Investasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Investasi adalah suatu kegiatan menanamkan modal, baik langsung maupun tidak, dengan harapan pada waktu nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia investasi berarti penanaman uang atau modal pada suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan.[2] Secara umum investasi dapat diartikan sebagai meluangkan atau memanfaatkan waktu, uang atau tenaga demi keuntungan/manfaat pada masa datang. Jadi, investasi merupakan membeli sesuatu yang diharapkan pada masa yang akan datang dapat dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi dari semula.

Pengertian[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contohnya membangun rel kereta api atau pabrik. Investasi adalah suatu komponen dari PDB dengan rumus . Fungsi investasi pada aspek tersebut dibagi pada investasi non-residential (seperti pabrik dan mesin) dan investasi residential (rumah baru). Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat dengan kaitannya . Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, di mana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga.

Secara bahasa, kata investasi berasal dari kata "investire" yang memiliki makna memakai atau menggunakan. Sementara itu, secara istilah investasi artinya memberikan sesuatu kepada orang lain untuk dikembangkan dan hasil dari sesuatu yang dikembangkan tersebut akan dibagi sesuai yang diperjanjikan.[3]

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Investasi memiliki tujuan yang bermacam-macam sesuai dengan jenis investasinya. Misalnya, investasi dana pensiun bertujuan untuk mendapatkan sejumlah dana pada masa tua atau masa pensiun.[4] Jika investasi dilakukan oleh individu maka tujuannya yaitu mengakumulasi dana untuk membeli rumah atau tanah pada masa depan dan membiayai pendidikan anak pada masa yang akan datang.[5]

Investasi individu juga bertujuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik pada masa yang akan datang, mempertahankann pendapatan dari inflasi, serta meninggalkan warisan untuk keluarga.[6]

Investasi yang dilakukan oleh pihak asing di sebuah negara berkembang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negara tersebut. Bagi negara berkembang, investasi asing akan bermanfaat untuk perluasan lapangan kerja, pembangunan sarana dan prasarana, pengembangan teknologi, serta mendorong berkembangnya industri.[7]

Produk[sunting | sunting sumber]

Beberapa produk investasi dikenal sebagai efek atau surat berharga. Definisi efek adalah suatu instrumen bentuk kepemilikan yang dapat dipindah tangankan dalam bentuk surat berharga, saham/obligasi, bukti hutang (Promissory Notes), bunga atau partisipasi dalam suatu perjanjian kolektif (Reksa dana), Hak untuk membeli suatu saham (Rights), garansi untuk membeli saham pada masa mendatang atau instrumen yang dapat diperjual belikan. Selain itu, produk investasi dapat berupa tabungan, deposito, emas, properti, dan barang-barang koleksi.[8]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Secara umum investasi individu dibedakan menjadi dua jenis yaitu investasi real assets dan financial assets. Investasi real assets merupakan jenis investasi berupa benda-benda berwujud seperti kendaraan, gedung, pabrik, rumah, dan apartemen. Investasi financial assets berwujud investasi keuangan seperti saham, reksa dana, obligasi dan dana pensiun.[9]

Sementara itu, Jenis investasi berdasarkan kontrol atau pengawasan terhadap perusahaan dibedakan menjadi dua yaitu investasi langsung dan tidak langsung.

Investasi langsung[sunting | sunting sumber]

Investasi langsung adalah investasi jangka panjang pada suatu usaha baru atau yang sudah ada diikuti dengan pengawasan dan manajemen aktif oleh pihak investor. Pada investasi jenis ini, investor memiliki perusahaan khususnya dalam bentuk aset fisik seperti gedung, mesin, dan bentuk lain yang tahan dalam jangka panjang atau dapat dikatakan tidak berwujud non fisik seperti hak kekayaan intelektual. Ciri-ciri investasi langsung yang dominan di antaranya investor memiliki kendali penuh atas manajemen perusahaan, investor ikut aktif mengelola perusahaan, investasi dilakukan pada bisnis di sektor produktif, bentuk investasinya merupakan benda berwujud, serta sesuai dengan hukum wilayah setempat.[10]

Investasi tidak langsung[sunting | sunting sumber]

Investasi tidak langsung atau investasi portofolio merupakan investasi jangka pendek yang dilakukam dengan membeli surat berharga. Pada investasi jenis ini, seorang investor tidak terlibat langsung dalam pengelolaan perusahaan serta tidak diharuskan untuk mendirikan suatu badan usaha.[10]

Investasi tidak langsung terjadi jika surat-surat berharga yang dimiliki diperjualbelikan kembali oleh perusahaan investasi yang berfungsi sebagai perantara. Investor akan menerima keuntungan berupa capital gain atas hasil perdagangan portofolio yang dilakukan oleh perusahaan perantara tersebut.[11]

Sementara itu, berdasarkan jangka waktunya, investasi digolongkan menjadi dua jenis yaitu investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang.

Investasi jangka pendek[sunting | sunting sumber]

Investasi jangka pendek merupakan salah satu produk investasi dengan menyetorkan sejumlah dana untuk dikelola dalam jangka waktu singkat, sehingga dana dan keuntungan dapat dicairkan dalam kurun waktu yang relatif sebentar. Jangka waktu investasi ini umumnya satu tahun. Investasi jangka pendek memiliki risiko yang lebih rendah sehingga direkomendasikan untuk pemula. Contoh investasi jangka pendek adalah deposito, reksa dana, surat utang negara (SUN), dan fintech peer to peer lending.[12]

Investasi jangka panjang[sunting | sunting sumber]

Investasi jangka panjang adalah jenis investasi yang membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan keuntungan atau return. Investasi ini menggunakan daya yang terus menerus digunakan dan dikembangkan dan baru bisa dicairkan jika sudah jatuh tempo. Contoh investasi jangka panjang adalah saham, obligasi, dan reksa dana.[13]

Bentuk[sunting | sunting sumber]

Investasi adalah menanamkan modal berupa aset atau uang pada suatu perusahaan atau perorangan dengan harapan modal yang ditanamkan tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Investasi ada dua jenis yaitu physical investment dan financial investment. Physical investment yaitu investasi yang bisa dilihat investasinya, seperti emas batangan, properti, dan barang berharga sedangkan financial investment yaitu investasi berupa produk keuangan yang tidak dapat disentuh. [14]

  • Investasi properti - investasi properti berupa rumah, tanah, ruko, apartemen dan lain-lain. Tujuan dari investasi properti terdapat dua jenis yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang yaitu investor memilikinya untuk dikelola sendiri guna mendapat keuntungan berjalan. Sementara tujuan jangka pendeknya yaitu untuk dijual lagi di kemudian hari dengan harga yang lebih tinggi.[15]
  • Investasi pendidikan - dengan bertambahnya pengetahuan dan keahlian, diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih besar.
  • Investasi saham - Saham adalah suatu bukti kepemilikan suatu perusahaan. Pembelian saham suatu perusahaan hanyalah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).[16]
  • Investasi mata uang asing - diharapkan investor akan mendapatkan keuntungan dari menguatnya nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang lokal
  • Investasi emas - dengan naiknya harga emas, emas bisa dijadikan salah satu modal investasi terbaik, dikarenakan harga emas yang selalu naik dengan harga yang tinggi. [17]
  • Investasi kripto - sebagai salah satu trend investasi baru, mata uang digital memiliki risiko yang sangat tinggi dikarenakan volatilitasnya yang tinggi [18]
  • Investasi deposito - Investasi deposito memiliki kemiripan dengan tabungan, yang membedakannya adalah batas waktu dan bunga yang lebih tinggi.[19]
  • Investasi reksa dana - Investasi wadah menghimpun dana dari masyarakat pemodal. Reksa dana merupakan produk dari perusahaan yang masuk dalam kategori pasar modal yang diawasi oleh OJK sehingga dapat melakukan penghimpunan dana dari masyarakat.[20]

Pihak yang dapat melakukan investasi[sunting | sunting sumber]

Investasi dapat dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Investasi oleh pemerintah adalah investasi yang dilakukan oleh pemerintah (baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah) dalam rangka penyediaan barang publik untuk melayani dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat dan tidak bertujuan untuk mencari laba. Investasi swasta adalah investasi yang dilakukan oleh pihak swasta yang memprioritaskan dalam perolehan keuntungan dari modal yang telah dikeluarkan.[21]

Proses[sunting | sunting sumber]

Dalam melakukan investasi, terdapat beberapa proses yang harus dijalani yaitu:

  1. Menentukan tujuan dari suatu investasi serta menentukan jumlah dana yang akan diinvestasikan. Terdapat dua hal yang menjadi titik berat yaitu tingkat pengembalian dana yang diharapkan dan ketersediaan jumlah dana yang diinvestasikan.[22]
  2. Melakukan analisis sekuritas atau efek yang salah harga dengan menggunakan pendekatan fundamental dan teknikal.[22]
  3. Melakukan pembentukan portofolio atau sekumpulan investasi dengan mengidentifikasi masing-masing sekuritasnya untuk menentukan investasi mana yang akan ditambah dananya.[22]
  4. Melakukan revisi kinerja portofolio dengan cara menimbang komposisi portofolio yang sudah terbentuk yang tidak sesuai dengan tujuan investasi.[22]
  5. Melakukan evaluasi kinerja portofolio melalui perhitungan tingkat keuntungan yang diharapkan maupun terhadap tingkat risiko yang ditanggung.[22]

Risiko[sunting | sunting sumber]

Dalam melakukan investasi, terdapat beberapa risiko berdasar jenis investasi yang dipilih. Berikut adalah risiko-risiko dalam berinvestasi.

Risiko bisnis[sunting | sunting sumber]

Pada investasi saham, seseorang membeli sebagian kepemilikan di sebuah perusahaan. Sedangkan pada investasi obligasi, seseorang meminjamkan uang ke perusahaan. Pengembalian dari kedua investasi jenis ini mengharuskan perusahaan tetap dalam bisnis. Jika perusahaan tersebut bangkrut dan asetnya dilikuidasi, pemegang saham biasa menjadi individu yang menerima bagi hasil yang terakhir. Jika terdapat aset, pemegang obligasi perusahaan akan dibayar terlebih dahulu, kemudian pemegang saham preferen.[23]

Risiko volatilitas[sunting | sunting sumber]

Harga saham di sebuah perusahaan berfluktuasi naik atau turun. Fluktuasi pasar akan berpengaruh bagi beberapa investor. Harga saham dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor di dalam perusahaan, seperti produk yang salah, atau oleh peristiwa yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan, seperti peristiwa politik atau pasar.[23]

Risiko inflasi[sunting | sunting sumber]

Inflasi merupakan pergerakan atau kenaikan harga secara umum ke atas. Inflasi mengurangi daya beli, yang merupakan risiko bagi investor yang menerima tingkat bunga tetap dan mempengaruhi pengembalian dana investasi. Aset dengan arus kas jangka panjang yang tetap akan mendapat dampak buruk ketika inflasi meningkat, karena daya beli arus kas masa depan tersebut turun seiring waktu.[24]

Risiko likuidasi[sunting | sunting sumber]

Risiko likuiditas merupakan risiko yang menyebabkan seorang investor tidak dapat menjual investasi dengan harga tertentu saat menginginkannya. Risiko ini membuat seorang investor kesulitan untuk menemukan pasar sekuritas.[25]


Investasi Vs Spekulasi[sunting | sunting sumber]

Investasi kerapkali disandingkan dengan spekulasi, untuk dapat disebut sebagai Investasi menurut pakar ekonom dunia, Benyamin Graham, seluruh kegiatan yang telah dianalisas secara menyeluruh dan menjanjikan pengembalian modal serta pengembalian yang memadai.[26] Selain itu, Perbedaan utama antara melakukan investasi dan berspekulasi adalah tingkat risiko dan jaminan dalam menerima kembali modal. Investor akan yakin mereka tidak akan kehilangan modal. Sementara, para spekulan tahu betul bahwa ada kemungkinan yang cukup besar mereka mengalami kegagalan dalam penanaman modalnya. [27]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cana Paranita, Moch. Dzulkirom, AR, Raden Rustam Hidayat (2015). "Analisis Investasi Dalam Reksadana Saham (Equity Funds) Dengan Metode Sharpe dan Treynor". Jurnal Administrasi Bisnis. 27 (1): 2. 
  2. ^ "Arti kata investasi - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.web.id. Diakses tanggal 2020-10-03. 
  3. ^ CA, Dr Yoyo Sudaryo, S. E. , Ak , M. M.; M.M, Aditya Yudanegara, S. I. Kom; INABA, STIE (2021-01-20). Investasi Bank dan Lembaga Keuangan. Penerbit Andi. hlm. 1. ISBN 978-979-29-6285-7. 
  4. ^ dkk, Rico Nur Ilham (2020-09-02). Manajemen investasi (fake investment versus legal investment). Sukabumi: CV Jejak (Jejak Publisher). hlm. 29. ISBN 978-623-247-179-5. 
  5. ^ Nuzula, Nila Firdausi; Nurlaily, Ferina (2020-06-30). Dasar-Dasar Manajemen Investasi. Malang: Universitas Brawijaya Press. hlm. 15–16. ISBN 9786024329938. 
  6. ^ M.M, Edi Murdiyanto, S. H.; S.E.,M.M.Ak, Miladiah Kusumaningarti (2020). ANALISIS INVESTASI DAN MANAJEMEN PORTOFOLIO PASAR MODAL INDONESIA. Jakarta: Jakad Media Publishing. hlm. 6. ISBN 978-623-6551-92-9. 
  7. ^ Kessi, Andi Makkulawu Panyiwi (2020-10-13). MANAJEMEN INVESTASI ERA 4.0. Jakad Media Publishing. hlm. 15. ISBN 978-623-6551-68-4. 
  8. ^ CA, Dr Yoyo Sudaryo, S. E. , Ak , M. M.; M.M, Aditya Yudanegara, S. I. Kom; INABA, STIE (2021-01-20). Investasi Bank dan Lembaga Keuangan. Penerbit Andi. hlm. 5–7. ISBN 978-979-29-6285-7. 
  9. ^ Fatihudin, Didin (2019-03-19). Membedah Investasi Manuai Geliat Ekonomi. Deepublish. hlm. 20. ISBN 978-623-209-452-9. 
  10. ^ a b LL.M, Dr Mas Rahmah, S. H. , M. H. (2020-02-01). Hukum investasi. Prenada Media. hlm. 5–7. ISBN 978-623-218-373-5. 
  11. ^ CA, Dr Yoyo Sudaryo, S. E. , Ak , M. M.; M.M, Aditya Yudanegara, S. I. Kom; INABA, STIE (2021-01-20). Investasi Bank dan Lembaga Keuangan. Penerbit Andi. hlm. 4. ISBN 978-979-29-6285-7. 
  12. ^ "5 Jenis Investasi Jangka Pendek untuk Pemula, Cepat Untung!". www.ocbcnisp.com. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  13. ^ "Investasi Jangka Panjang yang Baik Seperti Apa". www.cimbniaga.co.id. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  14. ^ Partners, Steven Ransingin-Aidil Akbar Madjid &. "Buruan Coba! 5 Investasi Ini Bisa Jadi Pilihan". detikfinance. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  15. ^ Santoso, Budi (2013-06-24). Profit Berlipat dengan Investasi tanah dan Rumah - Edisi Revisi. Elex Media Komputindo. hlm. 3. ISBN 978-602-02-1367-5. 
  16. ^ Ekonomi, Warta (2020-05-25). "Mengenal 5 Jenis Investasi Keuangan". Warta Ekonomi. Diakses tanggal 2020-10-03. 
  17. ^ Times, I. D. N.; Anjani, Hanum Putri. "Sebelum 30 Tahun, Ini 7 Pilihan Investasi yang Bikin Kaya Raya!". IDN Times. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  18. ^ Uly, Yohana (16-02-2021). "Tertarik Investasi di Bitcoin dan Mata Uang Kripto Lainnya? Simak Dulu Tips Ini". Kompas. Diakses tanggal 05-04-2021. 
  19. ^ "Jenis-Jenis Investasi yang Populer di Indonesia | HSBC Indonesia". www.hsbc.co.id. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  20. ^ Rudiyanto (2016-04-23). Seri Panduan Investasi: Reksa Dana untuk Pemula. Elex Media Komputindo. hlm. 11. ISBN 978-602-02-8457-6. 
  21. ^ Lutvi Fauziana, Anita Mulyaningsih, Eli Anggraeni, Sadi Chaola Y. M, Umi Rofida (2014). "Keterkaitan Investasi Modal Terhadap GDP Indonesia". Economics Development Analysis Journal. 3 (2): 375. 
  22. ^ a b c d e CA, Dr Yoyo Sudaryo, S. E. , Ak , M. M.; M.M, Aditya Yudanegara, S. I. Kom; INABA, STIE (2021-01-20). Investasi Bank dan Lembaga Keuangan. Penerbit Andi. hlm. 5–7. ISBN 978-979-29-6285-7. 
  23. ^ a b "What is Risk? | Investor.gov". www.investor.gov. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  24. ^ "Effects of inflation on investments". www.usbank.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-11. 
  25. ^ "9 Types of Investment Risk – A Guide for New Brunswick Investors | New Brunswick Financial and Consumer Services Commission (FCNB)". www.fcnb.ca (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-11. 
  26. ^ Graham, Benjamin (Jason Zweig (2003-07-08) [1949].). The Intelligent Investor. Warren E. Buffett (collaborator) (2003 ed.): HarperCollins. hlm. 18. ISBN 0-06-055566-1. 
  27. ^ Pradana, Melvern (20-01-2021). "Perbedaan Investasi dan Spekulasi". InvestBro.ID. Diakses tanggal 05-04-2021.