Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta
Dalamkota.PNG
Gambar rencana dari Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta koridor Duri Pulo-Kampung Melayu, crossing dengan Jalan Jendral Sudirman.
Panjang69,77 km
Dibangun2015-2020
PengelolaPT Jakarta Tollroad Development

Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta atau sering disebut dengan 6 Ruas Jalan Tol Dalam Kota Jakarta adalah rencana jalan tol yang akan mengadopsi konstruksi jalan layang penuh dengan integrasi dengan transportasi umum (BRT). Jalan tol ini terdiri dari 6 ruas dan secara keseluruhan memiliki panjang 69,77 kilometer. Ditargetkan 6 ruas jalan tol tersebut akan dioperasikan pada tahun 2020.

Seksi[sunting | sunting sumber]

Rencana koridor Duri Pulo-Kampung Melayu berdampingan dengan Kanal Banjir Barat
Rencana simpang susun ruas Semanan-Sunter dengan JORR W1

Seksi 1[sunting | sunting sumber]

Semanan-Sunter

Panjang 20,23 kilometer dengan nilai investasi Rp 9,76 triliun.

Sunter-Pulogebang

Panjang 9,44 kilometer dengan nilai investasi Rp 7,37 triliun.

Seksi 2[sunting | sunting sumber]

Duri Pulo-Kampung Melayu

Panjang 12,65 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,96 triliun.

Kampung Melayu-Kemayoran

Panjang 9,60 kilometer dengan nilai investasi Rp 6,95 triliun.

Seksi 3[sunting | sunting sumber]

Ulujami-Tanah Abang

Panjang 8,70 kilometer dengan nilai investasi Rp 4,25 triliun.

Seksi 4[sunting | sunting sumber]

Pasar Minggu-Casablanca

Panjang 9,15 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,71 trilliun.

Pintu Tol[sunting | sunting sumber]

Untuk jalan tol ini, titik keluar masuk yang jauh lebih sedikit dibanding ruas jalan tol-tol lainnya dengan jarak antar titik 7 kilometer. Sedikitnya jumlah pintu masuk dan keluar atau on/off ramp ini bertujuan untuk mengurangi dampak kemacetan di jalan reguler yang ditimbulkan oleh kendaraan yang antre di pintu tol.[1] Ada sembilan titik pintu tol yakni:

Transportasi massal[sunting | sunting sumber]

Jalan tol ini akan menjadi rute bus ulang-alik tanpa jalur khusus. Bus ini akan ditunjang oleh halte (bus bay) yang ditempatkan di tempat yang strategis dan dilengkapi dengan eskalator untuk naik dan tangga untuk turun, sehingga bus tidak perlu keluar dari jalan tol untuk menaik-turunkan penumpang.[2]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Salah satu pengamat transportasi menilai pembangunan 6 ruas jalan tol Jakarta tidak akan mengurai kemacetan secara efektif dengan alasan bila jalanan bertambah, maka akan diiringi dengan penambahan kendaraan. Masyarakat pun membuat petisi online untuk menentang pembangunan 6 ruas jalan tol ini.

Referensi[sunting | sunting sumber]