Westernisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Sebuah contoh dari Westernisasi: zaman Meiji, Jepang, Pangeran Yorihito Higashifushimi mengenakan seragam angkatan laut bergaya Barat
Mirip dengan seragam Jenderal AS John C. Bates.

Westernisasi, juga Eropanisasi atau oksidentalisasi (dari kata Oksiden, yang artinya dunia barat; lihat "oksiden" di kamus), adalah sebuah proses di mana masyarakat berada dalam pengaruh atau mengadopsi budaya Barat dalam berbagai bidang seperti industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, gaya makan, pakaian, bahasa, alfabet, agama, filsafat, dan nilai-nilai.[1]

Westernisasi juga dapat dikaitkan dengan akulturasi dan enkulturasi.

Definisi Barat[sunting | sunting sumber]

Teritorial[sunting | sunting sumber]

"Barat" awalnya didefinisikan sebagai dunia Barat. Romawi Kuno membedakan antara budaya Oriental (Timur, atau Asia) yang sekarang berada di Mesir dan budaya Oksidental yang berada di Barat. Seribu tahun kemudian, Skisma Timur-Barat memisahkan Gereja Katolik and Gereja Ortodoks Timur.

Sipilisasi Barat umumnya dikatakan meliputi Amerika Utara (A.S. dan Kanada), Eropa (di setidaknya Uni Eropa, negara-negara EFTA, negara-negara mikro Eropa), Australia dan Selandia Baru.

Definisi tersebut sering diluaskan, dan dapat meliputi negara-negara tersebut, atau kombinasi dari negara-negara tersebut:

  • Amerika Latin. Beberapa negara di Amerika Latin dianggap sebagai negara-negara Barat, sebagian besar karena kebanyakan penduduknya adalah keturunan Eropa (pemukim Spanyol dan Portugis dan kemudian imigrasi dari negara-negara Eropa lainnya). Dan masyakarat mereka mengoperasikan dalam cara Westernisasi yang tinggi. Kebanyakan negara di Amerika Latin menggunakan bahasa Spanyol atau bahasa Portugis sebagai bahasa resmi mereka. Menurut CIA -The World Factbook-, terdapat pula imigran di Amerika Latin dari negara-negara Eropa lainnya selain Spanyol dan Portugal, (Contohnya, dari Jerman, Italia, Belanda, dll. Lihat Imigrasi ke Argentina, Imigrasi ke Chili atau Imigrasi ke Brasil.).[2]
  • Turki. Meskipun secara geografi hanya 3% wilayah Turki yang berada di Eropa, Turki memiliki sistem ekonomi yang mirip, memiliki sebuah serikat pabean dengan Uni Eropa selain menjadi kandidat resmi untuk keanggotaannya, dan anggota organisasi-organisasi bergaya Barat seperti OECD, Dewan Eropa, dan NATO. Negara tersebut sering menjadi anggota organisasi untuk acara-acara olahraga dan kebudayaan Eropa seperti UEFA dan Kontes Menyanyi Eurovision.
  • Israel.[3][4] Meskipun secara geografi Israel berada di Timur Tengah selatan Lebanon, Israel memiliki berbagai imigran Yahudi dari negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, Britania Raya, Perancis dan Jerman. Negara tersebut adalah anggota OECD. Negara tersebut sering menjadi anggota organisasi untuk acara-acara olahraga dan kebudayaan Eropa seperti UEFA dan Kontes Menyanyi Eurovision. Menurut Sammy Smooha, seorang profesor emeritus sosiologi di Universitas Haifa, Israel dideskripsikan sebagai sebuah “hibrida,” sebuah negara “semi-Barat” yang modern dan berkembang. Pada suatu saat, ia berkata, Israel akan menjadi ”lebih dan lebih Barat.” Namun sebagai hasil dari persengketaan Arab-Israel, Westernisasi secara penuh akan berproses lambat di Israel.[4]
  • Lebanon. Meskipun secara geografi Lebanon terletak di Timur Tengah utara Israel, Lebanon memiliki setidaknya 40% Kristen yang sangat terpengaruhi budaya dan sosial dari negara-negara Barat (utamanya Perancis yang memiliki kaitan sejarah pada awal negara Salin di Wilayah Tripoli yang didirikan oleh Raymond IV dari Toulouse yang menguasai sebagian besar Lebanon pada masa sekarang. Warisan Perancis pada masyarakat Lebanon adalah pengetahuan tentang bahasa Perancis).
  • Jepang dan Korea Selatan. Meskipun secara geografi Jepang dan Korea Selatan terletak di Asia Timur, mereka memiliki bentuk pemerintahan demokratis, sistem ekonomi pasar bebas, standar hidup yang tinggi dan kontribusi-kontribusi utama pada ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, dan dideskripsikan sebagai "hibrida," negara "semi-Barat" yang modern dan berkembang.
  • Afrika Selatan. Karena pengaruh yang tinggi dari budaya Eropa di tempat-tempat seperti Afrika Selatan

Proses Westernisasi[sunting | sunting sumber]

Kolonisasi (1492–1960an)[sunting | sunting sumber]

Konsekuensi[sunting | sunting sumber]

Karena kolonisasi dan imigrasi Eropa, bahasa-bahasa asli di Amerika, Australia, Selandia Baru, Asia Utara dan sebagian dari Afrika Selatan dan Asia Tengah, sekarang sering menggunakan bahasa-bahasa Eropa dan kreol:

Contoh para pemimpin yang melakukan Westernisasi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Thong, Tezenlo. "‘To Raise the Savage to a Higher Level:’ The Westernization of Nagas and Their Culture," Modern Asian Studies 46, no. 4 (Juli 2012): 893-918
  2. ^ "CIA - The World Factbook -- Field Listing - Ethnic groups". Diakses tanggal 2008-02-20. 
  3. ^ Richard T. Arndt, David Lee Rubin (1996). The Fulbright difference. Studies on cultural diplomacy and the Fulbright experience. Transaction Publishers. hlm. 53. ISBN 9781560008613. Diakses tanggal 2010-05-26. 
  4. ^ a b Sheldon Kirshner (2013-10-16). "Is Israel Really a Western Nation?". Sheldon Kirshner Journal. Diakses tanggal 2013-11-09. 
  • Gunewardene, Huon, and Zheng (2001). Exposure to Westernization and Dieting: A Cross-Cultural Study. Int. J. Eat. Disord., 29: pp. 289–293.
  • Khondker (2004). Glocalization as Globalization: Evolution of a Sociological Concept. Bangladesh e-Journal of Sociology. Volume 1. Number 2. pp. 12–20.

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Templat:Asimilasi kebudayaan