Jalan tol

Jalan tol (bahasa Inggris: Toll road) adalah jalan yang dikenakan tol—biaya yang dikenakan saat menggunakan suatu jalan—untuk melintasinya sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Jalan ini merupakan suatu bentuk pemberian tarif pada jalan yang umumnya diterapkan untuk menutupi biaya pembangunan dan perawatan jalan.
Penetapan tarif didasarkan pada golongan kendaraan. Bangunan atau tempat fasilitas tol dikumpulkan disebut sebagai gerbang tol. Bangunan ini biasanya ditemukan di dekat pintu keluar, di awal atau akhir jembatan (misal: Jembatan Suramadu), dan ketika di awal memasuki suatu jalan layang (fly-over).
Di Indonesia, jalan tol sering dianggap sinonim untuk jalan bebas hambatan, meskipun hal ini sebenarnya salah. Di dunia secara keseluruhan, tidak semua jalan bebas hambatan memerlukan bayaran. Dalam bahasa Inggris, jalan bebas hambatan tanpa berbayar dinamakan freeway atau expressway sedangkan jalan bebas hambatan berbayar dinamakan dengan tollway atau toll road.[1][2][3] Di Indonesia jalan tol diharapkan bisa menjadi solusi bagi kemacetan
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Jalan tol sudah ada sejak zaman kuno. Dulu, para pelancong yang bepergian dengan kereta, menunggang kuda, atau bahkan berjalan kaki diwajibkan membayar biaya tertentu. Sekitar 2.700 tahun yang lalu, di Asyur, sistem pungutan biaya perjalanan di jalan sudah dilegalkan secara resmi oleh pemerintah.[4]
Di Romawi Kuno, biaya juga dipungut bagi siapa pun yang melewati jalan utama. Pos pembayaran biasanya ditempatkan di dekat jembatan atau gerbang kota—tempat yang tidak bisa dihindari oleh para pelancong.[5]
Dalam banyak karya sastra abad ke-17 hingga ke-19, disebutkan adanya pungutan bagi pelancong di berbagai negara. Misalnya, dalam karya Nikolai Gogol "Malam Sebelum Natal", tokoh pandai besi Vakula digambarkan terbang melompati palang di pintu masuk menuju Sankt-Peterburg.[6] Namun, sulit dipastikan apakah pungutan tersebut benar-benar digunakan untuk pembangunan jalan, atau hanya menjadi pemasukan pribadi bagi pejabat setempat.
Di Eropa, pos pungutan pertama muncul pada abad ke-15. Bentuknya berupa palang jalan atau gerbang (bahasa Inggris: turnpike) yang dipasang dengan paku atau tombak sebagai pengaman dari serangan. Dari sinilah istilah turnpike road (jalan tol) muncul di Britania Raya.[7]

Banyak jalan di Eropa modern awalnya memang dirancang sebagai jalan tol untuk menutup biaya pembangunan dan perawatannya, serta menjadi sumber pendapatan daerah dari pengguna luar wilayah. Pada tahun 1663, di Huntingdonshire (Inggris), dibentuk lembaga pertama di Eropa yang mengelola pungutan jalan antara Herfordshire dan Wadesmill (sekitar 12 mil).[8] Akibatnya, banyak pengguna jalan yang mencoba membuat jalur alternatif untuk menghindari pungutan.[9]
Sejak tahun 1706, di Inggris dan Wales dibentuk lembaga bernama Turnpike Trusts, yang diberi kewenangan oleh parlemen untuk mengelola jalan tol serta memungut biaya guna perbaikan dan perawatan. Menjelang tahun 1750, sudah ada 13 jalan utama yang berpusat dari London dengan pos-pos pungutan resmi.[10] Sistem ini kemudian dihapus pada tahun 1870-an, tetapi selama masa berlakunya berhasil meningkatkan kualitas jalan dan mendukung pertumbuhan ekonomi, pertanian, serta perdagangan di Inggris.[11]
Di Kekaisaran Rusia, jalan tol pertama dibuka tahun 1732 antara Sankt-Peterburg dan Shlisselburg. Tarif ditentukan berdasarkan jumlah kuda yang menarik kereta, bahkan untuk menggiring ternak.[12] Jalan utama pertama yang dikenai tol adalah jalur Perspektivnaya Doroga pada tahun 1742, yang menghubungkan Sungai Volkhov ke Sankt-Peterburg sepanjang 131 km. Pada masa itu, tarifnya bahkan berbeda antara musim dingin dan panas—lebih murah di musim dingin karena jalan tertutup salju dan lebih tahan kerusakan. Namun, pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk biaya operasional, sehingga pada tahun 1754 pungutan tersebut dihentikan.
Perkembangan abad ke-20
[sunting | sunting sumber]Era modern jalan tol dimulai pada abad ke-20. Di Amerika Serikat, jalan tol pertama dibuka tahun 1910 di Long Island sepanjang 16 km. Awalnya jalan ini digunakan untuk balapan mobil, tetapi setelah lomba dilarang, jalur tersebut dijadikan jalan tol.[13]
Di Jerman, jalan tol pertama bernama AVUS dibangun tahun 1921. Fungsinya juga serupa: lintasan balap yang kemudian dibuka untuk umum dengan tarif tertentu.[14]
Italia menjadi negara Eropa pertama yang sejak tahap perencanaan sudah membangun jalan tol. Pada akhir 1930-an, Italia telah memiliki lebih dari 400 km jalan bebas hambatan, sebagian besar berbayar.[15] Kemudian disusul Yunani (1927), yang memberlakukan biaya untuk penggunaan jaringan jalan antar kota.[16]
Pada 1950–1960-an, Prancis, Spanyol, dan Portugal mulai membangun jaringan jalan tol berbasis sistem konsesi, memungkinkan pembangunan cepat tanpa perlu dana besar dari pemerintah.[17]
Kini, sistem jalan tol telah diterapkan luas di Eropa, Asia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, serta beberapa wilayah Amerika Selatan dan Afrika Utara. Tarif tol biasanya bergantung pada jenis kendaraan, berat, dan jumlah sumbu rodanya. Untuk truk besar, biayanya lebih tinggi dibanding mobil pribadi.
Jalan Tol di Indonesia
[sunting | sunting sumber]Sejarah jalan tol di Indonesia dimulai pada tahun 1970-an, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur transportasi yang efisien di wilayah perkotaan. Proyek perintis jalan tol pertama dirintis pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan menjadi tonggak penting dalam pembangunan infrastruktur modern Indonesia.[18]
Jalan tol pertama di Indonesia adalah Jalan Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi) sepanjang 59 kilometer. Tol ini mulai dibangun pada tahun 1973 dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada 9 Maret 1978.[19] Nama Jagorawi merupakan singkatan dari Jakarta–Bogor–Ciawi. Pembangunan ini menjadi contoh bagi pengembangan jaringan tol nasional berikutnya, terutama di Pulau Jawa yang kemudian menjadi wilayah dengan kepadatan tol tertinggi di Indonesia.
Setelah keberhasilan Jalan Tol Jagorawi, pembangunan jalan tol mulai diperluas ke berbagai pulau besar di Indonesia sebagai bagian dari upaya pemerataan infrastruktur nasional.
- Pulau Sumatera
Jalan tol pertama di Pulau Sumatera adalah Jalan Tol Belmera (Belawan–Medan–Tanjung Morawa) di Sumatera Utara. Tol sepanjang 34 kilometer ini mulai beroperasi pada tahun 1986 dan dikelola oleh Jasa Marga.[20] Pembangunan tol ini menjadi tonggak awal pengembangan Jalan Tol Trans Sumatera yang kini menghubungkan berbagai provinsi di pulau tersebut.
- Pulau Kalimantan
Jalan tol pertama di Pulau Kalimantan adalah Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam), yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Agustus 2021.[21] Tol sepanjang 99,35 kilometer ini merupakan bagian dari rencana pembangunan infrastruktur strategis di Kalimantan Timur, termasuk kawasan calon Ibu Kota Nusantara.
- Pulau Sulawesi
Jalan tol pertama di Pulau Sulawesi adalah Jalan Tol Ujung Pandang di Sulawesi Selatan, dengan panjang sekitar 21,92 kilometer. Tol ini diresmikan pertama kali pada tahun 1998. Jalan tol ini menjadi bagian penting dari rencana Jalan Tol Trans Sulawesi.
Seiring dengan diberlakukannya program percepatan infrastruktur nasional sejak 2014, pembangunan jalan tol meningkat pesat di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Beberapa proyek besar seperti Jalan Tol Trans Jawa, Jalan Tol Trans Sumatera, dan Jalan Tol Balikpapan–Samarinda menjadi prioritas utama.[22]
Pada tahun 2025, total panjang jalan tol di Indonesia telah melampaui 3.000 kilometer, mencakup lebih dari 70 ruas aktif yang tersebar di berbagai provinsi.[23]
Diferensiasi Pembayaran
[sunting | sunting sumber]Skema penerapan biaya dapat dibedakan menjadi tiga jenis utama, yaitu tarif tetap, tarif berdasarkan waktu, dan tarif dinamis (fleksibel).
Pada sistem tarif tetap, biaya yang dikenakan tidak berubah dalam satu hari penuh. Biasanya terdapat dua jenis tarif tetap — satu berlaku pada hari kerja dan satu lagi untuk akhir pekan atau hari libur. Contohnya, di London biaya hanya diberlakukan pada siang hari di hari kerja.[24]
Tarif berdasarkan waktu berubah-ubah tergantung pada jam, hari, atau musim tertentu (misalnya musim liburan atau musim ramai wisatawan). Contoh penerapannya dapat ditemukan pada beberapa jalur HOV (High-Occupancy Vehicle) di Amerika Serikat, serta di Singapura dan Stockholm. Waktu pergantian dari satu tarif ke tarif lain berbeda-beda di setiap lokasi, bahkan bisa berubah beberapa kali dalam sehari.[25] Secara teoritis, sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi lalu lintas secara keseluruhan. Namun, dalam praktiknya sering kali hanya difokuskan untuk memperbaiki kondisi di satu ruas jalan tol tertentu tanpa mempertimbangkan dampak pada jaringan jalan lain.
Tarif fleksibel ditentukan berdasarkan kondisi lalu lintas terkini. Sistem ini saat ini diterapkan pada beberapa jalur HOV seperti di jalan tol I-15 di San Diego dan I-394 di Minneapolis, di mana biaya berubah untuk menjaga kapasitas optimal jalan. Penyesuaian tarif dilakukan setiap 6 menit di I-15 dan setiap 3 menit di I-394. Jika terjadi kecelakaan dan sebagian jalur tertutup, tarif akan langsung dinaikkan untuk mengurangi jumlah kendaraan yang melintas di area tersebut. Sistem ini efektif untuk jalur HOV atau akses terbatas ke gedung tertentu, tetapi hanya berhasil bila pengemudi sudah mengetahui tarif sebelumnya dan bisa menyesuaikan rute. Ketidakpastian harga kadang menimbulkan kebingungan atau stres pada pengemudi saat mengambil keputusan. Beberapa perusahaan transportasi juga menolak sistem ini karena menyebabkan biaya operasional bulanan menjadi tidak menentu.[25]
Pada awal tahun 1990-an, metode serupa diuji coba di Cambridge, Inggris. Dalam percobaan tersebut, pengendara harus membayar ketika kecepatan rata-rata lalu lintas turun di bawah batas tertentu. Berbeda dengan sistem lain, di Cambridge semua kendaraan di pusat kota dikenakan biaya. Eksperimen ini akhirnya dianggap gagal karena faktor politik dan penolakan dari masyarakat.[25]
Tarif fleksibel pada dasarnya berfungsi sebagai bentuk umpan balik negatif antara kondisi lalu lintas (seperti kemacetan) dan harga penggunaan jalan. Respons perubahan harga harus berlangsung cepat — biasanya hanya tertunda beberapa menit. Versi yang lebih canggih disebut tarif fleksibel prediktif, di mana biaya dinaikkan sebelum kemacetan diperkirakan terjadi. Beberapa algoritma telah dikembangkan untuk sistem prediktif pada jalur HOV, dan hasil pemodelan menunjukkan bahwa metode ini dapat mencegah terbentuknya kemacetan serta menjaga kelancaran arus lalu lintas. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala teknis, informasi, dan komunikasi.[25]
Secara umum, tarif tetap lebih ditujukan untuk menambah pendapatan pemerintah daerah. Sementara itu, tarif berdasarkan waktu dan tarif fleksibel juga berfungsi untuk mengatur volume kendaraan, terutama pada jam sibuk.
Metode Pembayaran Jalan Tol
[sunting | sunting sumber]
Sampai awal abad ke-20, pembayaran tol dilakukan sepenuhnya dengan uang tunai pada pintu masuk jalan tol. Kadang pengemudi menerima tiket di pintu masuk dan membayarnya ketika keluar. Seiring kemajuan teknologi di abad ke-20, berbagai metode pembayaran baru mulai diperkenalkan.
Awalnya, pembayaran masih dilakukan secara manual di pos tol atau toll plaza. Kekurangannya antara lain risiko pencurian uang tunai, kebutuhan tenaga kerja besar, waktu antrean panjang, dan polusi udara akibat kendaraan yang berhenti dan berakselerasi kembali. Kapasitas rata-rata sistem ini sekitar 350–400 kendaraan per jam, dengan catatan tertinggi 500 kendaraan.[28]
Kemudian muncul mesin otomatis yang menerima token atau uang pas tanpa kembalian. Ini mempercepat proses pembayaran karena pengemudi tidak perlu berinteraksi dengan petugas. Mesin jenis ini meningkatkan kapasitas menjadi sekitar 750–800 kendaraan per jam (bahkan hingga 900).[28]
Beberapa negara di Uni Eropa seperti Austria, Swiss, Ceko, Hongaria, dan Moldova menggunakan sistem stiker atau “vignette” yang ditempel di kaca depan kendaraan. Kamera di jalan raya memindai kode batang stiker untuk memverifikasi pembayaran tol.[29]
Sistem Pembayaran Elektronik
[sunting | sunting sumber]Sistem pembayaran tol elektronik atau Electronic Toll Collection (ETC) memungkinkan kendaraan melewati gerbang tol tanpa berhenti. Setiap kendaraan dipasangi alat bernama transponder yang berisi data identitas dan saldo akun. Antena di atas jalan membaca sinyal dari transponder dan mengirimkan data ke pusat pengelolaan.
- Tingkat pertama – sistem elektronik dengan palang otomatis: kendaraan berhenti, sistem membaca transponder, lalu palang terbuka.
- Tingkat kedua – sistem kecepatan rendah: kendaraan melintas dengan kecepatan 10–25 km/jam tanpa palang; kamera memantau pelanggaran pembayaran.
- Tingkat ketiga – sistem jalan terbuka penuh (Open Road Tolling): kendaraan tidak perlu berhenti sama sekali; data dibaca saat mobil melaju hingga 200 km/jam. Kapasitas jalur bisa mencapai 2.200 kendaraan per jam.[28]
Beberapa sistem lama kini dikonversi ke model campuran yang menggabungkan jalur manual, mesin otomatis, dan jalur cepat E-ZPass. Misalnya, Raritan Toll Plaza di New Jersey memiliki tiga jenis jalur berbeda untuk masing-masing metode pembayaran.[30]
Sistem Pemungutan Tol
[sunting | sunting sumber]Ada tiga model sistem jalan tol utama di dunia: terbuka, tertutup, dan jalan terbuka penuh (tanpa gerbang tol).[31]
Sistem Terbuka
[sunting | sunting sumber]Dalam sistem terbuka (open toll system), kendaraan harus berhenti di gerbang tol yang terletak di sepanjang jalan. Biaya bersifat tetap untuk setiap titik. Kelemahannya: antrean panjang di jam sibuk dan peningkatan polusi udara akibat kendaraan berhenti-berjalan berulang kali.[28]
Sistem Tertutup
[sunting | sunting sumber]Sistem tertutup (closed system) digunakan di jalan tol yang memiliki pintu masuk dan keluar tetap. Pengemudi mengambil tiket di pintu masuk dan membayar sesuai jarak yang ditempuh ketika keluar. Contohnya adalah Pennsylvania Turnpike dan New Jersey Turnpike di Amerika Serikat.[32]
Sistem Jalan Terbuka (Open Road)
[sunting | sunting sumber]Sistem jalan terbuka (Open Road atau All-Electronic Tolling) memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti sama sekali. Pembayaran dilakukan otomatis melalui transponder atau kamera yang mengenali nomor plat kendaraan.[33]
Kendaraan tanpa transponder akan difoto dan dikenakan biaya tambahan. Sistem modern mampu membaca sinyal pada kecepatan tinggi dengan akurasi tinggi. Beberapa negara telah beralih sepenuhnya ke sistem ini, tanpa plaza fisik, yang dikenal sebagai All Electronic Tolling (AET).[34]
Jaringan Jalan Tol di Dunia
[sunting | sunting sumber]Secara keseluruhan, lebih dari 45 negara di dunia memiliki jalan tol.
| Negara | Total panjang jalan beraspal (km) | Panjang jalan tol (km) | % |
|---|---|---|---|
| 4.106.387 | 123.000 | 3,0 | |
| 1.580.964 | 19.117 | 1,2 | |
| 1.028.446 | 8.428 | 0,8 | |
| 1.210.251 | 8.428 | 0,7 | |
| 6.586.610 | 8.000 | 0,12 | |
| 4.310.000 | 355 | 0.01 | |
| 487.700 | 6.757 | 1,4 | |
| 683.175 | 3.618 | 0,5 | |
| 71.294 | 2.970 | 4,2 | |
| 177.550 | 2.155 | 1,2 | |
| 144.403 | 1.821 | 1,3 | |
| 94.797 | 1.613 | 1,7 | |
| 76.075 | 1481 | 1,9 | |
| 4.689.842 | 1.455 | 0,03 | |
| 29.410 | 1.313 | 1,5 | |
| 496.607 | 1.056 | 0,2 | |
| 984.000 | 9.431 | 1,0 | |
| 292.134 | 698 | 0,2 | |
| 217.456 | 483 | 0,2 | |
| 14.182 | 242 | 1,7 | |
| 92.369 | 173 | 0,2 | |
| 18.566 | 110 | 0,6 | |

Amerika Serikat
[sunting | sunting sumber]Panjang total jalan tol di 35 negara bagian Amerika Serikat mencapai lebih dari 8.000 km. Sebagian besar terletak di wilayah timur dan utara negara tersebut.[35][36].

Hampir semua jalan tol di Amerika Serikat memiliki gerbang tol dengan bilik pembayaran. Beberapa menggunakan palang otomatis, sementara lainnya memakai sistem kamera. Jika menggunakan pembayaran elektronik seperti E-ZPass (29 negara bagian), FasTrak (California), SunPass (Florida), K-Tag (Kansas), Pikepass (Oklahoma), atau TxTag (Texas), tersedia lajur khusus yang memungkinkan kendaraan lewat tanpa berhenti.
Britania Raya
[sunting | sunting sumber]Di Inggris hanya terdapat satu jalan tol utama — M6 Toll dengan panjang 46 km. Pembayaran dilakukan melalui gerbang dengan palang otomatis di dua plaza, di ujung jalan tol. Metode pembayaran yang diterima adalah tunai, kartu, atau perangkat elektronik bernama toll tag. Bahkan untuk pengguna toll tag, saldo yang cukup tetap diperlukan agar dapat melintas.[37].
Kanada
[sunting | sunting sumber]Pada abad ke-19, beberapa jalan arteri di Toronto bersifat berbayar, tetapi setelah tahun 1895 semua jalan tersebut menjadi bebas biaya.[38]
Saat ini Kanada memiliki lima jalan tol utama — Highway 407 (139 km), Highway 412 (10 km), dan Highway 418 (9 km) di Ontario, The Cobequid Pass (bagian dari Highway 104 sepanjang 45 km) di Nova Scotia, serta Quebec Autoroute 30 (161 km) di Quebec. Hingga tahun 2008, British Columbia Highway 5 di British Columbia juga merupakan jalan tol, tetapi setelah biaya pembangunan dilunasi, jalan tersebut menjadi gratis.[39]
Quebec Autoroute 30 dan The Cobequid Pass dilengkapi gerbang tol di mana pengguna harus berhenti untuk membayar. Salah satu jalur disediakan khusus bagi kendaraan dengan transponder. Saat kendaraan mendekat (kecepatan hingga 20 km/jam), sistem akan menerima sinyal dari transponder dan membuka palang otomatis. Pembayaran juga dapat dilakukan secara tunai, sedangkan kartu kredit hanya diterima di Autoroute 30. Ciri khas The Cobequid Pass adalah hanya terdapat satu gerbang tol, yang terletak di tengah ruas tol Highway 104.[40][41]
Dua jalan tol utama di Ontario — Highway 407 dan Highway 412 — dimiliki oleh tiga pihak: Cintra (43,23%), Canada Pension Plan Investment Board (40%), dan SNC-Lavalin (16,77%). Jalan-jalan ini dianggap sebagai salah satu yang paling canggih di dunia. Tidak ada gerbang tol fisik; pencatatan kendaraan masuk dan keluar dilakukan secara elektronik dan mampu mendeteksi mobil yang melaju lebih dari 200 km/jam.[42]
Pelanggaran Aturan Penggunaan Jalan Tol
[sunting | sunting sumber]
Bentuk pelanggaran utama adalah penghindaran pembayaran tol.[43] Metode yang paling umum untuk menghindari deteksi oleh pemindai atau kamera adalah dengan menutupi, mengaburkan, atau melepas pelat nomor kendaraan, serta menggunakan lapisan film atau pelindung buram pada pelat nomor.
Beberapa pengemudi yang lebih “canggih” bahkan merancang pelat nomor yang dapat diputar ke posisi horizontal menggunakan kabel khusus yang dikendalikan dari kabin mobil (Video di YouTube). Pengemudi lain membuat tirai pelat nomor yang dapat dikendalikan dengan remote (Video di YouTube). Polisi juga pernah menangkap pengendara motor yang menutupi pelat nomor dengan kaki mereka saat melewati gerbang tol otomatis. Dalam satu kasus ekstrem, penumpang mobil masuk ke bagasi dan menutup pelat nomor dari dalam.[44]
Biasanya, perusahaan pengelola jalan tol tidak mengumumkan persentase pelanggaran.[43] Menurut perkiraan ahli independen, angka tersebut berkisar sekitar 2%. Sebagai contoh, di jalan tol wilayah Orange County, California, lembaga transportasi setempat kehilangan pendapatan sebesar 15 juta dolar pada tahun 2013–2014, di mana sekitar 3,8 juta dolar di antaranya disebabkan oleh kendaraan tanpa pelat nomor. Hal ini dimungkinkan karena adanya celah hukum negara bagian yang memberikan waktu hingga 90 hari bagi pembeli mobil baru untuk memasang pelat nomor resmi. Selama periode itu, pengemudi dapat menggunakan jalan tol tanpa dikenakan sanksi.[45]
Tidak semua pelanggaran dilakukan dengan sengaja. Sebagian disebabkan oleh kerusakan pada transponder, kondisi cuaca buruk seperti salju atau lumpur yang menutupi pelat nomor, atau kurangnya informasi bagi pengguna baru. Misalnya, pada awal pengoperasian jalan tol E-470 di Denver dan Thruway di New York, banyak pelanggaran terjadi karena kurangnya papan petunjuk dan sosialisasi.[43]
Untuk mencegah pelanggaran sengaja maupun tidak sengaja, sejumlah langkah diterapkan:[43]
- pemasangan sinyal suara dan lampu peringatan di area keluar tol yang aktif ketika transaksi belum selesai;
- penggunaan palang otomatis yang terbuka setelah pembayaran terverifikasi, menambah waktu sekitar 1–1,5 detik per kendaraan;
- pengawasan manual oleh operator melalui “cermin transparan” seperti pada Garden State Parkway di New Jersey;
- patroli berkala oleh polisi lalu lintas;
- kampanye media tentang pentingnya pembayaran tol;
- pemasangan kamera CCTV di gerbang tol.
Sikap Publik terhadap Jalan Tol
[sunting | sunting sumber]Kritik dan Oposisi
[sunting | sunting sumber]Jalan tol sering menjadi sasaran kritik baik dari warga maupun pejabat publik.[46]
Keberatan yang paling sering disampaikan meliputi:[47]
- Biaya tol dianggap sebagai bentuk pajak regresif karena tidak memperhitungkan tingkat pendapatan pengemudi;
- Sistem tol tidak efisien karena sebagian besar pendapatan digunakan untuk biaya pengelolaan;
- Pengendara membayar dua kali: melalui pajak kendaraan dan tol;
- Jalan tol memaksa sebagian pengemudi menggunakan jalan alternatif yang lebih lambat, meningkatkan polusi dan kemacetan;
- Pengguna tol elektronik dapat dikategorikan sebagai pelanggar hukum hanya karena keterlambatan pembayaran;
- Operator swasta dianggap memperoleh keuntungan berlebih;
- Jalan tol dapat memengaruhi lokasi bisnis dan menyebabkan ketimpangan ekonomi antarwilayah.
Beberapa politisi juga mengubah pandangan mereka tergantung situasi. Misalnya, Wali Kota Toronto John Tory sebelumnya menyebut jalan tol sebagai “perampokan di jalan raya”, tetapi setelah menjabat, ia justru mengusulkan agar dua jalan utama, Gardiner Expressway dan Don Valley Parkway, dijadikan tol.[48]
Dari sisi sosial, beberapa kekhawatiran yang muncul antara lain:[46]
- Publik tidak mendapatkan porsi keuntungan yang sepadan setelah jalan tol diserahkan ke pihak swasta;
- Jalan tol menyebabkan peningkatan lalu lintas di jalur alternatif, memperpendek masa pakai jalan tersebut;
- Perjanjian konsesi yang panjang (misalnya 75–99 tahun) dianggap tidak adil karena perusahaan bisa balik modal dalam waktu kurang dari 20 tahun;
- Kurangnya transparansi dalam proses perjanjian dan pelaporan keuangan publik.
Protes
[sunting | sunting sumber]Jalan tol juga kerap memicu demonstrasi. Contohnya adalah Kerusuhan Rebecca di Wales Selatan pada tahun 1839–1844, yang dipicu oleh tingginya tarif tol. Akibat protes tersebut, tarif kemudian diturunkan melalui Undang-Undang tahun 1844.[49]
Pada April 2018, ribuan warga di Tirana, Albania melakukan protes terhadap jalan tol yang menghubungkan Albania dan Kosovo, membakar beberapa gerbang tol dan melukai petugas polisi.[50]
Insiden serupa terjadi di Afrika Selatan pada 2012, di mana ribuan orang turun ke jalan menentang kenaikan tarif tol, menyebutnya sebagai “perampokan di jalan”.[51]
Protes juga pernah terjadi di Meksiko, Spanyol, Yunani, dan Rusia, dengan motif yang bervariasi mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga penolakan terhadap privatisasi jalan tol.[52]
Perlindungan Kepentingan Publik
[sunting | sunting sumber]Untuk melindungi kepentingan publik, beberapa prinsip disarankan agar menjadi dasar dalam perjanjian privatisasi jalan tol:[46]
- Pengawasan publik terhadap kebijakan transportasi dan manajemen jalan;
- Batas waktu kontrak maksimal 30 tahun untuk menghindari ketimpangan jangka panjang;
- Transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan pelaporan keuangan;
- Pembagian keuntungan yang adil kepada negara dan masyarakat;
- Standar pemeliharaan jalan dan keselamatan yang tinggi.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Daftar jalan tol di Indonesia
- Tol Laut
- Jasa Marga, operator jalan tol di Indonesia
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Jalan Tol Seharusnya Bukan Singkatan Dari "Tax On Location" - printilan.com". printilan.com. 12 Maret 2024. Diakses tanggal 15 November 2024.
- ↑ "Selama Ini Salah Kaprah, Arti Tol Sebenarnya Bukan Jalan Bebas Hambatan - GridOto.com". otomotifnet.gridoto.com. 8 November 2021. Diakses tanggal 21 November 2021.
- ↑ "Kepanjangan Tol Sebenarnya, Bukan Jalan Bebas Hambatan!". Suara.com. 22 Oktober 2021. Diarsipkan dari asli tanggal 21 November 2021. Diakses tanggal 21 November 2021.
- ↑ Gilliet, Henri (1990). Toll roads-the French experience. Saint-Quentin-en-Yvelines: Transrouts International.
- ↑ "Roman roads and Rome's extended road network". www.romae-vitam.com. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Maret 2018. Diakses tanggal 27 Maret 2018.
- ↑ "Ніч перед Різдвом". Diarsipkan dari asli tanggal 28 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ↑ "Turnpike Roads in England". Diarsipkan dari asli tanggal 6 April 2018. Diakses tanggal 6 April 2018.
- ↑ Albert 1972, hlm. 14.
- ↑ Webb 1922.
- ↑ Sidney 1972, hlm. 31.
- ↑ Simkin, John (Desember 2016). "Turnpike Trusts". spartacus-educational.com. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ↑ Калинин, Михаил (29 Mei 2017). "Какими были в XVIII веке первые платные дороги в России". rg.ru. АвтоПАРК. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Maret 2018. Diakses tanggal 13 Maret 2018.
- ↑ http://www.newsday.com/community/guide/lihistory/ny-history-hs701a,0,6567870.story
- ↑ "Track Germany". Diarsipkan dari asli tanggal 17 Mei 2021. Diakses tanggal 16 Mei 2018.
- ↑ "Italian Toll Roads - A Guide to Toll Roads in Italy". www.rhinocarhire.com. 17 Agustus 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- 1 2 Дмитриенко, Иван (13 Februari 2017). "Им любые дороги дороги". www.profile.ru. Профиль. Diarsipkan dari asli tanggal 18 September 2018. Diakses tanggal 18 September 2018.
- ↑ "Portuguese Toll Roads - A Guide to Toll Roads in Portugal". www.rhinocarhire.com. Oktober 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ↑ "Sejarah Jalan Tol Indonesia". Badan Pengatur Jalan Tol. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Sejarah Jagorawi, Jalan Tol Pertama di Indonesia Dibuka 9 Maret 1978". Kompas.com. 9 Maret 2022. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Inilah Jalan Tol Pertama di Pulau Sumatera yang Sudah Beroperasi Sejak 1986". Harian Haluan. 5 Januari 2024. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Presiden: Peresmian Tol Pertama di Kalimantan Jadi Momen Bersejarah". Antara News. 24 Agustus 2021. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Perkembangan Jalan Tol di Indonesia". Kementerian PUPR. 10 Juni 2023. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Panjang Jalan Tol Indonesia Tembus 3.000 Kilometer". Bisnis.com. 5 Januari 2025. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Congestion Charge". tfl.gov.uk. Transport for London. Diarsipkan dari asli tanggal березень 13, 2018. Diakses tanggal 13 березня 2018. ; (Inggris)
- 1 2 3 4 De Palma, André; Lindsey, Robin (Sept.9, 2009). "Traffic Congestion Pricing Methods and Technologies". hal.archives-ouvertes.fr. Diarsipkan dari asli tanggal березень 12, 2018. Diakses tanggal 12 березня 2018. ; (Inggris)
- ↑ "An evolution of tolling" (PDF). www.njta.com. KPMG International. Juni 2015. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 April 2018. Diakses tanggal 4 April 2018. (Inggris)
- ↑ "Electronic Toll Collection Systems" (PDF). www.njta.com. Center For Transportation Research. Mei 1995. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 April 2018. Diakses tanggal 4 April 2018. (Inggris)
- 1 2 3 4 Peters, Jonathan R.; Kramer, Jonathan K.; Kress, Michael E. "Transitioning Barrier Toll Collection Systems to Open Road Tolling" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 19 Maret 2018. Diakses tanggal 19 Maret 2018. (Inggris)
- ↑ "Highway toll in Europe". www.tolls.eu. Diarsipkan dari asli tanggal 6 April 2018. Diakses tanggal 6 April 2018. (Inggris)
- ↑ "ABOUT NJTA". www.njta.com. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Maret 2018. Diakses tanggal 21 Maret 2018. (Inggris)
- ↑ "Toll Collection Systems". www.pupin.rs. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Mei 2018. Diakses tanggal 8 Mei 2018. (Inggris)
- ↑ "Malaysia Toll Roads – A guide to toll roads in Malaysia". rhinocarhire.com. Diakses tanggal 8 Mei 2018. ; (Inggris)
- ↑ Furth, Peter (30 Agustus 2016). "Pros and Cons of the New Open-Road Tolling System". www.coe.neu.edu. Northeastern University. Diakses tanggal 8 Mei 2018. ; (Inggris)
- ↑ "All-Electronic Tolling (AET) vs. Open-Road Tolling (ORT) in New Hampshire" (PDF). Lower Bellamy River Collaborative (LBRC). Diakses tanggal 13 April 2018. ; (Inggris)
- ↑ Elliott, Christopher (10 Agustus 2015). "Don't let the toll booth slow you down". USA Today. Diakses tanggal 19 Maret 2018. (Inggris)
- ↑ "Tolling is an Important Feature of the US Transportation Landscape" (PDF). International Bridge, Tunnel and Turnpike Association. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 19 Maret 2018. Diakses tanggal 19 Maret 2018. (Inggris)
- ↑ "FAQs". www.m6toll.co.uk. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Maret 2018. Diakses tanggal 19 Maret 2018. (Inggris)
- ↑ "Lostrivers.ca". Diarsipkan dari asli tanggal 19 Mei 2014. Diakses tanggal 19 Maret 2018.(Inggris)
- ↑ "Canada Toll Roads – A guide to toll roads in Canada". www.rhinocarhire.com. Februari 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Maret 2018. Diakses tanggal 15 Maret 2018.(Inggris)
- ↑ "FAQ". www.cobequidpass.com. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Maret 2018. Diakses tanggal 16 Maret 2018.(Rusia)
- ↑ "Toll". www.a30express.com. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Maret 2018. Diakses tanggal 16 Maret 2018.(Rusia)
- ↑ "FAQ". www.407etr.com. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Maret 2018. Diakses tanggal 16 Maret 2018.(Rusia)
- 1 2 3 4 Schaufler 1997, hlm. 16.
- ↑ Navoy, Sarah (5 Mei 2016). "Unreadable plates allowing Texas toll road drivers to cheat the system". cbsaustin.com. CBS Austin. Diakses tanggal 22 Maret 2018.
- ↑ Wisckol, Martin (24 Maret 2015). "Since nixing booths, toll roads continue to struggle with unpaid tolls, deliberate violators". ocregister.com. The Orange County Register. Diakses tanggal 23 Maret 2018.
- 1 2 3 Baxandall, Phineas (Musim Semi 2009). "Private roads, public costs" (PDF). U.S. PIRG. Diakses tanggal 24 Maret 2018.
- ↑ "No Tolls". NAAT. 2015. Diakses tanggal 26 Maret 2018.
- ↑ Lupton, Andrew (11 Februari 2015). "Tory set to defend road tolls against all critics, including Doug Ford". CBC News. Diakses tanggal 24 Maret 2018.
- ↑ Jones 2016, hlm. 139–141.
- ↑ "Toll road sparks civil unrest in Albania". Tirana Times. 6 April 2018. Diakses tanggal 23 Juli 2018.
- ↑ "South Africans march in mass protest at toll roads". BBC News. 7 Maret 2012. Diakses tanggal 24 Juli 2018.
- ↑ "It's day 24 of Oaxaca's highway blockades". Mexico News Daily. 5 Juli 2016. Diakses tanggal 26 Juli 2018.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Herbert, Trevor; Jones, Gareth Elwyn, ed. (1988). "The Rebecca Riots oleh David Howell". People & Protest: Wales 1815-1800. Welsh History and its sources. Cardiff: University of Wales Press. hlm. 113–138. ISBN 0-7083-0988-7.
- Jones, Rhian E. (2016). Gender, Culture and Popular Protest in the Rebecca Riots. University of Wales Press. hlm. 224. ISBN 9781783167883.
- Webb, Sidney; Webb, Beatrice (1922). English Local Government: Statutory Authorities for Special Purpose. London: Longmans, Green and Co. hlm. 159–165.
- Schaufler, Albert E. (1997). Toll Plaza Design. A Synthesis of Highway Practice. Washington, DC: Transportation Research Board. hlm. 115. ISBN 0-309-06016-8. Diakses tanggal 21 Maret 2018.
- Albert, William (1972). The Turnpike Road System in England. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 303. ISBN 0-521-03391-8. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ДБН (2007). ДБН В.2.3-4:2007. АВТОМОБІЛЬНІ ДОРОГИ. Bagian I: Perancangan. Bagian II: Konstruksi. Kiev: Мінрегіонбуд України.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Situs web resmi Pengelola Jalan Tol di Indonesia Diarsipkan 2007-06-12 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Situs Resmi Badan Pengatur Jalan Tol - Departemen Pekerjaan Umum
- (Indonesia) Informasi Jalan Tol JMTIC (Jasa Marga Traffic Information Center) Diarsipkan 2021-11-04 di Wayback Machine.