting sumber]Kepercayaan
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Dayak Siang Murung memiliki kepercayaan terhadap roh, baik roh yang dipercaya dapat mengganggu atau membantu kehidupan manusia selama di dunia. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai macam ritual yang berhubungan dengan roh-roh tersebut. Salah satunya adalah ritual pakanan sahur atau pakanan batu yang masih dilakukan hingga saat ini.[3]
Agama Kaharingan merupakan agama asli masyarakat Dayak Siang Murung dan beribadah di Balai Basarah. Ibadah atau sembahyang juga dilakukan di rumah salah seorang umat Kaharingan yang dilakukan setiap hari Kamis dan menggunakan bahasa Dayak serta dipimpin oleh seorang majelis Kaharingan.[3]
Selain itu, suku Dayak Siang Murung juga mengenal roh baik yang bernama tondoi dan kahang dahari, yang mengambil wujud seorang perempuan. Kedua roh baik tersebut dipercaya dapat membantu manusia, khususnya perempuan ketika dalam masa kehamilan sampai melahirkan. Kedua roh tersebut memberikan bantuannya melalui perantara bidan kampung. Biasanya, roh Kahang Dahari dipanggil menggunakan daun pisang yang dirangkai memanjang menggunakan lidi, kemudian dikibas-kibaskan di atas perut perempuan yang akan melahirkan, dengan harapan pinggul perempuan menjadi longgar sehingga memudahkan proses persalinan. Setelah proses persalinan berhasil, pihak keluarga diwajibkan melaksanakan ritual palas bidan, sebagai ungkapan syukur bagi roh tondoi dan kahang dahari yang telah membantu proses persalinan melalui perantara bidan kampung.[3]
Roh baik lainnya yang dipercaya dapat membantu kehidupan manusia ialah roh sangiang. Roh sangiang hanya dapat merasuki tubuh basi (dukun dalam masyarakat Dayak Siang Murung) yang bertugas melaksanakan berbagai macam ritual agama Kaharingan. Basi dipercaya memiliki kekuatan supranatural sehingga dapat menyembuhkan penyakit sekaligus mediator dan komunikator antara manusia dengan Ranying Hatalla sebagai pengayom dan pelindung manusia.[3]
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Mengenal dan Memahami Sejarah asal-usul suku Dayak Siang di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah
- Video di YouTube RITUAL KEMATIAN - SUKU DAYAK SIANG
- Video di YouTube Ritual Botiwu Basie - Suku Dayak Siang
- Video di YouTube Upacara Penerimaan Tamu - Suku Dayak Siang
- Video di YouTube TARI DAYAK SIANG - KABUPATEN MURUNG RAYA - KALIMANTAN TENGAH
- Video di YouTube Tari Payung Berkah Mura Emas STQ XXI - Puruk Cahu - Murung Raya - Kalimantan Tengah
- Video di YouTube Lagu Dangdut Dayak Siang - Penyanyi: Gerson
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Rejeki, Delfiani; Pratiknjo, Maria; Mulianti, Titiek (2023). "Pola Asuh Anak di Era Digital pada Suku Dayak Siang di Kelurahan Saripoi Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah". Holistik. 16 (2).
- 1 2 Imban, Hendrikus (2021). MAKNA KANGKURUNG DALAM TRADISI NUKAN SUKU DAYAK SIANG DI DESA KOLAM KECAMATAN TANAH SIANG KABUPATEN MURUNG RAYA KALIMANTAN TENGAH (PDF). Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Nuraini, Syarifah; W, M. Gullit; Jeniva, Isabella; Erlina, Mawati; Prasodjo, Rachmalina (2012). Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012: Etnik Dayak Siang Murung Desa Dirung Bakung Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah (PDF). Surabaya: Percetakan Kanisius. ISBN 978-602-235-233-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)