Lompat ke isi

Perang Saudara Tiongkok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Saudara Tiongkok
Bagian dari Periode antarperang, Revolusi Komunis Tiongkok dan Perang Dingin di Asia
Searah jarum jam dari kiri atas:
Tanggal
  • 1 Agustus 1927  26 Desember 1936 (Fase pertama)[1]
    (9 tahun, 4 bulan, 3 minggu dan 4 hari)
  • 10 Agustus 1945  7 Agustus 1950 (Fase kedua)
    (4 tahun, 11 bulan dan 4 minggu)
  • 7 Agustus 1950  9 Februari 1961 (Fase ketiga)
    (10 tahun, 6 bulan dan 2 hari)
LokasiTiongkok Daratan (termasuk Hainan) dan pesisirnya, perbatasan Tiongkok–Myanmar
Hasil

Kemenangan Partai Komunis Tiongkok

Perubahan
wilayah
Pihak terlibat
1927–1936
Kuomintang
1927–1936
Partai Komunis Tiongkok
Pemerintah Soviet Minxi [zh] (1929–1931)
Pemerintahan Rakyat Fujian (1933–1934)
Pemerintah Soviet Qiongya [zh] (1928–1934)
1945–1950

Kuomintang

Republik Tiongkok (1912–1949) Republik Tiongkok
1945–1950

Partai Komunis Tiongkok

Yan'an Soviet (1937–1950)
Pasukan pra-PLA dan milisi
Republik Rakyat Mongolia Dalam (1945–1945)
 Republik Rakyat Tiongkok (1949)

1950–1961:
 Republik Tiongkok

1950–1961:
 Republik Rakyat Tiongkok

Tokoh dan pemimpin
Kekuatan
  • 2 juta pasukan reguler
  • 2,3 juta milisi (Agustus 1948)[2][3][4]
  • 1,2 juta pasukan reguler
  • 2,6 juta milisi (Juli 1945)[3][5]
Korban
  • 263.800 tewas
  • 190.000 hilang
  • 850.000 terluka (fase kedua)[9][8]
  • total lebih dari 1,3 juta (fase kedua)
  • perkiraan 7 juta (fase pertama)[10]
  • perkiraan 2,5 juta (fase kedua) [11]
  • hingga total 6 juta (fase kedua)[8]
Perang Saudara Tiongkok
Hanzi tradisional: 國共內戰
Hanzi sederhana: 国共内战
Makna harfiah: Perang saudara Kuomintang-Komunis

Perang Saudara Tiongkok[a] (Hanzi sederhana: 国共内战; Hanzi tradisional: 國共內戰; Pinyin: Guó-Gòng Nèizhàn) adalah perang sipil di Tiongkok dengan pertempuran antara pasukan yang loyal kepada pemerintah Republik Tiongkok pimpinan Kuomintang (KMT), dan pasukan yang loyal kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT).[12] Perang ini dimulai pada bulan Agustus 1927, bersamaan dengan Ekspedisi Utara Chiang Kai-Shek, dan secara esensial berakhir ketika pertempuran aktif utama berhenti pada tahun 1950.[13] Konflik ini pada akhirnya menghasilkan dua negara de facto, Republik Tiongkok di Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok di Tiongkok daratan, masing-masing secara resmi mengklaim sebagai pemerintahan Tiongkok yang sah.

Perang ini merepresentasikan perpecahan ideologis antara pihak Komunis PKT dan KMT yang mengusung Nasionalisme, yang berlangsung terputus-putus sampai akhir tahun 1937, ketika kedua belah pihak bersatu untuk membentuk Front Persatuan Kedua untuk melawan invasi Jepang dan mencegah Jepang memperluas invasi yang sudah masuk sebelumnya ke Manchuria pada tahun 1931. Perang Saudara Tiongkok dalam skala penuh berlanjut kembali pada tahun 1946, setahun setelah berakhirnya pertempuran dengan Jepang. Empat tahun kemudian terjadi gencatan pertempuran militer besar, dengan baru saja berdirinya Republik Rakyat Tiongkok yang mengendalikan Tiongkok daratan (termasuk Hainan) dan yurisdiksi Republik Tiongkok terbatas untuk Taiwan, Penghu, Kinmen, Matsu dan beberapa pulau terpencil.

Sampai saat ini tidak ada gencatan senjata atau perjanjian damai yang pernah ditandatangani, dan terdapat perdebatan mengenai apakah perang saudara ini telah berakhir secara resmi.[14] Hubungan Lintas Selat telah terhalang oleh ancaman militer dan tekanan politik dan ekonomi, khususnya atas status politik Taiwan, dengan kedua pemerintahan secara resmi berpegang pada "kebijakan Satu Tiongkok". Republik Rakyat Tiongkok secara aktif masih mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan terus mengancam Republik Tiongkok dengan invasi militer jika Republik Tiongkok secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan dengan mengganti namanya dan mendapatkan pengakuan internasional sebagai "Republik Taiwan". Sebaliknya, Republik Tiongkok membalas dengan mengklaim Tiongkok daratan, dan mereka berdua melanjutkan pertarungan atas pengakuan diplomatik. Saat ini perang sepertinya terjadi pada front politik dan ekonomi dalam bentuk hubungan lintas selat; tetapi, kedua negara de facto terpisah ini memiliki hubungan ekonomi yang erat.[15]

  1. Di Tiongkok daratan dewasa ini, tiga tahun terakhir perang (1947–1949) umumnya dikenal sebagai Perang Pembebasan (解放战争), dengan nama lengkap resmi Perang Pembebasan Rakyat Tiongkok (中国人民解放战争), atau nama alternatif Perang Revolusioner Internal Ketiga (第三次国内革命战争). Di Taiwan, perang ini dikenal dengan nama Perang Menumpas Pemberontakan dan Melawan Komunis (反共戡亂戰爭) sebelum tahun 1991 atau umumnya dikenal dengan nama Perang Sipil Nasionalis-Komunis (國共內戰/国共内战) di kedua belah pihak

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Li, Xiaobing (2012). China at War: An Encyclopedia. Bloomsbury. hlm. 295. ISBN 978-1-598-84415-3 via Google Books.
  2. Li, Xiaobing (2007). A History of the Modern Chinese Army. University Press of Kentucky. ISBN 978-0-813-17224-8.
  3. 1 2 Hsiung, James C. (1992). China's Bitter Victory: The War With Japan, 1937–1945. M. E. Sharpe. ISBN 1-563-24246-X.
  4. 1 2 Sarker, Sunil Kumar (1994). The Rise and Fall of Communism. Atlantic. ISBN 978-8-171-56515-3.
  5. Cao Qianfa (曹前发). 毛泽东的独创:"兵民是胜利之本". People's Daily (dalam bahasa Tionghoa). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 October 2020. Diakses tanggal 26 October 2020.
  6. 1 2 Ho. Studies in the Population of China. hlm. 253.
  7. White, Matthew (2011). Atrocities. W. W. Norton. hlm. 381. ISBN 978-0-393-08192-3.
  8. 1 2 3 Lynch, Michael (2010). The Chinese Civil War 1945–49. Osprey.
  9. The History of the Chinese People's Liberation Army. Beijing: People's Liberation Army Press. 1983.
  10. "Twentieth Century Atlas – Death Tolls". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2011. Diakses tanggal 26 July 2017.
  11. "Twentieth Century Atlas – Death Tolls". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2011. Diakses tanggal 26 July 2017.
  12. Gay, Kathlyn. [2008] (2008). 21st Century Books. Mao Zedong's China. ISBN 0-8225-7285-0. pg 7
  13. Hutchings, Graham. [2001] (2001). Modern China: A Guide to a Century of Change. Harvard University Press. ISBN 0-674-00658-5.
  14. Leslie C. Green. The Contemporary Law of Armed Conflict. hlm. 79.
  15. So, Alvin Y. Lin, Nan. Poston, Dudley L. Contributor Professor, So, Alvin Y. [2001] (2001). The Chinese Triangle of Mainland China, Taiwan and Hong Kong. Greenwood Publishing. ISBN 0-313-30869-1.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]