Teori modernisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Pembangunan industri

Teori modernisasi menjelaskan tentang proses transformasi dari masyarakat tradisional atau terbelakang ke masyarakat modern.[1] Modernisasi merupakan proses perubahan terhadap sistem ekonomi, sosial dan politik yang berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke-17 sampai ke-19 yang kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya.[1] Perubahan tersebut juga terjadi di Amerika Selatan, Asia dan Afrika pada abad ke-19 dan ke-20.[1] Teori modernisasi fokus pada cara masyarakat pramodern menjadi modern melalui proses pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur sosial, politik dan budaya.[1] Masyarakat modern adalah masyarakat industri.[2] Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan untuk memodernkan masyarakat adalah dengan industrialisasi.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Teori modernisasi berkembang dalam tiga fase.[3] Fase pertama (1950-an dan 1960-an), fase kedua (1970-an dan 1980-an), fase ketiga (1990-an).[3] Teori modernisasi lahir sebagai sejarah tiga peristiwa penting dunia setelah Perang Dunia II, yaitu munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan dunia, perluasan gerakan komunis sedunia dimana Uni Soviet mampu memperluas pengaruh politiknya ke Eropa Timur dan Asia serta lahirnya negara-negara merdeka baru di Asia (Afrika dan Amerika Latin).[4] Terdapat dua teori yang melatarbelakangi lahirnya teori modernisasi, yaitu teori evolusi dan teori fungsionalisme.[4]

Teori evolusi menggambarkan perkembangan masyarakat dalam dua hal.[4] Pertama, teori evolusi menganggap bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah, seperti garis lurus.[4] Masyarakat berkembang dari masyarakat primitif menuju masyarakat maju[4] Kedua, teori evolusi membaurkan antara pandangan subjektifnya tentang nilai dan tujuan akhir perubahan sosial.[4] Perubahan menuju bentuk masyarakat modern merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.[4]

Teori fungsionalisme tidak lepas dari pemikiran Talcott Parsons yang memandang masyarakat seperi organ tubuh manusia[4] Pertama, struktur tubuh manusia memiliki bagian yang saling terhubung satu sama lain.[4] Oleh karena itu, masyarakat mempunyai berbagai kelembagaan yang saling terkait satu sama lain.[4] Kedua, setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan khas, demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam masyarakat.[4]

Pemikir klasik teori modernisasi[sunting | sunting sumber]

Terdapat tiga pemikir klasik teori modernisasi untuk menggambarkan bagaimana seorang sosiolog, ekonom dan ahli politik menguji persoalan pembangunan di Negara Dunia Ketiga.[4]

  • Menurut Neil Smelser, modernisasi akan selalu melibatkan konsep diferensiasi struktural.[4] Dengan adanya proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus.[4]
  • Walt Whitman Rostow menyatakan bahwa ada lima tahapan pembangunan ekonomi, yaitu masyarakat tradisional, persiapan tinggal landas, tinggal landas, menuju kematangan dan konsumsi massa.[4] Namun, masalah yang dihadapi Negara Dunia Ketiga adalah bagaimana memperoleh sumber daya yang diperlukan, khususnya sumber daya modal untuk mencapai tingkat investasi produktif yang tinggi.[4] Menurut Rostow, masalah dana investasi dapat diselesikan dengan beberapa cara, yaitu pemindahan sumber dana secara radikal atau melalui berbagai kebijakan pajak, investasi yang berasal dari lembaga-lembaga keuangan, perdagangan internasional dan investasi langsung modal asing.[4]
  • Menurut James S. Coleman, modernisasi politik merujuk pada proses diferensiasi struktur politik dan sekularisasi budaya politik yang mengarah pada etos keadilan.[4] Terdapat tiga hal pokok yang dinyatakan oleh Coleman, yaitu diferensiasi politik dapat dikatakan sebagai salah satu kecenderungan sejarah perkembangan sistem politik modern, prinsip kesamaan dan keadilan merupakan etos masyarakat modern serta usaha pembangunan politik yang berkeadilan akan membawa akibat pada perkembangan kapasitas sistem politik.[4]

Tahapan modernisasi[sunting | sunting sumber]

Walt Whitman Rostow mengidentifikasi bahwa ada lima tahapan dalam modernisasi, yaitu.[5]

  1. Masyarakat tradisional: tahapan ini ditandai dengan kegiatan bertani dan barter.[5]
  2. Persiapan untuk tinggal landas: tahapan ini ditandai dengan adanya spesialisasi, produksi barang dan perdagangan.[5] Selain itu, infrastruktur transportasi dikembangkan untuk mendukung perdagangan [5]. Tahapan ini pada akhirnya mendorong adanya investasi.[5]
  3. Tinggal landas: pada tahapan ini terjadi peningkatan industrialisasi dan ekonomi beralih dari pertanian ke manufaktur.[5]
  4. Menuju kematangan: pada tahap ini terjadi diversifikasi ekonomi ke daerah baru dan sedikit ketergantungan pada impor.[5]
  5. Konsumsi massa: pada tahap ini ekonomi menuju konsumsi massa dan pelayanan di sektor jasa semakin mendominasi.[5]

Asumsi[sunting | sunting sumber]

Terdapat dua asumsi dalam teori modernisasi.[4] Pertama, teori modernisasi berasal dari konsep-konsep metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Kedua, teori modernisasi berasal dari pola pikir teori fungsionalisme.[4] Berdasarkan teori evolusi, modernisasi merupakan proses bertahap, proses homogenisasi, terbentuk sebagai proses Eropanisasi atau Amerikanisasi, proses yang tidak bergerak mundur, perubahan progresif dan memerlukan waktu panjang.[4] Sementara itu, berdasarkan teori fungsionalisme modernisasi merupakan proses sistematik, proses transformasi dan proses yang terus-menerus.[4]

Teori modernisasi mampu menurunkan berbagai implikasi kebijakan pembangunan yang perlu diikuti negara Dunia Ketiga dalam memodernkan dirinya.[4] Pertama, teori modernisasi secara implisit memberikan pembenaran hubungan kekuatan yang bertolak belakang antara masyarakat tradisional dan modern.[4] Dalam hal ini Amerika Serikat dan Eropa Barat sebagai negara maju dan Negara Dunia Ketiga sebagai masyarakat tradisional dan terbelakang.[4] Kedua, teori modernisasi menilai ideologi komunisme sebagai ancaman pembangunan Negara Dunia Ketiga.[4] Oleh karena itu, jika Negara Dunia Ketiga ingin melakukan modernisasi, mereka perlu menempuh arah yang telah dijalani Amerika Serikat dan Eropa Barat.[4] Ketiga, teori modernisasi mampu memberikan legitimasi tentang perlunya bantuan asing, khususnya dari Amerika Serikat.[4]

Kritik terhadap teori modernisasi[sunting | sunting sumber]

Daniel Lerner menyatakan bahwa teori modernisasi melupakan sejarah yang terjadi pada Negara Dunia Ketiga.[6] Dalam sejarahnya, Negara Dunia Ketiga mengalami masa penjajahan oleh bangsa Eropa sehingga membuat negara tersebut tertinggal.[6] Selain itu, teori ini menyatakan bahwa untuk menjadi modern, Negara Dunia Ketiga harus mengikuti proses yang terjadi di Negara Dunia Pertama (negara Barat).[6] Akan tetapi, proses Negara Dunia Pertama menjadi modern membutuhkan waktu yang sangat panjang.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d (Inggris) J. Michael Armer, John Katsillis. "Modernization Theory". Diakses tanggal 1 Mei 2014. 
  2. ^ a b (Inggris) "Modernization". Diakses tanggal 1 April 2014. 
  3. ^ a b (Inggris) "Modernization Theory". Diakses tanggal 27 Juni 2014. 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac Suwarsono, Alvin Y. So (1991). Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia: Teori-teori Modernisasi, Dependensi dan Sistem Dunia. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. hlm. 95-204. 
  5. ^ a b c d e f g h (Inggris) J. Matunhu (2011). "A critique of modernization and dependency theories in Africa: Critical assessment" (PDF). African Journal of History and Culture. 
  6. ^ a b c d (Inggris) Henry Bernstein. "Modernization Theory and The Sociological Study of Development" (PDF).