Mata uang digital

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Taksonomi uang, berdasarkan "Mata uang kripto bank sentral" oleh Morten Linnemann Bech dan Rodney Garratt

Mata uang digital (uang digital, uang elektronik atau mata uang elektronik) adalah seluruh mata uang, uang, atau aset serupa uang yang utamanya dikelola, disimpan, atau dapat ditukar melalui sistem komputer digital, terutama melalui jaringan internet. Jenis mata uang digital termasuk mata uang kripto, mata uang virtual dan mata uang digital bank sentral. Mata uang digital dapat direkam pada basis data terdistribusi di internet, pangkalan data komputer elektronik secara terpusat yang dimiliki oleh perusahaan atau bank, dalam bentuk berkas komputer atau bahkan pada kartu yang dapat menyimpan nilai mata uang (Stored-Value Card atau SVC).[1] Mata uang digital memiliki karakteristik yang mirip dengan mata uang konvensional, tetapi umumnya tidak memiliki bentuk fisik, tidak seperti mata uang kertas atau uang logam yang dicetak (uang kartal). Ketiadaan bentuk fisik berupa uang ini, memungkinkan transaksi yang dilakukan secara instan melalui jaringan internet dan menghilangkan biaya-biaya yang terkait dengan pendistribusian uang kartal. Mata uang virtual tidak dianggap sebagai alat pembayaran yang sah, karena secara umum tidak diterbitkan oleh badan pemerintah dan memungkinkan pengalihan kepemilikan melalui perbatasan wilayah.[2]

Jenis mata uang ini dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa secara fisik, tetapi juga dapat dibatasi untuk komunitas daring tertentu seperti untuk digunakan di dalam permainan daring (game online).[3]

Uang digital dapat tersentralisasi, sebagai titik pusat pengawasan atas jumlah uang beredar (misalnya pada bank) atau terdesentralisasi, karena pengawasan atas jumlah uang beredar yang telah ditentukan sebelumnya atau disepakati secara demokratis.[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gagasan uang digital diperkenalkan oleh David Chaum melalui sebuah makalah penelitiannya pada 1983.[5] Kemudian pada 1989, ia mendirikan sebuah perusahaan uang elektronik di Amsterdam yang bernama DigiCash untuk mewujudkan gagasannya secara komersil yang dituangkan dalam penelitiannya tersebut.[6] Namun akhirnya perusahaan tersebut mengajukan pailit pada 1998.[6][7][6]

Uang internet pertama yang digunakan secara luas adalah E-gold, yang diperkenalkan pada 1996, kemudian berkembang hingga menjadi beberapa juta pengguna sebelum akhirnya Pemerintah Amerika Serikat menutupnya tahun 2008. E-gold telah dirujuk sebagai "mata uang digital" oleh para akademisi dan pejabat di Amerika Serikat.[8][9][10][11][12] Pada 1997, Coca-cola menawarkan transaksi pembelian produknya dari mesin penjual otomatis (vending machine) dengan menggunakan pembayaran seluler.[13] Kemudian pada tahun berikutnya PayPal meluncurkan layanan dengan denominasi USD pada tahun 1998. Kemudian Bitcoin diluncurkan pada 2009, yang menandai era dimulainya mata uang digital berbasis blockchain yang terdesentralisasi tanpa server pusat dan tidak adanya aset berwujud yang disimpan sebagai cadangan. Mata uang ini juga dikenal sebagai mata uang kripto, yang terbukti dapat bertahan terhadap upaya pemerintah untuk mengendalikannya, karena tidak ada suatu lembaga pusat atau orang yang memiliki kekuatan untuk menutupnya.[14]

Asal usul mata uang digital diawali dari gelembung dot-com pada era 90-an. Layanan mata uang digital lain yang dikenal adalah Liberty Reserve yang didirikan pada tahun 2006. Layanan tersebut memungkinkan untuk melakukan konversi terhadap mata uang Dolar atau Euro ke mata uang Liberty Reserve Dolar atau Euro secara bebas dengan biaya 1%. Beberapa kegiatan dan transaksi mata uang digital, terkenal digunakan dalam skema Ponzi dan pencucian uang yang kemudian dituntut oleh Pemerintah AS karena aktivitasnya tanpa adanya izin Bisnis Layanan Uang (money service business atau MSB) sesuai dengan undang-undang.[15] Pada awal tahun 2005, Tencent QQ menggunakan koin Q atau QQ sebagai jenis mata uang digital berbasis komoditas yang digunakan pada platform pengiriman pesannya (messaging platform). Koin Q ini sangat efektif di Tiongkok, sehingga dikatakan dapat memiliki efek destabilitas pada mata uang Yuan karena adanya spekulasi.[16] Perhatian terhadap mata uang kripto baru-baru ini, mendorong minat baru pada Bitcoin yang mulai diperkenalkan pada 2008 dan menjadikannya sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dan diterima secara umum.[17]

Sub-jenis mata uang digital dan perbandingannya[sunting | sunting sumber]

Mata uang sebagai jenis tertentu[sunting | sunting sumber]

Mata Uang Digital adalah suatu istilah yang mengacu pada jenis mata uang elektronik tertentu yang bersifat khusus. Mata uang digital juga merupakan istilah yang digunakan untuk memasukkan kumpulan kelompok (meta-grup) dari sub-jenis mata uang digital, arti secara khusus hanya dapat ditentukan dalam hal kontekstual dan hukum tertentu. Secara hukum dan teknis, banyak sekali definisi hukum dari mata uang digital dan sub-jenisnya. Menggabungkan berbagai kemungkinan karakteristiknya, terdapat sejumlah besar implementasi yang menciptakan banyak sejumlah sub-jenis Mata uang digital. Banyak yurisdiksi pemerintah telah menerapkan definisi mereka sendiri secara khusus untuk mata uang digital, seperti mata uang virtual, mata uang kripto, e-money, e-cash dan jenis mata uang digital lainnya. Dalam yurisdiksi pemerintah tertentu, lembaga dan regulator yang berbeda, mendefinisikan arti yang berbeda dan sering kali bertentangan untuk berbagai jenis mata uang digital berdasarkan sifat khusus dari jenis atau sub-jenis mata uang tertentu tersebut.

Mata uang digital versus mata uang virtual[sunting | sunting sumber]

Mata uang virtual telah didefinisikan pada tahun 2012 oleh Bank Sentral Eropa sebagai "sejenis uang digital yang tidak diatur, diterbitkan dan biasanya dikendalikan oleh pengembangnya, lalu digunakan serta diterima di antara para anggota komunitas virtual tertentu."[18] Tahun 2013, Departemen Keuangan AS mendefinisikan mata uang virtual dengan lebih singkat sebagai "media pertukaran yang dapat dijalankan seperti mata uang dalam beberapa keadaan, tetapi tidak memiliki semua atribut mata uang nyata."[19] Departemen Keuangan AS juga menyatakan bahwa, "Mata uang virtual tidak memiliki status sebagai alat pembayaran yang sah di yurisdiksi mana pun."[19]

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Bank Sentral Eropa tahun 2015, yang berjudul "Virtual currency schemes – a further analysis" [Skema mata uang virtual – analisis lebih lanjut], mata uang virtual adalah representasi nilai digital, tidak dikeluarkan oleh bank sentral, lembaga kredit atau lembaga uang elektronik yang dalam beberapa situasi, dapat digunakan sebagai pengganti uang.[20] Dalam laporan bulan Oktober 2012, mata uang virtual didefinisikan sebagai jenis uang digital yang tidak diatur, yang dikeluarkan dan biasanya dikendalikan oleh pengembangnya dan digunakan serta diterima (berlaku) di antara anggota komunitas virtual tertentu.[18]

Menurut laporan Bank for International Settlements (BIS) pada bulan November 2015 tentang "Mata uang digital", yang menyatakan bahwa mata uang digital sebagai aset yang diwakili dalam bentuk digital dan memiliki beberapa karakteristik moneter.[21] Mata uang digital dapat didenominasi ke mata uang yang berdaulat (diterbitkan oleh bank sentral) dan penerbitnya bertanggung jawab untuk menebus (membeli) kembali mata uang digital tersebut dengan uang tunai. Dalam hal ini, mata uang digital mewakili uang elektronik (e-money). Mata uang digital dalam satuan nilainya sendiri atau dengan penerbitan yang terdesentralisasi atau secara otomatis, maka akan dianggap sebagai mata uang virtual. Dengan demikian, Bitcoin adalah mata uang digital tetapi juga jenis mata uang virtual. Bitcoin dan mata uang alternatif sejenis, didasarkan pada algoritma kriptografi, sehingga jenis mata uang virtual ini juga disebut sebagai mata uang kripto.

Mata uang digital versus mata uang kripto[sunting | sunting sumber]

Mata uang kripto adalah sub-jenis mata uang digital dan aset digital yang mengandalkan algoritma kriptografi untuk menyatukan tanda tangan digital dari transfer aset, jaringan peer-to-peer dan desentralisasi. Dalam beberapa kasus, skema bukti kriptografi yang diverifikasi atas sejumlah upaya komputasi (proof-of-work) dan mekanisme konsensus dalam blockchain (proof-of-stake), digunakan untuk menerbitkan dan mengelola mata uang.[22][23][24][25] Cryptocurrency dapat memungkinkan sistem mata uang elektronik didesentralisasi. Ketika diimplementasikan dengan blockchain, sistem buku besar digital (digital ledger) atau sistem pencatatan, memberdayakan kriptografi untuk mengedit pecahan entri database yang didistribusikan pada banyak server terpisah. Sistem pertama dan paling populer adalah bitcoin, sistem moneter elektronik peer-to-peer berdasarkan kriptografi.

Mata uang digital versus mata uang konvensional[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar persediaan uang biasa adalah uang bank yang disimpan di komputer. Uang tersebut dianggap sebagai mata uang digital dalam beberapa hal. Orang dapat berargumen bahwa masyarakat kita yang semakin tanpa uang tunai, berarti bahwa semua mata uang akan menjadi mata uang digital, tetapi mata uang tersebut tidak disajikan seperti itu.[26]

Jenis sistem[sunting | sunting sumber]

Sistem terpusat[sunting | sunting sumber]

Sebuah unit EFTPOS di Bandara Pearson Toronto.

Mata uang dapat ditukar secara elektronik menggunakan kartu debit dan kartu kredit menggunakan sebuah alat transfer dana elektronik di tempat-tempat penjualan atau yang dikenal dengan alat "Electronic funds transfer at point of sale" (EFTPOS).

Dompet digital seluler[sunting | sunting sumber]

Sejumlah sistem uang elektronik menggunakan transfer pembayaran nirkontak untuk memfasilitasi pembayaran dengan mudah dan memberikan kepercayaan lebih kepada penerima uang untuk tidak melepaskan dompet elektronik mereka selama melakukan transaksi.

  • Pada tahun 1994 Mondex dan National Westminster Bank memberikan "dana elektronik" kepada penduduk Swindon.
  • Telefónica dan BBVA Bank meluncurkan sistem pembayaran di Spanyol yang disebut Mobipay sekitar tahun 2005[27] yang menggunakan fasilitas layanan pesan singkat (SMS) sederhana dari ponsel berfitur yang ditujukan untuk layanan berbayar saat bepergian termasuk taksi dan pengisian ulang telepon prabayar melalui debit rekening BBVA Bank.
  • Pada Januari 2010, Venmo diluncurkan sebagai sistem pembayaran seluler melalui SMS, yang berubah menjadi aplikasi sosial dengan teman-teman yang dapat saling membayar satu sama lain untuk pengeluaran kecil seperti secangkir kopi, menyewa dan membayar bagian dari tagihan restoran ketika seseorang lupa membawa dompet.[28] Aplikasi ini populer di kalangan mahasiswa, tetapi memiliki beberapa masalah terkait keamanan.[29] Aplikasi ini dapat ditautkan ke rekening bank, kartu kredit/debit atau memiliki nilai saldo untuk membatasi jumlah kerugian jika terjadi pelanggaran keamanan. Kartu kredit dan kartu debit non-utama dikenakan biaya proses sebesar 3%.[30]
  • Pada 19 September 2011, Google Wallet diluncurkan di Amerika Serikat untuk memudahkan seseorang membawa semua kartu kredit/debit dalam ponsel.[31]
  • Pada tahun 2012, O2 Irlandia (yang dimiliki oleh Telefónica) meluncurkan Easytrip untuk membayar biaya jalan tol yang dibebankan ke rekening ponsel atau kredit prabayar.[32]
  • O2 Inggris membuat O2 Wallet yang dapat diisi dengan rekening bank atau kartu biasa untuk membayar para penjual yang berpartisipasi dalam O2 Wallet dengan menggunakan teknik yang dikenal sebagai 'pesan uang'. Layanan ini ditutup pada 31 Maret 2014.[33]
  • Pada 9 September 2014, Apple Pay diumumkan dalam acara peluncuran iPhone 6. Kemudian pada Oktober 2014, dirilis sebagai pembaruan aplikasi pada iPhone 6 dan Apple Watch. Aplikasi ini sangat mirip dengan Google Wallet, tetapi khusus hanya untuk perangkat Apple.[34]

Sistem terdesentralisasi[sunting | sunting sumber]

Dalam beberapa kasus, mata uang digital telah diimplementasikan sebagai sistem terdesentralisasi dari kombinasi penerbitan mata uang, catatan kepemilikan, otorisasi pengalihan kepemilikan dan validasi serta penyimpanan mata uang.

Menurut Bank for International Settlements (BIS), "Skema ini tidak membedakan antara pengguna berdasarkan lokasi dan oleh karenanya memungkinkan untuk dapat ditransfer nilai antara pengguna lintas batas. Selain itu, kecepatan transaksi tidak bergantung pada lokasi pembayar dan penerima pembayaran."[2]

Hukum[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 2001, Uni Eropa (UE) telah menerapkan Pedoman E-money (E-money Directive) "tentang pengambilan, pengejaran dan pengawasan kebijaksanaan usaha lembaga uang elektronik" yang diperbarui pada 2009.[35] Keraguan sebenarnya tentang uang elektronik UE telah muncul, karena adanya permintaan terkait dengan Pedoman Layanan Pembayaran Uni Eropa 2007 yang mendukung penggabungan lembaga pembayaran dan lembaga uang elektronik. Penggabungan tersebut mengartikan bahwa uang elektronik memiliki sifat yang sama dengan uang bank.

Di Amerika Serikat, uang elektronik diatur oleh Pasal 4A dalam undang-undang Uniform Commercial Code atau Kode Komersial Seragam (UCC) untuk transaksi grosir dan Undang-undang Pengalihan Dana Elektronik (Electronic Fund Transfer Act) untuk transaksi keuangan konsumen yang juga mengatur tanggung jawab penyedia dan kewajiban konsumen.[36][37]

Adopsi oleh pemerintah[sunting | sunting sumber]

Pada 2016, lebih dari 24 negara berinvestasi dalam teknologi buku besar terdistribusi (DLT) dengan investasi senilai $ 1,4 miliar. Selain itu, lebih dari 90 bank sentral terlibat dalam diskusi DLT, termasuk implikasi dari mata uang digital yang diterbitkan bank sentral.[38]

  • Sistem kartu Octopus di Hong Kong: Diluncurkan pada tahun 1997 sebagai dompet elektronik untuk transportasi publik, merupakan implementasi matang yang paling sukses dari kartu pintar nirkontak yang digunakan untuk pembayaran angkutan massal. Hanya dalam 5 tahun, 25 persen transaksi kartu Octopus tidak terkait dengan transit dan diterima oleh lebih dari 160 pedagang (merchant).[39]
  • Sistem Kartu Oyster untuk transportasi di London: Oyster berbentuk kartu pintar plastik yang dapat menyimpan nilai kredit sesuai pemakaian (pay-as-you-go), Kartu Perjalanan dan tiket musiman Bus & Trem. Kartu Oyster dapat digunakan untuk bepergian dengan bus, kereta bawah tanah (subway atau tube), trem, DLR, London Overground dan sebagian besar layanan Kereta Nasional (National Rail) di London.[40]
  • FeliCa di Jepang: Kartu pintar RFID nirkontak, digunakan dalam berbagai cara seperti dalam sistem tiket untuk transportasi publik, uang elektronik dan kunci pintu tempat tinggal.[41]
  • Chipknip di Belanda: Sebagai sistem uang tunai elektronik yang digunakan di Belanda, semua kartu ATM yang diterbitkan oleh bank-bank Belanda memiliki nilai yang dapat diisi melalui stasiun pengisian Chipknip. Untuk individu tanpa rekening bank, tersedia kartu prabayar Chipknip yang dapat dibeli di berbagai lokasi di Belanda. Chipknip dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai media untuk transaksi pembayaran per 1 Januari 2015.[42]
  • Proton di Belgia: Aplikasi dompet elektronik untuk Kartu debit di Belgia, yang diperkenalkan pada Februari 1995, sebagai sarana untuk menggantikan uang tunai atas transaksi kecil. Sistem ini dihentikan layanannya pada tanggal 31 Desember 2014.[43]
  • Kartu Jak Lingko di Jakarta: Kartu pintar yang diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta, dapat digunakan sebagai transaksi pembayaran untuk moda transportasi publik di Jakarta, seperti MRT, LRT, Transjakarta dan pembayaran jalan tol di wilayah Jabodetabek.[44]

Pada bulan Maret 2018, Kepulauan Marshall menjadi negara pertama yang mengeluarkan cryptocurrency mereka sendiri dan mengesahkannya sebagai alat pembayaran yang sah, disebut dengan mata uang "berdaulat".[45]

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Panduan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas[sunting | sunting sumber]

Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas Amerika Serikat (CFTC) telah menetapkan bahwa mata uang virtual didefinisikan dengan benar sebagai komoditas pada tahun 2015.[46] CFTC memperingatkan investor terhadap skema manipulatif yang dikenal dengan "Pump and Dump" (penggelembungan nilai) yang menggunakan mata uang virtual. [47]

Panduan Internal Revenue Service[sunting | sunting sumber]

Pemberitahuan keputusan Internal Revenue Service (IRS) AS 2014-21[48] menetapkan mata uang virtual, cryptocurrency dan mata uang digital apa pun sebagai kekayaan; keuntungan dan kerugian dikenakan pajak dalam kebijakan standar kekayaan.

Panduan Departemen Keuangan[sunting | sunting sumber]

Pada 20 Maret 2013, Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan mengeluarkan panduan untuk menjelaskan bagaimana Undang-Undang Kerahasiaan Bank AS (Bank Secrecy Act) diterapkan pada orang yang membuat, menukar dan mengirimkan mata uang virtual.[49]

Panduan Komisi Sekuritas dan Bursa[sunting | sunting sumber]

Pada Mei 2014, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) "memperingatkan tentang risiko bitcoin dan mata uang virtual lainnya".[50][51]

Peraturan negara bagian New York[sunting | sunting sumber]

Pada Juli 2014, Departemen Layanan Keuangan Negara Bagian New York mengajukan regulasi mata uang virtual paling komprehensif hingga saat ini, yang umum disebut BitLicense, yang telah mengumpulkan usulan dari pendukung bitcoin dan industri keuangan melalui audiensi publik dan periode ulasan hingga 21 Oktober 2014 untuk menyesuaikan peraturan. Hal tersebut telah dikritik oleh perusahaan yang lebih kecil untuk mendukung institusi yang telah mapan dan bursa bitcoin Tiongkok mengeluh bahwa aturan tersebut "terlalu luas dalam penerapannya di luar Amerika Serikat".[52]

Kanada[sunting | sunting sumber]

Bank of Canada telah menjajaki kemungkinan membuat versi mata uangnya di blockchain.[53]

Bank of Canada bekerja sama dengan lima bank terbesar di negara tersebut dan perusahaan konsultan blockchain R3 dalam sebuah proyek yang dikenal dengan Project Jasper. Dalam simulasi yang dijalankan pada tahun 2016, bank sentral mengeluarkan CAD-Coin ke blockchain yang serupa Ethereum.[54] Bank-bank tersebut menggunakan CAD-Coin untuk menukar uang sebagaimana yang mereka lakukan pada akhir hari untuk menyelesaikan akun-akun master mereka.[54]

Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2016, Fan Yifei, wakil gubernur bank sentral Tiongkok, People's Bank of China (PBOC), menulis bahwa "kondisinya sudah matang untuk mata uang digital, yang dapat mengurangi biaya operasi, meningkatkan efisiensi dan memungkinkan berbagai aplikasi baru."[54] Menurut Fan Yifei, cara terbaik untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut adalah bank sentral untuk memimpin, baik dalam mengawasi mata uang digital pribadi maupun dalam mengembangkan alat pembayaran digital legal mereka sendiri.[55]

Pada Oktober 2019, PBOC mengumumkan bahwa renminbi digital akan dirilis setelah persiapan bertahun-tahun.[56] Versi mata uang yang dikenal sebagai DCEP (Pembayaran Elektronik Mata Uang Digital),[57] didasarkan pada cryptocurrency yang dapat "dipisahkan" dari sistem perbankan.[58] Pengumuman tersebut mendapatkan berbagai tanggapan: beberapa di antaranya menganggap sebagai upaya pemerintah Tiongkok untuk menghindari dolar AS di perbankan internasional dan penyelesaian pembayaran, sehingga mengganggu atau melemahkan kemampuan Amerika untuk memanfaatkan dolar sebagai mata uang dunia untuk mengejar kepentingan geopolitiknya yang lebih luas,[59] sementara pihak lainnya meyakini bahwa hal ini lebih tentang kontrol dan pengawasan domestik.[60][61]

Pada bulan Desember 2020, PBOC mendistribusikan senilai CN¥20 juta renminbi digital untuk penduduk Suzhou melalui program undian untuk lebih mempromosikan mata uang digital yang didukung oleh pemerintah. Penerima mata uang tersebut dapat melakukan pembelian luring (offline) dan daring, memperluas uji coba sebelumnya yang tidak memerlukan koneksi internet, dengan mengikutsertakan toko daring dalam program tersebut. Sekitar 20.000 transaksi dilaporkan oleh perusahaan e-commerce JD.com dalam 24 jam pertama uji coba. Berlawanan dengan platform pembayaran daring lainnya seperti Alipay atau WeChat Pay, mata uang digital tidak dibebankan biaya transaksi.[62]

Denmark[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Denmark mengusulkan agar menghapuskan kewajiban bagi pedagang terpilih untuk menerima pembayaran tunai, agar Denmark melangkah lebih dekat ke ekonomi "tanpa uang tunai".[63] Kamar Dagang Denmark mendukung langkah tersebut.[64] Hampir sepertiga penduduk Denmark menggunakan MobilePay, aplikasi smartphone untuk mentransfer uang.[63]

Ekuador[sunting | sunting sumber]

Sebuah undang-undang yang disahkan oleh Majelis Nasional Ekuador memberikan izin kepada pemerintah untuk melakukan pembayaran dalam mata uang elektronik dan mengusulkan pembuatan mata uang digital nasional. Majelis Nasional menyatakan "Uang elektronik akan merangsang ekonomi, akan memungkinkan untuk menarik lebih banyak warga Ekuador, terutama mereka yang tidak memiliki rekening giro atau tabungan dan kartu kredit saja. Mata uang elektronik akan didukung oleh aset Bank Sentral Ekuador".[65] Pada bulan Desember 2015, Sistema de Dinero Electrónico ("sistem uang elektronik") diluncurkan, menjadikan Ekuador sebagai negara pertama dengan sistem pembayaran elektronik yang dikelola negara.[66]

El Salvador[sunting | sunting sumber]

Pada 9 Juni 2021, Majelis Legislatif El Salvador menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi menggolongkan Bitcoin sebagai mata uang legal. Mulai 90 hari setelah disahkan, setiap bidang usaha harus menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah untuk barang atau jasa, kecuali jika usaha tersebut tidak dapat menyediakan teknologi yang diperlukan untuk melakukan transaksi.[67]

Belanda[sunting | sunting sumber]

Bank sentral Belanda sedang melakukan tahap uji coba dengan mata uang virtual berbasis blockchain yang disebut "DNBCoin".[54][68]

India[sunting | sunting sumber]

Unified Payments Interface (UPI) adalah sistem pembayaran secara instan yang dikembangkan oleh National Payments Corporation of India yang memfasilitasi transaksi keuangan antar bank. Antarmukanya diatur oleh Reserve Bank of India, dengan mentransfer dana secara instan antara dua rekening bank pada platform seluler. UPI dibangun di atas Layanan Pembayaran Segera untuk mentransfer dana. Menjadi sistem pembayaran digital yang tersedia 24 jam, termasuk hari libur nasional. Tidak seperti dompet seluler konvensional, yang mengambil sejumlah uang tertentu dari penggunanya dan menyimpannya di akun pengguna tersebut, UPI menarik dan menyetor dana langsung dari rekening bank setiap kali ada permintaan transaksi. UPI menggunakan Alamat Pembayaran Virtual (ID unik yang disediakan oleh bank), Nomor Rekening dengan Kode IFS, Nomor Ponsel dengan MMID (Pengidentifikasi Uang Seluler), Nomor Aadhaar atau ID Virtual sekali pakai. Diperlukan UPI-PIN (nomor Identifikasi Pribadi UPI yang dibuat di aplikasi UPI bank) untuk melakukan konfirmasi setiap transaksi pembayaran.[69][70]

Rusia[sunting | sunting sumber]

Sberbank Rusia yang dikendalikan oleh pemerintah, memiliki Yandex Money (YooMoney), yakni uang layanan pembayaran elektronik dan mata uang digital dengan nama yang sama.[71]

Swedia[sunting | sunting sumber]

Swedia sedang dalam proses mengganti semua uang kertas fisik dan sebagian besar koinnya pada pertengahan 2017.[72] Namun, uang kertas dan koin baru krona Swedia mungkin akan beredar sekitar pertengahan 2007 mencapai puncaknya yakni 12.494 kronor per kapita. Riksbank berencana untuk memulai diskusi tentang mata uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank sentral yang "bukan untuk menggantikan uang tunai, tetapi bertindak sebagai pelengkap".[73] Deputi Gubernur Cecilia Skingsley menyatakan bahwa uang tunai selanjutnya tidak digunakan lagi di Swedia dan meskipun saat ini cukup mudah untuk mendapatkan uang tunai di Swedia, sering kali sangat sulit untuk menyetorkannya ke rekening bank, terutama di daerah pedesaan. Belum ada keputusan yang dibuat tentang keputusan untuk membuat "e-krona".[74]

Dalam pidatonya,[74] Skingsley menyatakan: "Pertanyaan pertama adalah apakah "e-krona" harus dipesan dalam rekening atau apakah "e-krona" harus merupakan suatu bentuk unit yang dapat ditransfer secara digital yang tidak memerlukan struktur rekening sebagai dasar acuannya, kira-kira seperti uang tunai." Skingsley juga menyatakan: "Pertanyaan penting lainnya adalah apakah Riksbank harus menerbitkan "e-krona" langsung ke masyarakat umum atau melalui bank, seperti yang kita lakukan sekarang dengan uang kertas dan koin." Pertanyaan lain akan dibahas seperti suku bunga, apakah harus positif, negatif atau nol?.[75][76]

Swiss[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2016, pemerintah kota pertama kali menerima mata uang digital dalam pembayaran biaya kota. Kota Zug, Swiss, menambahkan bitcoin sebagai alat pembayaran dalam jumlah kecil hingga CHF 200, dalam uji coba dan upaya untuk memajukan Zug sebagai kawasan yang memajukan teknologi masa depan. Untuk mengurangi risiko, Zug segera mengonversi bitcoin yang diterima ke mata uang Swiss.[77] Perusahaan kereta api milik pemerintah Swiss, Swiss Federal Railways menjual bitcoin di mesin tiketnya.[78]

Britania Raya[sunting | sunting sumber]

Pada 2016, kepala penasihat ilmiah Inggris, Sir Mark Walport, menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan penggunaan mata uang digital berbasis blockchain.[79]

Kepala ekonom bank sentral Inggris, Bank of England, mengusulkan penghapusan mata uang kertas. Bank juga tertarik pada blockchain.[54][80] Pada tahun 2016 telah memulai program penelitian multi-tahun untuk mengeksplorasi implikasi dari mata uang digital yang diterbitkan oleh bank sentral.[38] Bank of England telah menghasilkan beberapa makalah penelitian tentang topik tersebut. Salah satunya menyarankan bahwa manfaat ekonomi dari menerbitkan mata uang digital pada buku besar yang didistribusikan dapat menambah sejumlah 3 persen untuk output ekonomi suatu negara.[54] Bank mengatakan bahwa mereka menginginkan versi berikutnya dari infrastruktur perangkat lunak dasar bank, agar kompatibel dengan buku besar yang didistribusikan.[54]

Adopsi oleh pelaku keuangan[sunting | sunting sumber]

Sikap Pemerintah menentukan kecenderungan di antara pelaku keuangan besar dan mapan, baik yang menghindari risiko maupun konservatif. Tidak ada satupun layanan seputar mata uang kripto yang ditawarkan dan lebih banyak kritik yang datang dari mereka. “Penggerak pertama di antara hal ini adalah Fidelity Investments dan Fidelity Digital Assets LLC berbasis di Boston yang akan menyediakan solusi penyimpanan setingkat perusahaan, platform eksekusi perdagangan cryptocurrency dan layanan konsultasi kelembagaan selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu yang dirancang untuk selaras dengan siklus perdagangan blockchain yang selalu-aktif (always-on)".[81]

Mata uang digital keras versus lunak[sunting | sunting sumber]

Mata uang elektronik keras, tidak memiliki kemampuan untuk disengketakan atau dibatalkan ketika digunakan. Dibenarkan atau tidak, hampir tidak mungkin untuk membatalkan transaksi yang telah berjalan. Hal ini sangat mirip dengan uang tunai.[82]

Mata uang elektronik lunak adalah kebalikan dari mata uang elektronik keras. Pembayaran dapat dikembalikan. Umumnya, ketika pembayaran dibatalkan terdapat "waktu kliring" hingga 72 jam atau lebih. Mata uang keras dapat "dilunakkan" dengan layanan pihak ketiga.[82]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Banyak mata uang digital yang ada saat ini belum terlihat pemberdayaannya secara luas dan mungkin tidak mudah digunakan atau ditukar. Bank umumnya tidak menerima atau menawarkan layanan untuk mata uang digital ini.[83] Terdapat kekhawatiran bahwa cryptocurrency sangat berisiko karena volatilitasnya yang sangat tinggi[84] dan berpotensi atas skema manipulatif pump and dump (penggelembungan nilai).[85] Pihak regulator di beberapa negara telah memperingatkan agar tidak menggunakannya dan beberapa telah mengambil langkah-langkah regulasi konkret untuk mencegah para penggunanya.[86] Non-cryptocurrency semuanya terpusat. Dengan demikian, mata uang tersebut dapat ditutup atau disita oleh pemerintah kapan saja.[87] Semakin anonim suatu mata uang, semakin menarik bagi penjahat, terlepas dari niat penciptanya.[87] Bitcoin juga telah dikritik karena bukti kerja (proof-of-work) yang berbasis SHA-256 tidak hemat energi.[88]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Al-Laham, Mohamad; Al-Tarawneh, Haroon; Abdallat, Najwan (2009). "Development of Electronic Money and Its Impact on the Central Bank Role and Monetary Policy" (PDF). Issues in Informing Science and Information Technology. 6: 339–349. doi:10.28945/1063. Diakses tanggal 25 November 2021. 
  2. ^ a b Committee on Payments and Market Infrastructures (November 2015). Digital Currencies (PDF). bis.org (dalam bahasa Inggris). Bank for International Settlements. ISBN 978-92-9197-384-2. Diakses tanggal 25 November 2021. 
  3. ^ "Digital currencies are impacting video games with..." (dalam bahasa Inggris). Offgamers. 8 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 November 2018. Diakses tanggal 26 November 2021. 
  4. ^ Kate Ashford; Benjamin Curry (26 Oktober 2021). "What Is Bitcoin And How Does It Work?" (dalam bahasa Inggris). Forbes. Diakses tanggal 20 November 2021. 
  5. ^ Chaum, David (1982). "Blind signatures for untraceable payments" (PDF) (dalam bahasa Inggris). Department of Computer Science, University of California, Santa Barbara, CA. 
  6. ^ a b c Julie Pitta (1 November 1999). "Requiem for a Bright Idea". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 November 2021. 
  7. ^ "Digicash files Chapter 11" (dalam bahasa Inggris). CNET. 2 Januari 2002. Diakses tanggal 25 November 2021. 
  8. ^ Zetter, Kim (9 Juni 2009). "Bullion and Bandits: The Improbable Rise and Fall of E-Gold". Wired (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 November 2021. 
  9. ^ Bender, Christian (1 Desember 2010). "A Gold Standard for the Internet? An Introductory Assessment". Electronic Markets. 11 (2): 121–125. doi:10.1080/101967801300197043. 
  10. ^ White, Lawrence H. (2014). "The Troubling Suppression of Competition from Alternative Monies: The Cases of the Liberty Dollar and E-gold" (PDF). Cato Journal. 34 (2): 281–301. 
  11. ^ Mullan, Carl P. (2014). The Digital Currency Challenge: Shaping Online Payment Systems through US Financial Regulations. New York: Palgrave Macmillan. hlm. 20–29. ISBN 978-1137382559. 
  12. ^ "Deleting Commercial Pornography Sites From The Internet: The U.S. Financial Industry's Efforts To Combat This Problem". www.govinfo.gov. 21 September 2006. Diakses tanggal 24 November 2021. 
  13. ^ "History of Mobile & Contactless Payment Systems" (dalam bahasa Inggris). NFC.org. Diakses tanggal 25 November 2021. 
  14. ^ Finley, Klint (31 Oktober 2018). "After 10 Years, Bitcoin Has Changed Everything—And Nothing". Wired. Diakses tanggal 9 November 2018. 
  15. ^ Jack Cloherty (28 Mei 2013). "'Black Market Bank' Accused of Laundering $6B in Criminal Proceeds". ABC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 November 2021. 
  16. ^ "'China's virtual currency threatens the Yuan'". Asia Times Online (dalam bahasa Inggris). 5 Desember 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 Desember 2006. Diakses tanggal 20 November 2021. 
  17. ^ Ryan Haar (15 Juli 2021). "The 10 Most Popular Cryptocurrencies, and What You Should Know About Each Before You Invest" (dalam bahasa Inggris). Time. Diakses tanggal 20 November 2021. 
  18. ^ a b "Virtual Currency Schemes" (PDF). European Central Bank. ecb.europa.eu. Oktober 2012. Diakses tanggal 1 Desember 2021. 
  19. ^ a b "Audit Report" (PDF). Treasury.gov. 10 November 2015. Diakses tanggal 1 Februari 2018. 
  20. ^ "Virtual currency schemes - a further analysis" (PDF). European Central Bank (dalam bahasa Inggris). ecb.europa.eu. Februari 2015. Diakses tanggal 1 Desember 2021. 
  21. ^ "Digital Currencies" (PDF). bis.org. November 2015. Diakses tanggal 1 Februari 2018. 
  22. ^ Ian Steadman (5 November 2013). "Wary of Bitcoin? A guide to some other cryptocurrencies". wired.co.uk (dalam bahasa Inggris). arstechnica. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  23. ^ "Cryptocurrency". Techopedia (dalam bahasa Inggris). 11 Februari 2021. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  24. ^ David Tuffley (22 Mei 2013). "From your wallet to Google Wallet: your digital payment options". theconversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  25. ^ Liu, Alec. "Beyond Bitcoin: A Guide to the Most Promising Cryptocurrencies". Vice Motherboard. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Desember 2013. Diakses tanggal 7 Januari 2014. 
  26. ^ "1". Virtual Currency Schemes (PDF). Frankfurt am Main: European Central Bank. Oktober 2012. hlm. 5. ISBN 978-92-899-0862-7. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 6 November 2012. 
  27. ^ "Mobipay - Fujitsu Spain" (dalam bahasa Inggris). Fujitsu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-26. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  28. ^ Andrew Kortina. "Origins of Venmo". kortina.nyc (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  29. ^ Alison Griswold (26 Februari 2015). "Venmo Money, Venmo Problems". Slate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  30. ^ "Venmo pricing". Venmo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  31. ^ Boonsri Dickinson (19 September 2011). "This Day in Tech: Google Wallet launches". CNET (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  32. ^ "Easytrip, O2 launch mobile toll payments service in the Republic of Ireland". thepaypers (dalam bahasa Inggris). 15 November 2012. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  33. ^ "O2 - O2 money - The O2 Wallet service closed on 31st March 2014". O2 (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  34. ^ Dante D'Orazio (9 September 2014). "Apple Watch works with Apple Pay to replace your credit cards". The Verge (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  35. ^ "Directive 2009/110/EC of the European Parliament and of the Council of 16 September 2009 on the taking up, pursuit and prudential supervision of the business of electronic money institutions amending Directives 2005/60/EC and 2006/48/EC and repealing Directive 2000/46/EC, Official Journal L 267, 10/10/2009 P. 0007 - 0017". European Parliament, Council of the European Union (dalam bahasa Inggris). European Union Law. 16 September 2009. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  36. ^ "ELECTRONIC FUND TRANSFER ACT (REGULATION E)" (PDF). Federal Deposit Insurance Corporation (dalam bahasa Inggris). fdic.gov. 27 November 2009. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  37. ^ "In Introduction to Electronic Money Issues - Appendixes" (PDF). Office of the Comptroller of the Currency (dalam bahasa Inggris). occ.gov. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  38. ^ a b "BoE explores implications of blockchain and central bank-issued digital currency". EconoTimes.com (dalam bahasa Inggris). 9 September 2016. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  39. ^ "Hong Kong Octopus Card" (PDF) (dalam bahasa Inggris). Smart Card Alliance. 2005. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 15 Februari 2017. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  40. ^ "What is Oyster?". Transport For London (dalam bahasa Inggris). tfl.gov.uk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-06-28. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  41. ^ ""Contactless" convenience with Sony's FeliCa" (dalam bahasa Inggris). sony.net. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  42. ^ "Home - Chipknip" (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 November 2017. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  43. ^ "Proton". ING Belgia (dalam bahasa Inggris). ing.be. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 April 2015. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  44. ^ Muhammad Rizky (15 Juli 2020). "Integrasi, Transportasi Umum Jabodetabek Cukup Pakai Satu Kartu". iNews. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  45. ^ Gertrude Chavez-Dreyfuss (1 Maret 2018). "Marshall Islands to issue own sovereign cryptocurrency" (dalam bahasa Inggris). Reuters. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  46. ^ "A CFTC Primer on Virtual Currencies" (PDF). Commodity Futures Trading Commission (dalam bahasa Inggris). cftc.gov. 17 Oktober 2017. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  47. ^ "Customer Advisory: Beware Virtual Currency Pump-and-DumpSchemes" (PDF). Commodity Futures Trading Commission (dalam bahasa Inggris). cftc.gov. 15 February 2018. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  48. ^ "US IRS Notice 2014-21" (PDF). US Internal Revenue Service (dalam bahasa Inggris). irs.gov. 2014. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  49. ^ "FIN-2013-G001: Application of FinCEN's Regulations to Persons Administering, Exchanging, or Using Virtual Currencies" (dalam bahasa Inggris). Financial Crimes Enforcement Network. 18 Maret 2013. hlm. 6. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Maret 2013. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  50. ^ Frizell, Sam (7 Mei 2014). "SEC Warns Investors on Bitcoin" (dalam bahasa Inggris). Time. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  51. ^ "INVESTOR ALERT: BITCOIN AND OTHER VIRTUAL CURRENCY-RELATED INVESTMENTS". U.S. Securities and Exchange Commission (dalam bahasa Inggris). sec.gov. 7 Mei 2014. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  52. ^ Sydney Ember (21 Agustus 2014). "More Comments Invited for Proposed Bitcoin Rule"Perlu langganan berbayar. DealBook (dalam bahasa Inggris). New York Times. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  53. ^ Solomon Teague (20 Oktober 2016). "Celent calls on central banks to issue their own digital currencies". Euromoney.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 April 2017. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  54. ^ a b c d e f g Nathaniel Popper (11 Oktober 2016). "Central Banks Consider Bitcoin's Technology, if Not Bitcoin"Perlu langganan berbayar (dalam bahasa Inggris). The New York Times. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  55. ^ Fan Yifei (1 September 2016). "On Digital Currencies, Central Banks Should Lead - Bloomberg View"Perlu langganan berbayar (dalam bahasa Inggris). Bloomberg. Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  56. ^ Shunsuke Tabeta (31 Desember 2019). "China's digital yuan takes shape with new encryption law" (dalam bahasa Inggris). Nikkei Asia. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  57. ^ Authority, Hong Kong Monetary. "Hong Kong Monetary Authority - Hong Kong FinTech Week 2019". Hong Kong Monetary Authority (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  58. ^ Georgina Lee (6 November 2019). "Digital yuan tsar gives green light for tourists to go cashless in China". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  59. ^ Aakash Athawasya (7 November 2019). "China's digital yuan will be the 'weapon' of de-dollarization - AMBCrypto". ambcrypto.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  60. ^ Brenda Goh; Samuel Shen (1 November 2019). "China's proposed digital currency more about policing than progress" (dalam bahasa Inggris). Reuters. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  61. ^ Yuri Molchan (6 November 2019). "Ethereum Co-Founder: China's DCEP Is Not about Decentralization, It Is about Financial Control" (dalam bahasa Inggris). U.Today. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 April 2021. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  62. ^ Cheng, Jonathan (27 Desember 2020). "China Envisions Its Digital-Currency Future, With Lotteries and a Year's Worth of Laundry". Wall Street Journal (dalam bahasa Inggris). ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  63. ^ a b Reuters Staff (6 Mei 2015). "Denmark proposes cash-free shops to cut retail costs" (dalam bahasa Inggris). Reuters. Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  64. ^ Chris Matthews (22 Mei 2015). "Cashless society: Denmark to allow shops to ban paper money" (dalam bahasa Inggris). Fortune. Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  65. ^ Jerin Mathew (25 Juli 2015). "Ecuador to Create Government-Run Digital Currency as It Bans Bitcoin". International Business Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  66. ^ Everett Rosenfeld (9 Februari 2015). "Ecuador becomes the first country to roll out its own digital currency". CNBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  67. ^ "Bitcoin: El Salvador makes cryptocurrency legal tender" (dalam bahasa Inggris). BBC News. 9 Juni 2021. Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  68. ^ Antony Peyton (4 Juli 2016). "Blockchain goes Dutch » Banking Technology" (dalam bahasa Inggris). Bankingtech.com. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  69. ^ "UPI payments now available in UAE as NPCI's global arm partners Mashreq Bank" (dalam bahasa Inggris). Livemint. 20 Agustus 2021. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  70. ^ Byas Nambisan; Aashika Jain (4 Juni 2021). "What Is UPI And How Does It Work?" (dalam bahasa Inggris). Forbes. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  71. ^ Andrii Degeler (19 Desember 2012). "Yandex Sells 75% Of Yandex.Money To Sberbank For $60M". Thenextweb.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  72. ^ Liz Alderman (21 November 2018). "Sweden's Push to Get Rid of Cash Has Some Saying, 'Not So Fast'" (dalam bahasa Inggris). New York Times. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  73. ^ Riksbanken. "Skingsley: Should the Riksbank issue e-krona?". www.riksbank.se. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 Desember 2016. Diakses tanggal 19 November 2017. 
  74. ^ a b Deputy Governor Cecilia Skingsley (22 November 2018). "Skingsley: Considerations for a cashless future" (dalam bahasa Inggris). riksbank.se. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  75. ^ Cecilia Skingsley (16 November 2016), Should the Riksbank issue e-krona? (PDF) (dalam bahasa Inggris), Sveriges Riksbank, diakses tanggal 5 Desember 2021 
  76. ^ "E-krona" (dalam bahasa Inggris). Sveriges Riksbank. 18 Oktober 2018. Diakses tanggal 5 Desember 2021. 
  77. ^ Christian Uhlig/jse (1 Juli 2016). "Alpine 'Crypto Valley' pays with Bitcoins". DW Finance (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 September 2016. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  78. ^ "SBB: Make quick and easy purchases with Bitcoin". SBB Swiss Federal Railways. sbb.ch. Diakses tanggal 3 Desember 2021. 
  79. ^ Chris Baraniuk (19 Januari 2016). "Government urged to use Bitcoin-style digital ledgers" (dalam bahasa Inggris). BBC News. Diakses tanggal 1 Desember 2021. 
  80. ^ Szu Ping Chan (13 September 2016). "Inside the Bank of England's vaults: can cash survive?" (dalam bahasa Inggris). Telegraph.co.uk. Diakses tanggal 1 Desember 2021. 
  81. ^ Michael del Castillo (15 Oktober 2018). "Fidelity Launches Institutional Platform For Bitcoin And Ethereum" (dalam bahasa Inggris). Forbes. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  82. ^ a b Sammy Gentry; Tanner Wilkerson (2018). Macroeconomics (dalam bahasa Inggris). Scientific e-Resources (dipublikasikan tanggal 18 Agustus 2018). hlm. 97. ISBN 1-8394-7214-6. 
  83. ^ Sidel, Robin (22 Desember 2013). "Banks Mostly Avoid Providing Bitcoin Services". The Wall Street Journal (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  84. ^ Tucker, Toph (5 Desember 2013). "Bitcoin's Volatility Problem: Why Today's Selloff Won't Be the Last". Bloomberg BusinessWeek (dalam bahasa Inggris). Bloomberg. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  85. ^ O'Grady, Jason D. "A crypto-currency primer: Bitcoin vs. Litecoin". ZDNet (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  86. ^ Frances Schwartzkopff; Peter Levring (18 Desember 2013). Bitcoins Spark Regulatory Crackdown as Denmark Drafts Rules. Bloomberg.com (dalam bahasa Inggris). Bloomberg. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  87. ^ a b Zetter, Kim (9 Juni 2009). "Bullion and Bandits: The Improbable Rise and Fall of E-Gold". Wired (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  88. ^ David Lee; Kuo Chen (2015). Handbook of Digital Currency: Bitcoin, Innovation, Financial Instruments, and Big Data (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 211. ISBN 9780128023518.