Lompat ke isi

Dekonstruksi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dalam ranah filsafat, dekonstruksi merupakan seperangkat pendekatan yang secara longgar didefinisikan untuk memahami hubungan antara teks dan makna. Gagasan tentang dekonstruksi pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jacques Derrida, yang memaparkannya sebagai suatu gerak balik dari gagasan-gagasan Platonisme mengenai bentuk dan esensi "sejati" yang ditempatkan di atas penampakan semata.[1]

Sejak dekade 1980-an, gagasan tentang kefluidaan bahasa ini, alih-alih dianggap tetap dan mudah ditentukan, telah mengilhami berbagai bidang kajian dalam humaniora,[2] termasuk disiplin hukum,[3]:3–76[4][5] antropologi,[6] historiografi,[7] linguistik,[8] sosiolinguistik,[9] psikoanalisis, penelitian LGBT, dan feminisme. Dekonstruksi juga mengilhami aliran dekonstruktivisme dalam arsitektur, serta tetap berpengaruh besar dalam dunia seni,[10] musik,[11] dan kritik sastra.[12][13]

Gambaran umum

[sunting | sunting sumber]

Buku Jacques Derrida tahun 1967, Of Grammatology, memperkenalkan sebagian besar gagasan yang kemudian menjadi berpengaruh dalam pemikiran dekonstruksi.[14]:25 Derrida juga menerbitkan sejumlah karya lain yang secara langsung berkaitan dengan konsep tersebut, seperti Différance, Speech and Phenomena, dan Writing and Difference.

Bagi Derrida,

Inilah hakikat dari dekonstruksi: bukan suatu campuran, melainkan ketegangan antara ingatan, kesetiaan, pelestarian atas sesuatu yang diwariskan kepada kita, dan pada saat yang sama, keberlainan, sesuatu yang benar-benar baru, serta sebuah keterputusan.[15]:6[diragukan ]

Menurut Derrida, dengan mengambil inspirasi dari pemikiran Ferdinand de Saussure,[16] bahasa merupakan suatu sistem tanda, dan kata-kata memperoleh makna hanya melalui perbedaan di antara tanda-tanda itu sendiri.[14]:7,12[17]

Sebagaimana dikemukakan oleh Richard Rorty, "kata-kata memiliki makna hanya karena efek kontras dengan kata-kata lain... tidak ada satu pun kata yang dapat memperoleh makna sebagaimana diharapkan oleh para filsuf dari Aristoteles hingga Bertrand Russell, yakni sebagai ungkapan langsung dari sesuatu yang non-linguistik (misalnya emosi, pengamatan inderawi, objek fisik, ide, atau bentuk Platonik)."[17]

Akibatnya, makna tidak pernah hadir secara utuh, melainkan selalu tertunda dan bergantung pada tanda-tanda lainnya. Derrida menyebut keyakinan bahwa makna dapat hadir secara mandiri dan tidak tertunda itu sebagai metafisika kehadiran (metaphysics of presence). Menurut Derrida, suatu konsep hanya dapat dipahami dalam konteks oposisi atau lawannya: misalnya, kata ada (being) tidak bermakna tanpa keberadaan kata tiada (nothing).[18]:220[19]:26

Lebih jauh, Derrida berpendapat bahwa "dalam oposisi filosofis klasik, kita tidak sedang berhadapan dengan suatu yang damai, melainkan dengan sebuah hierarki yang penuh kekerasan. Salah satu istilah menguasai yang lain, baik secara aksiologis, logis, maupun kultural, misalnya: petanda atas penanda; yang dapat dipahami atas yang indrawi; tutur atas tulisan; aktivitas atas pasivitas, dan seterusnya."[perlu dijelaskan]

Tugas awal dekonstruksi, menurut Derrida, adalah menemukan dan membalik oposisi-oposisi ini dalam teks; namun tujuan akhirnya bukan untuk meniadakan semua oposisi, sebab oposisi-oposisi tersebut dianggap secara struktural niscaya bagi terbentuknya makna. Hierarki oposisi ganda tidak pernah bisa dihapuskan sepenuhnya, karena ia selalu membangun kembali dirinya, sebab ia adalah syarat bagi kebermaknaan itu sendiri. Maka, dekonstruksi hanya menyingkap perlunya analisis tanpa akhir, yang membuat eksplisit keputusan-keputusan dan hierarki yang melekat dalam setiap teks.[19]:41

Derrida juga menegaskan bahwa tidak cukup sekadar menyingkap dan membongkar cara oposisi-oposisi bekerja lalu berhenti pada posisi nihilistik atau sinis, "yang justru mencegah segala kemungkinan intervensi efektif dalam ranah tersebut."[19]:42 Agar efektif, dekonstruksi perlu menciptakan istilah-istilah baru, bukan untuk menyintesis konsep-konsep yang berlawanan, melainkan untuk menandai perbedaan dan permainan abadi di antara keduanya.

Inilah sebabnya Derrida senantiasa memperkenalkan istilah baru dalam setiap pembacaan dekonstruktifnya, bukan sebagai permainan bebas, melainkan sebagai tuntutan analisis. Ia menyebut istilah-istilah semacam itu sebagai yang tak dapat-diputuskan (undecidables), yakni satuan-satuan semu, "properti verbal palsu" (baik nominal maupun semantik) yang tak dapat dimasukkan ke dalam oposisi filosofis biner. Alih-alih menempati posisi di luar oposisi, istilah-istilah ini justru "menghuni" dan mengatur oposisi tersebut dari dalam, tanpa pernah membentuk istilah ketiga atau menghasilkan resolusi dalam bentuk dialektika Hegelian (misalnya différance, archi-writing, pharmakon, suplement, hymen, gram, maupun spasi).[19]:19Templat:Technical inline

Teori dekonstruksi yang dikembangkan oleh Derrida sendiri berakar pada karya para ahli bahasa seperti Ferdinand de Saussure, yang tulisan-tulisannya tentang semiotika kemudian menjadi fondasi penting bagi strukturalisme pada pertengahan abad ke-20, dan para teoretikus sastra seperti Roland Barthes, yang karya-karyanya menelusuri batas logis dari pemikiran strukturalis. Pandangan Derrida tentang dekonstruksi berdiri berseberangan dengan teori-teori para strukturalis seperti teoretikus psikoanalisis Jacques Lacan dan antropolog Claude Lévi-Strauss. Namun demikian, Derrida secara tegas menolak upaya untuk melabeli karyanya sebagai bagian dari "pasca-strukturalisme".

Pengaruh Nietzsche

[sunting | sunting sumber]
Friedrich Nietzsche

Dorongan Derrida untuk mengembangkan kritik dekonstruktif, yang menekankan kelenturan bahasa dibanding bentuk-bentuk yang statis, banyak terinspirasi oleh filsafat Friedrich Nietzsche, terutama melalui penafsirannya atas tokoh mitologis Trophonius. Dalam karyanya Daybreak, Nietzsche menulis: "Segala sesuatu yang hidup lama-kelamaan akan begitu jenuh oleh rasionalitas, sehingga asal-usulnya yang irasional menjadi tampak mustahil. Bukankah hampir setiap sejarah asal-usul yang ditulis dengan teliti justru terasa paradoksal dan bahkan menyinggung perasaan kita? Bukankah sejarawan yang baik, pada dasarnya, selalu hidup dalam kontradiksi?".[20]

Dalam Daybreak, Nietzsche menegaskan bahwa di penghujung sejarah modern, para pemikir zaman modern telah mengetahui terlalu banyak untuk terus tertipu oleh ilusi akan rasionalitas yang utuh dan sempurna. Penalaran yang semakin tinggi, logika, filsafat, dan sains, yang dulu dianggap sebagai jalan utama menuju kebenaran, tidak lagi memadai sebagai satu-satunya sarana untuk mencapainya. Nietzsche menolak Platonisme dan menafsirkan kembali sejarah Barat sebagai rangkaian pergerakan politis yang terus berulang, manifestasi dari kehendak untuk berkuasa yang pada dasarnya tidak memiliki klaim kebenaran yang lebih besar maupun lebih kecil dalam arti noumenal (mutlak).

Dengan menyebut dirinya sebagai seorang "Trophonius bawah tanah" yang berdialektika menentang Plato, Nietzsche berusaha menyadarkan pembaca akan konteks politik dan kultural yang membentuk teks, serta pengaruh-pengaruh politis yang turut memengaruhi kepengarangannya.

Namun, menurut Derrida, di sinilah Nietzsche berhenti selangkah sebelum mencapai dekonstruksi yang sejati. Ia melewatkan kesempatan untuk menelusuri "kehendak untuk berkuasa" bukan sekadar sebagai gejala operasi sosiopolitik, melainkan sebagai manifestasi dari kerja tulis itu sendiri, yakni sebagaimana Plato memahaminya, dan untuk melangkah lebih jauh dari revaluasi terakhir terhadap seluruh nilai-nilai Barat menuju tahap akhir: penekanan pada "peran tulisan dalam pembentukan pengetahuan".[21]

Pengaruh Saussure

[sunting | sunting sumber]

Derrida memandang setiap teks sebagai bangunan yang tersusun di atas oposisi-oposisi dasar yang harus diartikulasikan oleh setiap bentuk wacana agar dapat menghasilkan makna apa pun. Hal ini berangkat dari pandangan bahwa identitas, dalam kerangka non-esensialisme, bukanlah sesuatu yang tetap dan mendasar, melainkan hasil konstruksi; dan bahwa konstruksi semacam itu hanya dapat melahirkan makna melalui permainan perbedaan di dalam suatu "sistem tanda-tanda yang saling membedakan". Pendekatan Derrida terhadap teks ini sangat dipengaruhi oleh semiologi Ferdinand de Saussure.[22][23]

Saussure dipandang sebagai salah satu pendiri strukturalisme, ketika ia menjelaskan bahwa setiap istilah memperoleh maknanya melalui hubungan timbal balik dengan istilah-istilah lain di dalam sistem bahasa:

Dalam bahasa, yang ada hanyalah perbedaan. Lebih jauh lagi: perbedaan umumnya mengandaikan adanya unsur-unsur positif yang di antara keduanya perbedaan itu dibentuk; tetapi dalam bahasa, yang ada hanyalah perbedaan tanpa unsur positif. Baik kita berbicara tentang petanda maupun penanda, bahasa tidak memiliki ide ataupun bunyi yang telah ada sebelum sistem linguistik itu sendiri, melainkan hanya perbedaan konseptual dan fonis yang lahir dari sistem tersebut. Ide atau substansi bunyi yang dikandung oleh suatu tanda tidaklah sepenting tanda-tanda lain yang mengitarinya. [...] Sistem linguistik adalah serangkaian perbedaan bunyi yang berpadu dengan serangkaian perbedaan gagasan; dan dari penyandingan sejumlah tanda akustik dengan sejumlah potongan dari "massa pemikiran" inilah lahir suatu sistem nilai.[16]

Saussure secara eksplisit menyatakan bahwa ilmu bahasa hanyalah salah satu cabang dari semiologi yang lebih umum, yakni ilmu tentang tanda secara keseluruhan, di mana kode-kode manusia hanyalah satu bagian saja. Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh Derrida, pada akhirnya Saussure justru menjadikan linguistik sebagai "model pengatur", dan, karena alasan yang bersifat esensial sekaligus metafisis, ia terpaksa menempatkan keutamaan pada ujaran, serta pada segala sesuatu yang menghubungkan tanda dengan bunyi (phone).[19]:21,46,101,156,164

    Referensi

    [sunting | sunting sumber]
    1. Lawlor, Leonard (2019), "Jacques Derrida", dalam Zalta, Edward N. (ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Fall 2019), Metaphysics Research Lab, Stanford University, diakses tanggal 2020-04-11
    2. "Deconstruction". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 September 2017.
    3. Allison, David B.; Garver, Newton (1973). Speech and Phenomena and Other Essays on Husserl's Theory of Signs (Edisi 5th). Evanston: Northwestern University Press. ISBN 978-0810103979. Diakses tanggal 8 September 2017. A decision that did not go through the ordeal of the undecidable would not be a free decision, it would only be the programmable application or unfolding of a calculable process...[which] deconstructs from the inside every assurance of presence, and thus every criteriology that would assure us of the justice of the decision.
    4. "Critical Legal Studies Movement". The Bridge. Diakses tanggal 8 September 2017.
    5. "German Law Journal - Past Special Issues". 16 May 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 16 May 2013. Diakses tanggal 8 September 2017.
    6. Morris, Rosalind C. (September 2007). "Legacies of Derrida: Anthropology". Annual Review of Anthropology. 36 (1): 355–389. doi:10.1146/annurev.anthro.36.081406.094357.
    7. Munslow, Alan (1997). "Deconstructing History" (PDF). Institute of Historical Research. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-09-16. Diakses tanggal 8 September 2017.
    8. Busch, Brigitta (1 December 2012). "The Linguistic Repertoire Revisited". Applied Linguistics. 33 (5): 503–523. doi:10.1093/applin/ams056.
    9. Esch, Edith; Solly, Martin, ed. (2012). The Sociolinguistics of Language Education in International Contexts. Bern: Peter Lang. hlm. 31–46. ISBN 9783034310093.
    10. "Deconstruction – Art Term". Tate. Diakses tanggal 16 September 2017. Since Derrida's assertions in the 1970s, the notion of deconstruction has been a dominating influence on many writers and conceptual artists.
    11. Cobussen, Marcel (2002). "Deconstruction in Music. The Jacques Derrida – Gerd Zacher Encounter" (PDF). Thinking Sounds. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-09-09. Diakses tanggal 8 September 2017.
    12. Douglas, Christopher (31 March 1997). "Glossary of Literary Theory". University of Toronto English Library. Diarsipkan dari asli tanggal 8 November 2017. Diakses tanggal 16 September 2017.
    13. Kandell, Jonathan (10 October 2004). "Jacques Derrida, Abstruse Theorist, Dies at 74". The New York Times. Diakses tanggal 1 June 2017.
    14. 1 2 Derrida, Jacques (1997). Of Grammatology. Diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak. Baltimore: Johns Hopkins University Press. ISBN 978-0801858307.
    15. Derrida, Jacques (2021) [1997], Caputo, John D. (ed.), Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida, Fordham University Press, ISBN 9780823290680
    16. 1 2 Saussure, Ferdinand de (1959). "Course in General Linguistics". New York: Southern Methodist University. hlm. 121–122. Diarsipkan dari asli tanggal 31 July 2019. Diakses tanggal 8 September 2017. In language there are only differences. Even more important: a difference generally implies positive terms between which the difference is set up; but in language there are only differences without positive terms. Whether we take the signified or the signifier, language has neither ideas nor sounds that existed before the linguistic system, but only conceptual and phonic differences that have issued from the system.
    17. 1 2 "Deconstructionist Theory". Stanford Presidential Lectures and Symposia in the Humanities and Arts. 1995. Diakses tanggal 8 September 2017.
    18. Derrida, Jacques (2001) [1967]. Writing and Difference. Diterjemahkan oleh Alan Bass. University of Chicago Press. ISBN 9780226816074. Diakses tanggal 2 August 2024. The model of hieroglyphic writing assembles more strikingly—though we find it in every form of writing—the diversity of the modes and functions of signs in dreams. Every sign—verbal or otherwise—may be used at different levels, in configurations and functions which are never prescribed by its "essence," but emerge from a play of differences.
    19. 1 2 3 4 5 Derrida, Jacques (1982). Positions (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 9780226143316.
    20. Nietzsche, Friedrich; Clark, Maudemarie; Leiter, Brian; Hollingdale, R.J. (1997). Daybreak: Thoughts on the Prejudices of Morality. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press. hlm. 8–9. ISBN 978-0521599634.
    21. Zuckert, Catherine H. (1996). "7". Postmodern Platos: Nietzsche, Heidegger, Gadamer, Strauss, Derrida. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0226993317.
    22. Royle, Nick (2003). Jacques Derrida (dalam bahasa Inggris) (Edisi Reprint). London: Routledge. hlm. 6–623. ISBN 9780415229319. Diakses tanggal 8 September 2017.
    23. Derrida, Jacques; Ferraris, Maurizio (2001). A Taste for the Secret. Wiley. hlm. 76. ISBN 9780745623344. I take great interest in questions of language and rhetoric, and I think they deserve enormous consideration; but there is a point where the authority of final jurisdiction is neither rhetorical nor linguistic, nor even discursive. The notion of trace or of text is introduced to mark the limits of the linguistic turn. This is one more reason why I prefer to speak of 'mark' rather than of language. In the first place the mark is not anthropological; it is prelinguistic; it is the possibility of language, and it is every where there is a relation to another thing or relation to an other. For such relations, the mark has no need of language.

    Bacaan lanjutan

    [sunting | sunting sumber]
    • Derrida, Jacques. Positions. Trans. Alan Bass. Chicago: U of Chicago P, 1981. ISBN 978-0-226-14331-6
    • Derrida [1980], The time of a thesis: punctuations, first published in: Derrida [1990], Eyes of the University: Right to Philosophy 2, pp. 113–128.
    • Atkins, G. Douglas. Reading deconstruction: deconstructive reading. Lexington, Ky: University Press of Kentucky, 1983.
    • Bloom, Harold. A map of misreading. NY: Oxford University Press, 1975.
    • Breckman, Warren. "Times of Theory: On Writing the History of French Theory," Journal of the History of Ideas, vol. 71, no. 3 (July 2010), 339–361 (online).
    • Cantor, Norman F. Twentieth century culture: modernism to deconstruction. NY: Peter Lang, 1988.
    • Culler, Jonathan. On Deconstruction: Theory and Criticism after Structuralism, Cornell University Press, 1982. ISBN 978-0-8014-1322-3.
    • de Man, Paul. Blindness and insight: essays in the rhetoric of contemporary criticism. NY: Oxford University Press, 1971.
    • —. The rhetoric of Romanticism. NY: Columbia University Press, 1984.
    • Eagleton, Terry. Literary Theory: An Introduction, University of Minnesota Press, 1996. ISBN 978-0-8166-1251-2
    • Ellis, John M. Against Deconstruction, Princeton: Princeton UP, 1989. ISBN 978-0-691-06754-4.
    • Hartman, Geoffrey. Saving the text: literature/Derrida/philosophy. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1981.
    • Johnson, Barbara. The Critical Difference: Essays in the Contemporary Rhetoric of Reading. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1980. ISBN 978-0-801-82458-6
    • Montefiore, Alan (ed., 1983), Philosophy in France Today Cambridge: Cambridge UP, pp. 34–50
    • Norris, Christopher. Deconstruction: theory and practice. London: Methuen, 1982.
    • —. The deconstructive turn: essays in the rhetoric of philosophy. London: Methuen, 1983.
    • Rajnath, A., ed. Deconstruction: a critique. London: Macmillan, 1989.
    • Reynolds, Simon. Rip It Up and Start Again, New York: Penguin, 2006, pp. 316. ISBN 978-0-143-03672-2. (Source for the information about Green Gartside, Scritti Politti, and deconstructionism.)
    • Stocker, Barry. Routledge Philosophy Guidebook to Derrida on Deconstruction, Routledge, 2006. ISBN 978-1-134-34381-2
    • Wortham, Simon Morgan. The Derrida Dictionary, Continuum, 2010. ISBN 978-1-847-06526-1

    Pranala luar

    [sunting | sunting sumber]