Ibu suri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Ibu Suri adalah gelar untuk ibu dari penguasa monarki. Gelar ini juga dapat diperuntukkan kepada permaisuri yang telah menjanda. Meskipun demikian, tidak setiap ibu dari penguasa monarki atau janda permaisuri mendapat gelar ibu suri secara otomatis. Hal ini dikarenakan perbedaan hukum dan adat yang berlaku di tiap daerah.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Asia Timur[sunting | sunting sumber]

Kebudayaan Asia Timur memiliki gelar yang dapat disejajarkan dengan ibu suri. Dikarenakan kedudukan kaisar lebih tinggi dari raja, maka kedudukan ibu suri kaisar juga lebih tinggi dari ibu suri raja. Gelar ibu suri ditulis dalam huruf Tiongkok 皇太后 dan dibaca húangtàihòu dalam bahasa Tionghoa dan kōtaigō dalam bahasa Jepang. Gelar ini dapat disandang oleh ibu kandung kaisar dan permaisuri yang telah menjanda, menjadikannya dapat disandang oleh lebih dari satu orang dalam satu masa. Pada masa Kaisar Zaichun, gelar ini diberikan kepada Cixi (ibu kandung Kaisar Zaichun yang merupakan selir dari kaisar sebelumnya, Yi Zhu) dan Ci'an (permaisuri dari mendiang Kaisar Yi Zhu). Ibu Suri juga menjadi pihak yang paling berhak mengurus pemerintahan saat kaisar terlalu muda untuk memerintah.

Gelar lain yang terkait dengan ibu suri dalam kebudayaan Asia Timur adalah ibu suri tua atau ibu suri agung. Gelar ini ditulis 太皇太后 dan dibaca tàihuángtàihòu dalam bahasa Tionghoa dan taikōtaigō dalam bahasa Jepang. Gelar ini diperuntukkan untuk nenek kaisar atau wanita lain yang berada dalam satu generasi dengan nenek kaisar.

Utsmani[sunting | sunting sumber]

Ibu Suri dari Kesultanan Utsmani bergelar valide sultan (bahasa Utsmani: والده سلطان‎) dan gelar ini digunakan pertama kali oleh Hafsa Sultan, ibu dari Sultan Suleiman.[1] Valide Sultan adalah pemimpin dan pengambil keputusan dari urusan harem atau rumah tangga istana dan menjadi penasihat sultan dalam urusan pemerintahan. Saat sultan dirasa mengeluarkan pendapat yang kurang tepat, para wazir dapat menghadap valide sultan dan meminta agar memberi nasihat kepada sultan agar dapat mengambil keputusan yang lebih tepat. Di masa yang sering disebut sebagai Kesultanan Wanita, beberapa ibu suri bahkan memiliki pengaruh yang teramat besar dalam urusan pemerintahan melebihi sultan sendiri.[2]

Eropa[sunting | sunting sumber]

Gelar yang setara dengan ibu suri setidaknya telah digunakan di Inggris sejak tahun 1557.[3] Sebelumnya, tidak ada gelar khusus yang dapat disejajarkan dengan ibu suri dalam bahasa Indonesia. Di Eropa pada umumnya, saat seorang permaisuri menjanda dan menjadi ibu suri, dia masih memegang gelar yang sama seperti saat menjadi permaisuri.

Saat George VI, Raja Inggris Raya, mangkat pada 6 Februari 1952, putri tertuanya naik tahta sebagai Elizabeth II. Sesuai dengan gelar yang biasa digunakan lingkungan istana, janda George yang juga bernama Elizabeth akan disapa dengan sebutan "Queen Elizabeth", mirip dengan putri mereka yang menjadi ratu yang bergelar "Queen Elizabeth II." Untuk menghindarkan dari kebingungan, janda George sekaligus ibu Elizabeth II disapa dengan sebutan "The Queen Mother," gelar yang dapat disejajarkan dengan ibu suri dalam bahasa Indonesia.

Gelar ibu suri hanya terbatas diperuntukkan kepada ibu dari penguasa monarki yang sedang memerintah sekaligus permaisuri dari penguasa sebelumnya.[4] Ibu dari penguasa monarki yang tidak pernah menjadi permaisuri, tidak akan menerima gelar ibu suri. Sebagai contoh, Duchess Kent menjadi "Ibu dari Ratu" ketika putrinya, Victoria, menjadi ratu, tetapi tidak mendapatkan gelar "ibu suri" karena ibu Ratu Victoria sendiri tidak pernah menjadi permaisuri sebelumnya.

Afrika[sunting | sunting sumber]

Di Swaziland, yang terletak di Afrika bagian selatan, ibu suri, atau Ndlovukati, memerintah bersama anaknya. Dia berfungsi sebagai tokoh ritual, sementara anaknya berfungsi sebagai kepala administrasi negara. Dia memiliki kekuasaan mutlak. Dia adalah tokoh yang penting di festival seperti upacara tari buluh tahunan.

Di dalam banyak masyarakat matrilineal di Afrika Barat, seperti Ashanti, ibu suri adalah salah satu orang yang penting karena melaluinya keturunan kerajaan diperhitungkan dan dengan demikian dia memiliki kekuasaan yang cukup besar. Salah satu pemimpin terbesar Ashanti adalah Ibu Suri Yaa Asantewaa (1840-1921), yang memimpin rakyatnya melawan Britania Raya selama Perang Mata-mata Emas pada tahun 1900.

Daftar ibu suri terkemuka[sunting | sunting sumber]

  • Gayatri Rajapatni, menjadi Ibu Suri Majapahit (1309–1350) pada masa Raja Jayanagara dan Ratu Tribhuwanotunggadewi. Menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh di istana dalam, dan kemungkinan juga menjadi pendukung Gajah Mada, yang kemudian menjadi patih paling cakap dalam sejarah Majapahit. Saat Jayanagara mangkat dibunuh, Gayatri merupakan pihak yang paling berhak duduk di tahta. Namun karena saat itu dia sudah menjadi bhikkuni, putrinya, Tribhuwanotunggadewi, naik tahta sebagai ratu.
  • Kösem Sultan, menjadi Ibu Suri Utsmani (1623–1651) pada masa pemerintahan dua putranya, Murad IV dan Ibrahim, dan cucunya, Mehmed IV. Dia menjadi salah satu wanita paling berpengaruh dalam sejarah Utsmani, dan mengatur kesultanan sebagai wali sultan saat Murad dan Mehmed dipandang terlalu muda untuk memerintah.
  • Cixi, menjadi Ibu Suri Dinasti Qing (1861–1908) pada masa kekuasaan putra dan keponakannya, Zaichun (Tongzhi) dan Zaitian (Guangxu). Menjadi penguasa kekaisaran secara de facto selama sekitar 40 tahun.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Davis, Fanny (1986). "The Valide". The Ottoman Lady: A Social History from 1718 to 1918. ISBN 0-313-24811-7. 
  2. ^ Peirce, Leslie P., The Imperial Harem: Women and Sovereignty in the Ottoman Empire, Oxford University Press, 1993, ISBN 0-19-508677-5 (paperback)
  3. ^ Oxford English Dictionary
  4. ^ A queen mother is defined as "A Queen dowager who is the mother of the reigning sovereign" by both the Oxford English Dictionary and Webster's Third New International Dictionary.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]