Blockchain

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Formasi blockchain. Rantai utama (hitam) terdiri dari serangkaian blok terpanjang dari genesis block (hijau) menuju blok terkini. Orphan block (ungu) ada di luar rantai utama.
Data Jaringan Bitcoin

Blockchain,[1][2][3] semula block chain,[4][5] adalah record (basis data) yang terus berkembang, disebut block, yang terhubung dan diamankan menggunakan teknik kriptografi.[1][6] Setiap blok biasanya memuat hash kriptografis dari blok sebelumnya,[6] timestamp, dan data transaksi.[7] Secara desain, blockchain resistan terhadap modifikasi data. Blockchain merupakan "sebuah buku besar terdistribusi (distributed ledger) terbuka yang dapat mencatat transaksi antara dua pihak secara efisien dan dengan cara yang dapat diverifikasi dan permanen.[8] Untuk pemanfaatannya sebagai buku besar terdistribusi, blockchain biasanya dikelola oleh sebuah jaringan peer-to-peer secara kolektif dengan mengikuti protokol tertentu untuk komunikasi antar node dan mengkonfirmasi blok-blok baru. Setelah direkam, data dalam blok tidak dapat diubah secara retroaktif tanpa perubahan pada blok-blok berikutnya, yang membutuhkan konsensus mayoritas jaringan.

Blockchain dirancang dari awal agar aman (secure by design) dan merupakan contoh sistem komputasi terdistribusi dengan Byzantine Fault Tolerance (BFT) yang tinggi. Konsensus terdesentralisasi dapat dicapai dengan blockchain.[9] Hal ini membuat blockchain cocok untuk merekam peristiwa, catatan medis,[10][11] dan aktivitas pengelolaan record lainnya, seperti manajemen identitas,[12][13][14] pemrosesan transaksi, dokumentasi barang bukti, ketertelusuran makanan (food traceability),[15] dan pemungutan suara (voting).[16]

Blockchain diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008 dan dimanfaatkan sebagai buku besar untuk transaksi publik cryptocurrency bitcoin.[1] Penemuan blockchain untuk bitcoin menjadikannya mata uang digital pertama yang dapat mengatasi masalah double-spending tanpa memerlukan otoritas tepercaya atau peladen pusat. Desain bitcoin ini juga telah mengilhami aplikasi-aplikasi lain.[1][3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Transaksi Bitcoin (Januari 2009 – September 2017)

Hasil karya pertama mengenai rangkaian blok yang dilindungi secara kriptografi telah dijelaskan oleh Stuart Haber dan W. Scott Stornetta pada tahun 1991.[17][6] Mereka ingin menerapkan suatu sistem agar timestamp pada dokumen tidak dapat dirusak atau dimundurkan. Pada tahun 1992, Bayer, Haber dan Stornetta memasukkan Merkle tree ke dalam rancangan mereka, dan meningkatkan efisiensinya dengan kemampuannya dalam mengumpulkan beberapa dokumen dalam satu blok.[6][18]

Blockchain pertama dikonseptualisasikan oleh seseorang (atau sekelompok orang) yang dikenal sebagai Satoshi Nakamoto pada tahun 2008. Kemudian diimplementasikan tahun berikutnya oleh Nakamoto sebagai komponen inti bitcoin (bitcoin core), di mana blockchain difungsikan sebagai buku besar publik untuk semua transaksi yang terjadi dalam jaringan.[1] Dengan memanfaatkan blockchain, bitcoin menjadi mata uang digital pertama yang mampu mengatasi double-spending tanpa memerlukan otoritas tepercaya dan telah menjadi inspirasi bagi banyak aplikasi lainnya.[1][3][4]

Pada Agustus 2014, ukuran berkas blockchain pada bitcoin yang berisi rekaman semua transaksi dalam jaringan mencapai 20 GB (gigabita).[19] Pada bulan Januari 2015, ukurannya meningkat menjadi 30 GB, dan dari Januari 2016 hingga Januari 2017, blockchain bitcoin ukurannya tumbuh dari 50 GB menjadi 100 GB.[20]

Kata-kata "block" dan "chain" digunakan secara terpisah dalam makalah asli Satoshi Nakamoto, tetapi akhirnya dipopulerkan sebagai satu kata, "blockchain," pada tahun 2016. Istilah blockchain 2.0 merujuk pada aplikasi basis data blockchain terdistribusi versi baru yang pertama kali muncul pada tahun 2014.[21] The Economist menggambarkan implementasi blockchain programmable generasi kedua ini lahir sebagai "bahasa pemrograman yang memungkinkan pengguna untuk menulis kontrak cerdas yang lebih canggih, menciptakan faktur yang dapat membayar sendiri ketika suatu pesanan tiba atau berbagi sertifikat yang secara otomatis mengirim dividen kepada pemiliknya jika keuntungan mencapai suatu tingkat tertentu."[1] Teknologi blockchain 2.0 lebih dari sekedar transaksi dan memungkinkan "pertukaran nilai tanpa perantara kuat yang berperan sebagai penengah." Teknologi ini memungkinkan siapapun untuk memasuki ekonomi global, melindungi privasi para pesertanya, memungkinkan masyarakat untuk "memonetisasi informasi mereka sendiri," dan memberikan kemampuan agar para pembuatnya diberi kompensasi atas kekayaan intelektual mereka. Teknologi blockchain generasi kedua ini memungkinkan untuk menyimpan "ID digital persisten dan persona" seseorang dan membantu mengatasi masalah ketidaksetaraan sosial dengan "mengubah bagaimana kekayaan didistribusikan".[22]:14–15 Hingga 2016, implementasi blockchain 2.0 masih membutuhkan mesin oracle off-chain guna mengakses "data luar atau peristiwa-peristiwa berdasarkan waktu serta kondisi pasar [yang diperlukan] untuk berinteraksi dengan blockchain."[23]

Pada tahun 2016, National Settlement Depository (NSD) Federasi Rusia mengumumkan suatu proyek percontohan berdasarkan platform Nxt blockchain 2.0, yang akan mengeksplorasi penggunaan sistem voting otomatis berbasis blockchain.[24] Pada bulan Juli 2016 IBM membuka sebuah pusat penelitian inovasi blockchain di Singapura.[25] Sebuah kelompok kerja untuk World Economic Forum bertemu pada bulan November 2016 untuk membahas pengembangan model pemerintahan terkait dengan blockchain.[26] Menurut Accenture, penerapan teori difusi inovasi menunjukkan bahwa blockchain mencapai tingkat adopsi 13,5% di sektor keuangan pada tahun 2016, sehingga termasuk fase pengadopsi awal (early adopter).[27] Kelompok-kelompok industri perdagangan bergabung dan mendirikan Global Blockchain Forum pada tahun 2016, sebuah inisiatif dari Chamber of Digital Commerce.[28]

Pada bulan Mei 2018, Gartner menemukan bahwa hanya 1% CIO yang menunjukkan segala jenis adopsi blockchain dalam organisasi mereka, dan hanya 8% CIO melakukan 'perencanaan atau [tertarik] bereksperimen aktif dengan blockchain'.[29]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Blockchain merupakan sebuah buku besar digital terdesentralisasi, terdistribusi dan bersifat publik yang dimanfaatkan untuk mencatat transaksi pada banyak komputer sehingga catatan tersebut tidak dapat diubah secara retroaktif tanpa mengubah seluruh blok setelahnya serta konsensus dalam jaringan.[1][30] Dengan demikian memungkinkan para peserta untuk memverifikasi dan mengaudit transaksi dengan mudah.[31] Basis data blockchain dikelola secara mandiri menggunakan jaringan P2P dan peladen timestamping terdistribusi. Mereka diautentikasi oleh kolaborasi massa yang didukung kepentingan kolektif.[32] Hasilnya adalah alir kerja yang kuat di mana ketidakpastian perihal keamanan data adalah marjinal. Pendayagunaan blockchain dapat menghilangkan karakteristik reproduktifitas tak terhingga dari suatu aset digital. Hal ini menegaskan bahwa setiap nilai unit ditransfer hanya sekali, mengatasi permasalahan double spending. Blockchain juga digambarkan sebagai protokol pertukaran nilai.[21] Pertukaran nilai berbasis blockchain ini dapat diselesaikan lebih cepat, lebih aman dan lebih murah dibandingkan dengan sistem tradisional.[33] Blockchain dapat menentukan hak kepemilikan jika dipersiapkan dengan benar untuk memperinci perjanjian, blockchain juga menyediakan rekaman yang memaksa penawaran dan penerimaan (offer and acceptance).[34][35]

Blocks[sunting | sunting sumber]

Blok (block) menyimpan instruksi (batches) transaksi yang sah yang di-hash dan disandikan ke dalam Merkle tree.[1] Setiap blok menyertakan hash kriptografis dari blok sebelumnya dalam blockchain, di mana keduanya saling terhubung. Blok-blok yang terhubung kemudian membentuk rantai.[1] Proses iterasi ini mengkonfirmasi integritas blok sebelumnya, sepanjang jalan kembali menuju blok genesis asli.[36]

Terkadang blok-blok yang terpisah dapat diproduksi secara bersamaan, menciptakan temporary fork. Selain riwayatnya berbasis hash yang aman, setiap blockchain memiliki algoritme yang ditentukan untuk mencetak berbagai versi riwayat yang berbeda sehingga yang memiliki nilai lebih tinggi dapat dipilih di antara yang lainnya. Blok-blok yang tidak dipilih untuk dimasukkan dalam rantai disebut orphan block.[36] Peer (rekan) yang mendukung basis data memiliki versi riwayat yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Mereka hanya menyimpan versi tertinggi dari basis data yang diketahui. Setiap kali seorang rekan menerima versi yang lebih tinggi (biasanya versi lama dengan tambahan satu blok baru) mereka akan memperluas atau menimpa basis datanya sendiri dan mengirimkan kembali kemajuan tersebut kepada rekan-rekannya. Tidak ada jaminan mutlak bahwa setiap entri tertentu akan tetap selamanya dalam versi terbaik dari riwayatnya. Karena blockchain biasanya dibangun untuk menambahkan susunan blok baru ke blok lama dan juga adanya dorongan kerja hanya untuk memperluas blok baru, bukan menimpa blok lama, probabilitas entri yang digantikan menurun secara eksponensial[37] karena semakin banyak blok dibangun di atasnya.[1][38][39] Sebagai contoh, dalam blockchain yang menggunakan sistem proof-of-work, rantai dengan proof-of-work paling kumulatif selalu dianggap yang valid oleh jaringan. Ada sejumlah metode yang dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat komputasi yang memadai. Dalam blockchain, komputasi dilakukan secara maksimal dibanding cara tradisional yang tersendiri dan paralel.[40]

Block time[sunting | sunting sumber]

Block time adalah waktu rata-rata yang diperlukan jaringan untuk menghasilkan satu blok tambahan dalam blockchain.[41] Beberapa blockchain menghasilkan blok baru rata-rata setiap lima detik.[42] Pada saat penyelesaian blok, data yang disertakan dapat diverifikasi. Dalam cryptocurrency, secara praktis hal ini terjadi saat transaksi keuangan, sehingga waktu blok yang lebih pendek berarti transaksi lebih cepat. Waktu blok untuk Ethereum diatur antara 14 dan 15 detik, sedangkan untuk bitcoin 10 menit.[43]

Hard fork[sunting | sunting sumber]

Hard fork adalah perubahan instruksi sehingga perangkat lunak yang memvalidasi berdasarkan aturan lama akan memeriksa blok-blok yang dihasilkan dengan aturan baru sebagai tidak valid. Sehubungan dengan hard fork ini, semua node yang dimaksudkan berjalan sesuai aturan baru harus menyempurnakan perangkat lunak mereka.[44]

Jika sekelompok node terus menggunakan perangkat lunak lama sementara node yang lain menggunakan perangkat lunak baru, maka dapat terjadi pemisahan (split). Misalnya, Ethereum telah di-hard fork untuk "menyatukan" para investor di The DAO yang telah diretas dengan mengeksploitasi kerentanan dalam kodenya.[45] Fork tersebut berakhir dengan pemisahan yang menciptakan rantai Ethereum dan rantai Ethereum Classic. Pada tahun 2014, komunitas Nxt diminta melakukan hard fork untuk me-rollback perekaman blockchain untuk mengurangi dampak pencurian 50 juta NXT dari sebuah bursa pertukaran cryptocurrency besar. Usulan hard fork tersebut ditolak, dan beberapa dana dipulihkan setelah negosiasi dan pembayaran tebusan.[46]

Sebagai alternatif, untuk mencegah pemisahan permanen, sebagian besar node yang menggunakan perangkat lunak baru dapat kembali ke aturan lama, seperti kasus pemisahan bitcoin pada 12 Maret 2013.[47]

Desentralisasi[sunting | sunting sumber]

Dengan menyimpan data di seluruh jaringan peer-to-peer, blockchain menghilangkan sejumlah risiko yang ada pada data yang dipegang secara terpusat.[1] Blockchain terdesentralisasi dapat menggunakan pengiriman pesan ad-hoc dan jaringan terdistribusi.

Jaringan blockchain peer-to-peer tidak memiliki titik-titik kerentanan terpusat yang dapat dimanfaatkan oleh peretas komputer; juga tidak memiliki titik pusat kegagalan. Metode keamanan blockchain di antaranya menggunakan kriptografi kunci-publik.[4] Kunci publik (deretan panjang dan tampak acak) adalah sebuah alamat dalam blockchain. Token value yang dikirimkan melalui jaringan dicatat sebagai milik dari alamat tersebut. Kunci privat seperti kata sandi yang memberikan akses kepada pemiliknya ke aset digital mereka atau sarana untuk berinteraksi dengan berbagai fitur yang didukung oleh blockchain. Data yang tersimpan dalam blockchain umumnya dianggap tidak dapat rusak (incorruptible).[1]

Setiap node dalam sistem terdesentralisasi memiliki salinan blockchain. Kualitas data dikelola melalui replikasi basis data secara masal[9] dan computational trust. Tidak ada salinan "resmi" yang terpusat dan tidak ada pengguna yang "dipercaya" melebihi yang lain.[4] Transaksi disiarkan ke dalam jaringan menggunakan perangkat lunak. Pesan dikirim berdasarkan upaya terbaik. Node-node penambangan memvalidasi transaksi-transaksi tersebut,[36] menambahkannya ke dalam blok yang mereka buat, dan kemudian menyiarkan blok yang telah selesai ke node lainnya.[38] Blockchain menggunakan berbagai skema time-stamping, seperti proof-of-work, untuk merangkaikan perubahan-perubahan.[48] Metode konsensus alternatif lainnya termasuk proof-of-stake.[36] Pertumbuhan blockchain terdesentralisasi disertai juga oleh risiko sentralisasi node karena sumber daya komputer yang diperlukan untuk memproses jumlah data yang lebih besar menjadi kian mahal.[49]

Keterbukaan[sunting | sunting sumber]

Blockchain terbuka lebih ramah pengguna dibanding perekaman secara tradisional, yang meski terbuka untuk publik, masih memerlukan akses fisik untuk melihatnya. Karena semua blockchain awal tidak memiliki izin, kontroversi pun muncul atas definisi blockchain. Isu dalam perdebatan ini adalah apakah sistem pribadi dengan verifier yang ditugaskan dan diberi wewenang (izin) oleh otoritas pusat bisa dianggap sebagai blockchain.[50][51][52][53][54] Para pendukung rantai berizin (permissioned atau private) berpendapat bahwa istilah "blockchain" dapat diterapkan pada struktur data apa pun yang menumpuk data ke dalam blok yang diberi timestamp. Blockchain ini berfungsi sebagai multiversion concurrency control (MVCC) terdistribusi dalam basis data.[55] Sama halnya seperti MVCC dalam mencegah dua transaksi secara bersamaan memodifikasi objek tunggal dalam basis data, blockchain juga mencegah dua transaksi yang menghabiskan output tunggal yang sama dalam blockchain.[22]:30–31 Namun para penentangnya mengatakan bahwa permissioned system mirip dengan basis data perusahaan tradisional yang tidak mendukung verifikasi data yang terdesentralisasi, dan sistem semacam ini rentan terhadap campur tangan atau revisi operator.[50][52] Nikolai Hampton dari Computerworld mengatakan "kebanyakan solusi-solusi blockchain internal tidak lebih dari sekedar basis data yang rumit," dan "tanpa model keamanan yang jelas, blockchain proprietary harus diamati dengan prasangka."[56] Analis bisnis Don Tapscott dan Alex Tapscott mendefinisikan blockchain sebagai buku besar terdistribusi atau basis data yang terbuka bagi siapapun.[57]

Tanpa persetujuan[sunting | sunting sumber]

Keutamaan jaringan blockchain yang terbuka, tanpa persetujuan, atau publik ialah bahwa pengawasan terhadap aktor nakal dan pengaturan akses tidak lagi diperlukan.[37] Ini artinya semua aplikasi dapat ditambahkan ke dalam jaringan tanpa perlu persetujuan atau kepercayaan dari orang lain, memanfaatkan blockchain sebagai transport layer.[37]

Bitcoin dan cryptocurrency lainnya saat ini mengamankan blockchain mereka dengan mewajibkan entri baru untuk menyertakan proof of work. Untuk memperpanjang blockchain, bitcoin menggunakan teka-teki Hashcash. Meskipun Hashcash dirancang pada tahun 1997 oleh Adam Back, ide orisinilnya pertama kali diusulkan oleh Cynthia Dwork, Moni Naor dan Eli Ponyatovski dalam makalah mereka "Pricing via Processing or Combatting Junk Mail" pada 1992.

Perusahaan-perusahaan keuangan masih belum memprioritaskan blockchain terdesentralisasi.[58] Pada 2016, investasi modal ventura untuk proyek-proyek yang terkait dengan blockchain melemah di AS tetapi mengalami peningkatan di Cina.[59] Bitcoin dan banyak cryptocurrency lainnya menggunakan blockchain terbuka (publik). Hingga April 2018, bitcoin memiliki kapitalisasi pasar tertinggi.

Permissioned (private) blockchain[sunting | sunting sumber]

Permissioned blockchains menggunakan layer pengaturan akses untuk mengendalikan siapa yang memiliki akses ke dalam jaringan.[60] Berbeda dengan jaringan blockchain publik, validator pada jaringan blockchain private diperiksa oleh pemilik jaringan. Mereka tidak bergantung pada node anonim dalam memvalidasi transaksi atau mengambil manfaat dari network effect.[61] Permissioned blockchains juga bisa menggunakan nama blockchain "konsorsium" atau "hybrid".[62]

New York Times mencatat pada tahun 2016 dan 2017 banyak perusahaan yang memanfaatkan jaringan blockchain "dengan private blockchain, yang independen dari sistem publik.[63][64]

Kekurangan private blockchain[sunting | sunting sumber]

Nikolai Hampton mengungkapkan dalam Computerworld bahwa "Tidak perlu '51 persen' serangan pada private blockchain, karena private blockchain (kemungkinan besar) sudah mengendalikan 100 persen dari semua sumber daya dalam penyusunan blok. Jika Anda mampu menyerang atau merusak perangkat penyusunan blockchain pada peladen perusahaan private, Anda dapat secara efektif mengendalikan 100 persen jaringan mereka dan mengubah transaksi sesuai keinginan Anda.[65] Hal ini memiliki serangkaian implikasi yang buruk selama krisis finansial atau krisis utang seperti krisis finansial 2007–08, di mana aktor yang kuat secara politik dapat mengambil keputusan yang mendukung beberapa kelompok dengan mengorbankan orang lain[66][67], dan "blockchain bitcoin dilindungi oleh upaya penambangan (mining) kelompok besar. Mustahil bagi private blockchain dapat melindungi datanya menggunakan gigawatt daya komputasi — ini memakan waktu dan tidak murah."[65] Dia juga mengatakan, "Dalam private blockchain juga tidak ada 'kompetisi'; tidak ada insentif jika menggunakan lebih banyak daya atau menemukan blok lebih cepat daripada yang lain. Ini artinya bahwa banyaknya solusi blockchain internal tidak lebih dari sekedar basis data yang rumit."[65]

Penerapan[sunting | sunting sumber]

Teknologi Blockchain dapat diintegrasikan ke dalam beberapa bidang. Pemanfaatan utama blockchain saat ini adalah sebagai buku besar terdistribusi untuk cryptocurrency, terutama bitcoin. Meskipun beberapa bank sentral, di negara-negara dan wilayah seperti India, Cina, Hong Kong, Amerika Serikat, Swedia, Singapura, Afrika Selatan dan Inggris sedang mengkaji Central Bank Issued Cryptocurrency (CICC), namun belum ada yang mengimplementasikannya hingga 22 Desember 2016.[68]

Potensi umum[sunting | sunting sumber]

Teknologi blockchain memiliki potensi besar untuk mengubah operating model bisnis dalam jangka panjang. Teknologi blockchain buku besar terdistribusi termasuk teknologi dasar—dengan potensinya menciptakan fondasi baru untuk sistem ekonomi dan sosial global—bukan teknologi pengganggu, yang biasanya "menyerang model bisnis tradisional dengan solusi berbiaya lebih rendah dan dengan cepat mengambil alih perusahaan incumbent.[8] Meski begitu, ada beberapa produk-produk operasional yang jatuh tempo dari proof of concept pada akhir 2016.[59] Penggunaan blockcain juga menjanjikan efisiensi yang signifikan terhadap rantai pasokan global, transaksi-transaksi keuangan, buku besar aset dan jejaring sosial terdesentralisasi.[8]

Hingga 2016, beberapa pengamat tetap skeptis. Steve Wilson, dari Constellation Research, menganggap teknologi ini telah digalakkan dengan klaim yang tidak realistis.[69] Untuk memitigasi risiko, pelaku bisnis enggan menempatkan blockchain pada struktur inti bisnis mereka.[70]

Ini berarti aplikasi blockchain khusus kemungkinan merupakan inovasi yang mengganggu, karena secara substansial dapat memakai solusi yang lebih murah yang dapat mengganggu model bisnis yang ada.[8] Protokol blockchain memfasilitasi bisnis dalam menggunakan metode baru untuk memproses semua transaksi digital.[71] Contohnya termasuk sistem pembayaran dan mata uang digital, memfasilitasi urun dana, atau menerapkan predictive markets dan instrumen tata kelola generik.[72]

Blockchains meminimalkan kebutuhan untuk trust service provider dan diprediksi memerlukan sedikit modal dalam kaitannya dengan suatu sengketa. Blockchain memiliki potensi mengurangi risiko sistemik dan penipuan keuangan. Teknologi ini mengotomatisasi proses yang sebelumnya menguras waktu dan dilakukan secara manual, seperti penggabungan bisnis.[73] Secara teori, pemungutan pajak, melakukan pengarahan dan penyediaan manajemen risiko dengan blockchain dapat dimungkinkan.

Sebagai buku besar terdistribusi, blockchain memperkecil biaya untuk verifikasi transaksi, dan menghapus kebutuhan "pihak ketiga" tepercaya seperti bank untuk menyelesaikan transaksi, teknologi ini juga menurunkan biaya jaringan.[31]

Dimulai dengan fokus yang kuat pada aplikasi finansial, teknologi blockchain diperluas untuk aktivitas-aktivitas termasuk aplikasi terdesentralisasi dan organisasi kolaboratif yang meniadakan perantara.[74]

Pendaftaran tanah[sunting | sunting sumber]

Kerangka kerja dan uji coba seperti yang ada di Land Registry Swedia bertujuan untuk mendemonstrasikan keefektifan blockchain dalam mempercepat transaksi penjualan tanah.[75] Republik Georgia sedang menguji coba property registry berbasis blockchain.[76]

Pemerintah India memerangi penipuan terkait lahan dengan bantuan blockchain.[77] Andhra Pradesh menjadi negara pertama di India yang mengadopsi teknologi blockchain di pemerintahan.[78] Untuk melakukannya diumumkan tentang pembuatan Blockchain Technology Park di Visakhapatnam, yang didukung oleh perusahaan teknologi blockchain Apla, Phoenix dan Oasis Grace.[79]

Pada paruh pertama tahun 2018, percobaan dilakukan pada penggunaan teknologi pemblokiran untuk memantau keandalan data Unified State Real Estate Register (USRER) di wilayah Moskow.[80]

The Big Four[sunting | sunting sumber]

Masing-masing perusahaan akuntansi Big Four sedang menguji teknologi blockchain dalam berbagai format. Ernst & Young telah memberikan cryptocurrency wallets kepada semua karyawannya (Swiss),[81] memasang ATM bitcoin di kantornya di Swiss, dan menerima bitcoin sebagai pembayaran untuk semua layanan konsultasi.[82] Marcel Stalder, CEO Ernst & Young Switzerland, menyatakan, "Kami tidak hanya ingin berbicara tentang digitalisasi, tetapi juga aktif mendorong proses ini bersama dengan karyawan dan klien kami. Penting bagi kami bahwa setiap orang dapat bergabung dan mempersiapkan diri dalam revolusi untuk mengambil tempat di dunia bisnis melalui blockchain, [untuk] kontrak cerdas dan mata uang digital."[82] PwC, Deloitte, dan KPMG melakukan cara yang berbeda dengan Ernst & Young dan semuanya sedang menguji private blockchains.[82]

Kontrak cerdas[sunting | sunting sumber]

Kontrak cerdas (smart contracts) berbasis blockchain adalah kontrak yang dapat dilaksanakan sebagian atau sepenuhnya atau tanpa interaksi manusia.[83] Salah satu tujuan utama dari kontrak cerdas adalah escrow otomatis. IMF percaya bahwa kontrak cerdas berdasarkan teknologi blockchain dapat mengurangi risiko moral dan mengoptimalkan penggunaan kontrak secara umum.[84] Karena kurangnya penggunaan secara luas status hukumnya tidak jelas.[84]

Beberapa implementasi blockchain memungkinkan pengkodean kontrak yang akan dieksekusi ketika kondisi yang ditentukan telah terpenuhi. Kontrak cerdas blockchain akan diaktifkan oleh instruksi pemrograman yang mendefinisikan dan mengeksekusi suatu perjanjian.[85] Sebagai contoh, Ethereum Solidity adalah proyek blockchain sumber terbuka yang dibangun khusus untuk mewujudkan kemungkinan ini dengan mengimplementasikan kemampuan bahasa pemrograman Turing-complete untuk mengimplementasikan kontrak ini.[22]:ch. 11

Sejumlah lembaga keuangan telah mengadopsi transaksi keuangan berbasis teknologi blockchain menggunakan kontrak cerdas. Pada bulan Mei 2018, Sberbank CIB, unit perbankan korporasi dan investasi dari bank terbesar Rusia mengumumkan bahwa hal ini telah dilaksanakan, bekerja sama dengan operator telekomunikasi Rusia terkemuka dan National Settlement Depository (NSD), transaksi $ 12 miliar untuk penempatan obligasi dengan pembayaran dalam rubel berdasarkan kontrak cerdas.[86]

Organisasi nonprofit[sunting | sunting sumber]

  • Level One Project dari Bill & Melinda Gates Foundation bertujuan menggunakan teknologi blockchain untuk membantu dua miliar orang di seluruh dunia yang tidak memiliki rekening bank.[87][88]
  • Proyek Building Blocks oleh Program Pangan Dunia (WFP) dari PBB bertujuan agar operasi transfer berbasis tunai WFP semakin cepat, lebih murah, dan lebih aman. Building Blocks memulai uji lapangan di Pakistan pada Januari 2017 yang akan terus berlanjut sepanjang musim semi.[89][90]
  • Publiq, platform untuk para penulis yang didirikan pada tahun 2017, bertujuan menggunakan teknologi blockchain untuk menjamin keaslian naskah, menghindari penyensoran, dan memerangi berita palsu.[91][92]

Jaringan terdesentralisasi[sunting | sunting sumber]

  • Proyek Backfeed mengembangkan sistem tata kelola terdistribusi untuk aplikasi berbasis blockchain yang memungkinkan penciptaan dan distribusi nilai secara kolaboratif dalam jaringan rekan (peer) yang muncul secara spontan.[93][94]
  • Proyek Alexandria merupakan perpustakaan terdesentralisasi berbasis blockchain.[95][96]

Pemerintah dan mata uang nasional[sunting | sunting sumber]

  • Direktur Office of IT Schedule Contract Operations di US General Services Administration, Jose Arrieta, mengungkapkan dalam Forum ACT-IAC (American Council for Technology and Industry Advisory Council) pada bulan September 2017 bahwa organisasinya menggunakan teknologi blockchain untuk mempercepat proses FASt Lane untuk kontrak IT Schedule 70 melalui otomatisasi. Dua perusahaan, United Solutions (kontraktor utama) dan Sapient Consulting (subkontraktor) sedang mengembangkan purwarupa FAST Lane untuk mengotomatisasi dan mempersingkat waktu yang diperlukan untuk melakukan proses peninjauan kontrak.[97]
  • Komite Penasihat Operasional Bea Cukai Komersial, subkomite Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, sedang berupaya menemukan cara praktis untuk menerapkan blockchain dalam tugas-tugas mereka.[98]
  • Estonia berada di garis terdepan dalam menerapkan solusi blockchain. Negara ini mengalami serangan dunia maya pada tahun 2007, pemerintahnya menerapkan teknologi blockchain skalabel untuk melindungi data dari ancaman dan memastikannya bebas dari bahaya.[99]

Beberapa perusahaan merekomendasikan solusi mata uang berbasis blockchain di dua negara berikut:

  • e-Dinar, mata uang nasional Tunisia, adalah mata uang negara pertama yang menggunakan teknologi blockchain;[100]
  • eCFA adalah mata uang digital Senegal berbasis blockchain.[101]

Beberapa negara, terutama Australia, memberikan garis pokok keikutsertaan dalam mengidentifikasi berbagai masalah teknis yang terkait dengan pengembangan, pengaturan dan penggunaan blockchain:

Pada bulan April 2016 Standards Australia mengajukan proposal New Field of Technical Activity (NFTA) atas nama Australia untuk Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) guna mempertimbangkan pengembangan standar untuk mendukung teknologi blockchain. Proposal untuk NFTA ke ISO dimaksudkan untuk membentuk komite teknis ISO baru untuk blockchain. Komite baru akan bertanggung jawab untuk mendukung inovasi dan persaingan dengan mencakup topik standar blockchain termasuk interoperabilitas, terminologi, privasi, keamanan dan audit.[102] Ada beberapa rilis media[103] yang mendukung integrasi blockchain ke bisnis-bisnis Australia.

Bank[sunting | sunting sumber]

Don Tapscott melakukan proyek penelitian selama dua tahun untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi blockchain bisa secara aman memindahkan dan menyimpan "dana, alamat, akte, musik, seni, penemuan ilmiah, kekayaan intelektual, dan bahkan hak suara".[57] Selain itu, sebagian besar industri keuangan menerapkan buku besar terdistribusi untuk digunakan dalam perbankan,[104][105][106] dan menurut studi IBM pada September 2016, ini terjadi lebih cepat dari yang diramalkan.[107]

Bank-bank tertarik dengan teknologi ini karena memiliki potensi untuk mempercepat back office sistem pembayaran.[108]

Bank seperti UBS membuka laboratorium penelitian baru yang didedikasikan untuk mengeksplorasi bagaimana blockchain dapat digunakan dalam layanan keuangan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya.[109][110]

Rusia secara resmi telah menyelesaikan implementasi blockchain di tingkat pemerintahan yang pertama. Bank yang dikelola negara Sberbank mengumumkan pada 20 Desember 2017 bahwa ia bermitra dengan Layanan Antimonopoli Federal Rusia (FAS) untuk menerapkan transfer dan penyimpanan dokumen melalui blockchain.[111]

Deloitte dan ConsenSys mengumumkan rencana mereka pada tahun 2016 untuk membuat bank digital bernama Project ConsenSys.[112]

R3 menghubungkan 42 bank ke buku besar terdistribusi Ethereum, Chain.com, Intel, IBM dan Monax.[113]

Sebuah konsorsium industri Swiss, termasuk Swisscom, Zurich Cantonal Bank, dan bursa saham Swiss, membuat purwarupa perdagangan aset over-the-counter pada teknologi Ethereum berbasis blockchain.[114]

Perusahaan keuangan lainnya[sunting | sunting sumber]

Perusahaan pembayaran kredit dan debit MasterCard telah menambahkan tiga API berbasis blockchain bagi para pemrogram untuk digunakan dalam mengembangkan sistem pembayaran orang-ke-orang (P2P) dan bisnis-ke-bisnis (B2B).[115]

CLS Group menggunakan teknologi blockchain untuk meningkatkan jumlah transaksi perdagangan mata uang yang dapat diselesaikan.[70]

Sistem pembayaran VISA,[116] Mastercard,[117] Unionpay dan SWIFT[118] telah mengumumkan pengembangan dan rencana untuk menggunakan teknologi blockchain.

Prime Shipping Foundation menggunakan teknologi blockchain untuk mengatasi masalah yang terkait dengan pembayaran di industri pelayaran,[119] mencari 150 juta USD untuk mengembangkan Token PRIME milik mereka.[120]

Penggunaan lainnya[sunting | sunting sumber]

Teknologi blockchain dapat digunakan untuk membuat sistem buku besar yang permanen, publik, transparan untuk mengumpulkan data penjualan, menyimpan data hak dengan mengautentikasi pendaftaran hak cipta,[121] dan melacak penggunaan digital dan pembayaran kepada pembuat konten, seperti pengguna nirkabel[122] atau musisi.[123] Pada 2017, IBM bermitra dengan ASCAP dan PRS for Music untuk mengadopsi teknologi blockchain dalam distribusi musik.[124] Layanan Mycelia Imogen Heap juga telah diusulkan sebagai alternatif berbasis blockchain "yang memberi seniman lebih banyak kontrol atas bagaimana lagu-lagu mereka dan data yang terkait beredar di kalangan penggemar dan musisi lainnya."[125][126] Everledger adalah salah satu klien perdana dari layanan pelacakan berbasis blockchain IBM.[127]

Kodak mengumumkan rencananya pada tahun 2018 untuk meluncurkan sistem token digital untuk perekaman hak cipta foto.[128]

Contoh lain di mana kontrak cerdas digunakan di industri musik. Setiap kali dj mix dimainkan, kontrak cerdas yang melekat pada dj mix tersebut langsung membayar artis hampir seketika.[129]

Sebuah aplikasi telah disarankan untuk mengamankan pembagian spektrum jaringan nirkabel.[130]

Metode distribusi terbaru tersedia untuk industri asuransi seperti peer-to-peer insurance, asuransi parametrik dan asuransi mikro dengan adopsi blockchain.[71][131] Economic sharing dan IoT juga diatur untuk mendapat manfaat dari blockchain karena mereka melibatkan banyak peer yang bekerja sama.[132] Online voting adalah penerapan lain dari blockchain.[133][134] Blockchain digunakan untuk mengembangkan sistem informasi untuk rekam medis, untuk meningkatkan interoperabilitas. Secara teori, disparate system dapat sepenuhnya digantikan oleh blockchain.[135] Blockchains sedang dikembangkan untuk penyimpanan data, penerbitan naskah dan mengidentifikasi asal seni digital. Blockchain memfasilitasi pengguna agar dapat mengklaim kepemilikan aset-aset dalam game (aset digital), contohnya adalah Cryptokitties.[136]

Desain non-cryptocurrency yang terkenal termasuk:

  • Steemit – situs web blogging/jejaring sosial dan cryptocurrency
  • Hyperledger – upaya kolaborasi lintas industri dari Linux Foundation untuk mendukung buku besar terdistribusi blockchain, proyek-proyek di bawah inisiatif ini termasuk Hyperledger Burrow (oleh Monax) dan Hyperledger Fabric (dipelopori oleh IBM)[137]
  • Counterparty – platform keuangan sumber terbuka untuk membuat aplikasi keuangan peer-to-peer pada blockchain bitcoin
  • Quorum – sebuah permissionable private blockchain oleh JPMorgan Chase dengan penyimpanan pribadi, digunakan untuk aplikasi-aplikasi kontrak.[138]
  • Bitnation – "voluntary nation" tanpa batas yang terdesentralisasi yang menetapkan yurisdiksi kontrak dan aturan, berdasarkan pada Ethereum
  • Factom, register terdistribusi
  • Tezos, pemilihan suara terdesentralisasi.[22]:94

Microsoft Visual Studio membawa bahasa Ethereum Solidity bagi para pengembang aplikasi. [139]

IBM menawarkan layanan cloud blockchain berdasarkan proyek sumber terbuka Hyperledger Fabric[140][141]

Oracle Cloud menawarkan Blockchain Cloud Service berdasarkan Hyperledger Fabric. Oracle telah bergabung dengan konsorsium Hyperledger tersebut.[142][143]

Pada bulan Agustus 2016, tim peneliti di Technical University of Munich menerbitkan dokumen penelitian mengenai bagaimana kemungkinan blockchain mengganggu industri. Mereka menganalisis pendanaan usaha yang masuk ke bisnis blockchain. Penelitian mereka menunjukkan $ 1,55 miliar masuk ke startups dengan fokus industri pada keuangan dan asuransi, informasi dan komunikasi, serta layanan profesional. Kerapatan startup yang tinggi ditemukan di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada.[144]

Juga disarankan bahwa catatan-catatan akademis disimpan dalam blockchain oleh sekolah-sekolah.[145]

ABN Amro mengumumkan proyek dalam real estate untuk memfasilitasi pembagian dan pencatatan transaksi real estate, dan proyek kedua dalam kemitraan dengan Port of Rotterdam untuk mengembangkan peralatan logistik.[146]

Pada 8 Mei 2018 Facebook membuka grup blockchain baru [147] yang akan dipimpin oleh David Marcus yang sebelumnya bertanggung jawab atas Messenger. Menurut The Verge Facebook berencana meluncurkan cryptocurrency sendiri untuk memfasilitasi pembayaran pada platform tersebut.[148]

Jenis-jenis blockchain[sunting | sunting sumber]

Saat ini, terdapat tiga jenis jaringan blockchain - blockchain publik, private blockchain dan blockchain konsorsium.[149]

Blockchain publik[sunting | sunting sumber]

Blockchain publik sama sekali tidak memiliki batasan akses. Siapa pun yang memiliki koneksi internet dapat mengirim transaksi ke dalamnya serta menjadi validator (berpartisipasi dalam pelaksanaan protokol konsensus).[150] Biasanya, jaringan semacam itu menawarkan insentif ekonomi bagi mereka yang mengamankannya dan memanfaatkan beberapa jenis algoritme Proof of Stake atau Proof-of-work.

Beberapa blockchain publik terbesar dan paling dikenal adalah Bitcoin dan Ethereum.

Private blockchain[sunting | sunting sumber]

Private blockchain adalah blockchain berizin.[60] Seseorang tidak dapat bergabung kecuali diundang oleh administrator jaringan. Akses peserta dan validator dibatasi.[7]

Jenis blockcain ini dapat dianggap sebagai jalan tengah bagi perusahaan yang tertarik dengan teknologi blockchain secara umum tetapi tidak nyaman dengan tingkat kontrol yang ditawarkan oleh jaringan publik. Biasanya, mereka berusaha untuk menggabungkan blockchain ke dalam prosedur akuntansi dan penyimpanan catatan tanpa mengorbankan otonomi dan risiko mengekspos data sensitif ke internet publik.

Blockchain konsursium[sunting | sunting sumber]

Sebuah blockchain konsorsium sering dikatakan sebagai semi-desentralisasi. Ini juga perlu izin tetapi bukannya organisasi tunggal yang mengendalikannya, sejumlah perusahaan mengoperasikan node di jaringan tersebut. Para administrator dari rantai konsorsium membatasi hak pembacaan pengguna dan hanya memungkinkan node terpercaya yang terbatas untuk mengeksekusi protokol konsensus.[151]

Penelitian akademis[sunting | sunting sumber]

Diskusi panel blockchain pada konferensi Techies IEEE Computer Society pertama

Pada bulan Oktober 2014, MIT Bitcoin Club, dengan pendanaan dari alumni MIT, menyediakan akses ke $ 100 bitcoin bagi mahasiswa sarjana di Massachusetts Institute of Technology. Tingkat adopsi, seperti yang dipelajari oleh Catalini dan Tucker (2016), mengungkapkan bahwa ketika orang-orang yang biasanya mengadopsi teknologi lebih awal diberikan akses yang tertunda, mereka cenderung menolak teknologi tersebut.[152]

Jurnal[sunting | sunting sumber]

Pada September 2015, jurnal akademik peer-review pertama yang didedikasikan untuk penelitian teknologi cryptocurrency dan blockchain, "Ledger", diluncurkan. Edisi perdana diterbitkan pada bulan Desember 2016.[153][154] Jurnal ini mencakup aspek matematika, ilmu komputer, teknik, hukum, ekonomi dan filsafat yang berhubungan dengan cryptocurrencies seperti bitcoin.[155][156]

Jurnal tersebut mendorong para penulis untuk menaruh tanda tangan digital di berkas hash makalah yang dikirimkan, yang kemudian akan di-timestamp ke dalam blockchain bitcoin. Penulis juga diminta untuk memasukkan alamat bitcoin pribadi di halaman pertama makalah-makalah mereka.[157]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m "Blockchains: The great chain of being sure about things". The Economist. 31 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 July 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. The technology behind bitcoin lets people who do not know or trust each other build a dependable ledger. This has implications far beyond the crypto currency. 
  2. ^ Morris, David Z. (15 May 2016). "Leaderless, Blockchain-Based Venture Capital Fund Raises $100 Million, And Counting". Fortune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 May 2016. Diakses tanggal 23 May 2016. 
  3. ^ a b c Popper, Nathan (21 May 2016). "A Venture Fund With Plenty of Virtual Capital, but No Capitalist". The New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 May 2016. Diakses tanggal 23 May 2016. 
  4. ^ a b c d Brito, Jerry; Castillo, Andrea (2013). Bitcoin: A Primer for Policymakers (PDF) (Laporan). Fairfax, VA: Mercatus Center, George Mason University. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 21 September 2013. Diakses tanggal 22 October 2013. 
  5. ^ Trottier, Leo (18 June 2016). "original-bitcoin" (self-published code collection). github. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. This is a historical repository of Satoshi Nakamoto's original bit coin sourcecode 
  6. ^ a b c d Narayanan, Arvind; Bonneau, Joseph; Felten, Edward; Miller, Andrew; Goldfeder, Steven (2016). Bitcoin and cryptocurrency technologies: a comprehensive introduction. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-17169-2. 
  7. ^ a b "Blockchain". Investopedia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 March 2016. Diakses tanggal 19 March 2016. Based on the Bitcoin protocol, the blockchain database is shared by all nodes participating in a system. 
  8. ^ a b c d Iansiti, Marco; Lakhani, Karim R. (January 2017). "The Truth About Blockchain". Harvard Business Review. Harvard University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 January 2017. Diakses tanggal 17 January 2017. The technology at the heart of bitcoin and other virtual currencies, blockchain is an open, distributed ledger that can record transactions between two parties efficiently and in a verifiable and permanent way. 
  9. ^ a b Raval, Siraj (2016). "What Is a Decentralized Application?". Decentralized Applications: Harnessing Bitcoin's Blockchain Technology. O'Reilly Media, Inc. ISBN 978-1-4919-2452-5. OCLC 968277125. Diakses tanggal 6 November 2016 – via Google Books. 
  10. ^ Yuan, Ben; Lin, Wendy; McDonnell, Colin. "Blockchains and electronic health records" (PDF). mcdonnell.mit.edu. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 25 December 2016. 
  11. ^ Ekblaw, Ariel; Azaria, Asaf (19 September 2016). "MedRec: Medical Data Management on the Blockchain". PubPub. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 January 2017. 
  12. ^ Yurcan, Bryan (8 April 2016). "How Blockchain Fits into the Future of Digital Identity". American Banker. SourceMedia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 January 2017. 
  13. ^ Prisco, Giulio (3 June 2016). "Microsoft Building Open Blockchain-Based Identity System With Blockstack, ConsenSys". Bitcoin Magazine. BTC Media LLC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 January 2017. 
  14. ^ Prisco, Giulio (18 August 2016). "Department of Homeland Security Awards Blockchain Tech Development Grants for Identity Management and Privacy Protection". Bitcoin Magazine. BTC Media LLC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 January 2017. 
  15. ^ Browne, Ryan (22 August 2017). "IBM partners with Nestle, Unilever and other food giants to trace food contamination with blockchain". CNBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 August 2017. 
  16. ^ "What is Blockchain Technology?". Follow My Vote. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 January 2018. Diakses tanggal 18 December 2017. 
  17. ^ Haber, Stuart; Stornetta, W. Scott (January 1991). "How to time-stamp a digital document". Journal of Cryptology. 3 (2): 99–111. doi:10.1007/bf00196791. Diakses tanggal 4 July 2017. 
  18. ^ Bayer, Dave; Haber, Stuart; Stornetta, W. Scott (March 1992). "Improving the Efficiency and Reliability of Digital Time-Stamping". Sequences. 2: 329–334. doi:10.1007/978-1-4613-9323-8_24. Diakses tanggal 4 July 2017. 
  19. ^ Nian, Lam Pak; Chuen, David LEE Kuo (2015). "A Light Touch of Regulation for Virtual Currencies". Dalam Chuen, David LEE Kuo. Handbook of Digital Currency: Bitcoin, Innovation, Financial Instruments, and Big Data. Academic Press. hlm. 319. ISBN 978-0-12-802351-8. 
  20. ^ "Blockchain Size". Blockchain. Blockchain Luxembourg S.A. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-03. 
  21. ^ a b Bheemaiah, Kariappa (January 2015). "Block Chain 2.0: The Renaissance of Money". Wired. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 November 2016. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  22. ^ a b c d Tapscott, Don; Tapscott, Alex (May 2016). The Blockchain Revolution: How the Technology Behind Bitcoin is Changing Money, Business, and the World. ISBN 978-0-670-06997-2. 
  23. ^ Project Bletchley Whitepaper Archived 11 January 2017 at the Wayback Machine., Microsoft, 2016-09-19. Retrieved 2016-12-24.
  24. ^ Yakovlev, Alexander. Interview with Kovlyagina, Tatiana. НРД проголосовал за блокчейн. 15 April 2016.
  25. ^ Williams, Ann (12 July 2016). "IBM to open first blockchain innovation centre in Singapore, to create applications and grow new markets in finance and trade". The Straits Times. Singapore Press Holdings Ltd. Co. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 November 2016. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  26. ^ Higgins, Stan (9 November 2016). "Former Estonian President to Lead World Economic Forum Blockchain Group". CoinDesk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 November 2016. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  27. ^ "The future of blockchain in 8 charts". Raconteur. 27 June 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 December 2016. Diakses tanggal 3 December 2016. 
  28. ^ Coleman, Lestor (12 April 2016). "Global Blockchain Forum Launched to Coordinate Regulatory Interoperability and Best Practices". cryptoCoinNews. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 4 December 2016. 
  29. ^ "Hype Killer - Only 1% of Companies Are Using Blockchain, Gartner Reports | Artificial Lawyer". Artificial Lawyer (dalam bahasa Inggris). 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-05-22. 
  30. ^ Armstrong, Stephen (7 November 2016). "Move over Bitcoin, the blockchain is only just getting started". Wired. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 November 2016. Diakses tanggal 9 November 2016. 
  31. ^ a b Catalini, Christian; Gans, Joshua S. (23 November 2016). "Some Simple Economics of the Blockchain". SSRN Electronic Journal. doi:10.2139/ssrn.2874598. SSRN 2874598alt=Dapat diakses gratis. 
  32. ^ Tapscott, Don; Tapscott, Alex (8 May 2016). "Here's Why Blockchains Will Change the World". Fortune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 November 2016. Diakses tanggal 16 November 2016. 
  33. ^ Tucci, Michele (29 November 2015). "Can blockchain help the cards and payments industry?". Tech in Asia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 November 2016. Diakses tanggal 16 November 2016. 
  34. ^ Jacobson, G.M. (1 November 2017). "Op Ed: Three Legal Pitfalls to Avoid in Blockchain Smart Contracts". Bitcoin Magazine. BTC Media LLC. Diakses tanggal 8 May 2018. 
  35. ^ Berwins Solicitors (20 November 2017). "Blockchain and contracts - licit, illicit or smart?". Berwins Blog. Berwins Solicitors Ltd. Diakses tanggal 8 May 2018. 
  36. ^ a b c d Bhaskar, Nirupama Devi; Chuen, David Lee Kuo (2015). "3 – Bitcoin Mining Technology". Dalam Cheun, David Lee Kuo. Handbook of Digital Currency: Bitcoin, Innovation, Financial Instruments, and Big DataPerlu langganan berbayar. Academic Press. hlm. 47–51. ISBN 978-0-12-802117-0. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 October 2016. Diakses tanggal 2 December 2016 – via ScienceDirect. 
  37. ^ a b c Antonopoulos, Andreas (20 February 2014). "Bitcoin security model: trust by computation". Radar. O'Reilly. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 October 2016. Diakses tanggal 19 November 2016. 
  38. ^ a b Antonopoulos, Andreas M. (2014). Mastering Bitcoin. Unlocking Digital Cryptocurrencies. Sebastopol, CA: O'Reilly Media. ISBN 1449374034. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 December 2016. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  39. ^ Nakamoto, Satoshi (October 2008). "Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System" (PDF). bitcoin.org. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 20 March 2014. Diakses tanggal 28 April 2014. 
  40. ^ "Permissioned Blockchains". Explainer. Monax. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 November 2016. Diakses tanggal 20 November 2016. 
  41. ^ Muhammad Ghayas. "What does "Block Time" mean in cryptocurrency?". Quora. Diakses tanggal 2018-01-21. 
  42. ^ Redman, Jamie (25 October 2016). "Disney Reveals Dragonchain, an Interoperable Ledger". Bitcoin.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 November 2016. Diakses tanggal 4 December 2016. 
  43. ^ Antonio Madeira (12 January 2018). "Why is Ethereum different to Bitcoin?". CryptoCompare. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 January 2018. 
  44. ^ Amy Castor (27 March 2017). "A Short Guide to Bitcoin Forks". CoinDesk. Diakses tanggal 1 July 2017. 
  45. ^ Coppola, Frances (21 July 2016). "A Painful Lesson For The Ethereum Community". Forbes. 
  46. ^ Gillespie, Clay Michael (15 August 2014). "Official NXT Decision: No Blockchain Rollback". Cryptocoin News. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  47. ^ Lee, Timothy (12 March 2013). "Major glitch in Bitcoin network sparks sell-off; price temporarily falls 23%". Arstechnica. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-04-22. 
  48. ^ Kopfstein, Janus (12 December 2013). "The Mission to Decentralize the Internet". The New Yorker. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 December 2014. Diakses tanggal 30 December 2014. The network's 'nodes'—users running the bitcoin software on their computers—collectively check the integrity of other nodes to ensure that no one spends the same coins twice. All transactions are published on a shared public ledger, called the 'block chain.' 
  49. ^ Gervais, Arthur; Karame, Ghassan O.; Capkun, Vedran; Capkun, Srdjan. "Is Bitcoin a Decentralized Currency?". InfoQ. InfoQ & IEEE computer society. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 October 2016. Diakses tanggal 11 October 2016. 
  50. ^ a b Voorhees, Erik (30 October 2015). "It's All About the Blockchain". Money and State. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 November 2015. Diakses tanggal 2 November 2015. 
  51. ^ Reutzel, Bailey (13 July 2015). "A Very Public Conflict Over Private Blockchains". PaymentsSource. New York, NY: SourceMedia, Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 April 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  52. ^ a b Casey, Michael J. (15 April 2015). "Moneybeat/BitBeat: Blockchains Without Coins Stir Tensions in Bitcoin Community". The Wall Street Journal. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 June 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  53. ^ "The 'Blockchain Technology' Bandwagon Has A Lesson Left To Learn". dinbits.com. 3 November 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 June 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  54. ^ DeRose, Chris (26 June 2015). "Why the Bitcoin Blockchain Beats Out Competitors". American Banker. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 March 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  55. ^ Greenspan, Gideon (19 July 2015). "Ending the bitcoin vs blockchain debate". multichain.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 June 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  56. ^ Hampton, Nikolai (5 September 2016). "Understanding the blockchain hype: Why much of it is nothing more than snake oil and spin". Computerworld. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 September 2016. Diakses tanggal 5 September 2016. 
  57. ^ a b Tapscott, Don (10 May 2016). "The Impact of the Blockchain Goes Beyond Financial Services". Harvard Business Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 May 2016. Diakses tanggal 16 May 2016. 
  58. ^ Buntinx, J.P. (1 May 2016). "The Road To Bitcoin Adoption Passes Through Many Stages". News BTC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 4 December 2016. 
  59. ^ a b Ovenden, James. "Blockchain Top Trends In 2017". The Innovation Enterprise. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 November 2016. Diakses tanggal 4 December 2016. 
  60. ^ a b Bob Marvin (30 August 2017). "Blockchain: The Invisible Technology That's Changing the World". PC MAG Australia. ZiffDavis, LLC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 September 2017. Diakses tanggal 25 September 2017. 
  61. ^ Prisco, Giulio (25 August 2016). "Sandia National Laboratories Joins the War on Bitcoin Anonymity". Bitcoin Magazine. BTC Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 November 2016. Diakses tanggal 21 November 2016. 
  62. ^ "Blockchains & Distributed Ledger Technologies". BlockchainHub (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 January 2018. Diakses tanggal 18 January 2018. 
  63. ^ Popper, Nathan (27 March 2016). "Ethereum, a Virtual Currency, Enables Transactions That Rival Bitcoin's". The New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 July 2016. Diakses tanggal 7 February 2017. 
  64. ^ Popper, Nathaniel (27 February 2017). "Business Giants to Announce Creation of a Computing System Based on Ethereum". Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 June 2017 – via The New York Times. 
  65. ^ a b c Hampton, Nikolai (5 September 2016). "Understanding the blockchain hype: Why much of it is nothing more than snake oil and spin". Computerworld. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 September 2016. Diakses tanggal 5 September 2016. 
  66. ^ Salsman, R.M. (19 September 2013). "The Financial Crisis Was A Failure Of Government, Not Free Markets". Forbes. Diakses tanggal 8 May 2018. 
  67. ^ O'Keeffe, M.; Terzi, A. (7 July 2015). "The political economy of financial crisis policy". Bruegel. Diakses tanggal 8 May 2018. 
  68. ^ Ehsani, Farzam (22 December 2016). "Blockchain in Finance: From Buzzword to Watchword in 2016". CoinDesk (News). Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 December 2016. Diakses tanggal 22 December 2016. 
  69. ^ Wilson, Steve (3 May 2016). "Blockchain: Almost Everything You Read Is Wrong". Constellation Research Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 November 2016. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  70. ^ a b Katie Martin (27 September 2016). "CLS dips into blockchain to net new currencies". Financial Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 November 2016. Diakses tanggal 7 November 2016. 
  71. ^ a b Wang, Kevin; Safavi, Ali (29 October 2016). "Blockchain is empowering the future of insurance". Tech Crunch. AOL Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 November 2016. Diakses tanggal 7 November 2016. 
  72. ^ "New Ethereum Blockchain Consortium Could Run on Experimental Tech – CoinDesk". 21 February 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 April 2017. 
  73. ^ Prisco, Giulio (9 May 2016). "Delaware Blockchain Initiative to Streamline Record-Keeping for Private Companies". Bitcoin Magazine. BTC Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 5 December 2016. 
  74. ^ De Filippi, Primavera. From competition to cooperation. TEDxCambridge. Diarsipkan dari yang asli on 10 March 2016. https://www.youtube.com/watch?v=aYOPcHRO3tc. 
  75. ^ Chavez-Dreyfuss, Gertrude (16 June 2016). "Sweden tests blockchain technology for land registry". Reuters. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 October 2016. Diakses tanggal 7 November 2016. 
  76. ^ Shin, Laura (21 April 2016). "Republic Of Georgia To Pilot Land Titling On Blockchain With Economist Hernando De Soto, BitFury". Forbes. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 November 2016. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  77. ^ "Indian State Uses Blockchain Technology to Stop Land Ownership Fraud". Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 October 2017. 
  78. ^ "AP govt becomes first state in India to adopt blockchain tech for governance". The News Minute. 2017-10-10. Diakses tanggal 2018-04-11. 
  79. ^ "Andhra to get Block Chain Technology Park". The Hans India (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-11. 
  80. ^ Meyer, David (20 October 2017). "Russia experiments with using blockchain tech for land registry: Pilot project uses blockchain in Moscow". ZDNet. Diakses tanggal 17 November 2017. 
  81. ^ Ernst & Young (25 November 2016). EY Switzerland to digitalize itself and become first advisory firm to accept Bitcoins for its services. Siaran pers.
  82. ^ a b c Young, Joesph (15 December 2016). "Ernst & Young Is Going Bitcoin While PwC, Deloitte and KPMG Push Permissioned Blockchains". CoinTelegraph.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 17 December 2016. 
  83. ^ Franco, Pedro (2014). Understanding Bitcoin: Cryptography, Engineering and Economics. John Wiley & Sons. hlm. 9. ISBN 978-1-119-01916-9. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 February 2017. Diakses tanggal 4 January 2017 – via Google Books. 
  84. ^ a b Virtual Currencies and Beyond: Initial Considerations (PDF). IMF Discussion Note. International Monetary Fund. 2016. hlm. 23. ISBN 978-1-5135-5297-2. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2018-04-14. Diakses tanggal 2018-04-19. 
  85. ^ Swan, Melanie (2015). Blockchain: Blueprint for a New Economy. O'Reilly Media, Inc. hlm. 16. ISBN 978-1-4919-2047-3. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 February 2017. Diakses tanggal 12 November 2016 – via Google Books. 
  86. ^ Carlos Terenzi (May 21, 2018). “Sberbank Conducted $12 Billion Dollars Transaction Using Smart Contracts”. UTB-Most Important Bitcoin & Cryptocurrency News. Retrieved 24 June 2018.
  87. ^ "Level One Project". Bill & Melinda Gates Foundation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 April 2017. 
  88. ^ Woyke, Elizabeth (18 April 2017). "How Blockchain Can Bring Financial Services to the Poor". MIT Technology Review. 
  89. ^ "Building Blocks". World Food Program. 1 January 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 April 2017. 
  90. ^ "What is 'Blockchain' and How is it Connected to Fighting Hunger?". World Food Programme. 6 March 2017. 
  91. ^ "Tech Tent: Social giants get grilled". BBC. 3 November 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 March 2018. Diakses tanggal 1 February 2018. 
  92. ^ "Using blockchain to fight fake news is the most 2017 thing ever". The Next Web. 23 October 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 January 2018. Diakses tanggal 1 February 2018. 
  93. ^ "Backfeed". Backfeed. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 May 2017. 
  94. ^ Pazaitis, Alex (1 January 2017). "Blockchain and Value Systems in the Sharing Economy: The Illustrative Case of Backfeed" (PDF). Technology governance. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 6 July 2017. 
  95. ^ "Alexandria". Alexandria. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 May 2017. 
  96. ^ Porup, J. M. (29 June 2015). "Could Cyberwar Cause a Library of Alexandria Event?". Vice. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 June 2017. 
  97. ^ Friedman, Sara (21 September 2017). "GSA looks to blockchain for speeding procurement processes". Government Computer News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 September 2017. 
  98. ^ COAC (2017). Global Supply Chain Subcommittee – Trade Executive Summary (PDF). Commercial Customs Operations Advisory Committee. 
  99. ^ ksi blockchain, dari situs e-Estonia.com, diakses 27 September 2018.
  100. ^ "Tunisia To Replace eDinar With Blockchain-Based Currency". EconoTimes. 11 January 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 February 2017. 
  101. ^ "Senegal To Introduce A New Blockchain-Based National Digital Currency, The Second Such Currency In The World". iAfrikan News. 24 November 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 April 2017. 
  102. ^ Last RoadMap of Australia, "Archived copy" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 6 September 2017. Diakses tanggal 6 December 2017. 
  103. ^ "Why Blockchain will change Australian businesses for ever". NBC-2.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 February 2018. Diakses tanggal 3 February 2018. 
  104. ^ Epstein, Jim (6 May 2016). "Is Blockchain Technology a Trojan Horse Behind Wall Street's Walled Garden?". Reason. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 July 2016. Diakses tanggal 29 June 2016. mainstream misgivings about working with a system that's open for anyone to use. Many banks are partnering with companies building so-called private blockchains that mimic some aspects of Bitcoin's architecture except they're designed to be closed off and accessible only to chosen parties. ... [but some believe] that open and permission-less blockchains will ultimately prevail even in the banking sector simply because they're more efficient. 
  105. ^ Redrup, Yolanda (29 June 2016). "ANZ backs private blockchain, but won't go public". Australia Financial Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 July 2016. Diakses tanggal 7 July 2016. Blockchain networks can be either public or private. Public blockchains have many users and there are no controls over who can read, upload or delete the data and there are an unknown number of pseudonymous participants. In comparison, private blockchains also have multiple data sets, but there are controls in place over who can edit data and there are a known number of participants. 
  106. ^ Shah, Rakesh (1 March 2018). "How Can The Banking Sector Leverage Blockchain Technology?". PostBox Communications. PostBox Communications Blog. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 March 2018. Banks preferably have a notable interest in utilizing Blockchain Technology because it is a great source to avoid fraudulent transactions. Blockchain is considered hassle free, because of the extra level of security it offers. 
  107. ^ Kelly, Jemima (28 September 2016). "Banks adopting blockchain 'dramatically faster' than expected: IBM". Reuters. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2016. Diakses tanggal 28 September 2016. 
  108. ^ Arnold, Martin (23 September 2013). "IBM in blockchain project with China UnionPay". Financial Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 November 2016. Diakses tanggal 7 November 2016. 
  109. ^ "UBS leads team of banks working on blockchain settlement system". Reuters. 24 August 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 May 2017. Diakses tanggal 13 May 2017. 
  110. ^ "Cryptocurrency Blockchain". capgemini.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 December 2016. Diakses tanggal 13 May 2017. 
  111. ^ "First Government Blockchain Implementation For Russia". Cointelegraph. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 December 2017. Diakses tanggal 20 December 2017. 
  112. ^ Allison, Ian (3 May 2016). "Deloitte to build Ethereum-based 'digital bank' with New York City's ConsenSys". International Business Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 May 2016. 
  113. ^ Allison, Ian (20 January 2016). "R3 completes trial of five cloud-based blockchain technologies at 40 banks". International Business Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 December 2016. 
  114. ^ Andrew Quentson (11 September 2016). Swiss Industry Consortium to Use Ethereum's Blockchain Archived 11 September 2016 at the Wayback Machine.. cryptocoins news. Retrieved 6 November 2016.
  115. ^ "MasterCard pushes ahead into blockchain tech". Business Insider. 2 November 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 November 2016. Diakses tanggal 4 November 2016. 
  116. ^ "World's Fastest Blockchain Tested in Australia". Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 November 2017. 
  117. ^ "Mastercard Seeks Patent for Instant Blockchain Payments Processing". Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 November 2017. 
  118. ^ "Swift Blockchain Success Sets Stage for Sibos". Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 November 2017. 
  119. ^ "First cryptocurrency freight deal takes Russian wheat to Turkey". Bloomberg.com. 23 January 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 February 2018. Diakses tanggal 1 February 2018. 
  120. ^ "Commodities Shipper Seeks $150 Million to Start Digital Coin". Bloomberg.com. 20 February 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 March 2018. Diakses tanggal 1 March 2018. 
  121. ^ Jean-Pierre Buntinx (4 August 2015). "Future Use Cases for Blockchain Technology: Copyright Registration". bitcoin.com. Saint Bitts. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 June 2017. Diakses tanggal 5 November 2016. 
  122. ^ K. Kotobi, and S. G. Bilen, "Secure Blockchains for Dynamic Spectrum Access : A Decentralized Database in Moving Cognitive Radio Networks Enhances Security and User Access", IEEE Vehicular Technology Magazine , 2018.
  123. ^ "Blockchain Could Be Music's Next Disruptor". 22 September 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 September 2016. 
  124. ^ "ASCAP, PRS and SACEM Join Forces for Blockchain Copyright System". Music Business Worldwide. 9 April 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 April 2017. 
  125. ^ Burchardi, K.; Harle, N. (20 January 2018). "The blockchain will disrupt the music business and beyond". Wired. Diakses tanggal 8 May 2018. 
  126. ^ Bartlett, Jamie (6 September 2015). "Imogen Heap: saviour of the music industry?". The Guardian. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 April 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  127. ^ Nash, Kim S. (14 July 2016). "IBM Pushes Blockchain into the Supply Chain". The Wall Street Journal. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 July 2016. Diakses tanggal 24 July 2016. 
  128. ^ "Kodak annonce une ICO et le lancement du KodakCoin". CES 2018. 11 January 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 January 2018. 
  129. ^ Kastelein, Richard (24 August 2017). "The World's First DJ Mix That Pays Artists in Seconds Using Blockchain Technology". Blockchain News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 September 2017. Diakses tanggal 3 September 2017. 
  130. ^ K. Kotobi, and S. G. Bilen, "Blockchain-enabled spectrum access in cognitive radio networks", 2017 Wireless Telecommunications Symposium (WTS), 2017.
  131. ^ Gatteschi, Valentina; Lamberti, Fabrizio; Demartini, Claudio; Pranteda, Chiara; Santamaría, Víctor (20 February 2018). "Blockchain and Smart Contracts for Insurance: Is the Technology Mature Enough?". Future Internet (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 20. doi:10.3390/fi10020020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 March 2018. 
  132. ^ "Blockchain reaction: Tech companies plan for critical mass" (PDF). Ernst & Young. hlm. 5. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 14 November 2016. Diakses tanggal 13 November 2016. 
  133. ^ "Online Voting Platform FAQ's". Follow My Vote. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 October 2016. Diakses tanggal 7 December 2016. 
  134. ^ Chandra, Prabhul. "Reimagining Democracy: What if votes were a crypto-currency?". democracywithoutborders.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 February 2018. Diakses tanggal 5 February 2018. 
  135. ^ Bryant, Meg (5 May 2016). "Blockchain may be healthcare's answer to interoperability, data security". Health Care Dive. Industry Dive. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 4 December 2016. 
  136. ^ "CryptoKitties craze slows down transactions on Ethereum". 12 May 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 January 2018. 
  137. ^ "IBM Blockchain based on Hyperledger Fabric from the Linux Foundation". www.ibm.com (dalam bahasa Inggris). 9 January 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 December 2017. Diakses tanggal 18 January 2018. 
  138. ^ "Why J.P. Morgan Chase Is Building a Blockchain on Ethereum". Fortune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 February 2017. Diakses tanggal 24 January 2017. 
  139. ^ "Hyperledger blockchain code almost comes together for IoT". rethink-iot.com. 1 April 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 August 2016. Diakses tanggal 18 June 2016. 
  140. ^ Miller, Ron. "IBM unveils Blockchain as a Service based on open source Hyperledger Fabric technology – TechCrunch". Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 March 2017. 
  141. ^ "IBM Blockchain based on Hyperledger Fabric from the Linux Foundation". ibm.com. 25 August 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 September 2017. Diakses tanggal 20 September 2017. 
  142. ^ "Oracle Launches Enterprise-Grade Blockchain Cloud Service". oracle.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 November 2017. Diakses tanggal 15 November 2017. 
  143. ^ Jacobsen, Eric. "Oracle Cements Interest on Blockchain: Joins Hyperledger". Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 November 2017. Diakses tanggal 15 November 2017. 
  144. ^ Friedlmaier, Maximilian; Tumasjan, Andranik; Welpe, Isabell (26 August 2016). "Disrupting industries with blockchain: The industry, venture capital funding, and regional distribution of blockchain ventures". Diakses tanggal 2016-11-29. 
  145. ^ Chen, Guang; Xu, Bing; Lu, Manli; Chen, Nian-Shing (2018). "Exploring blockchain technology and its potential applications for education". Smart Learning Environments. 5 (1). doi:10.1186/s40561-017-0050-x. Diakses tanggal 23 May 2018. 
  146. ^ Higgins, Stan (16 December 2016). "ABN Amro Tests Blockchain for Real Estate Transactions". Coindesk.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 December 2016. Diakses tanggal 18 December 2016. 
  147. ^ https://www.recode.net/2018/5/8/17330226/facebook-reorg-mark-zuckerberg-whatsapp-messenger-ceo-blockchain
  148. ^ https://www.theverge.com/2018/5/11/17344318/facebook-cryptocurrency-token-blockchain-report-david-marcus
  149. ^ "On Public and Private Blockchains". Ethereum. Diakses tanggal 7 August 2015. 
  150. ^ "How Companies Can Leverage Private Blockchains to Improve Efficiency and Streamline Business Processes". Perfectial. 
  151. ^ "The difference between a Private, Public & Consortium Blockchain". Blockchaindailynews. Diakses tanggal 26 October 2016. 
  152. ^ Catalini, Christian; Tucker, Catherine E. (11 August 2016). "Seeding the S-Curve? The Role of Early Adopters in Diffusion". SSRN Electronic Journal. doi:10.2139/ssrn.2822729. SSRN 2822729alt=Dapat diakses gratis. 
  153. ^ Extance, Andy (30 September 2015). "The future of cryptocurrencies: Bitcoin and beyond". Nature. 526 (7571): 21–23. doi:10.1038/526021aalt=Dapat diakses gratis. ISSN 0028-0836. OCLC 421716612. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 May 2017. 
  154. ^ del Castillo, Michael (22 December 2016). "Ledger Publishes First Volume of Peer-Reviewed Blockchain Research". CoinDesk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 January 2017. Diakses tanggal 10 January 2017. 
  155. ^ "Ledger (eJournal / eMagazine, 2015)". OCLC WorldCat. OCLC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 January 2017. Diakses tanggal 11 January 2017. 
  156. ^ Hertig, Alyssa (15 September 2015). "Introducing Ledger, the First Bitcoin-Only Academic Journal". Motherboard. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 January 2017. Diakses tanggal 10 January 2017. 
  157. ^ Rizun, Peter R.; Wilmer, Christopher E.; Burley, Richard Ford; Miller, Andrew (2015). "How to Write and Format an Article for Ledger" (PDF). Ledger. 1 (1): 1–12. ISSN 2379-5980. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 22 September 2015. Diakses tanggal 11 January 2017.  publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]