Zygmunt Bauman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Zygmunt Bauman
Zigmunt Bauman na 20 Forumi vydavciv.jpg
Lahir19 November 1925 (umur 95)
Poznań, Polandia
EraFilsafat abad ke-20/ abad ke-21
KawasanFilsafat Barat
AliranFilsafat kontinental · Marxisme Barat
Minat utama
Etika · Filsafat politik · Sosiologi · Postmodernisme · Seni postmodern

Zygmunt Bauman adalah seorang teoretis kritis dan sosiolog yang berasal dari Polandia.[1] Ia adalah seorang pemikir kritis yang melewati tiga masa peradaban dunia, yakni masa Holokaus, Modernisme dan Postmodernisme, serta menjadi tokoh Eropa yang paling berpengaruh di bidang sosiologi.[1]

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Zygmunt Bauman lahir di Pozna, Polandia pada tanggal 19 November 1925.[1] Sewaktu muda ia pindah ke Rusia bersama keluarganya untuk melarikan diri dari invasi NAZI, turun dalam kesatuan militer Polandia selama Perang Dunia Kedua, dan menjabat sebagai mayor dalam kesatuan militer.[1] Kemudian, ia berbalik arah dan menekuni dunia sosial, di mana saat itu sosiologi disatukan dengan filsafat kontinental.[1] Pada tahun 1968, ia mendapat gelar professor sosiologi dari Universitas Warsawa Polandia dan sempat mengajar di sana.[1] Tak lama kemudian ia dipecat dari jabatan pengajar di universitas tersebut karena diketahui menyimpan identitas ayahnya yang adalah penganut Zionisme.[2] Zygmunt Bauman bersama keluarganya meninggalkan Polandia dan pindah ke Leeds, Inggris, untuk menyelesaikan studinya.[2] Sebelumnya, ia sempat menjadi staff pengajar di Universitas Tel Aviv Israel dan sampai pada akhirnya ia menjadi guru besar di Universitas Leed Inggris.[2]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Holokaus dan Modernitas[sunting | sunting sumber]

Holokaus menjadi sebuah peristiwa penting dalam sejarah dunia, terutama menjelang periode perang dunia kedua.[3] Jerman yang dipimpin oleh Hitler sangat membenci orang-orang Yahudi dan menghendaki adanya pemurnian Ras Aria di negara tersebut.[3] Pada masa Holokaus terjadi pembasmian terhadap orang-orang keturunan Yahudi dengan berbagai cara; mereka ditangkap, dimasukkan ke dalam kamp-kamp konsentrasi, disiksa dan dibunuh secara massal.[3]

Menurut Zygmunt Bauman, Holokaus menjadi salah satu ujian penting bagi zaman modern sehingga Holokaus jangan dipahami sebagai kecelakaan dalam sejarah zaman modern, melainkan bagian dari modernitas itu sendiri.[3] Fenomena Holokaus menjadi bahan evaluasi untuk kejadian-kejadian maupun pemikiran-pemikiran yang berkembang pada era modern, salah satunya perspektif objektivitas.[3] Perspektif ini menjelaskan setiap orang memandang orang lain sebagai sebuah objek yang diamati dan diperlakukan layaknya sebuah benda.[3] Menurutnya,ketika seseorang mengidentifikasikan objek, maka yang tergambar bukanlah objek yang sesungguhnya melainkan interpretasinya akan objek tersebut.[3]

Zygmunt Bauman menanggapi bahwa masyarakat di era modern adalah masyarakat yang berada dalam kebutaan etis.[4] Kebutaan ini terjadi karena adanya pemisahan fungsional yang memiliki dampak tertentu sehingga menjauhkan individu dengan individu-individu lainnya.[4] Oleh karena adanya jarak sosial dalam masyarakat, maka tidak ada nilai-nilai etis pada masa modern ini.[4]

Postmodernisme[sunting | sunting sumber]

Zaman postmodern hadir untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan maupun kekurangan-kekurangan yang masih terjadi di zaman modern.[5] Menyikapi masa postmodern ini, Zygmunt Bauman berpendapat bahwa pandangan orang mulai berubah dari yang memandang sesama manusia sebagai objek menjadi memandang sesamanya sebagai subjek.[5] Hal itulah yang melahirkan paham yang dikenal sebagai subyektivisme.[5] Selain itu, zaman postmodern juga melahirkan relativisme dan empirisme serta bersifat dekonstruktif.[5] Zaman Postmodern melihat pengetahuan sebagai salah satu optimisme dan melihat bahasa sebagai petunjuk bukan sebagai instrumen untuk memahami konteks sosial.[5]

Bagi Zygmunt Bauman, postmodernisme dilihat sebagai kesadaran modernitas atas sifat dasarnya.[5] Ia melihat postmodern sebagai bentuk modernitas yang mengkritik, mencemarkan, dan merombak pengetahuan serta nilai-nilai yang sudah ada.[5] Selain itu, postmodernisme dilihat sebagai karakteristik modernitas yang paling terlihat, seperti adanya pluralisme yang terstruktur, kemajemukan masyarakat,dan ambivalensi dalam bertindak.[6] Zygmunt Bauman melihat ambivalensi sebagai sebuah tindakan atau perasaan yang bertentangan, yaitu sebuah aksi yang tidak ditetapkan oleh faktor-faktor eksternal manusia.[6] Dalam dunia politik postmodern, ambivalensi seperti itu menjadi dimensi utama dari ketidaksetaraan.[6] Hal itu menuntut pengetahuan sebagai kunci untuk kebebasan dan mempertinggi tingkatan sosial, sehingga menimbulkan pemisahan ciri-ciri antara pengetahuan dan peniruan diri, dengan aspek kognitif.[6]

Era postmodern juga mengakibatkan kebenaran yang relatif.[6] Orang-orang cenderung memiliki kebenaran yang berbeda-beda satu sama lainnya.[6] Keadaan ini sebenarnya menjadi ciri yang paling kentara dengan zaman postmodern.[6] Menurut Zygmunt Bauman, perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara manusia disebabkan karakter manusia yang cenderung tidak mau diatur.[6] Pada zaman ini Zigmunt Bauman juga menyatakan bahwa pengetahuan sama seperti cairan yang tidak memiliki bentuk tetap dan terus bergerak dengan bebas ke mana pun ia pergi dan beranjak.[6] Dengan kata lain, tidak ada sebuah bentuk yang pasti dan utuh sehingga kebenaran itu akan terus berubah sesuai dengan konteks lingkungan sekitarnya.[6]

Zygmunt Bauman mengatakan era postmodern dapat didefinisikan sebagai pencarian individu untuk kesenangan luhur dengan mengorbankan keamanan.[7] Sekarang pandangan dunia baru telah muncul bersama individu yang menjadi intinya.[7] Dalam hal itu, postmodernisme adalah semacam pengalaman reflektif intelektual dalam sejarah atau konteks sosial, atas dominasi struktur global, redundansi legitimasi intelektual, penindasan dan perkembangan pesat budaya.[7]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f (Inggris) George Ritzer,ed. 2006. Encyclopedia of Social Theory vol.1. California: SAGE Reference Publication
  2. ^ a b c (Inggris) Michael Hviid Jacobsen dan Poul Poder. The Sociology of Zygmunt Bauman – Challenges and Critique
  3. ^ a b c d e f g (Inggris) Zigmunt Bauman. 2000. Modernity and the Holocaust. New York: Cornell University Press
  4. ^ a b c (Inggris) Zigmunt Bauman. 2006. Liquid of Modernity. Cambridge: Polity Press.
  5. ^ a b c d e f g (Inggris) Zygmunt Bauman. 1996. Postmodern Ethics. Cambridge: Blackwell
  6. ^ a b c d e f g h i j (Inggris) Zygmunt Bauman. 1997. Life in Fragments: Essays Postmodern Morality. Cambridge: Blackwell.
  7. ^ a b c (Inggris) Wouter de Vries. 2005. Bauman’s (post)modernism and Globalization. Gographical Approaches