Pendudukan Jepang di Singapura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Syonan-to

昭南島 Shōnantō
1942–1945
{{{coat_alt}}}
Lambang kekaisaran
SemboyanHakkō ichiu
(八紘一宇)
Lokasi Pendudukan Jepang di Singapura
Kekaisaran Jepang pada puncaknya tahun 1942: *   Jepang *   Koloni / Mandat *   Negara boneka / Protektorat / Wilayah pendudukan / Thailand (Blok Poros)
Kekaisaran Jepang pada puncaknya tahun 1942:
StatusPendudukan militer oleh Kekaisaran Jepang
Ibu kota
Singapura
1°17′N 103°50′E / 1.283°N 103.833°E / 1.283; 103.833
Bahasa resmi
dan bahasa nasional
Jepang
Common languagesTionghoa, Melayu, Tamil, Inggris
Agama
De jure: Tidak ada
De facto: Shinto[nb 1]
PemerintahanPendudukan militer oleh negara kesatuan dengan sistem satu partai statisme Showa monarki konstitusional di bawah totaliter kediktatoran militer
Kaisar 
• 1942-1945
Shōwa
Perdana Menteri 
• 1942-1944
Hideki Tojo
• 1944-1945
Kuniaki Koiso
Era SejarahPerang Dunia II
• Perang Pasifik dimulai
8 Desember 1941a
• Britania menyerahkan Singapura kepada Kekaisaran Jepang

15 Februari 1942
November 1944 – Mei 1945
15 Agustus 1945
• Singapura diserahkan kepada Administrasi Militer Inggris di Malaya

12 September 1945

1 April 1946
Mata uangDolar yang dikeluarkan pemerintah Jepang di Singapura, Malaya, Kalimantan Utara, Sarawak, dan Brunei
Zona waktuWaktu Standar Tokyo
(UTC+9)
Format tanggal
  • yyyy-mm-dd
  • yyyy年m月d日
  • Era yy年m月d日 (CE−1988)
Lajur kemudikiri
Kode ISO 3166JP
Didahului oleh
Digantikan oleh
Singapura di bawah pemerintahan Negeri-Negeri Selat
Administrasi Militer Inggris (Malaya)
Sekarang bagian dari Singapura
  1. Perang Pasifik dimulai pada 8 Desember 1941 di zona waktu Asia, tetapi sering disebut dimulai pada 7 Desember, karena itu adalah tanggal dalam zona waktu Eropa dan Amerika (seperti untuk serangan terhadap Pearl Harbor di Hawaii, Amerika Serikat).
Syonan or Shonan
Makna literal: Cahaya Selatan
Nama Jepang
Kanji: 昭南
Hiragana: しょうなん
Katakana: ショウナン
Kyujitai: 昭南
Peta Singapura selama pendudukan Jepang
Letjen Yamashita Tomoyuki (duduk di tengah) memukul meja dengan kepalan tangannya untuk menegaskan caranya — menyerah tanpa syarat. Letjen Arthur Ernest Percival duduk di antara opsirnya di sebelah kanan.


Pendudukan Jepang di Singapura adalah periode dalam sejarah Singapura antara tahun 1942 hingga tahun 1945, ketika pasukan Jepang menduduki Singapura selama Perang Dunia II, setelah mengalahkan pasukan gabungan Australia, Britania Raya, India dan Malaya. Pendudukan ini menjadi poin balik utama pada sejarah beberapa negara, termasuk Jepang dan Britania Raya, dan lalu koloni Singapura itu sendiri. Singapura kemudian dinamakan Syonan (bahasa Jepang: 昭南, Hepburn: Shōnan, Kunrei-shiki: Syônan), atau secara resmi Syonan-to (bahasa Jepang: 昭南島, Hepburn: Shōnan-tō, Kunrei-shiki: Syônan-tô) yang berarti "Cahaya Selatan". Singapura yang merupakan pangkalan utama militer Sekutu menjadi sasaran utama Jepang. Di Singapura banyak yang merasa bahwa Singapura akan diserang lebih dahulu sebelum menyerang Malaya. Britania Raya menyediakan kontingen perang terbaiknya, termasuk adanya kapal perang HMS Prince of Wales dan kapal perang HMS Repulse. Pada tanggal 8 Desember 1941, tentara Jepang mendarat di Kota Bharu, Kelantan. Dua hari setelah tentara Jepang mendarat, kapal Prince of Wales dan kapal Repulse tenggelam akibat dimusnahkan oleh tentara Jepang. Tentara Jepang menyerang Malaya yang menyebabkan tentara Britania Raya terpaksa mundur ke Singapura. Menjelang 31 Januari 1942, 55 hari sejak dimulainya invasi Jepang, Jepang berhasil menguasai Malaya dan siap menyerang Singapura. Setelah beberapa pertempuran, Letjen Arthur Ernest Percival dan tentara Britania Raya menyerah kepada jendral Yamashita Tomoyuki pada tanggal 15 Februari 1942. Kurang lebih 130.000 tentara India, Australia dan Britania Raya menjadi tahanan perang.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Explore Japan National Flag and National Anthem". Diakses tanggal 29 January 2017. 
  2. ^ "National Symbols". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 February 2017. Diakses tanggal 29 January 2017. 
  3. ^ Josephson, Jason Ānanda (2012). The Invention of Religion in Japan. University of Chicago Press. hlm. 133. ISBN 978-0226412344. 
  4. ^ Thomas, Jolyon Baraka (2014). Japan's Preoccupation with Religious Freedom (Ph.D.). Princeton University. p. 76. http://arks.princeton.edu/ark:/88435/dsp01xp68kg357. 


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "nb", tapi tidak ditemukan tag <references group="nb"/> yang berkaitan